Menyingkap Rahasia Beasiswa Australia

Saya tidak bisa menjamin Anda bisa mendapatkan beasiswa Australia. Memang tidak ada yang bisa. Bersyukur, saya mendapatkan tiga Beasiswa Australia dalam hidup saya: ADS, ALA dan ASA. Saya belajar di dua perguruan tinggi Australia dan menikmaati susah senang hidup di Negeri Kangguru itu selama kurang lebih satu dekade. Waktu sepuluh tahun sudah cukup untuk mengenal banyak hal.

Continue reading “Menyingkap Rahasia Beasiswa Australia”

Advertisements

“For Andi”

Ada perasaan aneh ketika saya memasuki ruangan Prof. Clive Shofield di Gedung ANCORS, University of Wollongong. Rasa yang dulu pernah ada, terkait erat dengan kekhawatiran akan masa depan S3 saya, seperti muncul lagi. Pertanyaan klise yang mengerikan selalu muncul ketika itu: bisa lulus nggak? Kini setelah beberapa tahun berlalu sejak ijazah saya dapatkan, perasaan itu seperti menghampiri lagi.

So, where is your chapter 4?” kata Clive berkelakar namun sanggup membangkitkan desiran aneh di tubuh saya. Memang ada bagian-bagian traumatik dalam perjalanan meraih gelar doktor. Harus diakui. Clive tahu betul, kalimat-kalimat tertentu memang bisa mengingatkan saya pada masa perjuangan di masa lalu. Saya tertawa mendengar kelakar itu. “Really?” kata saya menyambut, “from what I remember, you didn’t ask me about my thesis at the beginning of our conversation. You touched the thesis issue only when I was about to disappear while the door was closing.” Kami berdua tertawa. Mungkin banyak mahasiswa PhD yang tidak tahu kalau percakapan mahasiswa dan pembimbingnya sering kali atau lebih sering tidak terkait dengan thesisnya. Ingatan saya melayang lagi ke masa lalu.

So what brought you Down Under?” tanya Clive penasaran. Saya pun jelaskan duduk perkaranya, saya ada di Sydney sebagai anggota delegasi RI untuk Indonesia-Australia Dialogue. Dan blah blah blah, tidak begitu penting. Di menit-menit berikutnya saya sampaikan pandangan saya tentang perjanjian batas maritim antara Australia dan Timor Leste lalu bagaimana Indonesia merespon itu. “I need to present something” kata saya sambil menyiapkan laptop. “I know you will not function well without your animation” katanya penuh pemahaman. Maka tenggelamlah kami dalam diskusi.

Hey, how much do I owe you for maps?” tanyanya tiba-tiba. “Well I don’t know, I don’t calculate it anymore” kata saya setengah ragu karena tidak menyangka dia akan bertanya seperti itu. Saya memang membuat banyak peta untuk dia selama ini, seperti halnya yang saya lakukan ketika menjadi mahasiswanya dulu. Biasanya dia bayar tetapi belakangan saya tidak menghitungnya lagi. “Well just give me a return ticket to Sweden, I will forget everything” kata saya berkelakar. Clive memang akan mendapatkan pekerjaan baru di World Maritime University di Swedia dan tentu menyenangkan jika bisa bekerja sama dan berkunjung ke sana.

How about these?” katanya sambil mengangkat setumpuk buku berwarna merah. Mata saya nanar, setengah tidak percaya. Tumpukan buku itu adalah “International Maritim Boundaries”, dan merupakan ‘The Bible’ bagi penekun batas maritim internasional. Di buku itulah semua batas maritim dunia dicatat dan dibabahas. Ada tujuh buku sejak volume pertama dan harganya mahal sekali. Empat belas tahun menekuni bidang ini, belum terbeli juga buku itu. Alasan pertama, harganya mahal sekali, alasan kedua, buku itu selalu tersedia di perpustakaan atau bisa saya pinjam dari Clive. Kenyamanan memang bisa menghambat perjuangan.

Really?” tanya saya hampir tak percaya melihat enam buku merah itu. “For you!” katanya pelan tapi tegas. Dia tahu perasaan saya. “Oh I cannot thank you enough” lanjut saya sambil mencoba mengumpulkan kesadaran dan takut kalau-kalau itu bukan kenyataan. Saya tahu, jika harus membeli maka harga yang saya bayar lebih dari USD 3000. Betul, tiga ribu Dolar Amerika Serikat! Jumlah yang sangat besar untuk enam buah buku. Tak berlebihan jika saya terharu.

Ingatan saya melayang ke 14 tahun lalu. Saya ingat, ketika pertama kali datang ke Australia sebagai mahasiswa yang baru saja memulai hidup, saya berjalan menuju ruangan Clive sesuai permintaannya. Di depan ruangan itu saya melihat sebuah kardus bekas yang berisi piring, sendok, garpu, gelas dan alat masak lainnya. Perasaan saya hari ini mirip dengan perasaan ketika melihat selembar kertas putih di kardus itu yang bertuliskan “for Andi”.

Padang Rumput di Depan Perpustakaan

Matahari menikam namun tak sanggup membuat murid-murid padepokan beranjak pergin. Sinarnya tak cukup tajam untuk mengganggu apalagi membuhuh gairah para muda yang bersenda gurau. Mereka duduk-duduk penuh kelakar, seakan tak peduli pada matahari yang berusaha sekuat tenaga hingga setengah putus asa. Mereka menikmati.

Aku duduk tanpa alas, tepat di atas rumput tipis yang hijau menghampar. Kupilih bagian yang dilindungi bayangan pohon peneduh di pinggir lapangan. Aku tak semuda mereka. Aku seorang lelaki dari bumi tropis yang memang tak perlu berpeluh di terik matahari untuk alasan kesenangan, apalagi life style. Tidak perlu.

Continue reading “Padang Rumput di Depan Perpustakaan”

Lelaki Misterius di Pinggir Kolam Renang

Sore tadi kami berenang sekeluarga. Ada Asti, Lita dan Ibu saya yang baru belajar berenang untuk terapi. Ketika kami tiba, ada beberapa orang yang berenang namun satu per satu meninggalkan lokasi. Tak lama kemudian petugas mematikan mesin sehingga kolam renang menjadi tenang tanpa suara gemuruh, tanpa ada aliran air yang menyembur seperti sebelumnya. Suasana tenang, dan tiba-tiba saya baru sadar kalau hanya kami berempat yang menikmati kolam renang itu. Seorang perempuan yang duduk di suatu pojok tadi juga raib entah ke mana.

Continue reading “Lelaki Misterius di Pinggir Kolam Renang”

Anak Muda, Menulislah!

Kamu tentu bisa katakan padaku, zaman sudah berubah dan buku bukanlah sumber ilmu utama. Maka menulis bukanlah hal utama dalam bergulatan ilmu pengetahuan. Tak kan kusangkal itu karena ada begitu banyak rekaman dan catatan selain tulisan yang bisa mengantarkan ilmu. Ada video yang merekam kesan dan impresi lebih baik dari tulisan. Ada gambar yang tiap wujudnya bahkan bisa mengantikan seribu kata, atau diam yang setara seribu bahasa. Mengapa harus menulis? Mungkin demikian kautanya.

Continue reading “Anak Muda, Menulislah!”

One Should not Lose Hope: Sebuah Obituari untuk Stephen Hawking

Stephen Hawking, salah seorang ilmuwan paling berpengaruh dalam beberapa dekade terakhir, meninggal dunia di usia 76 tahun. Hawking istimewa, tidak saja karena teori yang dikemukakannya terkait fisika dan jagat raya tetapi juga karena kondisi fisiknya yang tidak biasa. Hawking mengidap apa yang disebut motor neuron disease yang menyebabkan kelumpuhan total dan suaranya lenyap. Untunglah otaknya tidak lumpuh dan dengan itulah dia kemudian menjadi ilmuwan pilih tanding.

 

Continue reading “One Should not Lose Hope: Sebuah Obituari untuk Stephen Hawking”

Berani Berubah

“Sekitar 60 porsi dari jam 5 sampai jam 9 malam, Pak” katanya ketika saya tanya berapa porsi nasi goreng terjual dalam semalam. Dari logatnya, lelaki itu nampaknya bukan orang Jawa, berbeda dengan pedagang makanan keliling yang biasa mampir di depan rumah. “Saya baru saja masuk kompleks sini Pak” katanya menjelaskan. Percakapan pun berlanjut.

“Saya dulu jualan di Jakarta dan sudah laris Pak tapi karena harus mengikuti istri, saya pindah ke Jogja. Istri gak mau pisah sama orang tuanya. Jadi saya mengalah saja” lelaki itu bercerita lancar. “Langsung jualan nasi goreng ketika sampai di Jogja?” tanya saya. “Ya, langsung Pak. Saya sudah yakin, rejeki saya ada di sini. Di Jakarta dulu jualan saya laris banget” katanya semangat.

Continue reading “Berani Berubah”