30TahunDiUGM #2 – UI atau UGM


SMA 3 Denpasar, awal 1996

Saya memasuki ruang kepala sekolah dengan ragu. Saya bukan Ketua OSIS lagi sehingga sedikit janggal rasanya ketika dipanggil menghadap beliau. “Mengapa kamu tidak mendaftar Kedokteran UI?” tanya beliau dengan cara yang tidak terduga. Saya terhenyak sejenak.

Itu adalah masa pendaftaran masuk kuliah lewat jalur tanpa tes. Waktu itu, istilah yang biasa dipakai adalah PMDK  atau PBUD. Anak-anak SMA yang dianggap layak (eligible) umumnya menggunakan kesempatan itu untuk memilih kampus impiannya. Entah apa yang ada di pikiran bapak kepala sekolah kami, saya dipanggilnya karena tidak mendaftar di Kedokteran UI.

Setelah mengumpulkan keberanian dan merangkai jawaban paling masuk akal, saya menjawab. “Saya tidak tertarik menjadi dokter Pak. Selain itu, saya tidak merasa mampu. Masalah lain, terkait biaya. Saya coba hitung SPP, biaya tempat tinggal, uang makan, transportasi. Sepertinya orang tua saya tidak mampu membiaya saya untuk kuliah di UI.” Bapak kepala sekolah terdiam dan menatap saya.

“Kalau kamu ingin sukses, kamu harus ada di lingkaran kekuasaan. Jakarta adalah tempatnya. Kalau pun kamu hebat tetapi jika jauh dari pusat kekuasaan, kehebatanmu tidak akan terlihat. Kesempatan untuk maju akan sangat sedikit.” Kepala sekolah memberi ceramah. Menurutnya, kesuksesan memang adalah soal prestasi tetapi sebagian lain adalah soal koneksi. Menjadi baik adalah satu hal. Terlihat baik adalah pelengkapnya.

Tiga puluh tahun lalu, kepala SMA 3 Denpasar telah melihat fenomena masa depan dengan begitu jelas. Tidak hanya melihat, beliau mencoba meyakinkan pemahaman itu kepada muridnya. Meski tampak ambisius, tidak sekali pun beliau mengajarkan keburukan. Tak sekali pun kami diajarkan untuk tidak mengikuti aturan. Beliau orang yang penuh strategi. Sayangnya, prinsip itu berbeda dengan yang saya anut dan alami.

“UGM, Pak”  kata saya ketika ditanya kampus impian saya. Kepala sekolah tidak berhasil menjual UI pada saya. Bukan soal kualitas. Ini soal harga. Literally! UI terlalu mahal untuk Ibu Bapak saya ketika itu. SPP per semester di tahun 1996 sekitar 600K sedangkan UGM kurang dari setengahnya. Selain itu, saya memang belum tentu bisa diterima di UI. Dan dengan itu percakapan kami berhenti dan saya dipersilakan keluar dari ruangan itu.

Yogyakarta, 2026

“Bli, izin aku pakai slidenya untuk melengkapi presentasiku ya” kata seorang dosen UI lewat pesan WA. Kepala sekolah saya pasti senang, saya bersahabat dengan dosen dari kampus impian beliau.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?