Pendaftaran Beasiswa AAS 2019 sudah dibuka!

Jika kamu seorang pejuang beasiswa sesungguhnya, seharusnya judul tulisan ini tidak mengejutkan karena kamu pasti sudah tahu bahwa Beasiswa AAS 2019 memang sudah dibuka sejak 1 Februari 2018 lalu. Jika kamu pengunjung setia madeandi.com ini tetapi bukan untuk urusan beasiswa luar negeri, bisa jadi infromasi ini berisi hal baru. Jika kamu memang tertarik untuk sekolah S2 atau S3 di Australia, silakan lanjutkan membaca tulsian ini. Jika tidak, mungkin bisa beralih ke tulisan lain yang lebih cocok dengan minat/greget sendiri.

Continue reading “Pendaftaran Beasiswa AAS 2019 sudah dibuka!”

Advertisements

Bercermin pada [kejayusan] Dilan: Sebuah Resensi Film

Sebuah twit dari seorang public figure yang saya ikuti pemikiran dan karyanya berbunyi “Dilan is officially the new AADC”. Dalam hati saya bertanya “apa ya?” Saya pengagum AADC dan selama ini belum menemukan tandinganya, meskipun memang harus diakui bahwa film Indonesia sepertinya sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saya tahu, pendapat public figure ini subyektif tetapi saya penasaran. Hanya ada satu cara untuk mengetahui kebenarannya: nonton.

Pertanyaan terbesar saya sebelum menonton adalah “mampukah film ini menghadirkan nuansa 1990an di film yang diperankan milennials dan dibuat tahun 2017?” Ketakutan terbesar adalah ketika nanti saya harus menyaksikan pemakaian bahasa gaul kekinian oleh anak SMA yang ‘dipaksa’ di setting di ruang kelas yang ‘dipoles’ menjadi nuansa 1990an. Ngeri sekali kalau harus melihat ruang kelasnya kelihatan baru dicat dan bangkunya dipas-paskan nuansanya. Detil ini semoga sudah dipikirkan. Saya berdoa.

Menyaksikan Dilan 1990, bagi generasi 1990an seperti saya, sebenarnya penuh risiko. Usaha membandingkan dan mengkritisi nuansa, masa dan budaya, mau tidak mau akan terjadi dan itu bisa jadi gangguan serius jika ternyata film itu tidak berhasil menunaikan tugasnya. Maka dari itu, saya kendorkan tensi dan buat harapan menjadi luluh sirna karena saya tahu, kekecewaan berakar dari satu perhal: harapan. Saya menonton, sedapat mungkin, dengan kertas putih kosong tanpa prasangka, tanpa harapan. Tidak ada satupun review yang saya baca sebelum menonton.

Yang paling menyita perhatian saya adalah kekuatan dialog di Dilan 1990. Mendengar tokoh Dilan seperti mendengar teman sendiri di tahun 1990an dan sering sekali bahkan seperti melihat diri sendiri. Dilan laksana cermin jernih bagi generasi 1990an. Pemilihan kata-kata yang meluncur dari mulut Dilan serta kelihaiannya dalam menempatkan setiap kata dalam suasana dan situasi yang akurat adalah daya pikat film ini. Bagi saya, konflik yang dihadirkan sebenarnya merupakan keseharian anak-anak muda di zaman itu. Tidak ada yang ekstrim atau luar biasa. Kemasan yang baik dalam bingkai dialog yang kerap absurd atau ‘jayus’ tapi cerdas membuat film ini seakan tidak perlu konflik serius untuk menjadi baik dan menyita perhatian.

Bagi saya sendiri, potongan-potongan dialog di film ini berhasil memancing senyum. Senyum yang melambungkan saya ke suatu masa dua hingga tiga dekade silam. Melihat Dilan seperti melihat kenakalan diri sendiri atau teman-teman saya di masa lalu yang sedikit banyak terpancar dari pola pikir, kata dan laku Dilan. Mereka yang pernah naksir seseorang atau berpacaran di tahun 1990an mungkin seperti diingatkan akan banyak hal besar dan kecil yang mengundang tawa atau kegelian. Adegan berbicara berlama-lama di telepon umum, jenis motor yang dipakai, gaya berpakaian sekolah, jaket yang dikenakan, serta bentuk telepon rumah yang khas sanggup menghadirkan nuansa suatu masa. Bagi sebagian orang, masa itu bisa jadi adalah kenangan romansa yang dalam, atau keseharian yang lewat begitu saja dan baru disadari, atau sekedar ingatan tentang himpitan masa silam yang dilalui dengan kesulitan perjuangan.

Saya menulis puisi sejak lama dan percaya pada kekuatan kata-kata. Tahun 1990an, bagi saya, adalah ladang subur bagi lahirnya kata-kata yang kemudian menemukan peran pentingnya dalam mewakili perasaan atau bahkan gagasan besar tentang cinta, politik, pemerintahan dan gerak peradaban. Baiklah, saya mengakui ini berlebihan tetapi ini adalah bukti nyata, setiap generasi akan secara egois dan arogan mengklaim generasinya memang lebih hebat dibandingkan generasi lainnya.

Yang pasti, Dilan menghadirkan kekuatan kata-kata itu. Potongan dialognya di kotak telepon umum usang atau di kantin sekolah yang bersahaja seperti memutar ulang apa yang terjadi pada banyak kawan saya di tahun 1990an silam. Romantisme yang dihadirkan lewat dialog-dialog nakal nan ‘jayus’ khas 1990an sebenarnya cukup mudah diduga tetapi dilahirkan dengan rangkaian kata-kata yang seperti hadir tanpa rencana. Pidi Baiq, penulis novelnya, berhasil menghadirkan kecemerlangannya di sini tanpa terkesan pamer dan memaksa.

Dilan 1990 juga mengingatkan bahwa lebay dan absurd memang terjadi di setiap masa. Menariknya, oleh generasi yang menjadi tuan rumah di masa itu, lebay dan absurd itu adalah keniscayaan yang bahkan bisa dipandang membanggakan. Itulah kesan yang timbul ketika mendengar dialog-dialog di film Dilan 1990, terutama yang disampaikan oleh tokoh Dilan, tentu saja. Dilan mengingatkan saya kembali bahwa semua generasi memiliki gayanya sendiri dan hal-hal hebat yang dibanggakan, meskipun jika dilihat dari kacamata generasi lainnya, hal itu mungkin sungguh tak pantas, absurd dan bahkan ‘menjijikkan’. Maka karya yang dicintai adalah yang ‘relatable’, yang mewakili penikmatnya. Baik buruk adalah sebuah relativitas yang tak akan selesai diperdebatkan.

Mereka yang pernah sekolah atau kuliah di Bandung kemungkinan besar akan merasakan keberhasilan film ini membawa suasana masa lalu. Satu yang menarik, anak-anak atau alumni ITB mungkin akan merasa diusik oleh film ini, dengan nuansa ‘kekalahan’ kecil yang tidak kentara. Benarkan separah itu? Tentu saja sangat tergantung dari kacamata penontonya. Saya merasa demikian, mungkin karena saya alumni UGM :). Seperti kata Dilan, perasaan kalah atau cemburu adalah buat mereka yang tidak percaya diri.

Berbagai adegan khas anak sekolah sangat kental di Dilan 1990. Yang mengkhawatirkan adalah beberapa adegan yang menunjukkan kekerasan dan ekspresi emosi seorang siswa kepada gurunya. Beberapa adegan semacam itu memang perlu ditonton dengan kacamata kebijaksaan yang baik sehingga hikmah yang dituai tidak salah dan menjerumuskan. Keberanian seorang siswa membela prinsip dan keyakinan yang dihadirkan dalam beberapa adegan nampaknya harus ditonton dengan kesabaran dan kelapangan hati. Meskipun hadir sebagai idola yang nampaknya sanggup mewakili ‘ego’ dan ekspresi bathin banyak orang, perilaku Dilan disajikan layaknya orang biasa yang istimewa. Kadang emosinya dibiarkan meledak dan keluar tanpa kendali. Maka dari itu, perenungan akan hal yang baik atau buruk untuk ditiru atau dihindari perlu dipastikan oleh siapa saja yang menontonnya.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah Dilan 1990 adalah AADC masa kini? Kalau kita tanya pada Dilan, mungkin dia akan katakan, “jangan membandingkan. Berat. Kamu tidak akan kuat. Nikmati saja. Atau jika kamu melewati masa remaja di dekade 1990an, kamu mungkin perlu mendengar seseorang mengatakan “Dilan reminds me of someone” sebelum memutuskan untuk menontonya.

ps. Tahu artinya jayus? [hmm jawab, jangan?]

Setidaknya Ada Kabar

“Aku kesel sekali dengan Pak Broto. Janjinya ngembalikan uang dalam sebulan, ternyata sudah tiga bulan belum ada kabar. Aku telefon nggak pernah diangkat. Dia selalu menghindar. Sebenarnya aku tidak mempersoalkan uang segitu tetapi aku tidak suka karena dia melanggar janji. Kalau tidak punya uang untuk mengembalikan, setidaknya ada kabar lah. Aku mau tahu apa yang terjadi. Jangan malah tidak mau angkat telefon. Orang-orang seperti ini yang membuat bangsa ini tidak maju-maju.”

Genjo menyimak dengan takzim kekesalan tuannya, sang akdemisi mumpuni, meskipun tidak semua hal dia pahami. Di tengah gemuruh celoteh sang tuan, tiba-tiba ada telepon bordering. Tidak seperti biasa, sang tuan hanya melihat layar HP sejenak lalu mengalihkan pandangan, membiarkan HPnya menjerit-jerit tanpa dijawab.
“Dari siapa Pak?” tanya Genjo mencoba mencari tahu.

“Nggak… ini dari panitia konferensi. Paling minta makalah. Aku harusnya nyerahkan makalah minggu lalu tapi belum sempat aku rampungkan. Sibuk banget belakangan ini, banyak deadline. Ngoreksi ujian, ngoreksi skripsi, ujian tesis S2, undangan kementerian. Aku nggak bisa bernafas. Nggak apa-apa, gak usah aku jawab dulu. Kalau diangkat, paling ditanya macam-macam. Nanti saja langsung aku kirim makalahnya kalau sudah rampung. Gampang itu.”

Genjo tak begitu paham soal makalah. Dia asyik mengendarai mobil sambil mendengarkan tuannya yang tetap mengeluhkan tindak tanduk Pak Broto.

Saat Males Ngerjain Skripsi Tiba

1. Tetap ke kampus, rasakan atmosfer kegentingan dan semangat teman-teman. Ini sanggup membuatmu resah dan gelisah. Harapannya lalu semangat kerja lagi.

2. Kalau males nulis atau ga punya ide, baca skripsi orang lain sebanyak-banyaknya. Tidak harus yang berhubungan. Banyak membaca membuat kamu bisa menulis.

3. Ketemu dosen pembimbing. Jangan hindari. Silakan curhat soal ketidakadaan kemajuan. Kalau dosenmu baik, dia akan paham. Mungkin kamu mqlah diajak makan sambil ngobrol. Ingat, jangan hindari dosen saat genting seperti ini.

4. Datang ke tempat wisuda untuk melihat temanmu wisuda. Kamu akan nangis darah lalu semangat skripsi lagi. Semoga.

5. Sering-sering baca lowongan kerja, terutama yang mensyaratkan sarjana. Apa ngga nyesel kamu ga bisa daftar karena belum punya ijazah?

6. Bergaul dengan orang-orang yang rajin dan positif tapi jangan jadi parasit buat mereka. Yang ada, malah mereka yang ikut males hehe.

7. Pasang gambar negara yang ingin kamu tuju untuk S2. Jadikan semangat!

8. Skripsi itu memang tebal, tapi ingat dia terdiri dari lembar-lembar halaman. Di skripsi itu pasti ada bagian yang mudah. Mulai dari yang mudah. Misalnya halaman persembahan. Atau ini sulit juga? Dasar jomblo 🙂

10. Ingat, orang pertama yang akan kecewa kalau kamu tidak selesai adalah ibumu. Di manapun beliau berada. Bahagiakan beliau.

Mana nomor sembilan? Dasar malas… tulis sendiri dong! Katanya mau skripsi 🙂

Demi Kepentingan yang Lebih Besar

“Seharusnya dia tidak bersikap picik seperti itu. Sebagai pejabat negara, dia harus mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Jangan hanya gara-gara tidak suka dengan seseorang, atau gara-gara orang itu tidak berasal dari partainya, maka dia tidak mau bekerja sama. Jika pejabat negara bersikap seperti itu, kapan negara ini maju?!”

Sambil telaten menyetir kendaraan, Genjo menyimak celoteh tuannya, sang akademisi, yang berbicara bersemangat. Sungguh cemerlang pandangan beliau soal mengutamakan kepenting bangsa. Di tengah percakapan searah itu, tiba-tiba ada panggilan telepon masuk. Sang tuan menjawabnya dengan sigap.

“Ya Pak” lalu diam lama. Genjo tentu tidak paham apa yang terjadi. Dia hanya mendengar sang tuan kemudian berbicara agak panjang.

“Gini Pak. Saya tentu mau melaksanakan penelitian itu. Itu memang bidang ilmu saya, apalagi ini penting untuk kebijakan nasional. Kalau boleh, saya ingin membentuk tim sendiri. Saya akan masukkan orang-orang yang saya percaya kemampuannya.” Lalu diam agak lama sebelum kemudian melanjutkan.

“Wah maaf Pak, kalau diminta memasukkan Prof Kondang ke tim penelitian ini, saya keberatan. Dia memang ahli tapi sikapnya kurang baik. Lagipula, dia bukan bagian dari kelompok penelitian saya selama ini. Dia akan mengganggu kerja tim. Saya yakin itu. Jika Bapak tetap bersikeras memakai dia sebagai ahli, maaf saya tidak mau terlibat dalam penelitian ini.”

Genjo tidak paham apa yang terjadi. Isi ruang kepalanya terlalu sempit untuk memahami bahasa tinggi.

Ketika Standup Comedian Bercanda tentang Agama

Untuk kepentingan pribadi, saya berkeyakinan bahwa kita boleh bercanda dengan topik agama. Saya dengan sangat ringan bisa mengatakan “saya Hindu KW” sambil berkelakar, ketika tidak bisa menjelaskan suatu perkara dalam sudut pandang Hindu. Teman saya biasanya tertawa mendengar itu. Tidak ada yang marah, tidak ada yang menghina dan rasanya juga tidak ada yang memandang saya jauh lebih rendah dari sebelumnya. Bagi saya, ini adalah bercanda dengan topik agama. Saya melakukannya dengan kesadaran dan tidak ada maksud menghina siapapun, kecuali diri sendiri. Itupun kalau mengaku sebagai Hindu KW itu bisa membuat saya hina.

Ketika kegiatan berlangsung di kampus atau tempat lain dan waktu sholat tiba, saya kadang berkelakar “titip absen ya Bro” kepada teman saya yang akan sholat. Tidak jarang teman saya ini berkata “kok titip absen melulu sih? Hadir dong sekali-sekali” dan yang lain pun menyambut dengan gelak tawa. Bagi saya, ini adalah bercanda dengan topik agama. Sejauh ini tidak ada masalah, tidak ada yang merasa tersinggung dan tidak ada yang mengajukan saya ke pengadilan dengan tuduhan menista agama. Saya paham teman-teman saya, merekapun paham apa yang ada di benak saya. Kesepakatan dan saling pemahaman itulah yang menjadi dasar kokoh sehingga kelakar itu hadir sebagai kelucuan, tidak lebih tidak kurang.

Dengan beberapa teman dekat lainnya, saya bahkan berkelakar lebih jauh dan mungkin lebih sensitif soal agama. Saya berkelakar tentang topik yang jika didengar oleh orang lain yang tidak mengenal saya, bisa jadi dianggap ofensif. Saya berani melakukan itu karena saya tahu bahwa saya dan teman saya ini memiliki pandangan yang sama akan sesuatu dan sudut pandang kami tidak jauh berbeda. Saya belajar soal kemuliaan agama-agama di luar Hindu, justru dari kelakar dan interaksi penuh guyon dengan para karib saya dari berbagai agama.

Satu hal yang pasti, seberapapun baik dan sabarnya seseorang, tidak ada yang bahagia jika agamanya dihina atau dilecehkan. Perihal benar atau tidak, itu cerita lain. Karena reaksi teman-teman saya adalah tertawa dan bahagia, saya yakin tidak ada yang merasa agamanya dihinda dalam percakapan dan interaksi kami. Saya tetap yakin bahwa kelakar perihal agama boleh dilakukan jika pihak-pihak yang terlibat bisa menerima itu sebagai kelakar.

Bagaimana dengan candaan soal agama di ruang publik? Saya kira prinsip tadi tetap berlaku, bahwa kesepakatan dan sudut pandang pihak yang terlibat adalah yang terpenting. Jika di ruang publik itu ada orang yang berbeda sudut pandang dan pemahamannya, bisa jadi kelakar ini menjadi kesalahan yang berakibat fatal. Hal ini juga berlaku saat agama dijadikan bahan bercanda di standup comedy, misalnya.

Saya setuju dengan Pandji Pragiwaksono, standup comedy bukan soal cerdas atau tidak tetapi soal referensi. Jika comic dan penontonnya menggunakan referensi informasi yang sama atau mirip maka mereka akan bersenang-senang dengan topik yang disajikan. Lucu atau tidak, dalam konteks standup comedy, adalah soal referensi dan, kalau boleh saya tambahkan, juga soal frekuensi. Jika comic dan pendengarnya ada di frekuensi yang sama atau mirip soal suatu isu maka materi itu bisa jadi lucu.

Yang pasti, saya menikmati topik agama dalam berbagai standup comedy, tentu saja termasuk ketika Hindu yang dijadikan bahan candaan itu. Sependek pengetahuan saya, Tuhan itu maha besar dan tinggi. Beliau tidak akan pernah terhina dan nista dengan kelakar manusia. Meski demikian, saya juga paham bahwa setiap orang memiliki pandangan sendiri. Maka saya pun paham jika ada orang yang merasa tidak nyaman dengan kelakar soal agama. Saya juga mengerti jika ada orang yang marah dan emosi ketika mendengar kelakar soal agama, terutama agama orang itu. Kenyataannya, sudut pandang orang memang tidak bisa dipaksakan. Jika ada yang boleh tertawa karena suatu materi standup comedy, tentu kita harus hormati mereka yang marah karena materi yang sama.

Pertanyaan selanjutnya, apakah bahan bercanda tentang agama harus diteruskan atau dihentikan? Di sini mekanisme seleksi alam akan terjadi. Reaksi pasar akan membuat seorang standup comedian mengambil keputusan. Sebagai sebuah karya seni berekspresi, seorang standup comedian bisa saja idealis dan teguh pada pendiriannya untuk, milsanya, tetap menjadikan agama sebagai bahan kelakar. Namun sebagai industry hiburan, perilaku pasar tentu ikut menentukan keputusan seorang standup comedian.

Yang pasti, kualitas seorang standup comedian, atau siapapun yang dengan sadar menjadikan agama segai topik dalam berkelakar, tidak hanya ditentukan dari kualitas leluconnya tetapi, yang lebih penting, dari sikap dan reaksinya kepada pihak yang tidak menyukai materinya. Kualitas sejati seorang standup comedian akan nampak dari cara dia merespon orang-orang yang tidak suka atau tersinggung dengan materinya. Kita akan bisa melihat dengan mudah apakah seorang standup comedian termasuk yang cemen dan KW atau yang hebat dan bijaksana. Maka ruang informasi publik, termasuk media sosial, adalah bilik pengadilan dan kita semua adalah hakimnya. Selamat menjadi hakim yang adil dan bijaksana.

Buku Baru 2017: Inspirasi Empat Musim

Sahabat pembaca yang budiman,

Terima kasih telah setia bersama madeandi.com selama beberapa tahun terakhir. Saya tahu, ada pembaca yang telah berkunjung ke sini sejak 2004 dan masih kerap mampir hingga hari ini. Terima kasih. Pembaca baru yang awalnya tergelincir karena licinnya mesin pencari atau media sosial juga tidak sedikit yang akhirnya menjadi pembaca setia. Terima kasih. Apapaun yang Anda temukan di sini, semoga ada pelajaran, dari yang baik maupun tidak begitu baik. Dari cerita kesuksesan maupun kegagalan, semoga ada inspirasi yang bisa dituai.

Mengakhiri tahun 2017 saya persembahkan tulisan-tulisan saya di blog ini menjadi sebuah buku. Anda mungkin sudah membaca sebagian besar dari tulisan itu tapi mungkin tertarik untuk memilikinya sebagai buku untuk dibaca di kala senggang atau saat sedang melamun di kereta, pesawat, bus atau saat mengantri di mana saja. Atau mungkin Anda ingin membagi pengalaman membaca ini kepada mereka yang tidak punya kemewahan menikmati internet yang memadai. Saudara-saudara kita yang ada di tempat-tempat yang jauh dari riuh rendah teknologi mungkin akan sumringah menerima kiriman sebuah buku untuk mereka baca.

Buku ini adalah tentang perjalanan  saya mengunjung berbagai negara di Asia, Australia, Amerika, Eropa dan Afrika yang memberikan banyak pelajaran berharga. Inspirasi ini saya harap bisa menjadi alasan untuk keluar dari zona nyaman dan lingkungan geografis yang melenakan. Semoga inspirasi ini menggerakkan Anda untuk melakukan sesuatu yang baru dan memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat jauh yang asing dan penuh kejutan.Kepada Anda yang berada di teman-tempat jauh yang mungkin terlupakan, semoga buku ini jadi pengingat bahwa dunia kita sebenarnya jauh lebih besar dari yang kita lihat. Dunia ini sesungguhnya sebesar imajinasi kita.

Semoga buku ini mengingatkan bahwa kita adalah warga dunia. Jika dunia bisa digerakkan dari sebuah kantor di Wall Street New York, maka dia harusnya bisa diwarnai dari sebuah rumah sederhana di Talaud atau Atambua. Maka bukalah mata, lakukan hal-hal baru. Seperti nasihat Mark Twain, dalam dua puluh tahun ke depan, kita akan lebih sering menyesali apa yang tidak sempat kita lakukan, bukan apa yang kita lakukan.

Seorang sahabat penulis idola saya, Bang Fuadi, penulis Negeri Lima Menara, menyampaikan dukungannya:

Berbilang buku catatan perjalanan yang saya baca, tapi buku ini salah satu favorit saya. Kisah tamasya dengan aneka cita rasa: haru, tawa, bangga dan menyuntikkan energi. Ahli hukum laut dan surveyor ini kerap berbicara di berbagai forum internasional, di hadapan para pemimpin dunia, peneliti internasional, menteri dll. tapi sirkuit global yg membanggakan ini tak membuat dia lupa utk membimbing mahasiswanya dengan penuh perhatian di rumahnya yang asri. Dan kawan baik saya ini terus rindu utk pulang ke Bali, mengobrol berlama-lama dengan ibunya di dapur sambil menyantap masakan ibu.

Apakah Anda ingin mengoleksi karya ini? Dapatkan satu buku istimewa di bit.ly/Inspirasi4Musim