Imperfect: Kesempurnaan dari Serpihan Ketidaksempurnaan

Lita, anak saya, masih menangis bahkan ketika filmnya berakhir. Kejadian itu tidak saya sangka. Seingat saya, Lita bukan orang yang terlalu mudah baper dengan satu tontonan film, apalagi film Indonesia. Kejadian itu mengkonfirmasi perasaan dan respon saya sendiri ketika menonton film Imperfect: Karier, Cinta dan Timbangan, besutan Ernest Prakasa. Film ini adalah adaptasi dari buku berjudul Imperfect karya Meira Anastasia yang tak lain adalah isteri Ernest.

Continue reading “Imperfect: Kesempurnaan dari Serpihan Ketidaksempurnaan”

Ketika Pasangan Memilih Untuk Tidak Bekerja

“Isteri praktik dokter kan?”, “isteri kerja di mana?”, “isteri masih kerja di UGM?” demikian teman-teman saya bertanya di setiap kesempatan. Pertanyaan sederhana ini biasanya berbuntut percakapan panjang karena saya menjawab “Asti tidak bekerja lagi. Sekarang dia di rumah”. Sebagian besar teman menunjukkan keheranan, atau setidaknya mengajukan pertanyaan lanjutan.

Dari sekian pertanyaan, yang paling menarik adalah ‘tuduhan’, bahwa saya, sebagai suami, adalah penyebab keputusan itu. Tidak sedikit yang menduga dan cenderung menuduh bahwa saya lah yang melarang Asti bekerja. Yang tidak kalah menarik, banyak yang menduga bahwa keputusan itu pastilah menimbulkan perdebatan yang lama. Memang banyak yang meyakini bahwa keputusan besar itu pasti tidak mudah diambil.

Continue reading “Ketika Pasangan Memilih Untuk Tidak Bekerja”

Tampil di Bali Democracy Forum 2019

Tanggal 5 Desember 2019 lalu saya mendapat kehormatan untuk tampil dai Bali Democracy Forum (BDF). Ini adalah sebuah kejutan yang datang begitu tiba-tiba. Jika tidak boleh mengatakan kebetulan, maka pastilah kesempatan ini datang karena keisengan semesta yang ingin bersenda gurau.

Saya mendengar nama “Bali Democracy Forum” (BDF) ini sudah lama sekali. Ketika Pak Hassan Wirajuda menjadi menlu, BDF ini digagas. Sebuah perhelatan besar tingkat dunia, saya pikir. BDF juga jadi tonggak sejarah penanda kontribusi Indonesia bagi dunia dalam hal demokrasi. Sebagai negara yang demokrasinya baru berusia 3 tahun saat itu, Indonesia telah menggebrak dengan satu forum yang mentereng.

Continue reading “Tampil di Bali Democracy Forum 2019”

Cerita Saya Sekolah S2 #4 Ambalat, Menulis di Koran dan Ribut dengan Supervisor

dari bagian 3

Sampai hampir setahun saya menjalani kuliah S2 di UNSW, Sydney, saya belum menemukan satu pencerahan apakah bidang yang saya tekuni ini benar dan bermanfaat. Belum ada senior saya di Teknik Geodesi UGM yang menekuni bidang batas maritim jadi saya seperti tidak punya cermin atau panutan. Hari-hari di Sydney saya isi dengan membaca di tengah kegamangan sambil berharap akan menemukan kesenangan sehingga bisa ‘tenggelam’ dalam penelitian. Tanpa kesenangan, mustahil seorang peneliti bisa menemukan pencerahan.

Continue reading “Cerita Saya Sekolah S2 #4 Ambalat, Menulis di Koran dan Ribut dengan Supervisor”

Public Speaking adalah menantang diri sendiri

Kalau kamu tampil di depan publik cukup sering dengan tema yang sama, inovasi sangatlah penting. Jika tidak, kamu pasti terjebak dalam rutinitas dan akhirnya membawakan materi dengan isi dan cara yang sama. Tidak sehat.

Continue reading “Public Speaking adalah menantang diri sendiri”

Kisah Saya Sekolah S2 #3: Banyak Baca, Banyak Tugas, Kurang Tidur, Tetap Bodoh!

… sambungan dari bagian 2

Ada satu buku tebal yang harus dimiliki (dibeli) untuk mata kuliah Global Navigation Satellite Systems (GNSS). Buku itu berisi kumpulan tulisan tentang perkembangan GNSS dari segi teori maupun teknologi. Ada juga tulisan populer dan artikel jurnal ilmiah. Singkatnya, itu adalah bahan bacaan pendukung kuliah tersebut. Semua orang harus membaca. Sejujurnya, sebagai orang yang tidak begitu suka membaca, buku tebal itu mengintimidasi.

Continue reading “Kisah Saya Sekolah S2 #3: Banyak Baca, Banyak Tugas, Kurang Tidur, Tetap Bodoh!”

Orang tua jadi anak, anak jadi orang tua

Saya dari dulu tahu bahwa suatu ketika orang tua akan kembali seperti anak-anak. Saat itulah, anak akan berlaku sebagai orang tua. Kita sudah sering banget dengar hal ini. Saya baru benar-benar tahu (atau agak tahu) maknanya beberapa hari belakangan ini. Pengalaman memang benar-benar guru yang utama.

Continue reading “Orang tua jadi anak, anak jadi orang tua”

Cerita Saya Sekolah S2 #2: Bahasa Inggrisku [ternyata] Berantakan

sambungan dari bagian 1

Sejak pertemuan perdana dengan kedua supervisor, hidup terasa berubah. Ada ketegangan dan kekhawatiran yang secara konsisten hadir. Meskipun saya menjalani hari-hari dengan penuh kelakar dan menikmati setiap penggal waktu, sebenarnya selalu ada kekhawatiran. Bisa bertahan nggak ya? Bisa lulus nggak ya? Pertanyaan itu muncul terus.

Continue reading “Cerita Saya Sekolah S2 #2: Bahasa Inggrisku [ternyata] Berantakan”

Cerita Saya Sekolah S2 #1: Memulai dari NOL!

Januari 2004 adalah titik awal sejarah itu dimulai. Saya mendarat pagi hari di Bandara Sydney setelah menempuh perjalanan semalam penuh dari Bali. Meskipun keriangan masih tak terbendung karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di Negeri Kangguru untuk sekolah S2, kegamangan menyelinap dengan segera. Pertanyaan ini dan itu muncul dengan deras, keraguan susul menyusul dengan sigap dan cepat. “Bisakah saya bertahan dan kemudian pulang dengan cerita yang baik?” Itu pertanyaan yang muncul segera menjadi kegelisahan tetap yang bercokol di pikiran saya setiap saat.

Continue reading “Cerita Saya Sekolah S2 #1: Memulai dari NOL!”

Pesan untuk Mahasiswa Bidikmisi

Foto: selepas mengisi acara Kamadksi Undip

Jika digolongkan berdasarkan situasi ekonomi orang tuanya, mungkin mahasiswa memang bisa digolongkan mahasiswa Rich Dad alias yang orang tuanya kaya dan berkecukupan dan Mahasiswa Poor Dad alias yang orang tuanya pra sejahtera. Mahasiswa jenis kedua ini banyak ditemui di Indonesia, terutama mereka yang mendapat beasiswa Bidikmisi. Sejak tahun 2010, pemerintah Indonesia melakukan terobosan kebijakan dengan memberi beasiswa kepada anak-anak keluarga miskin sehingga bisa kuliah. Ini luar biasa.

Continue reading “Pesan untuk Mahasiswa Bidikmisi”