Public Speaking adalah menantang diri sendiri

Kalau kamu tampil di depan publik cukup sering dengan tema yang sama, inovasi sangatlah penting. Jika tidak, kamu pasti terjebak dalam rutinitas dan akhirnya membawakan materi dengan isi dan cara yang sama. Tidak sehat.

Continue reading “Public Speaking adalah menantang diri sendiri”

Kisah Saya Sekolah S2 #3: Banyak Baca, Banyak Tugas, Kurang Tidur, Tetap Bodoh!

… sambungan dari bagian 2

Ada satu buku tebal yang harus dimiliki (dibeli) untuk mata kuliah Global Navigation Satellite Systems (GNSS). Buku itu berisi kumpulan tulisan tentang perkembangan GNSS dari segi teori maupun teknologi. Ada juga tulisan populer dan artikel jurnal ilmiah. Singkatnya, itu adalah bahan bacaan pendukung kuliah tersebut. Semua orang harus membaca. Sejujurnya, sebagai orang yang tidak begitu suka membaca, buku tebal itu mengintimidasi.

Continue reading “Kisah Saya Sekolah S2 #3: Banyak Baca, Banyak Tugas, Kurang Tidur, Tetap Bodoh!”

Orang tua jadi anak, anak jadi orang tua

Saya dari dulu tahu bahwa suatu ketika orang tua akan kembali seperti anak-anak. Saat itulah, anak akan berlaku sebagai orang tua. Kita sudah sering banget dengar hal ini. Saya baru benar-benar tahu (atau agak tahu) maknanya beberapa hari belakangan ini. Pengalaman memang benar-benar guru yang utama.

Continue reading “Orang tua jadi anak, anak jadi orang tua”

Cerita Saya Sekolah S2 #2: Bahasa Inggrisku [ternyata] Berantakan

sambungan dari bagian 1

Sejak pertemuan perdana dengan kedua supervisor, hidup terasa berubah. Ada ketegangan dan kekhawatiran yang secara konsisten hadir. Meskipun saya menjalani hari-hari dengan penuh kelakar dan menikmati setiap penggal waktu, sebenarnya selalu ada kekhawatiran. Bisa bertahan nggak ya? Bisa lulus nggak ya? Pertanyaan itu muncul terus.

Continue reading “Cerita Saya Sekolah S2 #2: Bahasa Inggrisku [ternyata] Berantakan”

Cerita Saya Sekolah S2 #1: Memulai dari NOL!

Januari 2004 adalah titik awal sejarah itu dimulai. Saya mendarat pagi hari di Bandara Sydney setelah menempuh perjalanan semalam penuh dari Bali. Meskipun keriangan masih tak terbendung karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di Negeri Kangguru untuk sekolah S2, kegamangan menyelinap dengan segera. Pertanyaan ini dan itu muncul dengan deras, keraguan susul menyusul dengan sigap dan cepat. “Bisakah saya bertahan dan kemudian pulang dengan cerita yang baik?” Itu pertanyaan yang muncul segera menjadi kegelisahan tetap yang bercokol di pikiran saya setiap saat.

Continue reading “Cerita Saya Sekolah S2 #1: Memulai dari NOL!”

Pesan untuk Mahasiswa Bidikmisi

Foto: selepas mengisi acara Kamadksi Undip

Jika digolongkan berdasarkan situasi ekonomi orang tuanya, mungkin mahasiswa memang bisa digolongkan mahasiswa Rich Dad alias yang orang tuanya kaya dan berkecukupan dan Mahasiswa Poor Dad alias yang orang tuanya pra sejahtera. Mahasiswa jenis kedua ini banyak ditemui di Indonesia, terutama mereka yang mendapat beasiswa Bidikmisi. Sejak tahun 2010, pemerintah Indonesia melakukan terobosan kebijakan dengan memberi beasiswa kepada anak-anak keluarga miskin sehingga bisa kuliah. Ini luar biasa.

Continue reading “Pesan untuk Mahasiswa Bidikmisi”

Jangan terlalu serius, ini cuma gelar Doktor

Di hari pertama saya memulai PhD di Australia, pembimbing saya menyampaikan “it’s only a PhD, Andi. Take it easy”. Saya terkejut. Bagaimana bisa santai? Ini adalah pencapaian akademik tertinggi. Saya harus buktikan bisa menciptakan hal baru dan berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Bagaimana bisa santai?!?!

Dia paham kegalauan saya. Dia kemudian melanjutkan. Doktor adalah surat izin meneliti. Tidak lebih dari itu. Dengan meraih gelar doktor kamu sudah lolos proses pelatihan sehingga selanjutnya siap meneliti yang ‘sebenarnya’. Lebih lanjut dia bilang “the real work is after your PhD”. Jangan habiskan waktumu saat meraih doktor karena itu bukan pencapaian tertinggimu.

Jika kamu punya passion dan ketertarikan akan satu bidang, kerjakan itu dengan sungguh-sungguh, dengan semangat, dengan keriangan, tanpa tekanan deadline dan tanpa direcoki oleh orang lain. Saat proses meraih doktor, kamu tidak punya kemewahan itu. Jadi kamu bisa simpan dulu cita-cita besar itu sampai lulus PhD dan nanti kamu bisa melakukan apa saja.

Dia lanjut lagi. Jika kamu bisa kerjakan PhD dengan cara yang mudah namun sudah memenuhi syarat minimal sebagai PhD, kamu tidak harus menyiksa diri berlebihan, kan?! Jika kamu ingin yang luar biasa dan sempurna, lakukan setelah gelar PhD di tangan. Kamu bisa mengatur sendiri ritme dan kedalaman penelitianmu ketika itu.

Di suatu ketika, saya bertemu teman yang memulai PhD hampir bersamaan dengan saya. Dia ternyata sudah lulus. Ketika saya jelaskan situasi saya, dia hanya berkomentar singkat. “Come on, Man. Get your license and let’s start the real work”.

Jadi, ini cuma gelar doktor, jangan terlalu serius 🙂