Merindukan Pemimpin yang Bertutur

Saya menyimak podcast Bapak Marty Natalegawa di Decoding Indonesia bersama The Jakarta Post (http://s.id/Marty) hari ini. Ingatan saya melayang ke masa lalu di pertengahan tahun 2000an hingga satu dekade setelahnya. Masa-masa ketika saya menghabiskan banyak waktu menyimak Pak Marty dari berbagai media. Beliau adalah salah satu kiblat saya dalam hal berbicara di depan publik.

Saya beruntung sempat bertemu Pak Marty di New York tahun 2007 ketika beliau menjadi Duta Besar Indonesia untuk PBB, lalu di Sydney tahun 2013 ketika beliau menjadi Menteri Luar Negeri. Tanpa ragu, setiap kali bertemu beliau, saya menikmati kekaguman kepada seorang abdi negara yang mumpuni. Pak Marty tentu saja tidak lepas dari cacat cela, seperti halnya setiap orang lainnya, tetapi saya memutuskan untuk menyimak sisi baik dan belajar darinya. Setiap saat.

Continue reading “Merindukan Pemimpin yang Bertutur”

Tentang Gaji Dosen

Saya bekerja di Unilever ketika lulus S1 di Teknik Geodesi UGM di tahun 2001 silam. Gajinya tinggi, paling tidak menurut saya yang uang bulanannya sebagai mahasiswa berkisaran di beberapa ratus ribu ketika itu. Saat mulai bekerja, saya diberi uang tunjangan pulsa sebesar 500 ribu. Sebuah mobil Suzuki Katana jadi ‘mobil lapangan’, ketika itu. Bagi saya itu luar biasa.

Tidak sampai setahun bekerja, saya pindah ke Astra di Jakarta. Alasannya bukan gaji karena gajinya turun hingga 800 ribu rupiah. Ada alasan lain. Saya ingin lebih dekat dengan bidang ilmu yang saya pelajari di S1. Di Astra, saya menjadi seorang programmer yang dekat dengan tema skripsi saya.

Continue reading “Tentang Gaji Dosen”

30TahunDiUGM #3 – Dari Terminal Ubung ke Bandara Schiphol

Denpasar, awal 1996

Bapak dan Ibu saya mengantar saya ke Terminal Ubung, di Denpasar. Hari itu, saya berangkat ke Jogja untuk memulai hidup baru sebagai mahasiswa UGM. Beliau tidak mengantar saya ke Jogja, hanya sampai terminal.

Yang saya ingat adalah harga tiket bus Simpatik yang kini sudah almarhum. Orang tua harus mengeluarkan uang 35 ribu untuk keberangkatan saya. Jika lihai menawar dan ‘bayar di atas’, harga bisa jadi 25 ribu. Murah? Tidak juga. Waktu itu, harga diskon tiket bus setara dengan satu gram emas.

Continue reading “30TahunDiUGM #3 – Dari Terminal Ubung ke Bandara Schiphol”

30TahunDiUGM #2 – UI atau UGM

SMA 3 Denpasar, awal 1996

Saya memasuki ruang kepala sekolah dengan ragu. Saya bukan Ketua OSIS lagi sehingga sedikit janggal rasanya ketika dipanggil menghadap beliau. “Mengapa kamu tidak mendaftar Kedokteran UI?” tanya beliau dengan cara yang tidak terduga. Saya terhenyak sejenak.

Continue reading “30TahunDiUGM #2 – UI atau UGM”

30TahunDiUGM #1 – Mimpi Anak SMA

Denpasar, medio 1996

Ujian akhir SMA sudah selesai. Saya belum mendapatkan tempat kuliah sementara satu per satu kawan sudah menerima berita baik. Ada yang masuk Kedokteran Brawijaya, ada yang di Unhas, dan tentu saja banyak yang di Udayana. Rasanya tidak mudah menyembunyikan kegelisahan. Keirian, bahkan!

Continue reading “30TahunDiUGM #1 – Mimpi Anak SMA”

Prof Uceng: Idealisme, Aktivisme, dan Pragmatisme

Kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor, maka makin sedikit alasan dosen Indonesia untuk tidak jadi profesor. Ini tentu saja berita buruk bagi banyak orang, terutama kami yang lebih tekun mencari alasan dibandingkan untuk mengusahakan pencapaian. Prof Zainal Arifin Mochtar  alias Uceng baru saja menetapkan sebuah standar baru tentang menjadi seorang profesor.

Pernyataan “kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor […]” dalam tulisan ini tentu saja tidak terkait dengan kualitas akademik dan kepakaran. Ini sama sekali bukan tanda meragukan kepiawaian dan kepantasan seorang Uceng untuk menyandang takhta guru besar. Kalau soal itu, mungkin tak ada yang bisa membantah. Mas Uceng sangat layak!

Continue reading “Prof Uceng: Idealisme, Aktivisme, dan Pragmatisme”

Menjadi Konsultan FAO

Saya masuk sebuah kamar kos sederhana di Jakarta. Bukan hotel. Ukurannya cukup kecil. Suasanya sederhana. Maklum saja, harganya tidak sampai IDR 300K per malam. Saya hanya perlu istirahat sejenak.

Esok harinya saya berjalan kaki menelusuri gang perumahan menuju sebuah gedung megah: Hotel St. Regis Jakarta. Agak jomplang memang wibawanya dengan kamar kos saya yang tersembunyi di dalam gang.

Ini adalah hari pertama saya menyumbangkan pemikiran sebagai Konsultan FAO terkait implementasi BBNJ Agreement oleh Pemerintah Indonesia. Ya, terdengar agak serem nama jabatannya. Sebenarnya sih tidak seserem itu.

Continue reading “Menjadi Konsultan FAO”

MENJALIN CERITA, MENGENDAPKAN MAKNA: Sebuah Catatan Dua Hari Dua Malam di UMSU Medan

Akhirnya ke Medan lagi. Saya melawat ke Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) selama dua hari dua malam untuk berbagi cerita. Kali ini, saya diminta berbicara tentang konsep dan pengelolaan kelas internasional. UMSU mendapatkan hibah untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola Pendidikan internasional dan saya terhormat menjadi salah satu yang didaulat berbagi.

Selalu senang berkunjung ke UMSU. Selalu terkesan dengan keramahtamahan penghuninya. Hal itu sudah terasa sejak di bandara. Bang Muja, dosen UMSU, menjemput dengan cekatan dan membawa saya ke restoran padang untuk santap malam. Rendang jengkolnya tak mudah dilupakan. Ayam pop-nya nempel di lidah dalam waktu yang lama. Ada autentisitas rasa yang tak mudah ditemui di tanah Jawa.

Continue reading “MENJALIN CERITA, MENGENDAPKAN MAKNA: Sebuah Catatan Dua Hari Dua Malam di UMSU Medan”

Farid Yuniar: Pemeta Batas yang Menembus Batas

[sebuah obituari dari I Made Andi Arsana]

Seorang surveyor pemeta Nusantara telah gugur. Farid Yuniar wafat setelah menjalankan tugasnya untuk melukis wajah bumi di permukaan peta yang rata. Selamat jalan Farid. Seorang sahabat. Seorang murid. Seorang guru. Seorang teladan bagi mereka yang berjuang mengalahkan diri sendiri untuk tetap bergerak dan melaju.

Di tahun 2005, ketika Sengketa Ambalat meledak dan membawa Indonesia dan Malaysia ke titik terendah dalam relasi, saya mengenal Farid sebagai mahasiswa baru di Teknik Geodesi UGM. Seminar nasional tentang Ambalat di UC UGM mempertemukan kami. Kala itu, saya adalah pembelajar awal di bidang batas maritim dan mendapat tugas sebagai moderator. Sebagai mahasiswa baru, Farid adalah peserta yang penuh perhatian.

Continue reading “Farid Yuniar: Pemeta Batas yang Menembus Batas”

Ambalat, Cinta dan Ambalita

Ambalita adalah nama anak saya. Lita panggilannya. Di peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, dia mengikuti upacara bendera di Negeri Belanda. Memperingati kemerdekaan di tanah penjajah tentu bukan peristiwa biasa. Lita sedang mengikuti aktivitas pertukaran mahasiswa selama satu semester di Erasmus University. Saya selalu mengatakan, Lita satu almamater dengan Bung Hatta, proklamator kita.

Kata Ambalita diinspirasi oleh istilah Ambalat. Bagi yang mengikuti hiruk pikuk relasi Indonesia dengan Malaysia, istilah ini tentu tak asing di telinga. Ambalat adalah blok dasar laut di Laut Sulawesi yang di tahun 2005 menjadi alasan bagi dua bangsa, Indonesia dan Malaysia untuk berseteru. Banyak yang mengatakan, itu adalah salah satu titik terendah dalam relasi kakak beradik Nusantara. Dua bangsa serumpun ini memang tak selalu rukun.

Continue reading “Ambalat, Cinta dan Ambalita”