Menceritakan Indonesia

Dalam acara makan siang saat program summer school yang melibatkan mahasiswa internasional, terjadi percakapan menarik. Di meja itu ada saya dan satu orang teman Indonesia lain yang bertugas sebagai reviewer. Di dekat kami ada empat mahasiswa internasional. Satu dari mereka bertanya tentang perkembangan Indonesia.

Indonesia has a lot of problems but we do not have good leaders” kata teman saya menjawab. Dia melanjutkan, “all leaders only think about short time. They don’t really think about the future of Indonesia. They fight for their own advantage. They do things for the advantage of their party, family and friends. Actually we are very rich but we are mismanaged because we lack of statesmen. Indonesia is declining”. Kawan saya ini bercerita dengan semangat dan berapi-api.

Continue reading “Menceritakan Indonesia”

Advertisements

Kejahatan Tanpa Sengaja

Genjo ditugaskan mengemudi kendaraan, mengantarkan seorang ahli tata pemerintahan. Bung Bonggas baru saja memberikan seminar dan memukau peserta, seperti biasa. Genjo, diam-diam juga menjadi penggemar meski tak pernah menyatakan. Di sepanjang jalan mereka bercakap-cakap, Bung Bonggas adalah ahli yang rendah hati. Dia tidak segan berhelat diskusi hangat dengan Genjo yang seorang jelata.

Continue reading “Kejahatan Tanpa Sengaja”

Berikan Aku Cinta

IMG_20170913_060639_293Berikan aku cinta untuk menyihir butiran embun menjadi intan, sesaat sebelum terhempas dari pucuk daun cempaka di pojok taman istana. Karena dengan itulah aku sanggup memamerkan kedigdayaan atau sekedar keajaiban kecil yang terselip rapi di antara tangis dan canda kelakar.

Berikan aku cinta untuk menajamkan lensa tatapanku hingga dunia berwarna warni menghadirkan gairah yang berarak bersama awan. Karena hanya dengan mencumbu warna pelangi itu, dapat kubangkitkan kejantananku yang sering bersembunyi di balik tirai-tirai norma yang membelenggu.

Berikan aku cinta untuk menjinakkan egoku yang kadang liar, membenturkan diri pada karang-karang terjal kesombongan zaman. Aku kadang lelah dan hampir menyerah dengan keluh kesah. Maka berikan aku cinta, untuk mengubah gelisah jadi rumah intelektual yang indah. Untuk menyihir kegagalan menjadi pijakan kemasyuran jalan. Karena hanya dengan bercinta dengan ego yang jinak aku bisa melahirkan cinta yang terus bertumbuh.

Pesan untuk Mahasiswa Baru

Adik-adikku, selamat memasuki dunia baru. Dunia mahasiswa. Mungkin sudah ada yang menyampaikan berita klise ini bahwa kalian adalah satu dari hanya 2% penduduk Indonesia. Kalian adalah kaum elit yang terdidik dan tentu saja itu adalah keistimewaan.

Aku yakin, di berbagai pojok kampus di seluruh Indonesia, dosen, karyawan, para senior dan alumni telah terlibat kerja keras yang serius menyambutmu. Tujuannya idealnya adalah mempersembahkan yang terbaik bagi generasi terbaik negeri ini. Persembahan istimewa bagi kaum istimewa yang berhak atas status yang dimiliki hanya oleh 2% penduduk Indonesia.

Continue reading “Pesan untuk Mahasiswa Baru”

Surat Terbuka untuk Lulusan Luar Negeri

Kisanak, masih ingatkah saat wawancara untuk mendapatkan beasiswa dulu? Kisanak dengan serius mengatakan “Indonesia memiliki berbagai masalah dan saya ingin memperbaikinya. Oleh karena itu saya harus belajar sungguh-sungguh ke luar negeri. Nanti saya akan kembali untuk menghadirkan solusi bagi permasalahan itu”. Masih ingatkah?

Mengapa kini setelah pulang, kisanak bahkan sudah stress hanya gara-gara ibu-ibu di pasar Sambilegi tidak bisa mengantri seperti ibu-ibu di pasar tumpah di Finlandia? Tidakkah Kisanak ingat, ibu-ibu di pasar Sambilegi memang tidak bisa antri sejak Kisanak belum sekolah ke luar negeri? Bukankah persoalan itu yang ingin Kisanak selesaikan?

Mengapa Kisanak gemetar badannya hanya gara-gara melihat anak muda ugal-ugalan mengendarai motor di jalanan? Bukankah mereka memang seperti itu bahkan sejak Kisanak belum wawancara beasiswa? Bukankah itu satu persoalan yang Kisanak ingin selesaikan setelah mengantongi ijazah di luar negeri?

Mengapa Kisanak menghabiskan banyak waktu mencibir trotoar kita yang tidak ramah pejalan kaki dan membandingkannya dengan trotoar di Sydney? Bukankah trotoar kita memang begitu bahkan sebelum Kisanak ikut orientasi sebagai mahasiswa baru di sebuah perguruan di Australia? Bukankah itu persoalan yang Kisanak ingin selesaikan ketika berbusa-busa di depan pewawancara?

Mengapa Kisanak menyerah hanya gara-gara teman sekantor tidak mau segera berubah mengikuti ide-ide yang Kisanak bawa dari luar negeri? Mengapa Kisanak berputus asa dan mengatakan “Sudah ta’ ajari mereka tapi aku nggak didengerin, ya sudah!”? Bukankah Kisanak tahu, hal itu memang pasti tidak mudah karena jika misalnya mudah maka Kisanak tidak akan perlu sekolah ke luar negeri karena persoalan itu pasti sudah selesai tuntas beberapa jam setelah kita merdeka.

Mengapa Kisanak menjadi begitu cemen meminta-minta agar dihargai dan diberi peran karena merasa bergelar dan berilmu tinggi? Mengapa Kisanak mudah sekali menuduh bahwa negeri ini tidak memanfaatkan keahlian Kisanak yang cemerlang? Bukankah negeri kita memang seperti itu bahkan sebelum Kisanak berangkat ke mancanegara? Mengapa tiba-tiba berharap semuanya berubah dan menyesuaikan dengan Kisanak yang baru lulus dari luar negeri? Bukankah masalah itu yang memang Kisanak ingin selesaikan seperti ketika berapi-api ingin mendapatkan beasiswa luar negeri?

Mengapa Kisanak jadi cepat lelah dan kesal menghadapi birokrasi yang berbelit seakan-akan dulu tidak demikian? Bukankah itu yang ingin Kisanak perbaiki dengan segera? Dan bukankah itu memang tidak mudah? Sangat tidak mudah.

Mengapa Kisanak cepat sekali berkeluh kesah mengatakan bahwa para senior itu tidak memberi ruang kepada yang muda? Bukankah itu memang sudah terjadi sejak Kisanak belum berniat sekolah ke luar negeri? Bukankah persoalan itu yang Kisanak maksud saat meyakinkan pewawancara agar diberi kesempatan menikmati kemewahan ilmu di perguruan tinggi mentereng dunia?

Jika hanya keluh kesah itu yang Kisanak bawa dari luar negeri, jika ijazah mancanegera itu hanya sekedar membuat Kisanak lebih lemah mentalnya dibandingkan sebelum punya ijazah, jika gelar mentereng itu hanya membuat Kisanak pandai menujukkan kelemahan negeri ini tanpa berbuat sesuatu untuk memperbaikinya, maka merdeka kita memang masih jauh. Jauh sekali.

Salam Merdeka dari Kaki Merapi

Penghargaan Pak Menteri untuk Bapak dan Meme’

SMA 3 Denpasar, Juli 1993
Aku ditarik dari lapangan oleh seorang kakak kelas, meninggalkan teman-teman lain yang masih berlatih baris berbaris. Ada perasaan berdebar-debar karena tiba-tiba namaku dipanggil lewat pengeras suara. Suasana orientasi sekolah yang penuh dengan tidak kedisiplinan membuatku sangat mudah khawatir. Apa gerangan kesalahanku dan hukuman apa yang akan aku terima? Itu yang berkecamuk di pikiranku saat berjalan menuju sebuah ruangan.

Continue reading “Penghargaan Pak Menteri untuk Bapak dan Meme’”

Wyncent Halim: Teladan Gadjah Mada dari Pematangsiantar

“Kamu tidak menggambarkan anak UGM!” kata saya berkelakar dalam salah satu percakapan kami. Wyncent Halim, mahasiswa UGM yang saya ledek, hanya meringis lalu tertawa lebar. Dia paham apa yang saya maksud.

Sore itu saya kedatangan tamu, seorang pemuda 22 tahun yang nampak klimis dan bersih. Kepada Lita, anak saya, saya berkelakar kalau pemuda ini lebih mirip anggota Boy Band Korea. Lita mengiyakan meskipun dia mati-matian tidak setuju saat saya bilang pemuda ini mirip salah satu idolanya di grup BTS.

Atas undangan saya, Wyncent berkunjung ke rumah suatu sore. Alasan utamanya, saya ingin memberi selamat secara pribadi atas keberhasilannya meraih juara 1 mahasiswa berpretasi tingkat nasional. Baginya, ini tentu jadi pencapaian yang layak dicatat. Bagi UGM, almamaternya, ini adalah sejarah. Belum pernah selama ini UGM mengukir pretasi segemilang ini di ajang pemilihan mahasiswa berprestasi nasional. Maka dari itu, Wyncent rasanya pantas saya beri perlakuan khusus.

Continue reading “Wyncent Halim: Teladan Gadjah Mada dari Pematangsiantar”