Demi Kepentingan yang Lebih Besar

“Seharusnya dia tidak bersikap picik seperti itu. Sebagai pejabat negara, dia harus mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Jangan hanya gara-gara tidak suka dengan seseorang, atau gara-gara orang itu tidak berasal dari partainya, maka dia tidak mau bekerja sama. Jika pejabat negara bersikap seperti itu, kapan negara ini maju?!”

Sambil telaten menyetir kendaraan, Genjo menyimak celoteh tuannya, sang akademisi, yang berbicara bersemangat. Sungguh cemerlang pandangan beliau soal mengutamakan kepenting bangsa. Di tengah percakapan searah itu, tiba-tiba ada panggilan telepon masuk. Sang tuan menjawabnya dengan sigap.

“Ya Pak” lalu diam lama. Genjo tentu tidak paham apa yang terjadi. Dia hanya mendengar sang tuan kemudian berbicara agak panjang.

“Gini Pak. Saya tentu mau melaksanakan penelitian itu. Itu memang bidang ilmu saya, apalagi ini penting untuk kebijakan nasional. Kalau boleh, saya ingin membentuk tim sendiri. Saya akan masukkan orang-orang yang saya percaya kemampuannya.” Lalu diam agak lama sebelum kemudian melanjutkan.

“Wah maaf Pak, kalau diminta memasukkan Prof Kondang ke tim penelitian ini, saya keberatan. Dia memang ahli tapi sikapnya kurang baik. Lagipula, dia bukan bagian dari kelompok penelitian saya selama ini. Dia akan mengganggu kerja tim. Saya yakin itu. Jika Bapak tetap bersikeras memakai dia sebagai ahli, maaf saya tidak mau terlibat dalam penelitian ini.”

Genjo tidak paham apa yang terjadi. Isi ruang kepalanya terlalu sempit untuk memahami bahasa tinggi.

Advertisements

Ketika Standup Comedian Bercanda tentang Agama

Untuk kepentingan pribadi, saya berkeyakinan bahwa kita boleh bercanda dengan topik agama. Saya dengan sangat ringan bisa mengatakan “saya Hindu KW” sambil berkelakar, ketika tidak bisa menjelaskan suatu perkara dalam sudut pandang Hindu. Teman saya biasanya tertawa mendengar itu. Tidak ada yang marah, tidak ada yang menghina dan rasanya juga tidak ada yang memandang saya jauh lebih rendah dari sebelumnya. Bagi saya, ini adalah bercanda dengan topik agama. Saya melakukannya dengan kesadaran dan tidak ada maksud menghina siapapun, kecuali diri sendiri. Itupun kalau mengaku sebagai Hindu KW itu bisa membuat saya hina.

Ketika kegiatan berlangsung di kampus atau tempat lain dan waktu sholat tiba, saya kadang berkelakar “titip absen ya Bro” kepada teman saya yang akan sholat. Tidak jarang teman saya ini berkata “kok titip absen melulu sih? Hadir dong sekali-sekali” dan yang lain pun menyambut dengan gelak tawa. Bagi saya, ini adalah bercanda dengan topik agama. Sejauh ini tidak ada masalah, tidak ada yang merasa tersinggung dan tidak ada yang mengajukan saya ke pengadilan dengan tuduhan menista agama. Saya paham teman-teman saya, merekapun paham apa yang ada di benak saya. Kesepakatan dan saling pemahaman itulah yang menjadi dasar kokoh sehingga kelakar itu hadir sebagai kelucuan, tidak lebih tidak kurang.

Dengan beberapa teman dekat lainnya, saya bahkan berkelakar lebih jauh dan mungkin lebih sensitif soal agama. Saya berkelakar tentang topik yang jika didengar oleh orang lain yang tidak mengenal saya, bisa jadi dianggap ofensif. Saya berani melakukan itu karena saya tahu bahwa saya dan teman saya ini memiliki pandangan yang sama akan sesuatu dan sudut pandang kami tidak jauh berbeda. Saya belajar soal kemuliaan agama-agama di luar Hindu, justru dari kelakar dan interaksi penuh guyon dengan para karib saya dari berbagai agama.

Satu hal yang pasti, seberapapun baik dan sabarnya seseorang, tidak ada yang bahagia jika agamanya dihina atau dilecehkan. Perihal benar atau tidak, itu cerita lain. Karena reaksi teman-teman saya adalah tertawa dan bahagia, saya yakin tidak ada yang merasa agamanya dihinda dalam percakapan dan interaksi kami. Saya tetap yakin bahwa kelakar perihal agama boleh dilakukan jika pihak-pihak yang terlibat bisa menerima itu sebagai kelakar.

Bagaimana dengan candaan soal agama di ruang publik? Saya kira prinsip tadi tetap berlaku, bahwa kesepakatan dan sudut pandang pihak yang terlibat adalah yang terpenting. Jika di ruang publik itu ada orang yang berbeda sudut pandang dan pemahamannya, bisa jadi kelakar ini menjadi kesalahan yang berakibat fatal. Hal ini juga berlaku saat agama dijadikan bahan bercanda di standup comedy, misalnya.

Saya setuju dengan Pandji Pragiwaksono, standup comedy bukan soal cerdas atau tidak tetapi soal referensi. Jika comic dan penontonnya menggunakan referensi informasi yang sama atau mirip maka mereka akan bersenang-senang dengan topik yang disajikan. Lucu atau tidak, dalam konteks standup comedy, adalah soal referensi dan, kalau boleh saya tambahkan, juga soal frekuensi. Jika comic dan pendengarnya ada di frekuensi yang sama atau mirip soal suatu isu maka materi itu bisa jadi lucu.

Yang pasti, saya menikmati topik agama dalam berbagai standup comedy, tentu saja termasuk ketika Hindu yang dijadikan bahan candaan itu. Sependek pengetahuan saya, Tuhan itu maha besar dan tinggi. Beliau tidak akan pernah terhina dan nista dengan kelakar manusia. Meski demikian, saya juga paham bahwa setiap orang memiliki pandangan sendiri. Maka saya pun paham jika ada orang yang merasa tidak nyaman dengan kelakar soal agama. Saya juga mengerti jika ada orang yang marah dan emosi ketika mendengar kelakar soal agama, terutama agama orang itu. Kenyataannya, sudut pandang orang memang tidak bisa dipaksakan. Jika ada yang boleh tertawa karena suatu materi standup comedy, tentu kita harus hormati mereka yang marah karena materi yang sama.

Pertanyaan selanjutnya, apakah bahan bercanda tentang agama harus diteruskan atau dihentikan? Di sini mekanisme seleksi alam akan terjadi. Reaksi pasar akan membuat seorang standup comedian mengambil keputusan. Sebagai sebuah karya seni berekspresi, seorang standup comedian bisa saja idealis dan teguh pada pendiriannya untuk, milsanya, tetap menjadikan agama sebagai bahan kelakar. Namun sebagai industry hiburan, perilaku pasar tentu ikut menentukan keputusan seorang standup comedian.

Yang pasti, kualitas seorang standup comedian, atau siapapun yang dengan sadar menjadikan agama segai topik dalam berkelakar, tidak hanya ditentukan dari kualitas leluconnya tetapi, yang lebih penting, dari sikap dan reaksinya kepada pihak yang tidak menyukai materinya. Kualitas sejati seorang standup comedian akan nampak dari cara dia merespon orang-orang yang tidak suka atau tersinggung dengan materinya. Kita akan bisa melihat dengan mudah apakah seorang standup comedian termasuk yang cemen dan KW atau yang hebat dan bijaksana. Maka ruang informasi publik, termasuk media sosial, adalah bilik pengadilan dan kita semua adalah hakimnya. Selamat menjadi hakim yang adil dan bijaksana.

Buku Baru 2017: Inspirasi Empat Musim

Sahabat pembaca yang budiman,

Terima kasih telah setia bersama madeandi.com selama beberapa tahun terakhir. Saya tahu, ada pembaca yang telah berkunjung ke sini sejak 2004 dan masih kerap mampir hingga hari ini. Terima kasih. Pembaca baru yang awalnya tergelincir karena licinnya mesin pencari atau media sosial juga tidak sedikit yang akhirnya menjadi pembaca setia. Terima kasih. Apapaun yang Anda temukan di sini, semoga ada pelajaran, dari yang baik maupun tidak begitu baik. Dari cerita kesuksesan maupun kegagalan, semoga ada inspirasi yang bisa dituai.

Mengakhiri tahun 2017 saya persembahkan tulisan-tulisan saya di blog ini menjadi sebuah buku. Anda mungkin sudah membaca sebagian besar dari tulisan itu tapi mungkin tertarik untuk memilikinya sebagai buku untuk dibaca di kala senggang atau saat sedang melamun di kereta, pesawat, bus atau saat mengantri di mana saja. Atau mungkin Anda ingin membagi pengalaman membaca ini kepada mereka yang tidak punya kemewahan menikmati internet yang memadai. Saudara-saudara kita yang ada di tempat-tempat yang jauh dari riuh rendah teknologi mungkin akan sumringah menerima kiriman sebuah buku untuk mereka baca.

Buku ini adalah tentang perjalanan  saya mengunjung berbagai negara di Asia, Australia, Amerika, Eropa dan Afrika yang memberikan banyak pelajaran berharga. Inspirasi ini saya harap bisa menjadi alasan untuk keluar dari zona nyaman dan lingkungan geografis yang melenakan. Semoga inspirasi ini menggerakkan Anda untuk melakukan sesuatu yang baru dan memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat jauh yang asing dan penuh kejutan.Kepada Anda yang berada di teman-tempat jauh yang mungkin terlupakan, semoga buku ini jadi pengingat bahwa dunia kita sebenarnya jauh lebih besar dari yang kita lihat. Dunia ini sesungguhnya sebesar imajinasi kita.

Semoga buku ini mengingatkan bahwa kita adalah warga dunia. Jika dunia bisa digerakkan dari sebuah kantor di Wall Street New York, maka dia harusnya bisa diwarnai dari sebuah rumah sederhana di Talaud atau Atambua. Maka bukalah mata, lakukan hal-hal baru. Seperti nasihat Mark Twain, dalam dua puluh tahun ke depan, kita akan lebih sering menyesali apa yang tidak sempat kita lakukan, bukan apa yang kita lakukan.

Seorang sahabat penulis idola saya, Bang Fuadi, penulis Negeri Lima Menara, menyampaikan dukungannya:

Berbilang buku catatan perjalanan yang saya baca, tapi buku ini salah satu favorit saya. Kisah tamasya dengan aneka cita rasa: haru, tawa, bangga dan menyuntikkan energi. Ahli hukum laut dan surveyor ini kerap berbicara di berbagai forum internasional, di hadapan para pemimpin dunia, peneliti internasional, menteri dll. tapi sirkuit global yg membanggakan ini tak membuat dia lupa utk membimbing mahasiswanya dengan penuh perhatian di rumahnya yang asri. Dan kawan baik saya ini terus rindu utk pulang ke Bali, mengobrol berlama-lama dengan ibunya di dapur sambil menyantap masakan ibu.

Apakah Anda ingin mengoleksi karya ini? Dapatkan satu buku istimewa di bit.ly/Inspirasi4Musim

 

Cerita di Balik Juara

Di Hari Nusantara 2017 ini, kami menerima berita terbaik. Lita dinyatakan sebagai Juara 2 dalam kompetisi penulisan “Our Ocean Story” yang diadakan oleh Delegasi Uni Eropa Indonesia dan Brunei Darussalam. Tentu saja kami gembira. Kegembiraan ini jauh melebihi keberhasilan lain yang pernah saya rasakan dalam hidup. Jika dulu saya merasa kesal karena Ibu dan Bapak saya selalu berlebihan dalam membanggakan pencapaian saya, kini sepertinya Lita merasakan hal yang sama. Maafkan ayah, Nak.

Continue reading “Cerita di Balik Juara”

Adi Sumardiman, Sang Pemeta Wawasan Nusantara

Lelaki itu telentang dan nampak ringkih. Tubuhnya sulit bergerak dan ada sabuk berwarna putih kusam yang melingkari pinggang hingga perutnya. Geraknya memang terbatas, tetapi sorot matanya tidak demikian. Ada sinar tajam yang keluar dari kedua bola matanya yang berbinar. Suaranya menggelegar, keras dan semangat menjelaskan banyak hal yang bagi saya masih miseteri dan rahasia. Rahasia tentang laut Indonesia.

Namanya Adi Sumardiman, semangatnya menghangatkan seluruh ruangan ketika kami mengunjunginya di perumahan tentara di Jakarta beberapa tahun silam. Lelaki ini mungkin tidak dikenal banyak orang tetapi karyanya turut mengubah wajah hukum laut internasional yang dianut masyarakat dunia saat ini.

Kisahnya berawal dari keberanian Perdana Menteri Djuanda untuk mendeklarasikan bahwa laut di antara pulau-pulau Indonesia adalah bagian dari kedaulatan Indonesia. Laut yang tadinya merupakan laut bebas dan bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, kini ditegaskan menjadi milik Indonesia. Deklarasi Djuanda adalah tindakan berani Bangsa Indonesia yang belum pernah dilakukan oleh siapapun. Dengan dukungan Mochtar Kusumaatmadja dan Chaerul Saleh, Indonesia memperkenalkan sebuah konsep negara kepulauan. Itulah cikal bakal Wawasan Nusantara.

Bisa diduga, usulan Indonesia itu tidak langsung disetujui dunia. Djuanda juga tidak hidup lama untuk menyaksikan gagasannya menyentuh keberhasilan. Perjuanganya dilanjutkan dengan semangat yang sama oleh delegasi Indonesia di meja perundingan. Di antara para ilmuwan hukum dan sosial politik itu, ada seorang surveyor geodesi bernama Adi Sumardiman. Ketika itu, Adi Sumardiman adalah perwira Angkatan Laut yang dipercaya untuk menjadi anggota delegasi bersama Mochtar Kusumaatmadja, Hasjim Djalal, Nugroho Wisnumurti, Budiman, Toga Napitupulu, Zuhdi Pane, Nelly Luhulima, Hardjuni, dan Wicaksono Sugarda. Dari sini kita meneladani kolaborasi antardisiplin. Bahwa tidak ada satu gagasanpun yang berhasil baik tanpa kolaborasi banyak pemikiran. Kini, keteladanan ini niscaya karena kita hidup di era kolaborasi, bukan kompetisi.

Adi Sumardiman bekerja dalam diam, suaranya mungkin tidak selantang Hasjim Djalal yang bertempur dalam diplomasi verbal di sidang PBB untuk meyakinkan dunia. Kosakata yang diucapkannya mungkin tidak sememikat diplomat ulung sekelas Mochtar Kusumaatmaja yang menurut seorang professor di Virginia University membuat forum bergetar. Adi Sumardiman seorang surveyor. Dia mengemukakan gagasannya dalam bentuk titik, garis dan ruang di atas peta. Adi Sumardiman memvisualisasi gagasan dan diskusi yang berkembang hangat di forum dunia itu lalu mengkuantifikasinya menjadi angka-angka jarak dan luasan.

Selama sembilan tahun, sejak 1973 sampai 1982, Adi Sumardiman memainkan peran penting dengan menjadikan peta sebagai alat diplomasi. Dengan rajin dan cermat ditariknya garis-garis yang mencerminkan dinamika gagasan dari rekan-rekan sesama anggota delegasi Indonesia. Kadang ditebalkan, kerap juga harus dihapus. Kadang garisnya lurus kadang berbelok. Kadang garis utuh, kadang putus-putus. Hampir satu dekade berlalu, akhirnya perjuangan Indonesia membuahkan hasil. Di Montego Bay pada tanggal 10 Desember 1982, dunia menyepakati Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Di dalam konvensi itu, mengalir deras gagasan putra-putra terbaik Indonesia dan seorang surveyor bernama Adi Sumardiman ada di dalamnya.

Kita menghormati Djuanda Kartawidjaja sebagai tokoh penabur benih Wawasan Nusantara yang dijaga dan disirami diplomat ulung sekelas Mochtar Kusumaatmadja dan Hasjim Djalal. Di antara mereka, bekerja dalam sepi seorang surveyor pelukis peta. Adi Sumardiman adalah Surveyor yang turut memetakan Wawasan Nusantara. Lelaki itu kini telah menghadap Yang Maha Kuasa, mungkin dalam keadaan bersabuk putih yang kusam warnanya. Namun goresan tangannya di atas peta sketsa perundingan tetap dicatat sejarah. Dan gelegar suaranya akan hidup, terngiang di telinga dan memberi semangat pada orang-orang yang sudi mendengar.

Ps. Ditulis dalam rangka memperingati 60 tahun Deklarasi Djuanda

Presentasi Harus Wangi Meski Tak Harus Mandi

Ladies and Gentlemen, please welcome Dr. I Made Andi Arsana” demikian Master of Ceremony (MC) memanggil dan riuh tepuk tangan mengiringi. Saya beranjak dengan detak jantung yang meningkat ritmenya, melangkah menuju podium tak jauh dari tempat duduk saya. Musik yang elegan mengiringi, menjadi soundtrack yang seakan berusaha meyakinkan bahwa orang yang sedang bergerak ke panggung itu memang pantas untuk ditunggu dan didengarkan. Semua itu hanya menimbulkan satu hal: kegugupan.

Berdiri di podium, saya berusaha tersenyum meski sebenarnya tidak begitu percaya diri. Dalam rangka mengusir kegugupan, saya gerakkan microphone yang sebenarnya tidak perlu digerakkan. Saya geser sedikit ke kanan untuk kemudian dikembalikan ke kiri, ke tempatnya semula. Ya, kita semua pernah melakukan ini: menggerakkan hal-hal yang tidak perlu digerakkan di meja saat berbicara untuk mengusir keresahan. Untunglah di podium itu tidak ada botol, gelas, buku catatan, bolpen dan permen karena jika ada maka waktu saya akan tersita untuk memindahkan dan menggerakkan benda-benda itu, lalu mengembalikannya ke tempat semula.

Di depan saya nampak puluhan orang yang rata-rata mengenakan jas dan dasi, duduk tenang dengan sikap wibawa. Mereka adalah para ahli, praktisi, diplomat senior, duta besar, mantan menteri, jurnalis kawakan, professor dan anak-anak muda yang cemerlang. Hari itu, Rizal Ballroom Shangrila Hotel Makati di Filipina dipenuhi wajah-wajah yang bagi saya mengintimidasi. Meski dengan suasana yang cukup mengancam, toh tugas tetap harus ditunaikan. Saya mengingat ajaran Benjamin Mee di film ‘We Bought A Zoo’ yang mengatakan bahwa kita hanya perlu memaksa diri selama 20 detik saat memulai bicara dan selanjutnya akan baik-baik saja.

Thank you Gica!” demikian saya memulai untuk berterima kasih kepada MC. “I am the last speaker before lunch and after five other outstanding speakers, wish me luck!” lanjut saya yang cukup berhasil menghadirkan suasana rileks di ruangan itu. Tidak mudah untuk menarik perhatian orang-orang itu karena situasinya memang sulit. Acara molor sehingga kian dekat dengan makan siang dan saya menjadi pembicara terakhir ketika hadirin sudah tidak konsentrasi. Tidak ada banyak pilihan, I would just do my best.

Saya belum mandi karena baru saja mendarat di Bandara NAIA, Manila beberapa jam lalu dan langsung ke hotel Shangri-La Makati, tempat konferensi. Tentu saja berbeda dengan suasana delapan tahun lalu di Paris yang dipenuhi mahasiswa Indonesia, kali ini saya tidak perlu berkelakar soal mandi. Wajah-wajah wibawa di depan saya sudah cukup mengancam dan seakan mengingatkan ‘jangan cengengesan’. Perjalanan sekitar total 10 jam membuat saya agak limbung ketika ada di panggung, terutama karena ketika di pesawat saya duduk dengan seorang pemuda yang ke kamar mandi setiap jam. Saya duduk di kursi dekat gang sehingga dia yang duduk di tengah harus membangunkan saya setiap saat. Untuk pertama kalinya, kebiasaan saya yang sudah terlelap bahkan ketika belum take off dan terjaga ketika sudah landing jadi terganggu dan tidak terlaksana.

Meski agak linglung, masih segar dalam ingatan saya, tadi di bandara bertemu seorang kawan aktivis jurnalisme warga, Anton Muhajir, yang melahirkan, merawat dan membesarkan Balebengong.net. Kami jarang sekali bertemu dan sekalinya bertemu, di negeri orang dan itupun di bandara tanpa sengaja. Maka minum kopilah kami di bandara sambil menyelesaikan presentasi. Karena bercakap-cakap dengan wartawan, secara tidak langsung saya ‘diinterogasi’ dan akhirnya menjadi semacam ajang pemanasan sebelum berbicara di Shangri-La. Tempat dan suasana berlatih memang bisa ada di mana saja.

Dalam presentasi saya, tentu saja ada joke, ada serius dan ada juga sok inspiratifnya. Sebenarnya ketiga hal ini subyektif. Joke bagi saya, bisa saja tidak lucu bagi orang lain. Serius bagi saya, bisa saja biasa bagi pendengar yang sudah paham dan hafal hal yang saya anggap serius itu. Inspiratif apalagi. Hal yang menurut seseorang inspiratif bisa jadi garing bagi orang lainnya. Maka dari itu, mengetahui dengan jelas siapa audience kita adalah kewajiban bagi seorang presenter. Sebelum naik ke panggung saya baca sekali lagi profil pembicara dan audience di ruangan itu agar saya merasa lebih tenang dan akrab. Meski demikian, mengetahui dengan baik kualitas audiens kita kadang-kadang membuat kita tambah grogi. Memang tidak ada satu standar baku dalam presentasi, semuanya bisa relatif dan pengalaman masing-masing orang akan berbeda.

Somehow, we ASEAN are ahead. We a not losing all the time” demikian saya tegaskan beberapa saat mendekati akhir presentasi. Saya ingin mengemukakan hal yang lebih positif di tengah beberapa pesimisme yang disampaikan pembicara sebelumnya. Topik saya adalah ‘Navigating ASEAN in the Complexity of the South China Sea Dispute’. “And the secret recipe consists of four ingredients: equality, pragmatism, trust and leadership” lanjut saya. “And in the future, this is ASEAN that we want to see: agile, strong and swift, yet patient and self-restraint. With that, I thank you!” Terdengarlah tepuk tangan tanda akhir dari presentasi saya. MC nampak lari tergopoh-gopoh seakan belum sadar kalau presentasi saya sudah berakhir. Presenter sebelumnya memang sampai didekati MC, sebagai peringatan halus bahwa waktu mereka sudah habis.

Saya pun berjalan menuju tempat duduk dengan kecamuk berbagai perihal. Waktu kemudian berjalan lambat karena tiba-tiba kantuk menyerang. Pikiran yang tenang mendatangkan kantuk dengan cepat dan lelah baru terasa. Selepas tanya jawab dengan semua panelis, saya kembali ke meja dan bersiap-siap untuk kembali ke Jogja. Sore itu saya akan terbang kembali pulang ke Jogja dan ini menjadi perjalanan internasional untuk konferensi yang paling singkat. Saya tiba di Filipina pagi, bicara siang hari dan kembali pulang sore harinya. Ketika digoda soal itu oleh seorang kawan dari Singapura, saya bilang “this is what we mean by ASEAN Economic Community. I commute from Jogja to speak in Manila and return the same day.” Sedetik kemudian tergelaklah kami semua.

Dalam persiapan sebelum pulang, seorang perempuan muda mendekati saya. Dari cara bicaranya nampak dia cerdas dan memperhatikan persentasi saya dengan seksama. “So I really want to talk to you about some important matters regarding ASEAN and the South China Sea. My friend might be able to see you next time” katanya sambil menyerahkan kartu nama. Dalam perjalanan menuju mobil yang sudah disiapkan panitia, saya melihat lagi kartu namanya dan ada gejolak rasa yang tak biasa ketika sekali lagi membaca nama medianya: “Financial Times”. Mungkin saya dapat kartu nama ini karena presentasi saya tadi cukup wangi, meskipun presenternya belum mandi.