Nama, Bangsa dan Bendera

Mungkin situasi harus pernah menempatkan nama kita berdampingan dengan bendera dan nama bangsa kita. Di titik itu mungkin kita akan merasakan kesunyian dan menjadi bangsa kita sendiri. Kita adalah bangsa kita dan kita adalah bendera itu sendiri.

Continue reading “Nama, Bangsa dan Bendera”

Advertisements

Tak Selamanya Gagal

Saya berkenalan dengan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang sekolah di Kumoh National Institute of Technology di Korea Selatan lewat Instagram. Anafi namanya. Saya perhatikan, Anafi cukup rajin berkunjug ke blog ini dan meninggalkan jejak positif. Dari percakapan saya di IG, saya rasa kisahnya menarik untuk dibaca pejuang beasiswa lainnya. Itulah yang memotivasi saya untuk meminta agar Anafi bercerita di blog ini. Berikut adalah tulisannya yang saya rasa bisa mewakiki banyak pejuang beasiswa di Indonesia. Selamat menyimak 🙂

Continue reading “Tak Selamanya Gagal”

Langkah-langkah untuk Sekolah S3 dengan Beasiswa

Tiba-tiba dapat telepon dari seorang kawan lama, katanya dia ingin sekolah S3. Secara spesifik dia mau S3 di Australia. “Apa saja langkah awal yang harus ditempuh Bli?” katanya penasaran. Saya rangkum hasil percakapan saya tadi ya.

Continue reading “Langkah-langkah untuk Sekolah S3 dengan Beasiswa”

Toleransi Drama Korea

Saya tidak suka Drama Korea (drakor). Saya penyuka film barat dengan tema patriotisme. Saya menyukai dialog yang saya klaim ‘berkelas’. Drama Korea, menurut saya, tidak memenuhi syarat itu. Okay, sebelum Anda, para pecinta drakor, menghujat atau mendemo saya, mari saya kasih tahu sesuatu.

Saya tidak suka drakor dan saya minoritas di rumah. Lita jelas suka, Asti mengikuti jejak Lita dengan suka rela. Di saat liburan seperti ini, ketika keluarga besar ada di Jogja, status minoritas saya makin tegas. Semua orang suka drakor kecuali saya.

Continue reading “Toleransi Drama Korea”

Tips Seminar Skripsi

  1. Baca kembali dan kuasai materi skripsimu. Jangan bertempur tanpa persiapan.
  2. Rancang sebuah cerita yang secara umum menggambarkan apa yang sudah ada (penelitian sebelumnya) sehingga kamu jadi tahu apa yang belum ada (permasalahan) dan selanjutnya mengisi apa yang belum ada itu (topik penelitian).
  3. Bagaimana kamu mengisi yang belum ada itu? Itulah metodologi penelitian. Apa yang kamu perlukan untuk mengisi yang belum ada itu? Itulah alat dan bahan penelitian.
  4. Selanjutnya buat presentasi sesuai dengan alur cerita yang sudah dibuat. Dalam hal ini kamu bisa membuat presentasi mengikuti alur skripsi (Pendahuluan; Metode Alat dan Bahan; Hasil dan Pembahasan; Kesimpulan) tapi dengan logika cerita di atas. Maka dari itu, yang ada lebih dahulu adalah rangkaian ceritanya, baru muncul slide presentasinya.
  5. Hindari membuat presentasi dengan cara copas isi skripsi apa adanya. Buat poin-poin penting. Sedapat mungkin, sertakan ilustrasi dalam bentuk peta, gambar atau animasi.
  6. Untuk memudahkan dalam bersiap-siap, buat naskah presentasi dengan rinci sesuai dengan urutan slide presentasi. Tulis detail yang akan kamu katakan untuk tiap slide.
  7. Berlatih dengan serius. Pastikan presentasi hanya berlangsung 10-15 menit saja, kecuali di kampusmu memang dibolehkan lebih lama. Kalau belum bisa tepat waktu, jangan berhenti berlatih. Saya biasa latihan puluhan kali kalau mau presentasi.
  8. Saat Hari H, lakukan sesuai latihan. Jangan lupa menyapa dan berterima kasih. Pembuka dan penutup harus jelas dan tegas. Jika latihannya bener, kamu pasti akan tepat waktu.
  9. Saat menjawab, gunakan kalimat positif, bukan bantahan. Memulai jawaban dengan frase “tapi kan” atau “bukan begitu” atau frase negative lain itu kurang tepat.
  10. Sampaikan terima kasih dan gunakan awalan ‘menyetujui’ ketika menjawab pertanyaan atau merespon sanggahan penguji. Misal “betul apa yang Bapak sampaikan tentang X. Di sisi lain, ada fenomena yang berbeda sehingga bla bla”
  11. Tugasmu bukan untuk membantah penguji tetapi untuk membuktikan bahwa kamu benar, dengan cara yang tidak mempermalukan siapapun. Maka berlatihlah untuk meyampaikan kebenaranmu, bukan sekedar membantah kebenaran orang lain.

Sekali-sekali, bapak juga perlu digampar!

Sebagai seorang bapak, kadang tak mudah memadukan antara cita-cita ideal tentang masyarakat luas dan cara mendidik ‘kecil’ yang bisa jadi pengingat. Yang merasa kegampar, maafkan 🙂

  1. Mau membuat bagsa ini disiplin? Coba tertibkan diri dan anak sendiri untuk mandi tepat waktu dan nyuci piring sendiri. Rasakan sulitnya.
  2. Mau membuat generasi bangsa ini bisa berpikir kritis? Coba pastikan diri dan anak sendiri punya kebiasaan membaca buku, bukan hanya tenggelam chat di gawai. Rasakan tantangannya.
  3. Mau jadi motivator kelas dunia? Coba bangkitkan semangat isteri untuk mencoba usaha baru setelah di-PHK, atau daftar beasiswa lagi setelah gagal berkali-kali. Nikmati kerumitannya.
  4. Ingin agar generasi muda kita mandiri dan tidak tergantung bangsa lain? Pastikan anak bisa bangun pagi tanpa drama berlebihan. Rasakan sensasinya.
  5. Ingin menjadi pendidik visioner yang berdedikasi dengan kesabaran yang mumpuni? Coba ajarin isteri nyetir mobil sampai bisa, tanpa banyak bertengkar. Rasakan adrenalinnya.
  6. Mau memenangkan Nobel Perdamaian? Coba selesaikan konflik ibumu dan istrimu yang berkepanjangan. Nikmati ketegangannya.
  7. Mau menjadi pencerah agama yang berkharisma? Dengarkan ocehan mertua yang kian lanjut usia tentang semua hal yang jarang ada benarnya sambil tersenyum takzim. Nikmati gejolaknya.
  8. Ingin agar para punggawa negeri bekerja serius sesuai aturan? Pastikan posisi kunci mobil, sepatu, dasi, buku, laptop, charger HP di tempatnya sehingga tidak ada tragedi-komedi setiap pagi. Atau nikmati dramanya.
  9. Ingin memastikan pemerintah bekerja dengan tuntas? Pastikan membawa piring dan gelas kotor dari depan TV ke dapur lalu mencucinya sendiri. Setiap hari. Rasakan nikmatnya atau beratnya.
  10. Mau memastikan partai politik dan para politisi tidak saling menyalahkan untuk hal2 yang tidak prinsipil? Pastikan kamu tidak sering-sering bertengkar dengan pasangan gara-gara bungkus shampoo yang tergeletak di lantai kamar mandi. Rasakan pergulatan bathinnya.

Kawah candradimuka, sekolah dan universitas yang sesungguhnya adalah keluarga. Kesimpulan untuk diri sendiri, masih lebih banyak gagal dibandingkan berhasilnya.

PS. Jika suka tulisan ini, mungkin Anda juka suka dengan tulisan lama ini.

Satu Pesawat dengan Pak Dosen

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, har ini aku kembali ke tanah air dari Taiwan. Keluarga di rumah tentu menunggu dengan gelisah dan tidak sabar. Sekian lama menunaikan tugas mencari rejeki, akhirnya aku pulang. Belahan jiwa sudah menunggu tak sabar, video call tak mau berhenti sampai-sampai aku ditegur pramugari.

Continue reading “Satu Pesawat dengan Pak Dosen”