Dapat Apa Bali dari APEC?


oleh Nyoman Sukma Arida*

http://asiasociety.org/

Pelaksanaan KTT APEC di Bali jelas menjadi pertaruhan Bangsa Indonesia di mata dunia. Khususnya pertaruhan wajah pemerintahan SBY baik internal maupun eksternal. Inilah KTT yang konon mengusung dua agenda besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik. Inilah konferensi dengan tema “Resilient Asia Pacific, Engine of Global Growth” yang akan dihadiri para pemimpin negara anggota termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, 6.000 delegasi pemimpin ekonomi, 1.200 pemimpin bisnis dunia, 3.000 wartawan dari dalam maupun luar negeri serta ribuan tamu dari organisasi internasional, perwakilan asing dan akademisi (Kompas, 16/09/2013). Obama sendiri batal hadir karena persoalan besar yang menghantam APBN-nya.

Kita sebagai rakyat Indonesia layak bangga dengan diselenggarakannya KTT APEC di Bali. Bisa jadi kita pun sepakat dengan pernyataan Staf khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah, yang menilai bahwa Indonesia harus memanfaatkan sebaik-baiknya penyelenggaraan KTT APEC di Bali. Kita mafhum betul bahwa KTT APEC demikian penting artinya bagi perekonomian Indonesia.
Tulisan ini mengajak kita semua mengajukan sebuah pertanyaan sederhana; apakah yang diperoleh Bali dari KTT APEC dan kegiatan-kegiatan sejenis? Bali, sebuah pulau kecil di antara ribuan pulau lainnya di Nusantara, yang karena daya pesonanya sebagai destinasi pariwisata, akhirnya terpilih menjadi tumpuan nama bangsa. Setelah sebelumnya juga menjadi ajang pelaksanaan kompetisi ratu sejagat Miss World, kini –dan mungkin di masa-masa selanjutnya—Bali kembali dipercaya mengemban tugas maha berat; sebagai tempat konferensi penting berskala global.

Berbagai kalangan mengklaim bahwa Bali tentu memeroleh banyak manfaat dengan digelarnya berbagai forum internasional, salah-satunya ialah kesempatan mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia. Pariwisata Bali dan Indonesia akan meningkat berkat berbagai kegiatan tersebut. Klaim ini tentu saja muncul sesuai dengan logika dan paradigma pertumbuhan ekonomi kapitalistik yang dikembangkan melalui industri pariwisata. Dalam dunia pariwisata, ideologi tersebut sering dilekatkan dengan istilah mass tourism. Pariwisata Bali selama ini, sadar atau tidak sadar, memang didesain untuk mendatangkan jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya. Pada tahun 2012, misalnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (direct arrivals) mencapai 2.888.864 orang (Dinas Pariwisata Propinsi Bali, 2013). Padahal tahun 2003 angka ini baru mencapai 993.023 orang. Angka ini akan semakin fantastik bila diakumulasi dengan jumlah kunjungan wisatawan domestik yang mencapai 6 juta lebih pada tahun 2012. Sementara bila dikaitkan dengan daya dukung alam Bali, tekanan jumlah penduduk dan wisatawan ini telah menimbulkan dampak yang sangat serius. Laju alih fungsi lahan pertanian setiap tahun mencapai angka 1000 hektar (Atmadja, 2001). Demikian pula telah terjadi krisis ketersediaan air tanah di kawasan-kawasan pariwisata seperti Sanur dan Kuta.

Artinya, bentangan fakta di atas menunjukkan bahwa mempromosikan Bali besar-besaran untuk menarik lebih banyak kunjungan wisatawan ke Bali bukanlah langkah dan strategi yang bijak. Bali sudah demikian ‘penat’ dengan perkembangan mass tourism. Terus-menerus menggenjot investasi pariwisata di Bali melalui pembangunan berbagai fasilitas wisata kelas dunia, terutama di Bali Selatan, terbukti telah menimbulkan kesemrawutan tata-ruang, kemacetan, dan berbagai efek sosial budaya yang sebelumnya tak pernah dibayangkan oleh masyarakat Bali sendiri. Hingga tahun 2012 Bali telah memiliki 218 buah hotel bintang dengan jumlah kamar 24.215, dan 1.696 buah hotel non bintang dengan jumlah kamar sebanyak 24.322 buah (BPS Bali, 2013). Rata-rata lama menginap wisatawan di hotel berbintang hanya 3,36 hari, dengan persentase tingkat hunian mencapai 63%. Sedangkan pada hotel non bintang dan jenis akomodasi lainnya rata-rata lama menginap tercatat hanya 2,85 hari, dengan tingkat hunian mencapai 38 % (BPS Bali, 2013).

Rendahnya lama tinggal (length of stay) menunjukkan daya tarik atraksi di Bali kian merosot dibandingkan dengan satu dekade lalu, saat lama tinggal masih berada pada kisaran 4-5 hari. Tingkat hunian hotel juga masih sangat lapang, dengan akumulasi menginap yang lebih banyak pada sektor hotel berbintang (63%), yang notabene dimiliki oleh para kapitalis pemilik chain perusahaan hotel dunia.

Dengan membaca fakta-fakta di atas layak diajukan sebuah pertanyaan; untuk siapakah kemajuan pariwisata Bali selama ini? Ke manakah mengalirnya keuntungan sektor pariwisata? Apakah ke masyarakat Bali, pemerintah pusat, ataukah para kapitalis global? Sudah menjadi rahasia umum bahwa 75 % dari keuntungan pundi-pundi pariwisata Bali mengalir kembali ke luar negeri dan ke Jakarta. Keuntungan pengelolaan BTDC dan Bandara Ngurah Rai misalnya, mayoritas diambil oleh Pemerintah Pusat. Bali hanya mendapat remah-remah kue pariwisata!

Niat membantu Bali melalui penyelenggaraan kegaitan sekelas KTT APEC, sepertinya layak diperiksa kembali. Bali tidak lagi memerlukan jumlah wisatawan yang berlebihan. Bali membutuhkan desain ulang kepariwisataan yang lebih berkualitas dengan karakter skala kecil, dekat dengan masyarakat, dan dikelola oleh masyarakat Bali sendiri. Forum-forum global yang berlangsung di Bali hendaknya mampu menangkap ‘kebutuhan’ Bali tersebut bila tidak ingin menjadikan Bali sebagai the lost paradise.

*Penulis, dosen pada Fak. Pariwisata Unud, Bali, Mahasiswa S3 Kajian Pariwisata UGM, sedang mengikuti Sandwich-LIKE Dikti di Univ. Murdoch,
Perth, Werstern Australia. Kontak @beningsukma atau sukma.arida@gmail.com.

Catatan: Tulisan ini dimuat di blog saya karena gagasannya yang menarik dan penting tidak saja bagi pariwisata Bali tetapi bagi Indonesia. Tanggapan bisa dituliskan di komentar di bawah dan Bli Sukma, penulisnya, akan menjawab langsung. Tanggapan bisa juga dialamatkan langsung kepada penulis melalui twitter atau email.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Dapat Apa Bali dari APEC?”

  1. Halo Mas Made Andi! Salam kenal ya.
    Menarik sekali tulisannya. Topik ini sudah saya duga akan diangkat sebagian kalangan terkait pelaksanaan KTT APEC dan berbagai pertemuan terkait lainnya di Bali.

    Ada dua hal utama dalam tulisan ini, yaitu: 1) pelaksanaan KTT APEC di Bali; dan 2) promosi untuk memperkenalkan Bali secara lebih luas (dan dampaknya bagi kawasan setempat).

    Terkait poin pertama, pelaksanaan APEC di Bali sebenarnya bukan semata-mata ingin mengenalkan Bali secara lebih luas saja. Rasanya tokoh bisnis dan pemerintahan hampir bisa dipastikan pernah ke Bali baik untuk berlibur maupun pertemuan formal. Dalam rangkaian pertemuan APEC sepanjang tahun ini (baik working group meetings, ministerial meetings, dll), pemerintah menetapkan lokasi yang berbeda-beda, misalnya di Jakarta, Surabaya, Manado, Lombok, dan Batam. Bisa jadi tujuan di poin dua relevan untuk hal ini. Namun pelaksanaan puncak pertemuan di Bali juga banyak dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur dan sarana akomodasi dan gedung pertemuan (convention center) yang memadai secara kualitas dan kuantitas dibandingkan lokasi-lokasi lainnya di Indonesia. Dalam hal ini, mungkin yang dapat dilakukan pemerintah (bekerja sama dengan swasta) adalah meningkatkan fasilitas meeting, incentive, conference and exhibition (MICE) di kawasan lainnya di Indonesia, supaya tidak semua terkonsentrasi di Bali.

    Untuk poin dua, saya setuju sekali bahwa selayaknya kita semakin bijak dalam menyeimbangkan wisata dengan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi setempat. Sudah banyak yang mengeluhkan hal-hal yang disebutkan penulis di atas.

    Terima kasih sudah berbagi tulisan ini. 🙂

    Salam,
    Icha

  2. Beruntung jadi bagian APEC SOM II, di Surabaya. Ya, kenapa harus di Bali puncaknya? Cuma di tanah dewata yang siap dgn infrastruktur – paling bagus. Dan tak ada FPI yg gentatangan.

    Wisata di Bali sesak bgt dan harganya tak ramah buat pelancong domestik – kaum backpacker. Angkutan umum susah dan banyak penipu yg mencari turis sbg mangsa. Temen-teman asingku selalu bilang ‘ini pertama dan terakhir kali ku ke bali’. Kapok…..

    Ayo berbenah wisata bali dan tulari di 17000 pulau lainya *junjung nilai budaya

  3. maaf,,, saya mau sidikit bertanya,,,
    wisatawan backpacker semakin banyak datang Ke Bali, apakah mereka bisa disebut dengan wisatawan berkuliatas?
    saya sedikit bingung,,, akhir-akhir ini sering mendengar penurunan kualitas wisatawan.

    tolong bantuannya

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s