Restoran

Table fourteen ready for main, please!” Jo berteriak sambil menggotong tumpukan piring dan mangkok kotor di tangannya. Digeletakkannya piring dan mangkok itu di atas meja aluminium di sebelahku. Suara berisik menyentak seiring sendok dan garpu yang berserakan di atas meja. Tak sempat kuperhatikan lebih lama, tanganku sedang tak boleh berhenti menggosok ember plastik putih yang licin karena minyak. Air hangat cenderung panas mengalir dari keran membantuku mengenyahkan minyak yang susah pergi.

Continue reading “Restoran”

Indon yang Kafir

Aku tidak suka dipanggil Indon, terutama oleh orang Malaysia. Menurutku, pada panggilan ini ada sentimen merendahkan, menuduh bodoh dan menghina. Dipanggil Indon, sama dengan dihina. Dipanggil Indon, sama dengan diremehkan dan direndahkan martabatnya secara terang-terangan di siang bolong. Apapun katanya, aku tidak sudi dipanggil Indon. Itu prinsipku sejak dulu, sejak pertama kali mendengar kata Indon yang kutahu ditujukan kepada para pekerja rumah tangga dari Indonesia yang memperjuangkan hidupnya di negeri jiran Malaysia. Singkatnya, aku tidak terima.

Continue reading “Indon yang Kafir”

Melawat Malioboro

Kawan, ikutlah bersamaku, melawat Malioboro yang tak jauh dari Istana Raja. Kita akan mengenang serpihan-serpihan catatan lama yang sebagian telah poranda oleh waktu yang menua. Berjalanlah di sampingku, menyusuri gelaran pejalan kaki yang kini lapang terawat sambil menikmati senyum para pelawat. Mari beringsut di bawah tikaman matahari pagi yang jinak, jadi penghangat kita yang bergegas semangat.

Duduklah di bangku yang dipoles halus terpentin dan berangka baja yang berukir lekukan nuansa Jogja. Mari berdekatan karena kita kan abadikan potret diri dengan kilatan cahaya sebuah piranti cendikia, hasil rakitan para kerabat di Tiongkok. Relakan diri menjadi generasi beringatan pendek yang tak cukup menyimpan kenangan dalam hati dan pikiran belaka. Kita akan abadikan dalam berkas-berkas cahaya lalu kita titipkan kenangan itu di gumpalan-gumpalan awan yang tersimpan rapi di kotak-kotak penyimpan di Israel atau negeri Mahabaratha. Kelak, generasi penerus akan melihatnya karena gumpalan awan itu abadi, bertahan lebih lama bahkan dari jazad kita yang akan segera terurai dan manunggal dengan semesta.

maliboro1

Mari menyusuri hingar-bingar suasana dengan kereta dipandu Pak Kusir yang matanya berbinar. Ikutilah langkah sepatu kuda yang mengetuk jalanan dengan dendangan. Duduklah di dekatku dan rasakan gelihat para pedangang kaki lima yang tak lelah menjajakan penganan atau segelas teh manis yang menggelincirkan air liurmu. Nikmatilah senda gurau kerabat Tionghoa yang telah menjadi Jawa sejak lampau. Dengarlah, mereka tak pernah lupa merayu kita yang kemudian rela menukar nikmat keringat dengan sepasang sandal dari pelepah gedebong pisang. Atau sekibas kipas dari rautan cendana yang pipih menawan hati.

Saat lelah, benamkan diri di pojok bangku yang tengah galau melamunkan masa depan. Sambil setengah terlelap, saksikanlah seorang bocah yang menawarkan sale pisang kepok di tangannya. Jangan harap kita tak hirau karena dari balik jilbab lusuhnya akan meluncur kata-kata mengharu biru membuat kita iba. Maka selembar sepuluh ribu akan meluncur keluar berganti dengan senyum simpul gadis belia merafalkan “matur nuwun”.

Coba perhatikan tak jauh dari dudukmu, dua pemuda tengah bercengkerama. Ada tali-temali melilit leher mereka yang ujungnya bersembunyi nyaman di dalam kedua telinga, mengalunkan tembang yang digarap di sebuah studio di Manhattan atau di balai-balai tak jauh dari Menara Eifel yang mengangkang angkuh percaya diri. Pada tangan mereka, lihatlah berlembar kertas tugas dari para guru mereka di sebuah perguruan. Dari lambangnya yang berwibawa, kita akan tahu mereka dari padepokan Gadjah Mada yang termasyur itu. Cucu-cucu Gadjah Mada tengah mengingat ilmu di Malioboro, ditikam matahari yang jinak dengan kulit yang nyaris tanak.

malioboro2

Hiruplah udara pagi di Malioboro. Seraplah semangat musisi jalanan yang melantunkan dendang Iwan Fals yang menceritakan kegelisahan bocah di seberang istana. Atau lantunan kisah klasik untuk masa depan oleh Sheila On Seven yang jadi pujangga tanah Jogja. Pilihlah sesuai kata hatimu, sambil menyantap segelas es durian yang dijajakan penuh semangat oleh Mbah Hargo yang merantau dari Kulon Progo.

Jauh di sudut lainnya, perhatikanlah seorang pemuda bersahaja yang tengah gelisah. Tangannya masih memegang erat piranti cendikia yang memendarkan cahaya. Saksikanlah matanya berkaca-kaca, dia ditinggal kekasihnya selepas bercengkerama di ruang awan. Tapi dia tersenyum karena konon perpisahan itu demi wisudanya yang tak lagi bisa ditunda. Kawan, kamu tahu, Malioboro adalah juga tentang keputusan bijaksana akan cinta yang salah, akan kisah yang terlarang. Mari melawat Maliboro sambil mengenang cinta lama. Seperti kata seorang kerabat, memang Jogja berhati mantan.

Apa sih “Om Telolet Om”?

Saat berdiskusi dengan seorang kawan yang sedang belajar di luar negeri, tiba-tiba dia menyela dengan topik lain “Apa sih Om telolet Om”? Rupanya “Om telolet Om” memang mendunia. Mahasiswa yang sedang riset serius pun tersita perhatiannya oleh isu ini. Saya diam sesaat. Pertama karena saya memang tidak ingin menghabiskan waktu menjelaskan fenomena ini, kedua karena saya tetap ingin membuatnya menjadi tercerahkan dalam waktu sesingkat mungkin. Lepas berpikir sejenak, saya mulai menjawab.

Continue reading “Apa sih “Om Telolet Om”?”

Menebak Tengkorak

Begitu mendengar bahwa seorang kawan sesama dosen UGM sedang membuat film, saya langsung kagum. Membuat film, bagi saya, bukan hal biasa. Menemukan seorang teman membuat film layar lebar yang disiapkan untuk bioskop tanah air membuat saya sudah kagum tanpa harus menunggu filmnya dan tanpa tahu kualitasnya.

Saat diberi tahu bahwa film itu berjudul “Tengkorak”, ada yang berubah pada persepsi saya tentang film ini. Mengapa harus “Tengkorak”? Mengapa bukan judul lain? Kata “Tengkorak” ini mengingatkan saya pada film-film masa lalu yang biasa dan konvensional. Yang hadir di bayangan saya adalah sebuah film laga dengan tata kelahi seadanya, dialog kaku dan menandalkan pemandangan tubuh kekar (atau seksi), caci maki dalam perkelahian yang tidak terlalu alami tidak juga dasyat memukau. Yang hadir dalam imajinasi saya adalah sebuah film biasa saja. Saya sempat kehilangan interes.

Beberapa hari belakangan ini, trailer film “Tengkorak” dirilis untuk publik. Saat menerima tautan video itu di Youtube, saya tidak langsung menontongnya. Saya takut kecewa dan takut kalau tebakan saya benar. Saya menyimpannya beberapa lama sampai akhirnya saya merasa perlu dan siap menontonnya.

Saat menonton pertama, saya tidak menyalakan audionya. Saya ingin menikmati aspek video saja terlebih dahulu. Saya tahu, menikmati film tanpa audio dan terutama tanpa musik bisa sangat berbahaya. Saya bisa kehilangan banyak hal dari film itu. Saya sadari itu tapi saya ingin ‘sadis’ pada Film Tengkorak ini. Saya ingin menguji seberapa kuat visualisasi-nya dan seberapa mampu visualisasi itu membuat saya bertahan menonton. Saya memang sengaja ‘membully’ film ini karena keisengan untuk mengetahui kualitasnya. Jika ini film biasa maka trailernya yang tanpa suara tidak akan membuat saya bertahan menontonya. Sebaliknya, jika tanpa suara saja dia bisa membuat saya bertahan menonton, film ini bisa jadi memang istimewa.

Beberapa detik berlalu, saya bertahan. Pertama karena dugaan saya semula tentang film dengan aksi laga konvensional atau pakaian kuno tapi berbahan baru ternyata tidak benar. Gaya pendekar berikat kepala atau suasana remang-remang yang keseramannya menggelikan ternyata juga tidak saya temukan di trailer Tengkorak. Alih-alih semua hal yang saya duga, saya disuguhi adegan setengah dokumenter dengan suasana modern dan keseharian dunia nyata.

Demi melihat apa yang tidak saya duga, saya segera ulang menonton trailer itu dari awal dan kini saya aktifkan audionya. Saya mulai memperhatikan dengan seksama. Kini dengan semangat. Saya seperti dilambungkan kepada angan-angan saya yang telah lama terpendam yaitu melihat film Indonesia dengan genre fiksi ilmiah. Saya ingin mendengar kata-kata yang menandai nama agen atau lembaga nasional, nama institusi, pusat kajian, pusat riset dan pengembangan atau yang sejenisnya dijadikan pusat perhatian dalam sebuah film. Saya ingin melihat ini seperti halnya film-film Hollywood menyuguhkan NASA, NSF atau agen pemerintah lainnya yang terlibat dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh suatu bangsa. Saya ingin sebuah film yang melibatkan Presiden Indonesia, rumitnya birokrasi yang melahirkan pahlawan dan pecundang, diperkenalkannya ahli-ahli Indonesia yang berperan merespon persoalan besar yang bahkan mempengaruhi dunia. Saya ingin film yang seperti itu dan itu sudah lama saya pendam. Saya ingin melihat film yang menampilkan urusan yang genting dan membuat kepanikan para petinggi negara dan agen-agen yang ada dalam kendalinya.

Melihat trailer Tengkorak yang singkat itu, saya seperti disuguhi apa yang sudah lama sekali saya rindukan. Saya belum tahu apakah Tengkorak memang betul-betul akan memuaskan saya ketika saya menonton filmnya nanti karena terlalu pagi menilai sebuah film hanya dari trailernya. Meski demikian, setidaknya trailer ini telah mengobati kerinduan saya yang bahkan sulit saya ceritakan sebelumnya tentang sebuah film fiksi ilmiah dari Indonesia. Saya melihat kombinasi yang baik dalam trailer film ini antara birokrasi/politik, fiksi misterius dan sentuhan ilmiah yang terasa kuat. Apakah benar Tengkorak akan memuaskan harapan saya dan juga Anda? Mari kita tunggu hingga Tengkorak bisa disaksikan di biskop di sekitar kita.

Surat untuk Papa di Hari Wisuda

Pa, apa kabar hari ini?

Aku menulis surat ini di tangga Grha Sabha P ramana (GSP) yang termasyur itu. Di kepalaku masih ada toga dan gantunganya berjuntai dimainkan angin di dekat wajahku. Aku sudah lulus, Pa. Aku lulus seperti yang Papa syaratkan: cepat dan IP tinggi. Aku tadi ikut berdiri ketika para wisudawan cumlaude dipaggil dan diperkenalkan pada hadirin. Sayang sekali Papa tidak ada di sana.

Continue reading “Surat untuk Papa di Hari Wisuda”

When I became a Moderator

This video shows me being a moderator for an international event. Whenever people ask me about tips on how to be a good moderator, I usually come up with list of suggestions, which are undoubtedly easier said than done. This video shows how I implement my suggestions. This can be tips to follow, or list of items that you should not follow 🙂