Mas Suripto, Wajah Amerika di Jakarta

Pagi-pagi sekali, di Hari Pancasila 2017, saya sudah berada di Ibukota Jakarta. Berjalan menyusuri Jalan Medan Merdeka Selatan, dari jauh saya sudah melihat orang-orang berbaris di depan Kedutaan Besar Amerika. Ingatan saya melayang ke suatu hari satu dekade silam.

Jakarta, 20 Februari 2007
“Jangan berteduh Pak! Baris yang rapi!” saya terkejut mendengar teriakan itu. Seorang lelaki berseragam kecokelatan berteriak dari jauh memberi perintah kepada seorang lelaki usia 50an tahun yang berpakaian rapi. Lelaki dalam antrian itu hendak berteduh sejenak dan keluar dari antrian yang telah mengular. Matahari yang mulai hangat rupanya membuat lelaki yang telah matang itu merasa kepanasan. Tak ayal, teriakan lelaki yang memasang tampang sangar itu mengurungkan niat lelaki malang itu. Sementara saya yang ada tidak jauh dari lelaki itu merasakan ketidaknyamanan. Amerika memang kejam. Satpam di kedutaannya di Jakarta saja kejam sekali.

Continue reading “Mas Suripto, Wajah Amerika di Jakarta”

Mengingat Ibu Rita, Rektor Perempuan Pertama UGM

Di tahun 2010 saya menulis sebuah artikel berjudul Kartono untuk memberikan kritik satir pada dunia tentang marjinalnya peran kepemimpinan perempuan. Pada artikel yang berlatar waktu masa depan itu saya menulis bahwa UGM saja, sebuah universitas terbesar di Indonesia, tidak pernah dipimpin perempuan sampai 100 tahun usianya. Di tahun 2014, kritik saya itu runtuh gugur karena munculnya sebuah kebenaran baru. Prediksi satir saya tidak menjadi nyata. Sejak November 2014, seorang perempuan bernama Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D mendapatkan hak penuh untuk kami panggil sebagai Ibu Rektor UGM.

Continue reading “Mengingat Ibu Rita, Rektor Perempuan Pertama UGM”

Jika Pejabat Negara Tidak Bisa Ngomong Inggris

Dosakah jika pejabat negara tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik? Tentu saja tidak. Bahasa Inggris bukan bahasa kita. Dia juga bukan bahasa resmi di Indonesia. Bukan juga bahasa pengantar pendidikan dan penyelenggaraan negara. Semua dokumen resmi negara dalam Bahasa Indonesia. Semua siaran TV, buku, lagu dan sebagainya, hadir dalam Bahasa Indonesia juga. Tidak ada alasan mendesak untuk fasih berbahasa Inggris. Benarkah demikian?

Saya kerap menghadiri forum internasional yang mempertemukan perangkat negara dari berbagai bangsa, termasuk Indonesia. Salah satu yang pernah saya ikuti adalah Maritime Security Desktop Exercise (MSDE) yang mempertemukan para penegak hukum di laut dari berbagai negara. Hingga 20an negara turut berpartisipasi dalam sebuah acara MSDE sehingga diskusinya sangat menarik. Yang selalu menggelitik saya adalah minimnya kontribusi orang Indonesia dalam diskusi tersebut meskipun peserta terbanyak selalu dari Indonesia karena diadakan di Indonesia.

Continue reading “Jika Pejabat Negara Tidak Bisa Ngomong Inggris”

Mobil Mogok

Matahari terik, tepat di atas kepala ketika mobil kami tiba-tiba mati dan tidak bisa dihidupkan di Jalan Sudirman di depan BCA, Yogyakarta. Kami yang menuju tempat kondangan pernikahan jadi panik. Saya coba hidupkan berkali-kali tidak berhasil. Sementara itu, mobil di belakang kami mulai tidak sabar. Satu per satu dari barisan mobil itu membunyikan klakson mereka. Makin lama makin tidak sabar dan kian liar. Lengkingan suara klakson itu membuat kami makin panik.

Continue reading “Mobil Mogok”

Beda Waktu

Jakarta, 10 Januari 2000
Ini hari adalah akhir minggu pertama aku kerja praktik. Beruntung sekali aku bisa kerja praktik di sebuah perusahaan besar yang diincar oleh hampir semua temanku. Meski merasa bangga, aku juga terkejut. Ternyata perusahaan besar itu tidak sebagus yang aku duga. Sistemnya masih konvensional, birokrasinya lambat. Dalam rapat tadi siang, aku dilibatkan untuk mendengar dan belajar sistem di perusahaan itu. Aku menyimak dengan antusias.

Tiba giliran aku diberi kesempatan berbicara, aku manfaatkan dengan baik. Aku memberi kritik pedas dan tajam kepada manajemen. Aku sampaikan bahwa banyak sekali praktik di kantor itu yang tidak sesuai dengan kaidah. Dengan lantang aku sampaikan kritik dan desakan untuk segera berbenah. Aku tahu, ada beberapa orang yang merasa tertampar dengan komentar itu, tapi aku tidak peduli. Kebenaran harus disampaikan dan mereka memang harus ditampar agar sadar. Aku yakin kehadiranku di sana akan membawa perubahan signifikan.

Budi “the Coolest” Mulyana

Continue reading “Beda Waktu”

Tips Presentasi: Sepuluh Intermezzo

Intermezzo atau icebreaker sangat penting dalam persentasi. Fungsinya untuk mecairkan suasana yang tegang, terutama di awal presentasi atau mengajak kembali pemirsa untuk berkonsentrasi pada presentasi kita. Ada sepuluh tips intermezzo yang biasa saya pakai.

andisenpi

  1. Soal nama
    Intermezzo ini paling sering saya gunakan. Pelafalan nama saya dalam Bahasa Inggris yang bisa berarti “Saya membuat Andi Arsana [I Made Andi Arsana]” sangat sering saya jadikan bahan kelakar. Hingga hari ini, belum pernah gagal. Selalu ada sebagian besar, jika tidak semua, pendengar yang tertawa dan akhirnya terbawa.

    Cara saya menyampaikan kelakar tentang nama ini bermacam-macam. Kadang saya mulai dengan mengutip kejadian kecil saat ada peserta yang bertanya soal nama saya lalu saya ceritakan bagaimana saya menjelaskan pada peserta itu. Kadang saya memulai presentasi dengan mengatakan “I want to make a clarification regarding lingering question about my name”, seakan-akan itu masalah serius. Cara kedua biasanya saya sampaikan saat menjadi pembicara kunci dan dengan asumsi bahwa ada cukup banyak orang yang sudah pernah melihat/mendengar nama saya.

    Mereka yang namanya hanya satu kata, misalnya “Suprapto” atau “Parjono” atau yang lain, bisa berkelakar dengan mengatakan “I am someone without last name” atau “with my one-word name, I cannot even have an email” atau “I need to repeat my one-word name so I can have a surname”. Bagi yang namanya berarti hal lain dalam bahasa Inggris seperti “Yuni” (kata yang sama dalam bahasa Inggris berarti university) “Dedi” (daddy = ayah), “Yugo” (you go, I go), “lukman” (look, Man!) dan lain-lain bisa menjadikan namanya sebagai bahan kelakar.

  2. Pepatah/ungkapan/nasihat
    Dalam kuliah tamu yang saya berikan di Kamboja beberapa waktu lalu, saya menghadapi para petinggi dari Asia-Pasific yang ahli di bidangnya ada praktisi kawakan. Saya merasa perlu untuk menegaskan bahwa saya tidak ingin menggurui mereka. Untuk itu saya mengutip pepatah “menggarami lautan”. Saya mulai dengan menampilkan sebuah slide bergambar laut dan garam lalu berkata “In Indonesia, we know a saying ‘salting the ocean’, which means blah blah. I am not salting the ocean today and I hope I won’t sound like preaching”. Kutipan itu sanggup membuat peserta yang sebagian besar dari Asia tersenyum positif dan merasa nyaman.
  3. Apresiasi pada panitia
    Betapapun sederhananya, selalu penting untuk mengapresiasi panitia yang telah mengundang kita. Saat berbicara di Kamboja, saya bilang “I have to thank ReCAAP and especially Executive Director Kuroki for this invitation. Because of you, Sir, I am stepping my feet for the first time on the land of Cambodia.” Dalam acara yang beda lingkupnya, pujian kepada panitia atas kerja keras mereka sangat perlu disampaikan. Misalnya, “panitianya gigih sekali dan sangat bijaksana saat memenuhi permintaan saya yang kadang menyulitkan”. Saat diundang di UAD Jogja, saya sengaja memotret sebuah tanda bertuliskan nama saya di tempat parkir yang disediakan khusus untuk mobil saya. Foto itu saya masukkan menjadi slide pertama saat presentasi sambil memberikan pujian akan keseriusan panitia. Tentu saja panitia senang mendapat apresiasi seperti itu. Ada banyak cara memberikan apresiasi kepada panitia.
  4. Apresiasi pada hadirin
    Presentasi adalah tentang presenter dan pendengar/hadirin. Sebagus-bagusnya komunikasi serta persiapan pembicara dengan panitia, kesuksesan sebuah presentasi tetap akan dinilai oleh hadirin. Maka dari itu, membuat hadiri tertarik, merasa nyaman, dan terutama merasa penting/dihargai sangatlah penting.

    Jika presentasi di hari libur (Sabtu atau Minggu), saya biasanya mulai dengan kalimat “jika di hari Minggu, biasanya anak-anak muda memilih untuk tidur lebih lama dan bangun lebih siang, para pemenang seperti kalian ini memilih untuk ada di sini” sambil menunjuk mereka dan selalu disambut dengan tepuk tangan. Jika sudah dimulai dengan pujian yang membuat hadirin nyaman dan merasa dihargai maka berikutnya pembicara seakan punya ‘hak’ untuk meledek dan megolok-olok mereka dalam batas wajar. Ledekan itupun akan disambut tawa dan nuansa yang positif.

    Apresiasi kepada hadirin juga bisa berupa pujian pada mereka yang datang dari jauh atau menempuh perjalanan sulit. Jika pesertanya senior, bisa sampaikan apresiasi atas kebijaksanaan mereka untuk rela mendengar pembicara yang lebih junior. Jika yang hadir rekan-rekan sejawat atau orang dengan profesi dan keahlian yang mirip, bisa mengatakan bahwa “saya ada di sini karena kebaikan hati Bapak Ibu untuk memberi saya kesempatan berbagi, meskipun belum tentu lebih ahli.”

  5. Kejadian lucu/menarik
    Saat datang ke tempat presentasi, kemungkinan akan ada kejadian lucu atau menarik yang kita alami. Hal ini bisa kita ceritakan di awal presentasi untuk mencairkan suasana. Saat presentasi di Siem Reap beberapa waktu lalu, saya dikira orang Kamboja oleh resepsionis hotel. Saya sudah memberinya paspor tetapi dia tidak memperhatikan dan langsung nyerocos pada saya dalam Bahasa Khmer. Saya tertegun dan pasang wajah ‘bloon’ sambil menyampaikan bahwa saya orang Indonesia dan tidak bisa Bahasa Khmer. Spontan mbak resepsionis itu minta maaf dan mengatakan saya mirip orang Kamboja. Saya menjawab sopan dan berkata “well, you look like Indonesian” yang membuatnya tersipu malu.

    Kejadian yang menimpa saya di meja resepsi itu saya ceritakan saat presentasi. Hadirin tentu saja tertawa karena rupanya mereka bisa melihat, saya memang nampak seperti orang Kamboja. “I might look like a Cambodian but I am not. Believe me!” kata saya menegaskan sok serius dan disambut tawa hadirin. Kejadian menarik lainnya tentu banyak, seperti tentang salah paham bahasa, tentang tanda di toilet yang tidak biasa, tentang alat transportasi yang tidak lazim atau bahkan ekstrim, tentang toilet Jepang yang hangat, dal lain-lain.

  6. Mengolok-olok diri sendiri
    Lelucon yang paling aman dan hampir selalu efektif adalah mengolok-olok diri sendiri. Saat presentasi di Jakarta sepuluh tahun silam, panitia mengira saya asisten pembicara. Mereka tidak menanggapi saya semestinya ketika saya hendak menyerahkan file presentasi. Kejadian itu saya ungkap saat presentasi dengan mengatakan “saya sadar, tampang saya memang kurang meyakinkan”. Pak Jokowi juga sering berkelakar yang mengolok-olok dirinya sendiri dengan menceritakan kejadian ‘memalukan’ ketika menjadi pembina upacara di awal-awal masa jabatannya sebagai Walikota Solo. Hal yang sama dilakukan Pak Dino Patti Djalal terkait cerita sopirnya yang lebih gagah darinya saat menjadi Duta Besar RI di Washington. Mengolok-olok diri sendiri itu aman, namun hanya bisa dilakukan oleh orang yang percaya diri.
  7. Interaksi dengan peserta atau panitia
    Inti dari sebuah presentasi yang baik adalah setiap orang merasa terlibat dan penting perannya. Hal ini bisa diwujudkan melalui interaksi dengan pendengar atau panitia. Di sebuah acara seminar beasiswa, panitianya pernah mengalami kepanikan karena LCD tidak bekerja dengan baik. Pembicaraan saya jadi tersendat. Saya pun seseungguhnya kecewa dan ada rasa tidak nyaman, menyesalkan mengapa panitia tidak melakukan persiapan dengan baik. Pilihannya ada dua, saya jadikan itu momen untuk menunjukkan kekesalan atau harus menyelamatkan situasi. Saya sampaikan “saya paham, tadi panitia pasti sangat panik ketika LCD tidak berfungsi. Saya kagum pada kesabaran mereka untuk tetap bekerja memperbaiki sampai akhirnya bisa berjalan lancar. Kita beri tepuk tangan yang meriah pada panitia kita yang keren hari ini.”

    Akan lebih mudah jika ada peserta yang kita kenal dan pernah mengalami interaksi personal sebelumnya. Misalnya, kita bisa mmengatakan “saya sudah mengenal Pak Budi, yang duduk di depan ini sejak 20 tahun lalu. Terus terang rasanya agak aneh karena saya harus ada di depan Bapak sekarang ini. Matur nuwun sudah datang ya Pak.”

    Kadang kita juga berbicara di depan orang-orang yang kita kenal sejak lama. Ini bisa jadi bahan intermezzo yang baik, misalnya dengan mengatakan “di sini juga ada Mas Indro, kawan baik saya sejak belasan tahun. Beliau pasti merasa aneh karena harus mendengarkan saya, padahal zaman dulu saya terus yang harus mendengarkan dia.” Dalam sebuah acara di Jakarta, saya juga pernah tampil di depan sahabat-sahabat saya ketika kuliah. Saya meyapa mereka dengan nada agak nakal “Mas Nashihun ini sahabat saya sejak lama, sekarang sudah jadi pengusaha sukses padahal saya tahu beliau nggak pinter-piter amat” dan disambut gelak tawa hadirin. Candaan yang demikian hanya bisa disampaikan jika sangat akrab dan sebaiknya ditutup dengan pernyataan positif. Saat itu saya bilang “meskipun saya tadi membully beliau, kenyataannya, beliaulah yang paling sering membantu saya saat ini jika perlu dana untuk penelitian.”

  8. Kejadian atau fenomena umum yang diketahui hadirin
    Intermezzo yang aman dan efektif adalah tentang topik yang diketahui semua orang. Makanya, kejadian atau topik umum menjadi pilihan yang baik untuk dijadikan intermezzo. Topik-topik yang bisa dipilih misalnya pilkada, kasus kejahatan yang sedang menjadi topik nasional, kejadian yang menyangkut selebriti, kejadian lucu yang sedang viral di media sosial, atau kebijakan nasional yang sedang menjadi buah bibir. Hal ini bisa diungkapkan dengan cara jenaka sehingga mengurangi sensitivitas yang ditimbulkan.

    Jika presentasi di suatu daerah di Indonesia, hal-hal yang menjadi pembicaraan di daerah itu bisa dijadikan intermezzo. Jika merasa nyaman, isu politik atau keresahan sosial juga bisa dikemukakan. Misalnya “orang Tabanan memang seniman semua ya, bukan cuma pagar tembok dan Pura, jalan juga diukir” untuk mengkritik jalan yang rusak. Bisa juga berkelakar tentang makanan khas daerah tersebut, misalnya mengatakan “I wake up a little bit late, I got drunk by kimchi, last night” jika presentasi di Korea.

  9. Keterkaitan dengan pembicara lainnya
    Memuji pembicara lain adalah intermezzo yang aman dan positif. Tidak pernah salah. Akan lebih baik lagi jika bisa mengaitkan topik yang kita bicarakan dengan topik yang dibicarakan pembicara lain. Jika belum kenal baik, sebaiknya selalu menyampaikan hal positif, bukan hal negatif. Kadang ada pembicara yang menunjukkan kesan rivalitas atau persaingan dengan pembicara lainnya.

    Naluri persaingan bisa muncul dalam bentuk pembelaan atau menjelek-jelekkan pembicara lainnya, atau sekedar untuk menunjukkan dia lebih baik dari pembicara sebelumnya. Misalnya, kalimat yang sebaiknya dihindari adalah “apa yang disampaikan Bapak X yang berbicara sebelumnya itu keliru dan saya harus koreksi.” Cara yang baik mengungkapkan koreksi misalnya, “apa yang disampaikan Bapak X sangat menarik dan memberi wawasan baru bagi kita semua. Saya tertarik, terutama tentang poin A karena kebetulan saya juga mendalami hal itu. Saya tertarik mendiskusikan ini nanti karena ada perspektif lain yang saya dapatkan dibandingkan yang saya ketahui selama ini.” Intinya, tidak ada yang lebih aman dari pujian. Setidaknya di kesempatan pertama.

  10. Soal honor
    Soal honor tentu sensitif tetapi bisa jadi bahan intermezzo yang baik jika dikemas dengan cantik. Misalnya dengan mengatakan “saya harus pastikan materinya tepat 15 menit karena kalau tidak honor saya akan dipotong.” Jika Anda menjadi moderator, soal honor juga bisa menjadi bahan kelakar yang baik. Misalnya dengan mengatakan “saya tetap harus mengenalkan Pak Joko sebagai pembicara meskipun beliau sudah terkenal. Jika tidak, honor saya tidak akan cair.” Jika Anda dibantu operator saat presentasi, kadang operatornya terlalu cepat menganti slide atau menjalankan animasi. Bagi saya yang sangat mengandalkan animasi yang tepat, hal ini bisa berdampak serius. Biasanya saya menggoda mereka dengan mengatakan “mencet yang bener, nanti honornya saya potong lho” atau “jangan cepat-cepat Mas, mau cari sampingan di tempat lain ya? Honornya kurang pasti nih”. Biasanya hadirin merespon dengan tawa.

Itulah sepuluh contoh intermezzo. Punya idea lain? Silakan komentar di bawah.

Merelakan Anies

Bahwa saya mengagumi dan meneladani Mas Anies Baswedan, itu adalah keniscayaan. Saya tidak membantah, tidak juga menyesalinya sampai detik ini. Anies adalah pribadi yang padanya saya belajar banyak hal dan tetap akan terus belajar. Bahwa dia punya kelamahan dan tidak sempurna, tentu tidak ada satupun yang harus terkejut. Dan bahwa kini Mas Anies menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta, ini adalah kisah dan perihal yang lain.

avengers
Dipinjam dari dunia maya

Continue reading “Merelakan Anies”