Jangan terlalu serius, ini cuma gelar Doktor

Di hari pertama saya memulai PhD di Australia, pembimbing saya menyampaikan “it’s only a PhD, Andi. Take it easy”. Saya terkejut. Bagaimana bisa santai? Ini adalah pencapaian akademik tertinggi. Saya harus buktikan bisa menciptakan hal baru dan berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Bagaimana bisa santai?!?!

Dia paham kegalauan saya. Dia kemudian melanjutkan. Doktor adalah surat izin meneliti. Tidak lebih dari itu. Dengan meraih gelar doktor kamu sudah lolos proses pelatihan sehingga selanjutnya siap meneliti yang ‘sebenarnya’. Lebih lanjut dia bilang “the real work is after your PhD”. Jangan habiskan waktumu saat meraih doktor karena itu bukan pencapaian tertinggimu.

Jika kamu punya passion dan ketertarikan akan satu bidang, kerjakan itu dengan sungguh-sungguh, dengan semangat, dengan keriangan, tanpa tekanan deadline dan tanpa direcoki oleh orang lain. Saat proses meraih doktor, kamu tidak punya kemewahan itu. Jadi kamu bisa simpan dulu cita-cita besar itu sampai lulus PhD dan nanti kamu bisa melakukan apa saja.

Dia lanjut lagi. Jika kamu bisa kerjakan PhD dengan cara yang mudah namun sudah memenuhi syarat minimal sebagai PhD, kamu tidak harus menyiksa diri berlebihan, kan?! Jika kamu ingin yang luar biasa dan sempurna, lakukan setelah gelar PhD di tangan. Kamu bisa mengatur sendiri ritme dan kedalaman penelitianmu ketika itu.

Di suatu ketika, saya bertemu teman yang memulai PhD hampir bersamaan dengan saya. Dia ternyata sudah lulus. Ketika saya jelaskan situasi saya, dia hanya berkomentar singkat. “Come on, Man. Get your license and let’s start the real work”.

Jadi, ini cuma gelar doktor, jangan terlalu serius 🙂

Ketika Lita Ikut Lomba Dharma Wacana Bahasa Inggris

Saya diminta jadi pembina lomba Dharma Wacana (ceramah keagamaan Hindu) dalam Bahasa Inggris bagi kontingen Kabupaten Sleman. Yang menarik, Lita jadi salah satu peserta kategori remaja. Saya sudah melihat tantangannya. Membina anak sendiri tidak pernah mudah.

Continue reading “Ketika Lita Ikut Lomba Dharma Wacana Bahasa Inggris”

Apakah Kita Kehilangan Sipadan dan Ligitan?

Tahun 2002, Indonesia kalah atas Malaysia dalam kasus penentuan kepemilikan atas Pulau Sipadan dan Ligitan. Apakah Indonesia kehilangan kedua pulau itu? Indonesia tidak pernah kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan. Indonesia hanya gagal menjadikan kedua pulau itu sebagai miliknya. Secara hukum, Sipadan dan Ligitan memang belum pernah secara sah menjadi milik Indonesia. Bagaimana mungkin kita kehilangan sesuatu yang tidak pernah dimiliki? Memangnya kamu yang merasa kehilangan padahal belum pernah memiliki 🙂

Continue reading “Apakah Kita Kehilangan Sipadan dan Ligitan?”

Setelah Enam kali Gagal Beasiswa Australia, Berhasil di Percobaan Ketujuh

Di Universitas Lambung Mangkurat, saya bertemu dengan Mas Kailani, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB). Dari percakapan kami, saya tahu bahwa Mas Kailani adalah alumni University of Adelaide, Australia dengan beasiswa AAS. Beliau baru saja pulang tahun 2016. Mas Kailani juga menceritakan beliau adalah pembaca blog dan buku saya.

Continue reading “Setelah Enam kali Gagal Beasiswa Australia, Berhasil di Percobaan Ketujuh”

Siasat Moderator Ketika Acara Berubah

Saya diminta jadi moderator Direktur Utama (Dirut) PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) tanggal 15 Agustus 2019. Seperti biasa, saya siapkan dengan baik. Saya pelajari CV Pak Gigih prakoso, Dirut PGN, dengan seksama. Saya sudah pastikan kalimat-kainat yang akan saya ucapkan dari awal sampai akhir. Membukanya, guyonnya, tanya jawabnya, penutupnya juga. Apalagi selevel Ditektur Utama BUMN, persiapannya tidak boleh main-main.

Continue reading “Siasat Moderator Ketika Acara Berubah”

Bagaimana UGM Menyambut Mahasiswa Baru?

Saya mengawali tulisan ini di sebuah ruangan di Teknik Mesin dan Industri UGM. Di depan saya ada 38 anak muda Indonesia yang meletup-letup gairahnya Semua itu nampak dari mata mereka yang selalu nanar dan senyum yang tersembul bergitu rajin. Mereka mahasiswa baru UGM angkatan 2019. Konon mereka adalah sebagian dari 8000an anak muda terbaik Indonesia yang berhasil masuk UGM setelah ‘menyisihkan’ 195ribuan peminat. Sebuah rasio yang mengesankan.


Continue reading “Bagaimana UGM Menyambut Mahasiswa Baru?”

A Dream from Paser

From Yogyakarta, I flew to Balikpapan, a city in East Kalimantan on 19 July 2019. Before I knew it, I already stepped my feet on the land of Borneo, only less than two hours after taking off from Adi Sucipto Airport. Borneo indeed is not far from Java but it seems quite far, somehow. There is something funny about distance and perception in this country. The distance from Java to Balikpapan may seem close but the distance from Balikpapan to Java, for many people residing in Balikpapan, might be a lot farther.

Continue reading “A Dream from Paser”