Prof Iwan Dwiprahasto: Menempuh Jalan Sepi, Berpulang dalam Kesunyian

Prof. Iwan telah berpulang, kembali menemui Sang Pencipta. Selamat jalan Prof. Iwan. Hati-hati di jalang nggih. Sampai jumpa nanti, suatu ketika. Di sana, di tempat yang mungkin jauh, mungkin dekat, saya akan duduk bersila, menyimak penuh gairah segala pesona yang Prof. Iwan tebar lewat kata-kata yang cerdas dan tak henti menghibur. Saya akan nikmati.

Continue reading “Prof Iwan Dwiprahasto: Menempuh Jalan Sepi, Berpulang dalam Kesunyian”

Kuliah Online dan Perubahan Tanpa Henti

Tahun 1991, untuk pertama kalinya saya melihat Over Head Projector (OHP). Beberapa guru ‘terbaik’ di sekolah kami, SMP 2 Marga di Tabanan, Bali, sedang meneliti dengan cermat barang baru itu. Kami, para siswa, heboh ketika alat itu digunakan pertama kali. Itu adalah lompatan luar biasa. Anak-anak gembira melihat warna-warni tulisan di selembar plastik transparan yang bisa berganti-ganti dengan cepat. Pengalaman berharga itupun hanya bisa disaksikan di laboratorium karena alat mahal dan canggih itu tidak tersedia di semua kelas.

Continue reading “Kuliah Online dan Perubahan Tanpa Henti”

Renyah saat Menulis, Memikat saat Bicara

Mungkin kita sering melihat orang yang sangat bagus ketika berbicara di depan umum tetapi tidak pernah melihat tulisannya. Atau, bisa jadi orang tersebut punya tulisan tetapi tidak semenarik pidatonya. Orang itu bisa saja lucu dan inspiratif ketika berbicara tetapi tulisannya terasa datar dan biasa saja. Sebaliknya, sering kita jumpai tulisan orang yang begitu menarik tetapi kita kerap kecewa mendengar dia berbicara. Mengapa itu terjadi?

Continue reading “Renyah saat Menulis, Memikat saat Bicara”

Salah Jurusan?

Pertama kali bertemu dengan Mas Rangga Almahendra di UGM, saya sudah terkesan sekali dengan sikapnya. Sebagai orang yang sangat hebat, Mas Rangga begitu santun dalam tutur bahasa. Komunikasinya sangat baik, runtut dan diplomatis. Bagi yang belum tahu, Mas Rangga adalah orang di bali novel dan film “99 Cahaya di Langit Eropa“.

Okay, sebelum ada dugaan yang melebar ke mana-mana, saya jelaskan bahwa saya dan beliau tidak ada relasi kerja secara langsung. Beliau bukan atasan saya juga jadi tidak ada motivasi memuluskan karir pribadi dari posting ini. Kalapun ada, semoga saya dijadikan bintang utama di film beliau berikutnya haha.

Continue reading “Salah Jurusan?”

Kenapa bisa masuk Mata Najwa?

Sejak video saya yang menjelaskan soal Laut Natuna menyebar, ada beberapa yang guyon “bentar lagi masuk Mata Najwa nih”. Ada juga yang mulai ngetag akun mendos Mata Najwa atau Najwa Shibab. Hal ini menguat seiring dengan mengalirnya permintaan untuk wawancara, termasuk Podcast UGM yang digagas oleh Humas UGM. Meski demikian, saya tetap tidak kontak Najwa soal ini. Ada keraguan, apa layak? Apa tepat?

Selasa tanggal 7 Januari 2020, Oki, sahabat saya di Kemenko Maritim, tiba-tiba mengirim pesan WA “mas.. nanti akan ada tim najwa kontak mas ya.. katanya mau bahas natuna”. Pesan itu datang mengejutkan dan tanpa babibu. Rupanya Oki dikontak Tim Mata Najwa dan merekomendasikan nama saya. Tentu saja saya merasa terhormat dan semangat. Saatnya berbagi ke khalayak yang lebih luas.

Continue reading “Kenapa bisa masuk Mata Najwa?”

Seteru dengan Tiongkok di Laut Natuna

Ada berita, kapal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) datang ke Laut Cina Selatan (LCS) di sekitar Natuna dan mancing ikan. Menurut Indonesia, itu adalah zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia, maka Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) kita melayangkan protes keras. Eh, sehari setelah itu, Kemenlu RRT bikin konperensi pers, menyatakan bahwa RRT punya hak atas pulau-pulau dan laut di sebelah utara Natuna. Urusan jadi geger.

Continue reading “Seteru dengan Tiongkok di Laut Natuna”

A Different Kind of Habibie

Nama lengkapnya Hutomo Wasisto. Dia lulusan Teknik Elektro UGM yang kemudian sekolah S2 di Taiwan lalu S3 di Jerman. Kini Ito, demikian panggilannya, menjadi profesor di sebuah institusi Pendidikan di Jerman. Tanggal 29/12/19 lalu saya beruntung mendengar kisahnya. Tidak harus pergi jauh, Ito berkenan mampir ke rumah kami di Jogja. Sungguh istimewa. Hal ini mungkin terjadi karena kerja keras dan cerdas Mini Akademi.

Continue reading “A Different Kind of Habibie”

Imperfect: Kesempurnaan dari Serpihan Ketidaksempurnaan

Lita, anak saya, masih menangis bahkan ketika filmnya berakhir. Kejadian itu tidak saya sangka. Seingat saya, Lita bukan orang yang terlalu mudah baper dengan satu tontonan film, apalagi film Indonesia. Kejadian itu mengkonfirmasi perasaan dan respon saya sendiri ketika menonton film Imperfect: Karier, Cinta dan Timbangan, besutan Ernest Prakasa. Film ini adalah adaptasi dari buku berjudul Imperfect karya Meira Anastasia yang tak lain adalah isteri Ernest.

Continue reading “Imperfect: Kesempurnaan dari Serpihan Ketidaksempurnaan”

Ketika Pasangan Memilih Untuk Tidak Bekerja

“Isteri praktik dokter kan?”, “isteri kerja di mana?”, “isteri masih kerja di UGM?” demikian teman-teman saya bertanya di setiap kesempatan. Pertanyaan sederhana ini biasanya berbuntut percakapan panjang karena saya menjawab “Asti tidak bekerja lagi. Sekarang dia di rumah”. Sebagian besar teman menunjukkan keheranan, atau setidaknya mengajukan pertanyaan lanjutan.

Dari sekian pertanyaan, yang paling menarik adalah ‘tuduhan’, bahwa saya, sebagai suami, adalah penyebab keputusan itu. Tidak sedikit yang menduga dan cenderung menuduh bahwa saya lah yang melarang Asti bekerja. Yang tidak kalah menarik, banyak yang menduga bahwa keputusan itu pastilah menimbulkan perdebatan yang lama. Memang banyak yang meyakini bahwa keputusan besar itu pasti tidak mudah diambil.

Continue reading “Ketika Pasangan Memilih Untuk Tidak Bekerja”

Tampil di Bali Democracy Forum 2019

Tanggal 5 Desember 2019 lalu saya mendapat kehormatan untuk tampil dai Bali Democracy Forum (BDF). Ini adalah sebuah kejutan yang datang begitu tiba-tiba. Jika tidak boleh mengatakan kebetulan, maka pastilah kesempatan ini datang karena keisengan semesta yang ingin bersenda gurau.

Saya mendengar nama “Bali Democracy Forum” (BDF) ini sudah lama sekali. Ketika Pak Hassan Wirajuda menjadi menlu, BDF ini digagas. Sebuah perhelatan besar tingkat dunia, saya pikir. BDF juga jadi tonggak sejarah penanda kontribusi Indonesia bagi dunia dalam hal demokrasi. Sebagai negara yang demokrasinya baru berusia 3 tahun saat itu, Indonesia telah menggebrak dengan satu forum yang mentereng.

Continue reading “Tampil di Bali Democracy Forum 2019”