Reklamasi Tidak Selalu Seksi

balipostreklamasiReklamasi Teluk Benoa menjadi isu yang menyita perhatian banyak orang di Bali bahkan di tingkat nasional saat ini. Para aktivitas bergerak, ilmuwan beropini dan pro kontra pun terjadi. Mereka yang pro reklamasi sering menceritakan keindahan dan manfaat reklamasi untuk masa depan Bali. Reklamasi atau pembuatan pulau Jumeirah Palm Island di Uni Emirat Arab kerap menjadi contoh.

Jika Anda belum berkesempatan untuk melihat dan menikmati langsung, cobalah bayangkan suasana di Jumeirah Palm Island. Bayangkanlah diri Anda berjemur di sana menikmati segelas minuman dingin khas tropis sambil membaca buku atau sekedar bermalas-malasan. Bayangkan pula, dua dekade lalu, pulau itu tidak ada dan yang ada ketika itu adalah laut. Tentu Anda tidak bisa menikmati suasana eksotis itu jika tidak ada reklamasi yang kemudian membuat pulau itu ada. Reklamasi memang bisa menghadirkan ruang baru untuk menikmati alam.

Continue reading “Reklamasi Tidak Selalu Seksi”

Advertisements

Tips Seminar Proposal Skripsi, alias SemPro

Banyak yang menganggap seminar proposal skripsi itu menyeramkan. Sesungguhnya tidak demikian kalau kalian paham dengan baik apa sesungguhnya seminar proposal ini. Tips ini pernah saya twit untuk Geodesi UGM. Silakan disimak dan semoga membantu.

  1. Seminar proposal skripsi itu bukan pengadilan, tidak usah takut 🙂 Itu adalah proses dialog untuk memastikan mahasiswa siap membuat skripsi.
  2. Tujuan utama Seminar proposal skripsi adalah untuk membantu mahasiswa dalam menyiapkan skripsinya jadi tdk perlu tegang tapi perlu siap-siap dengan baik.
  3. Intinya kalian mau bikin skripsi maka kalian perlu sampaikan gagasan skripsi itu kepada dosen agar dipastikan arahnya benar dan kalian tidak tersesat.
  4. Kalian perlu sampaikan apa yang sudah ada atau diteliti orang lain dan sampaikan apa yang belum ada atau diteliti. Nah itulah yang ingin kalian teliti. Namanya filling the gap. Makanya tugas utama kalian adalah membaca penelitian terdahulu.
  5. Pada dasarnya, dosen perlu tahu, kalian mau apa, siap nggak kalian melakukannya, sdh punya data belum. Intinya agar pembuatan skripsi nanti lancar 😉
  6. Dalam presentasi harus sampaikan apa topik skripsinya, mengapa itu perlu dilakukan, metode/caranya bagaiamna, datanya dari mana, lalu hasilnya nanti apa? Gunanya apa? Itu saja. Tidak usah ribet2 mikirnya 🙂
  7. Seminar proposal skripsi adalah proses dialog yg baik antara murid dan guru. Tidak bisa jawab pertanyaan dosen itu wajar, dosen akan kasih masukan. Tapi jangan meremehkan.
  8. Secara teknis, siapkan presentasi yg baik. Buat slide yg sederhana tapi efektif. Jangan kebanyakan huruf. Isi ilustrasi gambar yg bisa menjelaskan secara visual. Ini contoh yang perlu diperbaiki:
  9. Jangan hanya copas isi proposal ke slide Power Point. Itu bukan cara yg baik dlm presentasi. Lihat bedanya kedua slide berikut. Isinya sama tapi cara penyampaiannya beda.
    teksvsgambar
  10. Pastikan presentasi tdk lbh dari sepuluh menit, makanya jangan terlalu banyak teori. Latih di rumah sampai lancar dan tepat waktu. Jangan tampil tanpa latihan.
  11. Tidak semua orang berbakat presentasi. Tenang saja. Setidaknya kalian tampil wajar. Merasa tidak berbakat? Latihan!!! Ajak teman untuk belajar bersama dan saling koreksi.
  12. Kalau latihan 100 kali belum bisa lancar dan tepat waktu, latih 200 kali. Tapi kalau latihan sekali sudah okay, bagus lah 🙂
  13. Pertanyaan dosen biasanya seputar: hipotesis, metode/cara penelitian, kesiapan data, kesiapan software, hasil yg diharapkan dan manfaat penelitian.
  14. Intinya banget, dosen ingin kalian bisa selesai dengan lancar dan hasilnya baik. Seminar proposal skripsi adalah untuk membantu kalian, bukan mengadili. Sekian 🙂
  15. Eh, satu lagi: tampil rapi! Penampilan memang bukan yang utama tetapi selalu lebih menyenangkan melihat orang tampil rapi dan bersih secara wajar saat menyampaikan gagasannya.

Silakan baca juga tips presentasi skripsi

Kalau sudah selesai skripsi, mungkin Anda tertarik S2 dengan beasiswa ke luar negeri. Silakan baca buku ‘Rahasia Beasiswa‘ ini 🙂

Teknologi mengubah persepsi kita tentang kecantikan

Teknologi pengolahan citra digital membantu kita melakukan banyak hal. Di sisi lain, dia bisa mengubah persepsi kita tentang kecantikan karena dia membantu kita untuk ‘menipu’ secara dramatis. Coba lihat video ini.

Warning: Video ini menampilkan ketelanjangan. Tidak sesuai untuk mereka yang belum berpikir dewasa.

Jika terpaksa harus kuliah online

Kuliah MG di Teknik Geodesi dan Geomatika UGM

Jika Anda dosen, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa tugas selain mengajar kadang jauh lebih banyak jumlahnya. Selain urusan administrasi seperti BKD, SIPKD, SKP, dan singkatan-singkatan lain yang kadang membingungkan, ada juga tugas lain untuk memikirkan negara. Tidak jarang, seorang dosen diundang satu kementerian untuk dimintai pendapat. Bagi dosen yang berdomisili di luar Jakarta, panggilan-panggilan dan tugas non akademik ini kadang menyita lebih banyak waktu. Perjalanan pulang pergi ke Jakarta dari Jogja, misalnya, akan memakan waktu setidaknya sehari. Akibatnya, tugas mengajar di kampus bisa terabaikan.

Sebenarnya pilihannya bisa sederha yaitu dosen menolak undangan kementerian atau instansi tertentu dan fokus saja mengajar atau meneliti di kampus. Saya yakin ada dosen yang melakukan ini. Tidak demikian dengan saya karena berbagai pertimbangan. Sedapat mungkin undangan itu saya penuhi, terutama yang terkait erat dengan aktivitas berpikir dan melaksanakan kajian. Alasannya sederhana. Saya percaya data, informasi dan pengetahuan itu harus berujung pada kebijakan agar dia memberi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Terdengar sok idealis? Tentu saja. Seorang yang berani menyebut dirinya guru memang harus idealis. Adakah alasan pragmatis dari kegiatan itu? Tentu saja ada. Dosen mendapat honor dari aktivitas itu. Mungkin ini bukan alasan utama tetapi tidak benar jika tidak saya akui.

Jika terpaksa harus meninggalkan perkuliahan, apa yang bisa dilakukan seorang dosen? Pilihan yang paling mudah adalah mengosongkan kuliah dan menggantinya di hari lain. Saya akui, ini tidak bisa dihindari jika terlalu banyak undangan atau panggilan ke luar kota. Meski demikian, ada pilihan lain yang bisa dicoba yaitu memberikan kuliah secara online. Teknologi informasi dan komunikasi yang sudah sedemikian canggih bisa dimanfaatkan untuk memberi kuliah online ini. Saya baru saja mencobanya.

Saya harus berada di Jakarta dan Bali karena suatu tugas pada tanggal 24-28 Februari 2014. Dalam seminggu itu ada dua kuliah wajib yang harus saya isi yaitu Matematika Geodesi (ya, betul! Anda tidak salah baca) untuk S1 Teknik Geodesi dan Geomatika UGM dan Praktek Basis Data untuk D3 Teknik Geomatika Sekolah Vokasi UGM. Tadinya saya mau mengosongkan saja dan menggantinya di hari lain tapi saya berubah pikiran. Saya memutuskan melakukan kuliah online dengan Skype dibantu oleh Team Viewer. Sebenarnya ini sudah sering saya lakukan dulu ketika masih ada di Australia sehingga secara teknis saya bisa melakukannya tanpa banyak kendala. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah saya akan memiliki akses internet yang memadai ketika ada di Jakarta atau Bali nanti. Jika saya ada di hotel tentu saja tidak masalah tetapi jika saya berada di luar hotel atau benar-benar dalam perjalanan, maka kendala akan muncul.

Kalau ada niat, pasti ada jalan dan kalau tidak ada niat pasti banyak alasan. Saya selalu percaya hal itu. Maka saya mulai mencari cara. Saya kontak asisten saya di Teknik Geodesi dan Geomatika UGM, Sapta Hadi, yang selama ini membantu banyak. Saya ajari dia menggunakan Skype dan Team Viewer untuk kuliah online dan dia antusias. Satu titik terang sudah ada. Tidak ada yang lebih baik dari bekerja dengan orang yang antusias. Singkat cerita saya sudah merasa siap untuk bereksperimen.

Pinjam tempat di IDP/IALF Bali
Kuliah Matematika Geodesi dijadwalkan hari Jumat jam 13.00 WIB dan ketika itu saya berada di Bali dan artinya itu jam 14.00 WITA. Saya harus temukan suatu tempat yang tepat untuk mengajar. Saya kenal dengan Pak Ketut di IDP/IALF Bali dan segera menelpon beliau untuk meminta izin menggunakan salah satu ruangan di IDP/IALF untuk mengajar. Yang saya butuhkan tentu saja sebuah kursi, satu meja dan akses internet. Jika kemudian saya dapat ruang kelas ber-AC, tentu saja itu bonus belaka. Pak Ketut dengan baik hati mengizinkan. Ini terjadi karena sebelumnya saya sudah berinteraksi baik dengan beliau saat saya menjadi perwakilan Universitas Wollongong dalam acara pameran pendidikan yang dikelola IDP. Pertemanan adalah kuncinya.

Ketika selesai kuliah Matematika Geodesi, waktu sudah menunjukkan pukul empat di Bali dan ternyata ruang kuliah yang saya pakai itu akan digunakan. Saya harus mengungsi ke tempat lain untuk memberi kuliah Praktek Basis Data. Akhirnya saya pindah ke ruang dapur/pantry di atas dan mengatakan kepada security bahwa saya adalah tamu dari Pak Ketut. Mereka baik hati mengizinkan saya. Saya menempatkan laptop dan iPad di dekat tempat cuci piring agar bisa di dekat jendela dan pencahayaan jadi lebih bagus. Saat kuliah, sempat juga saya tunjukkan suasana ‘dapur’ itu kepada mahasiswa di Jogja dan mereka tertawa geli menyaksikan dosennya mengajar di dekat tempat cuci piring. Pilihan saya tidak banyak, tempat itupun harus disyukuri.

Belum maksimal tapi awal yang baik
Harus saya akui, perkuliahan oline itu tidak berjalan sempurna. Saat kuliah Matematika Geodesi, ada kendala teknis dengan laptop di Jogja yang microphone-nya tidak berfungsi dengan baik. Ini di luar dugaan karena sebelumnya kami sudah coba dan berhasil baik. Ini satu pelajaran bahwa saya harus mencoba lagi di detik-detik terakhir sebelum kuliah agar hal ini tidak terjadi. Kendala kedua adalah audio yang tidak kami siapkan dengan matang sehingga katanya suara saya kadang turun. Saya duga ini terkait dengan kualitas laptop di Jogja dan juga koneksi internet. Saat itu masih jam 13.00 WIB di Jogja dan pengguna internet masih cukup banyak. Selain itu, koneksi menggunakan WIFI sehingga tidak sebagus jika menggunakan kabel. Lain kali, ini harus kami perhatikan hal ini lebih baik.

Praktek Basis Data di D3 Teknik Geomatika SV UGM

Kendala yang terjadi di Kuliah Matematika Geodesi akhirnya kami jadikan pelajaran dan perbaiki di Kuliah Praktek Basis Data. Hasilnya cemerlang. Hampir tidak ada kendala koneksi dan audio saat kuliah Basis Data itu. Suara jernih, tayangan berjalan baik dan bahkan interaksi bisa dilakukan dengan sangat baik. Mahasiswa bisa memberikan komentar dengan leluasa. Saya bisa mendengar mereka tertawa dan antusias merespon kuliah itu. Saya juga meminta mahasiswa mengirimkan email dan memberi kesan serta masukan. Hasilnya bagus. Secara umum mahasiswa merasa ini pengalaman yang menarik karena ini merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar dari mereka. Tentu saja bukan soal materi tetapi kuliah online ini memberikan pengalaman baru yang segar kepada mahasiswa.

Satu yang mahasiswa dan saya sepakati adalah kuliah online tidak pernah bisa menggantikan kuliah tatap muka secara utuh, setidaknya sampai hari ini. Saya tegaskan kepada mereka, kuliah online ini dilakukan jika dan hanya jika terpaksa. Saya mohon mahasiswa memahami bahwa tugas dosen tidak hanya mengajar meskipun tetap harus mengutamakan itu sebagai tugas pertama. Intinya, dosen dan mahasiswa perlu bekerjasama dengan baik agar semua tugas itu berjalan dengan baik dan tidak ada pihak yang benar-benar dirugikan. Komunikasi yang baik adalah kuncinya.

Saya pribadi merasa senang bisa melakukan kuliah secara online Jumat kemarin. Saya tidak menawarkan sesuatu yang luar biasa dengan kuliah online itu karena semuanya menggunakan teknologi yang begitu sederhana. Tidak ada investasi tambahan, hanya menggunakan apa yang sudah biasa kita pakai sehari-hari. Kuliah ini berbiaya rendah karena tidak ada biaya tambahan dibandingkan kuliah yang biasa dilakukan. Memang tidak sempurna tetapi ini bisa jadi solusi yang mengatasi keterpisahan jarak. Saya berharap pihak lain akan memberikan tanggapan konstruktif karena yang saya tawarkan adalah sebuah niat baik. Itu saja.

Dapat Apa Bali dari APEC?

oleh Nyoman Sukma Arida*

http://asiasociety.org/

Pelaksanaan KTT APEC di Bali jelas menjadi pertaruhan Bangsa Indonesia di mata dunia. Khususnya pertaruhan wajah pemerintahan SBY baik internal maupun eksternal. Inilah KTT yang konon mengusung dua agenda besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik. Inilah konferensi dengan tema “Resilient Asia Pacific, Engine of Global Growth” yang akan dihadiri para pemimpin negara anggota termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, 6.000 delegasi pemimpin ekonomi, 1.200 pemimpin bisnis dunia, 3.000 wartawan dari dalam maupun luar negeri serta ribuan tamu dari organisasi internasional, perwakilan asing dan akademisi (Kompas, 16/09/2013). Obama sendiri batal hadir karena persoalan besar yang menghantam APBN-nya.

Continue reading “Dapat Apa Bali dari APEC?”

Email juga ada etikanya, percayalah :)

dipinjam dari http://ignatius-eko-b.blog.ugm.ac.id
  1. berkirim email memang perihal yang tidak terkait hidup mati tapi tetap penting. Kirim email ada etikanya. Mari kita simak #EtikaEmail
  2. Email itu semestinya ada salam sapa, isi dan penutup. Email bukan chatting. Kecuali sudah bebalas2an dalam satu topik. #EtikaEmail
  3. Kirim email pertama kali sebaiknya tdk terlalu panjang, apalagi kepada orang yg sibuk/terkenal. Jadikan pembuka #EtikaEmail
  4. Pada email pertama, jangan sibuk bicara diri sendiri. Pastikan Anda juga menunjukkan simpati/ketertarikan pada penerima email #EtikaEmail
  5. Pada email pertama, pastikan Anda menjelaskan bagaimana Anda menemukan email penerima agar jelas perkara dan ke mana arahnya. #EtikaEmail
  6. Penting bagi Anda untuk membaca tentang si penerima email (karya, pemikirannya) apalagi maksud email itu adalah konsultasi #EtikaEmail
  7. Bayangkan, Anda tiba2 tanya perihal yang umum dan sudah sering dibahas oleh penerima emial di blog/web. Anda terlihat kurang perhatian #EtikaEmail
  8. Hindari tiba-tiba kirim email dan tanya hanya satu baris tanpa salam tanpa perkenalan di email pertama. #EtikaEmail
  9. Gaul boleh, tapi bahasa email pertama sebaiknya standar/baku. Ini strategi biar aman. Kalau ternyata dia mau gaul, silakan di email berikutnya #EtikaEmail
    Continue reading “Email juga ada etikanya, percayalah :)”

Menerbitkan buku itu [ternyata] mudah

Banyak yang akan penasaran atau bahkan mencibir membaca judul tulisan ini. Masa’ sih menerbitkan buku itu mudah? Saya tidak berbohong. Menerbitkan buku di era teknologi informasi dan komunikasi ini memang mudah. Setidaknya, tidak sesulit melakukan hal yang sama sepuluh atau 20 tahun lalu. Dulu, penulis buku seperti bangsawan golongan khusus karena menjadi dominasi sekelompok orang saja. Dia ekslusif dan istimewa. Kini tidak lagi. Siapapun bisa menerbitkan buku. Siapapun? Ya, siapapun yang bisa menulis. Silakan baca tulisan saya di blog Tempo soal ini.

buku
Some of my books … and counting …