Anies Baswedan: Kenapa Saya Memilih Untuk Tidak Netral?


Teman-teman TurunTangan yang saya hormati,

Kebhinekaan itu fakta bukan masalah. Saya pernah tulis itu beberapa waktu yang lalu; dan izinkan saya menulis sebuah email sore ini untuk berbagi rasa dan pandangan dengan temani-teman semua. Semoga email ini menemui anda dalam keadaan baik, sehat dan makin bersemangat.

Beberapa hari ini saya menyaksikan ungkapan atas perbedaan itu seakan sedang menghadapi musuh. Beda pilihan figur itu normal, wajar dan manusiawi. Santai saja, tidak perlu kecewa dan marah pada orang lain yang pilihannya berbeda.

Bagi teman-teman yang bergerak di TurunTangan ini kesempatan untuk membuktikan bahwa kita telah dewasa. Kita telah matang untuk menerima perbedaan sebagai fakta; bukan sebagai masalah karenanya tidak harus dijadikan sama.

Saya banyak menerima pertanyaan, kenapa tidak ambil posisi netral saja? Memang kalau mau nyaman dan aman, pilih netral saja. Tapi coba kita renungkan sebentar anjuran netral itu. Bukankah selama ini kita selalu mengatakan, jangan hanya urun angan, jangan diam dan mendiamkan; kita harus siap untuk terlibat dan membantu. Haruskah saya diam agar aman? Saya pribadi tidak mau pilih diam dan mendiamkan. Pilihan saya bisa jadi berbeda dengan orang lain, tapi saya tidak akan pernah memaksanakan pilihan dan tetap akan menghargai orang lain.

Saya pribadi memilih terlibat dan membantu. Artinya saya juga harus meneruskan prinsip yang selama ini kita pegang: kerja karena suka dan rela. Membantu proses politik ini sebagai relawan bukan bayaran, ini prinsip yang akan terus saya pegang saat membantu pasangan calon presiden dan wakil presiden yang saya pilih.

Dan ada juga yang bertanya, kenapa bersedia untuk jadi juru bicara? Saya selalu katakan, bukan posisi dan nama jabatan yang penting, tapi makna apa yang diberikan di setiap peran yang kita lakukan. Peran bisa berganti, tapi di peran apapun kita harus memberikan makna yang positif dan harus bisa menjalankannya dengan cara yang terhormat.

Mari kita saling jaga agar semangat kita adalah semangat membuat Indonesia yang lebih baik. Artinya semua yang telibat dalam proses ini adalah Indonesia juga, baik yang mendukung Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK. Artinya, jangan terbersit pikiran untuk menjatuhkan apalagi merendahkan. Jangan merendahkan calon dan jangan pula merendahkan pendukungnya. Mereka semua adalah saudara sebangsa. Perbedaan pilihan ini akan selesai pada hari Rabu 9 Juli jam 13 siang. Sesudah itu apapun pilihannya, kita harus taat pada keputusan seluruh rakyat. Kita harus terus kerja bersama, kerja untuk memajukan manusia Indonesia.

Kenyataannya memang hanya ada dua pasangan untuk dipilih. Ini kenyataan yang harus kita hadapi. Dengan melihat prioritas masalah Indonesia dan perspektif yang kita miliki maka setiap kita bisa menentukan pilihan.

Seperti saat Pemilihan Umum 9 April yang lalu, teman-teman TurunTangan di berbagai daerah melakukan review atas Daftar Caleg lalu menyusun nama-nama yang disebut sebagai orang baik, orang yang layak untuk dipilih. Pilihannya lintas partai. Kita tenang-tenang saja, tidak merasa kecewa apalagi marah ketika nama-nama itu muncul di sebuah dapil. Toh pada akhirnya pilihan itu ada di diri kita masing-masing.

Karena itu saya menganjurkan agar teman-teman TurunTangan dimanapun berada untuk mengkaji tentang kedua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden. Baik yang memilih Prabowo-Hatta ataupun Jokowi-Jusuf Kalla, bisa duduk bersama diskusi bersama. Bila ada rencana sosialisasi, sebagai pribadi silahkan sosialisasikan pilihan anda. Pribadi-pribadi yang matang bisa bersama-sama sosialisasi tanpa harus saling menjelekkan dan melukai.

Tunjukkan bahwa di antara relawan TurunTangan kita bisa terus bergandengan tangan, berjalan bersama apapun pilihan calon presiden kita dalam Pilpres 2014. Di saat berbeda pandangan dianggap sebagai permusuhan, kita tunjukkan bahwa berbeda pandangan itu manusiawi dan bisa tetap bersahabat. Kita tunjukkan bahwa TurunTangan itu melampaui warna partai, melampaui nama calon, warna TurunTangan itu adalah Merah Putih.

Sebagai bahan renungan bagi kita. Siapapun orangnya, kita semua, bila diteropong dengan amat detail dan seksama setiap aspek dalam dirinya, dalam kehidupanya pasti akan terlihat kekurangannya. Kita semua adalah manusia biasa, karena itu ya amat manusiawi jika kita tidak sempurna. Tugas kita – sekali lagi – bukan mencari orang sempurna, tugas kita kali ini adalah memilih orang yang akan dititipi amanah untuk mengatasnamakan negara dan menjalankan UUD 1945 selama 5 tahun ke depan.

Siapapun yang saya atau anda pilih, maka dia sedang akan terbebani dengan tanggung-jawab yang amat besar. Kitapun punya tanggung-jawab moral untuk memastikan bahwa kita akan menghormati hasil pilihan rakyat dan selalu siap untuk terus bekerja bersama melunasi setiap Janji Kemerdekaan.

Salam hangat,
Anies Baswedan

PS.
Ini adalah surat dari Anies Baswedan untuk relawan Turun Tangan yang dikirim pada tanggal 28 Mei 2014, puku; 19.06 WIB

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

3 thoughts on “Anies Baswedan: Kenapa Saya Memilih Untuk Tidak Netral?”

  1. Posisi netral sering ditempatkan pada titik tanda di tengah ( 0 ). Di sepanjang titik sebelah kiri ada tanda minus ( – ). Sebaliknya, tanda plus ( + ) di sepanjang titik sebelah kanan. Tetapi baik tanda minus, 0 dan plus, ada dalam satu garis lurus. Harapan kita adalah kebersamaan setiap tanda dalam satu garis itu supaya bisa tetap menjaga dan menjaminkan sebuah kelurusan.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s