Cerita Saya Sekolah S2 #1: Memulai dari NOL!

Januari 2004 adalah titik awal sejarah itu dimulai. Saya mendarat pagi hari di Bandara Sydney setelah menempuh perjalanan semalam penuh dari Bali. Meskipun keriangan masih tak terbendung karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di Negeri Kangguru untuk sekolah S2, kegamangan menyelinap dengan segera. Pertanyaan ini dan itu muncul dengan deras, keraguan susul menyusul dengan sigap dan cepat. “Bisakah saya bertahan dan kemudian pulang dengan cerita yang baik?” Itu pertanyaan yang muncul segera menjadi kegelisahan tetap yang bercokol di pikiran saya setiap saat.

Continue reading “Cerita Saya Sekolah S2 #1: Memulai dari NOL!”

Pesan untuk Mahasiswa Bidikmisi

Foto: selepas mengisi acara Kamadksi Undip

Jika digolongkan berdasarkan situasi ekonomi orang tuanya, mungkin mahasiswa memang bisa digolongkan mahasiswa Rich Dad alias yang orang tuanya kaya dan berkecukupan dan Mahasiswa Poor Dad alias yang orang tuanya pra sejahtera. Mahasiswa jenis kedua ini banyak ditemui di Indonesia, terutama mereka yang mendapat beasiswa Bidikmisi. Sejak tahun 2010, pemerintah Indonesia melakukan terobosan kebijakan dengan memberi beasiswa kepada anak-anak keluarga miskin sehingga bisa kuliah. Ini luar biasa.

Continue reading “Pesan untuk Mahasiswa Bidikmisi”

Jangan terlalu serius, ini cuma gelar Doktor

Di hari pertama saya memulai PhD di Australia, pembimbing saya menyampaikan “it’s only a PhD, Andi. Take it easy”. Saya terkejut. Bagaimana bisa santai? Ini adalah pencapaian akademik tertinggi. Saya harus buktikan bisa menciptakan hal baru dan berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Bagaimana bisa santai?!?!

Dia paham kegalauan saya. Dia kemudian melanjutkan. Doktor adalah surat izin meneliti. Tidak lebih dari itu. Dengan meraih gelar doktor kamu sudah lolos proses pelatihan sehingga selanjutnya siap meneliti yang ‘sebenarnya’. Lebih lanjut dia bilang “the real work is after your PhD”. Jangan habiskan waktumu saat meraih doktor karena itu bukan pencapaian tertinggimu.

Jika kamu punya passion dan ketertarikan akan satu bidang, kerjakan itu dengan sungguh-sungguh, dengan semangat, dengan keriangan, tanpa tekanan deadline dan tanpa direcoki oleh orang lain. Saat proses meraih doktor, kamu tidak punya kemewahan itu. Jadi kamu bisa simpan dulu cita-cita besar itu sampai lulus PhD dan nanti kamu bisa melakukan apa saja.

Dia lanjut lagi. Jika kamu bisa kerjakan PhD dengan cara yang mudah namun sudah memenuhi syarat minimal sebagai PhD, kamu tidak harus menyiksa diri berlebihan, kan?! Jika kamu ingin yang luar biasa dan sempurna, lakukan setelah gelar PhD di tangan. Kamu bisa mengatur sendiri ritme dan kedalaman penelitianmu ketika itu.

Di suatu ketika, saya bertemu teman yang memulai PhD hampir bersamaan dengan saya. Dia ternyata sudah lulus. Ketika saya jelaskan situasi saya, dia hanya berkomentar singkat. “Come on, Man. Get your license and let’s start the real work”.

Jadi, ini cuma gelar doktor, jangan terlalu serius 🙂

Ketika Lita Ikut Lomba Dharma Wacana Bahasa Inggris

Saya diminta jadi pembina lomba Dharma Wacana (ceramah keagamaan Hindu) dalam Bahasa Inggris bagi kontingen Kabupaten Sleman. Yang menarik, Lita jadi salah satu peserta kategori remaja. Saya sudah melihat tantangannya. Membina anak sendiri tidak pernah mudah.

Continue reading “Ketika Lita Ikut Lomba Dharma Wacana Bahasa Inggris”

Apakah Kita Kehilangan Sipadan dan Ligitan?

Tahun 2002, Indonesia kalah atas Malaysia dalam kasus penentuan kepemilikan atas Pulau Sipadan dan Ligitan. Apakah Indonesia kehilangan kedua pulau itu? Indonesia tidak pernah kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan. Indonesia hanya gagal menjadikan kedua pulau itu sebagai miliknya. Secara hukum, Sipadan dan Ligitan memang belum pernah secara sah menjadi milik Indonesia. Bagaimana mungkin kita kehilangan sesuatu yang tidak pernah dimiliki? Memangnya kamu yang merasa kehilangan padahal belum pernah memiliki 🙂

Continue reading “Apakah Kita Kehilangan Sipadan dan Ligitan?”

Setelah Enam kali Gagal Beasiswa Australia, Berhasil di Percobaan Ketujuh

Di Universitas Lambung Mangkurat, saya bertemu dengan Mas Kailani, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB). Dari percakapan kami, saya tahu bahwa Mas Kailani adalah alumni University of Adelaide, Australia dengan beasiswa AAS. Beliau baru saja pulang tahun 2016. Mas Kailani juga menceritakan beliau adalah pembaca blog dan buku saya.

Continue reading “Setelah Enam kali Gagal Beasiswa Australia, Berhasil di Percobaan Ketujuh”

Siasat Moderator Ketika Acara Berubah

Saya diminta jadi moderator Direktur Utama (Dirut) PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) tanggal 15 Agustus 2019. Seperti biasa, saya siapkan dengan baik. Saya pelajari CV Pak Gigih prakoso, Dirut PGN, dengan seksama. Saya sudah pastikan kalimat-kainat yang akan saya ucapkan dari awal sampai akhir. Membukanya, guyonnya, tanya jawabnya, penutupnya juga. Apalagi selevel Ditektur Utama BUMN, persiapannya tidak boleh main-main.

Continue reading “Siasat Moderator Ketika Acara Berubah”