Sekali-sekali, bapak juga perlu digampar!

Sebagai seorang bapak, kadang tak mudah memadukan antara cita-cita ideal tentang masyarakat luas dan cara mendidik ‘kecil’ yang bisa jadi pengingat. Yang merasa kegampar, maafkan 🙂

  1. Mau membuat bagsa ini disiplin? Coba tertibkan diri dan anak sendiri untuk mandi tepat waktu dan nyuci piring sendiri. Rasakan sulitnya.
  2. Mau membuat generasi bangsa ini bisa berpikir kritis? Coba pastikan diri dan anak sendiri punya kebiasaan membaca buku, bukan hanya tenggelam chat di gawai. Rasakan tantangannya.
  3. Mau jadi motivator kelas dunia? Coba bangkitkan semangat isteri untuk mencoba usaha baru setelah di-PHK, atau daftar beasiswa lagi setelah gagal berkali-kali. Nikmati kerumitannya.
  4. Ingin agar generasi muda kita mandiri dan tidak tergantung bangsa lain? Pastikan anak bisa bangun pagi tanpa drama berlebihan. Rasakan sensasinya.
  5. Ingin menjadi pendidik visioner yang berdedikasi dengan kesabaran yang mumpuni? Coba ajarin isteri nyetir mobil sampai bisa, tanpa banyak bertengkar. Rasakan adrenalinnya.
  6. Mau memenangkan Nobel Perdamaian? Coba selesaikan konflik ibumu dan istrimu yang berkepanjangan. Nikmati ketegangannya.
  7. Mau menjadi pencerah agama yang berkharisma? Dengarkan ocehan mertua yang kian lanjut usia tentang semua hal yang jarang ada benarnya sambil tersenyum takzim. Nikmati gejolaknya.
  8. Ingin agar para punggawa negeri bekerja serius sesuai aturan? Pastikan posisi kunci mobil, sepatu, dasi, buku, laptop, charger HP di tempatnya sehingga tidak ada tragedi-komedi setiap pagi. Atau nikmati dramanya.
  9. Ingin memastikan pemerintah bekerja dengan tuntas? Pastikan membawa piring dan gelas kotor dari depan TV ke dapur lalu mencucinya sendiri. Setiap hari. Rasakan nikmatnya atau beratnya.
  10. Mau memastikan partai politik dan para politisi tidak saling menyalahkan untuk hal2 yang tidak prinsipil? Pastikan kamu tidak sering-sering bertengkar dengan pasangan gara-gara bungkus shampoo yang tergeletak di lantai kamar mandi. Rasakan pergulatan bathinnya.

Kawah candradimuka, sekolah dan universitas yang sesungguhnya adalah keluarga. Kesimpulan untuk diri sendiri, masih lebih banyak gagal dibandingkan berhasilnya.

PS. Jika suka tulisan ini, mungkin Anda juka suka dengan tulisan lama ini.

Advertisements

Satu Pesawat dengan Pak Dosen

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, har ini aku kembali ke tanah air dari Taiwan. Keluarga di rumah tentu menunggu dengan gelisah dan tidak sabar. Sekian lama menunaikan tugas mencari rejeki, akhirnya aku pulang. Belahan jiwa sudah menunggu tak sabar, video call tak mau berhenti sampai-sampai aku ditegur pramugari.

Continue reading “Satu Pesawat dengan Pak Dosen”

Doa untuk Para Pejuang Ilmu

Untukmu aku berdoa.

Untukmu yang bangun di pagi buta di Negeri Formosa untuk menyiapkan sahur bahkan ketika kehidupan kota belum dimulai. Terima kasih untuk hidangan bagi keluarga kecilmu yang akan berpuasa enam belas jam lamanya, jauh dari suara bedug, jauh dari kumandang adzan yang kamu rindukan hingga ubun-ubun. Doaku untukmu yang trengginas meracik sahur dan melupakan sejenak setumpuk paper yang makin dibaca makin membuatmu bingung dan bertanya ‘apa yang aku lakukan di sini?”.

Continue reading “Doa untuk Para Pejuang Ilmu”

Antara Isteri, Skripsi, dan Toleransi

Hari Rabu selalu penuh perjuangan. Selepas mengajar tiga kelas dari jam 9.30 sampai jam 5 sore, saya masih harus bercengkerama dengan bimbingan skripsi dan tesis. Hari ini adalah salah satu dari hari yang penuh tantangan itu. Here I am, menghadapi empat orang mahasiswa yang setengah desperate karena sisa waktu kian menipis.

Continue reading “Antara Isteri, Skripsi, dan Toleransi”

Orang Seperti Apa yang Dicari oleh Pewawancara?

Suatu hari ada seorang mahasiswa bertanya pada saya terkait seleksi kerja atau beasiswa “orang seperti apa yang Bapak cari ketika mewawancarai seorang kandidat?” Setelah berpikir agak lama, saya mengatakan “orang yang bisa menggabungkan kepercayaan diri dan kerendahan hati dengan baik”. Saya jelaskan dalam 7 butir berikut.

Continue reading “Orang Seperti Apa yang Dicari oleh Pewawancara?”

Cinta ‘kan Membawa Kita Kembali

Aku mengatakan “tidak takut” dengan ketegasan sikap, sama sekali bukan karena angkuh, apalagi jumawa dan merasa tak tersentuh mara bahaya. Sama sekali tidak. Aku mengatakan “tidak takut” karena aku mencintai nuraniku dan menyayangi kehidupan. Takut hanya akan membunuh kesempatanku untuk bersahabat dengan nurani dan merayakan kehidupan. Terror boleh ditebar tapi keresahan adalah perihal keputusan. Mengutip kalimat Cypher Raige di After Earth, bahaya memang nyata, tetapi rasa takut adalah soal pilihan dan aku memutuskan untuk tidak takut.

Continue reading “Cinta ‘kan Membawa Kita Kembali”

Menyingkap Rahasia Beasiswa Australia

Saya tidak bisa menjamin Anda bisa mendapatkan beasiswa Australia. Memang tidak ada yang bisa. Bersyukur, saya mendapatkan tiga Beasiswa Australia dalam hidup saya: ADS, ALA dan ASA. Saya belajar di dua perguruan tinggi Australia dan menikmaati susah senang hidup di Negeri Kangguru itu selama kurang lebih satu dekade. Waktu sepuluh tahun sudah cukup untuk mengenal banyak hal.

Continue reading “Menyingkap Rahasia Beasiswa Australia”