Merry Christmas From Tegaljadi

Dear Mommy,

This Christmas, I won’t be able to see you and dad. Such a pity but I have a story to tell. I am celebrating Christmas in the Island of Gods in Bali, in a village called Tegaljadi. They have no church for me to see God in a proper ritual. I never forget, however, you convinced me that I do not need a special place to see Him. And here I am, sitting still next to the Merajan, a family temple, beautifully sculptured with Balinese ornament.

Continue reading “Merry Christmas From Tegaljadi”

Galungan Hari ini, Masih di Tegaljadi

Jalan kami tak diukir lagi. Rupanya Ibu Bupati sudah peduli dan jalan desa kini rapi jali. Lihatlah penjor-penjor yang menuju langit dan melengkung lalu menukik turun seakan mengajarkan bahwa yang menjulang toh akhirnya akan merunduk. Maka penjor mengingatkan, kesombongan itu hanya milik orang-orang yang lemah dan gamang menentukan jati dirinya. Di Desa Tegaljadi, saat Galungan ini, pelajaran hadir lewat penjor, asap dupa yang mengepul, sanggah dari anyaman bambu yang berselempang kain kasa putih kuning atau ceniga yang menjuntai memamerkan rias-rias sakral untuk ritual.

Continue reading “Galungan Hari ini, Masih di Tegaljadi”

Indon yang Kafir

Aku tidak suka dipanggil Indon, terutama oleh orang Malaysia. Menurutku, pada panggilan ini ada sentimen merendahkan, menuduh bodoh dan menghina. Dipanggil Indon, sama dengan dihina. Dipanggil Indon, sama dengan diremehkan dan direndahkan martabatnya secara terang-terangan di siang bolong. Apapun katanya, aku tidak sudi dipanggil Indon. Itu prinsipku sejak dulu, sejak pertama kali mendengar kata Indon yang kutahu ditujukan kepada para pekerja rumah tangga dari Indonesia yang memperjuangkan hidupnya di negeri jiran Malaysia. Singkatnya, aku tidak terima.

Continue reading “Indon yang Kafir”

Doa Malam

Wahai gelap gulita, berdoalah bersamaku. Cakupkan tanganmu di atas ubun-ubun atau lakukanlah seperti yang diajarkan leluhur kepadamu. Kita bertumbuh dari akar yang sama tetapi ritualmu mungkin berbeda. Berdoalah bersamaku dengan caramu karena yang kupentingkan bukan tata cara tetapi makna.

Continue reading “Doa Malam”

Pak Polisi, Jangan Diskriminasi Umat Islam di Bali!

Dipinjam dari Berita Bali, hanya untuk ilustrasi

Made Kondang bergegas menuju rumah Jero Mangku Utama, tokoh masyarakat yang dituakan dan diindahkan nasihatnya karena konon bijaksana. Panas luar biasa hatinya menerima sebuah berita yang dikirim kawannya, Yan Koplar lewat hape. “Ini benar benar diskriminiasi”, guman Made Kondang menahan amarah. Dia tidak sabar bertemu Jero Mangku untuk menumpahkan segala amarah dan kesal yang memuncak. Made Kondang berharap, Jero Mangku akan membenarkannya dan terutama akan membenarkan gagasannya yang anti diskriminasi.

Continue reading “Pak Polisi, Jangan Diskriminasi Umat Islam di Bali!”

Galungan di Tegaljadi

image1Kisanak, mampirlah ke Tegaljadi tepat saat Rabu Kliwon Dungulan dan saksikanlah geliat Galungan yang disambut suka cita kerabat kami. Kisanak akan tahu, kami punya seniman tak terbilang jumlahnya. Tak hanya sanggah kemulan dan candi bentar, jalanpun mereka ukir rupa-rupanya. Atau ini hanya pertanda tiada peduli Ibu Bupati, kisanak mungkin bisa meneliti.

Laluilah jalanan desa kami yang bersahabat dan tak merelakan para mengendari kuda besi bergerak cepat. Dan rasakanlah sapaan penjor yang berhias meriah. Lengkungannya menjuntai dengan pernak pernik yang melambai. Lontar itu, yang mendekap sebatang bambu, telah menggeser ambu, daun enau putih yang aromanya memikat kalbu. Aku masih mengingatnya, persis seperti yang kusimak dua dasawarsa silam. Kini berbeda. Penjor lebih genit, sumringah dan bertingkah menggoda. Penjor kini mentereng, hebat dan mungkin juga mahal. Nang Kocong tak lagi merangkai bakang-bakang dengan tangannya sendiri. Bakang-bakang penghias penjor kini gampang datang karena ditukar uang.

Continue reading “Galungan di Tegaljadi”

Tukang Ojek yang Misterius

Hari sudah malam ketika saya keluar dari kediaman Duta Besar Perancis untuk Indonesia di bilangan Menteng, Jakarta. Beberapa menit lalu, baru saja dilaksanakan resepsi dan saya mendapat kehormatan untuk hadir. Ibu Duta Besar berkenan bertemu berbagai pihak, salah satunya adalah kantor urusan internasional beberapa universitas terpilih di Indonesia. Makan malam yang berkesan, bukan karena makanannya tetapi karena pertemuan dengan banyak orang sebagai tempat belajar.

Malam sudah cukup sepi dan saya bermaksud mencari kendaraan untuk mengantarkan saya ke hotel tempat menginap. Di depan kediaman Ibu Dubes tidak ada taksi, tak juga saya lihat ada ojek. Jalan agak gelap dan sepi ketika saya melangkah ragu untuk menuju jalan raya terdekat. Tidak jauh dari kediaman Duta Besar Perancis, saya melewati persimpangan dan melihat ada beberapa orang sedang bercakap-cakap di keremangan.

Saya mendekati sekumpulan orang itu dan bertanya perihal taksi atau ojek. Dua orang lelaki berdiri dan satu orang lainnya duduk di atas sebuah motor. Intinya mereka mengatakan tidak ada taksi di daerah itu dan saya disarankan untuk berjalan menuju jalan raya terdekat. Saya hampir melaksanakan apa yang disarankan sampai akhirnya lelaki yang duduk di atas motor itu bertanya “mau ke mana Mas?”. Dari tadi lelaki itu tidak banyak bicara dan kini dia seperti peduli. Saya pun menjelaskan maksud saya untuk kembali ke hotel.

“Sini saya antar” katanya, di luar perkiraan saya. Saya agak ragu dan sedikit kurang paham atau tepatnya bingung dengan tawaran lelaki itu. “Bener nih Pak?” tanya saya. “Ya, biar saya antar, nggak apa-apa” katanya meyakinkan dan dilanjutkan dengan pamitan kepada dua orang lelaki yang berdiri di sana. “Yuk, aku ngojek dulu ya” katanya sambil menghidupkan motornya. Ada berbagai perihal yang berkecamuk dalam kepala saya. Pertama, saya jadi ragu apakah lelaki itu memang ojek atau bukan. Kedua, jika dia bukan tukang ojek, mengapa memberi tawaran kepada saya. Menariknya di tengah keraguan itu, ada dorongan untuk tidak menolak tawaran lelaki itu.

Dengan agak ragu saya naik di jok belakang motor yang dikendarai lelaki itu. Di sepanjang jalan kami bercakap-cakap dan saya pun menceritakan sekilas tetang profesi saya dan untuk apa saya ada di sana. Saya masih ragu apakah lelaki ini tukang ojek atau bukan. Saya yang tidak begiktu familiar dengan jalan-jalan di Jakarta mulai agak ragu dan curiga. Siapa gerangan lelaki misterius ini? demikian saya berpikir. Di sepanjang jalan di bertanya tetang profesi saya dan mengatakan istrinya juga seorang dosen. Saya tidak tahu apakah ceritanya benar atau tidak, yang jelas dia memiliki daya persuasi yang begitu kuat hingga saya manut saja diajaknya berkendara. Jika diminta menasihati, saya tidak sarankan pembaca melakukan apa yang saya lakukan.

Rasa curiga menguat setelah beberapa menit di atas motor. Jangan-jangan ini penipuan. Jangan-jangan lelaki ini penjahat yang akan mencelakakan saya di suatu tempat yang gelap dan sepi. Jangan-jangan … dan seterusnya. Saya baru memperhatikan postur lelaki yang membonceng saya ini. badannya tegak, tubuhnya berisi dan cukurannya pendek. Adakah dia seorang anggota TNI, saya tidak tahu. Perasaan saya diliputi rasa khawatir yang amat sangat tetapi sepertinya sudah terlambat.

Setelah bebrapa menit menerobos geliat jalanan Jakarta, saya tiba di depan lobby hotel. Dari beberapa kalimat yang diucapkan, saya masih menduga bahwa dia mungkin saja memang tukang ojek. Ketika saya turun, saya beranikan diri berkata “terima kasih Pak. Berapa harus saya bayar Bapak?” Lelaki itu hanya tersenyum, menggelengkan kepala lalu lenyap di kegelapan malam. Siapakah lelaki baik hati yang rela menjadi tukang ojek buat saya malam itu. Hingga kini, ada kisahnya di ruang misteri dalam bathin saya. Lelaki itu mungkin orang biasa saja. Bedanya dengan orang lain, dia tidak merasa perlu banyak bertanya ketika menolong orang lain yang sedang membutuhkan. Dalam perspektif yang lebih serius, bisa jadi ini adalah karmaphala, buah dari apa yang terjadi selama ini.

Jakarta, 14 Oktober ’14