Merayakan Kuningan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


formis
Formis

Saya masih percaya, inilah Indonesia yang sebenarnya. Indonesia yang menjamin seorang Hindu seperti saya hadir tanpa beban di tengah kerumunan mahasiswa Muslim di sebuah universitas yang keislamannya dikagumi. Indonesia yang memberi ruang pada saya untuk berkisah tentang Kuningan di sebuah ruang kelas yang di dalamnya hanya dipenuhi anak-anak muda yang menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan. Saya percaya, Indonesia adalah yang demikian. Sebuah negeri yang menjunjung tinggi kearifan lokal, merayakan perbedaan dan menghormati keberagaman sebagai sebuah kekayaan.

Tanggal 31 Mei lalu, kami umat Hindu merayakan Kungingan. Agak berbeda dengan biasanya, saya tidak merayakannya di Pura tetapi dengan cara berbagi dengan teman-teman yang haus ilmu pengetahuan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Saya datang berbagi pemahaman saya tentang beasiswa luar negeri. Ada rasa haru melihat wajah-wajah penuh gairah di depan saya, seakan-akan tidak ada hal yang perlu dirisaukan. Mereka menyimak dengan antusias, bertanya dengan penuh gairah dan menyerap ilmu tanpa curiga. Tak ada yang mereka khawatirkan. Bahwa ada seorang lelaki beragama Hindu yang sedang ‘menceramahi’ mereka, itu adalah perkara kecil yang tak mampu membuat mereka resah. Mereka adalah anak-anak muda yang percaya diri, yakin dengan keimanannya dan berpandangan jauh ke depan. Ceramah seorang beragama lain tentang peluang ilmu di berbagai belahan dunia sama sekali bukan alasan untuk khawatir. Kekhawatiran itu terkubur binasa oleh keyakinan dan kebesaran hati. Inilah Indonesia yang ingin selalu saya lihat dan rasakan.

Beberapa hari sebelumnya, saya diundang oleh Forum Mahasiswa Islam (FORMIS) Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) untuk berbagi soal peran pemuda dalam pembangunan. Sejatinya ada pertanyaan yang muncul dari beberapa kawan, apakah saya akan memenuhi undangan itu. Bagi saya, tidak ada alasan untuk menolak. Justru undangan ini harus disambut sebagai sebuah uluran tangan untuk merayakan kebhinekaan di tanah air Indonesia. Anak-anak muda di FORMIS UTY itu telah bebesar hati memberi kesempatan kepada saya yang berbeda keyakinan untuk berbicara di depan mereka. Tidak ada pilihan lain, kebesaran hati ini harus disambut dengan kemantapan niat untuk berbagi. Kedatangan saya ke situ, saya harap, menyuburkan niat baik mereka untuk merayakan keragaman Indonesia sebagai sebuah kekuatan, bukan kelemahan.

Ketika Ibu Dekan memberi sambutan, saya tercenung terkesima. Beliau menegaskan “ketika yang lain masih mewacanakan toleransi antaragama, FORMIS telah menerjemahkannya menjadi tindakan nyata” yang disambut tepuk tangan meriah hadirin. Saya katakan kepada Ibu Dekan dan juga kepada semuanya “Inilah Indonesia yang ingin saya lihat”. Saya yakin, ada ratusan kalau tidak ribuan orang yang layak hadir di forum itu sebagai pembicara dan tentu saja ada sungguh amat banyak yang beragama Islam. Saya tidak istimewa dalam hal kapasitas tetapi mereka memilih mengundang saya. Saya menilai, tidak ada alasan yang lebih khusus kecuali niat baik untuk menjadikan teori kerukunan itu sebuah kenyataan. Yang hebat sesungguhnya adalah anak-anakĀ  muda itu yang dengan sadar merangkul keberagaman. Keindahan agama terpancar bening dan menyejukkan dalam interaksi yang akrab dan saling memahami.

Maka, ketika darah tertumpah di Jogja karena alasan keyakinan dan agama yang berbeda, saya tentu menolak tegas. Saya yakin, ini bukan Yogyakarta yang saya kenal dan rasakan. Yogyakarta adalah Anak-anak UTY yang mendengarkan kisah saya dengan takzim. Yogyakarta adalah anak-anak UMY yang bebesar hati mendengarkan ceramah seorang Hindu tentang musim dingin di Australia. Yogyakarta adalah Ibu Dekan yang memuji anak didiknya yang telah memahat toleransi dalam laku yang niscaya. Yogyakarta adalah kota yang merayakan perbedaan sebagai satu kekayaan. Yogyakarta adalah mereka yang teguh akan keyakinannya tanpa goyah sekaligus tidak menistakan keyakinan orang lain yang berbeda. Yogyakarta semestinya adalah Indonesia yang ingin kita lihat.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

8 thoughts on “Merayakan Kuningan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”

  1. Benar Bli. Saya setuju, bahwa kebhinekaan dalam toleransi perlu terus diterjemahkan dalam tindakan nyata.
    Peradah (pemuda Hindu) saat Bli hadir di acara HUT 30 di Jakarta juga meminta KH Luthfi Hakim menyampaikan testimoninya.

  2. yah begitulah mayoritas yang toleran kalah gema oleh minoritas intoleran yang berisik sehingga mudah untuk jadi bahan berita.

  3. Alangkah Indahnya jika hidup dalam keberagaman namun tetap terbalut selimut toleransi dan tidak membenarkan diri sendiri. Melodi indah saja tercipta dari bermacam macam alat musik yang berbeda.

    Bang Andi maaf sebelumnya saya seorang muslim, namun saya ingin tahu banyak tentang agama hindu, namun saya tidak punya teman yang beragama hindu, apa boleh jika saya bertanya tentang makna upacara-upacara keagamaan hindu?

      1. Terimakasih sudah bersedia menjawab dengan senyum Bang Andi, keingintahuan saya bermula dari kunjungan saya ke pulau Bali liburan panjang tahun lalu, saya sering sekali ke Bali tapi selalu bersama rombongan, kebetulan liburan kemarin saya ingin suasana yang berbeda alias tidak pergi dengan rombongan karna saya ingin menyusuri object wisata Bali yang “jarang” dikunjungi rombongan domestik seperti situs peninggalan kerajaan di Karang asem dsb, dan ingin lebih dekat mengenal masyarakat di sana yang tidak bisa saya lakukan jika saya pergi dengan rombongan. Alhamdulillah saya bisa bertamu ke rumah penduduk, berbincang panjang dengan pemilik penginapan, pedagang2 mereka sungguh orang – orang yang ramah, 1 minggu disana tentu saja saya melihat mereka beribadah/ bersembahyang setiap harinya. Ada banyak hal positif yang membuat saya salut dari tata cara sembahyang/upacara mereka yang juga saya ambil sebagai refleksi saya sebagai muslim, tapi ada juga pertanyaan yang terbesit yang sebagian besar sudah saya dapatkan dari website ” Pelajaran agama Hindu” and “ask Bhagavan” . Pertanyaan saya yaitu,
        1. Jika umat hindu mempunyai banyak sekali peringatan Hari-hari besar keagamaan/upacara adat selain galungan dan kuningan (karna seminggu disana saya sudah menyaksikan beberapa upacara) apa memang harus wajib di laksanakan semuanya? contohnya misal : upacara bulan purnama atau Tilem kalo tidak salah..

        2. Saya ingat ketika Ibu pemilik butik menawarkan saya kue kue dalam keranjang anyaman bambu, beliau bilang habis sembahyang dari pure, apalagi di bedugul saya lihat “BANTEN” nya luar biasa membuat saya takjub, pertanyaan saya bagaimana dengan orang yang miskin atau tidak punya uang jika harus pergi ke pure dengan membawa banten itu?

        3. Apakah sama Ajaran agama hindu di Indonesia dengan di India?

        Sekian replay saya yang panjang, trimakasih untuk berbagi ilmunya. maaf jika ada kata kata yang tidak berkenan.

      2. 1. Di Hindu itu, berbeda dengan Islam, tidak mengenal tingkatan larangan-kewajiban wajib, sunah makru (maaf kalau salah tulis). Yang ada adalah baik buruk. Peringatan itu adalah untuk kebaikan manusia dan alam, bukan Untuk Tuhan. Tidak melaksanakannya melahirkan konsekuensi pada manusia dan alam. Itu saja. Purnama dan Tilem adalah saat bersembahyang bersama (jamaah) bagi Hindu.
        2. Tidak apa-apa. Persembahkan apa yang kita mampu. Persembahan paling utama berasal dari hati yang tulus. Jika kemudian ada orang miskin yang memaksakan diri untuk melaksanakan apa yang sebenarnya tidak mampu dia lakukan, itu persoalan sikap pribadi dan hal ini saya yakin terjadi di agama apapun di tingkatan praktis.
        3. Dasarnya sama yaitu Weda. Pelaksanaan di tingkat ritual tidak sama karena Hindu mengadopsi local genus, tradisi dan nilai lokal yang ada di masyarakat. Hal ini mempengaruhi ritual.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s