Kakak Saya Kepala Sekolah

Saya tidak sering bercerita soal kakak saya. Kali ini saya kisahkan tentangnya karena dia baru saja dilantik menjadi kepala sekolah di SMP Negeri 4 Tabanan. Yang ingin saya kisahkan bukan keberhasilannya menjadi kepala sekolah di usia 46 tahun tetapi perjalanannya menjadi guru.

Kakak saya, Putu Erinawati namanya, lulus kuliah di Universitas Warmadewa di Bali pada tahun 1999. Sebelum wisuda, dia sudah diterima bekerja di sektor pariwisata yang salah satu bisnis utamanya adalah penukaran uang (money changer). Dia yang belum lulus Sastra Inggris dianggap memiliki kecakapan untuk berinteraksi dengan tamu mancanegara yang membanjiri Bali ketika itu. Selepas wisuda, pekerjaan itu diteruskannya.

Hidup pun berjalan, kakak saya menikah dan punya anak pertamanya. Pekerjaan juga lancar dan nampaknya hidup keluarga mereka baik-baik saja karena Bli Wayan Wibawa Semara, suaminya, juga bekerja di hotel. Dua orang di sebuah keluarga bekerja di sektor pariwisata adalah kondisi yang nyaman untuk hidup dan bertumbuh di Bali di masa-masa itu.

Kondisi berubah ketika bom Bali meledak dan memporak-porandakan ekonomi Bali tahun 2002. Ini adalah ‘penguat’ gangguan yang terjadi setahun sebelumnya ketika menara kembar WTC ambruk karena serangan teroris di kota New York. Pariwisata Bali goncang dan puncaknya terjadi di tahun 2005 ketika bom kedua meledak. Habis sudah! Pariwisata mati, hotel-hotel sepi, karyawan sektor pariwisata dirumahkan, dan ekonomi bali merayap tiarap.

Kondisi pariwisata yang sekarat dan kian melemah serta alasan lain yang bersinggungan dengan idealisme membuat kakak saya memutuskan berhenti bekerja. Sebuah keputusan yang tidak mudah dan tidak populer ketika anak sudah dua dan suami pun bekerja di sektor yang sedang melemah. Mereka tinggal di Denpasar dengan biaya hidup yang tidak murah. Perjuangan berdarah-darah pun dilalui dengan hati yang kerap gundah.

Saya cukup mengenal kakak saya. Di keluarga, dialah yang paling tekun dan rajin. Kakak saya menjadi teladan (role model) kami dalam belajar. Di tahun 1980an ketika Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) diperkenalkan, dialah yang memelopori belajar berkelompok di rumah. Saya yang belum sekolah pun jadi terseret dalam dunia pembelajaran yang begitu seru. Dialah yang menyebabkan saya bisa ‘membaca’ (sebenarnya menghafal) bacaan Pahlawan Kecil yang ada di buku bacaan terbitan P dan K di masa itu. Saya hafal di luar kepala bacaan itu karena setiap hari mendengarnya dari kakak saya yang membaca lantang bersama teman-temannya di rumah kami setiap sore.

Mengingat sifat dan sikapnya, saya tahu, kakak saya bukanlah orang yang terbiasa berdiam diri. Dia pasti merindukan bekerja dan berperan. Hanya saja kami semua tidak tahu caranya. Apa yang bisa dia lakukan di masa yang sulit seperti itu? Tidak ada yang tahu.

Di tahun 2005, saya sedang sekolah S2 di UNSW, Sydney, Australia. Seorang sahabat saya, orang Australia, melakukan penelitian soal bom Bali dan dia perlu melakukan penelitian lapangan. Susan, namanya. Tanpa banyak pertimbangan saya pun menawarkan dia untuk tinggal di rumah kami di Desa Tegaljadi selama kurang lebih dua bulan. Adik saya, Komang Andika Permana, menjadi andalan utama. Dia masih kelas 1 SMA ketika itu. Selain Komang, tidak ada yang mengerti bahasa Inggris di rumah kami di Tegaljadi. Sementara itu, kakak saya tinggal di Denpasar. Maka demikianlah. Hidup harus bergerak terus, bahasa isyarat pun kerap berperan. Susan juga tidak fasih berbahasa Indonesia, kalaupun bisa.

Dalam masa itulah, kakak saya kerap membantu Susan, terutama ketika dia pulang kampung ke Tabanan. Sekali waktu, Susan diajaknya ke Denpasar, menjenguk keluarganya dengan dua orang anak kecil. Di titik inilah segala perihal berawal.

Sekali dua kali Susan diajak mampir ke rumahnya di Denpasar, orang-orang perumahan mulai memperhatikan. Anak-anak di perumahan tahu hal itu, ibu-ibu juga tak ketinggalan. Mereka mulai bertanya, siapakah gadis bule yang diajak oleh kakak saya. Yang terpenting, mereka mulai sadar bahwa mungkin kakak saya bisa berbahasa Inggris. Maklum saja, selama ini mereka mengenal kakak saya sebagai ibu rumah tangga yang rempong dengan dua anak kecil.

Maka berdatanganlah satu per satu tetangga ke rumah kakak saya untuk bertanya dan mengkonfirmasi. Pelan-pelan obrolan itu berubah menjadi permintaan untuk mengajari anak-anak tetangga pelajaran Bahasa Inggris. Di masa itu, anak-anak SD di kota sudah mulai mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris meskipun nampaknya masih di tahap awal. Sebagian besar dari anak-anak itu mengalami kesulitan dengan PR mereka dan kakak saya menjadi harapan baru.

Kakak saya punya jiwa pengajar sejak lama. Saya tahu itu. Maka dengan senang hati diajarinya anak-anak tetangga itu dalam memahami Bahasa Inggris dan terutama dalam menyelesaikan PR mereka. Anak-anak senang, orang tua juga nampak happy. Ada guru dan harapan baru di kompleks perumahan.

Suatu ketika, anak-anak murid kakak saya berkata “Tante ngajar di sekolah kami aja”. Ternyata guru Bahasa Inggris mereka sering tidak hadir, entah apa alasannya. Itulah momen pertama ketika kakak saya mulai berpikir tentang profesi menjadi guru. Ucapan anak-anak murid yang diajarinya di rumah kecilnya di Denpasar itu yang menjadi pemantik. Tentu saja ketika itu dia ragu. Apa iya akan menjadi guru?

Rupanya anak-anak ini melapor kepada kepala sekolahnya. Saya bayangkan, isi laporannya adalah bahwa di kompleks perumahan mereka ada seorang ibu rumah tangga yang bisa mengajar Bahasa Inggris dan mereka ingin diajar oleh ibu itu. Anak-anak mungkin mengusulkan kepada kepala sekolah agar kakak saya dijadikan guru Bahasa Inggris di sekolah mereka, SD Negeri 10 Padang Sambian.

Entah bagaimana ceritanya, kakak saya telah mendapati dirinya menghadap kepala sekolah. Setelah bercerita beberapa menit, sang kepala sekolah memutuskan untuk menjadikan kakak saya guru honorer, pengajar Bahasa Inggris yang mulai mengajar minggu depannya. Sangat cepat dan tak disangka. Honornya 450 ribu rupiah. Angka yang patut disyukuri untuk memastikan roda keluarga tetap menggelinding dengan anak yang ketika itu sudah menjadi tiga.

Beberapa minggu mengajar, kakak saya dipanggil kepala sekolah. “Putu harus ikut Akta IV” kata beliau menyarankan kakak saya untuk mengikuti sejenis program pendidikan sertifikasi guru. Akta IV ini perlu dimiliki oleh seseorang yang berasal dari bidang ilmu non keguruan untuk menjadi guru. Kakak saya sarjana Sastra Inggris maka dia perlu Akta IV itu untuk bisa menjadi guru secara formal. “Siapa tahu nanti ada kesempatan untuk menjadi guru. Putu akan siap dengan persyaratannya”. Demikian ibu kepala sekolah menambahkan.

Di tahun 2005, ketika usianya sudah 30 tahun dengan dua anak, kakak saya baru saja melihat sebuah titik cahaya redup akan kemungkinan karirnya untuk masa depan. Bagi banyak orang, ini mungkin terlambat. Ada juga yang mungkin merasa galau ketika di usia 23 merasa belum menemukan pekerjaan yang diminati. Kakak saya memilih untuk menjalani itu. Tidak ada kata terlambat karena sebelum itu adalah kehampaan. Apapun, jika dibandingkan dengan kehampaan, adalah sesuatu yang berisi dan layak disyukuri.

Biaya untuk pendidikan Akta IV selama satu semester adalah 2,5 juta rupiah ketika itu. Kakak saya tidak memiliki uang sebanyak itu dan ibu saya, (Meme’ Nyoman Mariani) dengan berani mengambil tanggung jawab itu. Meme’ yang membiayai semuanya. Dalam kebiasaan tradisional di Bali, tidak umum terjadi bahwa seorang ibu membiayai kebutuhan anak perempuannya yang sudah menikah. Meme’ saya memutuskan hal yang berbeda karena di atas tradisi dan dresta ada cinta. Meme’ saya hanya lulus SD dan bapak saya bahkan tidak lulus SD namun beliau punya keyakinan penuh pada pendidikan.

Singkat cerita, pendidikan Akta IV berakhir dengan baik. Saya tidak ragu akan kemampuan kayak saya. Dia menyelesaikannya dengan baik. Di titik itulah, muncul peluang lainnya. Ada lowongan PNS guru yang diumumkan secara terbuka. Inilah saat yang tepat jika kakak saya memang benar-benar ingin menjadi guru. Maka dia bersemangat mendaftar.

Ada satu isu kecil, ijazah Akta IV belum keluar karena belum wisuda. Sementara itu, tenggat waktu pendaftaran PNS adalah sebelum hari wisuda tiba. Apa yang harus dilakukan? Saya menelpon kakak saya dari Sydney untuk diskusi hal ini. Di masa itu, komunikasi internasional masih cukup mahal, menggunakan kartu VoIP yang sesungguhnya sudah jauh lebih murah dibandingkan telepon biasa.

Saya ingat, waktu itu saya sarankan kakak saya untuk menghadap dosennya dan menceritakan duduk perkaranya. Intinya, dia perlu meminta surat keterangan lulus (SKL) sebagai pengganti ijazah agar tetap bisa mendaftar PNS. Dia pun melakukannya dan ternyata SKL berhasil diperoleh. Maka berkas lamaran guru pun telah siap. Sayangnya, setelah mencoba, ternyata SKL tidak bisa diterima oleh panitia.

Kakak saya berjuang untuk yang kesekian kalinya. Tidak mudah tentunya. Alam berpihak padanya, akhirnya ijazah bisa dikeluarkan sebelum wisuda. Maka dengan kebaikan orang-orang itu, kakak saya bisa mengajukan lamaran di hari terakhir. Semua sudah diperjuangkan dengan baik, semua sudah diusahakan dengan maksimal. Maka selanjutnya adalah mengikuti proses dengan baik dan mensyukuri apapun hasilnya.

Kakak saya dinyatakan diterima sebagai guru dan ditempatkan di Smp Negeri 1 Tabanan. Ini adalah sebuah sekolah yang paling diminati oleh para guru di Tabanan. Kakak saya bisa masuk ke tempat itu dengan cara yang sangat mulus, lancar tanpa hal misterius apapun. Saya memantau setiap hari perkembangan itu dari jauh. Dengan doa saja, tidak mampu dengan hal lainnya.

Ketika itu terjadi, tidak sedikit orang bertanya soal koneksi, soal orang dalam, soal sogok menyogok dan sebagainya. Saya faham kakak saya, saya tahu keluarga saya dan saya tahu ibu bapak saya. Saya berani menegaskan tanpa keraguan, semua itu terjadi dengan alami. Semua terjadi karena kemampuan kakak saya sendiri yang diberkati oleh Hyang Widhi. Tidak ada orang dalam, tidak ada uang sogokan, tidak ada juga intervensi dari koneksi atau relasi. Kami bukan siapa-siapa.

Saya tahu, kakak saya adalah seorang pekerja yang baik. Ingatan saya melayang ke tahun 1980an awal ketika kami sudah dilatih untuk membantu pekerjaan di rumah. Kakak sayalah yang menjadi teladan dalam menyapu, menyiram tanaman, ngepel dan memasak. Sementara saya adalah pelengkap saja. Tidak begitu rajin, kurang tekun tapi sedikit beruntung. Jika harus memilih, kakak saya tidak akan mengkategorikan saya sebagai anak yang rajin. Di matanya, saya mungkin adalah anak pemalas yang barangkali sedikit cerdas.

Ketekunan dan kesungguhannya dalam bekerja yang kemudian mengantarnya menjadi guru yang baik. Saya dengar dia disukai murid-muridnya. Dia juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri melalui berbagai pelatihan. Beberapa kali dia datang ke Jogja atau Solo untuk mengikuti pelatihan dan saya pun menjamunya. Rupanya itu tanda-tanda dia dianggap mampu dan diberi peran lebih.

Selain belajar, dia juga gemar mengajar, termasuk berbagi kepada teman sejawatnya. Oleh karena itulah dia bersemangat untuk menjadi guru yang bisa berbagi ilmu kepada guru lainnya. Itu juga yang kemudian mengantarkannya menjadi guru penggerak. Sebagai guru, dia sibuk dan jarang di rumah. Salut dan kagum saya pada ketiga anak-anaknya yang tidak menyusahkan hidup orang tuanya. Diah, Wulan dan Wibi sejatinya adalah pahlawan bagi ibunya. Itu menjadi salah satu faktor penting bagi perjalanan karier kakak saya yang melesat cukup cepat.

Salut saya juga kepada Bli Wayan, suaminya, yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarga. Bli Wayan selalu ada ketika kakak saya tak sempat menjalankan kewajiban rumah tangga. Bli Wayan yang selalu hadir ketika kakak saya harus meninggalkan mobilnya di tengah jalan karena suatu perkara, sebab dia harus segera melakukan tugas lain. Bli Wayan yang selalu ada untuk menampung keluh kesah dan emosi yang tumpah ruah di rumah karena kakak saya terlalu banyak menjaga emosi di luar rumah. Di balik seseorang yang nampak cemerlang, ada pasangan yang sabar dan tegar menjadi fondasi keluarga. Itulah Bli Wayan.

Maka ketika saya dikabari bahwa dia punya peluang jadi kepala sekolah, saya bersyukur sekaligus yakin. Pekerjaan ini memang tepat untuk dia. Dari detik pertama saya mendengar hingga detik terakhir ketika dia dilantik, saya hanya berdoa. Sekali waktu kami berdiskusi ringan. Tidak ada bantuan dari saya sama sekali. Dia tidak membutuhkan bantuan apapun. Saya pun dengan sadar tidak melakukan apapun. Saya tidak memanfaatkan sama sekali persahabatan saya dengan orang-orang dikbud atau anggota dewan, sekalipun. Saya bahkan tidak bercerita sebelum kepastian datang bahwa kakak saya telah resmi menjadi kepala sekolah. Ini penting saya ceritakan karena satu atau dua selentingan mulai muncul bahwa konon saya ikut andil dalam menjadikan kakak saya sebagai kepala sekolah. Tidak semudah itu Ferguso. Saya tidak ‘sehebat’ itu.

Tadi pagi kami bercerita bertiga. Saya, kakak dan Meme’. Saya gembira mendengar celoteh kakak saya yang begitu semangat dalam menjalankan tugas barunya. Seperti biasa, Meme’ saya muncul dengan naluri seorang ibu yang menasihatkan “jangan terburu-buru, amati dengan baik dulu, jangan sampai kehadiran kita di awal pun sudah jadi ancaman bagi semua”. Sebuah nasihat yang sederhana namun mendasar. Saya tidak punya nasihat. Saya hanya percaya bahwa segala sesuatu akan jadi lebih baik jika seorang pemimpin tidak memiliki kepentingan pribadi. Saya tahu, kakak saya juga percaya itu.

Menjadi kepala sekolah memang adalah jabatan. Jabatan berarti kekuasaan. Tidak salah jika orang bilang bahwa kekuasaan harus diberi imbalan uang dan keuntungan. Meski demikian, saya ingat nasihat Uncle Ben di film Spiderman bahwa bersama dengan kekuasaan yang besar itu lahir tanggung jawab yang juga sangat besar. With great power comes great responsibility. Seperti MJ yang menyemangati Peter Parker, Sang Spiderman, ketika akan menyelamatkan dunia dari kejahatan, saya juga ingin mengucapkan hal yang sama kepada kakak saya “go get ‘em Tiger!”

I Made Andi Arsana

Seorang adik

Meninggalkan Kesuksesan di Indonesia, Pandji Pragiwaksono Mulai dari NOL di New York

gambar Pandji dipinjam dari voi.id

Saya harus menulis ini. Pandji memutuskan hijrah ke New York dan memulai karier standup comedy dari nol. NOL besar. Pandji bergerilya dari satu tempat ke tempat lain untuk ngetes materinya dan membuktikan apakah itu cukup lucu atau tidak. Untuk melakukan itu, Pandji harus membayar, tidak dibayar. Tidak jarang, untuk mendapat kesempatan demikian, dia harus melakukan hal ‘remeh-temeh’ seperti membagikan flyer pertunjukan kepada orang-orang yang berlalu lalang. Singkatnya Pandji, harus merayu orang-orang untuk mau datang ke sebuah acara. Itu semua adalah pekerjaan seorang amatir dan Pandji mau melakukannya.

Mengapa cerita ini menjadi menarik, setidaknya bagi saya? Saya mengikuti seorang pandji Pragiwaksono dalam kesenian standup comedy sejak tahun 2011. Waktu itu saya masih sekolah di Australia dan lelucon Pandji adalah salah satu yang menemani perjalanan di lereng terjal atau terowongan gelap tanpa ujung. Pandji dan Ernest Prakasa adalah dua orang yang berperan penting untuk membuat keterjalan itu tidak begitu mengerikan dan kegelapan itu tidak terlalu menyeramkan. Kalau kita sedang bicara soal hutang dan jasa, pada keduanya saya berhutang jasa.

Bertahun berlalu, Pandji menjelma menjadi standup comedian besar. Dia adalah orang pertama yang melakukan tur dunia dengan leluconnya. Sudah sembilan kali tur dia lakukan dan semuanya mendapat tempat tersendiri di hati penikmat karyanya. Di standup comedy, nampaknya tidak ada yang menyangkal bahwa Pandji adalah salah satu tokoh papan atas, jika bukan yang terbaik, di Indonesia. Saya punya semua standup spesialnya dalam bentuk digital download. Saya begitu menikmati karyanya.

Maka, dengan mengetahui siapa Pandji di Indonesia dan apa yang dilakukannya di New York hari ini, ada berbagai perasaan yang bercampur dan berkecamuk. Sebagai orang yang kerap menasihati anak muda untuk menjalani hal-hal baru, tindakan Pandji adalah sebuah penguat. Dia adalah ‘a living testimony’ bagi banyak ajaran-ajaran motivasi tentang mencoba hal baru, tidak menyerah pada keadaan, dan tidak takut memulai dari NOL. Mudah diucapkan tetapi sangat tidak mudah dilaksanakan. Pandji memberi energi baru pada nasihat itu.

Sebagai seorang yang sama-sama tidak lagi muda, saya bisa merasakan betapa keputusan Pandj ini penuh dengan risiko, termasuk di dalamnya ada risiko gagal. Di usia dua puluhan awal, saya memutuskan untuk keluar dari Unilever dan Astra, dua perusahaan idaman anak muda di zamannya (bahkan mungkin hingga kini) untuk menjadi seorang guru. Sebuah profesi yang oleh banyak orang dianggap bukan pilihan ideal, terutama ketika mereka tahu, saya meninggalkan Unilever dan Astra. Meski keputusan itu penuh risiko juga, naluri, jiwa dan energi muda saya dengan mudah mengalahkan itu semua. Sementara itu, Pandji melakukan itu di usianya yang sudah menginjak angka 43. Sebuah keputusan yang berani dan menghadirkan kekhawatiran di sana sini.

Yang penting untuk dipelajari adalah langkah Pandji dan persiapannya. Kata-kata motivasi kerap menyenangkan disimak tetapi dia tidak selalu menghadirkan perubahan pada diri seseorang. Salah satu sebabnya adalah ketiadaan petunjuk atau langkah teknis untuk mewujudkan kata-kata motivasi itu. Dia sering hanya berupa rangkaian kata indah nan membius tetapi membuat kita mudah lupa atau diam tak bergerak mewujudkan karena absennya petunjuk teknis. Sementara itu, tidak semua orang bisa menerjemahkan kata-kata motivasi menjadi langkah nyata yang sistematis dan terukur.

Dari cerita dan perjalanan Pandji saya belajar hal-hal teknis. Pandji pernah bertutur soal mengkhayal dengan detail. Dia mengatakan, banyak diantara kita yang punya mimpi dan angan-angan untuk mencapai sesuatu tetapi tidak tekun mempelajari bagaimana cara mewujudkan itu. Ini mirip dengan orang yang berkhayal masuk S2 di Harvard tetapi bahkan tidak tahu dan tidak mau belajar tentang TOEFL, apalagi kursus TOEFL. Pandji dengan jernih menceritakan bahwa seorang pemimpi perlu mempelajari dengan detail langkah untuk mewujudkan mimpi itu. Saya jadi ingat kata-kata nasihat yang mengatakan bahwa langkah pertama mewujudkan mimpi adalah bangun dari tidur. Ini benar dan Pandji menegaskannya dengan tindakan.

Pandji juga bercerita tentang bagaimana dia menabung untuk mewujudkan mimpinya itu. Dia bahkan telah menyiapkan sejumlah uang yang dirasanya cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya selama beberapa tahun karena selama itu, dia berasumsi, tidak akan punya penghasilan yang memadai. Pandji nampak nekat tetapi tentu saja tidak. Dia penuh perhitungan dan lengkap dengan persiapan. Pertanyaan berikutnya, bagaimana Pandji mampu menabung uang sebanyak itu? Dari karyanya. Dari standup comedy spesial yang dijualnya cukup mahal. Dari perusahaan, Comika, yang didirikannya. Dari digital download yang ternyata laris manis. Dari banyak lagi yang lainnya. Intinya, Pandji mengatakan, dia memperbesar kapasitasnya dan menaikkan nilai jualnya sehingga dia mendapat banyak kesempatan yang kemudian ‘ditukarkan’ dengan uang. Ada kerja super keras di balik semua cerita tabungan itu.

Pandji memang nampak meninggalkan semuanya di Indonesia dan memulai dengan ‘tangan kosong’ di New York. Tentu saja Pandji tidak sebodoh itu. Dia telah membangun kerajaan bisnisnya di Indonesia dengan baik: Comika. Inilah perusahaan yang bertekad untuk memastikan seorang standup comedian bisa hidup dari karya mereka. Pandji tetap menjadi bagian penting dari perusahaan itu meskipun dengan legowo dia telah menyerahkan peran utama kepada koleganya. Artinya, Pandji cukup cerdas untuk tidak melepaskan semua hal di Indonesia. Selain itu, Pandji tentu saja masih merencanakan dan akan mengeksekusi tur spesialnya yang telah tertunda dua tahun lamanya.

Meskipun ada di New York, Pandji tetap hadir untuk para penikmat karyanya di Indonesia. Youtube-nya tetap mutakhir dan kini bahkah lebih kaya dengan konten yang beragam. New York tentu menghadirkan banyak hal yang tidak ada di Jakarta dan penikmat karyanya disuguhi dengan semua keragaman itu melalui Youtube. Pandji juga dengan cekatan menjadikan perjalanan barunya yang misterius ini sebagai konten penting yang layak jual. Maka banyak orang, termasuk saya, dengan sukarela menjadi pelanggan setia saluran Youtube berbayarnya demi menikmati langkah-langkah Pandji dalam mewujudkan mimpinya. Di channel ini, saya merasa Pandji begitu jujur berkisah tentang hal baik dan kurang baik. Videonya ketika melucu di suatu tempat dan tidak mendapat sambutan semestinya pun dia unggah. Kita diajak untuk merasakan getir perjuangan yang tidak mudah. Keberhasilan memang tidak jatuh percuma dari langit. Dia harus diperjuangkan.

Masih terlalu pagi untuk mengatakan Pandji sukses di New York. Jalan masih panjang. Yang pasti, perjalanan panjang itu sendiri sudah akan menjadi hiburan dan pelajaran penting bagi banyak orang. Seperti kata-kata bijak para ‘travelers’, yang terpenting bukan tujuan akhirnya tetapi perjalanan itu sendiri. Dengan semua ini, Pandji telah menjadi contoh tanpa menggurui. Dia telah memberi energi baru pada nasihat-nasihat lama yang kerap kita ragukan kesaktiannya. Bahwa kita harus berjuang, bahwa kita harus berani mengambil risiko, bahwa kita harus rela membebaskan diri dari zona nyaman. Terima kasih Pandji. Aku akan mengamatimu dari dekat dan menikmati setiap pelajaran yang lahir dari segala yang garing, anyep dan pecah. Kata orang New York, go get ‘em tiger!

I Made Andi Arsana
Seorang penikmat karya Pandji Pragiwaksono

Ketakutan Bapack-Bapack

Tempo hari saya ngobrol dengan seorang sahabat yang putra-putrinya sudah dewasa. Keduanya sudah kuliah dan masing-masing memiliki perangai berbeda. Keduanya tidak begitu menenteramkan bapaknya. Setidaknya itu yang saya tangkap.

Yang pertama nampak begitu tidak peduli. Miskin kata-kata. Ditanya lebih banyak diam. Tidak protes, tidak juga menunjukkan persetujuan. Ini membuat bapaknya setengah putus asa. Yang kedua lain lagi. Sosoknya ‘liar’, cenderung memberontak. Tidak sungkan untuk menunjukkan penentangan dan perlawanan pada ayahnya.

Bapack-Bapack yang kadang takut

Saya bisa rasakan keresahan sahabat saya ini. Pasalnya, ini bukqn hal aneh. Saya pun tak jauh dari itu. Keresahan bapak-bapak memang berputar-putar di urusan yang sama.

Dalih kami adalah khawatir akan masa depan anak. Aslinya, mungkin kami hanya egois saja. Klaim kami, anak-anak tidak peduli masa depannya sendiri. Aslinya, mungkin karena kami tidak paham saja dengan cara mereka menghadapi hidup. Bisa jadi kami terjebak di masa lalu dan memaksakan nilai kami untuk dianut di masa kini. Bisa jadi.

Maka ketika saya pikir ulang, mungkin perkaranya sederhana saja. Ada keterputusan dalam pemahaman. Ada komunikasi yang tidak bersambung antara anak dan bapaknya. Terdengar klise memang tapi saya kian menyakininya.

Maka ketika ditanya, apa mimpi terbesar saya tentang anak, saya bilang keutuhan hubungan, ketersambungan komunikasi. Itu saja. Hal buruk apa sih yang bisa terjadi jika bapak dan anak bisa tetap bertukar cerita? Hati saya mungkin tak akan pernah bisa menerima semua pandangan dan perilaku anak saya karena jurang generasi yang begitu lebar. Setidaknya, ketika cerita bisa mengalir di antara kami, ada jembatan yang setia menghubungkan.

Pada kenyataannya, masa-masa terbaik dalam hidup bukanlah ketika anak berprestasi tinggi. Masa terbaik adalah ketika kami bisa bercerita tanpa tema dan bertahan tidak saling mengabaikan kala jam telah berganti. Duduk berdua di sebuah warung kopi meskipun hanya saya yang makan dan minum karena selera kami bergitu berbeda, adalah salah satu kemewahan terakhir yang masih tersisa.

Tulisan ini saya persembahkan untuk bapack-bapack yang resah hidupnya. Yang tak kuasa menyatakan rasa cintanya pada putera-puterinya. Di sisa waktu yang tidak banyak ini, semoga bisa menemukan cara membangun jembatan di antara dua jiwa yang kadang asing. Semoga.

Menera Ulang Kemuliaan Guru

Saya seorang guru. Di Hari Guru ini, ada pertanyaan penting yang saya tanyakan, setidaknya pada diri sendiri. Seberapa banyak murid merasa dan yakin bahwa guru adalah representasi kemuliaan? Seberapa banyak guru yang benar-benar mewakili poster dan posting di media sosial di Hari Guru yang banjir pujian, sanjungan dan terima kasih?

Sangat banyak dari kami, para guru, tidak berhak disebut bijaksana karena masih terlalu mudah emosi saat berhadapan dengan murid-murid yang sesungguhnya kreatif tetapi kami tuduh ‘kurang ajar’. Tidak sedikit yang tidak mau belajar hal-hal baru sehingga cara mengajar kami tidak mengalami peningkatan. Banyak dari kami adalah pemutar kaset usang, mengajar dengan cara dan bahan yang sama dalam satu atau dua dekade lamanya.

Saya mungkin adalah koruptor yang menggelapkan jatah waktu mengajar untuk hal lain yang tidak semestinya. Bisa jadi, saya adalah penjahat yang menindas murid dengan berbagai tugas yang membebani padahal sesungguhnya itu sekedar dalih ketidaksiapan mengajar. Saya kerap ‘terpaksa’ melakukan hal lain saat rapat daring dan ini mungkin tak ada bedanya dengan segelintir wakil rakyat yang tertidur saat rapat paripurna.

Saya mungkin tak ubahnya pemerintah yang menyiapkan rencana pembangunan dengan terburu-buru karena saya kerap melakukan hal yang sama saat menyiapkan silabus dan bahan ajar.  Yang pasti, saya adalah pekerja biasa. Alasan saya bertahan mungkin tak selalu untuk masa depan bangsa tapi untuk anak dan pasangan yang harus bertahan hidup atau merasa cukup mulia.

Maka kami mungkin bukanlah pahlawan tanpa tanda jasa. Bisa jadi kami adalah orang-orang yang tanpa jasa karena berbuat tanpa niat dan berjuang tanpa senjata. Selamat hari Guru.

Protecting and educating Indonesian fishermen

The Jakarta Post on 23 November 2021
I Made Andi Arsana, Yogyakarta
Lecturer and researcher in geospatial aspects of the law of the sea at the Department of Geodetic Engineering, Gadjah Mada University. The views expressed are his own.

Many in the country seem unaware that Australian authorities burned three Indonesian fishing boats on Nov. 8, somewhere close to the Rowley Shoals Marine (RSM) Park off the Western Australian coast, for alleged poaching. But it was not the first case of incursion into Australian territory by Indonesian fishermen.

However, let us observe at least five points before judging whether or not Australia’s recent action was acceptable.

First, we need to understand the status of maritime boundaries between the two neighbors. It is clear that Indonesia and Australia have established maritime boundaries between them. The border of the seabed, or the continental shelf, was established in the 1970s, while the water column — for the exclusive economic zones (EEZs) — was divided in 1997. With these established borders, it is easy to determine whether or not a fishing boat operates legally.

Second, the position matters. The question is whether the Indonesian fishing boats were operating in Indonesian waters or those of Australia. Unfortunately, information regarding the precise coordinates of the place where the boats were intercepted is not available.

Australia claimed the incident took place near the RSM Park. According to the coordinates on the official website of Western Australia’s RSM Park and a check on Google Maps, the position of the boats was clearly south of the EEZ boundary line between Indonesia and Australia, which means the incident took place in Australian waters.

Third, it is worth noting that maritime boundaries between Indonesia and Australia are complex, typified by differences between lines dividing the seabed and water column. Because of this, there is maritime space where the seabed falls within Australia’s jurisdiction but the water column above it is part of Indonesia. In other words, resources of the water column, including fish, are for Indonesia to harvest but oil and gas under the seabed for Australia.

Another point to note here, is that sedentary species like sea cucumber belong to the seabed. Sedentary species, according to the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) Article 77 (4), are “organisms which, at the harvestable stage, either are immobile on or under the seabed or are unable to move except in constant physical contact with the seabed or subsoil.”

In this situation, Indonesian fishermen are entitled to capture fish in the abovementioned area, but it is illegal for them to capture sea cucumbers. However, this has nothing to do with the current case because, once again, the incident clearly took place in Australian waters.

Fourth, Indonesia and Australia have an agreement where Indonesian traditional fishermen are allowed to fish in certain Australian waters around Ashmore Reef. It is based on an agreement signed in 1974, officially known as the “Australia-Indonesia Memorandum of Understanding regarding the Operations of Indonesian

Traditional Fishermen in Areas of the Australian Fishing Zone and Continental Shelf — 1974” (MoU Box 1974). Indonesian fishermen are allowed to fish within the box. When first hearing about the burning of the boats, I thought the fishing activity took place within the 1974 box, but I was wrong. The activity was clearly outside of the box, so we cannot refer to the provision where traditional Indonesian fishermen are allowed to fish within Australian waters.

Fifth, incidents involving Indonesian fishermen and Australian authorities are not new. For many reasons, law enforcement in maritime areas between Indonesia and Australia has been taking place for a long time. When I was in Australia pursuing my master’s and doctorate degrees, I often heard our diplomats at the Indonesian Embassy or consulate generals deal with such incidents. It seemed that economic factors were often the main reason for the fishermen’s breaching, which is why the Indonesian government needs to positively intervene to help our fishermen.

But back to the question above — is the burning of Indonesian fishing boats acceptable? It is quite clear that the boats were operating within Australian waters when they were captured. It is hard to deny that the fishing activity was illegal. However, one can always question whether there is a better solution than burning the boats. Will such tough action be an effective deterrence? We can debate over the issue, but one thing for sure is that Indonesia also takes a similar approach against illegal fish poachers. Exploding or sinking boats caught illegally fishing in Indonesian waters has been the preferred approach since 2014, when Susi Pudjiastuti was appointed maritime affairs and fisheries minister.

So when responding to Australia’s approach, Indonesia cannot apply a double standard. It would be more productive for us to look forward. Close collaboration between Indonesia and Australia is a must to prevent this incident from recurring. Having an agreement on how to handle fishermen operating illegally can be a feasible solution.

In addition, education for fishermen and patrolling officers should be more substantial. In the complicatedly arranged maritime boundaries between Indonesia and Australia, it is not surprising to see fishermen have difficulties comprehending the situation. A lack of understanding can easily lead to violations.

Therefore, educating fishermen residing around border areas between Indonesia and Australia is now more pressing than ever. This is certainly also the case for people settling in maritime borders with other neighbors.

In short, we are responsible for protecting our fishermen. First and foremost, the government should protect them economically. Second, we should protect them with adequate knowledge. Hence, frequently arranged information, knowledge dissemination or sharing can be of help. For this purpose, non-state parties such as researchers, lecturers, students and NGOs can and should be involved.

GAGAL MASUK KAMPUS IDAMAN

Kamu pasti sedih karena tidak lulus SNMPTN dan SBMPTN. Silakan bersedih. Sewajarnya memang begitu. Kamu pasti merasa kecewa dan, terutama, telah merasa mengecewakan diri sendiri. Jika aku jadi kamu, aku akan mengalami hal yang sama. Sedih dan kecewa!

Maafkan kami, para orang tua. Kami kerap mengatakan “kami tidak akan memaksamu dalam menentukan masa depanmu” tetapi tidak bisa menyembunyikan niat sebenarnya bahwa kami menginginkan kamu menjadi apa yang kami mau. Maafkan kami, para digital imigran ini, yang tak bisa ‘move on’ dari pemahaman bahwa hidup adalah sebuah ritual konvensional dan kesuksesan itu diukur dengan parameter-parameter usang yang terlanjur kami percaya. Maka diam-diam, kami juga kecewa karena kamu gagal masuk kampus idaman.

Maafkan kami, para guru dan dosen. Kerap kami terlalu bangga dengan pencapaian sendiri sehingga hanya percaya jalan-jalan biasa menuju keberhasilan. Kami kerap menutup mata dengan gesitnya perubahan dunia yang bahkan tak mampu kami kejar. Itulah sebabnya, sebagian dari kami yakin, bahwa hanya dengan meraih gelar di kampus idaman saja, maka jalan menuju keberhasilan itu bisa dilewati. Kami bahkan tidak sadar bahwa sebagian posisi yang ada di Google, IBM, EY dan perusahaan raksasa lainnya bahkan kini tidak lagi mensyaratkan selembar ijazah.

Mari kukisahkan sepotong perkara lama. Aku punya kawan lulusan sebuah universitas kecil swasta di Kupang. Aku menyaksikan dia menggenggam serangkai bunga saat wisuda di University of New South Wales di Australia. Dia S2 di sana dengan beasiswa, berderet dan berdiri sama tinggi dengan lulusan universitas mentereng negeri ini. Saat tulisan ini kamu baca, dia sudah menyelesaikan S3-nya di Inggris dengan beasiswa. Cerita ini tidak inspiratif jika kamu tidak mau menjadikannya inspirasi.

Kawan baikku yang lain lulus D3 di sebuah akademi di Jogja. Nama kampusnya tak terdengar dan bahkan kini sudah tiada. Dia masuk ke akademi itu karena gagal masuk UGM. Di hari H pengumuman penerimaan mahasiswa, dia mendapati dirinya tidak lulus sementara sahabat baiknya yang tadinya senasib sepenanggungan, berhasil masuk UGM. Kamu mungkin bisa membayangkan atau bahkan merasakan kegundahan hatinya. Jangan sedih untuk dia. Kini dia menjadi dosen dan mengajar S2 di sebuah perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Pada namanya ada gelar S2 dan S3 yang semuanya diperoleh dari luar negeri dengan beasiswa yang memukau. Saat kamu baca tulisan ini, dia mungkin sedang memberi nasihat akademik pada mahasiswa S3 di kampus ternama negeri ini.

Beberapa hari lalu, aku menjadi juri sebuah lomba nasional. Ada seorang anak muda yang menjadi finalis dan tampil begitu keren. Dia adalah mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi swasta yang selama ini tidak begitu diperhitungkan. Kinerjanya memukau karena berbeda dan inovasinya tidak lazim. Aku bertanya pada diri sendiri “ke mana mahasiswaku sendiri yang kampusnya katanya nomor satu di Indonesia?” Mahasiswaku sendiri tidak ada di medan tempur bergengsi itu. Cerita ini tidak akan menginspirasimu kecuali jika kamu mengizinkannya.

Tahun 2018, Diah, ponakan yang aku sayangi tidak berhasil masuk UGM, tempatku bekerja. Percayalah, tidak mudah menghadapi kenyataan itu. Orang-orang di sekitarku mungkin berharap aku bisa berbuat lebih tetapi faktanya aku tidak bisa apa-apa. Untunglah perilaku dan semangat juang Diah menghiburku. Kini nilainya nyaris sempurna di Universitas Sanata Darma Jogja. Kerap aku dengarkan dia presentasi di kamarnya atau berdiskusi dengan temannya dalam sebuah forum. Aku amati kelincahannya di organisasi dan perhelatan kampus lainnya. Aku simak Bahasa Inggrisnya yang jauh lebih baik dari kebanyakan mahasiswa yang kukenal di kampus terkemuka sekalipun. Aku tidak ragu dengan jalan hidupnya.

Tulisan ini tidak untuk menghiburmu tapi untuk mengingatkanmu bahwa semua orang pernah gagal. Aku tidak berhasil masuk Nottingham di UK karena Chevening menolakku di tahap akhir. Aku tidak jadi masuk Karlsruhe di Jerman karena DAAD bahkan tidak menggubris lamaranku. Aku tidak jadi menikmati suasana kelas di TU Delft di Belanda karena STUNED tak sudi memberiku beasiswa. Aku tidak jadi belajar di Negeri Paman Sam karena Fulbright tidak melihatku fully bright. Di tahun 2017, ketika aku sudah presentasi di lima benua, sebuah konferensi di Sulawesi menolak paperku karena dianggap tidak layak untuk disajikan. Kecewa? Pasti! Namun hidup harus terus berjalan.

Tahun ini, dua ponakan lain ditolak UGM di SNMPTN dan SBMPTN. Mereka masih berjuang untuk ujian mandiri dan tulisan ini adalah doa untuk mereka. Doa juga buat kalian yang masih ingin berjuang. Semoga kalian semua tak berhenti. Tak ada satupun yang bisa menjanjikan kecemerlangan di masa depan tapi setidaknya kalian bergerak menujunya, selambat apapun dan lewat jalur apapun.

Tulisan ini juga aku persembahkan bagi para orang tua. Sebagai tanda terima kasihku pada Bapak dan Meme’ yang tak pernah menunjukkan kekecewaannya saat aku terpuruk dan gagal. Yang hanya punya satu kata: “dukung”, ketika melihat anaknya mendapat IP 1,2 dan hanya punya kata “percaya” ketika anaknya memutuskan untuk bekerja di tempat yang gajinya 1/7 dari gaji sebelumnya. Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru.

Jogja, 16 Juni 2021
I Made Andi Arsana

Mochtar yang Bikin Diplomat Dunia Bergetar

Sebuah obituari oleh
I Made Andi Arsana*

Mochtar Kusumaatmadja. Namanya sering saya sebut di kelas di Teknik Geodesi UGM atau di acara seminar soal batas maritim. Saya selalu katakan, laut kita yang luasnya jutaan kilometer hari ini, tidak lepas dari hasil perjuangan seorang legenda bernama Mochtar Kusumaatmadja.

Minggu, tanggal 6 Juni 2021, Sang Legenda telah berpulang di usia 92 tahun. Ada banyak yang menyampaikan bela sungkawa. Indonesia kehilangan seorang tokoh mumpuni di bidang Hukum Laut. Tak saja diakui kepakarannya di dalam negeri, beliau disegani di manca negara. Kapasitasnya diakui negara. Beliau pernah menjadi Menteri Luar Negeri selama 10 tahun. Kepakarannya diakui dunia dengan berbagai posisi terhormat yang beliau emban di level internasional, termasuk di International Law Commission.

Saya tidak pernah bertemu Pak Mochtar secara langsung namun rasanya akrab karena pemikiran beliau abadi di berbagai buku, artikel dan karya lainnya. Selain itu, ada banyak orang yang mengisahkan peran dan hidupnya.

Tahun 2007 silam, saya berkesempatan bekerja di PBB di New York. Waktu itu, saya bertemu Prof Myron Nordquist yang diundang sebagai pembicara peringatan 25 tahun Konvensi PBB tentang Hukum Laut, UNCLOS. Prof Nordquist menjadi pembicara Bersama Prof. Hasjim Djalal, tokoh utama lain di dunia Hukum laut Indonesia. Saya masih ingat ucapan Prof Nordquist secara khusus pada saya ketika saya mengatakan saya dari Indonesia. “Dulu, saat sidang PBB tentang Hukum Laut, ada seorang lelaki bernama Mochtar [Kusumaatmaja]. Ketika dia berbicara, maka semua orang tidak saja bungkam tetapi juga bergetar”. Prof Nordquist menyampaikan itu penuh semangat dengan menatap mata saya lekat-lekat. Tidak mudah melukiskan kebanggan saya sebagai orang Indonesia ketika itu. Rasanya, New York ada dalam genggaman Indonesia sore itu.

Dulu, ketika Indonesia merdeka, laut di antara pulau-pulau Indonesia bukan milik Indonesia. Kapal asing bebas masuk dan memanfaatkan kekayaannya. Menteri Chaerul Saleh waktu itu punya ide untuk mengklaim ruang laut itu jadi milik Indonesia. Beliau pun meminta bantuan seorang anak muda usia 20an bernama Mochtar Kusumaatmadja. Mochtar muda mempelajari dari berbagai kasus dan praktik hukum dunia dan muncullah usul untuk melingkupi kepulauan Indonesia dengan sabuk atau garis pangkal. Ide ini kemudian disampaikan oleh Perdana Menteri Djuanda ketika itu dengan istilah Deklarasi Djuanda tahun 1957. Pak Mochtar ada di balik semua itu.

Gagasan yang di luar kebiasaan ini menemukan banyak tantangan. Indonesia mencoba meyakinkan dunia di meja perundingan dan tidak mudah. Tahun 1958, ketika Konferensi PBB tentang Hukum Laut yang pertama, usaha Indonesia belum berhasil. Tahun 1960, saat Konferensi kedua pun belum berhasil. Akhirnya Indonesia habis-habisan melakukan diplomasi dan lobby pada konferensi ketiga.

Pak Mochtar menjadi salah satu motor untuk melakukan diplomasi ini. Berjuang Bersama beliau adalah tokoh-tokoh terkemuka seperti Hasjim Djalal. Ada juga di antara mereka, seorang surveyor lulusan Teknik Geodesi bernama Adi Sumardiman. Beliau yang mendukung Pak Mochtar untuk menggambarkan dan menerjemahkan gagasan para diplomat ulung itu dalam bentuk ilustrasi dan peta sehingga lebih mudah dipahami kalangan kebanyakan.

Salah satu yang dikenang banyak orang adalah ketika Seorang Mochtar harus berunding dengan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Duta Besar Richardson, seorang mantan Jaksa Agung. Perundingan berjalan tegang sekali dan di situlah kelihaian seorang Mochtar diuji di medan ‘perang’ sesungguhnya. Dengan kegigihannya, akhirnya beberapa hal krusial disepakati dan itulah yang menjadi kesepakatan oleh konferensi yang kemudian melahirkan prinsip negara kepulauan di Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) yang dimiliki dunia hingga hari ini.

Karena usaha Pak Mochtar dan delegasi Indonesia yang keren itu, disertai dengan kemauan bekerja sama dengan pejuang lain dari Filipina, Fiji dan Mauritius, prinsip negara kepulauan akhirnya menjadi hukum dunia. Tanpa usaha beliau, tak akan kita miliki laut di antara pulau-pulau kita. Tak akan kita sebut negeri ini sebagai benua maritim. Tak akan ada Wawasan Nusantara. Tanpa menumpahkan peluru sebutir pun, Indonesia menambah luas wilayah dan yurisdiksi lautnya hingga jutaan kilometer. Dengan diplomasi, dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan kesaktian kata-kata.

Tak berlebihan jika Prof. Nordquist menegaskan bahwa kata-kata seorang Mochtar memang membuat diplomat dunia bergetar. Selamat jalan Pak Mochtar.

*pembelajar aspek geospasial hukum laut

Rifky: Cah Jogja Lulusan Oxford dan Harvard.

Usianya jauh lebih muda dari saya. Kehebatannya jauh lebih ‘senior’. Muhammad Rifky Wicaksono baru saja wisuda di Harvard dengan menggondol dua penghargaan Dean’s Scholar Prize karena mendapat nilai tertinggi untuk dua mata kuliah yang diambil. Jika dikonversi ke nilai Indonesia, IPnya di Harvard tak kurang dari 3,9. Betul! Anda tidak salah lihat. Nyaris sempurna!

Untuk bisa akrab dengan seorang alumni Harvard yang cemerlang, saya sudah boleh potong ayam penuh syukur. Rifky lebih dari sekedar itu. Beberapa saat lalu, dia juga lulus dari Oxford dengan predikat yang mentereng. Tak hanya cemerlang di kelas, Rifky juga mumpuni di organisasi. Saat di Oxford dia pernah menjadi semacam ketua kelas. Dalam Bahasa Rifky yang rendah hati, dia menjadi ‘pesuruh’ kelas. Demikianlah Rifky yang saya kenal: santun, artikulatif dan rendah hati namun tak rendah diri.

Kemarin saya ngobrol dengan Rifky lewat IG live. Penyimaknya konsisten di atas 110 orang selama kurang lebih satu setengah jam. Komentar dari penyimak deras mengalir dan saya bisa rasakan energi yang tumpah ruah dari penjuru negeri. Mungkin, ini jadi salah satu Live IG yang paling berenergi yang pernah saya lakukan. Rifky pun menjadi dirinya sendiri. Lepas, bebas dan berbicara dari hatinya kepada kami semua. Sementara saya menyimak takzim, dibaluri curahan inspirasi yang deras menghangatkan.

Tidak setiap hari kita bisa ngobrol dekat dengan orang Indonesia yang lulus dari dua kampus mentereng dunia. Saya merasa istimewa karena kami sama-sama ada di Jogja, berteman baik dan sama-sama dosen di UGM. Rifky tak hanya kolega, dia telah menjadi sahabat. Aisyah, isterinya juga akrab dengan Asti, isteri saya. Sama-sama dokter jebolah Fakultas Kedokteran UGM. Bahasanya sama, mungkin itu sebabnya bisa dekat karena sering curhat.

Tak dinyana, Rifky ternyata sempat tidak lulus Ujian Nasional ketika SMA. Apa pasalnya? Rifky dengan rendah hati menjawab, karena kekurangannya sendiri. Tak ada sedikitpun niat menyalahkan keadaan dan pihak lain. Meski ketika itu, Rifky memang sedang menyiapkan lomba internasional untuk bidang debat, dia tidak menyalahkan itu. “Aku yang salah” demikian dia selalu menegaskan ketika ditanya perihal itu. Dia bahkan tanpa ragu mengakui bahwa ketidak lulusannya saat Ujian Nasional di SMA itu adalah salah satu pengalaman hidup paling berharga. Dia tegaskan, bahwa hidup tak boleh meremehkan apa pun dan siapa pun. Hanya karena seseorang merasa berbakat, berpotensi dan sudah berprestasi, itu bukan alasan untuk lengah dan tak peduli.

Kegagalan saat SMA itulah yang membuat seorang Rifky menjadi bekerja sekian kali lebih keras. Dia masuk Fakultas Hukum UGM lalu memenangkan Beasiswa Jardine Foundation dan terbang ke Oxford tahun 2016. Jika saat SMA ibundanya pernah menangis karena sedih, saat Rifky wisuda di Oxford, ibundanya menangis karena haru dan bahagia. Ayah Ibu Rifky mendampingi putera semata wayangnya menerima penghormatan dari Oxford sebagai alumni yang berprestasi. Sang ‘Ketua Kelas’ lulus dengan gemilang, diiringi tangis bahagia kedua orang tuanya. Gedung tua Oxford dan jiwa-jiwa Harry Potter menjadi saksi.

Rupanya Rifky memang punya semangat belajar yang tak terbendung. Tak hanya soal akademik, Rifky percaya semangat belajar itu bisa untuk apa saja. Dia pemain tenis yang baik, juru masak yang semangat dan pemain gitar yang jauh lebih baik dari saya. Untuk yang terakhir ini, saya mau bersaksi. Semangat yang sama, membawanya pada niat masuk Harvard. S2 lagi. Apa alasannya? Dia haus akan ilmu pengetahuan. Apa yang ingin dikuasainya ada di Harvard. Selain itu, dia ingin menjadi orang yang bisa bercerita dan berbagi kepada mahasiswanya kelak. Jika dia memberi nasihat perihal sekolah yang bener, belajar yang rajin dan bagaimana bisa masuk sekolah tersohor dunia, Rifky akan bisa bicara dengan otoritas utuh yang tak diragukan. He walks the talks.

Ketika saya tanya soal beasiswa, ternyata Rifky punya kisah yang selama ini tak banyak terungkap. Dia mulai dari satu fakta bahwa tidak mudah untuk mencari dana beasiswa untuk S2 jika kita sudah pernah S2. Masuk akal. Ketika ada banyak sekali orang yang harus disekolahkan, wajar jika penyandang dana tidak memprioritaskan kandidat yang sudah pernah sekolah.

Rifky tak tinggal diam. Ditulisnya proposal dan dikirimnya ke berbagai pihak. Sayangnya, hasilnya jauh dari menggembirakan. Ada satu yang berkenan membantu, itupun tak sampai 10 persen dari dana yang diperlukannya. Untuk bisa lulus master di Fakultas Hukum Harvard, SPPnya ada di kisaran 700-800 juta jika dirupiahkan. Rifky sempat patah semangat tapi dia kumpulkan lagi energinya. Dia ingat kembali masa lalu dan kegagalannya. Nampaknya ada dendam positif di situ.

Akhirnya dia bersurat ke Harvard dan mengatakan duduk perkaranya. Entah mantra-mantra apa yang dirafalkan Rifky, Harvard bersedia memberi bantuan lebih dari setengah kebutuhannya. Itu luar biasa meskipun tetap belum cukup. Waktu berlalu Rifky sudah kepalang basah. Dengan diplomasinya dia mencoba lagi. Kali ini Rifky datang sebagai seorang anak manusia yang telah berusaha sangat maksimal. Dia bisa tunjukkan kerja keras dan usahanya serta kegagalannya. Meski begitu, dia tidak menyerah dan tetap ingin belajar di Harvard. Rupanya ini membuat Harvard luluh hatinya dan ditambahlah beasiswanya hingga hampir penuh. Kita memang layak meminta jika sudah waktunya. Jika sudah kita tunjukkan kerja keras yang tak tertandingi.

Rupanya cerita perjuangan ini menyentuh banyak hati. Para alumni FH UGM dan alumni Harvard di Indonesia juga pun kemudian silih berganti memberi dukungan. Maka Rifky pun bisa belajar dengan tenang. Dia belajar karena kegigihannya. Karena keberaniannya menerjemahkan idealismenya menjadi usaha yang sangat pragmatis. Lagi-lagi, bahwa bakat dan potensi itu penting tetapi yang lebih penting adalah usaha nyata untuk mewujudkan bakat dan potensi itu jadi nyata. Jadi, tak semudah yang kita kira. Rifky betul-betul harus berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan apa yang dia mau.

Ketika saya tanya apa sih tantangan terbesar dalam perjuangannya ‘menundukkan’ Oxford dan Harvard, dia sampaikan dengan tegas “mengalahkan diri sendiri”. Rifky mulai dari kisah, betapa ironisnya, Indonesia yang terdiri dari ratusan juta penduduk, kurang terwakili di Oxford dan Harvard. Dia sempat contohkan negara kecil seperti Singapura yang ternyata mengirimkan banyak anak terbaiknya ke Oxford dan Harvard. Semua itu, bagi Rifky, terjadi karena kegagalan kita meyakinkan diri sendiri. Kita rendah diri dan tidak percaya pada kebesaran kita di dalam, demikian Rifky mengandaikan.

Maka nasihatnya sederhana: coba saja. Ketika syaratnya sudah terpenuhi apa alasannya untuk tidak mencoba? Saya setuju dengan prinsip ini. Sering kali kita menghakimi diri sendiri bahkan sebelum bertanding/berlomba. Itulah sebabnya kita lebih sering memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam kompetisi. Kita tidak siap ditolak. Kita tidak percaya diri. Repotnya, kita juga menjadi orang yang pertama kali sewot, menyesal atau bahkan mencibir jika kawan kita, yang kita anggap tidak lebih pintar, ternyata bisa memenangkan sebuah kompetisi. Maka, agar tidak menyesal, mendaftarlah. Saya yakin, cerita ini makjleb bagi banyak orang.

Kini Rifky punya dua gelar S2 dari Universitas terkemuka, beristerikan Aisyah, seorang dokter yang suportif dan seorang putra kecil, Rasyid, yang tampan dan sehat. Cukupkah semua itu? Tentu Rifky bersyukur tapi perjalanannya masih jauh. Dahaganya akan ilmu tak terbendung. Saat ini Rifky telah mengantongi surat penerimaan di program S3 bidang Hukum di Oxford, almamaternya. Tak berlebihan jika kisah hidup Rifky ini membuat banyak orang berdecak kagum atau tercekat tanpa kata-kata. Penyimak kehilangan suara. Bahkan kata-kata pujian tiba-tiba jadi hambar dan tak cukup hebat untuk menandingi kedigdayaan Rifky.

Rifky terbang begitu tinggi. Namun, Rifky adalah juga orang biasa. Dia adalah Cah Jogja yang pernah tidak lulus Ujian Nasional dan membuat ibunya terisak dalam. Kini dia bercahaya karena gigih menggosok dan menempa dirinya. Saya yakin, jika Rifky diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi begitu cemerlang, maka ribuan atau jutaan insan Indonesia semestinya juga bisa merasakan keadilan berkah Tuhan itu. Terima kasih Rifky. Indonesia mendoakanmu. Melesatlah ke Oxford lalu kembalilah pada waktunya. Lahirkanlah lebih banyak Rifky untuk Nusantara kita.

I Made Andi Arsana
Seorang sahabat

Wimar

Wimar tidak khawatir terlihat tidak tahu. Bahkan bodoh. Dia seperti tidak begitu peduli bagaimana pemirsa melihat dirinya. Dia fokus pada satu hal: bertanya untuk menjadi tahu dan membebaskan dirinya dari rasa penasaran. Itulah kesan paling mendalam tentang seorang Wimar Witoelar jika saya berimajinasi tentang talk show dan wawancara.

Di Era 1990-an, ketika talkshow di media televisi bukan sesuatu yang jamak, Wimar hadir dengan sebuah acara yang berbeda dan segar: Perspektif. Cara bertanyanya yang berbeda. Dia mewakili orang awam untuk benar-benar bertanya, bukan menghakimi. Wimar memerdekakan intelektualitas pendengarnya untuk menemukan kebenaran karena pertanyaannya benar-benar mewakili rasa penasaran pemirsa.

Sering kita jumpai, seorang pewawancara atau host acara talkshow berjuang keras untuk memamerkan intelektualitasnya sendiri. Sebagian dari mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak berebut panggung dengan narasumber. Pewawancara pemula memang kadang demikian perangainya. Insekuritas membuat mereka berambisi menunjukkan taring yang masih lembek. Ini tidak terjadi pada seorang Wimar Witoelar. Dia percaya diri. Dia telah tuntas dengan urusannya sendiri.

Wimar adalah penyambung lidah orang-orang yang penasaran akan kebenaran dan kisah yang yang alami apa adanya. Dia bertanya dengan polos karena rasa ingin tahunya yang alami. Dia tidak terlihat bodoh karena tidak pernah takut terlihat bodoh. Dia bertanya dan membiarkan kebenaran itu menyingkap dirinya sendiri. Dia menjalankan prinsip utama sebuah tontonan: show, don’t tell!

Saya membaca buku Wimar yang berjudul “Menuju Partai Orang Biasa”. Di situ dia mengakumulasi tulisan-tulisan pendeknya yang bernas dan jujur. Kenakalannya dalam mengungkapkan satu gagasan yang dipadu dengan kelihaiannya dalam memilih diksi adalah kunci bagi sajian yang mengundang kontemplasi yang dalam. Mengganggu tetapi tidak rusuh, memantik gejolak tapi tidak meledak. Wimar adalah seorang penjaja cerita.

Ketika sebagian masyarakat berkata “Gus Dur perlu seorang juru bicara sekelas Wimar Witoelar”, Gus Dur menjawab “saya tidak perlu orang sekelas Wimar Witoelar. Saya perlu Wimar Witoelar”. Di tangan Wimar, profesi dan posisi juru bicara presiden menemukan tempatnya di tengah masyarakat luas. Di buku “No Regrets”, Wimar mengisahkan lika-liku tak mudah saat menjadi juru bicara seorang presiden senyentrik Gus Dur. “Tidak ada penyesalan”, demikian dia menyimpulkan, setiap kali ditanya perkara menjadi juru bicara seorang Gus Dur.

Orangnya sederhana tapi intelektualitasnya mumpuni. Pernah menjadi dosen di institut teknik terbaik di negeri ini, ITB, Wimar mengakhiri karir akademiknya di jalan sunyi. Perjalanan kerjanya dicukupkan oleh pemerintah karena dianggap menjadi pengganggu. Wimar adalah aktivis yang memelopori banyak pergerakan. Di panggung lapangan dia berorasi, di kertas dia menorehkan tulisan dengan lihai, di media elektronik Wimar berceloteh dengan trengginas. Semua media adalah saluran kegelisahannya. Demikian seterusnya, menembus sekat-sekat waktu dan generasi.

Di tahun 1998, ketika seorang Wimar sudah berusia lebih dari 50 tahun, perbawa intelektualitasnya masih menggerakkan. Roh aktivisme tak memudar di usia yang tak lagi muda. Ketika rejim Soeharto menemui titik akhir perjalanannya di masa itu, Wimar tak bisa diabaikan perannya. Baik di depan dengan memanfaatkan corong media, maupun di belakang dengan membangun fondasi intelektual sebuah gerakan pembaharuan. Generasi saya tumbuh Bersama Selayang Pandang, sebuah talkshow gaya baru yang lahir di tengah himpitan kekuasaan yang mengendalikan pemikiran dan gagasan.

Wimar telah pergi. Jasadnya akan lapuk dan sirna bersama alam yang tak kenal kompromi. Namun tidak jiwa dan pemikirannya. Ketajaman pemikirannya abadi di lembaran-lembaran kertas dalam bukunya. Kelihaiannya mengolah kata akan hidup bersama jiwa-jiwa yang tersadar untuk terus belajar dan selalu berpikir karenanya. Selamat jalan Bang Wimar. Terima kasih telah menjadi satu alasan untuk tidak menyesali pilihan jalan sunyi lorong intelektual yang kadang mencekam. Seperti katamu, “No Regrets!”

Yogyakarta, Hari Kebangkitan Nasional 2021

Mendukung Kartono

Rasanya, saya tidak butuh Kartini untuk mengingatkan saya tentang peran perempuan dalam hidup. Sejak lahir, saya selalu disuguhi fakta kehebatan perempuan. Di keluarga kami, perempuan lebih hebat dari laki-laki. Dalam banyak hal. Ibu saya menunjukkan itu dengan alami, tanpa menjadikan kami meremehkan laki-laki.

Sejak pacaran, berkeluarga dan kini punya anak perempuan, saya tak pernah ragu bahwa perempuan adalah pilar penjaga kewarasan. Soal kesabaran, perihal ketekunan, tentang kegigihan bertahan di tengah kesulitan, tak ada tandingannya.

Saya bertemu dengan mahasiswi cemerlang, kenal baik dengan banyak wisudawati cumlaude dan bekerja dengan pemimpin perempuan. Saya setia berada di posisi kedua atau ketiga di SMA, di bawah kaum perempuan yang saya kagumi kecerdasannya hingga kini.

Para lelaki berkeluarga juga tahu, lelaki bisa jadi adalah kepala dalam keluarga tetapi perempuan adalah lehernya. Leherlah yang menjadi penopang dan bahkan penggerak yang bisa ‘memerintahkan’ kepala untuk menengok ke kiri, kanan, atau menunduk dalam waktu yang tidak ditentukan akhirnya.

Hari ini, banyak lelaki yang memerlukan dukungan yang sama besarnya. Banyak lelaki yang lantak binasa hidupnya, berpura2 kokoh berdiri ditopang sebatang tiang ego yang telah ringkih dan tertatih. Lelaki macam ini ada di sekitar kita. Mungkin termasuk kami yang yang berusaha sangar tampil hebat di panggung yang gemerlap dan berbinar. Tidak jarang, kami temui mereka di cermin setiap hari.

Maka, jika tidak didukung hari ini, Kartono mungkin akan meninggalkan kisah yang sama. Di tahun 2345 nanti kita mungkin memperingati Hari Kartono. Bis jadi kita akan menyanjung mereka yang telah memperjuangkan emansipasi di tahun 2236.

Terima Kasih Kartini!

%d bloggers like this: