Menerbitkan buku itu [ternyata] mudah

Banyak yang akan penasaran atau bahkan mencibir membaca judul tulisan ini. Masa’ sih menerbitkan buku itu mudah? Saya tidak berbohong. Menerbitkan buku di era teknologi informasi dan komunikasi ini memang mudah. Setidaknya, tidak sesulit melakukan hal yang sama sepuluh atau 20 tahun lalu. Dulu, penulis buku seperti bangsawan golongan khusus karena menjadi dominasi sekelompok orang saja. Dia ekslusif dan istimewa. Kini tidak lagi. Siapapun bisa menerbitkan buku. Siapapun? Ya, siapapun yang bisa menulis. Silakan baca tulisan saya di blog Tempo soal ini.

buku
Some of my books … and counting …

National.is.me

Merah Putih

Di sebuah milis yang saya ikuti, sempat terjadi diskusi menarik soal nasionalisme. Beberapa ilmuwan Indonesia memilih untuk tidak pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikannya. Tentu banyak yang prihatin akan hal ini. Saya memiliki satu pandangan.

Dimensi geografis di masa lalu tentu sangat berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Teknologi saat ini membuat dunia jadi ‘lebih kecil’ secara signifikan. Dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kita bisa tahu apa yg dilakukan seorang kawan di Finlandia dan dua detik kemudian bertegur sapa dengan kolega di Afrika Selatan. Ini tidak bisa dilakukan di tahun 80an. Saat ini ‘negara’ dengan jumlah pendudukan terbesar ketiga bernama Facebook, taman bermain paling besar bernama Google Earth dan tempat ngerumpi paling asyik mungkin saja Twitter.

Continue reading “National.is.me”

Ide Juara yang Sederhana, Sebuah Ide untuk Jakarta

Saya mengikuti sebuah lomba penulisan esai bertema “Solusi untuk Jakarta” yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Indonesia (KMI) Belanda. Yang menarik tentu saja hasilnya. Saya menjadi juara dari 54 peserta di Asia, Australia, Amerika dan Eropa. Hasilnya sudah jelas, saya ingin mengungkap cerita di baliknya.

Continue reading “Ide Juara yang Sederhana, Sebuah Ide untuk Jakarta”