Denpasar, awal 1996
Bapak dan Ibu saya mengantar saya ke Terminal Ubung, di Denpasar. Hari itu, saya berangkat ke Jogja untuk memulai hidup baru sebagai mahasiswa UGM. Beliau tidak mengantar saya ke Jogja, hanya sampai terminal.
Yang saya ingat adalah harga tiket bus Simpatik yang kini sudah almarhum. Orang tua harus mengeluarkan uang 35 ribu untuk keberangkatan saya. Jika lihai menawar dan ‘bayar di atas’, harga bisa jadi 25 ribu. Murah? Tidak juga. Waktu itu, harga diskon tiket bus setara dengan satu gram emas.
Duduk di sebelah saya adalah seorang perempuan muda. Ternyata beliau adalah mahasiswa UGM yang pulang ke Jogja dari liburan di Bali. Dari beliau saya banyak belajar tentang UGM. Di sepanjang perjalanan malam itu, kami bercerita. Kami berhenti bercerita hanya ketika saya mabuk perjalanan. Saya muntah dan itu terjadi hampir di setengah perjalanan. Sungguh mengenaskan. Kisah awal saya tentang Jogja tak seindah yang saya kira.
Tiba di Terminal Umbulharjo Jogja, pagi masih gelap. Saya dijemput oleh Bli Pande Made Kutanegara, seorang dosen di Antropologi UGM. Bagi saya, beliau orang asing. Kami tidak saling kenal sebelumnya. Beliau menjemput saya karena mengetahui keberadaan saya dari teman SMA saya, Putu Dharmawan, yang adalah kerabat beliau dari satu daerah di Bali. Putu Dharmawan juga diterima di UGM. Calon dokter.
Bli Made orang baik. Titik. Tanpa tapi. Bagi saya, wajah UGM dengan nyaris sempurna diwakili oleh Bli Made di masa itu.
Saya diajak ke rumah beliau yang adalah rumah kontrakan. Sebagai dosen muda, Bli Made hidup berjuang. Satu Pelajaran penting yang saya tidak akan lupakan: menolong orang tidak harus menunggu berkelimpahan harta. Saya dan Putu Dharmawan serta Ngurah Premana, satu sahabat lainnya, ‘ditampung’ selama kurang lebih dua minggu. Selain diberi tempat tinggal yang nyaman, kami juga dipinjami motor. Tiga puluh tahun berlalu, Bli Made adalah orang yang sama. Orang yang kebaikannya tidak berkurang.
Kini saya dan Bli Made sama-sama jadi guru di UGM. Dharmawan mengabdikan diri sebagai dokter di Papua. Ngurah jadi notaris di Bali. Dua orang ini adalah sahabat yang menjaga saya ketika letih dan lelah. Bli Made adalah orang yang menjadi contoh bagi kebaikan yang mungkin belum bisa saya tiru sepenuhnya. Masuk UGM ternyata bukan saja tentang belajar di kelas dari dosen yang termasyhur. Kuliah di UGM adalah tentang bertemu orang-orang tepat yang mewarnai hidup saya kelak berpuluh tahun kemudian.
Bandara Soetta, Agustus 2025
“You take care, Lita.” bisik saya dalam pelukan terakhir ketika melepas Lita untuk pertukaran mahasiswa ke Belanda. Sejarah memang tak sepenuhnya berulang tetapi berima dengan hampir sempurna. Puluhan tahun setelah saya diantar Bapak Ibu saya di Terminal Ubung, saya menjalankan tugas yang sama. Lokasinya sedikit berbeda dan tujuan keberangkatan Lita, anak saya, sedikit lebih jauh dibandingkan perjalanan saya puluhan tahun silam.
Meski berbeda, semangatnya tetap sama. Orang tua yang berketetapan hati melepas anaknya. Meski perlu waktu lama, akhirnya saya tahu perasaan Bapak dan Ibu saya ketika melepas saya di Terminal Ubung 30 tahun silam. Jika saya dulu dijemput Bli Made di Terminal Umbulharjo, Lita harus berjuang sendiri menemukan jalannya di Bandara Schiphol. Tidak ada yang menjemput, tidak ada yang mengantar. Sendiri tanpa teman. Semoga ini adalah pertanda kemajuan.