Saya menyimak podcast Bapak Marty Natalegawa di Decoding Indonesia bersama The Jakarta Post (http://s.id/Marty) hari ini. Ingatan saya melayang ke masa lalu di pertengahan tahun 2000an hingga satu dekade setelahnya. Masa-masa ketika saya menghabiskan banyak waktu menyimak Pak Marty dari berbagai media. Beliau adalah salah satu kiblat saya dalam hal berbicara di depan publik.
Saya beruntung sempat bertemu Pak Marty di New York tahun 2007 ketika beliau menjadi Duta Besar Indonesia untuk PBB, lalu di Sydney tahun 2013 ketika beliau menjadi Menteri Luar Negeri. Tanpa ragu, setiap kali bertemu beliau, saya menikmati kekaguman kepada seorang abdi negara yang mumpuni. Pak Marty tentu saja tidak lepas dari cacat cela, seperti halnya setiap orang lainnya, tetapi saya memutuskan untuk menyimak sisi baik dan belajar darinya. Setiap saat.
Menyimak Pak Marty hari ini mengingatkan saya tentang keindahan tutur dan kata-kata. Pak Marty, setiap kaIi berbicara, selalu berhasil mempertontonkan kedalaman gagasan, kejernihan penyajian, dan keseimbangan dalam memilih posisi. Semua itu disuguhkan dalam kecemerlangan kosa-kata yang memanjakan ego intelektual sekaligus keindahan diksi yang telaten memuaskan dahaga akan keindahan tata bahasa.
Pak Marty laksana buku teks hubungan internasional yang hidup dan berjalan. Kefasihannya menjelaskan relasi bangsa-bangsa dalam konteks geopolitik kawasan dan global selalu berhasil memukau saya. Pak Marty layaknya kitab wajib diplomasi yang tersusun rapi sekaligus ‘berantakan’ dengan warna-warni penanda halaman karena begitu sering dibaca. Kepiawaiannya membedah kompleksitas relasi antarbangsa dan kecermatannya mengaitkan semua itu dengan berbagai pemikiran mapan membuatnya tak pernah terdengar spekulatif, apalagi asal bunyi. Tak pernah.
Pak Marty adalah seorang diplomat dengan ‘sekrup bicara’ paling kokoh yang pernah saya temui. Sangat amat jarang, kalaupun pernah, Pak Marty, sepengetahuan saya, tersulut emosinya lalu berbicara spekulatif apalagi menghakimi. Ketika ditanya pendapatnya tentang kebijakan politik luar negeri pemerintahan hari-hari ini, Pak Marty dengan tertib dan etis menjawab bahwa beliau sama sekali tidak dalam posisi menjelaskan apa yang terjadi dan dilakukan pemerintah. Menurut beliau, mereka yang aktif di pemerintahanlah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dilakukan. Pernyataan ini menjadi dasar yang kokoh sekaligus bijaksana bagi apa yang kemudian disampaikannya dengan bernas selama hampir satu jam percakapan.
Sebagai orang yang lebih mudah belajar dari ucapan dan tontonan, saya pribadi merindukan pemimpin yang bertutur. Terutama, saya merindukan diri saya sendiri yang tekun menyimak ujar-ujar pemimpin negeri tanpa banyak penghakiman, tanpa banyak prasangka buruk, dan tanpa kecurigaan. Entah kapan terakhir kali saya menikmati hal itu.
Menyimak Pak Marty menghadirkan ingatan samar ketika masa-masa belajar itu terasa begitu menyenangkan. Ketika menyimak ucapan pemimpin adalah proses mengurai kebingungan sendiri akan peliknya politik yang memang selalu penuh intrik. Ketika menyimak tutur pemimpin adalah proses menguatkan harapan yang mudah melemah akibat sajian politik yang hampir selalu penuh drama. Ketika menyimak rangkai kata pemimpin adalah masa meningkatkan kepercayaan bahwa persatuan adalah kunci untuk maju. Ketika menyimak pesan pemimpin sebagai nasihat yang merekatkan, bukan menyudutkan rakyat dalam badai kejam yang mencerai-berai.
Suguhan cendekia Pak Marty membuat saya ingat lagi akan fakta bahwa negeri ini punya banyak insan yang menyimpan tidak saja ketajaman intelektual tetapi juga teduhnya kebijaksanaan. Seperti kata Pak Marty, sayangnya mereka tak punya kuasa untuk membuat panggung sendiri. Kaum intelektual ini tak terbiasa berebut sinar lampu jika tidak ditujukan kepadanya. Maka, mereka perlu diberdayakan. Ketajaman pisau analisis mereka tak akan bermakna tanpa peran yang dimandatkan.
Pak Marty dengan jernih mengingatkan banyak hal dalam percakapan cemerlang bersama The Jakarta Post hari ini. Menyimak Pak Marty membuat kerinduan saya akan pemimpin yang bertutur sedikit terobati. Terima kasih Pak Marty.