Ada Intan di UGM

Sore kemarin saya kedatangan dua orang tamu. Mereka adalah Intan dan Dita, keduanya mahasiswa Fisipol, UGM. Di kesempatan lain saya akan cerita tentang Dita. Kali ini, saya akan mengisahkan Intan. Intan adalah sebuah kisah klasik insan UGM. Dia lahir di keluarga sederhana dari seorang ibu yang telah melahirkan 10 orang anak. Intan anak terkecil dan ayahnya pun telah tiada. Ibunya ‘hanya’ pedagang sembako kecil dan harus berjibaku menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Ini sudah tahun 2019, saya tertegun mendengar penggalan cerita yang lebih mirip dengan kisah tahun 1980an.

Continue reading “Ada Intan di UGM”

Advertisements

MEMAHAMI PULAU DAN REKLAMASI

I Made Andi Arsana, Ph.D
madeandi@ugm.ac.id
Dosen Teknik Geodesi UGM, menekuni aspek geospasial hukum laut internasional

Sebuah berita dengan headlines “Anies: Reklamasi Itu Pantai, Bukan Pulau” di Kumparan tanggal 23 Juni 2019 menuai perdebatan hangat. Banyak yang menyalahkan Anies Basewedan,Gubernur DKI Jakarta, dengan pernyataan itu. Kini media sosial penuh dengan cela-mencela atau bela-membela seputar istilah reklamasi, pantai dan pulau. Mari kita lihat.

Continue reading “MEMAHAMI PULAU DAN REKLAMASI”

Tips Menjawab Pertanyaan Dosen saat Sidang Skripsi

Sidang skripsi bisa jadi misteri yang paling ditakuti oleh mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang lancar ketika kuliah tetapi terhambat kelulusannya karena tidak siap menjalani sidang skripsi. Ada juga mahasiswa yang nilai skripsinya tidak maksimal bukan karena topik dan penggarapan skripsinya yang buruk tetapi karena tidak tampil prima saat sidang skripsi. Sebagian lain mengalami kesulitan karena tidak memiliki kesiapan saat harus menjawab pertanyaan atau komentar penguji saat sidang skripsi.

Continue reading “Tips Menjawab Pertanyaan Dosen saat Sidang Skripsi”

Eid Mubarak, Fatima

Dear Fatima,

I am writing this while overhearing the beauty of adzan from a mosque located not far from where I live. You’ve been here, I am sure you can imagine. The night has just arrived and I could feel stronger energy through the salawat sung by ummah, young and old, male and female. The last night of Ramadhan, everybody seems happy for a successful one-month journey. Yet, I could feel how they start to miss the holly month already.

Continue reading “Eid Mubarak, Fatima”

Kalah Tapi Tak Hina

Kemarin saya menemukan sebuah piagam lama yang umurnya sudah lebih dari dua dekade. Di piagam itu bertuliskan “Juara II” dalam rangka pemilihan siswa teladan di Kota Denpasar. Ingatan saya melambung ke masa lalu dan tiba-tiba potongan-potongan fragmen hidup seperti diputar ulang meskipun acak dan tidak kronologis.

Orang pertama yang saya ingat adalah dia yang memperoleh “Juara I”. Tak lain dan tak bukan, lelaki itu adalah Kadek Dian Sutrisna, siswa SMA 1 Denpasar. Konon, final sejati pemilihan siswa teladan Bali berlangsung di tingkat kabupaten/kota, tepatnya di Kota Denpasar. Mereka yang memenangkan kompetisi ini dipastikan melaju ke Jakarta. Dek Dian, dengan meyakinkan, memastikan tiket untuk ke Jakarta, bahkan sebelum berlaga di tingkat Provinsi Bali. Benar saja, beberapa bulan kemudian, Dek Dian mewakili Bali di Jakarta.

Continue reading “Kalah Tapi Tak Hina”

Cerita dari Tiongkok

Seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada menghubungi saya, namanya Angelo Wijaya. Dia merekomendasikan saya kepada panitia untuk jadi pembicara di Tsinghua University, Tiongkok yang digelar Students Association of Belt and Road. Rupanya interaksi dan dukungan2 kecil yang saya berikan ke Angelo membuat dia mengambil keputusan itu.

Continue reading “Cerita dari Tiongkok”

Seteru Indonesia dengan Vietnam di Laut China Selatan

Dan terjadi lagi. Belum sebulan berlalu sejak insiden di Selat Malaka, insiden di laut terjadi lagi. Kali ini melibatkan kapal Indonesia dengan Vietnam di Laut China Selatan. Menurut sebuah video amatir, sebuah kapal penjaga pantai Vietnam menabrak kapal Indonesia di perairan dekat Kepulauan Natuna.

Menurut berita, ada kapal Vietnam yang menangkap ikan di Kawasan tersebut dan ditangkap oleh petugas Indonesia. Kapal petugas Vietnam datang dan menabrak kapal Indonesia. Menteri Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa insiden itu terjadi di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia dan kapal nelayan Vietnam itu melakukan pencurian ikan.

Harus dipahami lagi konsep Hukum Laut Internasional. Setiap negara berhak atas ruang laut dengan ukuran sesuai dengan ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Hak ini meliputi dasar laut (landas kontinen) dan air laut dengan ketentuan masing-masing. Untuk air laut, misalnya, sebuah negara berhak hingga 200 mil laut ZEE yang diukur dari garis pantai atau garis pangkalnya.

Jika jarak dua negara kurang dari dua kali 200 mil laut artinya akan ada tumpang tindih hak baik untuk dasar laut maupun air lait. Di sinilah dua negara harus berbagi. Indonesia dan Vietnam sudah berbagi dasar laut dengan kesepakatan tahun 2003. Sayangnya keduanya belum sepakat soal batas air laut (ZEE). Landas kontinen (dasar laut) dan ZEE (air laut) memang dua rejim berbeda yang diatur dengan pasal hukum berbeda di UNCLOS. Wajar jika penetapan batasnya tidak bersamaan.

Menariknya, meskipun belum sepakat batas ZEE, Indonesia dan Vietnam sama-sama telah mengajukan usulan garis batas sepihak. Dengan memperhatikan kaidah-kaidah di UNCLOS, Indonesia mengusulkan garis batas air laut yang berbeda dengan garis batas dasar laut. Sementara itu, Vietnam mengusulkan garis batas air laut yang sama dengan garis batas dasar laut. Garis usulan ini berbeda dan mengakibatkan adanya ruang air laut yang sama-sama diinginkan oleh kedua negara. Ini menjadi klaim tumpang tindih.

Pasal 74 UNCLOS mengatakan bahwa jika terjadi tumpang tindih hak ZEE maka kedua negara harus mengusahakan solusi yang adil bagi kedua negara. Istilah yang dipakai adalah “solusi yang adil” tanpa menjelaskan metode teknis yang harus digunakan. Pasal itu, misalnya, tidak mengatakan harus sama jarak atau harus menghasilkan luas lautan yang sama. Maka dari itu, masing-masing memiliki interpretasi sendiri-sendiri yang berakibat pada berlarut-larutnya perundingan batas maritim.

Singkatnya, ada ruang laut ‘abu-abu’ di antara Indonesia dan Vietnam yang diinginkan keduanya. Idealnya, masing-masing negara tidak melakukan pemanfaatan sumberdaya alam di sana. Jika salah satu melakukannya maka pihak lain tidak akan membiarkannya. Inilah yang terjadi pada insiden antara Indonesia dan Vietnam. Indonesia tentu menganggap kedatangan Vietnam untuk menangkap ikan di kawasan tumpang tindih itu sebagai kesalahan. Masalahnya, jika Indonesia datang ke kawasan itu untuk menegakkan hukum maka pertannyaan dan tuduhan yang sama juga akan dialamatkan ke Indonesia.

Solusinya apa? Jika belum berhasil disepakati batas maritimnya, sebaiknya Indonesia dan Vietnam menyepakati mekanisme kerja sama di kawasan tumpang tindih tersebut. Hal ini telah dilakukan oleh Indonesia dan Malaysia dengan MoU tahun 2012. Salah satunya adalah perlakuan terhadap nelayan di kawasan tersebut dengan baik. Solusi paling penting tentu saja mempercepat penetapan batas ZEE kedua negara. Negosiasinya perlu diintensifkan dan kedua negara harus sadar bahwa batas maritim adalah kesepakatan hasil kompromi. Jika semua pihak bertahan pada usulannya, kesepakatan tidak akan pernah tercapai.

Ada tiga hal yang penting dari insiden ini. Pertama, Vietnam seharusnya tidak melakukan penangkapan ikan di kawasan tumpang tindih dan Indonesiapun tidak memiliki hak penegakan hukum di kawasan tersebut. Kedua, penindakan atas pencuri ikan tetap harus dilakukan pada kawasan yang sudah jelas status batas wilayah dan yurisdiksinya. Pada kawasan yang batasnya belum jelas, pendekatannya harusnya berbeda. Ketiga, batas maritim harus dipercepat penetapannya demi pertetanggaan yang baik. Seperti kata Robert Frost, “good fences make good neighbors”.