Mobil Mogok


Matahari terik, tepat di atas kepala ketika mobil kami tiba-tiba mati dan tidak bisa dihidupkan di Jalan Sudirman di depan BCA, Yogyakarta. Kami yang menuju tempat kondangan pernikahan jadi panik. Saya coba hidupkan berkali-kali tidak berhasil. Sementara itu, mobil di belakang kami mulai tidak sabar. Satu per satu dari barisan mobil itu membunyikan klakson mereka. Makin lama makin tidak sabar dan kian liar. Lengkingan suara klakson itu membuat kami makin panik.

Tidak ada cara lain, saya harus turun dan mendorong mobil. Asti yang berdandan cantik rapi dengan high hill terpaksa harus turun dan menggantikan saya duduk di jok sopir. Saya mendorong mobil dengan susah payah, dengan setelah pakaian yang sama sekali tidak cocok untuk mendorong mobil: celana kain, baju batik dan sepatu mengkilat. Matahari yang terik menikam leher dan kepala saya, merangsang butiran keringat untuk segera tumpah. Dengan susah payah saya berhasil meminggirkan mobil itu dan Asti bertindak sebagai sopir.

Beberapa mobil yang dari tadi tertahan di belakang kami mulai lewat dan sebagian besar tidak sabar. Tidak sedikit yang berlalu sambil memandang saya dengan tatapan mata menyalahkan karena telah menghalangi perjalanan mereka. Saya hanya bisa tersenyum meringis sambil minta maaf dalam hati. Harapan agar mobil segera hidup masih tetap ada. Saya mencoba lagi dan ternyata tetap tidak berhasil. Akhirnya Asti menelpon dealer langganan kami, Honda Anugerah Kasih Putra yang berlokasi di Janti, tidak jauh dari tempat mobil kami mengalami kemacetan. Ternyata pelayanan baru bisa diberikan pukul 13.00 karena saat itu adalah jam istirahat. Tidak ada pilihan lain, kami harus menunggu.

Dengan susah payah saya dorong lagi mobil kami agar mendapat tempat yang lebih baik dan mepet ke trotoar. Saya sadar bahwa tempat itu bukanlah tempat yang tepat untuk parkir mobil melihat permukaan jalan yang dicat zigzag. Saya perhatikan banyak mobil, motor, becak, bentor yang lewat dan pengendaranya memberikan peringatan pada kami. Ada yang halus mengatakan “mboten pareng parkir teng mriki [tidak boleh parkir di sini].” Banyak juga yang seperti preman jalanan dengan suara yang membentak, kasar dan menyalahkan sambil berlalu dengan tatapan mata bengis. Saya hanya bisa senyum getir, minta maaf atau sekedar geleng-geleng kepala. Rasa kesal tentu ada tetapi saya juga memahami perasaan mereka yang merasa terhalangi. Yang mengagumkan adalah Asti yang saat itu sedang puasa namun tetap sabar. Tidak ada kata keluhan sama sekali yang keluar dari mulutnya.

Saya melihat jam tangan, sudah pukul 12.40 dan itu artinya 20 menit lagi jadwal kondangan akan berakhir. Di situlah saya merasakan dilema antara tetap diam di mobil menunggu teknisi atau meninggalkan Asti sejenak di dalam mobil untuk menghadiri kondangan. Harus ada yang menjaga mobil karena posisinya yang tidak semestinya dan teknisi mungkin segera datang. Akhirnya saya putuskan untuk kondangan karena tempatnya cukup dekat dari insiden itu. Saya meluncur dengan taxi menuju tempat kondangan lalu segera mengucapkan selamat kepada mempelai dan keluarganya. Pengantinnya adalah putra dari senior saya di Teknik Geodesi UGM.

Selepas makan dan berbasa-basi sejenak, saya segera meluncur lagi dengan taxi menuju mobil yang tengah sekarat. Berita baiknya, saat tiba di mobil sekitar pukul 13.15, saya melihat teknisi baru saja menyelesaikan tugasnya. Mobil saya sudah beres dan siap tempur lagi. Syukurlah. Kami segera meluncur menuju suatu tempat lalu melenggang pulang. Di mobil, kami sekali waktu membicarakan kekonyolan kejadian tadi. Dengan tertawa, Asti menceritakan cukup banyak orang yang lewat sambil memarahinya. Begitulah. Syukurlah, tak ada lagi sedih atau kesal, derai tawa menggantikan perasaan yang gundah gulana.

Tak terasa, kami sudah sampai di pertigaan di dekat rumah dan saya baru sadar ada kemacetan yang tidak biasa. Ternyata pada jarak sekitar tiga mobil di depan saya, ada sebuah mobil putih sedang mogok. Saya dan Asti saling pandang ketika melihat mobil di depan kami membunyikan klakson tanda marah dan tidak sabar. “Kita tidak boleh begitu. Kasihan Bapak itu” kami sepakat. “Hidupnya sudah susah, tidak perlu dipersusah” kata Asti setengah berkelakar.

Seorang lelaki yang berbadan tegap dan besar turun dari mobil putih itu tetapi tidak bisa berbuat banyak. Jelas nampak kepanikan di wajahnya, sementara mobil di belakang dia nampak tidak sabar dan tetap membunyikan klakson. Saat kami berbelok ke kanan saya melihat sekilas ada seseorang yang duduk di kursi penumpang di samping kursi sopir. Saya pikir memang ada orang lain di mobil itu dan urusannya harusnya menjadi lebih gampang. Sayangnya, selama beberapa menit itu saya tidak melihat tanda-tanda orang itu turun untuk membantu lelaki tegap itu. Orang itu juga tidak berpindah ke jok sopir seperti yang tadi Asti lakukan saat saya mendorong mobil itu. Saya penasaran.

“Ayah mau tengok orang itu. Kita berhenti sebentar ya Bu” kata saya sambil memarkir kendaraan di pinggir jalan. Asti diam di mobil dan menyetujui gagasan saya. Sambil melinting lengan baju batik, saya berlari mendekati mobil yang masih tak beranjak dari tengah jalan. Saya lihat lelaki itu makin panik, dia kini masuk lagi ke dalam mobil dan mencoba menghidupkan mesin mobil, sayang sekali tidak berhasil. Dari pinggir jalan saya berteriak kepada lelaki itu “Mas, saya dorong ya?” sambil memberikan bahasa isyarat mendorong mobil. Saya lakukan itu karena tidak ada tanda-tanda mobil di belakangnya akan berhenti untuk menolong.

Lelaki itu melihat saya dan wajahnya galau tidak jelas. “Mohon maaf yang Pak” katanya penuh khawatir. Saking paniknya, dia bukannya berterima kasih mau dibantu, justeru minta maaf. Demikianlah, kepanikan bisa membawa banyak korban. Mungkin karena merasa badannya yang tegap dan besar atau demi melihat saya yang kecil tidak meyakinkan, lelaki itu mengambil keputusan. “Bapak yang nyetir, biar saya yang mendorong ya” katanya penuh keyakinan. Tanpa basa-basi saya segera melompat naik ke kursi sopir. Di situlah saya mendapati seorang perempuan yang sedang mengendong bayi yang masih merah. Rupanya orang yang saya lihat duduk di depan itu adalah seorang ibu muda yang sepertinya baru saja melahirkan anaknya.

“Makasih ya Pak” katanya, “kelihatannya aki-nya memang tekor” lanjut ibu muda itu. Saya lirik anaknya masih agak merah dan mukanya kurang begitu sehat. “Kami baru saja dari dokter Pak” katanya seakan tahu rasa penasaran saya. “Oh, semoga lekas sembuh ya Bu” kata saya singkat sambil mengendalikan mobil yang mulai bergerak, didorong lelaki itu. Saya belokkan ke kiri dan menju jalanan yang agak turun. Dengan sekali hentak akhirnya mobil itu bisa hidup. Saya lega dan segera berhenti. “Cepat sembuh ya Dik” kata saya ketika mau keluar dari mobil. “Saya baru saja mengalami hal yang sama Bu. Saya juga ditolong orang” ucap saya sesaat sebelum keluar dari mobil. Ibu itu tersenyum mengangguk lalu berterima kasih dan sepertinya tidak bisa berkata banyak.

Saat sudah di luar, saya lihat lelaki tadi agak terengah bergegas menuju mobil. Dia seperti kehilangan kata-kata tetapi saya tahu dia begitu berterima kasih. “Gak apa-apa Mas” kata saya mencairkan suasana. “Saya berusan mogok juga. Saya juga ditolong orang” kata saya sambil tersenyum ‘menenangkannya’. “Semoga putranya cepat sembuh ya Mas” lanjut saya sambil menyalaminya dan segera berlari menuju mobil. Batik kondangan itu sudah saya linting lengannya sehingga sudah lebih mirip kemeja cowboy. Atau setidaknya saya merasa begitu ketika berlari di bawah terik matahari menju mobil untuk mendapatkan senyum Asti yang menggoda saya “you are my hero” lalu kami tertawa.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

3 thoughts on “Mobil Mogok”

  1. Dari berbagai pengalaman berlalu lintas, kita memang harus positif thinking ketika ada kendaraan yg berhenti atau melamba secara tidak wajar. Dan juga mungkin kalau ada kendaraan yang tampak tergesa-gesa dan mengklakson kencang dari belakang. Bisa saja mereka sedang dirundung masalah.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s