Merry Christmas From Tegaljadi

Dear Mommy,

This Christmas, I won’t be able to see you and dad. Such a pity but I have a story to tell. I am celebrating Christmas in the Island of Gods in Bali, in a village called Tegaljadi. They have no church for me to see God in a proper ritual. I never forget, however, you convinced me that I do not need a special place to see Him. And here I am, sitting still next to the Merajan, a family temple, beautifully sculptured with Balinese ornament.

Continue reading “Merry Christmas From Tegaljadi”

Advertisements

Lita’s Mission: Writing a Speech!

“Hello Ayah”

“Hey, Lita. It’s you?!”

“Yes, it’s me”

“How do you know that I wanted to talk to you?”

“Hmm… well actually, I don’t know”

“Oh haha. Where are you?”

“I am on the way home.”

“With Ibu?”

“Yes, she is driving”

“Oh that’s why you’re picking up the phone”

“Yeah right”

“Lita, I wanted to talk to you. I need a hand”

“Do you need what?”

“I need a hand! I need your help”

“Oh, a hand. Okay. What is it?”

“You know Bu Luh is an English teacher, right?”

“Yes, I know”

“She is also teaching kids in the village, right?”

“Yes, I know Ayah”

“Good!”

“So?”

“For the coming independence day, the tujuh belas agustus thing, she would like to organise a competition”

“Okay…..”

“Yes, it is an English Speaking Competition”

“Oh Ayah, please….”

“No… Don’t take me wrong. I am not asking you to participate in the competition”

“Oh okay.. that’s good!”

“The competition is for the kids. For Bu Luh’s students”

“Oh okay..”

“But I need you to do me a big favour”

“Hmm… what is it?”

“Please write me a speech. An English Speech, will you?”

“What for?”

“Okay, the kids in the village, Bu Luh’s students, will participate in the competition. They will have to deliver a speech for that.”

“And…”

“And Bu Luh needs our help to write them a speech. The kids will read it during the competition”

“Oh okay…”

“Can you, please?”

“Hmm.. okay… “

“This is a simple speech only. Maybe less than a page of HVS paper”

“Can I use complicated words?”

“Hmm… it is better not to use too many complicated words”

“Oh, it’s going to be hard”

“Hahahaa.. come on”

“It’s true Ayah”

“Okay, I understand. But please. Use simple language. As simple as possible, Ok. I know you can do it. Please….”

“Okay, I will do it”

“Great! Thank you so much”

“When do you need it?”

“Hehe this is the problem. I need it tonight”

“What?”

“Yes, tonight!”

“Okay, tonight is long. What time Ayah?”

“Hmm… I will be flying to Jakarta at 8pm and arrive there probably at 9 something pm. I will go directly to my hotel and may arrive at the hotel at around 10pm. If you can send me the file around 10.30pm or 11ish, it will be great!”

“Hmm… okay!”

“Oh really? Do we have a deal?”

“Ok, Ayah.. I will try!”

“Oh thank you so much. You save my life, Lita! I love you so much!”

“I love you too Ayah”

“Okay, I will be waiting for your file tonight, Okay?!”

“Okay..”

“Love you, Lita”

“Love you too, Ayah”

“Okay bye-bye”

“Bye…”

Later that night …

“Hello Ayah…”

“Hey Lita… you sound sleepy”

“Yes…”

“Are you done yet?”

“Does it have to be tonight?”

“Hehe… well, not really”

“Can I finish it tomorrow?”

“Okay… that’s fine! Have a good rest. It’s late already”

“Bye Ayah…”

“Bye Lita..”

The next day… in an email

“Dear ayah,

this is the speech you asked for.

Love,

Me”

Pas dibuka, welah dalah kok temanya tentang Pancasila? Bocah hehehe… 

Screen Shot 2017-06-01 at 11.05.56 PM

Mobil Mogok

Matahari terik, tepat di atas kepala ketika mobil kami tiba-tiba mati dan tidak bisa dihidupkan di Jalan Sudirman di depan BCA, Yogyakarta. Kami yang menuju tempat kondangan pernikahan jadi panik. Saya coba hidupkan berkali-kali tidak berhasil. Sementara itu, mobil di belakang kami mulai tidak sabar. Satu per satu dari barisan mobil itu membunyikan klakson mereka. Makin lama makin tidak sabar dan kian liar. Lengkingan suara klakson itu membuat kami makin panik.

Continue reading “Mobil Mogok”

Galungan Hari ini, Masih di Tegaljadi

Jalan kami tak diukir lagi. Rupanya Ibu Bupati sudah peduli dan jalan desa kini rapi jali. Lihatlah penjor-penjor yang menuju langit dan melengkung lalu menukik turun seakan mengajarkan bahwa yang menjulang toh akhirnya akan merunduk. Maka penjor mengingatkan, kesombongan itu hanya milik orang-orang yang lemah dan gamang menentukan jati dirinya. Di Desa Tegaljadi, saat Galungan ini, pelajaran hadir lewat penjor, asap dupa yang mengepul, sanggah dari anyaman bambu yang berselempang kain kasa putih kuning atau ceniga yang menjuntai memamerkan rias-rias sakral untuk ritual.

Continue reading “Galungan Hari ini, Masih di Tegaljadi”

Buku Ini Budi

Sambil menunggu waktu rapat di Ruang Rapat Sekjen Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti), saya sempat mampir ke sebuah direktorat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Di sebuah lorong, saya berhenti di dekat sebuah rak yang memajang beberapa buku hasil karya Kemendikbud, terutama Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Bagian ini mengelola keterlibatan orang tua dalam pendidikan bagi anak didik di Indonesia, sebuah direktorat yang relatif baru.

Continue reading “Buku Ini Budi”

Restoran

Table fourteen ready for main, please!” Jo berteriak sambil menggotong tumpukan piring dan mangkok kotor di tangannya. Digeletakkannya piring dan mangkok itu di atas meja aluminium di sebelahku. Suara berisik menyentak seiring sendok dan garpu yang berserakan di atas meja. Tak sempat kuperhatikan lebih lama, tanganku sedang tak boleh berhenti menggosok ember plastik putih yang licin karena minyak. Air hangat cenderung panas mengalir dari keran membantuku mengenyahkan minyak yang susah pergi.

Continue reading “Restoran”

Indon yang Kafir

Aku tidak suka dipanggil Indon, terutama oleh orang Malaysia. Menurutku, pada panggilan ini ada sentimen merendahkan, menuduh bodoh dan menghina. Dipanggil Indon, sama dengan dihina. Dipanggil Indon, sama dengan diremehkan dan direndahkan martabatnya secara terang-terangan di siang bolong. Apapun katanya, aku tidak sudi dipanggil Indon. Itu prinsipku sejak dulu, sejak pertama kali mendengar kata Indon yang kutahu ditujukan kepada para pekerja rumah tangga dari Indonesia yang memperjuangkan hidupnya di negeri jiran Malaysia. Singkatnya, aku tidak terima.

Continue reading “Indon yang Kafir”