Mengistimewakan para pembenci


baik
diambil dari twitternya @TrinityTraveler

Saya kadang mengamati perilaku teman-teman di Facebook. Mereka yang mendapat banyak respon sering kali tidak bisa menjawab semua komentar. Menariknya, hampir selalu ada respon jika ada yang berkomentar buruk. Tidak jarang, seorang pemilik akun Facebook khusus membalas komentar negatif tentang foto yang dipajangnya padahal tidak pernah membalas komentar positif yang diberikan teman-temannya. Saya pun pernah begitu. Foto yang saya pasang di dinding Facebook bisa disukai oleh lebih dari 100 orang dalam dua atau tiga hari. Rasanya hampir tidak pernah saya membalas mereka yang menyukai (like) foto saya.

Komentar terhadap gambar atau status juga kadang tidak sempat dibalas jika terlalu banyak. Komentar singkat yang positif seperti “bagus banget” atau “keren” bisa terlewatkan tanpa balasan, terutama jika jumlahnya puluhan. Akan tetapi, begitu ada komentar negatif, rasanya tidak rela kalau tidak membalas dan ‘membela diri’. Saya kira banyak yang mengalami hal ini. Akibatnya, seringkali mereka yang berperilaku negatif itu mendapat perlakuan dan perhatian istimewa. Sebaliknya mereka yang positif dan penuh dukungan malah tidak mendapat perhatian. Teman baik yang memencet tombol “like” dan membubuhkan komentar “keren” bahkan seringkali tenggelam dan terlupakan.

Entah mengapa, teriakan para pembenci memang terasa lebih ‘nyaring’ padahal mungkin sebenarnya minoritas. Akibatnya, tidak tersedia cukup waktu untuk mengapresiasi mereka yang dengan tulus mencintai dan memberikan dukungan karena waktu dan energi tersita untuk mereka yang menebar kebencian. Dalam konteks yang lebih luas, jangan-jangan ini berarti bahwa kita memang lebih mudah memperhatikan keburukan daripada kebaikan. Lihatlah seorang guru yang lebih sering tersita energinya oleh satu anak nakal di kelas sehingga seluruh kelas dirugikan. Dosen juga kadang lupa mengatakan “presentasi kamu bagus” pada mereka yang tampil baik karena fokus membahas kelemahan mahasiswa lainnya yang tampil kurang maksimal. Kita mudah mengatakan sebuah tembok tidak rapi hanya gara-gara ada satu batu bata terpasang miring padahal ada ribuan lain yang tepasang sempurna. Adakah saya sudah terjebak untuk mengistimewakan keburukan dan cenderung abai pada kebaikan?

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

18 thoughts on “Mengistimewakan para pembenci”

  1. wah bagus mas artikelnya, saya sampe tidak sadar selama ini sangat mengistimewakan haters di kampus
    padahal banyak yg menyukai dengan tulus tapi mereka sering terabaikan.
    terima kasih pencerahannya sekarang mulai sadar

  2. Sebuah teori ilmiah mengatakan bahwa efek dari hal negatif berjumlah 2x lipat dari hal positif bagi manusia, maka dari itu manusia lebih bereaksi pada hal negatif di sekitarnya daripada hal positif (Sebagai contoh, berita televisi berisi lebih banyak hal negatif karena orang cenderung lebih bereaksi pada berita2 tersebut daripada pada berita positif). Maka dari itu ada pematah yang mengatakan satu kata negatif hanya bisa di hapus dengan 2 kata positif/pujian. Just some information 🙂

  3. Saya pendatang baru di web ini dan sangat senang dengan refleksi2nya bpk… Terus menginspirasi ya pak.. Sy org Makassar.

  4. jadi inget film yang berjudul i’m not stupid, yang isinya semua orang itu butuh pujian, tetapi banyak yang tidak mengerti akan hal tersebut. Mereka cenderung memikirkan kelemahan orang dan mengabaikan kekuatannya. mungkin itu juga yang menyebabkan banyaknya anak-anak yang suka memberontak.

    Pak Andi terimakasih atas tulisan-tulisannya 🙂

  5. Mungkin maksudnya bukan mengistimewakan pembenci, hanya ingin ‘pembenci’ itu dapat melihatnya dari segi manfaat. Apa yang dibagikan (share) tentunya bertujuan untuk menjadi manfaat bagi orang lain. Pengistimewaan itu dilakukan karena apabila yang pembenci lakukan atau katakan kemudian dapat mempengaruhi pandangan dari para kebaikan, menyirnakan manfaat terbaik dari apa yang dibagikan.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s