Pirku malang pirku tersayang


http://www.menumakananbalita.com/

Sore tadi saya membeli buah pir di sebuah pusat perbelanjaan di Wollongong. Mungkin lagi musimnya, ada begitu banyak pir yang dipajang, semuanya segar dan ranum. Warnanya yang hijau merekah mengundang selera. Rasanya ingin membeli semuanya tapi saya hidup sendiri. Tidak ada perlunya membeli buah pir lebih dari lima biji.

Saat mendekati sebuah keranjang, saya berpikir sejenak. Ternyata tidak mudah memilih lima biji pir dari ratusan yang bagus. Sulit menemukan yang cacat, semuanya istimewa dan nampak manis menggoda. Saya sentuh satu per satu, semuanya segar. Pir itu mengkal dan padat, matangnya pas mantap. Satu disentuh, yang lain seakan berteriak “mengapa bukan aku?!”. Begitu tangan saya berpindah ke yang berteriak, yang ditinggalkan menjerit “mengapa tidak jadi memilihku?!”. Kalau saja pir itu bisa berbicara, pastilah suasana akan riuh oleh tawa, pertengkaran, teriakan dan tangisan yang mengumandang.

Masalah saya hanya satu, tidak punya banyak waktu. Akhirnya tanpa berpikir panjang saya sambar lima “terbaik” yang terlihat dan terjangkau. Saya tidak bisa menghabiskan waktu berjam-jam di toko buah itu. Saat beranjak pergi, seakan-akan terdengar tangisan yang menyayat, teriakan yang mengujat dan kemarahan yang meledak-ledak dari toko itu. Ratusan biji pir itu kecewa berat, tidak terpilih padahal memenuhi segala persyaratan. Sementara dari dalam tas plastik yang saya jinjing, samar-samar terdengar puja puji syukur atas nikmat penguasa alam. Dua dari mereka bahkan terdengar menyombongkan diri karena merasa paling hebat mengalahkan ratusan temannya. Satu lagi masalah saya, saya hanya perlu lima biji.

Ada hal yang tidak bisa dijelaskan mengapa lima pir itu terpilih sementara kualitas pir yang lainnya tidak lebih buruk? Ada sesuatu yang bekerja di balik itu dan tidak mudah untuk dijelaskan karena memang DIA acintya, tak terpikirkan. Bahwa buah pir yang tidak terpilih ini akan meratap, berteriak, marah atau memilih untuk tersenyum dan menunggu pembeli berikutnya, itu adalah cerita lain.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

11 thoughts on “Pirku malang pirku tersayang”

  1. Semoga usaha kita semua berbuah manis dan bisa menyusul Pak Andi jadi sedikit dari ‘buah pir’ yang terpilih untuk belajar lebih banyak di Australia. Yippieee..

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s