GAGAL MASUK KAMPUS IDAMAN

Kamu pasti sedih karena tidak lulus SNMPTN dan SBMPTN. Silakan bersedih. Sewajarnya memang begitu. Kamu pasti merasa kecewa dan, terutama, telah merasa mengecewakan diri sendiri. Jika aku jadi kamu, aku akan mengalami hal yang sama. Sedih dan kecewa!

Maafkan kami, para orang tua. Kami kerap mengatakan “kami tidak akan memaksamu dalam menentukan masa depanmu” tetapi tidak bisa menyembunyikan niat sebenarnya bahwa kami menginginkan kamu menjadi apa yang kami mau. Maafkan kami, para digital imigran ini, yang tak bisa ‘move on’ dari pemahaman bahwa hidup adalah sebuah ritual konvensional dan kesuksesan itu diukur dengan parameter-parameter usang yang terlanjur kami percaya. Maka diam-diam, kami juga kecewa karena kamu gagal masuk kampus idaman.

Maafkan kami, para guru dan dosen. Kerap kami terlalu bangga dengan pencapaian sendiri sehingga hanya percaya jalan-jalan biasa menuju keberhasilan. Kami kerap menutup mata dengan gesitnya perubahan dunia yang bahkan tak mampu kami kejar. Itulah sebabnya, sebagian dari kami yakin, bahwa hanya dengan meraih gelar di kampus idaman saja, maka jalan menuju keberhasilan itu bisa dilewati. Kami bahkan tidak sadar bahwa sebagian posisi yang ada di Google, IBM, EY dan perusahaan raksasa lainnya bahkan kini tidak lagi mensyaratkan selembar ijazah.

Mari kukisahkan sepotong perkara lama. Aku punya kawan lulusan sebuah universitas kecil swasta di Kupang. Aku menyaksikan dia menggenggam serangkai bunga saat wisuda di University of New South Wales di Australia. Dia S2 di sana dengan beasiswa, berderet dan berdiri sama tinggi dengan lulusan universitas mentereng negeri ini. Saat tulisan ini kamu baca, dia sudah menyelesaikan S3-nya di Inggris dengan beasiswa. Cerita ini tidak inspiratif jika kamu tidak mau menjadikannya inspirasi.

Kawan baikku yang lain lulus D3 di sebuah akademi di Jogja. Nama kampusnya tak terdengar dan bahkan kini sudah tiada. Dia masuk ke akademi itu karena gagal masuk UGM. Di hari H pengumuman penerimaan mahasiswa, dia mendapati dirinya tidak lulus sementara sahabat baiknya yang tadinya senasib sepenanggungan, berhasil masuk UGM. Kamu mungkin bisa membayangkan atau bahkan merasakan kegundahan hatinya. Jangan sedih untuk dia. Kini dia menjadi dosen dan mengajar S2 di sebuah perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Pada namanya ada gelar S2 dan S3 yang semuanya diperoleh dari luar negeri dengan beasiswa yang memukau. Saat kamu baca tulisan ini, dia mungkin sedang memberi nasihat akademik pada mahasiswa S3 di kampus ternama negeri ini.

Beberapa hari lalu, aku menjadi juri sebuah lomba nasional. Ada seorang anak muda yang menjadi finalis dan tampil begitu keren. Dia adalah mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi swasta yang selama ini tidak begitu diperhitungkan. Kinerjanya memukau karena berbeda dan inovasinya tidak lazim. Aku bertanya pada diri sendiri “ke mana mahasiswaku sendiri yang kampusnya katanya nomor satu di Indonesia?” Mahasiswaku sendiri tidak ada di medan tempur bergengsi itu. Cerita ini tidak akan menginspirasimu kecuali jika kamu mengizinkannya.

Tahun 2018, Diah, ponakan yang aku sayangi tidak berhasil masuk UGM, tempatku bekerja. Percayalah, tidak mudah menghadapi kenyataan itu. Orang-orang di sekitarku mungkin berharap aku bisa berbuat lebih tetapi faktanya aku tidak bisa apa-apa. Untunglah perilaku dan semangat juang Diah menghiburku. Kini nilainya nyaris sempurna di Universitas Sanata Darma Jogja. Kerap aku dengarkan dia presentasi di kamarnya atau berdiskusi dengan temannya dalam sebuah forum. Aku amati kelincahannya di organisasi dan perhelatan kampus lainnya. Aku simak Bahasa Inggrisnya yang jauh lebih baik dari kebanyakan mahasiswa yang kukenal di kampus terkemuka sekalipun. Aku tidak ragu dengan jalan hidupnya.

Tulisan ini tidak untuk menghiburmu tapi untuk mengingatkanmu bahwa semua orang pernah gagal. Aku tidak berhasil masuk Nottingham di UK karena Chevening menolakku di tahap akhir. Aku tidak jadi masuk Karlsruhe di Jerman karena DAAD bahkan tidak menggubris lamaranku. Aku tidak jadi menikmati suasana kelas di TU Delft di Belanda karena STUNED tak sudi memberiku beasiswa. Aku tidak jadi belajar di Negeri Paman Sam karena Fulbright tidak melihatku fully bright. Di tahun 2017, ketika aku sudah presentasi di lima benua, sebuah konferensi di Sulawesi menolak paperku karena dianggap tidak layak untuk disajikan. Kecewa? Pasti! Namun hidup harus terus berjalan.

Tahun ini, dua ponakan lain ditolak UGM di SNMPTN dan SBMPTN. Mereka masih berjuang untuk ujian mandiri dan tulisan ini adalah doa untuk mereka. Doa juga buat kalian yang masih ingin berjuang. Semoga kalian semua tak berhenti. Tak ada satupun yang bisa menjanjikan kecemerlangan di masa depan tapi setidaknya kalian bergerak menujunya, selambat apapun dan lewat jalur apapun.

Tulisan ini juga aku persembahkan bagi para orang tua. Sebagai tanda terima kasihku pada Bapak dan Meme’ yang tak pernah menunjukkan kekecewaannya saat aku terpuruk dan gagal. Yang hanya punya satu kata: “dukung”, ketika melihat anaknya mendapat IP 1,2 dan hanya punya kata “percaya” ketika anaknya memutuskan untuk bekerja di tempat yang gajinya 1/7 dari gaji sebelumnya. Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru.

Jogja, 16 Juni 2021
I Made Andi Arsana

Mochtar yang Bikin Diplomat Dunia Bergetar

Sebuah obituari oleh
I Made Andi Arsana*

Mochtar Kusumaatmadja. Namanya sering saya sebut di kelas di Teknik Geodesi UGM atau di acara seminar soal batas maritim. Saya selalu katakan, laut kita yang luasnya jutaan kilometer hari ini, tidak lepas dari hasil perjuangan seorang legenda bernama Mochtar Kusumaatmadja.

Minggu, tanggal 6 Juni 2021, Sang Legenda telah berpulang di usia 92 tahun. Ada banyak yang menyampaikan bela sungkawa. Indonesia kehilangan seorang tokoh mumpuni di bidang Hukum Laut. Tak saja diakui kepakarannya di dalam negeri, beliau disegani di manca negara. Kapasitasnya diakui negara. Beliau pernah menjadi Menteri Luar Negeri selama 10 tahun. Kepakarannya diakui dunia dengan berbagai posisi terhormat yang beliau emban di level internasional, termasuk di International Law Commission.

Saya tidak pernah bertemu Pak Mochtar secara langsung namun rasanya akrab karena pemikiran beliau abadi di berbagai buku, artikel dan karya lainnya. Selain itu, ada banyak orang yang mengisahkan peran dan hidupnya.

Tahun 2007 silam, saya berkesempatan bekerja di PBB di New York. Waktu itu, saya bertemu Prof Myron Nordquist yang diundang sebagai pembicara peringatan 25 tahun Konvensi PBB tentang Hukum Laut, UNCLOS. Prof Nordquist menjadi pembicara Bersama Prof. Hasjim Djalal, tokoh utama lain di dunia Hukum laut Indonesia. Saya masih ingat ucapan Prof Nordquist secara khusus pada saya ketika saya mengatakan saya dari Indonesia. “Dulu, saat sidang PBB tentang Hukum Laut, ada seorang lelaki bernama Mochtar [Kusumaatmaja]. Ketika dia berbicara, maka semua orang tidak saja bungkam tetapi juga bergetar”. Prof Nordquist menyampaikan itu penuh semangat dengan menatap mata saya lekat-lekat. Tidak mudah melukiskan kebanggan saya sebagai orang Indonesia ketika itu. Rasanya, New York ada dalam genggaman Indonesia sore itu.

Dulu, ketika Indonesia merdeka, laut di antara pulau-pulau Indonesia bukan milik Indonesia. Kapal asing bebas masuk dan memanfaatkan kekayaannya. Menteri Chaerul Saleh waktu itu punya ide untuk mengklaim ruang laut itu jadi milik Indonesia. Beliau pun meminta bantuan seorang anak muda usia 20an bernama Mochtar Kusumaatmadja. Mochtar muda mempelajari dari berbagai kasus dan praktik hukum dunia dan muncullah usul untuk melingkupi kepulauan Indonesia dengan sabuk atau garis pangkal. Ide ini kemudian disampaikan oleh Perdana Menteri Djuanda ketika itu dengan istilah Deklarasi Djuanda tahun 1957. Pak Mochtar ada di balik semua itu.

Gagasan yang di luar kebiasaan ini menemukan banyak tantangan. Indonesia mencoba meyakinkan dunia di meja perundingan dan tidak mudah. Tahun 1958, ketika Konferensi PBB tentang Hukum Laut yang pertama, usaha Indonesia belum berhasil. Tahun 1960, saat Konferensi kedua pun belum berhasil. Akhirnya Indonesia habis-habisan melakukan diplomasi dan lobby pada konferensi ketiga.

Pak Mochtar menjadi salah satu motor untuk melakukan diplomasi ini. Berjuang Bersama beliau adalah tokoh-tokoh terkemuka seperti Hasjim Djalal. Ada juga di antara mereka, seorang surveyor lulusan Teknik Geodesi bernama Adi Sumardiman. Beliau yang mendukung Pak Mochtar untuk menggambarkan dan menerjemahkan gagasan para diplomat ulung itu dalam bentuk ilustrasi dan peta sehingga lebih mudah dipahami kalangan kebanyakan.

Salah satu yang dikenang banyak orang adalah ketika Seorang Mochtar harus berunding dengan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Duta Besar Richardson, seorang mantan Jaksa Agung. Perundingan berjalan tegang sekali dan di situlah kelihaian seorang Mochtar diuji di medan ‘perang’ sesungguhnya. Dengan kegigihannya, akhirnya beberapa hal krusial disepakati dan itulah yang menjadi kesepakatan oleh konferensi yang kemudian melahirkan prinsip negara kepulauan di Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) yang dimiliki dunia hingga hari ini.

Karena usaha Pak Mochtar dan delegasi Indonesia yang keren itu, disertai dengan kemauan bekerja sama dengan pejuang lain dari Filipina, Fiji dan Mauritius, prinsip negara kepulauan akhirnya menjadi hukum dunia. Tanpa usaha beliau, tak akan kita miliki laut di antara pulau-pulau kita. Tak akan kita sebut negeri ini sebagai benua maritim. Tak akan ada Wawasan Nusantara. Tanpa menumpahkan peluru sebutir pun, Indonesia menambah luas wilayah dan yurisdiksi lautnya hingga jutaan kilometer. Dengan diplomasi, dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan kesaktian kata-kata.

Tak berlebihan jika Prof. Nordquist menegaskan bahwa kata-kata seorang Mochtar memang membuat diplomat dunia bergetar. Selamat jalan Pak Mochtar.

*pembelajar aspek geospasial hukum laut

Rifky: Cah Jogja Lulusan Oxford dan Harvard.

Usianya jauh lebih muda dari saya. Kehebatannya jauh lebih ‘senior’. Muhammad Rifky Wicaksono baru saja wisuda di Harvard dengan menggondol dua penghargaan Dean’s Scholar Prize karena mendapat nilai tertinggi untuk dua mata kuliah yang diambil. Jika dikonversi ke nilai Indonesia, IPnya di Harvard tak kurang dari 3,9. Betul! Anda tidak salah lihat. Nyaris sempurna!

Untuk bisa akrab dengan seorang alumni Harvard yang cemerlang, saya sudah boleh potong ayam penuh syukur. Rifky lebih dari sekedar itu. Beberapa saat lalu, dia juga lulus dari Oxford dengan predikat yang mentereng. Tak hanya cemerlang di kelas, Rifky juga mumpuni di organisasi. Saat di Oxford dia pernah menjadi semacam ketua kelas. Dalam Bahasa Rifky yang rendah hati, dia menjadi ‘pesuruh’ kelas. Demikianlah Rifky yang saya kenal: santun, artikulatif dan rendah hati namun tak rendah diri.

Kemarin saya ngobrol dengan Rifky lewat IG live. Penyimaknya konsisten di atas 110 orang selama kurang lebih satu setengah jam. Komentar dari penyimak deras mengalir dan saya bisa rasakan energi yang tumpah ruah dari penjuru negeri. Mungkin, ini jadi salah satu Live IG yang paling berenergi yang pernah saya lakukan. Rifky pun menjadi dirinya sendiri. Lepas, bebas dan berbicara dari hatinya kepada kami semua. Sementara saya menyimak takzim, dibaluri curahan inspirasi yang deras menghangatkan.

Tidak setiap hari kita bisa ngobrol dekat dengan orang Indonesia yang lulus dari dua kampus mentereng dunia. Saya merasa istimewa karena kami sama-sama ada di Jogja, berteman baik dan sama-sama dosen di UGM. Rifky tak hanya kolega, dia telah menjadi sahabat. Aisyah, isterinya juga akrab dengan Asti, isteri saya. Sama-sama dokter jebolah Fakultas Kedokteran UGM. Bahasanya sama, mungkin itu sebabnya bisa dekat karena sering curhat.

Tak dinyana, Rifky ternyata sempat tidak lulus Ujian Nasional ketika SMA. Apa pasalnya? Rifky dengan rendah hati menjawab, karena kekurangannya sendiri. Tak ada sedikitpun niat menyalahkan keadaan dan pihak lain. Meski ketika itu, Rifky memang sedang menyiapkan lomba internasional untuk bidang debat, dia tidak menyalahkan itu. “Aku yang salah” demikian dia selalu menegaskan ketika ditanya perihal itu. Dia bahkan tanpa ragu mengakui bahwa ketidak lulusannya saat Ujian Nasional di SMA itu adalah salah satu pengalaman hidup paling berharga. Dia tegaskan, bahwa hidup tak boleh meremehkan apa pun dan siapa pun. Hanya karena seseorang merasa berbakat, berpotensi dan sudah berprestasi, itu bukan alasan untuk lengah dan tak peduli.

Kegagalan saat SMA itulah yang membuat seorang Rifky menjadi bekerja sekian kali lebih keras. Dia masuk Fakultas Hukum UGM lalu memenangkan Beasiswa Jardine Foundation dan terbang ke Oxford tahun 2016. Jika saat SMA ibundanya pernah menangis karena sedih, saat Rifky wisuda di Oxford, ibundanya menangis karena haru dan bahagia. Ayah Ibu Rifky mendampingi putera semata wayangnya menerima penghormatan dari Oxford sebagai alumni yang berprestasi. Sang ‘Ketua Kelas’ lulus dengan gemilang, diiringi tangis bahagia kedua orang tuanya. Gedung tua Oxford dan jiwa-jiwa Harry Potter menjadi saksi.

Rupanya Rifky memang punya semangat belajar yang tak terbendung. Tak hanya soal akademik, Rifky percaya semangat belajar itu bisa untuk apa saja. Dia pemain tenis yang baik, juru masak yang semangat dan pemain gitar yang jauh lebih baik dari saya. Untuk yang terakhir ini, saya mau bersaksi. Semangat yang sama, membawanya pada niat masuk Harvard. S2 lagi. Apa alasannya? Dia haus akan ilmu pengetahuan. Apa yang ingin dikuasainya ada di Harvard. Selain itu, dia ingin menjadi orang yang bisa bercerita dan berbagi kepada mahasiswanya kelak. Jika dia memberi nasihat perihal sekolah yang bener, belajar yang rajin dan bagaimana bisa masuk sekolah tersohor dunia, Rifky akan bisa bicara dengan otoritas utuh yang tak diragukan. He walks the talks.

Ketika saya tanya soal beasiswa, ternyata Rifky punya kisah yang selama ini tak banyak terungkap. Dia mulai dari satu fakta bahwa tidak mudah untuk mencari dana beasiswa untuk S2 jika kita sudah pernah S2. Masuk akal. Ketika ada banyak sekali orang yang harus disekolahkan, wajar jika penyandang dana tidak memprioritaskan kandidat yang sudah pernah sekolah.

Rifky tak tinggal diam. Ditulisnya proposal dan dikirimnya ke berbagai pihak. Sayangnya, hasilnya jauh dari menggembirakan. Ada satu yang berkenan membantu, itupun tak sampai 10 persen dari dana yang diperlukannya. Untuk bisa lulus master di Fakultas Hukum Harvard, SPPnya ada di kisaran 700-800 juta jika dirupiahkan. Rifky sempat patah semangat tapi dia kumpulkan lagi energinya. Dia ingat kembali masa lalu dan kegagalannya. Nampaknya ada dendam positif di situ.

Akhirnya dia bersurat ke Harvard dan mengatakan duduk perkaranya. Entah mantra-mantra apa yang dirafalkan Rifky, Harvard bersedia memberi bantuan lebih dari setengah kebutuhannya. Itu luar biasa meskipun tetap belum cukup. Waktu berlalu Rifky sudah kepalang basah. Dengan diplomasinya dia mencoba lagi. Kali ini Rifky datang sebagai seorang anak manusia yang telah berusaha sangat maksimal. Dia bisa tunjukkan kerja keras dan usahanya serta kegagalannya. Meski begitu, dia tidak menyerah dan tetap ingin belajar di Harvard. Rupanya ini membuat Harvard luluh hatinya dan ditambahlah beasiswanya hingga hampir penuh. Kita memang layak meminta jika sudah waktunya. Jika sudah kita tunjukkan kerja keras yang tak tertandingi.

Rupanya cerita perjuangan ini menyentuh banyak hati. Para alumni FH UGM dan alumni Harvard di Indonesia juga pun kemudian silih berganti memberi dukungan. Maka Rifky pun bisa belajar dengan tenang. Dia belajar karena kegigihannya. Karena keberaniannya menerjemahkan idealismenya menjadi usaha yang sangat pragmatis. Lagi-lagi, bahwa bakat dan potensi itu penting tetapi yang lebih penting adalah usaha nyata untuk mewujudkan bakat dan potensi itu jadi nyata. Jadi, tak semudah yang kita kira. Rifky betul-betul harus berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan apa yang dia mau.

Ketika saya tanya apa sih tantangan terbesar dalam perjuangannya ‘menundukkan’ Oxford dan Harvard, dia sampaikan dengan tegas “mengalahkan diri sendiri”. Rifky mulai dari kisah, betapa ironisnya, Indonesia yang terdiri dari ratusan juta penduduk, kurang terwakili di Oxford dan Harvard. Dia sempat contohkan negara kecil seperti Singapura yang ternyata mengirimkan banyak anak terbaiknya ke Oxford dan Harvard. Semua itu, bagi Rifky, terjadi karena kegagalan kita meyakinkan diri sendiri. Kita rendah diri dan tidak percaya pada kebesaran kita di dalam, demikian Rifky mengandaikan.

Maka nasihatnya sederhana: coba saja. Ketika syaratnya sudah terpenuhi apa alasannya untuk tidak mencoba? Saya setuju dengan prinsip ini. Sering kali kita menghakimi diri sendiri bahkan sebelum bertanding/berlomba. Itulah sebabnya kita lebih sering memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam kompetisi. Kita tidak siap ditolak. Kita tidak percaya diri. Repotnya, kita juga menjadi orang yang pertama kali sewot, menyesal atau bahkan mencibir jika kawan kita, yang kita anggap tidak lebih pintar, ternyata bisa memenangkan sebuah kompetisi. Maka, agar tidak menyesal, mendaftarlah. Saya yakin, cerita ini makjleb bagi banyak orang.

Kini Rifky punya dua gelar S2 dari Universitas terkemuka, beristerikan Aisyah, seorang dokter yang suportif dan seorang putra kecil, Rasyid, yang tampan dan sehat. Cukupkah semua itu? Tentu Rifky bersyukur tapi perjalanannya masih jauh. Dahaganya akan ilmu tak terbendung. Saat ini Rifky telah mengantongi surat penerimaan di program S3 bidang Hukum di Oxford, almamaternya. Tak berlebihan jika kisah hidup Rifky ini membuat banyak orang berdecak kagum atau tercekat tanpa kata-kata. Penyimak kehilangan suara. Bahkan kata-kata pujian tiba-tiba jadi hambar dan tak cukup hebat untuk menandingi kedigdayaan Rifky.

Rifky terbang begitu tinggi. Namun, Rifky adalah juga orang biasa. Dia adalah Cah Jogja yang pernah tidak lulus Ujian Nasional dan membuat ibunya terisak dalam. Kini dia bercahaya karena gigih menggosok dan menempa dirinya. Saya yakin, jika Rifky diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi begitu cemerlang, maka ribuan atau jutaan insan Indonesia semestinya juga bisa merasakan keadilan berkah Tuhan itu. Terima kasih Rifky. Indonesia mendoakanmu. Melesatlah ke Oxford lalu kembalilah pada waktunya. Lahirkanlah lebih banyak Rifky untuk Nusantara kita.

I Made Andi Arsana
Seorang sahabat

Wimar

Wimar tidak khawatir terlihat tidak tahu. Bahkan bodoh. Dia seperti tidak begitu peduli bagaimana pemirsa melihat dirinya. Dia fokus pada satu hal: bertanya untuk menjadi tahu dan membebaskan dirinya dari rasa penasaran. Itulah kesan paling mendalam tentang seorang Wimar Witoelar jika saya berimajinasi tentang talk show dan wawancara.

Di Era 1990-an, ketika talkshow di media televisi bukan sesuatu yang jamak, Wimar hadir dengan sebuah acara yang berbeda dan segar: Perspektif. Cara bertanyanya yang berbeda. Dia mewakili orang awam untuk benar-benar bertanya, bukan menghakimi. Wimar memerdekakan intelektualitas pendengarnya untuk menemukan kebenaran karena pertanyaannya benar-benar mewakili rasa penasaran pemirsa.

Sering kita jumpai, seorang pewawancara atau host acara talkshow berjuang keras untuk memamerkan intelektualitasnya sendiri. Sebagian dari mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak berebut panggung dengan narasumber. Pewawancara pemula memang kadang demikian perangainya. Insekuritas membuat mereka berambisi menunjukkan taring yang masih lembek. Ini tidak terjadi pada seorang Wimar Witoelar. Dia percaya diri. Dia telah tuntas dengan urusannya sendiri.

Wimar adalah penyambung lidah orang-orang yang penasaran akan kebenaran dan kisah yang yang alami apa adanya. Dia bertanya dengan polos karena rasa ingin tahunya yang alami. Dia tidak terlihat bodoh karena tidak pernah takut terlihat bodoh. Dia bertanya dan membiarkan kebenaran itu menyingkap dirinya sendiri. Dia menjalankan prinsip utama sebuah tontonan: show, don’t tell!

Saya membaca buku Wimar yang berjudul “Menuju Partai Orang Biasa”. Di situ dia mengakumulasi tulisan-tulisan pendeknya yang bernas dan jujur. Kenakalannya dalam mengungkapkan satu gagasan yang dipadu dengan kelihaiannya dalam memilih diksi adalah kunci bagi sajian yang mengundang kontemplasi yang dalam. Mengganggu tetapi tidak rusuh, memantik gejolak tapi tidak meledak. Wimar adalah seorang penjaja cerita.

Ketika sebagian masyarakat berkata “Gus Dur perlu seorang juru bicara sekelas Wimar Witoelar”, Gus Dur menjawab “saya tidak perlu orang sekelas Wimar Witoelar. Saya perlu Wimar Witoelar”. Di tangan Wimar, profesi dan posisi juru bicara presiden menemukan tempatnya di tengah masyarakat luas. Di buku “No Regrets”, Wimar mengisahkan lika-liku tak mudah saat menjadi juru bicara seorang presiden senyentrik Gus Dur. “Tidak ada penyesalan”, demikian dia menyimpulkan, setiap kali ditanya perkara menjadi juru bicara seorang Gus Dur.

Orangnya sederhana tapi intelektualitasnya mumpuni. Pernah menjadi dosen di institut teknik terbaik di negeri ini, ITB, Wimar mengakhiri karir akademiknya di jalan sunyi. Perjalanan kerjanya dicukupkan oleh pemerintah karena dianggap menjadi pengganggu. Wimar adalah aktivis yang memelopori banyak pergerakan. Di panggung lapangan dia berorasi, di kertas dia menorehkan tulisan dengan lihai, di media elektronik Wimar berceloteh dengan trengginas. Semua media adalah saluran kegelisahannya. Demikian seterusnya, menembus sekat-sekat waktu dan generasi.

Di tahun 1998, ketika seorang Wimar sudah berusia lebih dari 50 tahun, perbawa intelektualitasnya masih menggerakkan. Roh aktivisme tak memudar di usia yang tak lagi muda. Ketika rejim Soeharto menemui titik akhir perjalanannya di masa itu, Wimar tak bisa diabaikan perannya. Baik di depan dengan memanfaatkan corong media, maupun di belakang dengan membangun fondasi intelektual sebuah gerakan pembaharuan. Generasi saya tumbuh Bersama Selayang Pandang, sebuah talkshow gaya baru yang lahir di tengah himpitan kekuasaan yang mengendalikan pemikiran dan gagasan.

Wimar telah pergi. Jasadnya akan lapuk dan sirna bersama alam yang tak kenal kompromi. Namun tidak jiwa dan pemikirannya. Ketajaman pemikirannya abadi di lembaran-lembaran kertas dalam bukunya. Kelihaiannya mengolah kata akan hidup bersama jiwa-jiwa yang tersadar untuk terus belajar dan selalu berpikir karenanya. Selamat jalan Bang Wimar. Terima kasih telah menjadi satu alasan untuk tidak menyesali pilihan jalan sunyi lorong intelektual yang kadang mencekam. Seperti katamu, “No Regrets!”

Yogyakarta, Hari Kebangkitan Nasional 2021

Mendukung Kartono

Rasanya, saya tidak butuh Kartini untuk mengingatkan saya tentang peran perempuan dalam hidup. Sejak lahir, saya selalu disuguhi fakta kehebatan perempuan. Di keluarga kami, perempuan lebih hebat dari laki-laki. Dalam banyak hal. Ibu saya menunjukkan itu dengan alami, tanpa menjadikan kami meremehkan laki-laki.

Sejak pacaran, berkeluarga dan kini punya anak perempuan, saya tak pernah ragu bahwa perempuan adalah pilar penjaga kewarasan. Soal kesabaran, perihal ketekunan, tentang kegigihan bertahan di tengah kesulitan, tak ada tandingannya.

Saya bertemu dengan mahasiswi cemerlang, kenal baik dengan banyak wisudawati cumlaude dan bekerja dengan pemimpin perempuan. Saya setia berada di posisi kedua atau ketiga di SMA, di bawah kaum perempuan yang saya kagumi kecerdasannya hingga kini.

Para lelaki berkeluarga juga tahu, lelaki bisa jadi adalah kepala dalam keluarga tetapi perempuan adalah lehernya. Leherlah yang menjadi penopang dan bahkan penggerak yang bisa ‘memerintahkan’ kepala untuk menengok ke kiri, kanan, atau menunduk dalam waktu yang tidak ditentukan akhirnya.

Hari ini, banyak lelaki yang memerlukan dukungan yang sama besarnya. Banyak lelaki yang lantak binasa hidupnya, berpura2 kokoh berdiri ditopang sebatang tiang ego yang telah ringkih dan tertatih. Lelaki macam ini ada di sekitar kita. Mungkin termasuk kami yang yang berusaha sangar tampil hebat di panggung yang gemerlap dan berbinar. Tidak jarang, kami temui mereka di cermin setiap hari.

Maka, jika tidak didukung hari ini, Kartono mungkin akan meninggalkan kisah yang sama. Di tahun 2345 nanti kita mungkin memperingati Hari Kartono. Bis jadi kita akan menyanjung mereka yang telah memperjuangkan emansipasi di tahun 2236.

Terima Kasih Kartini!

Pendaftaran Beasiswa Australia (AAS) 2022 Dibuka tanggal 1 Februari 2021

Hampir 20 tahun yang lalu saya mulai berpikir soal beasiswa luar negeri. Di bulan-bulan ini di than 2001, saya sedang berjuang menyelesaikan skripsi. Meski begitu, saya sudah begitu ‘nakal’ untuk mencoba-coba banyak hal, termasuk mencari pekerjaan dan peluang beasiswa ke luar negeri. Beasiswa Australia adalah salah satunya. Waktu itu, saya mengenal istilah Beasiswa AusAID.

Hari ini, beasiswa yang sama dikenal dengan nama Australia Awards Scholarship alias AAS. Sebenarnya beasiswa ini sudah ada sejak tahun 1960an dengan nama Colombo Plan. Beasiswa ini diberikan oleh pemerintah Australia bagi orang-orang dari negara berkembang untuk belajar Australia. Awalnya mencakup S1 juga, kini hanya membiaya S2, S3 dan program pendek lainnya. Saya tahu, di kesempatan awal, beasiswa ini diberikan kepada orang-orang yang kelak di kemudian hari menjadi pemimpin di Indonesia. Pak Boediono, Wapres 2009-2014, adalah salah satu penerima beasiswa ini di awal 1960an. Beliau yang ketika itu adalah mahasiswa UGM tahun pertama harus cabut dari UGM untuk belajar di Unversity of Western Australia, di Perth.

Tahun 2004 saya menginjakkan kaki pertama kali di Australia dengan beasiswa yang sama dengan yang diterima oleh Pak Boediono. Hanya saja, ketika itu, beasiswanya bernama Australian Development Scholarship (ADS). Itulah titik awal pengambaraan intelektual saya di mancanegara. Setelah belajar Master By Research di UNSW, Sydney dan selesai tahun 2006, saya kemudian lanjutkan S3 di University of Wollongong tahun 2008. Beasiswa yang saya terima ketika itu adalah Australia Leadership Awards (ALA) dan ditambahi dengan Alison Sudradjat Awards (ASA). Salah satu sahabat yang menjadi penerima beasiswa yang sama adalah Najwa Shihab yang mengambil Master Degree di Melbourne University.

Saya telah dua kali menerima beasiswa dari Pemerintah Australia, untuk S2 dan S3. Saya merasa berterima kasih kepada pemerintah dan rakyat Australia sebagai pembayar pajak. Tentu saja lebih berterima kasih pada Indonesia karena saya mendapat beasiswa itu sebagai rakyat Indonesia. Jika saja saya tidak berpaspor Indonesia, belum tentu saya mendapat kesempatan itu. beasiswa Australia itu juga yang kemudian memberi saya kesempatan untuk berkeliling dunia, menginjakkan kaki di tanah Eropa, menjelajahi Asia, mengenal Australia, menghirup udara Amerika hingga merasakan gelora perjuangan tanah Afrika. Semua berasal dari sebuah benua yang menyendiri di selatan, negeri Down Under!

Rasa terima kasih dan ketakjuban saya itu yang kemudian membawa saya pada petualangan menulis. Saya ingin berbagi cerita dan pengalaman. Sebagai seorang anak penambang padas yang lahir di Desa Tegaljadi di Tabanan, Bali, saya yakin kesempatan yang saya peroleh tidak boleh berhenti menjadi kebanggaan diri. Dia harus menjadi kesempatan bagi orang lain yang mungkin nasib hidupnya tak jauh berbeda dengan saya. Ketika saya telah diberi kesempatan memasuki sebuah pintu, maka tugas saya  berikutnya adalah menjaga pintu itu tetap terbuka agar mereka yang datang belakangan merasa tertolong hidupnya.

Semangat berbagi dan mengikat ingatan itulah yang melahirkan blog madeandi.com yang kemudian menjelma menjadi buku Rahasia Beasiswa Australia (reborn). Saya persembahkan blog dan buku itu bagi para perjuangan di mana pun berada di Nusantara. Ada satu pesan yang hendak saya sampaikan. Jika saya, anak penambang padas yang ayahnya tidak lulus SD dan ibunya hanya lulus SD, diberi jalan oleh Tuhan untuk belajar hingga jauh ke negeri Kangguru, maka siapapun memiliki kesempatan yang sama. Beasiswa AAS lahir bagi mereka yang percaya akan kemampuan dirinya, meskipun dia tidak merasa istimewa. Tugas kita hanya mencoba dan berusaha, biarkan Tuhan memeluk mimpi-mimpi kita dan mewujudkannya menjadi kenyataan. Selamat berjuang Kawan!

Fun Facts:

  1. Beasiswa AAS 2022 dibuka tanggal 1 Februari 2021 dan ditutup tanggal 30 April 2021
  2. Kali ini, prioritasnya adalah bidang yang terkait Covid-19
  3. Secara umum ada 3 prioritas: Health Security, Stability, dan Economic Recovery
  4. Bidang lain tetap bisa karena penyelesaian Covid-19 harus komprehensif, melibatkan semua bidang. Silakan kaitkan bidang Anda dengan Covid-19.
  5. Pendaftaran dilakukan secara online. Semua dokumen dibuat digital dan diunggah di  https://oasis.dfat.gov.au
  6. IP minimal 2,9 dan TOEFL 525 (PBT). Untuk kandidat dengan kebutuhan khusus atau yang berasal dari GFA IP-nya boleh 2,75 dan TOEFL 500
  7. GFA adalah Geographic Focus Areas, yaitu kawasan yang jadi prioritas/target yaitu: Aceh, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara.
  8. Yang jadi target utama adalah yang dari GFA, mitra kedutaan Australia di Indonesia, lembaga pemerintah Indonesia. Yang di luar itu tentu bisa juga. Peluangnya lebih kecil sih.
  9. Proses seleksinya: penyerahan berkas, hingga tanggal 30 April 2021, lalu akan ada shortlist untuk test IELTS dan wawancara.
  10. Semuanya ada di http://www.australiaawardsindonesia.org. Wajib baca ini dulu ya!

Tidak harus ucapkan “Selamat Hari Ibu”

Kepada anak-anak yang menemukan kesulitan menyatakan cintamu kepada Ibu dengan kata-kata, jangan berkecil hati. Jangan terintimidasi oleh media sosial yang tiba-tiba gegap gempita dengan ucapan cinta. Masing-masing orang punya cara sendiri. Kamu mungkin bukan salah satu yang lahir dengan kemahiran merangkai kata-kata. Terima saja. Cintamu tak turun kadarnya hanya karena tak dirangkai dalam diksi puisi.

Mungkin kamu hanya bisa menitipkan cinta pada perilaku, pada senyum dan pada kepedulian yang hadir dalam senyap. Mungkin kamu hanya bisa menyatakan cinta dalam doa yang dipanjatkan ketika semua makhluk telah terlelap. Mungkin kamu hanya bisa menangis dari jauh ketika ibumu terluka tanpa bisa menyatakan empati. Terima saja. Cintamu telah disampaikan oleh malam atau angin yang tak penah lalai menjenguk ibumu.

Kepada anak-anak yang lahir di keluarga yang tidak punya tradisi bercerita dan bersenda gurau, aku tahu, Hari Ibu ini mungkin terlewat begitu saja, atau mugkin juga membuatmu tersiksa. Memang tidak mudah untuk tiba-tiba menjadi orang yang ekspresif dalam menyatakan cinta jika fondasinya tidak dibangun sejak belia. Jika itu menyiksamu karena dunia hari ini sepertinya menghakimi kamu yang tidak menyatakan cinta, tersenyum saja. Lewat doa dan kepedulian yang sungguh-sungguh dalam senyap, cintamu telah diterima dengan sempurna, apa adanya.

Bagi para ibu yang tidak mendapat ucapan Selamat Hari Ibu hari ini, Anda tahu, anak-anak mencintai dalam kesepian kata-kata. Cinta tak berkurang karena tiadanya kalimat yang berbunga-bunga. Bagi para ibu yang ucapan Hari Ibunya hanya terdengar lewat doa-doa malamnya karena sang buah hati mendahului menghadap Tuhan, terima kasih telah tegar dan bersabar. Untuk Ibu, cinta mengalir setiap saat lewat jalinan bathin yang tak pernah putus.

Bagi mereka yang tidak mengucapkan “Selamat Hari Ibu” karena tidak sempat, lupa, tidak terbiasa atau karena terhalang pagar kehidupan, hari ini tak akan jadi kelabu. Alam tahu jika kamu mencintai Ibumu dengan sungguh-sungguh. Ibumu pasti merasa jika kamu mencintainya tanpa syarat. Dalam senyap dan gelap, cinta pada ibu akan menyalakan lentera untuk dirinya sendiri.

Selamat Hari Ibu.

GAWAT DARURAT DI MUSIM ONLINE

Ketika sedang jadi moderator sebuah webinar, saya diminta utuk membuatkan presentasi untuk acara di Filipina. Perintah seperti ini kerap muncul di era online karena kita tidak saling melihat dan tidak tahu apa yang sedang dikerjakan orang lain. Maka perintah yang bertumpuk kadang datang dengan mudah. Hal ini jadi lebih rumit, terutama, karena tugas yang diperintahkan itu kadang bukanlah tugas kita. Sayangnya, karena situasi, kadang kita tidak bisa menolak. Itu yang terjadi pada saya.

Saya lihat permintaan datang pukul 10.30 dan presentasinya katanya pukul 11.00. saya sedang jadi moderator. Sebenarnya ini tidak masuk akal, mengingat presentasi yang dimaksud adalah untuk country report. Sesuatu yang penting dan ada di level internasional. Permintaan ini dari sebuah kementerian dan konon akan dipaparkan oleh seseorang yang sudah ditugaskan.

Saya dengan mudah bisa bilang “tidak bisa” tapi saya pikir lagi. Tiba-tiba saja seperti ada Bendera Merah Putih berkelebat-kelabat di belakang saya dengan latar lagu-lagu perjuangan semacam Indonesia Raya berkumandang. Ada lambang Garuda Pancasila yang tiba-tiba berbayang. Ini lebay, tapi begitulah rasanya. Saya merasa ini urusan negara yang kalau saya katakan “tidak” bisa berakibat pada citra bangsa. Okay, ini lebay!

Saya mengiyakan dan pukul 10.54 sudah saya selesaikan PPT itu dan kirimkan. Tentu tidak sempurna. Setidaknya ada dan bisa dijadikan bahan paparan. Saya pikir begitu. Yang menarik, pukul 11 lewat sedikit ada pesan WA lagi dari orang yang sama. Dia meminta saya untuk memaparkan presentasi itu karena orang yang ditugaskan sebelumnya mendadak tidak bisa. Semua serba mendadak.

Apa yang bisa saya lakukan? Ada banyak yang bisa dilakukan tapi saya memilih bersedia. Masalahnya, saya masih jadi moderator dan harus tuntaskan tugas. Saya segera online di dua perangkat dan memantau kedua acara. Ketika sudah agak senggang di webinar, saya menyimak rapat di Filipina. Ternyata delegasi Filipina sedang presentasi dan Indonesia mendapat giliran terakhir setelah Thailand dan Vietnam. Saya pikir, ini berita baik karena artinya saya bisa melanjutkan tugas sebagai moderator di webinar sebelah.

Saya pun kembali fokus ke webinar dan mengantarkan diskusi hingga akhir. Saya memastikan jalannya diskusi terarah dan tidak molor. Ini penting karena saya tidak ingin terlambat masuk rapat di Filipina dan tidak ingin terlambat mewakili Indonesia. Maka sekitar pukul 11.50 saya tutup diskusi webinar dan dilanjutkan dengan foto bersama. Ini yang bikin gelisah karena acara foto bersama di Zoom biasanya agak runyam. Benar saja, sedikit lebih lama dari yang saya antisipasi.

Begitu kelar foto bersama, saya langsung mau melesat ke ruang sebelah. Tapi tunggu dulu, saya perlu mengganti virtual background saya agar sesuai dengan acaranya. Selain itu, harus menggambarkan bahwa saya mewakili Indonesia, bukan institusi saya. Saya buat sebuah gambar dengan cepat mengunakan PPT. Saya pun masuk ke ruang pertemuan dan mendapati suasana sepi. Saya berharap Vietnam masih presentasi dan ternyata sudah selesai. Saya ragu harus ngapain. Rupanya semua orang nunggu saya dan tadi sudah sempat dipanggil.

Mr. Andi, are you ready?” tiba-tiba saya mendengar nama saya dipanggil dan segeralah saya presentasi. Dengan degdegan dan persiapan mengenaskan, saya selesaikan presentasi sesuai waktu yang ditetapkan. Saya tidak tahu hasilnya bagus atau tidak, yang penting saya telah tunaikan kewajiban.

Pelan-pelan lambaian Bendera Merah Putih melambat di belakang kepala saya. Dari yang semula berkibar hebat, kini melambat menjadi tenang bergerak ritmis bersama angin yang sepoi-sepoi tenang. Pukul 12.10, satu pesan masuk dari peseta Indonesia “Pesentasi yang luar biasa! Terima kasih.” Sungguh hari yang berkesan dan menyehatkan jantung.

One Fine Day: Sebuah Tragedi Komedi Seorang Dosen di Masa Pandemi

Jogja, 3 Desember 2020

Hari ini saya mendapat tugas menjadi moderator untuk sebuah acara Internasional. Ada empat pembicara yang keren, dari Nottingham University, National University of Singapore, Universitas Gadjah Mada, dan rolls Royce. Yang terakhir adalah dari perusahaan untuk melengkapi perspektif. Acara ini bertajuk “Hacking the Global Pandemic” yang intinya adalah bagaimana memanfaatkan momentum Covid-19 untuk berinovasi.

Acara ini sudah disiapkan jauh-jauh hari dan saya sendiri turut menyiapkan dari awal. Maka, dari segi tema dan pengelolaan acara, saya cukup menguasai. Seperti biasa, tugas saya yang lain adalah menyiapkan pidato untuk rektor dan membuat draft presentasi untuk pembicara dari UGM. Semua itu sudah disiapkan sebeluknya sehingga di hari-H seharusnya tidak ada masalah.

Menurut rencana, acara berlangsung hanya dua jam yaitu dari jam 3 hingga 5 sore. Memahami jadwal tersebut, saya menyanggupi sebuah acara lain yang mewajibkan saya harus terbang dari Jogja pukul 18.20. Saya harus ada di Medan esok hari dan akan transit di Jakarta malam ini. Besok pagi, saya akan terbang dari Jakarta ke Kualanamu, Medan. Saya bayangkan, segera setelah saya selesai jadi moderator online, saya bisa cabut ke bandara. Semua akan aman, saya yakin.

Masalah lain muncul, tepat di pagi hari di hari-H. Saya baru sadar bahwa keberangkatan pesawat dari Jogja kini dari bandara baru di Kulon Progo (YIA), bukan dari Adi Sucipto. Itupun saya sadari setelah diingatkan oleh Asti, isteri saya. Maka pagi itu saya langsung syok dan panik. Panik karena keteledoran sendiri. Ini sudah biasa.

Tugas lain muncul di tengah kepanikan. Akan ada kunjungan yang agak mendadak dari Jakarta untuk menginspeksi Kantor Imigrasi di UGM. UGM memang baru saja punya Kantor Imigrasi sendiri, hasil kerja sama dengan Kemenkumham. Saya harus ada di kantor untuk menyambut tamu itu. Maka jam 10 lebih sekian, saya sudah di jalan menuju kantor sambil mengelola kepanikan dalam hati dan pikiran.

Saya telepon salah seorang staf di kantor. Sebenarnya ini tidak boleh ditiru. Saya menelpon sambil nyetir karena tidak punya pilihan lain. Hal pertama yang saya pikir adalah membeli tiket baru dari Jogja ke Jakarta. Jika ada tiket dari Adi Sucipto ke Halim, tentu bisa jadi solusi. Biarlah tiket saya yang sudah terbeli akan hangus. Ini konsekuensi dari keteledoran saya.

Memang ada tiket Citilink dari Adi Sucipto ke Halim tapi ternyata berangkatnya jam tiga sore. Tidak mungkin saya pilih itu karena jam segitu saya harus jadi moderator. Saya coret opsi itu dan berpikir lebih keras. Siapa yang bisa membantu? Bagaimana caranya?

Saya ingat ucapan Asti tadi. Dia menyarankan saya untuk bergerak ke bandara seawal mungkin dan mencoba cari tempat untuk online ketika tugas jadi moderator. Saya pikir, benar juga idenya. Maka tanpa pikir panjang, saya telepon seorang teman yang juga punya jasa transportasi, Pandu. Intinya saya minta Pandu mengantar saya ke Bandara YIA di Kulun Progo tapi di tengah jalan agar dicarikan tempat mampir untuk bisa online. Pandu menyanggupi.

Banyak hal berkecamuk di kepala saya. Di situ juga ide langsung bermunculan. Saya telepon Asti tapi koneksi tidak bagus. Akhirnya saya gunakan voice message di Whatsapp. Intinya saya sampaikan bahwa saya akan berangkat ke bandara jam 12 nanti dan tidak akan pulang sebelum itu. Pandu akan menjemput saya di kampus dan langsung ke bandara. Maka saya minta Asti menyiapkan pakaian untuk saya di Medan dan peralatan pribadi lainnya. Asti sudah terbiasa dengan semua itu.

Yang juga saya minta adalah agar Asti menyiapkan peralatan studio berupa green screen dan stand-nya serta lighting. Saya membayangkan, kalau nanti mau online di hotel atau restoran, saya mau pakai alat yang proper. Saya akan tampil di depan akademisi tingkat dunia, tentu harus prima, lengkap dengan virtual background yang sudah disiapkan panitia. Pokoknya, intinya, all out! Meskipun lagi sulit dan panik, saya berusaha bersiap maksimal. Asti pun menyanggupi tanpa banyak tanya. Dia sudah hafal kelakuan saya.

Setibanya di kampus, saya dapat kabar bahwa pihak Imigrasi tidak jadi datang. Di satu sisi ini membuat gemas karena rencana kedatangan tadi membuat kepanikan saya meningkat tapi di sisi lain, saya lega karena artinya tidak perlu ribet. Sudahlah. Apa pun yang terjadi adalah kebaikan. Saya tersenyum saja, mensyukuri setiap tahap dan kejutan yang terjadi.

Saya memesan makanan lewat GoFood karena saya rasa masih cukup waktu sebelum Pandu datang menjemput saya. Tahu gimbal datang dan sayapun menyantapnya dengan lahap. Saya berusaha tenang meskipun belum pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa menit setelah makan, Pandu mengontak dan ternyata sudah tiba di kampus. Kami siap berangkat.

Kami meninggalkan kampus dengan satu mobil setelah memastikan semua barang lengkap. Saya cek tas pakaian yang disiapkan Asti, peralatan studio dan perlengkapan pribadi lainnya. Pandu tadi menjemput semua itu di rumah sebelum menjemput saya di kampus. Kerja sama yang baik dan nyaris sempurna. Semua beres, kami pun melaju ke Kulon Progo.

Di tengah jalan, saya masih sibuk melatih bahan untuk jadi moderator beberapa jam lagi. Sementara, saya meminta Pandu untuk mencari tempat di sekitar bandara untuk saya bisa online. Saya juga menanyakan ke beberapa orang termasuk grup angkatan dan senior di kampus yang berasal dari Kulon Progo. Semua semangat membantu tetapi tidak satu pun yang definitif.

Akhirnya Pandu menemukan Dapur Semar, sebuah restoran yang berada kurang lebih 20-30 menit dari bandara. Saya dengar dia sibuk menelepon Dapur Semar dan bernegosiasi. Sepertinya mereka menduga kami akan membawa rombongan besar ketika bertanya “berapa orang?”. Ternyata kami hanya bertiga: saya, Pandu dan Endar, seorang driver yang sudah seperti teman sendiri. Ternyata mereka punya ruangan untuk 15 orang dan membolehkan kami menggunakannya dengan sewa tambahan. Berapa ongkos sewanya? 50 ribu rupiah saja. Jogja banget!

Dalam perjalanan dengan titik terang itu, Direktur saya meminta agar kami lakukan gladi final sebelum acara. Beliau meminta lebih awal dan kemungkinannya adalah pukul 13.30 karena jam 14.00 zoom sudah dibuka untuk umum. Maka saya pun meminta Endar untuk melaju lebih kencang. Sementara saya masih komat-kamit di belakang, meyiapkan diri sebelum tampil jadi moderator. Saya pun pasrah saja pada Pandu dan Endar. Di titik itu, kepasrahan dan kecuekan itu membantu.

Akhirnya kami tiba di Dapur Semar dan langsung ditunjukkan ruangan yang cukup besar dan nyaman. Kami segera setting green screen dan lighting. Dalam waktu singkat semua siap dan saya pun sudah bisa online melakukan gladi bersih sebersih-bersihnya. Saya pastikan itu dan dalam pengawasan direktur. Semua nampak okay, termasuk panitia dari IPB. Saya merasa lega, demikian pula Pandu dan Endar. Mulai bisa lepas tawanya.

Peserta mulai berdatangan, tamu VIP mulai masuk. Saya kemudian menjamu beliau-beliau, termasuk tamu dari Nottingam dan Singapura. Kami bercakap-cakap untuk menghangatkan suasana dan membangun chemistry agar proses diskusi nanti bisa lancar. Semua berjalan lancar meskipun koneksi saya mulai menampakkan tingkah polah yang tidak bersahabat. Wifi di Dapur Semar tidak sestabil yang saya harapkan. Apa daya, harus diterima sebagai kenyataan. Saya berspekulasi mengganti WIFI dengan tethering dari HP. Ternyata lebih lancar.

Acara dimulai dengan Mas Adit sebagai MC setelah semua pembicara hadir. Manajeman waktu lumayan bagus. Hingga akhirnya acara inti harus dimulai. Saya pun beraksi. Ada empat pembicara dan saya harus disiplin soal waktu. Pertama karena saya ingin acara nya sesuai rencana dan kedua, ini yang paling penting, saya tidak ingin ketinggalan pesawat. Akhirnya dengan usaha keras dan dukungan semua pihak, sesi utama terlewati dengan baik, saya pun menutup dengan gembira dan adrenalin di permukaan.

Begitu saya tutup sesinya, saya matikan kamera dan mic sehingga Pandu dan Endar bisa segera berkemas mencopoti peralawan studio, terutama green screen dan lighting. Sayapun berkemas dan berlari ke kasir untuk membayar. Semuanya, termasuk makanan untuk semua orang, menghabiskan dua ratus ribu lebih sedikit. Harga yang bersahabat untuk kehebohan yang kami timbulkan. Selepas membayar kamipun melaju ke bandara.

Saya izinkan Endar untuk ngebut sehingga kurang dari 20 menit kami sudah tiba di bandara YIA. Saya pun segera melaju masuk. Meskipun mau cepat dan cekatan, saya belum hafal dengan bandara baru ini. Meskipun harus banyak tanya, akhirnya saya ada di dalam bandara yang terasa begitu sepi dan luas.

Satu lagi masalah, saya tidak membaca cetakan hasil tes swab saya karena saya pikir hanya menunjukkan hasil digital lewat HP. Ternyata hasil ini perlu dicap dan artinya saya harus menunjukkan cetakannya. Di situ saya kesal dan marah. Saya pikir ini tidak efisien dan menghina teknologi digital. Namun saya putuskan untuk tidak marah tetap mengikuti semua prosedurnya. Saya diminta untuk mencetak itu di hotel terdekat yaitu Cordia yang ada di bawah bandara. Saya pun bergegas ke sana dan segera mendapatkan apa yang diperlukan. Meski begitu, waktu yang dibutuhkan cukup lama karena saya berjalan kaki dan naik turun escalator.

Dalam waktu yang mepet itu, saya sudah tiba kembali di counter check in setelah mengecapkan hasil tes swab. Semua berjalan lancar dan saya siap berangkat. Tidak menunggu lagi, saya segera menuju pesawat karena waktu boarding sudah tiba. Saya bergegas masuk pesawat.

Sesaat sebelum masuk pesawat, saya baru ingat lagi bahwa pukul 19.45 nanti saya harus menguji skripsi mahsiswa S1 di Teknik Geodesi UGM. Saya sudah membaca sebagian skripsinya tetapi belum lengkap memberi komentar. File-nya saya kerjakan di Cloud Google Drive. Maka saya harus unduh dulu agar bisa saya lanjutkan koreksinya di pesawat nanti. Maka di depan Lorong garbarata pesawat, saya mengunduh file skripsi dengan koneksi tethering ke HP. Saya pun bersimpuh di pojokan demi file itu dan kelarlah sudah.

Selepas itu saya lari masuk pesawat dan segera menemukan tempat duduk yang tepat. Pesawat cukup rame untuk ukuran pandemic, tapi jaga jarak berjalan baik. Saya sempatkan ngobrol sebentar dengan penumpang di samping saya untuk menghangatkan suasana. Selepas itu saya sudah tenggelam dalam koreksi skripsi meskipun saya ngantuk luar biasa. Akhirnya selesai juga poin-poin pentingnya.

Pesawat tiba di bandara Soekarno Hatta lebih cepat dari jadwal seakan alam semesta bersekutu melancarkan rencana saya. Maka saya segera melesat keluar dari pesawat dan menju Digital Capsule Hotel. Bagi yang belum tahu, di Bandara Soetta ada tempat menginap berupa capsule yang bisa diisi satu orang saja. Harga per malamnya pun 300K lebih. Lumayan lah untuk istirahat. Saya segera memesan dan cepat-cepat masuk ke ‘gua’ modern itu.

Saya terlambat sedikit, presentasi skripsi sudah mulai ketika saya masuk ke zoom meeting. Meski demikian, itu tidak mengganggu karena saya telah membaca dan memahami skripsi mahasiswa dengan baik. Saya pun telah menyiapkan komentar dan masukan secara teliti. Semua akan baik-baik saja, saya yakin.

Selepas presentasi mahasiswa saya diminta memberi komentar duluan dan sayapun laksanakan dengan baik. Tentu saja saya puji karya dan pemaparan skripsi yang memang bagus itu. Saya pun kasih beberapa masukan tanpa banyak menghadirkan kesulitan yang tidak perlu. Orang yang sudah berusaha dengan baik dan hasilnya bagus, layak didukung dan diapresiasi.

Sekitar jam 9 lebih, ujian selesai dan saya bernafas lega. Namun itu sejenak saja. Ketika saya merebahkan diri dan melihat langit-langit capsule yang futuristik, tiba-tiba ada yang berbisik “jangan santai dulu, banyak paparan untuk besok pagi di Medan belum siap. Kerja! Kerja! Kerja!” What a day!

Medan, 4 Desember 2020

Kadaster Tiga Dimensi dari Berbagai Dimensi

Tanggal 26 November saya menjadi moderator acara INA-Cadastre Digital Expo 2020. Sesi pertama berupa webinar dengan sekumpulan pembicara keren. Di sesi yang saya mederatori, ada Pak Menteri ATR/BPN, Dr. Sofyan Djalil, Prof. Hasanuddin Z. Abidin, Prof. Alias A. Rahman dari UTM Malaysia dan Pak Loedi Ratrianto, seorang praktisi kadaster di Indonesia. Sebuah panel dengan paket komplit. Ada akademisi, ada pembuat kebijakan, ada juga swastanya. Saya merasa beruntung mendapat kesempatan itu.

Adalah PT. Amerta Geospasial Indonesia (AMGEOID) yang menggagas acara itu. Mereka punya tujuan mulia untuk membuat isu kadaster di Indonesia menjadi membumi dan akrab dalam imajinasi masyarakat. Bekerja sama dengan Supermap, Geotronix dan beberapa perusahaan lainnya, acara ini berlangsung dengan kumpulan pembicara yang sangat keren. Di sesi siang, ada nama-nama handal seperti Dr. Trias Aditya KM dari Geodesi UGM, Dr. Asep Yusup Saptari dari Geodesi ITB, Bli Tomy Suhari dari Geodesi ITN Malang, dan Tri Indah Utami dari Supermap.

Yang menarik, Pak Menteri hadir di webinar tepat waktu tetapi beliau masih di jalan. Pak Sofyan membuka acara dari mobil beliau saat dalam perjalanan ke kantor. Beliau megatakan, inilah hebatnya teknologi yang memungkinkan kita melakukan banyak hal dari mana saja. Pak Menteri masih mengenakan masker ketika membuka acara karena beliau ada di dalam mobil bersama sopir. Begitu tiba di kantor, beliau langsung duduk di meja yang sudah disiapkan layaknya studio dan melanjutkan sambutannya.

Selepas sambutan, saya mendapat tugas untuk memandu diskusi dan Pak Menteri adalah pembicara pertama. Karena ini acara internasional, saya memandu dalam Bahasa Inggris dan beliaupun menyajikan materi dalam Bahasa Inggris. Pak Menteri lulusan Amerika untuk S2 dan S3nya, Bahasa Inggris beliau tidak diragukan. Meskipun beliau dengan tegas mengatakan bukan ahli teknis kadaster, pemaparan beliau mampu memberi payung pemahaan sehingga peserta akan melihat sisi Kadaster 3D dari segi kebijakan.

Selepas Pak Menteri, ada Pak Loedi yang berbicara sebagai praktisi. Beliau adalah Ketua Masyarakat Ahli Survey Kadaster Indonesia (MASKI) yang telah malang melintang di dunia survey beberapa puluh tahun. Pak Loedi menyajikan berbagai hal teknis terkait kadaster. Beliau juga menyinggung soal Pendidikan yang harus senantiasa berbenah untuk menghasilkan surveyor kadaster yang handal.

Satu yang menarik, beliau menekankan pentingnya untuk menyeimbangkan dan melengkapi skil surveyor, tidak saja dengan aspek teknis, tapi juga dengan aspek legal, administratif dan bahkan politis. Kadaster adalah kombinasi banyak dimensi dan seorang surveyor harus memahami semua itu.

Prof Hasanuddin Z. Abidin berbicara pada kesempatan ketiga. Orang Geodesi di Indonesia umumnya mengenal beliau sebagai pakar GPS dan tentu saja sebagai mantan Kepala Badan Informasi Geospasial. Pak Hasan adalah pribadi yang lengkap. Mumpuni sebagai akademisi, mapan di birokrasi, dan disegani di dunia profesi. Orang yang mengenal beliau dengan baik juga akan merasakan beliau adalah soerang yang rendah hati.

Pertemuan pertama saya di tahun 2003 dengan beliau adalah sebuah bukti betapa beliau adalah senior yang peduli dan positif. Saya, yang waktu itu baru lulus S1 dan berniat sekolah, diberi dorongan positif. Pak Hasan mungkin tidak ingat kejadian itu tapi bagi saya, itu tidak terlupakan. Cara beliau menceritakan Chris Rizos, misalnya, membuat saya yakin bahwa beliau adalah orang yang terbuka pemikirannya dan positif dalam melihat berbagai hal. Berkesempatan menjadi moderator beliau kemarin adalah sebuah kehormatan.

Pak Hasan memaparkan dengan rinci soal kadaster. Tidak saja darat tapi juga laut. Mengikuti pemaparan beliau seperti kulaih satu semester lebih karena sistematika dan kerincian bahannya begitu baik. Pak Hasan adalah seorang guru sejati. Yang juga menarik adalah beliau tidak lupa untuk menyapa atau setidaknya menyebut nama orang-orang tertentu ketika menceritakan satu materi. Ketika bicara soal batas laut sebagai bagian dari kadaster laut, misalnya, beliau menyebut nama saya.

Yang juga menarik, beliau mengaitkan paparannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs), sesuatu yang tidak begitu sering disentuh oleh seorang surveyor dalam pembicaraannya. SDGs adalah satu dimensi lain yang juga penting untuk dipahami agar seorang surveyor mendapat konteks yang jelas, bagaimana peran survey pemetaan untuk perihal yang lebih besar. Kata seorang teman yang menyimak pemaparan beliau “ndengerin Prof Hasan, kok kayak nggak percaya, emang kita sekolah di bidang yang hebat ternyata”.

Pembicara keempat di sesi saya adalah Prof. Alias Abdul Rahman dari UTM, Malaysia. Beliau adalah pakar yang konsisten menekuni Geoinformasi 3D. Saya membuka perkenalan beliau dengan menceritakan pengalaman saya bertemu beliau untuk pertama kali di Kuala Lumpur tahun 2006 silam. Itu adalah konferensi 3D Geoinfo yang pertama dan saya menjadi bagian darinya. Paper saya bahkan menjadi salah satu bagian dari buku Lecture Notes on Cartography yang merupakan hasil dari konferensi itu. Kenangan demikian bisa mendekatkan pembicara dan moderatornya.

Prof. Alias memaparkan begitu detil dan teknis tentang soal 3D geoinfo. Sebagai seorang pakar yang memang menekuni bidang itu, beliau fasih menyajikan hal-hal yang sangat teknis sifatnya. Beliau bicara soal prinsipnya, soal algoritma, soal pemanfaatan perangkat, hingga aplikasi. Beberapa contoh yang telah dikerjakan di Malaysia juga beliau paparkan. Ini melengkapi pemahaman peserta karena teorinya diikatkan dengan praktik, gagasan disandingkan dengan kenyataan penerapan.

Menjadi bagian dari Ina-Cadastre 3D Digital Expo 2020 adalah sebuah kebanggan. Saya kagum dengan kerja anak-anak muda di AMGEOID yang berhasil mendatangkan pembicara level dunia dan memiliki otoritas di bidang masing-masing. Hadirnya Pak Menteri adalah penegas keterlibatan dan dukungan pemerintah. Kehadiran Prof Hasan dan Prof Alias menjadi legitimiasi ilmiah acara itu. Tentu saja kehadiran Pak Loedi menjadi pelengkap yang sangat baik bahwa acara ini tidak hanya soal gagasan-gagasan tinggi di awan tapi juga tentang kenyataan yang terjadi di lapangan.

Implementasi Kadaster 3D mungkin memang masih jauh dari tuntas tetapi acara semacam ini menjadi penanda bahwa kita bergerak maju. Meski mungkin lambat, tapi jalurnya jelas dan arahnya tidak mudur. Kerja keras dari anak-anak muda di AMGEOID patut diapresiasi karena itu yang membuat kita jadi sadar, peduli dan semangat untuk tetap bergerak maju, menuntaskan urusan kadaster tiga dimensi dari berbagai dimensi.