New York 2012: Hingar bingar Manhattan

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Tanggal 10 Desembe 2012 pukul 8.30, saya telah memasuki Grand Central Station di 42th Street New York. Pertama kali saya terkesan dengan stasiun yang besar dan megah ini adalah ketika nonton Madagascar saat berada di Sydney. Petualangan Alex, Marty, Gloria dan Melman yang melarikan diri dari Central Park Zoo mengenalkan saya pada Grand Central Station yang begitu khas. Desainnya yang mewah dan multifungsi dan banyaknya orang yang berlalu lalang membuat stasiun ini hidup lebih dari sekedar tempat singgah. Lima tahun lalu saya memasuki stasiun ini dan saya takjub. Kali ini saya merasakan semangat yang sama. Semangat yang hidup dan bergairah. Gerakan orang yang cepat, suara sepatu yang bertalu dan cahaya yang membias sedemikian rupa menghadirkan semangat yang gemuruh.

Saya sempatkan menikmati suasana itu, menikmati gerakan orang yang begitu liar dan bergairah serta suara-suara yang beradu. Sementara itu, musisi jalanan menunjukkan kebolehannya. Di bagian pusat stasiun nampak ada tempat informasi dan loket-loket penjualan tiket. Jam itu masih sama. Sama dengan yang dirusak oleh Melman di film Madagascar. Cahaya yang tidak terlalu cerah menghadirkan suasana yang temaram tetapi cukup terang untuk menuntun pergerakan orang-orang yang tergesa.

Saya keluar dari Grand Central Station dan menghirup udara Manhattan yang hidup dan bergetar. Semua orang mengenakan baju tebal, sebagian besar memakai jubah panjang hitam karena dingin. Semua orang bergerak cepat dan tergesa. Di jalanan nampak mobil bergerak, bus melaju dan taxi kuning bertebaran. Dari lubang-lubang di tengah jalan mengepul asap putih tebal dari mesin pemanas yang menghangatkan musim dingin. Klakson terdengar sekali sekali menambah riuh suasana. Di depan stasiun terdengar teriakan orang-orang menjajakan koran atau bulletin yang dibagikan gratis kepada pejalan kaki. Saya melihat satu per satu pejelan kaki menggamit pemberian itu lalu mulai membaca atau memasukkannya ke dalam tas untuk dibaca di lain waktu. Ratusan orang itu berhamburan menyusuri Lexington Avenue yang melintas di sisi timur Grand Central Station. Mereka bergerak ke berbagai arah menuju kantor masing-masing. Semua cepat, semua bergegas.

Manhattan seperti pulau sendiri di New York. Dia dipisahkan oleh Hudson River dengan Queens dan Brooklyn di sebelah barat dan baratdaya. Di sebelah timurlautnya terdapat The Bronx dan Yonkers di sebelah utaranya. Di sebelah baratnya adalah Newark, New Jersey yang sudah merupakan negara bagian lain. Jika Anda belum pernah ke New York dan membayangkan New York adalah Gotham City di film Batman atau ribuan gedung tinggi tempat Spiderman bergelantungan maka itu adalah Manhattan. Manhattan adalah sebuah borough di New York.

Rancangan Kota Manhattan sangat rapi berbentuk grid yang teratur dengan keseluruhan kota yang memanjang dari utara ke selatan. Jalan-jalan yang berarah timur-barat disebut street sedangkan yang berarah utara-selatan disebut avenue. Nama jalannyapun sangat mudah diingat karena menggunakan nomor. Nama jalannya adalah 1st street, 2nd street, 3rd street, dan seterusnya yang membesar dari selatan ke utara. Begitu pula dengan avenue yang diberi nama 1st avenue, 2nd avenue, 3rd avenue yang membersar dari timur ke barat. Maka dari itu alamat sebuah gedung seperti gedung 2 UN Plaza adalah di 44th Street diantara 1st dan 2nd Avenue. Ini artinya gedung ini berada di sepanjag 44th Street di sisi timur kota Manhattan. Berbeda dengan street, penamaan avenue tidak hanya dengan angka. Ada juga yang bernama Lexington Avenue, Madison, Park dll. Antara 3rd Avenue dan 5th Avenue, misalnya, ada Lexington, Park dan Madison Avenue. Secara umum, mencari alamat di Manhattan sangatlah mudah.

Menyusuri jalan-jalan di Manhattan seperti masuk belantara pencakar langit. Jalanan terintimidasi oleh deretan gedung tinggi yang membuatnya jadi terkesan sempit. Di gedung-gedung itulah Spiderman, tokoh superhero fiktif, bergelantungan dan berlompatan, seperti juga Batman dan Robin yang menyelamatkan warga yang teraniaya penjahat. Jika berkunjung ke Times Square maka gemerlap Manhattan akan nampak jelas. Lampu berkelip 24 jam sehari, berbagai layar raksasa menampilkan tontonan yang berkelebat-kelebat. Di Times Square inilah berbagai merek dan produk berlomba mempertontonkan diri. Disney store yang ramai, Microsoft yang canggih, Apple yang mentereng, Toys R us yang riuh rendah, semuanya berpadu jadi satu. Di jalanan terlihat orang berlalu lalang tanpa henti. Bus-bus pariwisata berderet membawa berpuluh-puluh pengunjung dan wisatawan tak henti-hentinya mengabadikan gambar menambah kilatan cahaya di Times Square yang terang benderang.

Di Times Square yang tidak jauh dari Grand Central Station, bisa dijumpai banyak tokoh Disney yang melakukan atraksi di jalan. Mereka dengan cekatan menggoda para pengunjung dengan tingkah polahnya yang menggemaskan. Di sudut lain ada bus sekolah seperti pada film Spiderman yang melintas membawa anak-anak sekolah lalu tiba-tiba ada seseorang berkostum Spiderman melompat merangkak di dinding bus itu lalu naik ke atasnya. Semua seperti sungguhan dan para pengunjung berteriak histeris.

Saat menyusuri 44th Street menuju Gedung 2 UN Plaza tempat kami akan berkumpul untuk pertama kali, saya melihat kerumunan orang dari kejauhan. Saya lihat berbelas kamera dan belasan pekerja lainnya sibuk mengatur lalu lintas orang. Saya duga ini adalah sebuah proses syuting, entahlah untuk apa. Sayapun melaju tidak begitu peduli menerobos kerumunan itu. Dingin yang mencekam membuat saya tidak sempat memperhatikan terlalu lama. Saat melewati beberapa orang yang sibuk menyiapan syuting, tiba-tiba saya melihat seseorang yang sepertinya pernah saya lihat. Tubuh lelai itu tinggi dan wajahnya begitu akrab di mata saya tetapi saya tidak begitu yakin pernah bertemu orang ini. Saya melewatinya dengan penuh rasa penasaran, dia sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang yang duduk di deretan kursi di pinggi 44th Street. Tiba-tiba saja saya ingat, orang itu adalah Vince Vaughn, salah satu aktor Hollywood terkemuka. Saya segera menghentikan langkah mengambil kamera dan membidik wajahnya dari jauh. Sesaat kemudian datang seorang perempuan yang rupanya bekerja sebagai seorang petugas keamanan untuk proses syuting itu “I am sorry sir, but you are not allowed to take any picture.” Sayapun meringis, mengangkat tangan pertanda penerima larangan itu. Tapi dia tidak tahu, beberapa fotonya telah saya abadikan di kamera saya. Hidup di Manhattan memang seperti menjadi bagian dari film-film yang kita saksikan di bioskop tanah air.

Vince Vaughn

New York 2012: Akomodasi

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Dalam pertemuan alumni sebelumnya, UN-Nippon Foundation selalu menyediakan akomodasi untuk semua perserta. Kali ini sedikit berbeda, mereka hanya memberi uang harian dan menyerahkan kepada peserta untuk menentukan akomodasi masing-masing. Pilihan ini bisa baik, bisa buruk. Mereka yang tidak terbiasa mengurus sendiri akomodasinya mungkin akan kesulitan menemukan akomodasi yang tepat di New York. Selain mahal, Desember adalah bulan yang sibuk dengan kunjungan sehingga akomodasi pasti sulit dicari. Meski demikian, bagi yang paham cara mengurus akomodasi sendiri, pilihan ini bisa jadi sebuah keberuntungan karena peserta bebas mendapatkan akomodasi dengan harga yang lebih terjangkau sehingga bisa menghemat uang yang disediakan oleh UN-Nippon Foundation. Saya termasuk kelompok yang kedua.

Begitu memastikan diri akan berangkat ke New York, saya segera menghubungi tuan rumah tempat saya tinggal lima tahun lalu ketika mengikuti program UN-Nippon Foundation Fellowship. Ibu Endang, tuan rumah saya, sangat baik hati, demikian pula suami beliau, Pak Madjid dan dua putra-putrinya. Ternyata ada satu kamar kosong dan saya diijinkan tinggal bersama mereka. Satu urusan sudah selesai.

Hubungan saya dengan Ibu Endang tetap terjalin karena sejak 2007 saya selalu merekomendasikan peserta program UN-Nippon Fellowship untuk tinggal bersama beliau. Sudah ada beberapa orang setelah saya yang akhirnya tinggal di rumah beliau di Queens dan merasa sangat nyaman. Saya yakin semuanya diuntungkan dengan ide ini. Ibu Endang tentu terbantu karena kamarnya bisa disewa oleh orang-orang yang jelas asal usulnya, teman-teman saya juga terbantu amat sangat karena harga sewa yang begitu bersahabat. Beberapa peserta dari Indonesia, Thailand, India, Cameroon, dll, telah menempati rumah nyaman itu. Semuanya happy, semuanya ingin kembali. Kini giliran saya yang kembali menempati rumah itu, saya kembali ke New York setelah lima tahun. Winter yang saya tinggalkan dulu masih sama karena saya kembali tepat di bulan yang sama: Desember.

Beberapa kawan yang harus tinggal di hotel harus merelakan lebih dari 150 dolar uangnya per malam untuk tinggal di New York yang mahal. Itupun bukan kelas hotel berbintang. Sementara itu UN-Nippon memberi 300an dollar per hari untuk semua kebutuhan dan masing-masing hanya dibiayai untuk empat hari. Artinya, kalau ingin menghabiskan beberapa hari setelah acara di UN seperti yang saya lakukan maka uangnya akan sangat mepet. Sekedar informasi, tempat tinggal yang wajar di Manhattan (apartemen) bisa seharga $2000 per bulan. Harga hotel yang relatif murah pada kisaran $200 per malam. Saya beruntung karena sewa kamar di tempat Bu Endang sangat terjangkau. Karena hanya seminggu, itupun beliau hampir tidak mau dibayar. Tentu saja tidak adil jika saya tidak membayar dengan harga pantas. Saya sudah berutang budi, sedapat mungkin tidak terlalu banyak berutang materi, meskipun kenyataannya pastilah saya telah terbantu banyak sekali oleh kebaikan keluarga Bu Endang.

Ada juga beberapa kawan lain yang tinggal bersama perwakilan mereka di New York. Teman-teman saya banyak yang diplomat dari Asia, Afrika dan Latin Amerika serta Karibean sehingga tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan bantuan akomodasi dari perwakilan negaranya di New York. Jika demikian halnya, tentu saja mereka akan terbantu dan bisa menghemat uang yang disediakan oleh UN-Nippon Foundation. Saya sendiri sesungguhnya bisa saja mencoba menghubungi Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) atak Konsulat Jenderal RI di New York karena memang punya beberapa kawan di sana. Meski demikian, saya urungkan karena sepertinya akomodasi yang mereka miliki akan penuh karena waktunya bertepatan dengan sidang umum PBB. Meski tidak tinggal bersama perwakilan, saya akan sempatkan mampir dan diskusi dengan beberapa orang di PTRI dan KJRI.

Malam ketika saya tiba di Bandara JFK, saya langsung naik taxi dan memberikan alamat rumah Bu Endang kepada sopir taxi. Menurut Google Maps, perjalanan sekitar 16 menit jika lancar. Meski demikian, malam itu hujan cukup deras dan rupanya ada pengalihan jalur. Sopir taxi bahkan sempat menelpon Ibu Endang untuk memastikan alamat dan jalur alternative yang tepat untuk mencapainya. Selama perjalanan, saya berbicara banyak dengan sopir yang berasal dari Pakistan itu. Perjalanan sangat nyaman dan bersahabat. Wawasannya yang cukup luas tentang politik dan geografi membuat dia fasih berbicara tentang Indonesia dan negara-negara sekitarnya. Rupanya sopir taxi ini beberapa tahun menjadi awak kapal yang berlayar di sekitar Asia.

Sekitar jam delapan malam, saya tiba di rumah Bu Endang di bilangan Middle Village di Queens. Jaraknya dengan gedung PBB di Manhattan sekitar 40 menit ditempuh dengan bus dan subway. Untuk privasi, saya tidak akan sampaikan alamat beliau di tulisan ini tapi saya selalu bersedia mengenalkan teman-teman saya yang membutuhkan akomodasi di New York. Telah banyak yang terbantu oleh kebaikan beliau. Mungkin Anda berikutnya.

New York 2012: Perjalanan

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Tanggal 9 Desember 2012 adalah hari H saya harus terbang ke New York. Membayangkan saja rasanya sudah lelah karena penerbangannya sangatlah panjang. Waktu temput sekitar 22 jam dari Sydney ke New York City dengan sekali transit gi Los Angeles. Dengan perbedaan waktu 16 jam, bisa dibayangkan dramatisnya jet lag yang akan dialami.

Jam 9.20 saya sudah melaju dari North Wollongong Station menuju Sydney International Airport dengan kereta api. Mas Handoko, flat mate baru, mengantar dengan si biru, mobil yang begitu setia menemani sejak tahun lalu. Perjalanan lancar jaya sampai di Bandara. Tanpa menunggu lama, saya langsung check in di Delta Airlines untuk penerbangan jam 14.40. Hanya ada satu isu kecil, paspor saya tidak memuat visa Australia karena visa-nya elektronik. Petugas counter menanyakan hanya untuk memastikan. Dia berbaik hati menanyakan itu agar saya tidak mendapat masalah ketika pulang dari Amerika dan masuk Australia lagi minggu depan. Sayapun memastikan bahwa saya memiliki visa Australia dengan menunjukkan visa elektronik lewat email yang bisa diakses lewat iPhone. Pelajaran moral dari cerita ini: meskipun visa elektronik, ada baiknya tetap dicetak sehingga bisa ditunjukkan dengan mudah saat diperlukan.

Sebelum berangkat saya sempatkan menghubungi Asti dan Lita di Jogja dengan Skype lewat iPad, pamitan terakhir. Sempat juga mengirim beberapa email kepada orang-orang penting untuk memberitahukan kepergian saya atau sekedar berpamitan. Saya sudah membayangkan, kehangatan Australia sebentar lagi berganti New York yang menggigil di musim dingin. I miss downunder already even before I depart.

Jam 14.40, saya sudah melaju dengan Delta Air. Saya duduk di dekat jendela, di samping saya seorang lelaki berkebangsaan Australia dan di sampingnya lagi seorang perempuan yang saya tidak tahu asal usulnya. Lelaki di sebelah saya bekerja di sebuah perusahaan perancang mesin poker dan rupanya sering ke Las Vegas untuk pekerjaannya itu. “For work, unfortunately!” katanya ketika saya bertanya kepentingan dia ke Las Vegas. Mendengar kata Las Vegas, tentu saja yang terbayang pertama kali adalah bersenang-senang dan berlibur. Rupanya tidak demikian dengan lelaki ini.

Karea sebelumnya lebih sering begadang, sayapun tertidur sempurna hanya beberapa menit setelah pesawat tinggal landas. Beberapa jam pertama saya tidak menikmati hiburan sama sekali, tidak juga membaca buku atau menulis. Ini agak berbeda dengan perjalanan-perjalanan lain yang biasanya saya habiskan dengan nonton film atau menulis cerita perjalanan. Saya mengandalkan rekaman twitter atau catatan kecil di iPhone atau foto yang diambil secara acak jika nanti harus membua cerita perjalanan yang lebih panjang.

Perjalanan dari Sydney ke LA ditempuh sekitar 14 jam, sebuah perjalanan yang sanga lama dan panjang. Jarak tempuh sekitar 12.000 kilometer atau 7000an mil. Saya yang duduk di dekat jendela tentu saja harus meminimalkan acara keluar dari tempat duduk sehingga tidak terlalu banyak mengganggu penumpang di sebelah saya. Akan lebih rumit lagi karena mereka sedang tidur. Strateginya adalah meminimalkan asupan makanan dan minuman sehingga tidak perlu sering ke kamar mandi. Strategi ini mungkin tidak begitu sehat tetapi saya selalau merasa ini membantu menjaga kenyamanan teman duduk saya di sebelah. Alhasil, saya sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk selama 14 jam itu. Sebuah prestasi yang layak dihargai oleh teman di sebelah saya.

Selama perjalanan, tentu saja saya juga akhirnya menonton film yaitu Abraham Lincoln, the Vampire Hunter. Filmnya menarik karena menggunakan konteks sejarah kepresidenan Amerika yang tersohor saat periode Abraham Lincoln. Kisahnya yang dimodifikasi dengan sentuhan mistis seperti vampire membuatnya menarik. Melihat film itu membuat saya terbayang kunjungan ke Washington 5 tahun lalu saat menyaksikan patung Abraham Lincoln yang terkenal itu. Di depannya berdiri gagah tugu Amerika yang terkenal itu. Tata rias wajah yang cemerlang membuat karakter Lincoln bisa nampak dengan sangat baik pada actor yang memerenkannya di film yang saya tonton.

Selain menonton saya juga membaca buku yaitu Chairul Tanjung (CT) si Anak Singkong yang sempat saya beli saat pulang ke tanah air beberapa bulan lalu. Buku ini berisi kisah-kisah perjalanan hidup CT dalam meraih sukses sebagai salah satu pengusaha berhasil di Indonesia. Lepas dari gaya penulisannya yang sebenarnya bukan merupakan favorit saya, buku ini menarik dibaca oleh para anak muda, terutama mahasiswa, untuk meningkatkan naluri wirausaha. Buku ini dengan lugas membahas bagaiaman CT dengan cerdas menemukan peluang-peluan usaha sejak usaha belia. Bahasanya yang sederhana membuatnya mudah dibaca, meskipun itu mengurangi dramatisasi yang mungkin diinginan oleh sebagian pembaca lainnya.

Jam 9.30 pagi saya tiba di Los Angeles. Menariknya, saya tiba di hari yang sama tanggal 9 Desember 2012 yang artinya saya kini menjadi lebih muda. Berangkat jam 14.40 dari Australia dan tiba jam 9.30 pagi waktu yang sama jadi saya lebih muda sekitar administratif lima jam meskipun tidak demikian halnya secara biologis.

Waktu saya tidak banyak ketika transit di LA. Karena merupakan negara bagian pertama yang saya singgahi di Amerika maka proses imigrasi berlangsung di LA. Saya harus mengambil bagasi lalu menjalani proses imigrasi dan secara resmi memasuki Amerika. Prosesnya tidak rumit tetapi cukup panjang karena begitu banyak orang yang datang ke Amerika saat itu. Sebelum turun dari pesawat saya sudah mengisi formulir kedatangan untuk kepentingan imigrasi, termasuk mendeklarasikan apa yang saya bawa. Untuk mendapat pemeriksaan, saya harus mengantri di barisan sangat panjang. Hari itu juga ada rombongan siswa dari Australia yang melaksanakan tour ke Las Vegas sehingga suasana jadi riuh rendah. Saya lihat jam, waktu semakin mepet dengan penerbangan berikutnya. Saya bertanya-tanya bagaimana proses transfer akan dilakukan dengan antrian panjangg seperti ini.

Anyone flying before 12 today?” tiba-tiba saya mendengar seorang perempuan berteriak. Saya lamngsung mengacungkan tangan dan diapun meminta saya keluar dari antrian karena akan diproses lebih cepat. Sayapun tidak perlu mengantri dan segera melalui proses imigrasi. Karena memang mendesak waktunya, sayapun dip roses di loket untuk warga negara Amerika. Beberapa petugas di sekitar situ terlihat ramah, jauh lebih bersahabat dibandingkan saya ke New York lima tahun lalu saat diinterogasi di Bandara Minneapolis. Seorang lelaki bahkan guyon ketika melihat saya membaca sesuatu di ipad. “Is it ipad 2 or the new one?” katanya bertanya. Dia bahkan bertanya lagi “are you getting the new one, or iPad mini” dan saya jawab dengan tersenyum “no, I am good with this.” Percakapan sederhana itu menghadirkan suasana akrab dan membuat penumpang tidak begitu tertekan menghadapi proses imigrasi yang panjang.

Sayapun melewati seorang petugas dan setelah ditanya beberapa hal, saya sudah melenggang meninggalkan petugas menuju tempat pengambilan barang. Kopor saya ternyata sudah turun dari conveyer belt dan siap ditarik masuk pesawat berikutnya. Semua lancar, semua mudah. Saya sempatkan untuk ngetwit dengan wifi yang tersedia gratis di Bandara Los Angeles. Pagi di Los Angeles berarti malam di tanah air, Australia dan sekitarnya. Beberapa kawan masih sempat membalas dan memberi dukungan terhadap perjalanan saya.

Sesaat kemudian saya sudah kembali duduk di sebuah kursi pesawat Delta Air yang kini berukuran lebih kecil. Saya diapin dua perempuan, keduanya orang New York. Keduanya rupanya sering bepergian di sekitar Amerika untuk kepentingan bekerja. Saya sempat bicara banya dengan yang duduk di sebelah kiri karena rupanya lebih terbuka untuk bicara berbagai hal. Saya tanyakan perihal Gubernur Arnold Swazeneger yang sempat memimpin California selama dua periode karena dia pernah tinggal di California. Dia mengatakan, “Arnold was not bad” melihat latar belakang politiknya yang tidak terlalu kuat. Kami juga sempat berbicara tentang politik Amerika, tentang Obama, tentang banana alam, tentang perjalanannya yang sudah ke beberapa negara Asia dan sebagainya. Sangat menyenangkan dan menambah banyak wawasan. Dia adalah seorang konsultan.
Yang menarik, perjalanan dari LA ke New York saya tempuh dengan memanfaatkan fasilitas internet yang disediakan maskapai. Saya harus membayar USD 20 untuk bisa online selama tiga jam. Meski agak mahal, rasanya sangat layak. Bisa tetap berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya saat ada di udara, menghadirkan kepuasan tersendiri. Menyenangkan bisa menyapa orang dengan menulis “greeting from up in the air”.

Kombinasi antara ngobrol, twitteran, tidur, nonton film dan membaca membuat perjalanan terasa cepat. Tanpa terasa saya sudah tiba di Bandara JFK di New York dan kini siap-siap melaju menuju penginapan. Saya lalu menuju tempat mangkal taxi setelah mengambil barang bawaan yang hanya berupa satu kopor yang tidak terlalu besar. Saya termasuk orang yang tidak suka membawa banyak barang ketika bepergian. Setelah antri beberapa lama, sayapun mendapatkan taxi yang sopirnya orang Pakistan. Dengan sigap dia membawa saya ke Middle Village di Queens tempat saya akan menginap selama di New York. Hari telah gelap dan dingin mulai menyerang. Saya mengenakan jaket tebal sejak keluar dari bandara tadi. Selain dingin, hujan cukup deras dan suasana berkabut. Benar-benar bukan sambutan terbaik oleh New York untuk seorang saya yang kembali lima tahun setelah menginjakkan kaki di New York pertama kali.

New York 2012: The US Visa

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

The US Visa
The US Visa

Menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Salah satu yang membuatnya menarik adalah ketika harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Perjalanan ini selalu dilengkapi cerita seru karena harus mengurus visa. Indonesia bisa ke luar negeri tanpa visa hanya jika ke sembilan negara ASEAN. Selain itu, semua memerlukan visa. Maka dari itu, selalu ada cerita menarik yang mungkin tidak dialami oleh orang-orang dari negara lain, terutama yang lebih maju. Supervisor saya yang orang Inggris bahkan tidak punya pengalaman mengurus visa Amerika dan Eropa, misalnya. Kasihan sekali dia. Itulah sebabnya saya katakan menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Kita orang-orang yang gesit dan cerdas, bisa mengurus sesuatu yang orang lain bahkan tidak pernah pikirkan.

Continue reading “New York 2012: The US Visa”

New York 2012: The invitation

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

The Invitation
The Invitation

Suatu malam saya sedang chatting dengan Dr. Francois Bailet, seorang pejabat di United Nations Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea (UN DOALOS) di New York. Percakapan kami berlangsung lewat Facebook dalam suasana yang santai. Sejak mengikuti program UN-Nippon Foundation Fellowship pada tahun 2007 silam, saya memang cukup akrab dengan Francois yang tidak lain adalah coordinator program tersebut. Lewat program itu, saya bersama sembilan orang lainnya dari seluruh dunia mendapat kesempatan melakukan penelitian di Wollongong, Australia dan New York, Amerika Serikat selama total Sembilan bulan. Sebuah pengalaman yang berharga.

Percakapan santai saya malam itu dengan Francois adalah satu dari sekian banyak. Saya memang pernah terpilih untuk menjadi representatif (presiden) alumni UN-Nippon Foundation Fellowship tahun 2008-2009 sehingga harus berinteraksi dengan Francois secara dekat. Tugas saya sebagai presiden adalah mengordinasi berbagai kegiatan alumni sebagai tindak lanjut dari program fellowship yang sudah kami jalani. Intinya, United Nations dan Nippon Foundation menginginkan para alumni tetap aktif dan idealisme tidak berhenti ketika kegiatan penelitian Sembilan bulan itu berakhir. Salah satu tugas saya sebagai representatif adalah memastikan penerbitan newsletter secara berkala. Selain itu, saya juga terlibat dalam megatur pertemuan alumni seperti yang dilakukan di Tokyo, Jepang tahun 2009.

Di sela percakapan malam itu, tiba-tiba Francois bertanya apakah saya siap diminta datang ke New York pada bulan Desember 2012. Tanpa berpikir panjang, tentu saja saya megiyakan dengan senang hati. Ada rasa gembira karena akan mendapat kesempatan kembali lagi ke New York setelah lima tahun meninggalkan kota itu. Undangan ke New York ini adalah dalam rangka pertemuan alumni dalam rangka memperingati ulang tahun United Nations Conventions on the Law of the Sea (UNCLOS) yang ke-30. Tahun 1982 silam, konvensi yang sangat penting itu berhasil disepakati di Montego Bay, Jamaica dan kini sudah diratifikasi (diakui) oleh 164 negara dan 1 Uni Eropa. Indonesia melalui Prof. Mochtar Kusumaatmaja dan Prof. Hasjim Djalal berperan cukup besar dalam negosiasi UNCLOS ketika itu.

Saya membayangkan, bisa mengikuti perayaan ulang tahun UNCLOS ke-30 di Gedung PBB New York tentu saja bukan kesempatan biasa. Saya harus memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Beberapa hari kemudian, sebuah surat resmi berlogo United Nations masuk ke email saya. Saya telah mendapatkan undangan resmi dari PBB. Undangan ini adalah sebagai alumni UN-Nippon Foundation Fellowship, terutama sebagai mantan representatif alumni yang dianggap masih aktif hingga saat ini. Saya memang diberi peran yang cukup besar dalam membangun dan memelihara jejaring alumni. Sayalah yang membangun dan memelihara website resmi alumni http://www.unfalumni.org sebagai wadah interaksi dan ekspresi alumni dari berbagai penjuru dunia. Dengan peran itu, saya diberi satu predikat dalam pertemuan di New York nanti sebagai Network Component Manager.

Rasanya masih belum percaya ketika saya menerima sebuah surat berlogo United Nations tertanggal 7 November 2012 dan ditandatangani langsung oleh Mr. Serguei Tarassenko, Direktur Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea, Office of Legal Affairs. Percaya tidak percaya, undagan itu sudah di tangan dan saya harus segera mengurus keberangkatan.

New York 2012

Saya menutup tahun 2012 ini dengan sebuah perjalanan ke New York. Saya diundang oleh United Nations (PBB) sebagai alumni UN-Nippon Foundation Fellowship untuk menghadiri pertemuan alumni dan perayaan 30 tahun Konvensi PBB tentang Hukum Laut atau UNCLOS. Sebuah kesempatan istimewa tentunya.

Saya akan ceritaan di posting berbeda tentang undangan yang saya terima lalu proses aplikasi visa yang cukup seru. Saya juga kisahkan perjalanan saya yang mencapai lebih dari 20 jam penerbangan dari Sydney ke New York. Saya tinggal di Queens, New York, di tempat yang sama dengan yang saya tinggali lima tahun lalu ketika saya menjalani program UN-Nippon Foundation Fellowship. New York masih sama, hingar bingar dan bergairah. Masih terbayang saya menyusuri Eliot Avenue di Queens liam tahun lalu dan kini saya melakukannya lagi.

Agenda utama adalah mengikuti Sidang Umum PBB memperingati ulang tahun UNCLOS ke-30 dan pertemuan alumni. Kedua acara itu memberi saya pengalaman berharga salama di New York selain karena memberi pengetahuan juga memberi kesempatan berjejaring dengan para intelektual dunia di bidang kelautan dan hukum laut. Selain acara serius, tentu saja saya menikmati hingar bingar Manhattan dan romantisnya musim dingin yang bernuansa natal. Hidup di Manhattan memang mirip dengan menjadi tokoh dalam film Hollywood. Saya juga mencatat pelajaran-pelajarn kecil yang tercecer di sepanjang perjalanan. Selamat menikmati kisah saya.

Setelah shortlisted Beasiswa ADS, what’s next?

Taken from http://australiaawardsindo.or.id/

Beberapa hari terakhir ada banyak kawan yang menyampaikan berita baik bahwa mereka lulus seleksi administrasi Beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Katanya, ada yang sudah mendapat surat dari ADS, ada juga yang menelopon langsung ke kantor ADS di Jakarta. Sebagian lagi mendapatkan informasi dari institusi mereka karena lembaganya masuk kategori Key Agencies atau targeted areas. Mereka menyebutnya masuk shortlist alias daftar pendek. Ada juga yang mengatakan “saya termasuk yang shortlisted”. Saya bisa merasakan kebahagian dalam berita itu. Meski demikian, ada juga yang belum beruntung tahun ini.

Dalam suatu percobaan memang selalu ada dua kemungkinan: berhasil atau belum berhasil. Saya tidak akan berpura-pura bijaksana menasihati mereka yang tidak lulus. Jika mereka memang serius dan berharap ketika mendaftar, wajar jika kecewa. Maka saya memaklumi mereka yang sedih tetapi dengan sungguh-sungguh ingin menyampaikan bahwa dunia belum berakhir. Saya memiliki banyak sekali cerita kegagalan. Asti, isteri saya, juga mencoba tiga kali sampai akhirnya mendapat kesempatan. Dalam bahasa sederhana, izinkan saya menyampaikan satu kalimat klasik “jangan menyerah.”

Kepada yang berhasil melewati tahap pertama, saya sampaikan selamat dan turut berdoa demi kesuksesan perjuangan selanjutnya. Meminjam istilah Chairil Anwar, kerja belum selesai, belum apa-apa. Sejatinya, jalan masih panjang dan tidak ada yang bisa menjamin Anda akan lolos hingga tahap akhir. Meski demikian, kita juga percaya bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa memastikan Anda tidak akan diterima. Kita yakin, nasib akan berpihak pada para pejuang yang berani. Mari kita siapkan diri, mari berjuang dengan berani menyelesaikan penggal terakhir yang pastinya tidak mudah ini.

Dari 800 orang kandidat yang shortlisted, hanya sekitar 400 orang yang berhak mendapatkan beasiswa ADS tahun 2013/2014 karena jatahnya memang sejumlah itu. Untuk menghibur diri, silakan berpikir bahwa peluangnya adalah sekitar 50%, sebuah peluang yang tinggi. Agar terdengar lebih menyenangkan, silakan berpikir bahwa satu dari setiap dua kandidat akan menerima beasiswa ADS. Atau agar lebih mudah lagi, silakan berpikir bahwa Anda hanya perlu mencari pasangan sesama kandidat yang lebih rendah kemampuannya dari Anda dan jika dia tidak lolos maka Anda akan lolos karena peluangnya 50%. Cukup mudah rasanya mendapatkan ADS bukan?

Tunggu dulu. Dari 800 orang itu, akan ada 400an orang yang tidak diterima. Anda tentu tidak ingin ada dalam kelompok itu bukan? Maka dari itu tugas Anda adalah keluar dari kelompok 400 yang tidak lolos itu. Artinya, untuk bisa mendapatkan beasiswa ADS Anda wajib lebih baik dari setidaknya 400 orang. Ini tidak bisa ditawar. Dengan perspektif seperti ini Anda akan bisa menempatan perjuangan ini dalam konteks yang lebih tepat. Satu lagi, beasiswa ADS adalah misteri Ilahi. Jika Anda percaya keberuntungan, sebaiknya percaya keberuntungan versi Thomas Jefferson bahwa “the harder I work the more luck I seem to have“. Dan bahwa orang yang tidak diterima tidak selalu berarti tidak mampu.

Ada dua hal utama yang akan dihadapi oleh para kandidat yang masuk shortlist yaitu ujian IELTS dan Wawancara dengan Joint Selection Team. Saya tidak akan berbicara banyak soal IELTS di sini karena sebelumnya sudah pernah saya bahas. Yang mau saya ingatkan lagi adalah bahwa ujian formal seperti IELTS adalah sebuah ujian standard yang memiliki pola tertentu. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah memahami dengan baik pola ujian itu. Orang sebaiknya tidak mengikuti ujian sebelum hafal secara meyakinkan komponen apa saja yang diuji di IELTS, berapa jumlah pertanyaan masing-masing, berapa lama waktu ujian dan lain-lain. Belum pernah ikut IELTS sama sekali? Beli bukunya, ikuti kursusnya, atau belajar dari mereka yangs udah pernah. Intinya, Anda masih punya waktu maka gunakan waktu itu untuk bersiap-siap.

Hal kedua adalah wawancara JST. Saya sudah pernah menulis tips wawancara di blog ini. Ada juga prediksi pertanyaan yang saya buat tahun 2012 dan saya sertakan jawabannya untuk tahun 2013 atau tips wawancara dan IELTS yang saya tulis sebelumnya. Lihat juga bagaimana saya menjalani wawancara untuk beasiswa ALA, mungkin ada manfaatnya untuk persiapan. Mulai tahun ini ada sedikit perubahan dalam hal seleksi, terutama untuk PhD (atau mungkin juga Master by Research, silakan dilihat). Kandidat diminta untuk memaparkan proposal penelitiannya dalam waktu 10 menit saja dan tidak boleh lebih. Hal-hal yang wajib dipaparkan adalah metodology, mengapa penelitian penting bagi Indonesia, memastikan bahwa penelitian itu bisa diselesaikan dalam waktu yang dialokasikan dan menegaskan sumbangan penelitian itu bagi disiplin terkait. Perlu diingat, tidak diperkenankan menggunakan alat bantu presentasi seperti power point. Yang perlu disiapkan, presentasi ini akan diikuti dengan tanya jawab sekitar 25-30 menit. Semua kandidat PhD akan diundang ke Jakarta dengan biaya ADS untuk memaparkan rencana penelitiannya dan ada 60 orang calon PhD yang akan diterima, naik 100% dari tahun lalu. Silakan lihat tulisan saya tentang tips memaparkan proposal ini. Informasi ini disampaikan dalam surat undangan kepada kandidat PhD, seperti yang disampaikan oleh Sahabat Saya, Taufik E. Susanto yang berbaik hati telah berbagi surat undangan untuk istrinya.

Kisah saya dalam mendapatkan beasiswa juga pernah saya tulis di sini dan mungkin bisa dibaca lagi. Bagi yang sekian kali berjuang dan baru kali ini mendapat kesempatan untuk dipanggil wawancara, silakan simak kisah Asti, isteri saya, yang saya tulis Februari lalu. Tidak ada tips yang tiba-tiba membuat Anda jadi pintar dan pasti diterima beasiswa ADS. Meski demikian, jangan lewatkan satu pun dari semua dokumen dan bahan lain yang diberikan oleh ADS dalam amplop besar yang Anda terima. Baca semua tulisan dan nikmati semua videonya. Kunjungi lagi website resmi ADS Indonesia untuk menyegarkan ingatan. Yang bisa dilakukan adalah mengerahkan segenap upaya agar tidak kita sesali hasil apapun yang akan diberikan oleh Sang Pemilik Waktu kelak di kemudian hari. Selamat berjuang kawan!

Bersekongkol dengan rakyat

Belakangan ini saya cukup sering menonton video yang diunggah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Youtube. Selama sekian tahun ada Youtube, baru kali ini saya betah menonton video yang ditayangkan oleh lembaga pemerintah. Ketertarikan saya melihat video PemProv DKI setara dengan antusiasme saya menyaksikan video-video Obama di Gedung Putih. Menurut saya, Pemprov DKI yang digawangi Jokowi dan Ahok telah berhasil membangun antusiasme publik. Masyarakat punya ketertarikan tinggi terhadap apa yang dilakukan oleh Gubernur dan Wagub Jakarta.

Dengan menayangkan video di Youtube, sesungguhnya Gubernur dan Wagub baru sedang berupaya ‘bersekongkol’ dengan rakyat. Sebuah video pelaksanaan rapat dengan PU yang ditayangkan di bawah ini misalnya, secara transparan menunjukkan pemikiran dan sikap tegas Gubernur dan Wagub tentang pembelaannya terhadap rakyat. Semua transparan, semua terbuka. Dengan begini, rakyat tahu persis apa yang terjadi. Dengan kata lain, rakyat diajak ikut serta mengawasi pemerintah dan terutama mengawasi sikap dan perilaku birokrat. Ini kelak juga akan jadi semacam bahan dukungan jika Gubernur dan Wakil Gubernur harus melakukan perombakan personil di suatu dinas misalnya. Dengan gagah mereka bisa bilang ‘seluruh rakyat seluruh dunia tahu kok. Mereka yang akan ada di belakang kami jika ada yang menghalangi’. Kini saya makin yakin bahwa teknologi informasi yang dimanfaatkan secara baik dan oleh mereka yang punya kuasa benar-benar bisa digunakan untuk menegakkan kebajikan. Jalan tentu saja masih panjang dan terlalu pagi untuk menghakimi. Meski demikian, Saya tidak pernah seoptimis ini tentang Indonesia melihat pemimpin yang ‘bersekongkol’ dengan rakyat melalui cara cerdas seperti yang dilakukan Jokowi-Ahok.

[Bukan] tabrak lari

dirawat setelah ditabrak

Pagi itu tanggal 13 September 2012, mobil saya ditabrak oleh sebuah mobil saat berhenti di sebuah perempatan yang padat lalu lintasnya. Pagi itu saya mengantar Lita, anak saya, ke sekolah di Jogja bersama mbah putrinya dan harus berhenti karena perempatan sangat padat. Saya lihat polisi sibuk mengatur lalu lintas dengan cekatan. Di depan saya terlihat sebuah mobil berhenti dan sayapun berhenti pada jarak sekitar dua meter di belakangnya. Saya yakin ini posisi aman karena jalannya tidak terlalu menanjak. Untuk kondisi wajar, tidak akan terjadi apa-apa, saya yakin.

Continue reading “[Bukan] tabrak lari”

Kembalinya si STNK hilang

Pagi itu saya dibuat panik karena STNK motor tidak ditempatnya. Singkat kata, STNK motor hilang entah ke mana. Yang saya ingat hanya satu, kemarinnya saya berkendara di sekotar Jalan Solo dan jalan kampus UPN. Kemungkinan besar STNK jatuh karena saya tempatkan di saku jaket. Usaha untuk mencari STNK itu pagi-pagi ternyata tidak berhasil. Saya merasa positif bahwa STNK itu hilang.

Continue reading “Kembalinya si STNK hilang”