Jika Pejabat Negara Tidak Bisa Ngomong Inggris

Dosakah jika pejabat negara tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik? Tentu saja tidak. Bahasa Inggris bukan bahasa kita. Dia juga bukan bahasa resmi di Indonesia. Bukan juga bahasa pengantar pendidikan dan penyelenggaraan negara. Semua dokumen resmi negara dalam Bahasa Indonesia. Semua siaran TV, buku, lagu dan sebagainya, hadir dalam Bahasa Indonesia juga. Tidak ada alasan mendesak untuk fasih berbahasa Inggris. Benarkah demikian?

Saya kerap menghadiri forum internasional yang mempertemukan perangkat negara dari berbagai bangsa, termasuk Indonesia. Salah satu yang pernah saya ikuti adalah Maritime Security Desktop Exercise (MSDE) yang mempertemukan para penegak hukum di laut dari berbagai negara. Hingga 20an negara turut berpartisipasi dalam sebuah acara MSDE sehingga diskusinya sangat menarik. Yang selalu menggelitik saya adalah minimnya kontribusi orang Indonesia dalam diskusi tersebut meskipun peserta terbanyak selalu dari Indonesia karena diadakan di Indonesia.

Continue reading “Jika Pejabat Negara Tidak Bisa Ngomong Inggris”

Beda Waktu

Jakarta, 10 Januari 2000
Ini hari adalah akhir minggu pertama aku kerja praktik. Beruntung sekali aku bisa kerja praktik di sebuah perusahaan besar yang diincar oleh hampir semua temanku. Meski merasa bangga, aku juga terkejut. Ternyata perusahaan besar itu tidak sebagus yang aku duga. Sistemnya masih konvensional, birokrasinya lambat. Dalam rapat tadi siang, aku dilibatkan untuk mendengar dan belajar sistem di perusahaan itu. Aku menyimak dengan antusias.

Tiba giliran aku diberi kesempatan berbicara, aku manfaatkan dengan baik. Aku memberi kritik pedas dan tajam kepada manajemen. Aku sampaikan bahwa banyak sekali praktik di kantor itu yang tidak sesuai dengan kaidah. Dengan lantang aku sampaikan kritik dan desakan untuk segera berbenah. Aku tahu, ada beberapa orang yang merasa tertampar dengan komentar itu, tapi aku tidak peduli. Kebenaran harus disampaikan dan mereka memang harus ditampar agar sadar. Aku yakin kehadiranku di sana akan membawa perubahan signifikan.

Budi “the Coolest” Mulyana

Continue reading “Beda Waktu”

Antara Sepeda, Motor dan Mobil

Kendaraan dinas UGM
Kendaraan dinas UGM

Jika ditanya serius “apakah kita boleh membedakan perlakuan terhadap orang berdasarkan kendaraan yang dipakainya?” mungkin sebagian besar, jika tidak semua, orang akan menjawab “tidak”. Anda juga mungkin menjawab “tidak”. Ini ilmu yang umum, ajaran yang dipercaya oleh semua penganut kebaikan. Benarkah kita tidak membedakan perlakuan terhadap orang berdasarkan kendaraannya?

Dalam beberapa bulan terakhir ini saya banyak menggunakan sepeda di UGM untuk mengunjungi tempat-tempat berbeda di lingkungan kampus. Kami menyebut sepeda itu sebagai ‘kendaraan dinas’ bagi mereka yang bertugas menjalankan roda organisasi UGM. Di kesempatan berbeda, saya juga sering menggunakan motor. Tentu saja sekali waktu masih menggunakan mobil, terutama ketika hujan mendera atau karena harus mengantar tamu. Ternyata perlakuan yang saya terima saat naik sepeda, motor atau mobil itu berbeda.

Continue reading “Antara Sepeda, Motor dan Mobil”

Sepuluh ‘Dosa’ Saat Menulis Email

Seharusnya saya beri judul tulisan ini “Tips Menulis Email yang baik dan benar” tapi mungkin kurang sangar makanya saya ganti menjadi seperti judul sekarang. Dulu saya berpikir bahwa menulis email itu begitu mudah, semua orang bisa dan tidak perlu diajari. Semakin lama saya semakin ragu dengan pemahaman itu. Dalam beberapa hari terakhir saya bahkan jadi yakin bahwa menulis email itu tidak mudah dan saya merasa tergerak untuk berbagi pemahaman saya. Tulisan ini berdasarkan ratusan email yang saya terima baik dari mahasiswa maupun dari mitra di luar universitas. Ada sepuluh hal penting yang perlu diperhatikan:

Continue reading “Sepuluh ‘Dosa’ Saat Menulis Email”

UNSW, setelah 11 tahun

Sydney, 14 Januari 2004

Hari sudah terang, pagi tak lagi muda karena matahari menghadirkan benderang yang cerah. Sydney kulihat pertama kali dari balik jendela pesawat yang baru saja menyentuhkan roda-rodanya di landasan Bandara Kingsford Smith. Inikah negeri Kangguru yang telah lama kusimpan dalam rasa penasaranku? Aku nyaris tidak percaya, hari itu datang juga. Sebentar lagi, pikirku, Negeri Kangguru tak lagi asing di mata dan terutama hatiku.

Kulihat dua lelaki bekerja giat di landasan Bandara. Keduanya mengenakan helm dan baju dengan rompi yang memendarkan sinar. Sepatunya nampak khusus untuk bekerja di lapangan dengan warna cokelat gelap. Yang menarik, keduanya mengenakan celana pendek, bukan sesuatu yang aku lihat setiap hari. Pekerja lapangan dengan sepatu berujung baja dan berhelm proyek yang berstandar, rasanya tidak cocok mengenakan celana pendek. Itulah Sydney dalam kesan pertamaku.

Yang paling aneh dari segala yang aneh, keduanya bule. Bukankah bule seharusnya bersenang-senang di Pantai Kuta sambil minum bir dan menikmati pijatan penjaja jasa keliling di atas pasir? Bukankah seorang bule seharusnya berselancar melawan deru ombak di pantai eksotis di Bali Utara dan bukan bekerja mengangkat kopor atau barang berat lainnya di sebuah bandara yang benderang? Pikiran konyol orang Bali yang hanya tahu Alas Kedaton, Kuta dan Tanah Lot, tidak bisa disembunyikan di saat begitu. Aku terheran-heran melihat bule bekerja karena kusangka selama ini tugas hidup mereka hanya melancong. Bule itu turis, kata tetua di kampungku.

Aku bergerak mengikuti antrian yang mengular. Perjalanan masih panjang meskipun aku sudah keluar dari pesawat. Kini antrian di bagian imigrasi dan bea cukai menunggu. Di tanganku ada pasporku dan sebuah kartu kedatangan yang sudah aku isi di pesawat tadi. Saat mengisi, penuh ketegangan, takut salah dan takut dimarahi. Yang paling menyeramkan, kalau-kalau kartunya salah aku isi dan diminta merevisi. Kartu kedatangan memang bukan skripsi tetapi apapun bisa terjadi, pikirku.

Tidak seserem yang aku duga, aku terbebas dan diizinkan memasuki Sydney. Dalam hati aku berteriak girang “Australia, here I am”. Tentu saja tidak dengan logat Aussie yang malas dan terseret-seret. Betul, bicara dalam hatipun tentu ada logatnya. Kupandangi sekitar, koperku sudah terlihat berkeliling di conveyor belt, entah untuk keberapa kalinya. Kugamit pegangannya dan dalam sekejap aku sudah siap melanjutkan perjalan keluar dari bandara. Tentu saja harus melewati custom yang super ketat. Tidak boleh ada buah, tidak boleh ini tidak boleh itu. Singkat cerita, aku terbebas dengan mudah. Tentu saja. Tidak ada gunanya belajar cross culture understanding selama delapan minggu di IALF Jakarta jika aku masih belum paham apa yang boleh dan tidak boleh dibawa saat datang ke Australia.

Aku melihat wajah-wajah yang sumringah penuh senyum menyambutku. Ternyata mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sudah belajar di University of New South Wales (UNSW) terlebih dahulu. Kini aku menjadi junior mereka, siap menjadi adik kelas yang baik. Mereka adalah orang-orag baik hati. Satu per satu menyalami kami dan ternyata lebih banyak penjemput dibandingkan yang dijemput. Orang-orang baik yang pintar itu merelakan dirinya menjadi penjemput kami. Tidak saja itu, mereka menemani kami di kendaraan yang membawa kami ke Sydney sambil membicarakan hal-hal menarik yang menambah semangat. Ada banyak nama yang kuingat dan tidak akan aku lupakan.

Aku diantar ke sebuah rumah tinggal. Aku dititipkan di sebuah keluarga Indonesia yang istrinya sedang sekolah di UNSW. Aku memang tidak siap sebelumnya dan tidak mendapatkan akomodasi sebelum berangkat ke Sydney. Untunglah para senior menyediakan semua fasilitas itu dengan kerelaan hati. Aku membayar tentu saja. Kami semua mendapat beasiswa yang sama, tak ada alasan bagi yang satu untuk menghamba secara finansial kepada yang lain.

Menjelang siang, kami diantar ke International Students Service alias ISS alias Kantor Urusan Internasional UNSW. Tempat itu surga bagi mahasiswa asing. Ada komputer untuk dipakai mahasiswa asing, terutama yang baru bergabung seperti aku. Ada penganan kecil yang tersedia untuk para mahasiswa asing yang baru, ada lembaran-lembaran informasi akomodasi yang tersedia, ada berbagai brosur kegiatan mahasiswa di UNSW, ada konsultan yang siap sedia memberikan informasi dan banyak lagi.

Di berbagai pojok kulihat petugas yang tidak pernah berhenti mengumbar senyum seraya memberi penjelasan kepada mahasiswa asing yang baru saja tiba. Aku menunggu giliranku, sambil mencoba mengirimkan email kepada teman dan sanak famili di Jogja ketika itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku mendapat giliran. Seorang perempuan muda yang ramah dan menarik hati menyapaku. “Good morning, thank you for waiting. How can I help you?”. Aku yang belum terbiasa mendengar Bahasa Inggris logat Australia sejenak tertegun, tidak begitu paham apa yang ditanyakan gadis itu. “Pardon me” ada frase yang paling sering aku ulang. Syukurlah, pada akhirnya semua baik-baik saja. Memulai dengan senyum, gadis itu mengakhiri juga dengan senyum. Professional dan hangat. Tiba-tiba aku merasa di rumah sendiri. Aman, nyaman dan sangat diperhatikan. Itulah kesan pertama tetang kantor urusan internasional UNSW pada pagi itu.

Kutengok di sekelilingku, ada yang sedang konsultasi perihal memperoleh akomodasi. Ada yang curhat karena kopornya lenyap di pesawat atau bandara, ada yang sedang diajari cara menggunakan perangkat lunak tertentu. Ada juga seorang gadis lain yang khusus berkeliling memberikan penganan kecil. Aku dilayani begitu rupa, membuatku merasa di atas angin seperti raja. Sentuhan pertama office of international affairs UNSW itu memberikan kesan mendalam. Sentuhan personal dalam konteks professional menjadi kunci yang menyentuh hati. Dalam sekajap, aku sudah merasa jatuh cinta pada kampus UNSW ini. Terkesima oleh layanan yang memanusiakan.

Yogyakarta, 14 Januari 2015
Aku menatap wajah perempuan itu. Air mukanya tenang, sorot mata birunya tajam tapi tak mengancam. Dia menatapku dan berkata “So, Pak Andi, thank you for making the time. We are so pleased to finally meet you. With your position as the Head of the Office of International Affairs at UGM, I am sure we can strengthen our relationship.

Sambil mengangguk mantap, kulirik lagi kartu nama berwarna kuning yang baru saja diserahkannya. Kartu nama itu tiba-tiba seakan berubah menjadi layar TV yang memutar ulang peristiwa lama. Berkelebat wajah-wajah para senior yang menjemputku di Bandara Sydney 11 tahun silam, tersungging senyum yang hangat para pelayan mahasiswa baru, tercium aroma nasi goreng halal di Taste of Thai, Randwick, dan terngiang logat Bahasa Inggris Yew Kong Tam, petinggi kantor urusan internasional , yang tak lazim. Kusimak dengan seksama, pada sisi kiri kartu nama itu terukir logo yang aku kenal baik dan dibawahnya bertuliskan singkatan yang tidak asing lagi: UNSW. “Pleasure is mine!” kataku mantap!

Berjejaring: Sebuah Keputusan Sadar

Mendiskusikn buku
Mendiskusikan buku dengan Pak Marty

Seorang anak SMA di Banyumas menghubungi saya lewat komentar di blog. Fajri, demikian namanya, bukan orang pertama yang berkomentar di blog tetapi dia termasuk yang istimewa. Fajri adalah satu dari sedikit yang mengemukakan keinginannya secara langsung untuk bertemu saya. Berawal dari membaca buku saya, menelusuri blog dan akhirnya berujung pada ketertarikan Fajri pada gagasan-gagasan saya. Singkat kata, dia merasa perlu bertemu. Tujuannya sederhana saja, ingin bertemu dan meminta tandan tangan. Saya respon positif keinginan itu dan kami akhirnya bertemu di kantin Fakultas Teknik UGM.

Gedung PBB di New York, penghujung tahun 2007

Saya melihat lelaki berwibawa itu berdiri di samping saya, hanya sekitar dua meter. Saya tahu orang itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah Marty Natalegawa. Saya diam, tercekat tidak bisa bicara dan dirundung ragu yang teramat sangat. Satu sisi diri saya mengatakan “ayo, sapa dia. Kapan lagi bisa menyapa Duta Besar Indonesia untuk PBB kalau tidak sekarang. Ini kesempatanmu.” Sementara itu, sisi lain dari diri saya berbisik “eh, kamu itu siapa?! Sadar diri dong! Kamu anak desa, orang tua tidak rampung pendidikan dasar, dan tidak kaya. Kamu tidak selevel dengan Marty Natalegawa. Paling-paling kamu dicuekin kalau menyapa. Malu kan?! Sudahlah, tidak usah menyapa. Lebih baik diam, cari aman. Kamu terhindar dari ancaman rasa malu dan tengsin.” Dua imajinasi ekstrim itu menguasai saya, muncul silih bergandi dan adu kuat.

Continue reading “Berjejaring: Sebuah Keputusan Sadar”

Guru Baik Hati

Januari hampir berakhir di tahun 2004, musim panas masih segar, belum ada tanda-tanda berakhir. Ketika itu saya memulai kuliah S2 di University of New South Wales (UNSW) di Sydney, Australia. Pagi itu saya mendapat email dari supervisor, Clive, untuk mengajak saya bertemu. Menariknya, di bagian akhir email itu dia menyampaikan “tapi kalau kamu sibuk, tidak apa-apa. Kita bisa bertemu lain kali.” Saya yang memang masih sibuk lalu menjelakan bahwa saya masih mengikuti kelas persiapan kuliah dan sedang mencari tempat tinggal permanen. Balasannya menenangkan hati, “baiklah, tidak apa-apa. Kamu pasti lagi repot nyari tempat tinggal dan nanti mengisi perabotan. Kamu pasti perlu alat-alat dapur juga. Silakan bereskan semua urusan, setelah itu kita bertemu”

Continue reading “Guru Baik Hati”