Privilege, Kuasa dan Kemandirian

Tempo hari kami ngobrol bertiga. Saya, Asti dan Lita. Sejujurnya, obrolan panjang bertiga begini agak jarang terjadi belakangan ini. Saya mulai sering ke luar kota, Lita sibuk sekali dengan sekolahnya. Tahun depan, dia akan mulai kuliah sehingga hidupnya sekarang dipenuhi les ini dan itu. Lita sering pulang malam.

Kami bicara banyak hal. Yang paling saya ingat adalah beberapa kejadian yang menimpa Lita belakangan ini. Mulai dari insiden di parkiran motor karena karcis hilang, hingga kekurangan uang saat mau beli bensin. Di antaranya tentu saja ada ketinggalan ini itu, kehilangan ini itu dan insiden ini itu. Diam-diam, saya seperti melihat diri sindiri pada Lita.

Semua itu berawal dari keputusan kami untuk membiarkan Lita melakukan banyak hal sendiri. Berangkat sekolah sendiri, les sendiri, ke rumah sakit sendiri, rawat gigi sendiri, dan banyak hal sendiri. Lita jarang sekali diantar dan itu kadang menjadi pertanyaan sahabat dan kerabat. Selain karena soal situasi dan kesempatan, ada unsur kesengajaan dalam hal ini. Melatih kemandirian memang bisa direncanakan tetapi keadaan dan keterdesakan yang sesungguhnya paling efektif. Dengan ‘terpaksa’ melakukan banyak hal sendiri, saya berharap Lita belajar secara alami dan lebih cepat.

Bagi bapak dan ibu saya, melatih anaknya untuk mandiri bukanlah bagian dari rencana. Semua berjalan alami karena beliau memang tidak bisa mengintervensi banyak hal dalam perjalanan hidup profesioal saya. Seseorang yang lulus SD atau bahkan tidak lulus SD tidak merasa punya banyak kuasa dalam menyelesaikan masalah-masalah administratif dan intelektual yang dialami anaknya. Inilah yang membuat saya ‘terpaksa’ melakukan semua hal sendirian, terkait pendidikan, sejak SMP hingga S3. Orangtua dengan rela dan sadar tidak berperan.

Pada keluarga yang memiliki sumberdaya, waktu dan pemahaman, melatih kemandirian ini tidak bisa sealami bapak dan ibu saya. Godaan untuk membantu penyesaian masalah anak begitu besar pada seorang bapak yang memang memiliki kemampuan, jaringan dan kekuasaan. Hal ini juga terjadi pada orang-orang dengan profesi dosen seperti saya. Belakangan ini, ada beberapa mahasiswa yang membawa-bawa orangtua ketika bermasalah. Saya beberapa kali dikontak oleh orang tua mahasiswa. Urusannya beragam. Entah ini inisiatif orangtua ataupun permintaan dari anaknya.

Saya ingat masa lalu. Ingat diri saya sendiri. Orangtua saya tidak mungkin melakukan hal yang sama. Bapak saya tidak mungkin menelpon seorang dosen UGM perihal anaknya. Ibu saya tidak mungkin mengemail seorang dosen untuk mengurus nilai saya yang kebetulan T. Oragtua saya tidak mungkin menghadap seorang kaprodi atau kadep atau dekan, apalagi rektor dalam rangka ‘memperjuangkan’ anaknya. Saya lahir di keluarga yang berbeda. Saya tidak memiliki privilege itu.

Setiap kali dihubungi oleh orangtua untuk urusan anaknya, ada kegamangan di pikiran saya. Di satu sisi saya merasa wajib melayani dengan baik karena itu bagian dari komitmen pekerjaan. Di sisi lain ada kekhawatiran tentang kemandirian mahasiswa. Rasanya agak aneh dan mengkhawatirkan melihat anak usia 20 tahun lebih harus dibantu ayah ibunya untuk sekedar bertanya atau mengklarifikasi perihal nilai sebuah mata kuliah. Tidak nyaman rasanya ketika melihat seorang calon sarjana Indonesia perlu melibatkan mamahnya untuk mengurus sebuah dokumen sederhana. Pendidikan nampaknya tidak berhasil melahirkan insan yang mandiri.

Semakin lama semakin banyak orang tua yang dengan sukarela terlibat dalam urusan-urusan yang menurut saya harusnya terselesaikan oleh anaknya sendiri. Saya kira, paguyuban emak-emak itu hanya heboh soal pembelajaran anaknya di grup-grup WA orang tua murid SD. Ternyata kepedualian ‘tingkat tinggi’ ini juga dialami oleh para orangtua mahasiswa. Menariknya, kepedulian itu menjelma menjadi keresahan dan godaan untuk mengintervensi.

Memang godaan terbesar adalah kuasa. Para orangtua yang memiliki kapasitas dan atau kuasa ini sepertinya mudah tergoda untuk menggunakan kuasanya. Orangtua yang kebetulan dosen dan paham per-dosen-an, mudah tergoda untuk bertanya atau mengintervensi urusan pembelajaran dan pendidikan anaknya. Orangtua yang paham urusan diplomasi dan hubungan internasional mudah tergoda untuk mengintervensi proses aplikasi pertukaran internasional yang sedang dijalani anaknya. Niatnya tentu sangat baik.

Salahkah jika seorang bapak atau ibu menggunakan kuasanya untuk membantu anaknya? Jika pertanyaannya sesederhana itu, tentu tidak salah. Pertanyaannya bisa dibuat lebih serius seperti “apakah intervensi itu berdampak positif bagi kehidupan sang anak di jangka panjang?” Sebagai orang yang kerap bertugas di layanan publik, saya punya pertanyaan lain. Bagaimana dengan mereka yang tidak punya bapak atau ibu yang memiliki kuasa? Akankah mereka kian tenggelam karena bahkan tak sempat menikmati buah dari berbagai kesempatan? Jika yang punya kuasa sedemikian keras memperjuangkan anak dan keturunannya agar mendapatkan keuntungan, bukankah itu jadi bentuk ketidakadilan bagi mereka yang tidak dikelilingi kuasa?

Itu deretan pertanyaan idealis. Karakter saya yang sesungguhnya akan diuji ketika semuanya itu melibatkan Lita. Abraham Lincoln berkata, untuk untuk menguji karakter seseorang, berilah dia kekuasaan. Kekuasan, katanya, sesungguhnya tidak mengubah karakter seseorang. Kekuasaan justeru menujukkan karakter asli seseorang. Semoga privilege yang saya miliki tidak membuat saya menggunakan kuasa yang justru menjauhkan anak dari kemandirian.

Tukang Ojek [pun harus] Inovatif

“Mau dengar lagu apa Pak? Koleksinya lengkap kok?” demikian tanya pengendara Gojek yang menjemput saya malam itu. Ini pertanyaan tidak biasa dari seorang pengendara GoRide yang menggunakan sepeda motor. “Gimana caranya?” tanya saya penasaran. Ternyata di helm yang saya gunakan ada speaker yang terhubung dengan HP melalui koneksi Bluetooth. Canggih!

Di sepanjang perjalanan yang kurang dari setengah jam itu pun, saya menikmati lantunan lagu dari Sheila On 7. Lagu-lagu itu diputar dari aplikasi Joox di HP yang disediakan khusus untuk menghibur penumpang. Pemasangan speaker di helm juga sedemikian rupa sehingga saya bisa mendengar lagu dengan baik sekaligus bisa mendengar suara lain di sekitar. Akibatnya, percakapan dengan Mas pengendara Gojek juga tetap lancar.

Ini bukan soal lagu dan teknologi. Kita tahu, penggunaan Bluetooth untuk perkara demikian memang sudah jamak dan lazim. Saya terkesan dengan idenya. Ide untuk memberikan hiburan dan menjadi berbeda. “Biar beda dengan yang lain, Mas” katanya renyah Ketika saya tanya motivasinya.

Yang menarik, dia menjelaskan dengan fasih cara kerja teknologi di balik kreativitasnya itu. “Wah, gampang itu, Mas. Tinggal beli dan pasang, aja” katanya menjelaskan betapa mudahnya itu baginya. “Saya lihat di Youtube aja. Banyak tutorialnya”, katanya. Dari caranya menjelaskan, nampak jelas dia tidak saja memahami tetapi juga begitu menikmati apa yang dilakukannya. Dia antusias menceritakan cara kerja teknologi, dia gembira mejelaskan harganya, dia juga bahagia mengisahkan respon penumpangnya. Saya tidak heran, penumpang pasti menikmati berkendara bersama dia.

Lelaki itu punya kemampuan untuk memulai percakapan yang alami. Tidak mudah melakukan ini. Tidak semua orang dikarunia kecakapan ini. Tidak sedikit penyedia layanan publik mencoba melakukannya tetapi tidak semua bisa melakukannya dengan alami tanpa memaksa. Selain memang dikarunia bakat alam, lelaki itu tentu melatihnya sehingga menjadi kebiasaan. Di sela lagu Dan, Shepia dan Tunggu Aku di Jakarta yang mengalun dari Sheila On 7, percakaan kami tak pernah putus.

Dia pun bercerita, suatu ketika diberi hadiah HP oleh penumpangnya. Penumpang baru. Bukan pelanggan. Melihat cara komunikasi dan kehangatan pribadinya, rasanya saya tidak heran dengan berita itu. Lelaki ini bisa secara alami menarik perhatian orang dan bisa menuai simpati dengan begitu mudahnya. Saya hanya tersenyum haru mendengar bagaimana dia menangis setelah diberi hadiah itu. “Kok bisa, ada orang sebaik itu. Saya nggak habis pikir, Mas” katanya semangat.

“Saya bagi tiga penghasilan saya” katanya saat menjelaskan strateginya mengatur keuangan. Betul, percakapan kami begitu deras mengalir sehingga menyentuh hal-hal yang tidak lazim antara seorang pengendara Gojek dan pelanggannya. “Sepertiga saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sepertiga lagi untuk cicilan, dan sisanya saya tabung” katanya.

Tabungan ini konon digunakannya untuk membeli sepeda motor secondhand dan disewakan. “Alhamdillilah, laku Mas. Nggak pernah nganggur sih motornya sampai sekarang” katanya saat saya tanya apa laku penyewaan sepeda motor di Jogja. “Saya selalu pakai Facebook Ad” katanya fasih dan tanpa canggung. Kabarnya, ada delapan unit motor yang sedang dikelolanya saat ini. Dari lelaki yang nampak sederhana ini, baru saja saya melihat ‘digital economy’ diterapkan dan menyentuh kehidupan nyata manusia biasa yang seorang petarung jalanan.

Kreativitas dan Inovasi memang seharusnya menjadi kata kunci dan itu harus menjadi milik siapa pun. Tukang ojek pun harus inovatif jika ingin mendapatkan hal istimewa dalam hidupnya di dunia per-ojek-an. Menjadi berbeda itu kunci. Seperti kata Pandji Pragiwaksono, “sedikit lebih beda, lebih baik, dibandingkan sedikit lebih baik.”

Dalam perjalanan ke Semarang, 5 Agustus 2022

Cerita Biasa di Hari Pemilihan Rektor UGM

Cerita Biasa di Hari Pemilihan Rektor UGM

Saya tidak terlibat di dalam pemilihan Rektor UGM. Saya bukan anggota panitia seleksi, bukan tim sukses, apalagi calon. Sama sekali bukan. Kalaupun terlibat, itu hanya sebagai rakyat UGM yang turut merasakan gegap gempitanya pergantian kepemimpinan di kampus rakyat ini.

Di hari H pemilihan final rektor, saya ada tugas mendampingi direktur, Bu Puji, untuk menemui tamu dari Irlandia. Tempatnya di Gedung Pusat UGM. Tidak banyak hal istimewa yang terjadi namun setidaknya saya ada di kampus dan merasakan suasana kerja luring. Tamu memang mulai berdatangan secara fisik ke UGM dan penyambutan tamu melalui tatap muka tidak bisa dihindari.

Selepas makan siang, saya bersiap-siap mengajar secara online di UPN. Ada mata kuliah Hukum Laut yang saya ampu di Teknik Geomatika UPN dan sore itu adalah kelas kedua sebelum terakhir. Saya harus masuk, meski suasana pemilu menghadirkan nuansa yang berbeda. Menunggu saat kuliah jam 1.30pm, saya ‘berkeliaran’ di Gedung Pusat UGM, sekedar untuk merasakan suasana yang agak tegang. Inilah sisi lain Kampus Rakyat yang sedang berdemokrasi.

Di ruang makan rektorat, konon telah berkumpul beberapa menteri. Pak Pratikno, Pak Basuki, Pak Budi Karya, dan Bu Retno. Meski demikian, acara pemilihan rektor memang belum dimulai. Semua masih menunggu Mas Menteri Nadiem sebagai Mendikbudristek. Acara tidak akan dimulai sebelum Mas Nadiem datang. Beliau berwenang memberikan suara dalam pemilihan rektor. Proporsi suaranya pun signifikan.

Orang umumnya paham bahwa Mas Nadiem pasti terlibat dalam pemilihan Rektor UGM karena UGM berada di bawah kementerian beliau. Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya pemilihan rektor UGM dengan menteri lain? Mengapa banyak menteri yang berkumpul di UGM? Jangan lupa, para Menteri itu adalah anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UGM. Mereka semua memang Menteri dan alumni UGM tetapi sebagian mewakili unsur tokoh masyarakat, sebagian lain unsur alumni dan sebagian lagi mewakili unsur lainnya. Begitulah, masing-masing orang kerap memiliki status dan peran berbeda.

Di Gedung Pusat UGM, tidak ada menteri yang terlihat tetapi ada banyak ajudan yang lalu lalang. Sebagian sibuk di telepon, sebagian berdiri tegang siap menerima perintah, sebagian lagi gelisah. Yang terakhir mungkin adalah yang boss-nya belum datang. Sebenarnya UGM sering didatangi menteri tetapi tentu tidak sering didatangi lima Menteri sekaligus. Saya menikmati saja suasana itu, sambil duduk di pojok ruang kantor rektor, menunggu saatnya memberi kuliah.

Pukul 1.30pm saya mulai memberi kuliah. Saya menempati sebuah lokasi di pojok ruang rapat rektor. Hari itu, kuliahnya berupa kombinasi. Sebagian saya bawakan dalam bentuk live zoom alias singkronus, sisanya dalam bentuk video yang sudah disiapkan sebelumnya. Maka kelas berjalan cepat, tidak sampai 30 menit. Selepas menyapa dan diskusi ringan, kelas saya bebaskan untuk menonton video yang sudah saya rekam sebelumnya. Video ini sejatinya adalah bahan diskusi ketika saya diminta memberi materi seputar Laut China Selatan di forum Indo-Pacific Youth Dialogue. Materinya cocok, bahasanya pun Inggris. Bagus untuk membiasakan mahasiswa menikmati interaksi internasional.

Menjelang pukul 2pm, saya bersiap-siap di luar ruang kantor rektor. Sore itu saya bertugas menyambut tamu dari Western Sydney University (WSU), Australia. Sebenarnya yang akan menyambut adalah Prof Parip, Wakil Rektor Kerja Sama dan Alumni karena delegasi mereka dipimpin oleh wakil rektor tetapi Prof. Parip masih sibuk menemani menteri di ruang makan. Saya harus pastikan tamu tersambut dengan baik.

Tidak lama kemudian, tamu dari Australia hadir. Kepala Kantor Internasional mereka sudah saya kenal sejak lama. Ian namanya. Hadir bersama rombongan adalah kawan baik saya, mas Brahm, yang dulu adalah teman sekolah di UNSW Sydney. Kini beliau menjadi dosen di WSU dan bersama delegasi, ikut menguatkan kerjasama. Demikianlah makna seorang diaspora. Boleh saja mereka bekerja dan tinggal di luar negeri namun sejatinya mereka dalah jembatan atau bahkan pintu masuk bagi kolaborasi internasional.

“Who will be the next rector?” kata salah seorang bertanya ketika saya ceritakan perihal pemilihan rektor yang menyebabkan suasana sedikit genting. Tentu saja saya tidak tahu karena pemilihannya belum berlangsung ketika itu. Saya hanya berkelakar “We don’t know yet but whoever SHE will be, we certainly hope for the best.” Yang paham situasi akan tertawa mendengar jawaban saya. Memang ada satu kandidat perempuan dan dua kandidat laki-laki. Sebagian dari mereka tertawa meskipun bertanya-tanya.

Jam dua lebih sedikit, Pak WR sudah bergabung bersama tamu Australia. Beliau juga konfirmasi bahwa pemilihan sudah dimulai dan semua menteri sudah masuk ke Balai Senat, ruang paling ‘sakral’ di UGM. Begitu Pak WR tiba, saya pamit untuk bersiap-siap bertugas di tempat lain. Pak WR masih sempat meminta saya untuk menemui ‘tamu penting’ lain. Ternyata ada dua orang penting di ruangan beliau. Mas Danang, dekan Geografi dan Mas Kaji Edan yang selalu setia dengan sarung dan sandal Lily-nya. Beberapa saat terakhir nama beliau sempat viral karena satu perihal. Hari itu, di UGM, berkumpul berbagai macam orang dengan kesaktian dan kedigdayaan masing-masing. Saya hanya menikmati saja bertemu dan berguru dari mereka.

Sesaat kemudian saya bergegas ke acara sosialisasi dan perkenalan peneliti Indonesia dan Inggris terkait hibah RISPRO UKICIS. Acaranya daring tetapi saya ditugaskan untuk presentasi sehingga harus benar-benar hadir tanpa bisa nyambi. Pukul 3pm saya mulai bergabung ke acara RISPRO-UKICIS dan kemudian memaparkan informasi rinci terkait hibah tersebut. Senang melihat banyak peneliti Indonesia antusias untuk mengajukan dana hibah penelitian dan bekerja sama dengan peneliti luar negeri terutama UK.

Di tengah acara, saya melihat grup WA dosen UGM dan beberapa menit sebelumnya ada pesan dari Pak Edhie yang menyatakan Prof Ova terpilih sebagai Rektor UGM 2022-2027. Artinya guyon saya tadi tidak meleset. Saya senang, UGM telah melewati sebuah pesta demokrasi dengan lancar. Riak-riak kecil tentu ada karena itu tandanya semua pihak peduli tetapi pada akhirnya semua mengambil sikap untuk kepentingan yang lebih besar.

Seharian kemarin, hidup saya berjalan seperti biasa saja. Menerima tamu, mengajar, rapat, acara online, acara offline. Semua berjalan biasa saja. Di satu sisi, perhelatan besar memang terjadi tetapi hal normal yang rutin tetap berjalan tanpa terganggu dan memang tidak boleh terganggu. Ganti atau tidak ganti rektornya, suka ataupun tidak suka dengan rektornya nanti, tugas saya berjalan seperti biasa.

Setiap orang punya perannya masing-masing. Yang merasa menjagokan Bu Ova tentu boleh gembira. Yang jagoannya tidak berhasil jadi rektor pun boleh bersedih atau kecewa. Yang pasti, rektor baru tak akan serta merta mengangkat beban kita jadi tiada, tidak juga mencuri kebahagian kita sehingga sirna tiba-tiba. Biasa saja. Mari kita bekerja saja dan mendukung selayaknya. Selamat bertugas Prof. Ova.

Kakak Saya Kepala Sekolah

Saya tidak sering bercerita soal kakak saya. Kali ini saya kisahkan tentangnya karena dia baru saja dilantik menjadi kepala sekolah di SMP Negeri 4 Tabanan. Yang ingin saya kisahkan bukan keberhasilannya menjadi kepala sekolah di usia 46 tahun tetapi perjalanannya menjadi guru.

Kakak saya, Putu Erinawati namanya, lulus kuliah di Universitas Warmadewa di Bali pada tahun 1999. Sebelum wisuda, dia sudah diterima bekerja di sektor pariwisata yang salah satu bisnis utamanya adalah penukaran uang (money changer). Dia yang belum lulus Sastra Inggris dianggap memiliki kecakapan untuk berinteraksi dengan tamu mancanegara yang membanjiri Bali ketika itu. Selepas wisuda, pekerjaan itu diteruskannya.

Hidup pun berjalan, kakak saya menikah dan punya anak pertamanya. Pekerjaan juga lancar dan nampaknya hidup keluarga mereka baik-baik saja karena Bli Wayan Wibawa Semara, suaminya, juga bekerja di hotel. Dua orang di sebuah keluarga bekerja di sektor pariwisata adalah kondisi yang nyaman untuk hidup dan bertumbuh di Bali di masa-masa itu.

Kondisi berubah ketika bom Bali meledak dan memporak-porandakan ekonomi Bali tahun 2002. Ini adalah ‘penguat’ gangguan yang terjadi setahun sebelumnya ketika menara kembar WTC ambruk karena serangan teroris di kota New York. Pariwisata Bali goncang dan puncaknya terjadi di tahun 2005 ketika bom kedua meledak. Habis sudah! Pariwisata mati, hotel-hotel sepi, karyawan sektor pariwisata dirumahkan, dan ekonomi bali merayap tiarap.

Kondisi pariwisata yang sekarat dan kian melemah serta alasan lain yang bersinggungan dengan idealisme membuat kakak saya memutuskan berhenti bekerja. Sebuah keputusan yang tidak mudah dan tidak populer ketika anak sudah dua dan suami pun bekerja di sektor yang sedang melemah. Mereka tinggal di Denpasar dengan biaya hidup yang tidak murah. Perjuangan berdarah-darah pun dilalui dengan hati yang kerap gundah.

Saya cukup mengenal kakak saya. Di keluarga, dialah yang paling tekun dan rajin. Kakak saya menjadi teladan (role model) kami dalam belajar. Di tahun 1980an ketika Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) diperkenalkan, dialah yang memelopori belajar berkelompok di rumah. Saya yang belum sekolah pun jadi terseret dalam dunia pembelajaran yang begitu seru. Dialah yang menyebabkan saya bisa ‘membaca’ (sebenarnya menghafal) bacaan Pahlawan Kecil yang ada di buku bacaan terbitan P dan K di masa itu. Saya hafal di luar kepala bacaan itu karena setiap hari mendengarnya dari kakak saya yang membaca lantang bersama teman-temannya di rumah kami setiap sore.

Mengingat sifat dan sikapnya, saya tahu, kakak saya bukanlah orang yang terbiasa berdiam diri. Dia pasti merindukan bekerja dan berperan. Hanya saja kami semua tidak tahu caranya. Apa yang bisa dia lakukan di masa yang sulit seperti itu? Tidak ada yang tahu.

Di tahun 2005, saya sedang sekolah S2 di UNSW, Sydney, Australia. Seorang sahabat saya, orang Australia, melakukan penelitian soal bom Bali dan dia perlu melakukan penelitian lapangan. Susan, namanya. Tanpa banyak pertimbangan saya pun menawarkan dia untuk tinggal di rumah kami di Desa Tegaljadi selama kurang lebih dua bulan. Adik saya, Komang Andika Permana, menjadi andalan utama. Dia masih kelas 1 SMA ketika itu. Selain Komang, tidak ada yang mengerti bahasa Inggris di rumah kami di Tegaljadi. Sementara itu, kakak saya tinggal di Denpasar. Maka demikianlah. Hidup harus bergerak terus, bahasa isyarat pun kerap berperan. Susan juga tidak fasih berbahasa Indonesia, kalaupun bisa.

Dalam masa itulah, kakak saya kerap membantu Susan, terutama ketika dia pulang kampung ke Tabanan. Sekali waktu, Susan diajaknya ke Denpasar, menjenguk keluarganya dengan dua orang anak kecil. Di titik inilah segala perihal berawal.

Sekali dua kali Susan diajak mampir ke rumahnya di Denpasar, orang-orang perumahan mulai memperhatikan. Anak-anak di perumahan tahu hal itu, ibu-ibu juga tak ketinggalan. Mereka mulai bertanya, siapakah gadis bule yang diajak oleh kakak saya. Yang terpenting, mereka mulai sadar bahwa mungkin kakak saya bisa berbahasa Inggris. Maklum saja, selama ini mereka mengenal kakak saya sebagai ibu rumah tangga yang rempong dengan dua anak kecil.

Maka berdatanganlah satu per satu tetangga ke rumah kakak saya untuk bertanya dan mengkonfirmasi. Pelan-pelan obrolan itu berubah menjadi permintaan untuk mengajari anak-anak tetangga pelajaran Bahasa Inggris. Di masa itu, anak-anak SD di kota sudah mulai mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris meskipun nampaknya masih di tahap awal. Sebagian besar dari anak-anak itu mengalami kesulitan dengan PR mereka dan kakak saya menjadi harapan baru.

Kakak saya punya jiwa pengajar sejak lama. Saya tahu itu. Maka dengan senang hati diajarinya anak-anak tetangga itu dalam memahami Bahasa Inggris dan terutama dalam menyelesaikan PR mereka. Anak-anak senang, orang tua juga nampak happy. Ada guru dan harapan baru di kompleks perumahan.

Suatu ketika, anak-anak murid kakak saya berkata “Tante ngajar di sekolah kami aja”. Ternyata guru Bahasa Inggris mereka sering tidak hadir, entah apa alasannya. Itulah momen pertama ketika kakak saya mulai berpikir tentang profesi menjadi guru. Ucapan anak-anak murid yang diajarinya di rumah kecilnya di Denpasar itu yang menjadi pemantik. Tentu saja ketika itu dia ragu. Apa iya akan menjadi guru?

Rupanya anak-anak ini melapor kepada kepala sekolahnya. Saya bayangkan, isi laporannya adalah bahwa di kompleks perumahan mereka ada seorang ibu rumah tangga yang bisa mengajar Bahasa Inggris dan mereka ingin diajar oleh ibu itu. Anak-anak mungkin mengusulkan kepada kepala sekolah agar kakak saya dijadikan guru Bahasa Inggris di sekolah mereka, SD Negeri 10 Padang Sambian.

Entah bagaimana ceritanya, kakak saya telah mendapati dirinya menghadap kepala sekolah. Setelah bercerita beberapa menit, sang kepala sekolah memutuskan untuk menjadikan kakak saya guru honorer, pengajar Bahasa Inggris yang mulai mengajar minggu depannya. Sangat cepat dan tak disangka. Honornya 450 ribu rupiah. Angka yang patut disyukuri untuk memastikan roda keluarga tetap menggelinding dengan anak yang ketika itu sudah menjadi tiga.

Beberapa minggu mengajar, kakak saya dipanggil kepala sekolah. “Putu harus ikut Akta IV” kata beliau menyarankan kakak saya untuk mengikuti sejenis program pendidikan sertifikasi guru. Akta IV ini perlu dimiliki oleh seseorang yang berasal dari bidang ilmu non keguruan untuk menjadi guru. Kakak saya sarjana Sastra Inggris maka dia perlu Akta IV itu untuk bisa menjadi guru secara formal. “Siapa tahu nanti ada kesempatan untuk menjadi guru. Putu akan siap dengan persyaratannya”. Demikian ibu kepala sekolah menambahkan.

Di tahun 2005, ketika usianya sudah 30 tahun dengan dua anak, kakak saya baru saja melihat sebuah titik cahaya redup akan kemungkinan karirnya untuk masa depan. Bagi banyak orang, ini mungkin terlambat. Ada juga yang mungkin merasa galau ketika di usia 23 merasa belum menemukan pekerjaan yang diminati. Kakak saya memilih untuk menjalani itu. Tidak ada kata terlambat karena sebelum itu adalah kehampaan. Apapun, jika dibandingkan dengan kehampaan, adalah sesuatu yang berisi dan layak disyukuri.

Biaya untuk pendidikan Akta IV selama satu semester adalah 2,5 juta rupiah ketika itu. Kakak saya tidak memiliki uang sebanyak itu dan ibu saya, (Meme’ Nyoman Mariani) dengan berani mengambil tanggung jawab itu. Meme’ yang membiayai semuanya. Dalam kebiasaan tradisional di Bali, tidak umum terjadi bahwa seorang ibu membiayai kebutuhan anak perempuannya yang sudah menikah. Meme’ saya memutuskan hal yang berbeda karena di atas tradisi dan dresta ada cinta. Meme’ saya hanya lulus SD dan bapak saya bahkan tidak lulus SD namun beliau punya keyakinan penuh pada pendidikan.

Singkat cerita, pendidikan Akta IV berakhir dengan baik. Saya tidak ragu akan kemampuan kayak saya. Dia menyelesaikannya dengan baik. Di titik itulah, muncul peluang lainnya. Ada lowongan PNS guru yang diumumkan secara terbuka. Inilah saat yang tepat jika kakak saya memang benar-benar ingin menjadi guru. Maka dia bersemangat mendaftar.

Ada satu isu kecil, ijazah Akta IV belum keluar karena belum wisuda. Sementara itu, tenggat waktu pendaftaran PNS adalah sebelum hari wisuda tiba. Apa yang harus dilakukan? Saya menelpon kakak saya dari Sydney untuk diskusi hal ini. Di masa itu, komunikasi internasional masih cukup mahal, menggunakan kartu VoIP yang sesungguhnya sudah jauh lebih murah dibandingkan telepon biasa.

Saya ingat, waktu itu saya sarankan kakak saya untuk menghadap dosennya dan menceritakan duduk perkaranya. Intinya, dia perlu meminta surat keterangan lulus (SKL) sebagai pengganti ijazah agar tetap bisa mendaftar PNS. Dia pun melakukannya dan ternyata SKL berhasil diperoleh. Maka berkas lamaran guru pun telah siap. Sayangnya, setelah mencoba, ternyata SKL tidak bisa diterima oleh panitia.

Kakak saya berjuang untuk yang kesekian kalinya. Tidak mudah tentunya. Alam berpihak padanya, akhirnya ijazah bisa dikeluarkan sebelum wisuda. Maka dengan kebaikan orang-orang itu, kakak saya bisa mengajukan lamaran di hari terakhir. Semua sudah diperjuangkan dengan baik, semua sudah diusahakan dengan maksimal. Maka selanjutnya adalah mengikuti proses dengan baik dan mensyukuri apapun hasilnya.

Kakak saya dinyatakan diterima sebagai guru dan ditempatkan di Smp Negeri 1 Tabanan. Ini adalah sebuah sekolah yang paling diminati oleh para guru di Tabanan. Kakak saya bisa masuk ke tempat itu dengan cara yang sangat mulus, lancar tanpa hal misterius apapun. Saya memantau setiap hari perkembangan itu dari jauh. Dengan doa saja, tidak mampu dengan hal lainnya.

Ketika itu terjadi, tidak sedikit orang bertanya soal koneksi, soal orang dalam, soal sogok menyogok dan sebagainya. Saya faham kakak saya, saya tahu keluarga saya dan saya tahu ibu bapak saya. Saya berani menegaskan tanpa keraguan, semua itu terjadi dengan alami. Semua terjadi karena kemampuan kakak saya sendiri yang diberkati oleh Hyang Widhi. Tidak ada orang dalam, tidak ada uang sogokan, tidak ada juga intervensi dari koneksi atau relasi. Kami bukan siapa-siapa.

Saya tahu, kakak saya adalah seorang pekerja yang baik. Ingatan saya melayang ke tahun 1980an awal ketika kami sudah dilatih untuk membantu pekerjaan di rumah. Kakak sayalah yang menjadi teladan dalam menyapu, menyiram tanaman, ngepel dan memasak. Sementara saya adalah pelengkap saja. Tidak begitu rajin, kurang tekun tapi sedikit beruntung. Jika harus memilih, kakak saya tidak akan mengkategorikan saya sebagai anak yang rajin. Di matanya, saya mungkin adalah anak pemalas yang barangkali sedikit cerdas.

Ketekunan dan kesungguhannya dalam bekerja yang kemudian mengantarnya menjadi guru yang baik. Saya dengar dia disukai murid-muridnya. Dia juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri melalui berbagai pelatihan. Beberapa kali dia datang ke Jogja atau Solo untuk mengikuti pelatihan dan saya pun menjamunya. Rupanya itu tanda-tanda dia dianggap mampu dan diberi peran lebih.

Selain belajar, dia juga gemar mengajar, termasuk berbagi kepada teman sejawatnya. Oleh karena itulah dia bersemangat untuk menjadi guru yang bisa berbagi ilmu kepada guru lainnya. Itu juga yang kemudian mengantarkannya menjadi guru penggerak. Sebagai guru, dia sibuk dan jarang di rumah. Salut dan kagum saya pada ketiga anak-anaknya yang tidak menyusahkan hidup orang tuanya. Diah, Wulan dan Wibi sejatinya adalah pahlawan bagi ibunya. Itu menjadi salah satu faktor penting bagi perjalanan karier kakak saya yang melesat cukup cepat.

Salut saya juga kepada Bli Wayan, suaminya, yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarga. Bli Wayan selalu ada ketika kakak saya tak sempat menjalankan kewajiban rumah tangga. Bli Wayan yang selalu hadir ketika kakak saya harus meninggalkan mobilnya di tengah jalan karena suatu perkara, sebab dia harus segera melakukan tugas lain. Bli Wayan yang selalu ada untuk menampung keluh kesah dan emosi yang tumpah ruah di rumah karena kakak saya terlalu banyak menjaga emosi di luar rumah. Di balik seseorang yang nampak cemerlang, ada pasangan yang sabar dan tegar menjadi fondasi keluarga. Itulah Bli Wayan.

Maka ketika saya dikabari bahwa dia punya peluang jadi kepala sekolah, saya bersyukur sekaligus yakin. Pekerjaan ini memang tepat untuk dia. Dari detik pertama saya mendengar hingga detik terakhir ketika dia dilantik, saya hanya berdoa. Sekali waktu kami berdiskusi ringan. Tidak ada bantuan dari saya sama sekali. Dia tidak membutuhkan bantuan apapun. Saya pun dengan sadar tidak melakukan apapun. Saya tidak memanfaatkan sama sekali persahabatan saya dengan orang-orang dikbud atau anggota dewan, sekalipun. Saya bahkan tidak bercerita sebelum kepastian datang bahwa kakak saya telah resmi menjadi kepala sekolah. Ini penting saya ceritakan karena satu atau dua selentingan mulai muncul bahwa konon saya ikut andil dalam menjadikan kakak saya sebagai kepala sekolah. Tidak semudah itu Ferguso. Saya tidak ‘sehebat’ itu.

Tadi pagi kami bercerita bertiga. Saya, kakak dan Meme’. Saya gembira mendengar celoteh kakak saya yang begitu semangat dalam menjalankan tugas barunya. Seperti biasa, Meme’ saya muncul dengan naluri seorang ibu yang menasihatkan “jangan terburu-buru, amati dengan baik dulu, jangan sampai kehadiran kita di awal pun sudah jadi ancaman bagi semua”. Sebuah nasihat yang sederhana namun mendasar. Saya tidak punya nasihat. Saya hanya percaya bahwa segala sesuatu akan jadi lebih baik jika seorang pemimpin tidak memiliki kepentingan pribadi. Saya tahu, kakak saya juga percaya itu.

Menjadi kepala sekolah memang adalah jabatan. Jabatan berarti kekuasaan. Tidak salah jika orang bilang bahwa kekuasaan harus diberi imbalan uang dan keuntungan. Meski demikian, saya ingat nasihat Uncle Ben di film Spiderman bahwa bersama dengan kekuasaan yang besar itu lahir tanggung jawab yang juga sangat besar. With great power comes great responsibility. Seperti MJ yang menyemangati Peter Parker, Sang Spiderman, ketika akan menyelamatkan dunia dari kejahatan, saya juga ingin mengucapkan hal yang sama kepada kakak saya “go get ‘em Tiger!”

I Made Andi Arsana

Seorang adik

Meninggalkan Kesuksesan di Indonesia, Pandji Pragiwaksono Mulai dari NOL di New York

gambar Pandji dipinjam dari voi.id

Saya harus menulis ini. Pandji memutuskan hijrah ke New York dan memulai karier standup comedy dari nol. NOL besar. Pandji bergerilya dari satu tempat ke tempat lain untuk ngetes materinya dan membuktikan apakah itu cukup lucu atau tidak. Untuk melakukan itu, Pandji harus membayar, tidak dibayar. Tidak jarang, untuk mendapat kesempatan demikian, dia harus melakukan hal ‘remeh-temeh’ seperti membagikan flyer pertunjukan kepada orang-orang yang berlalu lalang. Singkatnya Pandji, harus merayu orang-orang untuk mau datang ke sebuah acara. Itu semua adalah pekerjaan seorang amatir dan Pandji mau melakukannya.

Mengapa cerita ini menjadi menarik, setidaknya bagi saya? Saya mengikuti seorang pandji Pragiwaksono dalam kesenian standup comedy sejak tahun 2011. Waktu itu saya masih sekolah di Australia dan lelucon Pandji adalah salah satu yang menemani perjalanan di lereng terjal atau terowongan gelap tanpa ujung. Pandji dan Ernest Prakasa adalah dua orang yang berperan penting untuk membuat keterjalan itu tidak begitu mengerikan dan kegelapan itu tidak terlalu menyeramkan. Kalau kita sedang bicara soal hutang dan jasa, pada keduanya saya berhutang jasa.

Bertahun berlalu, Pandji menjelma menjadi standup comedian besar. Dia adalah orang pertama yang melakukan tur dunia dengan leluconnya. Sudah sembilan kali tur dia lakukan dan semuanya mendapat tempat tersendiri di hati penikmat karyanya. Di standup comedy, nampaknya tidak ada yang menyangkal bahwa Pandji adalah salah satu tokoh papan atas, jika bukan yang terbaik, di Indonesia. Saya punya semua standup spesialnya dalam bentuk digital download. Saya begitu menikmati karyanya.

Maka, dengan mengetahui siapa Pandji di Indonesia dan apa yang dilakukannya di New York hari ini, ada berbagai perasaan yang bercampur dan berkecamuk. Sebagai orang yang kerap menasihati anak muda untuk menjalani hal-hal baru, tindakan Pandji adalah sebuah penguat. Dia adalah ‘a living testimony’ bagi banyak ajaran-ajaran motivasi tentang mencoba hal baru, tidak menyerah pada keadaan, dan tidak takut memulai dari NOL. Mudah diucapkan tetapi sangat tidak mudah dilaksanakan. Pandji memberi energi baru pada nasihat itu.

Sebagai seorang yang sama-sama tidak lagi muda, saya bisa merasakan betapa keputusan Pandj ini penuh dengan risiko, termasuk di dalamnya ada risiko gagal. Di usia dua puluhan awal, saya memutuskan untuk keluar dari Unilever dan Astra, dua perusahaan idaman anak muda di zamannya (bahkan mungkin hingga kini) untuk menjadi seorang guru. Sebuah profesi yang oleh banyak orang dianggap bukan pilihan ideal, terutama ketika mereka tahu, saya meninggalkan Unilever dan Astra. Meski keputusan itu penuh risiko juga, naluri, jiwa dan energi muda saya dengan mudah mengalahkan itu semua. Sementara itu, Pandji melakukan itu di usianya yang sudah menginjak angka 43. Sebuah keputusan yang berani dan menghadirkan kekhawatiran di sana sini.

Yang penting untuk dipelajari adalah langkah Pandji dan persiapannya. Kata-kata motivasi kerap menyenangkan disimak tetapi dia tidak selalu menghadirkan perubahan pada diri seseorang. Salah satu sebabnya adalah ketiadaan petunjuk atau langkah teknis untuk mewujudkan kata-kata motivasi itu. Dia sering hanya berupa rangkaian kata indah nan membius tetapi membuat kita mudah lupa atau diam tak bergerak mewujudkan karena absennya petunjuk teknis. Sementara itu, tidak semua orang bisa menerjemahkan kata-kata motivasi menjadi langkah nyata yang sistematis dan terukur.

Dari cerita dan perjalanan Pandji saya belajar hal-hal teknis. Pandji pernah bertutur soal mengkhayal dengan detail. Dia mengatakan, banyak diantara kita yang punya mimpi dan angan-angan untuk mencapai sesuatu tetapi tidak tekun mempelajari bagaimana cara mewujudkan itu. Ini mirip dengan orang yang berkhayal masuk S2 di Harvard tetapi bahkan tidak tahu dan tidak mau belajar tentang TOEFL, apalagi kursus TOEFL. Pandji dengan jernih menceritakan bahwa seorang pemimpi perlu mempelajari dengan detail langkah untuk mewujudkan mimpi itu. Saya jadi ingat kata-kata nasihat yang mengatakan bahwa langkah pertama mewujudkan mimpi adalah bangun dari tidur. Ini benar dan Pandji menegaskannya dengan tindakan.

Pandji juga bercerita tentang bagaimana dia menabung untuk mewujudkan mimpinya itu. Dia bahkan telah menyiapkan sejumlah uang yang dirasanya cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya selama beberapa tahun karena selama itu, dia berasumsi, tidak akan punya penghasilan yang memadai. Pandji nampak nekat tetapi tentu saja tidak. Dia penuh perhitungan dan lengkap dengan persiapan. Pertanyaan berikutnya, bagaimana Pandji mampu menabung uang sebanyak itu? Dari karyanya. Dari standup comedy spesial yang dijualnya cukup mahal. Dari perusahaan, Comika, yang didirikannya. Dari digital download yang ternyata laris manis. Dari banyak lagi yang lainnya. Intinya, Pandji mengatakan, dia memperbesar kapasitasnya dan menaikkan nilai jualnya sehingga dia mendapat banyak kesempatan yang kemudian ‘ditukarkan’ dengan uang. Ada kerja super keras di balik semua cerita tabungan itu.

Pandji memang nampak meninggalkan semuanya di Indonesia dan memulai dengan ‘tangan kosong’ di New York. Tentu saja Pandji tidak sebodoh itu. Dia telah membangun kerajaan bisnisnya di Indonesia dengan baik: Comika. Inilah perusahaan yang bertekad untuk memastikan seorang standup comedian bisa hidup dari karya mereka. Pandji tetap menjadi bagian penting dari perusahaan itu meskipun dengan legowo dia telah menyerahkan peran utama kepada koleganya. Artinya, Pandji cukup cerdas untuk tidak melepaskan semua hal di Indonesia. Selain itu, Pandji tentu saja masih merencanakan dan akan mengeksekusi tur spesialnya yang telah tertunda dua tahun lamanya.

Meskipun ada di New York, Pandji tetap hadir untuk para penikmat karyanya di Indonesia. Youtube-nya tetap mutakhir dan kini bahkah lebih kaya dengan konten yang beragam. New York tentu menghadirkan banyak hal yang tidak ada di Jakarta dan penikmat karyanya disuguhi dengan semua keragaman itu melalui Youtube. Pandji juga dengan cekatan menjadikan perjalanan barunya yang misterius ini sebagai konten penting yang layak jual. Maka banyak orang, termasuk saya, dengan sukarela menjadi pelanggan setia saluran Youtube berbayarnya demi menikmati langkah-langkah Pandji dalam mewujudkan mimpinya. Di channel ini, saya merasa Pandji begitu jujur berkisah tentang hal baik dan kurang baik. Videonya ketika melucu di suatu tempat dan tidak mendapat sambutan semestinya pun dia unggah. Kita diajak untuk merasakan getir perjuangan yang tidak mudah. Keberhasilan memang tidak jatuh percuma dari langit. Dia harus diperjuangkan.

Masih terlalu pagi untuk mengatakan Pandji sukses di New York. Jalan masih panjang. Yang pasti, perjalanan panjang itu sendiri sudah akan menjadi hiburan dan pelajaran penting bagi banyak orang. Seperti kata-kata bijak para ‘travelers’, yang terpenting bukan tujuan akhirnya tetapi perjalanan itu sendiri. Dengan semua ini, Pandji telah menjadi contoh tanpa menggurui. Dia telah memberi energi baru pada nasihat-nasihat lama yang kerap kita ragukan kesaktiannya. Bahwa kita harus berjuang, bahwa kita harus berani mengambil risiko, bahwa kita harus rela membebaskan diri dari zona nyaman. Terima kasih Pandji. Aku akan mengamatimu dari dekat dan menikmati setiap pelajaran yang lahir dari segala yang garing, anyep dan pecah. Kata orang New York, go get ‘em tiger!

I Made Andi Arsana
Seorang penikmat karya Pandji Pragiwaksono

Ketakutan Bapack-Bapack

Tempo hari saya ngobrol dengan seorang sahabat yang putra-putrinya sudah dewasa. Keduanya sudah kuliah dan masing-masing memiliki perangai berbeda. Keduanya tidak begitu menenteramkan bapaknya. Setidaknya itu yang saya tangkap.

Yang pertama nampak begitu tidak peduli. Miskin kata-kata. Ditanya lebih banyak diam. Tidak protes, tidak juga menunjukkan persetujuan. Ini membuat bapaknya setengah putus asa. Yang kedua lain lagi. Sosoknya ‘liar’, cenderung memberontak. Tidak sungkan untuk menunjukkan penentangan dan perlawanan pada ayahnya.

Bapack-Bapack yang kadang takut

Saya bisa rasakan keresahan sahabat saya ini. Pasalnya, ini bukqn hal aneh. Saya pun tak jauh dari itu. Keresahan bapak-bapak memang berputar-putar di urusan yang sama.

Dalih kami adalah khawatir akan masa depan anak. Aslinya, mungkin kami hanya egois saja. Klaim kami, anak-anak tidak peduli masa depannya sendiri. Aslinya, mungkin karena kami tidak paham saja dengan cara mereka menghadapi hidup. Bisa jadi kami terjebak di masa lalu dan memaksakan nilai kami untuk dianut di masa kini. Bisa jadi.

Maka ketika saya pikir ulang, mungkin perkaranya sederhana saja. Ada keterputusan dalam pemahaman. Ada komunikasi yang tidak bersambung antara anak dan bapaknya. Terdengar klise memang tapi saya kian menyakininya.

Maka ketika ditanya, apa mimpi terbesar saya tentang anak, saya bilang keutuhan hubungan, ketersambungan komunikasi. Itu saja. Hal buruk apa sih yang bisa terjadi jika bapak dan anak bisa tetap bertukar cerita? Hati saya mungkin tak akan pernah bisa menerima semua pandangan dan perilaku anak saya karena jurang generasi yang begitu lebar. Setidaknya, ketika cerita bisa mengalir di antara kami, ada jembatan yang setia menghubungkan.

Pada kenyataannya, masa-masa terbaik dalam hidup bukanlah ketika anak berprestasi tinggi. Masa terbaik adalah ketika kami bisa bercerita tanpa tema dan bertahan tidak saling mengabaikan kala jam telah berganti. Duduk berdua di sebuah warung kopi meskipun hanya saya yang makan dan minum karena selera kami bergitu berbeda, adalah salah satu kemewahan terakhir yang masih tersisa.

Tulisan ini saya persembahkan untuk bapack-bapack yang resah hidupnya. Yang tak kuasa menyatakan rasa cintanya pada putera-puterinya. Di sisa waktu yang tidak banyak ini, semoga bisa menemukan cara membangun jembatan di antara dua jiwa yang kadang asing. Semoga.

Menera Ulang Kemuliaan Guru

Saya seorang guru. Di Hari Guru ini, ada pertanyaan penting yang saya tanyakan, setidaknya pada diri sendiri. Seberapa banyak murid merasa dan yakin bahwa guru adalah representasi kemuliaan? Seberapa banyak guru yang benar-benar mewakili poster dan posting di media sosial di Hari Guru yang banjir pujian, sanjungan dan terima kasih?

Sangat banyak dari kami, para guru, tidak berhak disebut bijaksana karena masih terlalu mudah emosi saat berhadapan dengan murid-murid yang sesungguhnya kreatif tetapi kami tuduh ‘kurang ajar’. Tidak sedikit yang tidak mau belajar hal-hal baru sehingga cara mengajar kami tidak mengalami peningkatan. Banyak dari kami adalah pemutar kaset usang, mengajar dengan cara dan bahan yang sama dalam satu atau dua dekade lamanya.

Saya mungkin adalah koruptor yang menggelapkan jatah waktu mengajar untuk hal lain yang tidak semestinya. Bisa jadi, saya adalah penjahat yang menindas murid dengan berbagai tugas yang membebani padahal sesungguhnya itu sekedar dalih ketidaksiapan mengajar. Saya kerap ‘terpaksa’ melakukan hal lain saat rapat daring dan ini mungkin tak ada bedanya dengan segelintir wakil rakyat yang tertidur saat rapat paripurna.

Saya mungkin tak ubahnya pemerintah yang menyiapkan rencana pembangunan dengan terburu-buru karena saya kerap melakukan hal yang sama saat menyiapkan silabus dan bahan ajar.  Yang pasti, saya adalah pekerja biasa. Alasan saya bertahan mungkin tak selalu untuk masa depan bangsa tapi untuk anak dan pasangan yang harus bertahan hidup atau merasa cukup mulia.

Maka kami mungkin bukanlah pahlawan tanpa tanda jasa. Bisa jadi kami adalah orang-orang yang tanpa jasa karena berbuat tanpa niat dan berjuang tanpa senjata. Selamat hari Guru.

Protecting and educating Indonesian fishermen

The Jakarta Post on 23 November 2021
I Made Andi Arsana, Yogyakarta
Lecturer and researcher in geospatial aspects of the law of the sea at the Department of Geodetic Engineering, Gadjah Mada University. The views expressed are his own.

Many in the country seem unaware that Australian authorities burned three Indonesian fishing boats on Nov. 8, somewhere close to the Rowley Shoals Marine (RSM) Park off the Western Australian coast, for alleged poaching. But it was not the first case of incursion into Australian territory by Indonesian fishermen.

However, let us observe at least five points before judging whether or not Australia’s recent action was acceptable.

First, we need to understand the status of maritime boundaries between the two neighbors. It is clear that Indonesia and Australia have established maritime boundaries between them. The border of the seabed, or the continental shelf, was established in the 1970s, while the water column — for the exclusive economic zones (EEZs) — was divided in 1997. With these established borders, it is easy to determine whether or not a fishing boat operates legally.

Second, the position matters. The question is whether the Indonesian fishing boats were operating in Indonesian waters or those of Australia. Unfortunately, information regarding the precise coordinates of the place where the boats were intercepted is not available.

Australia claimed the incident took place near the RSM Park. According to the coordinates on the official website of Western Australia’s RSM Park and a check on Google Maps, the position of the boats was clearly south of the EEZ boundary line between Indonesia and Australia, which means the incident took place in Australian waters.

Third, it is worth noting that maritime boundaries between Indonesia and Australia are complex, typified by differences between lines dividing the seabed and water column. Because of this, there is maritime space where the seabed falls within Australia’s jurisdiction but the water column above it is part of Indonesia. In other words, resources of the water column, including fish, are for Indonesia to harvest but oil and gas under the seabed for Australia.

Another point to note here, is that sedentary species like sea cucumber belong to the seabed. Sedentary species, according to the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) Article 77 (4), are “organisms which, at the harvestable stage, either are immobile on or under the seabed or are unable to move except in constant physical contact with the seabed or subsoil.”

In this situation, Indonesian fishermen are entitled to capture fish in the abovementioned area, but it is illegal for them to capture sea cucumbers. However, this has nothing to do with the current case because, once again, the incident clearly took place in Australian waters.

Fourth, Indonesia and Australia have an agreement where Indonesian traditional fishermen are allowed to fish in certain Australian waters around Ashmore Reef. It is based on an agreement signed in 1974, officially known as the “Australia-Indonesia Memorandum of Understanding regarding the Operations of Indonesian

Traditional Fishermen in Areas of the Australian Fishing Zone and Continental Shelf — 1974” (MoU Box 1974). Indonesian fishermen are allowed to fish within the box. When first hearing about the burning of the boats, I thought the fishing activity took place within the 1974 box, but I was wrong. The activity was clearly outside of the box, so we cannot refer to the provision where traditional Indonesian fishermen are allowed to fish within Australian waters.

Fifth, incidents involving Indonesian fishermen and Australian authorities are not new. For many reasons, law enforcement in maritime areas between Indonesia and Australia has been taking place for a long time. When I was in Australia pursuing my master’s and doctorate degrees, I often heard our diplomats at the Indonesian Embassy or consulate generals deal with such incidents. It seemed that economic factors were often the main reason for the fishermen’s breaching, which is why the Indonesian government needs to positively intervene to help our fishermen.

But back to the question above — is the burning of Indonesian fishing boats acceptable? It is quite clear that the boats were operating within Australian waters when they were captured. It is hard to deny that the fishing activity was illegal. However, one can always question whether there is a better solution than burning the boats. Will such tough action be an effective deterrence? We can debate over the issue, but one thing for sure is that Indonesia also takes a similar approach against illegal fish poachers. Exploding or sinking boats caught illegally fishing in Indonesian waters has been the preferred approach since 2014, when Susi Pudjiastuti was appointed maritime affairs and fisheries minister.

So when responding to Australia’s approach, Indonesia cannot apply a double standard. It would be more productive for us to look forward. Close collaboration between Indonesia and Australia is a must to prevent this incident from recurring. Having an agreement on how to handle fishermen operating illegally can be a feasible solution.

In addition, education for fishermen and patrolling officers should be more substantial. In the complicatedly arranged maritime boundaries between Indonesia and Australia, it is not surprising to see fishermen have difficulties comprehending the situation. A lack of understanding can easily lead to violations.

Therefore, educating fishermen residing around border areas between Indonesia and Australia is now more pressing than ever. This is certainly also the case for people settling in maritime borders with other neighbors.

In short, we are responsible for protecting our fishermen. First and foremost, the government should protect them economically. Second, we should protect them with adequate knowledge. Hence, frequently arranged information, knowledge dissemination or sharing can be of help. For this purpose, non-state parties such as researchers, lecturers, students and NGOs can and should be involved.

GAGAL MASUK KAMPUS IDAMAN

Kamu pasti sedih karena tidak lulus SNMPTN dan SBMPTN. Silakan bersedih. Sewajarnya memang begitu. Kamu pasti merasa kecewa dan, terutama, telah merasa mengecewakan diri sendiri. Jika aku jadi kamu, aku akan mengalami hal yang sama. Sedih dan kecewa!

Maafkan kami, para orang tua. Kami kerap mengatakan “kami tidak akan memaksamu dalam menentukan masa depanmu” tetapi tidak bisa menyembunyikan niat sebenarnya bahwa kami menginginkan kamu menjadi apa yang kami mau. Maafkan kami, para digital imigran ini, yang tak bisa ‘move on’ dari pemahaman bahwa hidup adalah sebuah ritual konvensional dan kesuksesan itu diukur dengan parameter-parameter usang yang terlanjur kami percaya. Maka diam-diam, kami juga kecewa karena kamu gagal masuk kampus idaman.

Maafkan kami, para guru dan dosen. Kerap kami terlalu bangga dengan pencapaian sendiri sehingga hanya percaya jalan-jalan biasa menuju keberhasilan. Kami kerap menutup mata dengan gesitnya perubahan dunia yang bahkan tak mampu kami kejar. Itulah sebabnya, sebagian dari kami yakin, bahwa hanya dengan meraih gelar di kampus idaman saja, maka jalan menuju keberhasilan itu bisa dilewati. Kami bahkan tidak sadar bahwa sebagian posisi yang ada di Google, IBM, EY dan perusahaan raksasa lainnya bahkan kini tidak lagi mensyaratkan selembar ijazah.

Mari kukisahkan sepotong perkara lama. Aku punya kawan lulusan sebuah universitas kecil swasta di Kupang. Aku menyaksikan dia menggenggam serangkai bunga saat wisuda di University of New South Wales di Australia. Dia S2 di sana dengan beasiswa, berderet dan berdiri sama tinggi dengan lulusan universitas mentereng negeri ini. Saat tulisan ini kamu baca, dia sudah menyelesaikan S3-nya di Inggris dengan beasiswa. Cerita ini tidak inspiratif jika kamu tidak mau menjadikannya inspirasi.

Kawan baikku yang lain lulus D3 di sebuah akademi di Jogja. Nama kampusnya tak terdengar dan bahkan kini sudah tiada. Dia masuk ke akademi itu karena gagal masuk UGM. Di hari H pengumuman penerimaan mahasiswa, dia mendapati dirinya tidak lulus sementara sahabat baiknya yang tadinya senasib sepenanggungan, berhasil masuk UGM. Kamu mungkin bisa membayangkan atau bahkan merasakan kegundahan hatinya. Jangan sedih untuk dia. Kini dia menjadi dosen dan mengajar S2 di sebuah perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Pada namanya ada gelar S2 dan S3 yang semuanya diperoleh dari luar negeri dengan beasiswa yang memukau. Saat kamu baca tulisan ini, dia mungkin sedang memberi nasihat akademik pada mahasiswa S3 di kampus ternama negeri ini.

Beberapa hari lalu, aku menjadi juri sebuah lomba nasional. Ada seorang anak muda yang menjadi finalis dan tampil begitu keren. Dia adalah mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi swasta yang selama ini tidak begitu diperhitungkan. Kinerjanya memukau karena berbeda dan inovasinya tidak lazim. Aku bertanya pada diri sendiri “ke mana mahasiswaku sendiri yang kampusnya katanya nomor satu di Indonesia?” Mahasiswaku sendiri tidak ada di medan tempur bergengsi itu. Cerita ini tidak akan menginspirasimu kecuali jika kamu mengizinkannya.

Tahun 2018, Diah, ponakan yang aku sayangi tidak berhasil masuk UGM, tempatku bekerja. Percayalah, tidak mudah menghadapi kenyataan itu. Orang-orang di sekitarku mungkin berharap aku bisa berbuat lebih tetapi faktanya aku tidak bisa apa-apa. Untunglah perilaku dan semangat juang Diah menghiburku. Kini nilainya nyaris sempurna di Universitas Sanata Darma Jogja. Kerap aku dengarkan dia presentasi di kamarnya atau berdiskusi dengan temannya dalam sebuah forum. Aku amati kelincahannya di organisasi dan perhelatan kampus lainnya. Aku simak Bahasa Inggrisnya yang jauh lebih baik dari kebanyakan mahasiswa yang kukenal di kampus terkemuka sekalipun. Aku tidak ragu dengan jalan hidupnya.

Tulisan ini tidak untuk menghiburmu tapi untuk mengingatkanmu bahwa semua orang pernah gagal. Aku tidak berhasil masuk Nottingham di UK karena Chevening menolakku di tahap akhir. Aku tidak jadi masuk Karlsruhe di Jerman karena DAAD bahkan tidak menggubris lamaranku. Aku tidak jadi menikmati suasana kelas di TU Delft di Belanda karena STUNED tak sudi memberiku beasiswa. Aku tidak jadi belajar di Negeri Paman Sam karena Fulbright tidak melihatku fully bright. Di tahun 2017, ketika aku sudah presentasi di lima benua, sebuah konferensi di Sulawesi menolak paperku karena dianggap tidak layak untuk disajikan. Kecewa? Pasti! Namun hidup harus terus berjalan.

Tahun ini, dua ponakan lain ditolak UGM di SNMPTN dan SBMPTN. Mereka masih berjuang untuk ujian mandiri dan tulisan ini adalah doa untuk mereka. Doa juga buat kalian yang masih ingin berjuang. Semoga kalian semua tak berhenti. Tak ada satupun yang bisa menjanjikan kecemerlangan di masa depan tapi setidaknya kalian bergerak menujunya, selambat apapun dan lewat jalur apapun.

Tulisan ini juga aku persembahkan bagi para orang tua. Sebagai tanda terima kasihku pada Bapak dan Meme’ yang tak pernah menunjukkan kekecewaannya saat aku terpuruk dan gagal. Yang hanya punya satu kata: “dukung”, ketika melihat anaknya mendapat IP 1,2 dan hanya punya kata “percaya” ketika anaknya memutuskan untuk bekerja di tempat yang gajinya 1/7 dari gaji sebelumnya. Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru.

Jogja, 16 Juni 2021
I Made Andi Arsana

Mochtar yang Bikin Diplomat Dunia Bergetar

Sebuah obituari oleh
I Made Andi Arsana*

Mochtar Kusumaatmadja. Namanya sering saya sebut di kelas di Teknik Geodesi UGM atau di acara seminar soal batas maritim. Saya selalu katakan, laut kita yang luasnya jutaan kilometer hari ini, tidak lepas dari hasil perjuangan seorang legenda bernama Mochtar Kusumaatmadja.

Minggu, tanggal 6 Juni 2021, Sang Legenda telah berpulang di usia 92 tahun. Ada banyak yang menyampaikan bela sungkawa. Indonesia kehilangan seorang tokoh mumpuni di bidang Hukum Laut. Tak saja diakui kepakarannya di dalam negeri, beliau disegani di manca negara. Kapasitasnya diakui negara. Beliau pernah menjadi Menteri Luar Negeri selama 10 tahun. Kepakarannya diakui dunia dengan berbagai posisi terhormat yang beliau emban di level internasional, termasuk di International Law Commission.

Saya tidak pernah bertemu Pak Mochtar secara langsung namun rasanya akrab karena pemikiran beliau abadi di berbagai buku, artikel dan karya lainnya. Selain itu, ada banyak orang yang mengisahkan peran dan hidupnya.

Tahun 2007 silam, saya berkesempatan bekerja di PBB di New York. Waktu itu, saya bertemu Prof Myron Nordquist yang diundang sebagai pembicara peringatan 25 tahun Konvensi PBB tentang Hukum Laut, UNCLOS. Prof Nordquist menjadi pembicara Bersama Prof. Hasjim Djalal, tokoh utama lain di dunia Hukum laut Indonesia. Saya masih ingat ucapan Prof Nordquist secara khusus pada saya ketika saya mengatakan saya dari Indonesia. “Dulu, saat sidang PBB tentang Hukum Laut, ada seorang lelaki bernama Mochtar [Kusumaatmaja]. Ketika dia berbicara, maka semua orang tidak saja bungkam tetapi juga bergetar”. Prof Nordquist menyampaikan itu penuh semangat dengan menatap mata saya lekat-lekat. Tidak mudah melukiskan kebanggan saya sebagai orang Indonesia ketika itu. Rasanya, New York ada dalam genggaman Indonesia sore itu.

Dulu, ketika Indonesia merdeka, laut di antara pulau-pulau Indonesia bukan milik Indonesia. Kapal asing bebas masuk dan memanfaatkan kekayaannya. Menteri Chaerul Saleh waktu itu punya ide untuk mengklaim ruang laut itu jadi milik Indonesia. Beliau pun meminta bantuan seorang anak muda usia 20an bernama Mochtar Kusumaatmadja. Mochtar muda mempelajari dari berbagai kasus dan praktik hukum dunia dan muncullah usul untuk melingkupi kepulauan Indonesia dengan sabuk atau garis pangkal. Ide ini kemudian disampaikan oleh Perdana Menteri Djuanda ketika itu dengan istilah Deklarasi Djuanda tahun 1957. Pak Mochtar ada di balik semua itu.

Gagasan yang di luar kebiasaan ini menemukan banyak tantangan. Indonesia mencoba meyakinkan dunia di meja perundingan dan tidak mudah. Tahun 1958, ketika Konferensi PBB tentang Hukum Laut yang pertama, usaha Indonesia belum berhasil. Tahun 1960, saat Konferensi kedua pun belum berhasil. Akhirnya Indonesia habis-habisan melakukan diplomasi dan lobby pada konferensi ketiga.

Pak Mochtar menjadi salah satu motor untuk melakukan diplomasi ini. Berjuang Bersama beliau adalah tokoh-tokoh terkemuka seperti Hasjim Djalal. Ada juga di antara mereka, seorang surveyor lulusan Teknik Geodesi bernama Adi Sumardiman. Beliau yang mendukung Pak Mochtar untuk menggambarkan dan menerjemahkan gagasan para diplomat ulung itu dalam bentuk ilustrasi dan peta sehingga lebih mudah dipahami kalangan kebanyakan.

Salah satu yang dikenang banyak orang adalah ketika Seorang Mochtar harus berunding dengan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Duta Besar Richardson, seorang mantan Jaksa Agung. Perundingan berjalan tegang sekali dan di situlah kelihaian seorang Mochtar diuji di medan ‘perang’ sesungguhnya. Dengan kegigihannya, akhirnya beberapa hal krusial disepakati dan itulah yang menjadi kesepakatan oleh konferensi yang kemudian melahirkan prinsip negara kepulauan di Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) yang dimiliki dunia hingga hari ini.

Karena usaha Pak Mochtar dan delegasi Indonesia yang keren itu, disertai dengan kemauan bekerja sama dengan pejuang lain dari Filipina, Fiji dan Mauritius, prinsip negara kepulauan akhirnya menjadi hukum dunia. Tanpa usaha beliau, tak akan kita miliki laut di antara pulau-pulau kita. Tak akan kita sebut negeri ini sebagai benua maritim. Tak akan ada Wawasan Nusantara. Tanpa menumpahkan peluru sebutir pun, Indonesia menambah luas wilayah dan yurisdiksi lautnya hingga jutaan kilometer. Dengan diplomasi, dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan kesaktian kata-kata.

Tak berlebihan jika Prof. Nordquist menegaskan bahwa kata-kata seorang Mochtar memang membuat diplomat dunia bergetar. Selamat jalan Pak Mochtar.

*pembelajar aspek geospasial hukum laut

%d bloggers like this: