Pesan untuk Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri


Mahasiswa Indonesia di luar negeri yang kerap memamerkan foto bercengkerama di putihnya salju atau bersuka cita di sela cantiknya bunga tulip di musim semi, bisa jadi adalah orang yang paling bingung dan kesepian dalam hidupnya.

Mereka mungkin baru saja membaca sebuah paper dan tidak bisa mengerti maknanya, bahkan di paragraf pertama. Setelah diulang tujuh kali, bukan pemahaman yang didapatkan tetapi kebingungan yang mendaki puncaknya. Atau, mereka mungkin baru saja mendapat komentar singkat dari pembimbingnya yang berbunyi “really?” pada sebuah draft mengenaskan yang diajukan dengan penuh keraguan.

Yang tersenyum cerah di sela merekahnya Sakura mungkin tengah menghibur dirinya. Dia baru saja membaca paper dari (Zhang et al, 2026) yang memuat temuan persis dan bahkan lebih cemerlang dari riset yang sedang diusahakannya dengan terseok-seok. Langkah gontai dan perasaan galau sepulang dari lab tadi malam ingin diobatinya dengan senyum ‘palsu’ yang dikaisnya dari ranum Sakura yang tak pernah lelah menghibur.

Video “A Day in My Life” yang mereka sajikan sesungguhnya adalah terapi. Terapi dari keterkejutan mendalam yang dirasakan ketika Research Group Meeting di hari Jumat lalu karena secara meyakinkan merasa jadi orang yang paling tidak ada progres di kelompoknya. Mereka baru saja menjadi orang paling pendiam di dalam ruangan. Tumpul logikanya dan runtuh berantakan intelektualitas yang pernah dibanggakan saat jadi orang paling pintar di kampusnya saat S1.

Saya pernah menjadi mahasiswa ini. Saya tahu rasanya menjadi orang paling bodoh di ruangan. Saya juga tahu rasanya bingung ketika melihat tulisan merah pada kertas draft paper yang saya tulis hingga meriang. Tulisan saya ini adalah doa. Doa sederhana agar teman-teman yang mengalami kerumitan hidup dalam studi diberi kekuatan untuk bertahan. Bertahanlah. Percayalah bahwa semua tragedi ini, ketika ditambah waktu, akan segera menjadi komedi.

I Made Andi Arsana

Kaprodi Magister Teknik Geomatika UGM

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?