Islam in My Eyes

Muslim friends praying at our home during their visit.

.

I am a Hindu. I was born in Bali where Hindu is the major religion. Since 1996 I have lived outside Bali. I know precisely how it feels to be a part of a minority group of religion. I have learned a lot and continue to do so. My friends are mostly Muslims.

.

When I was a student at Universitas Gadjah Mada, I had a close friend who was an activist and chairman of an Islamic student organization on campus. We worked well together. I once helped him made a ‘wall magazine’ and a bulletin board for the Islamic organization. It was fun that I had to create Arabic calligraphy without me understanding anything. Nevertheless, I enjoyed it and I received a lot of appreciation. He remains a good friend until today.

Continue reading “Islam in My Eyes”

Advertisements

Aku dan (orang) Islam

Sejak tahun 1996 aku tinggal di luar Bali, tahu rasanya menjadi bagian dari kelompok yang anggotanya sedikit dari segi agama. Aku banyak belajar. Temanku kebanyakan Muslim.

Aku berkawan dengan seorang aktivis dan ketua organisasi Islam di kampus, kami bekerja sama dengan baik. Aku pernah membuatkan majalah dinding dan papan pengumuman untuk organisasi Islam itu. Sangat menyenangkan, banyak apresiasi.

Continue reading “Aku dan (orang) Islam”

Biar Kuliahnya Ngga Gitu-gitu Aja

“3 kata untuk I Made Andi Arsana”

Kuliah yang baik adalah yang interaktif. Masalahnya, tiap kali ditanya, mahasiswa anteng2 aja. Tiba2 jadi pendiam. Gimana solusinya? Lakukan interaksi yang anonim dengan cara yang akrab sama mereka. Gunakan HP.

Misal kita ingin mengetahui pandangan mahasiswa terkait mata kuliah kita. Misal kita mau tanya “apa hal pertama yang muncul ketika mendengar mata kuliah ini?”

1. Pakai Google Docs (Form dan Sheet) (docs.google.com)

Buat google Form dengan satu pertanyaan di atas. Selanjutnya kirim link form ini ke grup WA/Line mahasiswa saat ngajar sehingga mereka langsung bisa buka di HP masing2. Minta mereka mengisi. Karena tanpa nama, biasanya semua mau ngisi. Gimana? Nggak tahu cara bikin Google Form? Hmmm

Di saat yang sama, tampilkan hasil jawaban mereka di Google Sheet yang menampilkan hasil/respon Google Form. Setiap ada yang menjawab, maka hasilnya tampil di layar. Mahasiswa merasa terlibat dan ‘excited’ karena mereka melihat jawaban mereka tampil tapi tidak malu karena tidak ada yang tahu. Akhirnya banyak yang menjawab dg lebih ‘berani’ dan kreatif. Kelas bisa jadi seru penuh tawa.

2. Pakai Mentimeter (mentimeter.com)

Login ke Mentimeter (bisa pakai FB atau bikin akun sendiri) dan buat sebuah slide interaksi. Intinya dg Mentimeter ini, kita akan bikin slide tapi isinya merupakan sumbangan para mahasiswa kita. Misal buat slide dengan pertanyaan “kesan tentang kuliah ini” dan beri kesempatan mereka menulis 3 kata. Setelah rancangan slide jadi, kirim link ke grup WA/Line mahasiswa sehingga mereka langsung bisa mengisi.

Hasil isian mereka bisa ditampilkan dalam bentuk word cloud di slide yang kita rancang tadi. Tampilkan itu pada saat mereka mengisi sehingga semua orang bisa melihat kontribusi mereka tapi anonim. Seperti layaknya word clud, kata yang paling sering muncul akan tampil paling besar.

Kedua model di atas juga bisa dipakai untuk kuis, evaluasi pemahaman materi, dan tanya jawab lainnya. Di kelas saya yang jumlah mahasiswanya 70 orang, partisipasinya bisa lebih dari 100. Sakti bener hehe. Selamat mencoba.

I Made Andi Arsana

Teknik Geodesi UGM

PS. Metode di atas saya contek dari Pak Nurcahyadi, GM Hyatt Jogja dan Pak Irwan Endrayanto (MIPA UGM).

Tipuan-Tipuan di Media Sosial

Saya bertemu seorang kawan yang begitu hebat. Sudah lebih dari lima tahun saya mengenalnya dan kekaguman saya tidak berhenti. Hal lain yang juga saya kagumi dari dia adalah keluarganya yang begitu istimewa. Istrinya sangat mendukung dan bijaksana dan kedua anaknya yang pintar dan ceria. Tentu saja semua itu saya ketahui dari ungahan-ungahannya di Facebook. Kami memang terpisah benua.

Continue reading “Tipuan-Tipuan di Media Sosial”

15 Tahun Ngeblog

Adalah sebuah posting dari seorang kawan, di milis kami, para penerima beasiswa ADS, yang menjadi titik awal. Posting itu tentang Enda Nasution, seorang blogger, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Blogger Indonesia. Saya sendiri tidak tahu apa itu blog.

Continue reading “15 Tahun Ngeblog”

Mungkinkah aku mendapatkan Beasiswa AAS 2020?

Tanggal 1 Februari 2019, pendaftaran Beasiswa Australia Awards Scholarship untuk keberangkatan tahun 2020 sudah resmi dibuka. Bagi banyak orang, ini tentu berita yang sudah lama ditunggu-tunggu. Bagi sebagian lainnya, berita ini mungkin asing dan baru. Bagi teman-teman yang sudah membaca madeandi.com sejak lama mungkin sudah tahu apa itu Beasiswa AAS. Mungkin juga sudah ada yang tahu, saya telah menulis Buku “Berguru ke Negeri Kangguru” yang kini bermanifesrasi menjadi buku “Rahasia Beasiswa Australia”.

Continue reading “Mungkinkah aku mendapatkan Beasiswa AAS 2020?”

Milly dan Mamet: Memang bukan Rangga dan Cinta

Kepercayaan saya tumbuh kepada dunia perfilman Indonesia ketika Petualangan Sherina muncul di tahun 2000. Setelah sekian lama mengalami masa kegelapan yang begitu suram, film besutan Riri Riza itu hadir sebagai penyelamat. Dan tumbuhnya kepercayaan itu kemudian dikukuhkan dengan lahirnya Ada Apa dengan Cinta (AADC). Selera saya akan film Indonesia muncul atau lebih tepatnya lahir kembali bersama AADC. Jangan salahkan jika kemudian AADC menjadi standard kualitas film dalan pikiran dan terutama imajinasi saya. Jangan salahkan juga jika Dian Sastro menjadi standard kecantikan dan keindahan perempuan di mata saya.

Continue reading “Milly dan Mamet: Memang bukan Rangga dan Cinta”