30TahunDiUGM #1 – Mimpi Anak SMA


Denpasar, medio 1996

Ujian akhir SMA sudah selesai. Saya belum mendapatkan tempat kuliah sementara satu per satu kawan sudah menerima berita baik. Ada yang masuk Kedokteran Brawijaya, ada yang di Unhas, dan tentu saja banyak yang di Udayana. Rasanya tidak mudah menyembunyikan kegelisahan. Keirian, bahkan!

Di rumah berdinding gedeg (anyaman bambu) yang mulai menua, saya bercakap-cakap dengan ibu saya. Sebuah percakapan mendalam antara seorang anak lelaki yang galau dan hampir runtuh percaya dirinya, dengan seorang ibu yang berjuang keras menyembunyikan kekhawatirannya. Meski tersenyum, dari wajahnya menyeruak kegetiran.

“Jika saya gagal masuk UGM lewat PMDK, saya akan berjuang lewat jalur tes UMPTN. Saya tetap akan pilih Teknik Geodesi atau Teknik Sipil UGM.” Ibu saya menyimak dengan saksama. Perempuan lulusan SD itu barangkali tidak paham apa yang saya ucapkan. Namun, matanya tak bisa sembunyikan pilu hatinya. Pada sorot matanya menerjang untaian doa yang tak terbendung. Saya tahu.

“Kalau tahun ini saya tidak berhasil mendapatkan kuliah  yang saya inginkan, saya akan istirahat sejenak. Saya akan belajar tekun selama setahun dan ikut bimbingan tes sambil membantu ibu. Saya akan berjuang masuk Teknik Sipil ITB.” Bukan untuk memberitahu ibu saya, saya berucap semata-mata untuk menguatkan diri sendiri. Saya ucapkan semua itu, bukan untuk menginformasikan tetapi sebagai doa. Doa anak laki-laki yang porak-poranda hatinya karena kegagalan terasa begitu dekat.

Ibu saya adalah menjual bahan bangunan kecil-kecilan. Kami tinggal di sebuah rumah gubuk di Padang Galak di bagian timur Denpasar. Tanah itu kami sewa untuk tempat menimbun pasir. Di pojok timur yang agak tersembunyi, gubuk berdinding gedeg itu kami dirikan. Itulah yang menaungi saya selama sekolah di SMA 3 Denpasar. Sore itu, rumah kami diselimuti mendung kekhawatiran dan berbalut kabut ketidakpastian.

Bandara YIA, 2026

“Ke Gate 1 ya Mas?” tanya seorang anak muda laki-laki dengan raut muka panik dan gelisah. “Oh, bukan saya ke Gate 2A. Saya ke Jakarta” jawab saya. “Oh saya kira ke Makassar juga” katanya masih gelisah. Rupanya ini kali pertama dia berangkat dari YIA ke Makassar. “Ikut saya saja, gate-nya berdekatan kok” kata saya mencoba menenangkannya. Dia tampak gelisah dan mungkin takut tertinggal pesawat. “Saya mau pulang ke Makassar. Saya ikut UTBK di UGM” katanya ketika saya tanya. Saya paham rasa itu Nak. Saya paham. Aku doakan, semoga di tahun 2056 kelak, masih busa kubaca kisahmu #30TahunDiUGM”.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?