Cerita dari Tiongkok

Seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada menghubungi saya, namanya Angelo Wijaya. Dia merekomendasikan saya kepada panitia untuk jadi pembicara di Tsinghua University, Tiongkok yang digelar Students Association of Belt and Road. Rupanya interaksi dan dukungan2 kecil yang saya berikan ke Angelo membuat dia mengambil keputusan itu.

Continue reading “Cerita dari Tiongkok”

Advertisements

Seteru Indonesia dengan Vietnam di Laut China Selatan

Dan terjadi lagi. Belum sebulan berlalu sejak insiden di Selat Malaka, insiden di laut terjadi lagi. Kali ini melibatkan kapal Indonesia dengan Vietnam di Laut China Selatan. Menurut sebuah video amatir, sebuah kapal penjaga pantai Vietnam menabrak kapal Indonesia di perairan dekat Kepulauan Natuna.

Menurut berita, ada kapal Vietnam yang menangkap ikan di Kawasan tersebut dan ditangkap oleh petugas Indonesia. Kapal petugas Vietnam datang dan menabrak kapal Indonesia. Menteri Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa insiden itu terjadi di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia dan kapal nelayan Vietnam itu melakukan pencurian ikan.

Harus dipahami lagi konsep Hukum Laut Internasional. Setiap negara berhak atas ruang laut dengan ukuran sesuai dengan ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Hak ini meliputi dasar laut (landas kontinen) dan air laut dengan ketentuan masing-masing. Untuk air laut, misalnya, sebuah negara berhak hingga 200 mil laut ZEE yang diukur dari garis pantai atau garis pangkalnya.

Jika jarak dua negara kurang dari dua kali 200 mil laut artinya akan ada tumpang tindih hak baik untuk dasar laut maupun air lait. Di sinilah dua negara harus berbagi. Indonesia dan Vietnam sudah berbagi dasar laut dengan kesepakatan tahun 2003. Sayangnya keduanya belum sepakat soal batas air laut (ZEE). Landas kontinen (dasar laut) dan ZEE (air laut) memang dua rejim berbeda yang diatur dengan pasal hukum berbeda di UNCLOS. Wajar jika penetapan batasnya tidak bersamaan.

Menariknya, meskipun belum sepakat batas ZEE, Indonesia dan Vietnam sama-sama telah mengajukan usulan garis batas sepihak. Dengan memperhatikan kaidah-kaidah di UNCLOS, Indonesia mengusulkan garis batas air laut yang berbeda dengan garis batas dasar laut. Sementara itu, Vietnam mengusulkan garis batas air laut yang sama dengan garis batas dasar laut. Garis usulan ini berbeda dan mengakibatkan adanya ruang air laut yang sama-sama diinginkan oleh kedua negara. Ini menjadi klaim tumpang tindih.

Pasal 74 UNCLOS mengatakan bahwa jika terjadi tumpang tindih hak ZEE maka kedua negara harus mengusahakan solusi yang adil bagi kedua negara. Istilah yang dipakai adalah “solusi yang adil” tanpa menjelaskan metode teknis yang harus digunakan. Pasal itu, misalnya, tidak mengatakan harus sama jarak atau harus menghasilkan luas lautan yang sama. Maka dari itu, masing-masing memiliki interpretasi sendiri-sendiri yang berakibat pada berlarut-larutnya perundingan batas maritim.

Singkatnya, ada ruang laut ‘abu-abu’ di antara Indonesia dan Vietnam yang diinginkan keduanya. Idealnya, masing-masing negara tidak melakukan pemanfaatan sumberdaya alam di sana. Jika salah satu melakukannya maka pihak lain tidak akan membiarkannya. Inilah yang terjadi pada insiden antara Indonesia dan Vietnam. Indonesia tentu menganggap kedatangan Vietnam untuk menangkap ikan di kawasan tumpang tindih itu sebagai kesalahan. Masalahnya, jika Indonesia datang ke kawasan itu untuk menegakkan hukum maka pertannyaan dan tuduhan yang sama juga akan dialamatkan ke Indonesia.

Solusinya apa? Jika belum berhasil disepakati batas maritimnya, sebaiknya Indonesia dan Vietnam menyepakati mekanisme kerja sama di kawasan tumpang tindih tersebut. Hal ini telah dilakukan oleh Indonesia dan Malaysia dengan MoU tahun 2012. Salah satunya adalah perlakuan terhadap nelayan di kawasan tersebut dengan baik. Solusi paling penting tentu saja mempercepat penetapan batas ZEE kedua negara. Negosiasinya perlu diintensifkan dan kedua negara harus sadar bahwa batas maritim adalah kesepakatan hasil kompromi. Jika semua pihak bertahan pada usulannya, kesepakatan tidak akan pernah tercapai.

Ada tiga hal yang penting dari insiden ini. Pertama, Vietnam seharusnya tidak melakukan penangkapan ikan di kawasan tumpang tindih dan Indonesiapun tidak memiliki hak penegakan hukum di kawasan tersebut. Kedua, penindakan atas pencuri ikan tetap harus dilakukan pada kawasan yang sudah jelas status batas wilayah dan yurisdiksinya. Pada kawasan yang batasnya belum jelas, pendekatannya harusnya berbeda. Ketiga, batas maritim harus dipercepat penetapannya demi pertetanggaan yang baik. Seperti kata Robert Frost, “good fences make good neighbors”.

 

Menyingkap Misteri ‘Provokasi’ Kapal Malaysia di Selat Malaka

Pada tanggal 9 April 2019 beredar video kapal Indonesia yang nampak sedang berkejaran dengan kapal patroli Malaysia di Selat Malaka. Menurut video, kapal Malaysia mengusir atau memprovokasi kapal Indonesia di perairan Indonesia. Dari berita, hal ini terjadi setelah patroli Indonesia menangkap kapal nelayan Malaysia yang dianggap beroperasi di perairan Indonesia. Apakah yang terjadi?

Continue reading “Menyingkap Misteri ‘Provokasi’ Kapal Malaysia di Selat Malaka”

Quick Count dan Mencicipi Lawar

lawar.jpgBiasanya ibu saya bertanya soal pemilu. Lima tahun lalu beliau bertanya soal quick count, exit poll dan survei. Tidak mudah menjelaskan itu kepada seseorang yang hanya lulus SD di tahun 1960an tapi toh tetap harus saya lakukan. Jika saya, orang sekolahan yang sudah menghabiskan begitu banyak uang rakyat dunia untuk pendidikan, tidak bisa menjelaskan hal ini kepada ibu saya, tentu kepercayaan beliau terhadap pendidikan bisa runtuh.

Continue reading “Quick Count dan Mencicipi Lawar”

Islam in My Eyes

Muslim friends praying at our home during their visit.

.

I am a Hindu. I was born in Bali where Hindu is the major religion. Since 1996 I have lived outside Bali. I know precisely how it feels to be a part of a minority group of religion. I have learned a lot and continue to do so. My friends are mostly Muslims.

.

When I was a student at Universitas Gadjah Mada, I had a close friend who was an activist and chairman of an Islamic student organization on campus. We worked well together. I once helped him made a ‘wall magazine’ and a bulletin board for the Islamic organization. It was fun that I had to create Arabic calligraphy without me understanding anything. Nevertheless, I enjoyed it and I received a lot of appreciation. He remains a good friend until today.

Continue reading “Islam in My Eyes”

Aku dan (orang) Islam

Sejak tahun 1996 aku tinggal di luar Bali, tahu rasanya menjadi bagian dari kelompok yang anggotanya sedikit dari segi agama. Aku banyak belajar. Temanku kebanyakan Muslim.

Aku berkawan dengan seorang aktivis dan ketua organisasi Islam di kampus, kami bekerja sama dengan baik. Aku pernah membuatkan majalah dinding dan papan pengumuman untuk organisasi Islam itu. Sangat menyenangkan, banyak apresiasi.

Continue reading “Aku dan (orang) Islam”

Biar Kuliahnya Ngga Gitu-gitu Aja

“3 kata untuk I Made Andi Arsana”

Kuliah yang baik adalah yang interaktif. Masalahnya, tiap kali ditanya, mahasiswa anteng2 aja. Tiba2 jadi pendiam. Gimana solusinya? Lakukan interaksi yang anonim dengan cara yang akrab sama mereka. Gunakan HP.

Misal kita ingin mengetahui pandangan mahasiswa terkait mata kuliah kita. Misal kita mau tanya “apa hal pertama yang muncul ketika mendengar mata kuliah ini?”

1. Pakai Google Docs (Form dan Sheet) (docs.google.com)

Buat google Form dengan satu pertanyaan di atas. Selanjutnya kirim link form ini ke grup WA/Line mahasiswa saat ngajar sehingga mereka langsung bisa buka di HP masing2. Minta mereka mengisi. Karena tanpa nama, biasanya semua mau ngisi. Gimana? Nggak tahu cara bikin Google Form? Hmmm

Di saat yang sama, tampilkan hasil jawaban mereka di Google Sheet yang menampilkan hasil/respon Google Form. Setiap ada yang menjawab, maka hasilnya tampil di layar. Mahasiswa merasa terlibat dan ‘excited’ karena mereka melihat jawaban mereka tampil tapi tidak malu karena tidak ada yang tahu. Akhirnya banyak yang menjawab dg lebih ‘berani’ dan kreatif. Kelas bisa jadi seru penuh tawa.

2. Pakai Mentimeter (mentimeter.com)

Login ke Mentimeter (bisa pakai FB atau bikin akun sendiri) dan buat sebuah slide interaksi. Intinya dg Mentimeter ini, kita akan bikin slide tapi isinya merupakan sumbangan para mahasiswa kita. Misal buat slide dengan pertanyaan “kesan tentang kuliah ini” dan beri kesempatan mereka menulis 3 kata. Setelah rancangan slide jadi, kirim link ke grup WA/Line mahasiswa sehingga mereka langsung bisa mengisi.

Hasil isian mereka bisa ditampilkan dalam bentuk word cloud di slide yang kita rancang tadi. Tampilkan itu pada saat mereka mengisi sehingga semua orang bisa melihat kontribusi mereka tapi anonim. Seperti layaknya word clud, kata yang paling sering muncul akan tampil paling besar.

Kedua model di atas juga bisa dipakai untuk kuis, evaluasi pemahaman materi, dan tanya jawab lainnya. Di kelas saya yang jumlah mahasiswanya 70 orang, partisipasinya bisa lebih dari 100. Sakti bener hehe. Selamat mencoba.

I Made Andi Arsana

Teknik Geodesi UGM

PS. Metode di atas saya contek dari Pak Nurcahyadi, GM Hyatt Jogja dan Pak Irwan Endrayanto (MIPA UGM).