[Bukan] tabrak lari

dirawat setelah ditabrak

Pagi itu tanggal 13 September 2012, mobil saya ditabrak oleh sebuah mobil saat berhenti di sebuah perempatan yang padat lalu lintasnya. Pagi itu saya mengantar Lita, anak saya, ke sekolah di Jogja bersama mbah putrinya dan harus berhenti karena perempatan sangat padat. Saya lihat polisi sibuk mengatur lalu lintas dengan cekatan. Di depan saya terlihat sebuah mobil berhenti dan sayapun berhenti pada jarak sekitar dua meter di belakangnya. Saya yakin ini posisi aman karena jalannya tidak terlalu menanjak. Untuk kondisi wajar, tidak akan terjadi apa-apa, saya yakin.

Continue reading “[Bukan] tabrak lari”

Meminjamkan mata hati

dinazhar.multiply.com

Suatu pagi, saya mengantar Lita ke sekolah. Kami melewati sebuah pasar yang ramai bukan main sehingga saya harus melaju sangat pelan. Di depan saya terlihat seorang anak SMA perempuan yang berjalan agak di tengah. Sepertinya anak ini kurang menghiraukan lalu lintas yang padat. Dia telah menambah keruwetan pasar pagi itu. Tak ayal lagi, motor dan mobil membunyikan klakson membuat suasana jadi riuh rendah. Sebuah mobil yang berjalan tepat di belakang anak SMA itu bahkan membunyikan klaksonnya dengan keras dan panjang karena anak itu tidak menghentikan langkahnya. Selanjutnya anak itu terlihat panik dan justru berjalan agak ke tengah jalan sehingga nyaris bertabrakan dengan mobil yang saat itu sudah melintas di sampingnya. Mobil itupun secara tiba-tiba berhenti, orang-orang di pasar berteriak histeris. Saya berharap-harap cemas, apa yang akan terjadi. Terbayang si bapak sopir akan berteriak memaki anak SMA yang tidak tahu aturan itu.

Continue reading “Meminjamkan mata hati”