Restoran

Table fourteen ready for main, please!” Jo berteriak sambil menggotong tumpukan piring dan mangkok kotor di tangannya. Digeletakkannya piring dan mangkok itu di atas meja aluminium di sebelahku. Suara berisik menyentak seiring sendok dan garpu yang berserakan di atas meja. Tak sempat kuperhatikan lebih lama, tanganku sedang tak boleh berhenti menggosok ember plastik putih yang licin karena minyak. Air hangat cenderung panas mengalir dari keran membantuku mengenyahkan minyak yang susah pergi.

Continue reading “Restoran”

Indon yang Kafir

Aku tidak suka dipanggil Indon, terutama oleh orang Malaysia. Menurutku, pada panggilan ini ada sentimen merendahkan, menuduh bodoh dan menghina. Dipanggil Indon, sama dengan dihina. Dipanggil Indon, sama dengan diremehkan dan direndahkan martabatnya secara terang-terangan di siang bolong. Apapun katanya, aku tidak sudi dipanggil Indon. Itu prinsipku sejak dulu, sejak pertama kali mendengar kata Indon yang kutahu ditujukan kepada para pekerja rumah tangga dari Indonesia yang memperjuangkan hidupnya di negeri jiran Malaysia. Singkatnya, aku tidak terima.

Continue reading “Indon yang Kafir”

Pulang ke Indonesia

Yogyakarta, Awal Agustus 1996

id16Kami bertiga, calon mahasiswa UGM itu, berjongkok di dekat pagar tembok berwarna putih kusam. Pagar itu ada di depan sebuah rumah sederhana, milik seorang lelaki tiga puluhan tahun yang kami hormati. Beliau adalah dosen UGM yang telah menjadi ‘bapak asuh’ bagi kami bertiga dalam beberapa hari ini. Kami yang baru tiba di Jogja untuk menuntut ilmu, ‘diangkat’ anak oleh beliau dan diizinkan tinggal di rumahnya.

Peringatan Hari Kemerdekaan segera tiba dan kami bersemangat mengecat pagar tembok itu dengan warna putih. Kami bertiga, beberapa orang anak kos lain dan lelaki panutan itu bekerja sambil bermain dan berkelakar. Semua cerita dan lelucoh mengalir deras, penggal demi penggal tembok kusam itu berubah putih bersih dan bercahaya. Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Mengecat tembok dengan semangat untuk peringatan hari kemerdekaan tidak saya temui di kampung saya di Bali.

Sore sudah mampir, pagar tembok sudah putih sempurna. Cahaya matahari membuatnya cerah berwibawa. Di sisi tembok itu menjulang umbul-umbul merah putih, silih berganti dengan bedera yang berkibar perlahan oleh angin sore yang mulai malas. Saya berdiri menatap, melepas penat yang segera berlalu demi menyaksikan nuansa merah putih yang berwibawa.

Wollongong, November 2013

Now, your thesis is done and you are ready to submit. Congratulation!” tiba-tiba lamunan saya buyar oleh kalimat berwibawa lelaki di depan saya. Kata-katanya mantap memberi selamat dan semangat. Wajah lelaki usia empat puluhan itu nampak serius meskipun selalu ada senyum di bibirnya. Dia duduk tenang dan santai di kursi sambil sesekali memutar tempat duduknya sehingga tubuhnya bergoyang kiri dan kanan secara wajar. Baru sadar lagi, saya memperbaiki posisi duduk di depannya, menyimak dengan seksama. Hari itu tidak biasa, kami tidak sedang membicarakan disertasi saya seperti minggu-minggu sebelumnya. Rupanya urusan disertasi sudah tidak lagi masuk dalam prioritasnya karena memang disertasi saya sudah rampung. Paripurna sudah sebuah tugas besar nan panjang. Hari itu, Prof. Clive Schofield, pembimbing saya, memanggil saya untuk urusan yang lebih dari sekedar disertasi.

Saya hanya tersenyum saja sambil berterima kasih ringan. Ada rasa tidak percaya, akhirnya proyek panjang itu terselesaikan. Pendidikan saya di Australia telah mencapai titik akhir dan saatnya untuk menyudahi perjalanan di Negeri Kangguru ini. Terbayang jelas dalam ingatan ketika saya tiba pertama kali di Sydney tanggal 14 Januari tahun 2004 dan artinya itu sudah berlalu satu dekade. Selama itu pula saya tidak pernah lepas dari Australia, mulai dari S2, penelitian atas prakarsa PBB, S3 dan bahkan Postdoc. Satu dekade ini saya telah menghabiskan waktu di Australia dengan status sebagai mahasiswa dan atau peneliti. Hari itu, saat Clive memanggil saya, drama sepuluh tahun perjuangan itu seperti diputar ulang dengan kecepatan tinggi.

What is your plan?” tanya Clive pada saya yang masih belum bisa menguasai keadaan dengan baik. Saya masih tersenyum saja, tidak berkata banyak. Saya hanya mengatakan “well…” sambil menganggukkan wajah dan tersenyum pertanda ada gejolak dalam hati yang mendesak dan tidak tuntas.

The door is always open for you, Andi” kata Clive. Dia kemudian melanjutkan bahwa jika saya berniat bekerja di University of Wollongong bersama dia maka kesempatan itu terbuka lebar. Ada berbagai topik penelitian yang bisa saya kerjakan dan Clive akan dengan senang hati bekerja dengan saya. Begitu dia menegaskan. “It is your call” katanya sambil tersenyum, menyerahkan pilihan itu kepada saya.

Mendapat tawaran dari seorang ‘Dewa’ di bidangnya untuk bekerja dan meneliti di sebuah institusi terkemuka Australia tentulah sangat menggoda. Di tengah kegalauan dan kekhawatiran untuk kembali ke tanah air karena terbayang akan terjadi perubahan drastis dalam hal budaya meneliti dan juga urusan finansial, tawaran Clive itu adalah godaan yang merangsang. Meski menawarkan itu, nampak jelas Clive mengenal saya dengan baik. Dia tidak memaksa, tidak juga ada kesan menakan.

I cannot thank you enough for everything you have done for me Clive” kata saya memulai dan dia tersenyum. “I appreciate your offer and I will treat this as an open opportunity. You know, I will go home to Indonesia” demikian saya sampaikan lalu berhenti sesaat. Wajahnya tidak terkejut meskipun saya melihat raut muka yang tidak biasa pada Clive. Entah apa itu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tanpa berkata, tanda mengerti apa yang saya sampaikan.

Clive seperti mendengar kata-kata yang tidak saya ucapkan dalam percakapan diam kami. Dia mungkin mendengar saya bergumam “Aku ingin pulang, mengecat pagar rumah yang mungkin mulai kusam. Aku ingin melihatnya putih cemerlang, di sela kibasan Sang Merah Putih yang tak tunduk oleh tikaman matahari sore yang temaram.”

Yogyakarta, 16 Agustus 2016

Washing the dishes is a very important life skills

Ibu saya bilang, bisa mengerjakan pekerjan rumah yang ‘remeh temeh’ memang tidah harus. Apalagi kalau bisa membayar orang lain untuk melakukannya. Meski begitu, bisa mengerjakan semua itu tidak pernah salah. Itu mungkin sebabnya saya ‘ditindas’ di masa kecil untuk mencuci piring. Kebiasaan ‘menindas’ itu kini terjadi pada saya dan Lita adalah ‘korbannya’. Selamat menikmati video ini.

Mengupas Mangga

Tangan-tangan kecil itu saya perhatikan dengan seksama. Telapak tangan kiri memegang sebiji manga dan telapak tangan kanan menggenggam pisau. Nampak sangat tidak terampil, ringkih dan penuh keraguan. Ada juga ketakutan dari gerakannya yang gemetar tidak yakin. Lita, anak saya, sedang mengupas mangga.

Apa istimewanya mengupas mangga? Tidak ada istimewanya bagi saya atau banyak orang lain yang bahkan merasa mengupas mangga itu adalah keterampilan sejak lahir. Tapi percayalah, bagi Lita dan teman-temannya yang hidup pada masa dan situasi kini, mengupas mangga bisa jadi urusan besar yang runyam. Jika Anda memiliki anak sepantaran dengan Lita, tinggal di kota dan hidup di lingkungan yang lebih sering menyajikan mangga telanjang tanpa kulit, maka mengupas mangga menjadi keterampilan mahal.

mangga

Anak-anak kita mungkin terampil memainkan tuts-tuts piano, menggesek senar biola, memainkan papan ketik komputer, memijat layar-layar sentuh tablet atau ponsel cerdas dan menghitung di luar kepala soal-soal matematika yang biasa dipelajari oleh mereka yang jauh di atas umurnya. Tentu saja itu semua bagus tetapi mereka mungkin termasuk golongan yang tergagap-gagap ketika memegang sapu lidi, mengupas mangga, menggerakkan alat pel, mengucek baju yang kotor, menggosokkan spon di permukaan piring yang licin bersabun, atau bahkan sekedar untuk melipat kembali selimut mereka sendiri di pagi hari. Mereka mungkin termasuk anak yang berbicara Bahasa Inggris logat Amerika yang fasih tetapi terbata-bata dan terdengar begitu tidak sopan ketika harus berbicara dengan Eyang Puterinya dalam Bahasa Jawa halus.

Lita, anak saya, mungkin termasuk yang demikian tapi saya tidak menginginkan itu. Maka dari itulah saya mengawasinya dengan ketat ketika belajar mengupas mangga. Pelajaran yang tentu saja akan ditertawakan oleh teman kecil saya di Desa Tegaljadi karena, menurut mereka, mengupas mangga termasuk keterampilan yang bisa datang dengan sendirinya. Lita, seperti anak kecil lainnya, kadang mungkin kesal saya pandangi ketika menggerakkan pisau untuk memisahkan kulit mangga dari isinya yang ranum. Dia mungkin kesal saat saya koreksi arah gerakan spon waktu mencuci piring. Dia pastilah tidak bahagia ketika saya memanggilnya kembali ke kamarnya hanya untuk melipat selimut padahal dia sudah siap berangkat ke sekolah. Dia lebih sering merengut tanda tak senang setiap kali saya tegur karena membuat lantai kamar mandi kami basah dan terabaikan sehabis mandi. Saya harus menikmati dengan sabar kemarahan dan kekesalan itu karena saya merasa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihatnya di masa depan.

Saat dia sekolah di sebuah perguruan tinggi di Cape Town nanti, tidak ada yang akan mengupaskan mangga untuknya. Tidak ada pembantu yang akan merapikan selimutnya setiap pagi. Tidak ada yang mencucikan piring untuknya selepas makan malam. Tidak ada yang membersihkan lantai dari serpihan makanan ringan sampai semut berdatangan. Tidak ada yang membuat handuknya kering jika terhempas begitu saja di sudut kamar sehabis mandi di pagi hari. Tidak ada. Tidak ada kemewahan yang membuat Lita bisa hidup cuek tidak peduli. Itulah yang saya lihat di masa depan dan masa depan itu tidak lama lagi. Sayangnya, saya tidak pernah melihat bahwa keterampilan akan datang lewat mimpi dan tiba-tiba dikuasai. Keterampilan juga tidak bisa dibeli secara instan.

Lita masih harus belajar, demikian pula saya sebagai orang tua. Cerita ini bukan tetang keberhasilan tetapi tentang kekhawatiran yang mungkin dirasakan juga oleh sahabat-sahabat saya lainnya. Lita dan generasinya perlu diajari mengupas mangga. Dia perlu tahu bahwa mengupas mangga itu harus dari ujung bekas tangkai, bukan sebaliknya. Lita perlu tahu bahwa mengupas mangga itu harus menghasilkan rangkaian kulit mangga seperti kelopak bunga yang berurai panjang, tidak terpisah satu sama lain. Dia perlu tahu, rangkaian kulit mangga itu akan dipisahkan dari bagian bawah mangga di saat terakhir, sehingga sampahnya menjadi satu kesatuan sebelum akhirnya dia terhempas di tong sampah dengan sekali hentak.

Seperti yang saya selalu katakan pada Lita, mengupas mangga adalah life skill yang tak pernah salah untuk dikuasai. Maka ketika nanti di halaman belakang rumahnya dia melakukan reuni alumni UGM dengan Presiden Kamboja, dia akan mengupas sendiri mangga manalagi sambil berkelakar tentang kekonyolan kawan karib mereka yang sedang kampanye untuk menjadi Sekjen PBB.

GA867, langit antara Bangkok dan Jakarta, 15 Juli 2016

Cinta dalam Sebiji Mangga

Saat kuliah, saya kos di tempat seorang penulis novel dengan nama pena Nani Heroe. Kami memanggil beliau dengan nama Bu Heru. Tempat kos kami berupa sebuah rumah besar yang sudah tua umurnya. Di halaman ada beberapa batang pohon manga. Kerap mangga itu berbuah dan manis rasanya. Kami, anak-anak kos, turut menikmati buah mangga itu dengan penuh sukacita. Saya termasuk yang sering memanjat untuk memanen mangga yang sudah matang.

Continue reading “Cinta dalam Sebiji Mangga”

Ketika MacGyver Tersenggol

Tegaljadi, tahun 1992
Setiap jumat malam Kawan, sekitar jam sepuluh. Aku berlari kencang menembus kegelapan jalan kampung dari Warung Men Ayu menuju rumah. Gelapnya perempatan keramat yang biasanya menyeramkan, tak berdaya setiap Jumat malam. Perempatan yang konon angker itu bertekuk lutut diam tak menunjukkan perbawanya kalau aku berlari kencang melewatinya dengan perasaan bergemuruh. Aku baru saja menonton film kesayangan ku: “MacGyver”.

Aku gugah meme’ (ibu) yang tengah terlelap. Persis seperti yang terjadi minggu lalu. Beliau tentu sudah hafal dan mungkin bahkan sudah siap. Sambil mengusap-usap matanya yang terlihat lelah dan masih dikuasai kantuk, meme’ pasti tersenyum. Tanpa dikomando, bercelotehlah aku menceritakan betapa dramatisnya kisah yang baru saja aku saksikan. MacGyver selalu berhasil memukau dan memsonaku dengan segala kecemerlangan pikir dan akalnya.

“Tinggal satu detik lagi Me’” aku bercerita dengan semangat, “tinggal satu detik lagi waktu yang tersisa dan dia berhasil menjinakkan bom itu.” Aku menumpahkan segala kesenangan dan rasa puas yang tiada tara. Tanganku bergerak-gerak penuh semangat, mimik yang serius sambil sekali waktu menirukan adegan serial MacGyver yang baru saja aku tonton, dan tatapan mata berbinar yang penuh energi. Film berdurasi satu jam itu aku ceritakan dalam waktu satu jam juga karena begitu detil dan persis seperti cerita aslinya. Entah dari mana datangnya kemampuan itu, aku kadang mengutip ucapan tokoh-tokohnya, meskipun kini dalam Bahasa Indonesia. Anak SMP kelas 2 menceritakan kembali kisah sebuah film hanya dengan mengingat substitle Bahasa Indonesia yang mungkin mengenaskan kualitasnya. Entahlah.

Sementara itu, meme’ selalu mendengarkan dengan takzim. Raut mukanya selalu tertarik dan seakan ikut terbawa dalam kisah petualangan seorang pahlawan bernama MacGyver. Matanya awas, meskipun mungkin mengantuk, raut mukanya serius dan terbawa, senyum dan kesedihan silih berganti di wajahnya menyesuaikan alur dan nuansa ceritaku. Meme’ telah ikut larut dalam kisah membasmi kejahatan tanpa senjata.

Tegaljadi, Mei 2016
Aku duduk menikmati sambal bongkot (kecombrang) buatan meme’. Telah kupesankan sebelumnya, aku tidak ingin menikmati apapun selain sambal bongkot khas racikan beliau. Penerbangan dari Jogja ke Bali serta perjalanan dari Bandara ke kampung di Tegaljadi cukup melelahkan. Meski mengantuk, sambal bongkot tidak pernah gagal menyambutku dan menjadi penawar rindu akan rumah, keluarga dan suasana desa.

“Ical, sebenarnya pernah tersenggol” kata meme’ melanjutkan ceritanya soal reality show Dangdut Academy, “tapi dia masih diberi kesempatan oleh para juri. Dia gunakan kesempatan itu dengan baik dan akhirnya bisa menang.” Ketika aku Tanya apakah si pemenang itu memang yang dijagokan beliau, dengan mantap meme’ mengiyakan. “Ical bisa membuat lagu itu menjadi khas sesuai karakternya sendiri. Beda dengan Weni yang juara dua itu. Dia memang bagus dan bisa bernyanyi dengan baik tapi lagunya menjadi tidak berkembang. Lagunya sama dengan aslinya dan dia tidak bisa menampilkan ciri khasnya sendiri.” Aku tiba-tiba seperti mendengar Simon di the American Idol yang mengomentari peserta dengan kritis dan pedas. Meme’ tiba-tiba menjadi seorang ahli dan berkomentar dengan sangat fasih. Aku menyimak dengan seksama.

Raut mukanya serius. Wajahnya penuh gairah. Tangannya bergerak-gerak sibuk memeragakan berbagai hal dan suranya penuh kesungguhan. Meme’ menceritakan kesukaanya, menceritakan petualangan bersama para kontestan Dangdut Academy yang diikutinya dengan seksama. Sementar itu aku tersenyum-senyum mendengarkan sambil mencoba dengan sekuat tenaga menjiwai cerita yang sebelumnya tidak pernah menarik perhatianku.

Ingatanku melayang ke tahun 1991, ketika tidak ada TV di rumah kami. Ketika Warung Men Ayu menjadi satu-satunya harapan penjaja nikmat dan kesenangan di setiap Jumat malam. Ketika gairah untuk menceritakan kembali kisah MacGyver kepada ibuku menyala terang dan mengalahkan rasa takut saat melintas di perempatan keramat. Aku merasakan gariah yang sama pada meme’. Gairah untuk bercerita dan berbagi. Bedanya, meme’ menonton dari TVnya sendiri, beliau tidak perlu menemui para kontestan Dangdut Academy dari sebuah TV berwarna di Warung Men Ayu.

Kalau saja hari ini ada MacGyver. Mungkin aku akan membiarkan MacGyver tersenggol oleh Dangdut Academy. Richard Dean Anderson, pemeran MacGyver, mungkin akan mengedipkan matanya penuh dukungan ketika aku memindahkan saluran TV untuk memberikan kesempatan kepada meme’ berpuas diri bercengkrama dengan Ical dan Weni. Maka tak mengapa ketika MacGyver tersenggol.

Malaysia Airlines dari Kuala Lumpur ke Pulau Langkawi, 30 Mei 2016