ITB, UI, UGM: APA BEDANYA?

Semuanya menyuguhkan berita buruk sekali waktu. Semuanya pernah membenamkan harapan dan mengikis optimisme di saat tertentu. Memang tidak ada yang sempurna. Tidak ada!

Hari-hari ini, banyak hal buruk mengemuka dari perguruan panutan di tanah air. Sebegitu burukkah lembaga pendidikan kita? Apa nasib moral negeri ini yang punggawanya terdidik di perguruan ternama itu? Orang mudah untuk bertanya dan bahkan menuduh. Beralasan pastinya. Berita buruk mengikis kepercayaan dan menumpulkan keyakinan.

Continue reading “ITB, UI, UGM: APA BEDANYA?”

Pesan untuk Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri

Mahasiswa Indonesia di luar negeri yang kerap memamerkan foto bercengkerama di putihnya salju atau bersuka cita di sela cantiknya bunga tulip di musim semi, bisa jadi adalah orang yang paling bingung dan kesepian dalam hidupnya.

Mereka mungkin baru saja membaca sebuah paper dan tidak bisa mengerti maknanya, bahkan di paragraf pertama. Setelah diulang tujuh kali, bukan pemahaman yang didapatkan tetapi kebingungan yang mendaki puncaknya. Atau, mereka mungkin baru saja mendapat komentar singkat dari pembimbingnya yang berbunyi “really?” pada sebuah draft mengenaskan yang diajukan dengan penuh keraguan.

Continue reading “Pesan untuk Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri”

30TahunDiUGM #3 – Dari Terminal Ubung ke Bandara Schiphol

Denpasar, awal 1996

Bapak dan Ibu saya mengantar saya ke Terminal Ubung, di Denpasar. Hari itu, saya berangkat ke Jogja untuk memulai hidup baru sebagai mahasiswa UGM. Beliau tidak mengantar saya ke Jogja, hanya sampai terminal.

Yang saya ingat adalah harga tiket bus Simpatik yang kini sudah almarhum. Orang tua harus mengeluarkan uang 35 ribu untuk keberangkatan saya. Jika lihai menawar dan ‘bayar di atas’, harga bisa jadi 25 ribu. Murah? Tidak juga. Waktu itu, harga diskon tiket bus setara dengan satu gram emas.

Continue reading “30TahunDiUGM #3 – Dari Terminal Ubung ke Bandara Schiphol”

30TahunDiUGM #2 – UI atau UGM

SMA 3 Denpasar, awal 1996

Saya memasuki ruang kepala sekolah dengan ragu. Saya bukan Ketua OSIS lagi sehingga sedikit janggal rasanya ketika dipanggil menghadap beliau. “Mengapa kamu tidak mendaftar Kedokteran UI?” tanya beliau dengan cara yang tidak terduga. Saya terhenyak sejenak.

Continue reading “30TahunDiUGM #2 – UI atau UGM”

30TahunDiUGM #1 – Mimpi Anak SMA

Denpasar, medio 1996

Ujian akhir SMA sudah selesai. Saya belum mendapatkan tempat kuliah sementara satu per satu kawan sudah menerima berita baik. Ada yang masuk Kedokteran Brawijaya, ada yang di Unhas, dan tentu saja banyak yang di Udayana. Rasanya tidak mudah menyembunyikan kegelisahan. Keirian, bahkan!

Continue reading “30TahunDiUGM #1 – Mimpi Anak SMA”

Prof Uceng: Idealisme, Aktivisme, dan Pragmatisme

Kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor, maka makin sedikit alasan dosen Indonesia untuk tidak jadi profesor. Ini tentu saja berita buruk bagi banyak orang, terutama kami yang lebih tekun mencari alasan dibandingkan untuk mengusahakan pencapaian. Prof Zainal Arifin Mochtar  alias Uceng baru saja menetapkan sebuah standar baru tentang menjadi seorang profesor.

Pernyataan “kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor […]” dalam tulisan ini tentu saja tidak terkait dengan kualitas akademik dan kepakaran. Ini sama sekali bukan tanda meragukan kepiawaian dan kepantasan seorang Uceng untuk menyandang takhta guru besar. Kalau soal itu, mungkin tak ada yang bisa membantah. Mas Uceng sangat layak!

Continue reading “Prof Uceng: Idealisme, Aktivisme, dan Pragmatisme”

Menjadi Konsultan FAO

Saya masuk sebuah kamar kos sederhana di Jakarta. Bukan hotel. Ukurannya cukup kecil. Suasanya sederhana. Maklum saja, harganya tidak sampai IDR 300K per malam. Saya hanya perlu istirahat sejenak.

Esok harinya saya berjalan kaki menelusuri gang perumahan menuju sebuah gedung megah: Hotel St. Regis Jakarta. Agak jomplang memang wibawanya dengan kamar kos saya yang tersembunyi di dalam gang.

Ini adalah hari pertama saya menyumbangkan pemikiran sebagai Konsultan FAO terkait implementasi BBNJ Agreement oleh Pemerintah Indonesia. Ya, terdengar agak serem nama jabatannya. Sebenarnya sih tidak seserem itu.

Continue reading “Menjadi Konsultan FAO”

Bermain Agama di AGAK LAEN

Saya membahas cerita agama di film Agak Laen. Film ini memuat begitu banyak sisi dan wajah. Banyak orang sudah membahas berbagai perihal tetapi sepertinya tidak banyak yang menyoroti perihal agama. Biarlah saya yang membahas.

Di kedua film, Agak Laen: Rumah Hantu dan Agak Lain: Menyala Pantiku, tema agama terselip rapi dan alami. Ini adalah penyajian perkara agama yang dengan sempurna menyentuh jiwa saya. Selera saya banget.

Continue reading “Bermain Agama di AGAK LAEN”

MENJALIN CERITA, MENGENDAPKAN MAKNA: Sebuah Catatan Dua Hari Dua Malam di UMSU Medan

Akhirnya ke Medan lagi. Saya melawat ke Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) selama dua hari dua malam untuk berbagi cerita. Kali ini, saya diminta berbicara tentang konsep dan pengelolaan kelas internasional. UMSU mendapatkan hibah untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola Pendidikan internasional dan saya terhormat menjadi salah satu yang didaulat berbagi.

Selalu senang berkunjung ke UMSU. Selalu terkesan dengan keramahtamahan penghuninya. Hal itu sudah terasa sejak di bandara. Bang Muja, dosen UMSU, menjemput dengan cekatan dan membawa saya ke restoran padang untuk santap malam. Rendang jengkolnya tak mudah dilupakan. Ayam pop-nya nempel di lidah dalam waktu yang lama. Ada autentisitas rasa yang tak mudah ditemui di tanah Jawa.

Continue reading “MENJALIN CERITA, MENGENDAPKAN MAKNA: Sebuah Catatan Dua Hari Dua Malam di UMSU Medan”

Farid Yuniar: Pemeta Batas yang Menembus Batas

[sebuah obituari dari I Made Andi Arsana]

Seorang surveyor pemeta Nusantara telah gugur. Farid Yuniar wafat setelah menjalankan tugasnya untuk melukis wajah bumi di permukaan peta yang rata. Selamat jalan Farid. Seorang sahabat. Seorang murid. Seorang guru. Seorang teladan bagi mereka yang berjuang mengalahkan diri sendiri untuk tetap bergerak dan melaju.

Di tahun 2005, ketika Sengketa Ambalat meledak dan membawa Indonesia dan Malaysia ke titik terendah dalam relasi, saya mengenal Farid sebagai mahasiswa baru di Teknik Geodesi UGM. Seminar nasional tentang Ambalat di UC UGM mempertemukan kami. Kala itu, saya adalah pembelajar awal di bidang batas maritim dan mendapat tugas sebagai moderator. Sebagai mahasiswa baru, Farid adalah peserta yang penuh perhatian.

Continue reading “Farid Yuniar: Pemeta Batas yang Menembus Batas”