Tujuh Rahasia Presentasi yang Lebih dari Sekedar Power Point dan Animasi

Setelah menyelesaiakan presentasi, cukup sering ada pertanyaan tentang tips presentasi dari audiens. Ketika bertanya hal ini, umumnya penanya itu fokus pada tayangan presentasi yang baik, warna-warni dan animatif. Presentasi saya memang menggunakan banyak grafik, gambar dan animasi yang mungkin menjadi daya tarik bagi sebagian audiens.

Pertanyaan ini sederhana tapi jawabannya tidak. Presentasi yang baik sebenarnya adalah akumulasi dari kerja keras dan persiapan yang baik dan mungkin panjang. Satu menit presentasi yang baik adalah akumulasi dari kerja yang bisa berjam-jam lamanya. Presentasi, menurut saya, lebih dari sekedar slide yang berkilauan dan animasi yang energik. Presentasi yang baik dalam waktu semenit bisa jadi layaknya bagian dari gunung es yang muncul tapi yang tidak kelihatan sebenarnya jauh lebih besar. Semenit itu adalah puncak dari kerja keras yang sangat lama sebelumnya. Coba perhatikan video satu menit ini. Ini adalah hasil kerja keras berjam-jam. Semua yang terjadi di video ini direncanakan dengan baik. Yang terlihat seperti kecelakaan atau kebetulan tentu dipikirkan dan direncanakan dengan serius.

Berikut ini tujuh hal penting bagi presentasi yang baik:

  1. Membayangkan Presentasi. Sebelum membuat presentasi, saya selalu membayangkan proses presentasinya. Dari mana saya masuk ruangan presentasi, bentuk panggungnya, jumlah dan kondisi (pendidikan, latar belakang pengetahuan, dll) audiensnya. Semakin lengkap informasi yang saya miliki, semakin banyak dukungan yang saya punya ketika menyiapkan presentasi.
  2. Mengutamakan Visualisasi. Menyiapkan tayangan presentasi yang mengutamakan visualisasi, bukan kumpulan teks. Ini terkait dengan kebiasaan saya sendiri yang lebih mudah memahami gambar dibandingkan teks. Masalahnya, seorang presenter memang harus sangat amat paham bahan presentasinya sehingga penayangan gambar saja cukup untuk membuat dia bisa berbicara panjang lebar.
  3. Menyampaikan cerita utuh. Inti dari presentasi adalah cerita yang utuh. Slide atau tayangan adalah alat bantu untuk membuat cerita itu lebih mudah dipahami, lebih dramatis atau menjadi lebih tegas. Tayangan juga bisa menjadi alat untuk membuat bagian-bagian tertentu dari cerita kita menjadi lebih jelas/tajam. Sebagai contoh, isi slide bisa saja berupa satu kalimat kutipan dari seorang tokoh yang sedang kita ceritakan, bisa juga ‘punch line’ yang akan membuat presentasi kita menyentak atau lucu. Presentasi harus tetap bisa dibawakan tanpa slide. Ini menunjukkan bahwa presentasi sudah berbentuk cerita utuh. Jika kamu batal presentasi atau memberi kuliah hanya gara-gara listrik mati dan tidak bisa menayangkan power point, artinya kamu belum menguasai cerita utuh dari presentasi itu.
  4. Dimulai dengan cerita diikuti tayangan. Presentasi yang baik dimulai dengan merancang cerita lalu dilanjutkan dengan membuat tayangan/ visualisasinya, bukan sebaliknya. Sering sekali kita membuka power point dan menghadapi slide kosong lalu berpikir mau membuat apa. Menurut saya ini langkah yang kurang tepat. Kita harus merancang ceritanya dulu baru membuka power point untuk membuat tayangan yang mendukung cerita yang sudah kita buat sebelumnya. Lebih baik lagi jika rancangan cerita itu sudah berupa naskah yang lengkap dari awal sampai akhir. Berdasarkan cerita utuh itu kita bisa membaginya menjadi beberapa slides dan mengisi slide tersebut dengan visualisasi yang tepat.
  5. Menjadi orang awam. Mencoba menjadi orang awam adalah langkah penting dalam merancang dan membawakan presentasi. Jika kita berhasil menjadi orang awam maka kita bisa menyampaikan perkara dengan sistematika yang sederhana dan mudah dipahami. Hal ini terkait dengan urutan penyampaian informasi, penekanan pada poin tertentu, pemilihan kosakata, dan sebagainya.
  6. Berlatih. Kita perlu berlatih untuk menyingkronkan antara cerita verbal dengan visualisasi. Idealnya, presentasinya muncul dalam bentuk cerita yang mengalir dan tayangan slide berjalan dinamis mengikuti alur cerita. Oleh karena itu seorang presenter sebaiknya tahu betul apa yang mau dikatakannya lalu tahu betul kapan saatnya memindahkan slide atau memunculkan suatu obyek tertentu dalam bentuk animasi atau sekedar kemunculan sebuah penjelasan. Sering kali kita melihat presenter memindahkan slide-nya dulu lalu diam beberapa saat sambil melihat slide itu, bahkan ada yang seperti terkejut seakan-anak slide itu sesuatu yang asing. Jika itu terjadi, artinya dia belum menguasai presentasinya. Jika saya belum sempat memahami presentasi saya atau membawakan presentasi yang dibuatkan oleh orang lain, kadang ini juga saya alami. Oleh kerena itu, berlatih itu penting sekali.
  7. Presentasi adalah acting. Seperti acting, yang bagus adalah yang alami. Meskipun kita telah menghafalkan dan berlatih sekuat tenaga, pada akhirnya kita harus tampil alami. Maka dari itu, salah satu tujuan dari latihan yang keras dan sering adalah agar kita bisa tampil alami. Sangat tidak elok kalau kita terlihat menghafalkan kalimat tertentu, apalagi mengucapkanya seperti membaca. Jika demikian, kamu akan terdengar seperti melakukan dialog Sinetron India yang di-dubbing orang Indonesia.

Saya selalu menganggap presentasi itu penting. Sangat penting. Presentasi yang berdurasi lima menit, jika dipersiapkan dan dibawakan dengan baik, akan menghadirkan kesempatan lain yang lebih besar. Rejeki, kesempatan dan bahkan jodoh, bisa jadi hadir karena sebuah presentasi. Jangan abaikan!

Tips Presentasi: Sepuluh Intermezzo

Intermezzo atau icebreaker sangat penting dalam persentasi. Fungsinya untuk mecairkan suasana yang tegang, terutama di awal presentasi atau mengajak kembali pemirsa untuk berkonsentrasi pada presentasi kita. Ada sepuluh tips intermezzo yang biasa saya pakai.

andisenpi

  1. Soal nama
    Intermezzo ini paling sering saya gunakan. Pelafalan nama saya dalam Bahasa Inggris yang bisa berarti “Saya membuat Andi Arsana [I Made Andi Arsana]” sangat sering saya jadikan bahan kelakar. Hingga hari ini, belum pernah gagal. Selalu ada sebagian besar, jika tidak semua, pendengar yang tertawa dan akhirnya terbawa.

    Cara saya menyampaikan kelakar tentang nama ini bermacam-macam. Kadang saya mulai dengan mengutip kejadian kecil saat ada peserta yang bertanya soal nama saya lalu saya ceritakan bagaimana saya menjelaskan pada peserta itu. Kadang saya memulai presentasi dengan mengatakan “I want to make a clarification regarding lingering question about my name”, seakan-akan itu masalah serius. Cara kedua biasanya saya sampaikan saat menjadi pembicara kunci dan dengan asumsi bahwa ada cukup banyak orang yang sudah pernah melihat/mendengar nama saya.

    Mereka yang namanya hanya satu kata, misalnya “Suprapto” atau “Parjono” atau yang lain, bisa berkelakar dengan mengatakan “I am someone without last name” atau “with my one-word name, I cannot even have an email” atau “I need to repeat my one-word name so I can have a surname”. Bagi yang namanya berarti hal lain dalam bahasa Inggris seperti “Yuni” (kata yang sama dalam bahasa Inggris berarti university) “Dedi” (daddy = ayah), “Yugo” (you go, I go), “lukman” (look, Man!) dan lain-lain bisa menjadikan namanya sebagai bahan kelakar.

  2. Pepatah/ungkapan/nasihat
    Dalam kuliah tamu yang saya berikan di Kamboja beberapa waktu lalu, saya menghadapi para petinggi dari Asia-Pasific yang ahli di bidangnya ada praktisi kawakan. Saya merasa perlu untuk menegaskan bahwa saya tidak ingin menggurui mereka. Untuk itu saya mengutip pepatah “menggarami lautan”. Saya mulai dengan menampilkan sebuah slide bergambar laut dan garam lalu berkata “In Indonesia, we know a saying ‘salting the ocean’, which means blah blah. I am not salting the ocean today and I hope I won’t sound like preaching”. Kutipan itu sanggup membuat peserta yang sebagian besar dari Asia tersenyum positif dan merasa nyaman.
  3. Apresiasi pada panitia
    Betapapun sederhananya, selalu penting untuk mengapresiasi panitia yang telah mengundang kita. Saat berbicara di Kamboja, saya bilang “I have to thank ReCAAP and especially Executive Director Kuroki for this invitation. Because of you, Sir, I am stepping my feet for the first time on the land of Cambodia.” Dalam acara yang beda lingkupnya, pujian kepada panitia atas kerja keras mereka sangat perlu disampaikan. Misalnya, “panitianya gigih sekali dan sangat bijaksana saat memenuhi permintaan saya yang kadang menyulitkan”. Saat diundang di UAD Jogja, saya sengaja memotret sebuah tanda bertuliskan nama saya di tempat parkir yang disediakan khusus untuk mobil saya. Foto itu saya masukkan menjadi slide pertama saat presentasi sambil memberikan pujian akan keseriusan panitia. Tentu saja panitia senang mendapat apresiasi seperti itu. Ada banyak cara memberikan apresiasi kepada panitia.
  4. Apresiasi pada hadirin
    Presentasi adalah tentang presenter dan pendengar/hadirin. Sebagus-bagusnya komunikasi serta persiapan pembicara dengan panitia, kesuksesan sebuah presentasi tetap akan dinilai oleh hadirin. Maka dari itu, membuat hadiri tertarik, merasa nyaman, dan terutama merasa penting/dihargai sangatlah penting.

    Jika presentasi di hari libur (Sabtu atau Minggu), saya biasanya mulai dengan kalimat “jika di hari Minggu, biasanya anak-anak muda memilih untuk tidur lebih lama dan bangun lebih siang, para pemenang seperti kalian ini memilih untuk ada di sini” sambil menunjuk mereka dan selalu disambut dengan tepuk tangan. Jika sudah dimulai dengan pujian yang membuat hadirin nyaman dan merasa dihargai maka berikutnya pembicara seakan punya ‘hak’ untuk meledek dan megolok-olok mereka dalam batas wajar. Ledekan itupun akan disambut tawa dan nuansa yang positif.

    Apresiasi kepada hadirin juga bisa berupa pujian pada mereka yang datang dari jauh atau menempuh perjalanan sulit. Jika pesertanya senior, bisa sampaikan apresiasi atas kebijaksanaan mereka untuk rela mendengar pembicara yang lebih junior. Jika yang hadir rekan-rekan sejawat atau orang dengan profesi dan keahlian yang mirip, bisa mengatakan bahwa “saya ada di sini karena kebaikan hati Bapak Ibu untuk memberi saya kesempatan berbagi, meskipun belum tentu lebih ahli.”

  5. Kejadian lucu/menarik
    Saat datang ke tempat presentasi, kemungkinan akan ada kejadian lucu atau menarik yang kita alami. Hal ini bisa kita ceritakan di awal presentasi untuk mencairkan suasana. Saat presentasi di Siem Reap beberapa waktu lalu, saya dikira orang Kamboja oleh resepsionis hotel. Saya sudah memberinya paspor tetapi dia tidak memperhatikan dan langsung nyerocos pada saya dalam Bahasa Khmer. Saya tertegun dan pasang wajah ‘bloon’ sambil menyampaikan bahwa saya orang Indonesia dan tidak bisa Bahasa Khmer. Spontan mbak resepsionis itu minta maaf dan mengatakan saya mirip orang Kamboja. Saya menjawab sopan dan berkata “well, you look like Indonesian” yang membuatnya tersipu malu.

    Kejadian yang menimpa saya di meja resepsi itu saya ceritakan saat presentasi. Hadirin tentu saja tertawa karena rupanya mereka bisa melihat, saya memang nampak seperti orang Kamboja. “I might look like a Cambodian but I am not. Believe me!” kata saya menegaskan sok serius dan disambut tawa hadirin. Kejadian menarik lainnya tentu banyak, seperti tentang salah paham bahasa, tentang tanda di toilet yang tidak biasa, tentang alat transportasi yang tidak lazim atau bahkan ekstrim, tentang toilet Jepang yang hangat, dal lain-lain.

  6. Mengolok-olok diri sendiri
    Lelucon yang paling aman dan hampir selalu efektif adalah mengolok-olok diri sendiri. Saat presentasi di Jakarta sepuluh tahun silam, panitia mengira saya asisten pembicara. Mereka tidak menanggapi saya semestinya ketika saya hendak menyerahkan file presentasi. Kejadian itu saya ungkap saat presentasi dengan mengatakan “saya sadar, tampang saya memang kurang meyakinkan”. Pak Jokowi juga sering berkelakar yang mengolok-olok dirinya sendiri dengan menceritakan kejadian ‘memalukan’ ketika menjadi pembina upacara di awal-awal masa jabatannya sebagai Walikota Solo. Hal yang sama dilakukan Pak Dino Patti Djalal terkait cerita sopirnya yang lebih gagah darinya saat menjadi Duta Besar RI di Washington. Mengolok-olok diri sendiri itu aman, namun hanya bisa dilakukan oleh orang yang percaya diri.
  7. Interaksi dengan peserta atau panitia
    Inti dari sebuah presentasi yang baik adalah setiap orang merasa terlibat dan penting perannya. Hal ini bisa diwujudkan melalui interaksi dengan pendengar atau panitia. Di sebuah acara seminar beasiswa, panitianya pernah mengalami kepanikan karena LCD tidak bekerja dengan baik. Pembicaraan saya jadi tersendat. Saya pun seseungguhnya kecewa dan ada rasa tidak nyaman, menyesalkan mengapa panitia tidak melakukan persiapan dengan baik. Pilihannya ada dua, saya jadikan itu momen untuk menunjukkan kekesalan atau harus menyelamatkan situasi. Saya sampaikan “saya paham, tadi panitia pasti sangat panik ketika LCD tidak berfungsi. Saya kagum pada kesabaran mereka untuk tetap bekerja memperbaiki sampai akhirnya bisa berjalan lancar. Kita beri tepuk tangan yang meriah pada panitia kita yang keren hari ini.”

    Akan lebih mudah jika ada peserta yang kita kenal dan pernah mengalami interaksi personal sebelumnya. Misalnya, kita bisa mmengatakan “saya sudah mengenal Pak Budi, yang duduk di depan ini sejak 20 tahun lalu. Terus terang rasanya agak aneh karena saya harus ada di depan Bapak sekarang ini. Matur nuwun sudah datang ya Pak.”

    Kadang kita juga berbicara di depan orang-orang yang kita kenal sejak lama. Ini bisa jadi bahan intermezzo yang baik, misalnya dengan mengatakan “di sini juga ada Mas Indro, kawan baik saya sejak belasan tahun. Beliau pasti merasa aneh karena harus mendengarkan saya, padahal zaman dulu saya terus yang harus mendengarkan dia.” Dalam sebuah acara di Jakarta, saya juga pernah tampil di depan sahabat-sahabat saya ketika kuliah. Saya meyapa mereka dengan nada agak nakal “Mas Nashihun ini sahabat saya sejak lama, sekarang sudah jadi pengusaha sukses padahal saya tahu beliau nggak pinter-piter amat” dan disambut gelak tawa hadirin. Candaan yang demikian hanya bisa disampaikan jika sangat akrab dan sebaiknya ditutup dengan pernyataan positif. Saat itu saya bilang “meskipun saya tadi membully beliau, kenyataannya, beliaulah yang paling sering membantu saya saat ini jika perlu dana untuk penelitian.”

  8. Kejadian atau fenomena umum yang diketahui hadirin
    Intermezzo yang aman dan efektif adalah tentang topik yang diketahui semua orang. Makanya, kejadian atau topik umum menjadi pilihan yang baik untuk dijadikan intermezzo. Topik-topik yang bisa dipilih misalnya pilkada, kasus kejahatan yang sedang menjadi topik nasional, kejadian yang menyangkut selebriti, kejadian lucu yang sedang viral di media sosial, atau kebijakan nasional yang sedang menjadi buah bibir. Hal ini bisa diungkapkan dengan cara jenaka sehingga mengurangi sensitivitas yang ditimbulkan.

    Jika presentasi di suatu daerah di Indonesia, hal-hal yang menjadi pembicaraan di daerah itu bisa dijadikan intermezzo. Jika merasa nyaman, isu politik atau keresahan sosial juga bisa dikemukakan. Misalnya “orang Tabanan memang seniman semua ya, bukan cuma pagar tembok dan Pura, jalan juga diukir” untuk mengkritik jalan yang rusak. Bisa juga berkelakar tentang makanan khas daerah tersebut, misalnya mengatakan “I wake up a little bit late, I got drunk by kimchi, last night” jika presentasi di Korea.

  9. Keterkaitan dengan pembicara lainnya
    Memuji pembicara lain adalah intermezzo yang aman dan positif. Tidak pernah salah. Akan lebih baik lagi jika bisa mengaitkan topik yang kita bicarakan dengan topik yang dibicarakan pembicara lain. Jika belum kenal baik, sebaiknya selalu menyampaikan hal positif, bukan hal negatif. Kadang ada pembicara yang menunjukkan kesan rivalitas atau persaingan dengan pembicara lainnya.

    Naluri persaingan bisa muncul dalam bentuk pembelaan atau menjelek-jelekkan pembicara lainnya, atau sekedar untuk menunjukkan dia lebih baik dari pembicara sebelumnya. Misalnya, kalimat yang sebaiknya dihindari adalah “apa yang disampaikan Bapak X yang berbicara sebelumnya itu keliru dan saya harus koreksi.” Cara yang baik mengungkapkan koreksi misalnya, “apa yang disampaikan Bapak X sangat menarik dan memberi wawasan baru bagi kita semua. Saya tertarik, terutama tentang poin A karena kebetulan saya juga mendalami hal itu. Saya tertarik mendiskusikan ini nanti karena ada perspektif lain yang saya dapatkan dibandingkan yang saya ketahui selama ini.” Intinya, tidak ada yang lebih aman dari pujian. Setidaknya di kesempatan pertama.

  10. Soal honor
    Soal honor tentu sensitif tetapi bisa jadi bahan intermezzo yang baik jika dikemas dengan cantik. Misalnya dengan mengatakan “saya harus pastikan materinya tepat 15 menit karena kalau tidak honor saya akan dipotong.” Jika Anda menjadi moderator, soal honor juga bisa menjadi bahan kelakar yang baik. Misalnya dengan mengatakan “saya tetap harus mengenalkan Pak Joko sebagai pembicara meskipun beliau sudah terkenal. Jika tidak, honor saya tidak akan cair.” Jika Anda dibantu operator saat presentasi, kadang operatornya terlalu cepat menganti slide atau menjalankan animasi. Bagi saya yang sangat mengandalkan animasi yang tepat, hal ini bisa berdampak serius. Biasanya saya menggoda mereka dengan mengatakan “mencet yang bener, nanti honornya saya potong lho” atau “jangan cepat-cepat Mas, mau cari sampingan di tempat lain ya? Honornya kurang pasti nih”. Biasanya hadirin merespon dengan tawa.

Itulah sepuluh contoh intermezzo. Punya idea lain? Silakan komentar di bawah.

Tips Komunikasi Internasional untuk Pejabat

Belakangan ini saya mengamati orang-orang penting di sekitar saya dalam tugasnya untuk menyampaikan pesan secara oral. Pesan itu bisa berupa pidato resmi di forum-forum besar, bisa berupa sambutan singkat dalam acara yang bersifat terbatas, bisa juga berupa pesan singkat dalam rapat kecil, atau sekedar kelakar dari seorang atasan kepada stafnya. Kesimpulan saya masih sama: kemampuan berbicara dengan baik selalu positif dampaknya dan kemampuan berbicara yang buruk dengan efektif dapat menyembunyikan kualitas baik seseorang.

Continue reading “Tips Komunikasi Internasional untuk Pejabat”

Ketika Dosen Stand Up Comedy

Saat reuni dan Syawalan alumni Teknik Geodesi dan Geomatika Universitas Gadjah Mada tanggal 8 Agustus lalu, saya melakukan Stand Up Comedy pertama kali. Bagi saya, ini pengalaman penting dan saya ingin berbagi.

  1. Berawal dari telepon dari seorang alumni, ketua panitia reuni/syawalan. Saya diminta standup atau cari orang yang bisa stand up comedy.
  2. Permintaan ini seperti membangkitkan impian lama. Sudah lama saya ingin melakukan hal-hal mengejutukan untuk alumni!
  3. Saya pernah cerita kepada teman soal impian ini. Waktu itu sih tidak mendapat sambutan seperti yang saya harapkan. Ide hebat memang kadang disepelekan 🙂
  4. Waktu ditelpon, saya ada di Singapura. Tanpa pikir panjang, saya mantapkan hati. Saya harus terima tantangan ini!
  5. Saya punya waktu sekitar 10 hari sejak ditelpon. Saya harus cari bahan, siapkan skrip, latih delivery. Semoga cukup!
  6. Mengikuti nasihat @pandji dan @ernestprakasa, stand up katanya 90% skrip dan 10% improvisasi! Saya ikuti!
  7. Lima hari pertama kumpulkan bahan. Saya mencatat sebanyak mungkin hal terkait alumni @geodesiugm dan hal-hal umum yang mungkin lucu.
  8. Saya kumpulkan sebanyak mungkin kejadian atau cerita atau teori yang punya potensi kelucuan dan terkait alumni @geodesiugm
  9. Selain terkait @geodesiugm, saya juga kumpulkan bahan terkait profesi saya dan hobi. Sedikit-sedikit juga tentang politik 🙂
  10. Dirasa cukup, saya mulai membuat naskah. Cukup cepat, semalam jadi meski kasar. Akhirnya disempurnakan terus selama empat hari.
  11. Untuk penampilan 10-15 menit saya siapkan 3000 lebih kata, 6 halaman 🙂 Lumayan setara tugas kuliah membuat essay :))
  12. Karena kesibukan, saya harus bolak balik Singapura Jogja, Jogja Jakarta dan seterusnya. Saya belum sempat latih dengan baik hingga H-1 😦
  13. Akhirnya malam terakhir tanggal 7 saya memaksa diri. Asti, isteri saya, mendorong untuk latihan. Asti dan Lita yang mengevaluasi.
  14. Percayalah, tidak mudah latihan standup comedy dinilai isteri dan anak sendiri. Saya perlu energi besar. Perlu terobosan!
  15. Akhirnya saya harus mau. Saya punya prinsip: berlatihlah untuk mencapai kebaikan! Asti dan Lita mendukung penuh.
  16. Dari jam 10-12 malam latihan, banyak feedback dari Asti. Dia cukup kooperatif dan sangat supportif. Dia tahu, saya bukan seorang pro.
  17. Lita, terus terang, tidak terlalu supportif dan banyak komen “ga lucu Yah” atau “Lita ga ngerti”. Begitulah :))
  18. Apapun itu, the show must go on! Saya percaya pada Asti yang sudah memberi lampu hijau meski masih ragu 🙂
  19. Akhirnya Asti dan Lita tidur. Saya merenung sendiri. Mencoba lagi beberapa kali. Ada yang kurang rasanya. Saya punya ide, bahan diperkuat dengan slide show. Maklum dosen 😀
  20. Selama 1,5 jam saya bikin slide dan memilih bagian-bagian yang tepat masuk slide. Ada foto orang, ada jargon, ada punch line juga.
  21. Akhirnya selesai dengan keterbatasan waktu dan bahan. Setengah jam berikutnya saya latih lagi sampai jam dua pagi. Sayapun tidur dengan perasaan sedikit galau.
  22. Pesawat ke Jakarta Jam 6 pagi, tetap harus istirahat meski kurang dari 3 jam. Sejujurnya tidak nyenyak :)) Grogi. Gelisah. Tegang.
  23. Saya anggap persiapan cukup dengan segala keterbatasan. Berangkatlah saya ke Jakarta menuju tempat reuni di sekitar Halim.
  24. Di bandara dan pesawat saya berkomat kamit berlatih tiada henti. Teman-teman dosen mungkin tak paham 🙂 Menegangkan!
  25. Di Jakarta saya sempatkan sounding beberapa materi ke teman-teman dosen agar nanti tidak terlalu kaget. Sebelumnya tidak ada yang tahu saya akan stand up.
  26. Beberapa senior saya beritahu bahwa saya akan menjadikan nama mereka sebagai bahan dalam stand up nanti. So far so good, tidak ada yang keberatan.
  27. Beberapa alumni yang nantinya akan saya ‘hina’ saya kontak juga untuk permakluman 🙂 Tidak semua saya kontak. Yang khusus saja.
  28. Selama reuni berlangsung saya tegang melihat perkembangan. Situasi tidak kondusif karena seringkali alumni ngobrol sendiri-sendiri. Ini hal biasa dalam reuni.
  29. Tegang, bagaimana nanti saya harus merebut perhatian mereka. Padahal Standup perlu perhatian full dari penonton 😦
  30. Di puncak kekritisan, saya hampir membatalkan pada panitia. Tapi urung. Ingat, toh saya bukan comic. Nggak lucu ya wis!
  31. Tapi memang berisiko. Kalau garing dan nggak lucu, saya telah menggali kubur sendiri. Tapi kalau lucu, tentu jadi Sejarah!
  32. A Point of no return! Saya dengar nama disebut. Saya harus bergerak. Pantang mundur, tak bisa berpaling! Move on! Nekat!
  33. Saya lihat banyak dosen yang bahkan kaget. Sejak kapan Andi jadi komedian :(( Saya lihat banyak wajah ragu.
  34. Belakangan saya tahu. Panitia pun masih berdebat sampai tadi malam, belum yakin bahwa saya yang akan standup.
  35. Maka terjadilah sejarah itu. Entah dari mana datangnya energi. Saya bisa melakukan sesuai latihan. Setidaknya penonton konsentrasi menyimak!
  36. Dengan kombinasi dari kalimat, intonasi, gerakan tubuh, slide animasi, hadirlah suguhan itu. Baik atau buruk silakan mereka yang menilai.
  37. Situasi di reuni tidak 100% cocok dengan naskah yang saya siapkan. Misalnya orang yang saya akan libatkan/’hina’ tidak datang.
  38. Di sinilah perlu improvisasi. Ada pemotongan, penambahan, penggantian. Syaratnya: terlihat smooth dan natural 🙂
  39. Saat bit tertentu tidak lucu 😦 saya ingat nasihat @pandji, langsung pindah bit atau paksa mereka ketawa, misal dengan mengatakan “ga lucu ya?!”
  40. Ternyata interaksi dan pelibatan penonton begitu penting. Menyebut nama-nama orang menjadi kunci agar konsentrasi penonton terjaga.
  41. Yang istimewa, teman-teman dosen yang saya jadikan ‘sasaran’ memberi respon positif dan mau ‘terlibat’ ini kunci kelucuan yang alami.
  42. Yang saya ‘hina’ juga mau ‘pura-pura marah’ atau ‘tertawa lepas’. Sebagian malah acungkan jempol. Sungguh membantu 🙂
  43. Sebagian lain mau keluarkan celetukan sebagai respon atas bit saya. Ini membuat suasana hidup. Kuncinya adalah bantuan penonton.
  44. Sampai kemudian waktunya harus berakhir. Prinsip saya, boleh mulai agak gamang tapi akhirnya harus sharp, tegas, jelas. Maka saya siapkan dengan baik.
  45. Saya akhiri dengan sebuah punch line yang disiapkan matang. Kalimat terakhir merupakan punch line yang tegas dan ‘pecah’. Saya lega!
  46. Mengikuti gaya @ernestprakasa, saya menjura hormat di akhir sambil mengatakan “nama saya Andi Arsana, saya angkatan ’96”.
  47. Masih Cukup lama dampaknya terdengar. Penonton Masih tertawa ketika saya diberi penghargaan oleh alumni 🙂
  48. Saya lega, bukan Karena hasil yang sempurna tapi karena keberhasilan melakukan hal baru, mengalahkan ketakutan sendiri 🙂
  49. Harapan saya, Stand up Itu bisa memberi sentuhan berbeda dan ‘mendefiniskan ulang’ hub almamater-alumni.
  50. Saya pulang dengan catatan khusus. Terutama dari mereka yang dengan tulus memberi apresiasi. Dosen juga boleh gaul. Kenapa tidak 🙂

Tips Seminar Proposal Skripsi, alias SemPro

Banyak yang menganggap seminar proposal skripsi itu menyeramkan. Sesungguhnya tidak demikian kalau kalian paham dengan baik apa sesungguhnya seminar proposal ini. Tips ini pernah saya twit untuk Geodesi UGM. Silakan disimak dan semoga membantu.

  1. Seminar proposal skripsi itu bukan pengadilan, tidak usah takut 🙂 Itu adalah proses dialog untuk memastikan mahasiswa siap membuat skripsi.
  2. Tujuan utama Seminar proposal skripsi adalah untuk membantu mahasiswa dalam menyiapkan skripsinya jadi tdk perlu tegang tapi perlu siap-siap dengan baik.
  3. Intinya kalian mau bikin skripsi maka kalian perlu sampaikan gagasan skripsi itu kepada dosen agar dipastikan arahnya benar dan kalian tidak tersesat.
  4. Kalian perlu sampaikan apa yang sudah ada atau diteliti orang lain dan sampaikan apa yang belum ada atau diteliti. Nah itulah yang ingin kalian teliti. Namanya filling the gap. Makanya tugas utama kalian adalah membaca penelitian terdahulu.
  5. Pada dasarnya, dosen perlu tahu, kalian mau apa, siap nggak kalian melakukannya, sdh punya data belum. Intinya agar pembuatan skripsi nanti lancar 😉
  6. Dalam presentasi harus sampaikan apa topik skripsinya, mengapa itu perlu dilakukan, metode/caranya bagaiamna, datanya dari mana, lalu hasilnya nanti apa? Gunanya apa? Itu saja. Tidak usah ribet2 mikirnya 🙂
  7. Seminar proposal skripsi adalah proses dialog yg baik antara murid dan guru. Tidak bisa jawab pertanyaan dosen itu wajar, dosen akan kasih masukan. Tapi jangan meremehkan.
  8. Secara teknis, siapkan presentasi yg baik. Buat slide yg sederhana tapi efektif. Jangan kebanyakan huruf. Isi ilustrasi gambar yg bisa menjelaskan secara visual. Ini contoh yang perlu diperbaiki:
  9. Jangan hanya copas isi proposal ke slide Power Point. Itu bukan cara yg baik dlm presentasi. Lihat bedanya kedua slide berikut. Isinya sama tapi cara penyampaiannya beda.
    teksvsgambar
  10. Pastikan presentasi tdk lbh dari sepuluh menit, makanya jangan terlalu banyak teori. Latih di rumah sampai lancar dan tepat waktu. Jangan tampil tanpa latihan.
  11. Tidak semua orang berbakat presentasi. Tenang saja. Setidaknya kalian tampil wajar. Merasa tidak berbakat? Latihan!!! Ajak teman untuk belajar bersama dan saling koreksi.
  12. Kalau latihan 100 kali belum bisa lancar dan tepat waktu, latih 200 kali. Tapi kalau latihan sekali sudah okay, bagus lah 🙂
  13. Pertanyaan dosen biasanya seputar: hipotesis, metode/cara penelitian, kesiapan data, kesiapan software, hasil yg diharapkan dan manfaat penelitian.
  14. Intinya banget, dosen ingin kalian bisa selesai dengan lancar dan hasilnya baik. Seminar proposal skripsi adalah untuk membantu kalian, bukan mengadili. Sekian 🙂
  15. Eh, satu lagi: tampil rapi! Penampilan memang bukan yang utama tetapi selalu lebih menyenangkan melihat orang tampil rapi dan bersih secara wajar saat menyampaikan gagasannya.

Kuliah Online yang Mudah, Murah, dan Wah

Saya sudah sering menceritakan soal kuliah online di blog ini. Saya pernah memberi kuliah online di ITS, di Paser, di Sidoarjo, di Papua dan banyak lagi. Kali ini agak berbeda, saya meminta orang lain untuk memberi kuliah online di kelas saya di Jogja. Namanya Imam Priambodo, anak muda lulusan Geodesi UNDIP yang bekerja di Fugro, sebuah perusahaan yang cukup mentereng namanya di bidang offshore. Imam saya minta memberikan materi tekait surveying yang dilakukan untuk pekerjaan konstruksi offshore. Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan materi terkait prosedur pemindahan rig atau rig move.

Continue reading “Kuliah Online yang Mudah, Murah, dan Wah”

[Bukan] Moderator Debat Capres

Orang yang saya moderatori dalam acara ini bukan capres tetapi pernah berinisiatif untuk menjadi Calon Presiden Republik Indonesia melalui proses Konvensi Partai Demokrat. Menjadi moderator bagi Mas Anies Baswedan adalah kebanggan bagi saya sekaligus sebuah proses pembelajaran yang tidak biasa. Entahlah apakah pembaca bisa merasakannya tetapi apa yang Anda lihat adalah hasil berlatih dan bersiap yang begitu lama dan serius. Saya tidak akan membahas tips-tips menjadi mederator dalam tulisan ini tetapi jika saya harus menjelaskan bagaimana menjadi moderator yang baik maka apa yang saya lakukan di video ini adalah jawabannya. Apakah ini bagus? Pembaca yang punya kewenangan untuk memutuskan. Selamat menyaksikan.