Waisak

​Sejak menjadi mahasiswa dulu, saya cukup sering terlibat diskusi lintas iman. Sejujurnya, pada awalnya, motivasinya sangat pragmatis: banyak makan-makannya. Diskusi semacam itu termasuk bagian dari UPGM, yakni Usaha Perbaikan Gizi Mahasiswa yang kere seperti saya dan teman-teman 🙂

Meskipun pada awalnya tidak berniat serius, akhirnya toh saya belajar banyak. Saya ingat suatu ketika ada cerita menarik dari seorang Biksu. Konon, di saat-saat awal tinggal di sebuah kampung, rumah beliau pernah didatangi penduduk dan dituduh telah melakukan praktik pemujaan setan. “Waktu itu kami menggunakan banyak dupa yang harum sehingga rupanya penduduk kampung mencium dan merasa terganggu. Aromanya kan seperti kemenyan” ucapnya berseloroh. Sama sekali tidak melihat kemarahan atau kebencian pada wajah Biksu itu, justru sepertinya beliau terlihat senang dan penuh kelakar saat bercerita. Sekali waktu beliau terkekeh kecil.

“Apa yang Biksu lakukan?” tanya seseorang merasa penasaran dengan respon beliau. “Saya jelaskan dengan baik bahwa ini memang cara kami berdoa. Karena dijelaskan dengan baik, para tetangga bisa memahami. Tapi saya juga mengerti keresahan mereka. Ini kan soal keyakinan dan kepercayaan. Bagi sebagian orang, asap dan aroma kemenyan memang identik dengan sesuatu yang berbau klenik. Saya kemudian berusaha mengurangi penggunaan dupa untuk menghormati para tetangga. Kini kami sudah jadi tetangga yang akrab, biasa bergurau.” Orang-orang yang mendengar cerita ini mengangguk-angguk tanda respek.
“Beberapa waktu yang lalu,” sang Biksu menambahkan, “ada tetangga yang meninggal. Saya turut kumpulan saat malam hari. Memang 90 persen lebih bapak-bapak di kampung kami itu perokok. Kepulan asap rokok memenuhi ruangan. Sebenarnya saya terganggu karena tidak biasa tetapi tidak satupun orang di ruangan itu yang terlihat terganggu, maka saya tahan. Tentu saja karena semuanya memang perokok. Mereka terlihat tenang, duduk bijaksana untuk menghibur keluarga yang baru saja dirundung duka. Kepada Pak RT yang duduk di dekat saya, yang beberapa waktu lalu ke rumah memprotes asap dupa, saya berkata ‘Pak, pantas semua tenang dan damai di kampung ini, bapak-bapak ini rajin berdoa’ dan Pak RT pun tertawa terbahak-bahak.”
Saya tidak pernah membaca Kitab Suci Umat Budhis tetapi cerita sang Biksu itu telah mengisahkan penggalan ajaran yang baik. Selamat Hari Raya Waisak 2017 sahabatku. 

PS. Tulisan ini adalah ingatan akan kejadian sekitar 20 tahun lalu, kutipan ucapan mungkin tidak persis sama.

Jika Pejabat Negara Tidak Bisa Ngomong Inggris

Dosakah jika pejabat negara tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik? Tentu saja tidak. Bahasa Inggris bukan bahasa kita. Dia juga bukan bahasa resmi di Indonesia. Bukan juga bahasa pengantar pendidikan dan penyelenggaraan negara. Semua dokumen resmi negara dalam Bahasa Indonesia. Semua siaran TV, buku, lagu dan sebagainya, hadir dalam Bahasa Indonesia juga. Tidak ada alasan mendesak untuk fasih berbahasa Inggris. Benarkah demikian?

Saya kerap menghadiri forum internasional yang mempertemukan perangkat negara dari berbagai bangsa, termasuk Indonesia. Salah satu yang pernah saya ikuti adalah Maritime Security Desktop Exercise (MSDE) yang mempertemukan para penegak hukum di laut dari berbagai negara. Hingga 20an negara turut berpartisipasi dalam sebuah acara MSDE sehingga diskusinya sangat menarik. Yang selalu menggelitik saya adalah minimnya kontribusi orang Indonesia dalam diskusi tersebut meskipun peserta terbanyak selalu dari Indonesia karena diadakan di Indonesia.

Continue reading “Jika Pejabat Negara Tidak Bisa Ngomong Inggris”

Tujuh Rahasia Presentasi yang Lebih dari Sekedar Power Point dan Animasi

Setelah menyelesaiakan presentasi, cukup sering ada pertanyaan tentang tips presentasi dari audiens. Ketika bertanya hal ini, umumnya penanya itu fokus pada tayangan presentasi yang baik, warna-warni dan animatif. Presentasi saya memang menggunakan banyak grafik, gambar dan animasi yang mungkin menjadi daya tarik bagi sebagian audiens.

Pertanyaan ini sederhana tapi jawabannya tidak. Presentasi yang baik sebenarnya adalah akumulasi dari kerja keras dan persiapan yang baik dan mungkin panjang. Satu menit presentasi yang baik adalah akumulasi dari kerja yang bisa berjam-jam lamanya. Presentasi, menurut saya, lebih dari sekedar slide yang berkilauan dan animasi yang energik. Presentasi yang baik dalam waktu semenit bisa jadi layaknya bagian dari gunung es yang muncul tapi yang tidak kelihatan sebenarnya jauh lebih besar. Semenit itu adalah puncak dari kerja keras yang sangat lama sebelumnya. Coba perhatikan video satu menit ini. Ini adalah hasil kerja keras berjam-jam. Semua yang terjadi di video ini direncanakan dengan baik. Yang terlihat seperti kecelakaan atau kebetulan tentu dipikirkan dan direncanakan dengan serius.

Berikut ini tujuh hal penting bagi presentasi yang baik:

  1. Membayangkan Presentasi. Sebelum membuat presentasi, saya selalu membayangkan proses presentasinya. Dari mana saya masuk ruangan presentasi, bentuk panggungnya, jumlah dan kondisi (pendidikan, latar belakang pengetahuan, dll) audiensnya. Semakin lengkap informasi yang saya miliki, semakin banyak dukungan yang saya punya ketika menyiapkan presentasi.
  2. Mengutamakan Visualisasi. Menyiapkan tayangan presentasi yang mengutamakan visualisasi, bukan kumpulan teks. Ini terkait dengan kebiasaan saya sendiri yang lebih mudah memahami gambar dibandingkan teks. Masalahnya, seorang presenter memang harus sangat amat paham bahan presentasinya sehingga penayangan gambar saja cukup untuk membuat dia bisa berbicara panjang lebar.
  3. Menyampaikan cerita utuh. Inti dari presentasi adalah cerita yang utuh. Slide atau tayangan adalah alat bantu untuk membuat cerita itu lebih mudah dipahami, lebih dramatis atau menjadi lebih tegas. Tayangan juga bisa menjadi alat untuk membuat bagian-bagian tertentu dari cerita kita menjadi lebih jelas/tajam. Sebagai contoh, isi slide bisa saja berupa satu kalimat kutipan dari seorang tokoh yang sedang kita ceritakan, bisa juga ‘punch line’ yang akan membuat presentasi kita menyentak atau lucu. Presentasi harus tetap bisa dibawakan tanpa slide. Ini menunjukkan bahwa presentasi sudah berbentuk cerita utuh. Jika kamu batal presentasi atau memberi kuliah hanya gara-gara listrik mati dan tidak bisa menayangkan power point, artinya kamu belum menguasai cerita utuh dari presentasi itu.
  4. Dimulai dengan cerita diikuti tayangan. Presentasi yang baik dimulai dengan merancang cerita lalu dilanjutkan dengan membuat tayangan/ visualisasinya, bukan sebaliknya. Sering sekali kita membuka power point dan menghadapi slide kosong lalu berpikir mau membuat apa. Menurut saya ini langkah yang kurang tepat. Kita harus merancang ceritanya dulu baru membuka power point untuk membuat tayangan yang mendukung cerita yang sudah kita buat sebelumnya. Lebih baik lagi jika rancangan cerita itu sudah berupa naskah yang lengkap dari awal sampai akhir. Berdasarkan cerita utuh itu kita bisa membaginya menjadi beberapa slides dan mengisi slide tersebut dengan visualisasi yang tepat.
  5. Menjadi orang awam. Mencoba menjadi orang awam adalah langkah penting dalam merancang dan membawakan presentasi. Jika kita berhasil menjadi orang awam maka kita bisa menyampaikan perkara dengan sistematika yang sederhana dan mudah dipahami. Hal ini terkait dengan urutan penyampaian informasi, penekanan pada poin tertentu, pemilihan kosakata, dan sebagainya.
  6. Berlatih. Kita perlu berlatih untuk menyingkronkan antara cerita verbal dengan visualisasi. Idealnya, presentasinya muncul dalam bentuk cerita yang mengalir dan tayangan slide berjalan dinamis mengikuti alur cerita. Oleh karena itu seorang presenter sebaiknya tahu betul apa yang mau dikatakannya lalu tahu betul kapan saatnya memindahkan slide atau memunculkan suatu obyek tertentu dalam bentuk animasi atau sekedar kemunculan sebuah penjelasan. Sering kali kita melihat presenter memindahkan slide-nya dulu lalu diam beberapa saat sambil melihat slide itu, bahkan ada yang seperti terkejut seakan-anak slide itu sesuatu yang asing. Jika itu terjadi, artinya dia belum menguasai presentasinya. Jika saya belum sempat memahami presentasi saya atau membawakan presentasi yang dibuatkan oleh orang lain, kadang ini juga saya alami. Oleh kerena itu, berlatih itu penting sekali.
  7. Presentasi adalah acting. Seperti acting, yang bagus adalah yang alami. Meskipun kita telah menghafalkan dan berlatih sekuat tenaga, pada akhirnya kita harus tampil alami. Maka dari itu, salah satu tujuan dari latihan yang keras dan sering adalah agar kita bisa tampil alami. Sangat tidak elok kalau kita terlihat menghafalkan kalimat tertentu, apalagi mengucapkanya seperti membaca. Jika demikian, kamu akan terdengar seperti melakukan dialog Sinetron India yang di-dubbing orang Indonesia.

Saya selalu menganggap presentasi itu penting. Sangat penting. Presentasi yang berdurasi lima menit, jika dipersiapkan dan dibawakan dengan baik, akan menghadirkan kesempatan lain yang lebih besar. Rejeki, kesempatan dan bahkan jodoh, bisa jadi hadir karena sebuah presentasi. Jangan abaikan!

Mobil Mogok

Matahari terik, tepat di atas kepala ketika mobil kami tiba-tiba mati dan tidak bisa dihidupkan di Jalan Sudirman di depan BCA, Yogyakarta. Kami yang menuju tempat kondangan pernikahan jadi panik. Saya coba hidupkan berkali-kali tidak berhasil. Sementara itu, mobil di belakang kami mulai tidak sabar. Satu per satu dari barisan mobil itu membunyikan klakson mereka. Makin lama makin tidak sabar dan kian liar. Lengkingan suara klakson itu membuat kami makin panik.

Continue reading “Mobil Mogok”

​Murah mencela mahal memuji: Inspirasi dari sebuah proyektor yang mati

Tadi saat memberi kuliah Penetapan dan Penegasan Batas Wilayah (PPBW) di Teknik Geodesi UGM, ada kendala pada projektor. Setelah berusaha mengatasi dan tidak bisa, saya berkata “ada yang bisa membantu?”. Semenit ditunggu, tidak ada yang maju. Dua menit ditunggu, tidak juga ada yang maju.

“Gimana, ada yang mau bantu?” tanya saya sambil tersenyum, kini dengan menatap mereka semua. Terdengar suara lirih ragu-ragu menyebut nama seseorang diikuti derai tawa khas mahasiswa. Ini biasa terjadi, selalu ada seseorang di kelas yang menjadi ‘bulan-bulanan’ dan orang itu biasanya baik hati, sabar dan tidak sombong.

Masih dalam suasana santai, saya jadi tertarik mengeksplorasi suasana itu lebih serius. “Kenapa tidak ada yang maju ya?” tanya saya setengah tertawa. “Takut kalau tidak bisa ya? Kan tidak apa-apa, kalian bukan teknisi.” saya lanjutkan. “Takut malu ya?” tanya saya lagi. Mereka mulai saling lihat dan mengiyakan. “Takut tidak bisa memenuhi harapan” kata seseorang. “Takut mengecewakan Pak” kata yang lain lagi. Saya kian tertarik.

“Okay, sekarang gini. Seandainya saya minta kalian keluar semua dan hanya satu saja yang ada di kelas. Misalnya kamu” kata saya sambil menunjuk seorang mahasiswi. “Jika saya ada masalah seperti ini dan minta tolong, apakah kamu akan maju membantu.” Dia menjawab dengan mantap “saya maju dan akan melihat apakah saya bisa bantu.” “Bukankah kamu orang yang sama. Kemampuanmu sama saja. Kenapa sekarang mau maju tapi ketika rame, kamu tidak mau maju?” Mahasiswa ini tersenyum dan tawa kecil terdengar di ruangan.

“Saya tahu. Kalian takut terlihat memalukan.” Seluruh kelas nampaknya setuju dengan teori saya. “Tahu apa sebabnya?” mendadak saya pura-pura ahli psikologi. Semua orang diam. Mungkin ada sesuatu berkecamuk di kepala mereka. “Karena kalian dibesarkan di tengah-tengah situasi dengan orang-orang yang terbiasa menghina mereka yang melakukan kesalahan atau gagal.” Mereka serentak membenarkan. “Kalian terbiasa sejak TK menertawakan orang yang salah atau gagal dan itu menjadi hal yang diterima umum. Lebih parah lagi, kalian tidak dibiasakan memuji orang yang melakukan kebaikan atau keberhasilan. Sebagian besar dari kita terbiasa mengolok-olok orang yang salah atau keliru tetapi tidak mengapresiasi mereka yang berhasil.”

Suasana kelas jadi sedikit serius. Kebanyakan dari mereka manggut-manggut. Saya tahu, masing-masing orang berpikir dan merenung. Entah mereka setuju, entah tidak. Saya lanjutkan sambil tersenyum, “kalian tidak mau maju karena takut dengan sifat dan kebiasan kalian sendiri.” Mereka tersenyum-senyum penuh makna.

“Menurut saya, yang perlu dikuatkan di lingkungan kita adalah kebiasaan mengapresiasi dan menghilangkan kebiasaan menghina dan mengolok-olok. Coba praktikkan formula 3 + 1. Tiga kali memuji dan sekali mengkritik sambil memberi masukan. Di kelas saya, tidak perlu ada orang yang mengolok-olok teman yang membuat kekeliruan.” Kelas kemudian berakhir, kali ini tidak dengan materi PPBW 🙂

Galungan Hari ini, Masih di Tegaljadi

Jalan kami tak diukir lagi. Rupanya Ibu Bupati sudah peduli dan jalan desa kini rapi jali. Lihatlah penjor-penjor yang menuju langit dan melengkung lalu menukik turun seakan mengajarkan bahwa yang menjulang toh akhirnya akan merunduk. Maka penjor mengingatkan, kesombongan itu hanya milik orang-orang yang lemah dan gamang menentukan jati dirinya. Di Desa Tegaljadi, saat Galungan ini, pelajaran hadir lewat penjor, asap dupa yang mengepul, sanggah dari anyaman bambu yang berselempang kain kasa putih kuning atau ceniga yang menjuntai memamerkan rias-rias sakral untuk ritual.

Continue reading “Galungan Hari ini, Masih di Tegaljadi”

Buku Ini Budi

Sambil menunggu waktu rapat di Ruang Rapat Sekjen Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti), saya sempat mampir ke sebuah direktorat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Di sebuah lorong, saya berhenti di dekat sebuah rak yang memajang beberapa buku hasil karya Kemendikbud, terutama Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Bagian ini mengelola keterlibatan orang tua dalam pendidikan bagi anak didik di Indonesia, sebuah direktorat yang relatif baru.

Continue reading “Buku Ini Budi”