Antara Isteri, Skripsi, dan Toleransi

Hari Rabu selalu penuh perjuangan. Selepas mengajar tiga kelas dari jam 9.30 sampai jam 5 sore, saya masih harus bercengkerama dengan bimbingan skripsi dan tesis. Hari ini adalah salah satu dari hari yang penuh tantangan itu. Here I am, menghadapi empat orang mahasiswa yang setengah desperate karena sisa waktu kian menipis.

Continue reading “Antara Isteri, Skripsi, dan Toleransi”

Advertisements

Orang Seperti Apa yang Dicari oleh Pewawancara?

Suatu hari ada seorang mahasiswa bertanya pada saya terkait seleksi kerja atau beasiswa “orang seperti apa yang Bapak cari ketika mewawancarai seorang kandidat?” Setelah berpikir agak lama, saya mengatakan “orang yang bisa menggabungkan kepercayaan diri dan kerendahan hati dengan baik”. Saya jelaskan dalam 7 butir berikut.

Continue reading “Orang Seperti Apa yang Dicari oleh Pewawancara?”

Cinta ‘kan Membawa Kita Kembali

Aku mengatakan “tidak takut” dengan ketegasan sikap, sama sekali bukan karena angkuh, apalagi jumawa dan merasa tak tersentuh mara bahaya. Sama sekali tidak. Aku mengatakan “tidak takut” karena aku mencintai nuraniku dan menyayangi kehidupan. Takut hanya akan membunuh kesempatanku untuk bersahabat dengan nurani dan merayakan kehidupan. Terror boleh ditebar tapi keresahan adalah perihal keputusan. Mengutip kalimat Cypher Raige di After Earth, bahaya memang nyata, tetapi rasa takut adalah soal pilihan dan aku memutuskan untuk tidak takut.

Continue reading “Cinta ‘kan Membawa Kita Kembali”

Menyingkap Rahasia Beasiswa Australia

Saya tidak bisa menjamin Anda bisa mendapatkan beasiswa Australia. Memang tidak ada yang bisa. Bersyukur, saya mendapatkan tiga Beasiswa Australia dalam hidup saya: ADS, ALA dan ASA. Saya belajar di dua perguruan tinggi Australia dan menikmaati susah senang hidup di Negeri Kangguru itu selama kurang lebih satu dekade. Waktu sepuluh tahun sudah cukup untuk mengenal banyak hal.

Continue reading “Menyingkap Rahasia Beasiswa Australia”

“For Andi”

Ada perasaan aneh ketika saya memasuki ruangan Prof. Clive Shofield di Gedung ANCORS, University of Wollongong. Rasa yang dulu pernah ada, terkait erat dengan kekhawatiran akan masa depan S3 saya, seperti muncul lagi. Pertanyaan klise yang mengerikan selalu muncul ketika itu: bisa lulus nggak? Kini setelah beberapa tahun berlalu sejak ijazah saya dapatkan, perasaan itu seperti menghampiri lagi.

So, where is your chapter 4?” kata Clive berkelakar namun sanggup membangkitkan desiran aneh di tubuh saya. Memang ada bagian-bagian traumatik dalam perjalanan meraih gelar doktor. Harus diakui. Clive tahu betul, kalimat-kalimat tertentu memang bisa mengingatkan saya pada masa perjuangan di masa lalu. Saya tertawa mendengar kelakar itu. “Really?” kata saya menyambut, “from what I remember, you didn’t ask me about my thesis at the beginning of our conversation. You touched the thesis issue only when I was about to disappear while the door was closing.” Kami berdua tertawa. Mungkin banyak mahasiswa PhD yang tidak tahu kalau percakapan mahasiswa dan pembimbingnya sering kali atau lebih sering tidak terkait dengan thesisnya. Ingatan saya melayang lagi ke masa lalu.

So what brought you Down Under?” tanya Clive penasaran. Saya pun jelaskan duduk perkaranya, saya ada di Sydney sebagai anggota delegasi RI untuk Indonesia-Australia Dialogue. Dan blah blah blah, tidak begitu penting. Di menit-menit berikutnya saya sampaikan pandangan saya tentang perjanjian batas maritim antara Australia dan Timor Leste lalu bagaimana Indonesia merespon itu. “I need to present something” kata saya sambil menyiapkan laptop. “I know you will not function well without your animation” katanya penuh pemahaman. Maka tenggelamlah kami dalam diskusi.

Hey, how much do I owe you for maps?” tanyanya tiba-tiba. “Well I don’t know, I don’t calculate it anymore” kata saya setengah ragu karena tidak menyangka dia akan bertanya seperti itu. Saya memang membuat banyak peta untuk dia selama ini, seperti halnya yang saya lakukan ketika menjadi mahasiswanya dulu. Biasanya dia bayar tetapi belakangan saya tidak menghitungnya lagi. “Well just give me a return ticket to Sweden, I will forget everything” kata saya berkelakar. Clive memang akan mendapatkan pekerjaan baru di World Maritime University di Swedia dan tentu menyenangkan jika bisa bekerja sama dan berkunjung ke sana.

How about these?” katanya sambil mengangkat setumpuk buku berwarna merah. Mata saya nanar, setengah tidak percaya. Tumpukan buku itu adalah “International Maritim Boundaries”, dan merupakan ‘The Bible’ bagi penekun batas maritim internasional. Di buku itulah semua batas maritim dunia dicatat dan dibabahas. Ada tujuh buku sejak volume pertama dan harganya mahal sekali. Empat belas tahun menekuni bidang ini, belum terbeli juga buku itu. Alasan pertama, harganya mahal sekali, alasan kedua, buku itu selalu tersedia di perpustakaan atau bisa saya pinjam dari Clive. Kenyamanan memang bisa menghambat perjuangan.

Really?” tanya saya hampir tak percaya melihat enam buku merah itu. “For you!” katanya pelan tapi tegas. Dia tahu perasaan saya. “Oh I cannot thank you enough” lanjut saya sambil mencoba mengumpulkan kesadaran dan takut kalau-kalau itu bukan kenyataan. Saya tahu, jika harus membeli maka harga yang saya bayar lebih dari USD 3000. Betul, tiga ribu Dolar Amerika Serikat! Jumlah yang sangat besar untuk enam buah buku. Tak berlebihan jika saya terharu.

Ingatan saya melayang ke 14 tahun lalu. Saya ingat, ketika pertama kali datang ke Australia sebagai mahasiswa yang baru saja memulai hidup, saya berjalan menuju ruangan Clive sesuai permintaannya. Di depan ruangan itu saya melihat sebuah kardus bekas yang berisi piring, sendok, garpu, gelas dan alat masak lainnya. Perasaan saya hari ini mirip dengan perasaan ketika melihat selembar kertas putih di kardus itu yang bertuliskan “for Andi”.

Padang Rumput di Depan Perpustakaan

Matahari menikam namun tak sanggup membuat murid-murid padepokan beranjak pergin. Sinarnya tak cukup tajam untuk mengganggu apalagi membuhuh gairah para muda yang bersenda gurau. Mereka duduk-duduk penuh kelakar, seakan tak peduli pada matahari yang berusaha sekuat tenaga hingga setengah putus asa. Mereka menikmati.

Aku duduk tanpa alas, tepat di atas rumput tipis yang hijau menghampar. Kupilih bagian yang dilindungi bayangan pohon peneduh di pinggir lapangan. Aku tak semuda mereka. Aku seorang lelaki dari bumi tropis yang memang tak perlu berpeluh di terik matahari untuk alasan kesenangan, apalagi life style. Tidak perlu.

Continue reading “Padang Rumput di Depan Perpustakaan”

Lelaki Misterius di Pinggir Kolam Renang

Sore tadi kami berenang sekeluarga. Ada Asti, Lita dan Ibu saya yang baru belajar berenang untuk terapi. Ketika kami tiba, ada beberapa orang yang berenang namun satu per satu meninggalkan lokasi. Tak lama kemudian petugas mematikan mesin sehingga kolam renang menjadi tenang tanpa suara gemuruh, tanpa ada aliran air yang menyembur seperti sebelumnya. Suasana tenang, dan tiba-tiba saya baru sadar kalau hanya kami berempat yang menikmati kolam renang itu. Seorang perempuan yang duduk di suatu pojok tadi juga raib entah ke mana.

Continue reading “Lelaki Misterius di Pinggir Kolam Renang”