Supaya Kelas Online Tidak Seperti Kuburan

Ini sering terjadi. Kelas online sangat sepi layaknya kuburan. Pertama karena mahasiswa umumnya tidak menyalakan kamera, apapun alasannya, dan kedua karena interaksi sangat sulit dilakukan. Bahkan ketika dosen bertanya “apa kabar?” pun kadang tidak dijawab. Setidaknya sebagian besar tidak merasa wajib menjawab. Masing-masing merasa sebagai partisipan yang ‘tidak penting’ karena tidak kelihatan. Masing-masing merasa tersembunyi dan kehadiran atau ketidakhadirannya tidak menghadirkan perbedaan apapun.

Ketika dosen meminta pendapat di tengah perkuliahan, mahasiswa sering kali sepi dan damai. Tak ada suara. Hal yang sama juga terjadi ketika dosen bertanya sesuatu atau ketika dosen meminta mahasiswa untuk bertanya. Sama saja. Sepi seperti kuburan.

Apa yang bisa dilakukan? Situasi ini kadang membuat para dosen patah arang. Menyiapkan kuliah online itu melelahkan. Kita tahu. Hati tambah kecewa ketika ternyata mendapati kelas layaknya kuburan. Apakah harus menyerah? Tentu tidak!

Tadi coba saya terapkan hal baru ketika mengajar di Sekolah Vokasi UGM. Saya mengajar metode penelitian dan membahas struktur proposal. Sudah ada template sehingga saya hanya menayangkan berkas doc yang sudah siap. Memang mudah karena tidak perlu menyusun bahan baru tapi di sisi lain, ini rawan membosankan karena tampilan layar yang monoton.

Salah satu cara adalah dengan membangun interaksi. Tapi sulit. Wong ditanya kabar saja kadang mahasiswa diem kok, apalagi diajak diskusi. Akhirnya saya ‘akali’ dengan interaksi anonim. Saya buatkan sebuah Google Form untuk interaksi. Sebelum itu, saya tandai dulu di file template itu, bagian-bagian yang menarik untuk didiskusikan.

Kami mulai dengan membuat simulasi sebuah judul skripsi. Ketika sampai pada bagian awal pembahasan latar belakang, saya bertanya, apa yang perlu disajikan di latar belakang sesuai dengan judul yang sudah disepakati. Saya meminta mereka menulis jawabannya di Google Form. Ternyata lumayan. Ada belasan jawaban yang kemudian kami bahas. Ini berlangsung di beberapa bagian, misalnya ketika membahas penelitian terdahulu, tujuan penelitian, manfaat, alat dan bahan dan seterusnya. Menggunakan link Google Form yang sama. Tiap topik diskusi, ada lebih dari 10 jawaban dan kemudian saya sudah cukup sibuk membahas pendapat mereka.

Agar seru, saya tampilkan jawaban mereka di layar ketika membahas. Setiap orang tahu pendapat mereka sendiri tapi tidak ada orang lain yang tahu pendapat temannya. Ini menimbulkan sensasi tersendiri. Mereka tidak ragu berpendapat. Meskipun tanpa suara dari mahasiswa, saya merasakan kelas saya ‘ramai’ dengan diskusi. Total ada 87 pendapat mahasiswa selama sejam kelas berlangsung. Jadi, meskipun sepi tanpa suara mahasiswa, kelas saya tetap tidak terasa seperti kuburan.

Oy ya, seperti biasa, sebelum kelas mulai, saya putarkan lagu. Kali ini Bimbang dari Melly Guslow. Setelah kelas berlangsung, saya tutup dengan Tukar Jiwa dari Tulus. Oh ya, saya tidak mengatakan kelas saya ini berhasil. Saya hanya merasa lebih senang dan lebih bersemangat. Semoga mahasiswa juga demikian.

Kamala Harris, Hindu dan Bhagavad Gita


Beredar sebuah tulisan di berbagai media sosial tentang Kamala Harris yang beragama Hindu dan dilantik menggunakan Kitab Bhagavad Gita (BG). Tidak sulit memastikan bahwa berita itu tidak benar. Kamala bukan seorang Hindu dan dia tidak pernah dilantik menggunakan BG. Jika mau meluangkan sedikit waktu, tidak sulit menemukan identitas seorang Kamala Harris yang baru saja terpilih menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat. Selain itu, presiden dan wapres Amerika Serikat belum dilantik hingga Januari 2021 nanti.

Benar, Kamala memang dekat dengan Hindu karena ibunya, mendiang Shyamala Gopalan Harris, adalah seorang Hindu. Meski demikian, ayah Kamala, yang berasal dari Jamaica, adalah seorang Baptist (Nasrani) . Kamala sendiri sejak kecil menganut Baptist dan telah menjalankan kehidupan gereja sejak usia dini. Hingga kini, Kamala bahkan masih aktif memberikan ceramah di Gereja. Kamala, seperti pengakuannya, begitu menjunjung tinggi pluralitas. Ini merupakan konsekuensi dari interaksinya dengan Ibunya yang Hindu, dia dan adiknya yang Baptist dan suaminya yang Yahudi. Pada keragaman keyakinan itu pula dia menemukan kekuatan dan makna keyakinan agama bagi perjuangan politik.

Kamala Harris berbicara di Gereja

Mengapa beredar kabar bahwa Kamala adalah seorang Hindu dan dilantik dengan BG? Adalah peredaran sebuah foto yang menujukkan seorang politisi perempuan yang dilantik dengan BG yang menjadi salah satu pemicunya. Foto itu beredar bersamaan dengan sebuah tulisan yang berjudul “Belajar dari Kemala Harris, Diangkat Sumpah dengan Bhagawad Gita”. Entah ini kekeliruan biasa atau disengaja, mendampingkan foto tersebut dengan tulisan dengan judul demikian, dengan cukup mudah menimbulkan kesalahpahaman.

Tulsi Gabbard

Di banyak grup Whatsapp yang beranggotakan orang Hindu, hal ini menjadi pebincangan seru. Menariknya, tidak sedikit yang langsung percaya dan menyatakan kebanggaanya. Bangga karena ada orang Hindu yang menjadi wapres Amerika Serikat. Hal ini bisa dipahami namun juga menjukkukkan betapa sentimen primordialisme memang bisa dengan mudah mengikis kemampuan untuk berpikir kritis. Ini perkara serius, jika memang benar demikian.

Yang ada di dalam foto yang beredar itu adalah politisi perempuan lain bernama Tulsi Gabbard. Dia adalah orang Hindu pertama yang menjadi senator Amerika. Dalam hal ini, wajar jika dia dilantik dengan BG. Tidak ada yang aneh. Kesalahan terjadi ketika gambar ini digunakan untuk mendampingi tulisan lain tentang Kamala Harris. Selain keduanya memang tidak berhubungan, tulisan tersebut juga mengandung kesalahaan. Pertama, Kamala dikatakan sebagai pemeluk Hindu padahal bukan dan kedua, ayah dari Kamala disebut bernama Thomas Harris padahal seharusnya Donald Harris. Mungkin banyak lagi yang lain.

Sesungguhnya, ada banyak berita dan fakta mengenai Kamala Harris. Ini sangat mudah dicek jika mau karena berita resmi beredar di mana-mana. Hal berikutnya yang menarik adalah mengapa berita semacam ini mudah dan cepat beredar di kalangan orang Hindu? Pada sebuah grup WA Hindu yang isinya adalah alumni berbagai universitas besar di Indonesia dengan profesi sebagai dosen atau professional lainnya, berita soal Kamala yang Hindu ini juga beredar cepat. Menariknya, oleh banyak orang, berita itu disebarkan tanpa keraguan, seakan memang pasti benar dan tidak ada usaha untuk mengklarifikasi. Kalaupun ada, sangat klise, dengan tambahan “apa ini benar ya?” tapi di saat yang sama, beritanya sudah disebarkan begitu luas.

Kita mungkin tak banyak sangkut pautnya dengan Joe Biden atau Kamala Harris tapi cara kita memperlakukan berita menunjukkan jati diri kita. Mungkin kita tak perlu khawatir akan menjadi antek Amerika. Kita perlu khawatir kalau kita diam-diam telah terjajah oleh ketidakmampuan kita sendiri untuk berpikir kritis atau kemalasan kita sendiri untuk meneliti kebenaran sebuah berita. Yang lebih serius, jangan-jangan kita telah dipasung oleh semangat ‘identitas sempit’ yang membuat kita abai akan akal sehat kita sendiri. Semoga tidak separah itu.

PS. Tulisan ini mungkin mengandung kesalahan. Sebaiknya tidak dipercaya begitu saja dan mohon mengacu kepada sumber resmi. Jika ada kekeliruan, silakan dikoreksi.

Dukungan

Kalimat klise itu berbunyi “di balik lelaki sukses, ada perempuan yang hebat”. Kisah ini adalah versi keluarga kami. Keluarga yang normal. Keluarga yang sering bertengkar karena kunci hilang, remote tv lenyap atau sachet shampoo yang tergeletak di lantai kamar mandi. Keluarga yang bertengkar karena tak sepakat di mana harus parkir mobil saat ke mall. Namun kami punya cerita yang lain.

Ketika saya mendapat IP 1,2 di semester 5, Asti, tidak sama sekali menunjukkan kekecewaan. Tidak pernah mencibir, apalagi menghina. Di dirinya seakan hanya ada satu hal: kepercayaan. Bagi saya, ini dukungan.

Ketika saya galau memutuskan apakah akan menjalani mimpi untuk hidup jadi dosen atau tetap di Astra, Asti memberi saya ruang yang lebar untuk memilih. Kepercayaan dan keyakinan serta minimnya tuntutan darinya membuat saya dengan ringan memilih jadi dosen. Bagi saya, ini dukungan.

Ketika keluarga kecil kami ada di persimpangan jalan, apakah Asti akan ikut saya ke Australia atau meneruskan profesinya sebagai dokter, Asti mengambil keputusan bijaksana. Diserahkannya hidupnya untuk membuat saya yakin bahwa keputusan sekolah dan mengajak keluarga adalah yang terbaik. Dorongan ini yang meniadakan keraguan. Bagi saya, ini dukungan.

Maka ketika Asti memutuskan untuk pulang duluan ke Indonesia saat saya masih sekolah, saya membebaskannya. Saatnya dukungan itu saya berikan. Ketika Asti berjuang mengusahakan beasiswa, saya mendampinginya. Ketika sebagai dokter Asti memutuskan untuk berjarak dengan dunia klinis, saya menghormati keputusannya. Saatnya saya mendukung.

Hingga suatu ketika Asti merasakan kelelahan dan ketidaknyamanan bekerja di di balik meja di ruang kaca, saya memakluminya. Asti yang berhenti total bekerja di sektor formal mungkin adalah keputusan yang tidak lazim. Tidak demikian, bagi saya. Saya telah melihatnya berjuang, berkorban dan menjadi fondasi bagi perjalanan saya. Maka tak ada yang aneh apalagi sia-sia.

Asti adalah fondasi yang menjadi dasar penting bagi bangunan hidup saya. Untuk itu dia rela tertimbun tanah hingga tidak terlihat. Sirna dari pandangan mata orang-orang dan terhindar dari sorot lampu yang yang hingar bingar.

Di dalam kesunyian itu dia menjadi tiang penyangga keluarga sambil menikmati kerinduannya akan seni. Kini, dalam pilihan sunyinya, pola-pola keindahan lahir dari tangannya yang menyusun daun, ranting dan bunga di atas kain atau kulit.

Di dunia ecoprint, dia menenggelamkan dirinya dalam senda gurau alam yang tak pernah lelah menghadirkan kecemerlangan. Seperti juga Asti yang tak pernah lelah mendukung saya ketika hidup menuntut saya memainkan peran-peran tak lazim yang tak terduga.

Betul, di balik seorang lelaki yang nampak berkelebat-kelebat memainkan peran beraneka rupa, ada seorang perempuan yang bekerja dalam senyap. Perempuan itu menjaga jiwa sang lelaki yg sejatinya rapuh. Semoga dalam sunyi Asti tak merasa kesepian karena dia ditemani warna-warni alam yang kerap menjadi pelipur laranya.

Obrolan Geodet #4: Geodet di Gojek

Namanya Novie Chiuman. Namanya kadang diplesetkan oleh teman-teman akrab atau dosennya di Teknik Geodesi UGM. Tentu saja untuk kehangatan interaksi, bukaan hinaan apalagi celaan. Kini dia kerja di Gojek Indonesia, berurusan dengan peta.

Novie istimewa, mungkin sudah dari sananya. Dia dikenal pintar, tekun, rajin dan selalu antusias. Maka tak heran, nilainya nyaris sempurna. Konon hanya ada dua nilai B di transkripnya, di antara lautan A yang memukau. Begitu tahu seorang Novie punya nilai B, kami, para dosen, was was. Dalam kelakar kami bertanya “siapa yang berani memberinya nilai B?” Diam-diam, ada yang bergumam “Syukurlah bukan saya.”.Meski begitu, Novie menolak dituduh pintar apalagi cerdas. “I am a hard-working person” katanya. Dia mengajak kita untuk melihat ‘usaha’, bukan ‘modal’. Saya pun setuju. Setidaknya ada dua pengalaman yang membuat saya yakin, Novie adalah seorang pekerja keras.

Suatu ketika dia jadi asisten saya untuk mata kuliah Matematika Geodesi. Bersama Ridho dia main ke rumah untuk diskusi suatu perihal yang dia belum pahami. Berjam-jam kami diskusi karena saya pun tak paham. Jujur saja. Namun Novie tidak menyerah, berjam-jam dia berkutat. Satu ucapan saya, yang melihat masalah itu dari sudut pandang lain, akhirnya membuatnya berteriak girang. Itulah Eureka Moment bagi Novie.

Di kesempatan lain, saat Kemah Kerja, saya melihat Novie bertransformasi dasyat secara fisik. Kulitnya yang tadi putih seperti terbakar seluruhnya dan menjadi legam. Ini pertanda dia bekerja sangat keras di lapangan dan mengabaikan penampilan fisiknya. Novie benar, dia bersandar pada kerja keras, bukan [saja] pada kecerdasannya. Pembimbing skripsinya, Om Dedi Atunggal, pasti setuju hal ini.

Kini, bekerja di perusahaan besar dan belum umum bagi orang geodesi, Novie kian percaya dengan soft skills. Sering kita abai akan hal ini, katanya. Menariknya, ketika saya tanya apakah semua itu diperolehnya di organisasi, Novie menjawab lain. Dia ternyata tidak aktif di organisasi selama sekolahnya.

Yang lebih menarik adalah pandangannya soal pemerolehan soft skills. Novie memandang organisasi adalah tempat yang bagus tapi tidak selalu cocok untuk semua orang. Mahasiswa harus memilih dan sadar dengan kesesuaian dirinya. Artinya, jika organisasi adalah yang tepat, lakukan dengan baik. Jika tidak, pilih yang lain. Ada banyak hal di luar itu, kata Novie.

Betul. Kadang kita terseret arus dan pandangan mainstream. Tak jarang kita berbobdong-bondong ikut sesuatu tanpa paham dan tanpa punya tujuan yang jelas. Novie tidak demikian. Dia tahu apa yang dia mau dan menjalankannya dengan tanggung jawab. Terima kasih Novie. Tetap bersinar.

Link video: bit.ly/noviegojek

Obrolan Geodet #3 Dari Golf ke Geohub.

Di kursi yang Nampak vintage di sebuah pendopo, saya melihat seorang lelaki dengan senyum khas. Muslim Syamsuis Darwis adalah orang yang sama dengan yang saya kenal sejak 1998 silam. Kini, dia menjadi orang nomor satu dan sekaligus pendiri sebuah perusahaan berbasis geospasial dengan kantor yang keren: Geohub. Sore itu kami janjian untuk bertemu, sekedar bercerita.

Obrolan diisi dengan cerita lampau ketika saya mengenalnya pertama kali. Waktu itu saya mahasiswa tingkat tiga dan membantu kampus untuk menyelenggarakan suatu acara konferensi. Kami perlu relawan mahasiswa untuk membantu suatu mata acara. Tentu mencari mahasiswa di kampus biasanya tidak sulit tetapi waktu itu beda. Pasalnya, relawan yang diharapkan adalah yang bisa main golf. Sebelum berusaha pun saya sudah putus asa. Mana lah mungkin mencari mahasiswa Geodesi UGM yang biasa main golf di tahun 1990an.

Adalah Muslim, seorang anak baru angkatan 1998 yang ternyata memenuhi syarat itu. Sejak itu, saya melihatnya istimewa. Bukan karena akademis atau lainnya tetapi karena dia bisa bermain golf. Kami pun berkelakar mengenang kisah itu. Muslim lalu bercerita bahwa ketika kecil hingga remaja dia tinggal di lingkungan perumahan dengan fasilitas yang baik karena disediakan perusahaan tempat ayahnya bekerja. Yang menarik, ayahnya ‘memaksa’ dia untuk memanfaatkan fasilitas itu dengan baik, termasuk untuk bermain golf. Tanpa disadarinya, itu yang menjadi salah satu pintu pembuka bagi banyak kesempatan di masa depan.

Setelah lulus dan bekerja di Jakarta, Muslim sempat ‘nekat’ bersekolah S2 di Stuttgart Jerman dengan tabungan sendiri dan ‘mengais’ peluang beasiswa dari berbagai pihak. Dia juga berhasil merayu dosennya untuk memberinya pekerjaan sebagai asisten yang kemudian bisa membantunya menyambung hidup di negeri orang. Muslim memilih Jerman karena reputasi keilmuan dan harga pendidikan yang terjangkau. Di Jerman juga akhirnya dia mulai berkarya di perusahaan terkemuka seperti Rapid Eye, sebuah perusahaan satelit penginderaan jauh yang ketika itu baru mulai beroperasi. Tak berhenti di situ, dia sempat pindah ke perusahan lain yang memasarkan drone.

Yang menarik, Muslim menyukai tantangan untuk masuk ke perusahaan yang belum begitu ‘well-established’. Dengan begitu dia memiliki kesempatan belajar banyak hal dari awal hingga akhir. Konon ini juga yang kemudian menjadi bekal baginya untuk mendirikan perusahaannya sendiri yang kini dikenal dengan nama beken Geohub. Berkantor di kawasan yang tenang di Jogja utara, Geohub adalah sebuah kantor dengan konsep santai modern dengan gaya vintage. Saya juga diajak naik ke rooftop untuk merasakan sensasi di ketinggian sambil menikmati suasana sore.

Bergaul dengan berbagai pihak membuat mata kita terbuka dengan berbagai peluang. Itu prinsip yang dipercaya seorang Muslim dalam menjalankan hidup dan usahanya. Tak heran, Sekarang dia mengelola banyak proyek yang tidak melulu hanya terkait bidang geodesi. Dia juga merangkul 30 lebih orang dari berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikan tugas-tugas profesionalnya. Dia percaya, selain membuka kesempatan, pergaulan dengan orang lain juga mendatangkan solusi bagi persoalan yang dihadapinya.

Melihat seorang Muslim adalah melihat seorang pembelajar. Tidak saja secara formal melalui kuliah, Muslim terbuka belajar dari orang lain. Konon dia tetap belajar dari ayahnya tentang cara presentasi meskipun dia sudah melakukan itu di mana-mana di berbagai benua. Dalam pertemuan singkat itupun kami sempat diskusi tentang beberapa bahan paparan saya tentang berbagai hal. Muslim takzim menyimak, semata-mata karena dia memang mau belajar.

Sore itu, sambil bekelakar di kursi klasik di pendopo Geohub yang asyik, saya melihat seperangkat peralatan golf. Itu melambungkan ingatan saya pada 22 tahun silam. Seorang Muslim telah bertransformasi jauh dan tinggi. Dari golf hingga Geohub. Namun hal itu tak membuatnya tinggi hati. Dia tetap seperti bola golf yang kerap memang melayang tinggi tapi tak lama kemudian kembali membumi, bersahabat dengan hijau rumput dan keramahan akarnya.

Obrolan Geodet #2 Sebuah Pandangan dari Petronas Twin Tower

Saya memanggilnya Kris. Beliau adik kelas saya di Teknik Geodesi UGM yang kini berkantor di lantai 14 Gedung 2 Petronas Twin Tower di Kuala Lumpur. Kris sudah berkarya di Petronas sekitar delapan tahun.

Tadi malam saya ngobrol dengan Kristiawan lewat Zoom untuk mengetahui kisah perjalanan karirnya. Kris mengingatkan saya akan kisah lama, bagaimana Kris begitu gigih merawat majalah kami, Geodeta. Dari sini, banyak cerita hidupnya bermuasal.

Di tahun 2001 ketika saya masih kerja di Astra, Kris kontak saya. Dia sedang berkeliling Jakarta untuk menghubungi alumni dan berbagai pihak lain untuk mencari berita. Singkatnya, Kris mau menghidupkan kembali Geodeta yang waktu itu sempat ‘istirahat’ dan hampir sekarat.

Kris menegaskan, perjalanannya itulah yang kemudian mempertemukannya dengan banyak alumni. Dia memahami dengan baik arti jejaring, arti pertemananan. Itu pula yang membuatnya segera mendapat pekerjaan tidak lama setelah lulus di akhir tahun 2003. Di masa itu, bisa lulus dalam waktu 4 tahun adalah pencapaian tersendiri.

Kris adalah orang yang tahu apa yang dia mau. Itu kesan yang saya tangkap. Maka dari itu dia dengan tegas memilih lulus lebih cepat, tidak mengutamakan lulus dg nilai super tinggi. Dia merasa momen yang tepat perlu diperjuangkan dan jangan sampai terlewat begitu saja. Prinsip yang sama juga membuatnya pernah menolak sebuah perusahaan di Singapura dan memilih perusahaan Indonesia. Semata-mata karena Kris tahu apa yang diinginkannya di masa depan.

Kini Kris berkantor di Petronas Twin Tower di Kuala Lumpur dan tinggal bersama keluarga di negeri Jiran. Semua itu menjadi pelabuhannya setelah beberapa kali pindah perusahaan. Kris dengan tegas mengatakan, jika kita lakukan yang terbaik maka kepercayaan akan terbangun. Itulah yang akan menghadirkan kesempatan baru. Di titik itu kita bisa memilih untuk melompat lebih tinggi.

Geodesi-Geomatika memberi kita kesempatan untuk memahami banyak hal dengan perspektif yang luas. Kris meyakini hal ini dan itu membantunya menjadi seseorang yang bisa beradaptasi di berbagai sisi. Pengalamannya dalam organisasi saat mahasiswa membekalinya dengan banyak hal. Semua itu menyempurnakan kecakapan teknis yang diperolehnya di ruang-ruang kelas dan lab ketika kuliah.

Pesannya, menjadi seorang geodet berarti juga peduli pada disiplin lain. Saya bayangkan, Kris mengajak kita semua seperti satelit penginderaan jauh atau drone yang melintas di langit. Dengan begitu kita bisa melihat banyak hal sekaligus, memiliki kemampuan memahami relasi antara satu hal dengan perihal lainnya. Pemahaman komprehensif itu yang akan membuat seorang geodet menjadi pemimpin di lingkungannya.

Makasih Kris, pembicaraan di Zoom terasa seperti obrolan di sebuah sudut di Menara Kembar Petronas sambil memandang geliat negeri Jiran. Tak perlu segelas kopi karena kehangatan kelakar bisa hadir dari secangkir persahabatan.

Obrolan Geodet #1: Personality Beyond Geospatial

Tadi malam kedatangan tamu adik tingkat idola, Syamsul Bahri. Beliau junior saya di Teknik Geodesi UGM, beda tiga tahun. Itu soal umur. Kalau soal pengalaman di dunia industri geodesi, beliau ‘senior’.

Pertemuan perdana saya dengan Bro Syamsul ini terjadi di tahun 1999 ketika beliau baru masuk UGM. Waktu itu saya mendapat tugas dari KMTG untuk mengisi materi bagi Gamada di Gelanggang UGM. Ini permintaan panitia pusat Opspek UGM. Saya ingat, Bro Syamsul adalah salah satu penanya dan beliau penanya pertama. Hanya saja, terus terang, saya baru tahu belakangan kalau maba ‘pemberani’ ini adalah Bro Syamsul.

Telah melanglang buasa ke mancanegara, kini Bro Syamsul berlabuh kembali di Jogja. Karena pekerjaannya yang tak terikat tempat dan pandemi yang mendisrupsi, Bro Syamsul kini justeru punya banyak waktu bersama keluarga. Sebelumnya dia pernah beberapa tahun tinggal dan bekerja di Singapura.

Interaksinya secara Profesional dengan pihak-pihak di berbagai benua membuatnya harus bekerja di waktu yang ‘tidak lazim’. Tak aneh jika di waktu kerja Indonesia, beliau lebih banyak waktu untuk bersantai ria. Maka jangan heran kalau melihat FB-nya diisi banyak keseruan bersepeda, motoran atau gowes.

Saya banyak belajar dari obrolan semalam. Satu yang pasti, apa yang beliau capai hari ini adalah karena keberaniannya untuk melangkah melampaui dunia geospasial yang dipelajari secara formal. Seorang Syamsul membebaskan dirinya dari ‘belenggu’ teknikal sebagai seorang geodet. Dia berani menyambut tantangan dan peran non teknis yang memberinya adrenalin baru.

Tentu saja semua itu tidak datang kepada seorang Syamsul secara cuma-cuma tanpa ketidaknyamanan. Dia harus belajar banyak hal. Tidak berhenti pada urusan teknis, Syamsul secara rela belajar sisi dalam interaksi antar menusia. Sebagai orang yang bergerak dalam dunia penjualan perangkat pemetaan, Syamsul percaya, interaksi antarmanusia memegang peran besar, kadang jauh lebih besar dari urusan kapabilitas spesifikasi teknis sebuah perangkat.

Thanks Bro. Sebuah kehormatan bisa menjamu dirimu dengan secangkir teh tarik tadi malam.

Tempat Wudhu

Di rumah kami ada ruang yang bisa dipakai untuk sholat. Memang bukan mushola tapi bisa dan biasa dipakai sholat. Ada juga rukuh dan sajadah. Tadinya kami sediakan secara terbatas, akhirnya kawan-kawan berbaik hati menghibahkan ke kami. Kini ada beberapa di rumah. Cukup lah untuk tamu yang ingin sholat di rumah ketika bertandang.

Di dekat rumah juga ada masjid. Lokasinya dekat dengan pura keluarga kami. Kerap, saat sembahyang Trisandya, lantunan adzan seperti menguatkan doa kami. Melantun bersama dalam harmoni yang selaras. Harmoni dan keselarasan yang kami usahakan sendiri tentunya. Suara dari loudspeaker kami anggap jadi penguat doa kami juga.

Selama ini, tamu, baik itu mahasiswa, sesama dosen, teman hobi atau siapa saja, yang akan sholat saya beri dua pilihan. Bisa sholat di rumah atau di masjid kampung yang tidak jauh letaknya. Ada yang melakukan di masjid, kebanyakan memilih sholat di rumah. Saya menikmati kejadian-kejadian seperti ini.

Yang biasanya agak masalah adalah soal tempat wudhu. Di dekat pura ada keran dan kami selalu persilakan para tamu wudhu di sana. Hanya saja, tempatnya kurang memadai. Keran itu dipakai untuk menyiram tanaman jadi tidak rapi desainnya. Kurang tepat untuk wudhu. Akhirnya kami persilakan wudhu di dalam. Ada wastafel atau kamar mandi jika tamu berkenan.

Saat membuat tambahan fasilitas di taman belakang, saya pastikan kami punya tempat wudhu. Kami konsultasi dengan beberapa kawan muslim. Intinya, kalau bisa, tempat wudhunya terpisah dengan kamar mandi atau toilet. Kami pun putuskan dan eksekusi.

Jika melihat toilet/kamar mandi kami ini, desainnya padu dan satu dilihat dari depan. Sejatinya di sisi barat ada ruang terpisah. Itu tempat wudhu. Aksesnya pun beda. Ada lorong khusus untuk menuju tempat wudhu. Di sana ada dua keran karena tamu kami bisa banyak kalau lagi ada acara..Beberapa waktu lalu, saya punya ide membuat tulisan tanda tempat wudhu. Saya bukan seniman maka saya minta bantuan komputer. Saya unduh font yang bernuansa kaligrafi Arab dan buat desain di PPT. Akhirnya saya cetak lalu gunakan sebagai mal/template. Saya kerjakan sendiri dengan dukungan Asti dan Lita.

Ternyata hasilnya tidak serapi yang saya inginkan. Asti bilang, tidak apa-apa. Akhirnya saya pasang apa adanya. Tulisannya blobor. Tulisan saya tidak sempurna tapi niat saya semoga diterima dengan baik..Mungkin memang begitulah usaha toleransi di negeri ini. Kadang nampak dan terasa berantakan tapi semoga niat kita selalu baik. Tulisan ini akan saya rapikan, seperti juga niat kita untuk merawat keberagaman di negeri kita ini. Mari kita rapikan.

Penjual Lew Kwan Yew

Saya tiba di lokasi yang diinformasikan lewat Whatsapp. Tidak begitu meyakinkan, saya foto bangunan yang saya lihat lalu kirim lewat Whatsapp. Saya tanya “ini kah?” dan dalam waktu tiga menit dijawab “Enggih”. Berarti memang saya menuju tempat yang benar tapi tetap saja saya tidak yakin. Sejujurnya, saya berharap akan melihat lokasi penjual tanaman dengan berupa-rupa tanaman hias. Ini beda. Sama sekali tidak terlihat seperti penjual tanaman hias.

Continue reading “Penjual Lew Kwan Yew”

Intermezzo Pembuka Presentasi

Beberapa waktu lalu saya memberi materi bagi penerima beasiswa LPDP di Ancol Jakarta. Presentasi di depan orang-orang hebat tentu membanggakan sekaligus menegangkan. Jika tidak tampil baik, sama saja dengan menggali kubur sendiri. Maka saya putar otak, bagimana caranya menimbulkan kesan positif di awal. Intinya ada dua. Pertama, harus lucu dan, kedua, orang-orang yang berpikir soal kelucuan itu harus bisa melihat kecerdasan di dalamnya. 

Continue reading “Intermezzo Pembuka Presentasi”