Lita’s Mission: Writing a Speech!

“Hello Ayah”

“Hey, Lita. It’s you?!”

“Yes, it’s me”

“How do you know that I wanted to talk to you?”

“Hmm… well actually, I don’t know”

“Oh haha. Where are you?”

“I am on the way home.”

“With Ibu?”

“Yes, she is driving”

“Oh that’s why you’re picking up the phone”

“Yeah right”

“Lita, I wanted to talk to you. I need a hand”

“Do you need what?”

“I need a hand! I need your help”

“Oh, a hand. Okay. What is it?”

“You know Bu Luh is an English teacher, right?”

“Yes, I know”

“She is also teaching kids in the village, right?”

“Yes, I know Ayah”

“Good!”

“So?”

“For the coming independence day, the tujuh belas agustus thing, she would like to organise a competition”

“Okay…..”

“Yes, it is an English Speaking Competition”

“Oh Ayah, please….”

“No… Don’t take me wrong. I am not asking you to participate in the competition”

“Oh okay.. that’s good!”

“The competition is for the kids. For Bu Luh’s students”

“Oh okay..”

“But I need you to do me a big favour”

“Hmm… what is it?”

“Please write me a speech. An English Speech, will you?”

“What for?”

“Okay, the kids in the village, Bu Luh’s students, will participate in the competition. They will have to deliver a speech for that.”

“And…”

“And Bu Luh needs our help to write them a speech. The kids will read it during the competition”

“Oh okay…”

“Can you, please?”

“Hmm.. okay… “

“This is a simple speech only. Maybe less than a page of HVS paper”

“Can I use complicated words?”

“Hmm… it is better not to use too many complicated words”

“Oh, it’s going to be hard”

“Hahahaa.. come on”

“It’s true Ayah”

“Okay, I understand. But please. Use simple language. As simple as possible, Ok. I know you can do it. Please….”

“Okay, I will do it”

“Great! Thank you so much”

“When do you need it?”

“Hehe this is the problem. I need it tonight”

“What?”

“Yes, tonight!”

“Okay, tonight is long. What time Ayah?”

“Hmm… I will be flying to Jakarta at 8pm and arrive there probably at 9 something pm. I will go directly to my hotel and may arrive at the hotel at around 10pm. If you can send me the file around 10.30pm or 11ish, it will be great!”

“Hmm… okay!”

“Oh really? Do we have a deal?”

“Ok, Ayah.. I will try!”

“Oh thank you so much. You save my life, Lita! I love you so much!”

“I love you too Ayah”

“Okay, I will be waiting for your file tonight, Okay?!”

“Okay..”

“Love you, Lita”

“Love you too, Ayah”

“Okay bye-bye”

“Bye…”

Later that night …

“Hello Ayah…”

“Hey Lita… you sound sleepy”

“Yes…”

“Are you done yet?”

“Does it have to be tonight?”

“Hehe… well, not really”

“Can I finish it tomorrow?”

“Okay… that’s fine! Have a good rest. It’s late already”

“Bye Ayah…”

“Bye Lita..”

The next day… in an email

“Dear ayah,

this is the speech you asked for.

Love,

Me”

Pas dibuka, welah dalah kok temanya tentang Pancasila? Bocah hehehe… 

Screen Shot 2017-06-01 at 11.05.56 PM

Mobil Mogok

Matahari terik, tepat di atas kepala ketika mobil kami tiba-tiba mati dan tidak bisa dihidupkan di Jalan Sudirman di depan BCA, Yogyakarta. Kami yang menuju tempat kondangan pernikahan jadi panik. Saya coba hidupkan berkali-kali tidak berhasil. Sementara itu, mobil di belakang kami mulai tidak sabar. Satu per satu dari barisan mobil itu membunyikan klakson mereka. Makin lama makin tidak sabar dan kian liar. Lengkingan suara klakson itu membuat kami makin panik.

Continue reading “Mobil Mogok”

Galungan Hari ini, Masih di Tegaljadi

Jalan kami tak diukir lagi. Rupanya Ibu Bupati sudah peduli dan jalan desa kini rapi jali. Lihatlah penjor-penjor yang menuju langit dan melengkung lalu menukik turun seakan mengajarkan bahwa yang menjulang toh akhirnya akan merunduk. Maka penjor mengingatkan, kesombongan itu hanya milik orang-orang yang lemah dan gamang menentukan jati dirinya. Di Desa Tegaljadi, saat Galungan ini, pelajaran hadir lewat penjor, asap dupa yang mengepul, sanggah dari anyaman bambu yang berselempang kain kasa putih kuning atau ceniga yang menjuntai memamerkan rias-rias sakral untuk ritual.

Continue reading “Galungan Hari ini, Masih di Tegaljadi”

Buku Ini Budi

Sambil menunggu waktu rapat di Ruang Rapat Sekjen Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti), saya sempat mampir ke sebuah direktorat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Di sebuah lorong, saya berhenti di dekat sebuah rak yang memajang beberapa buku hasil karya Kemendikbud, terutama Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Bagian ini mengelola keterlibatan orang tua dalam pendidikan bagi anak didik di Indonesia, sebuah direktorat yang relatif baru.

Continue reading “Buku Ini Budi”

Restoran

Table fourteen ready for main, please!” Jo berteriak sambil menggotong tumpukan piring dan mangkok kotor di tangannya. Digeletakkannya piring dan mangkok itu di atas meja aluminium di sebelahku. Suara berisik menyentak seiring sendok dan garpu yang berserakan di atas meja. Tak sempat kuperhatikan lebih lama, tanganku sedang tak boleh berhenti menggosok ember plastik putih yang licin karena minyak. Air hangat cenderung panas mengalir dari keran membantuku mengenyahkan minyak yang susah pergi.

Continue reading “Restoran”

Indon yang Kafir

Aku tidak suka dipanggil Indon, terutama oleh orang Malaysia. Menurutku, pada panggilan ini ada sentimen merendahkan, menuduh bodoh dan menghina. Dipanggil Indon, sama dengan dihina. Dipanggil Indon, sama dengan diremehkan dan direndahkan martabatnya secara terang-terangan di siang bolong. Apapun katanya, aku tidak sudi dipanggil Indon. Itu prinsipku sejak dulu, sejak pertama kali mendengar kata Indon yang kutahu ditujukan kepada para pekerja rumah tangga dari Indonesia yang memperjuangkan hidupnya di negeri jiran Malaysia. Singkatnya, aku tidak terima.

Continue reading “Indon yang Kafir”

Pulang ke Indonesia

Yogyakarta, Awal Agustus 1996

id16Kami bertiga, calon mahasiswa UGM itu, berjongkok di dekat pagar tembok berwarna putih kusam. Pagar itu ada di depan sebuah rumah sederhana, milik seorang lelaki tiga puluhan tahun yang kami hormati. Beliau adalah dosen UGM yang telah menjadi ‘bapak asuh’ bagi kami bertiga dalam beberapa hari ini. Kami yang baru tiba di Jogja untuk menuntut ilmu, ‘diangkat’ anak oleh beliau dan diizinkan tinggal di rumahnya.

Peringatan Hari Kemerdekaan segera tiba dan kami bersemangat mengecat pagar tembok itu dengan warna putih. Kami bertiga, beberapa orang anak kos lain dan lelaki panutan itu bekerja sambil bermain dan berkelakar. Semua cerita dan lelucoh mengalir deras, penggal demi penggal tembok kusam itu berubah putih bersih dan bercahaya. Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Mengecat tembok dengan semangat untuk peringatan hari kemerdekaan tidak saya temui di kampung saya di Bali.

Sore sudah mampir, pagar tembok sudah putih sempurna. Cahaya matahari membuatnya cerah berwibawa. Di sisi tembok itu menjulang umbul-umbul merah putih, silih berganti dengan bedera yang berkibar perlahan oleh angin sore yang mulai malas. Saya berdiri menatap, melepas penat yang segera berlalu demi menyaksikan nuansa merah putih yang berwibawa.

Wollongong, November 2013

Now, your thesis is done and you are ready to submit. Congratulation!” tiba-tiba lamunan saya buyar oleh kalimat berwibawa lelaki di depan saya. Kata-katanya mantap memberi selamat dan semangat. Wajah lelaki usia empat puluhan itu nampak serius meskipun selalu ada senyum di bibirnya. Dia duduk tenang dan santai di kursi sambil sesekali memutar tempat duduknya sehingga tubuhnya bergoyang kiri dan kanan secara wajar. Baru sadar lagi, saya memperbaiki posisi duduk di depannya, menyimak dengan seksama. Hari itu tidak biasa, kami tidak sedang membicarakan disertasi saya seperti minggu-minggu sebelumnya. Rupanya urusan disertasi sudah tidak lagi masuk dalam prioritasnya karena memang disertasi saya sudah rampung. Paripurna sudah sebuah tugas besar nan panjang. Hari itu, Prof. Clive Schofield, pembimbing saya, memanggil saya untuk urusan yang lebih dari sekedar disertasi.

Saya hanya tersenyum saja sambil berterima kasih ringan. Ada rasa tidak percaya, akhirnya proyek panjang itu terselesaikan. Pendidikan saya di Australia telah mencapai titik akhir dan saatnya untuk menyudahi perjalanan di Negeri Kangguru ini. Terbayang jelas dalam ingatan ketika saya tiba pertama kali di Sydney tanggal 14 Januari tahun 2004 dan artinya itu sudah berlalu satu dekade. Selama itu pula saya tidak pernah lepas dari Australia, mulai dari S2, penelitian atas prakarsa PBB, S3 dan bahkan Postdoc. Satu dekade ini saya telah menghabiskan waktu di Australia dengan status sebagai mahasiswa dan atau peneliti. Hari itu, saat Clive memanggil saya, drama sepuluh tahun perjuangan itu seperti diputar ulang dengan kecepatan tinggi.

What is your plan?” tanya Clive pada saya yang masih belum bisa menguasai keadaan dengan baik. Saya masih tersenyum saja, tidak berkata banyak. Saya hanya mengatakan “well…” sambil menganggukkan wajah dan tersenyum pertanda ada gejolak dalam hati yang mendesak dan tidak tuntas.

The door is always open for you, Andi” kata Clive. Dia kemudian melanjutkan bahwa jika saya berniat bekerja di University of Wollongong bersama dia maka kesempatan itu terbuka lebar. Ada berbagai topik penelitian yang bisa saya kerjakan dan Clive akan dengan senang hati bekerja dengan saya. Begitu dia menegaskan. “It is your call” katanya sambil tersenyum, menyerahkan pilihan itu kepada saya.

Mendapat tawaran dari seorang ‘Dewa’ di bidangnya untuk bekerja dan meneliti di sebuah institusi terkemuka Australia tentulah sangat menggoda. Di tengah kegalauan dan kekhawatiran untuk kembali ke tanah air karena terbayang akan terjadi perubahan drastis dalam hal budaya meneliti dan juga urusan finansial, tawaran Clive itu adalah godaan yang merangsang. Meski menawarkan itu, nampak jelas Clive mengenal saya dengan baik. Dia tidak memaksa, tidak juga ada kesan menakan.

I cannot thank you enough for everything you have done for me Clive” kata saya memulai dan dia tersenyum. “I appreciate your offer and I will treat this as an open opportunity. You know, I will go home to Indonesia” demikian saya sampaikan lalu berhenti sesaat. Wajahnya tidak terkejut meskipun saya melihat raut muka yang tidak biasa pada Clive. Entah apa itu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tanpa berkata, tanda mengerti apa yang saya sampaikan.

Clive seperti mendengar kata-kata yang tidak saya ucapkan dalam percakapan diam kami. Dia mungkin mendengar saya bergumam “Aku ingin pulang, mengecat pagar rumah yang mungkin mulai kusam. Aku ingin melihatnya putih cemerlang, di sela kibasan Sang Merah Putih yang tak tunduk oleh tikaman matahari sore yang temaram.”

Yogyakarta, 16 Agustus 2016