Sekelumit Ilmu untuk Papua


Vivi, seorang kawan yang sedang kuliah di Russia dan penggiat Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), mengirimkan pesan pada saya lewat Facebook. Pada pesan itu dia mengenalkan saya dengan seorang akademisi di Sorong, Papua Barat bernama Dr. Kadarusman. Vivi menawarkan apakah saya bersedia memberi kuliah umum secara online untuk mahasiswa dan kolega Dr. Kadarusman di Akademi Perikanan Sorong (Apsor). Urusannya tentu tentang laut dan sekitarnya. Tanpa menunggu lama, saya menyampaikan kesediaan.

Komunikasi saya dengan Dr. Kadarusman berlanjut lewat email. Harus diakui, Pak Kadar, demikian akhirnya saya memanggil beliau, adalah satu dari sedikit orang yang begitu efektif dalam berkomunikasi. Beliau membalas email dengan cepat, merespon segala pertanyaan dan permintaan dengan sigap dan melakukan segala proses administrasi dengan cekatan. Ketika saya bicara perihal teknis kuliah online ini, beliau menjawab dengan banyak opsi matang. Opsi itu meliputi ragam media komunikasi yang sudah disiapkan termasuk mekanisme pelaksanaan dan juga gladi bersih sebelum acara. Beliau siap dengan Skype, Face Time dan Hangouts dan saya diberi pilihan yang leluasa. Singkat kata, saya berhadapan dengan orang berpengalaman dalam mengurus kuliah online.

Tanpa saya minta, Pak Kadar bahkan sudah membuat poster yang cantik tentang acara itu. Rupanya beliau telah melakukan riset terhadap saya dan dengan tepat bisa menyampaikan biografi singkat saya di poster itu. Tentu saya tidak perlu heran, Dr. Kadarusman adalah alumni dari Perancis yang masih segar. Naluri menelitinya pasti terasah dengan baik. Beliau baru saja pulang dari Perancis dan menjadi satu-satunya doktor di lingkungannya di Apsor. Saya lihat, Dr. Kadarusman adalah seorang putra daerah Papua yang memberi harapan baru pada pendidikan di Papua.

Poster Iklan
Poster Iklan

Tidak ingin tampil mengecewakan, sayapun menyiapkan bahan dengan baik. Isinya tidak begitu berbeda dengan kuliah-kuliah saya sebelumnya hanya saja saya sederhanakan tatacara penyampaiannya karena ini kuliah online. Pertimbangan utama adalah koneksi internet yang tidak super cepat sehingga kesulitan komunikasi harus diantisipasi. Salah satu caranya adalah mengurangi gerakan animasi pada satu lembar tayang agar tidak menyulitkan operator saat menjalankannya nanti.

Sorong-Arsana
Tampilan depan bahan kuliah

Saat melakukan gladi bersih, hasilnya tidak terlalu memuaskan karena beberapa kali koneksi terputus. Selain itu kualitas suara juga tidak bagus. Meski demikian, Pak Kadar tetap optimis bahwa semua akan berjalan baik. Sayapun diminta mengirimkan bahan kuliah saya berupa berkas PPT ke beliau. Yang mengharukan adalah saya diminta mengirimkan bahan sehari sebelumnya karena beliau akan mengunduh bahan itu saat subuh dan mungkin perlu waktu lama. Begitulah jika jurang teknologi masih mengaga lebar maka kompromi harus dilakukan. Setelah sekian lama menikmati koneksi super cepat di Eropa, pastilah Pak Kadar perlu menyesuaikan diri dengan keras.

Yang mengagumkan dari seorang Kadarusman adalah kesungguhannya untuk memperbaiki keadaan, tidak mengeluh dan tidak cepat putus asa dengan kekurangan yang dihadapinya. Dialah yang menggagas kuliah online ini dan ternyata sudah dilaksanakannya selama tiga bulan dengan menghadirkan pembicara dari berbegai belahan dunia. Inilah kekuatan niat dan kekuatan jejaring internasional. Mungkin inilah salah satu contoh nyata mereka yang tidak mengutuk kegelapan tetapi menyalakan lilin untuk menerangi. Saya begitu senang bisa menjadi bagian kecil dari semangat Pak Kadar dalam memajukan pendidikan di Papua.

Saya menyelesaikan bahan kuliah yang sebagian besar berisi peta dan gambar sehingga ukurannya besar. Sayapun menyimpannya di Google Drive dan mengirimkan linknya ke Pak Kadar sehari sebelum kuliah dilakukan. Saya berharap-harap cemas dengan kualitas koneksi saat kuliah nanti. Malam sebelumnya saya begadang sampai menjelang subuh untuk melatih presentasi kuliah. Perlu latihan yang lebih baik untuk mengantisipasi komunikasi yang kurang lancar. Saya harus berusaha menyederhanakan penjelasan, jauh lebih sederhana dibandingkan kuliah tatap muka secara langsung. Jam 3 dini hari saya beranjak tidur dengan perasaan yang bercampur aduk.

Rabu 29 Mei 2013
Saya bangun agak siang dan langsung menyiapkan diri untuk kuliah online dengan Apsor. Saya siapkan satu iPad untuk komunikasi Skype dan satu laptop untuk animasi bahan kuliah saya. Kali ini saya tidak melakukan kendali jarak jauh terhadap komputer yang ada di Sorong karena koneksinya tidak memungkinkan. Sebagai gantinya, saya minta Pak Kadar membuka file bahan kuliah saya dan sayapun melakukan hal yang sama di Sydney. Laptop beliau di Sorong terhubung ke proyektor LCD sehingga tampilan presentasi bisa disaksikan di layar besar oleh mahasiswa. Transisi dari satu lembar tayang ke lembar tayang lain akan saya pandu sambil menjelaskan. Akibatnya, animasi yang disaksikan oleh peserta kuliah di Sorong sangat lancar karena berjalan di komputer lokal. Koneksi internet hanya dibebani oleh suara yang ditransfer lewat Skype. Saya tidak mengalami kendala berarti dalam mekanisme komunikasi karena sudah sering melakukan sebelumnya dan Pak Kadar juga sudah terbiasa dengan cara itu. Sekarang tinggal berdoa, internet tidak sering terputus dan listrik tidak mati saat kuliah berlangsung. Itulah kekhawatiran terbesar yang disampaikan Pak Kadar beberapa hari lalu.

Kuliah dibuka dengan komunikasi video singkat sehingga saya bisa melihat wajah-wajah mahasiswa dan dosen di Apsor yang terlihat bersemangat. Mereka juga melihat wajah saya yang ditayangkan dengan proyektor LCD. Ketika saya sapa β€œselamat pagi” saya bisa mendengar jawaban yang antusias dan penuh semangat. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang guru selain melihat murid-muridnya semangat menyimak pelajaran dan haus ilmu pengetahuan. Karena alasan koneksi, akhirnya video kami matikan sehingga hanya ada pertukaran suara.

Tampilan susana kelas di iPad
Tampilan susana kelas di iPad

Pak Kadar lalu membuka kuliah dengan mengenalkan saya secara singkat. Selanjutnya saya diberi waktu mengenalkan diri dan langsung memulai perkuliahan. Agak aneh rasanya memberi kuliah jarak jauh tanpa bisa mengendalikan animasi bahan kuliah secara penuh. Bahan kuliah yang penuh gerakan animasi menjadi lebih sulit dibawakan jika menggunakan operator. Maka dari itu saya usahakan tidak menggunakan operator presentasi karena gerakan animasi dan narasi saya perlu tingkat kesingkronan yang tinggi untuk menimbulkan efek dramatis. Untuk kuliah di Sorong ini rupanya saya harus mengkompromikan aspek dramatisasi ini dan berusaha memanfaatkan kesederhanaan untuk menjelaskan perihal yang rumit.

Mengajar jarak jauh tanpa bisa melihat orang yang diajar mirip dengan penyiar radio. Saya harus berimajinasi adanya interaksi dengan pendengar padahal tidak melihat siapapun. Dalam kondisi seperti ini, lelucon bisa terasa garing. Tidak ada ayang lebih menyedihkan daripada lelucon yang tidak membuat orang tertawa. Atau setidaknya ini yang saya rasakan jika melucu dan tidak bisa melihat ekspresi orang yang mendengar lelucon itu. Maka saya putuskan untuk menghilangkan lembar tayang yang berisi lelucon yang sepertinya hanya cocok ditampilkan dalam interaksi langsung. Saya masih terus bereksperimen memilih bahan kuliah untuk kuliah online seperti ini agar benar-benar cocok dan efektif.

Selain memberi kuliah dengan Skype, saya juga siarkan kuliah itu dengan radio internet sehingga mereka yang tidak ada di kelas di Sorong juga bisa menyimak. Saya siarkan suara lewat radio dan pendengar bisa melihat animasi bahan kuliah di website saya. Jika tertarik, pendengar bisa menjalankan animasi bahan kuliah sambil mendengarkan penjelasan lewat radio. Rupanya ada yang melakukan ini dan mereka bisa berkomentar lewat twitter atau media lain. Pagi itu saya bereksperimen agar bisa menjangkau pedengar seluas mungkin. Karena merupakan kesempatan pertama mengajar di Papua, proses itupun saya rekam dengan video seingga bisa dijadikan bahan evaluasi di masa depan.

Perkuliahan direkam video untuk evaluasi dan dokumentasi

Dalam perjalanan, sempat ada gangguan komunikasi. Beberapa kali koneksi Skype kami terputus tetapi tidak menjadi masalah besar karena kami memang sudah mengantisipasinya. Jalan keluarnya hanya satu, ulangi lagi dan lanjutkan kuliahnya. Untuk memastikan semua berjalan lancar, setiap beberapa lembar tayang saya menanyakan apakan suara saya masih terdengar jelas. Sepertinya peserta kuliah, setidaknya menurut respon dari Pak Kadar, bisa menikmati materi kuliah dengan baik. Materi yang saya bawakan tentang mengenal batas maritim Indonesia dan aspek geospasial wilayah pengelolaan perikanan. Saya coba membawakan materi yang saya pahami dan terkait dengan ilmu yang mereka pelajari.

papua3
Suasana kelas – sederhana namun penuh semangat

Meskipun ada gangguan koneksi, saya merasa Pak Kadar tetap semangat dan rupanya demikian pula para mahasiswa dan dosen yang menyimak. Akhirnya sampailah saya pada ujung kuliah dan disambut tepuk tangan yang dipandu Pak Kadar. Ada dua kemungkinan: kuliahnya memang menarik atau mahasiswa takut pada Pak Kadar πŸ™‚ Yang jelas tepuk tangan itu melegakan dan itu artinya saya sudah menyelesaikan satu tugas.

Tanya jawab dimulai segera setelah presentasi saya berakhir. Yang memberi komentar pertama adalah Ibu Endang, petinggi Apsor yang sebelumnya sudah saya kenal karena beliau pernah mengikuti kursus di Wollongong dan saya terlibat membantu. Tentu saja itu menjadi sebuah reuni yang menarik. Saya bahkan sempat berkelakar, berterima kasih karena Ibu Endang pernah memberi saya kaos kenang-kenangan bertuliskan Raja Ampat. Sampai kini saya masih berminat untuk datang ke tempat itu tetapi belum terwujud. Ibu Endang menyampaikan terima kasih dan terutama apresiasi kepada Pak Kadar yang telah menghadirkan kolega di luar negeri untuk berbagi ilmu di Apsor. Bu Endang juga menyampaikan keinginan beliau agar University of Wollongong bisa menjalin kerjasama dengan Apsor melalui payung hukum formal berupa Memorandum of Understanding (MoU).

Seusai Ibu Endang, dimulailah diskusi yang menarik. Pertanyaan-pertanyaan dosen maupun mahasiswa sangat bermutu. Pertanyaan pertama terkait dampak reklamasi bagi batas maritim, dilanjutkan dengan status batas maritim Indonesia dengan negara tetangga dan usaha untuk mengamankan kawasan perbatasan laut. Saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sebisanya dengan analogi yang saya harap bisa memudahkan pemahaman. Karena tidak bisa melihat wajah si penanya saya hanya bisa berimajinasi sambil menatap layar iPad. Pertanyan berikutnya tentang Sipadan dan Ligitan serta pengaruhnya bagi batas maritim antara Indonesia dan Malaysia. Ada juga yang bertanya tentang kewenangan atas udara di atas landas kontinen dan atau ZEE. Meskupun bahasannya tentang batas maritim, ada juga yang bertanya tentang batas darat antara Indonesia dan Malaysia. Selebihnya ada yang bertanya tentang kemungkinan dibuatnya kesepakatan sementara jika kesepakatan final belum dicapai. Saya terus terang merasa amat senang karena banyak sekali yang bertanya dan harus dibatasi karena perihal waktu. Menurut informasi dari Pak Kadar, ada bahkan mahasiswa yang berdiri di dekat pintu karena tidak mendapatkan tempat duduk. Promosi Pak Kadar rupanya canggih juga. Pak Kadar juga menyampaikan laporan pandangan mata bahwa ada yang duduk di atas bangku karena tidak mendapat tempat duduk dan bahkan sempat mengajukan pertanyaan saat diskusi. Semangat para pencari ilmu ini mencerahkan.

Nanda, salah seorang peserta kuliah
Nanda, salah seorang peserta kuliah yang haus pengetahuan

Tidak terasa, waktu jua yang akhirnya harus memisahkan kami. Sebelum ditutup, Pak Kadar meminta saya menyampaikan kesan-pesan tentang kuliah itu. Soal koneksi yang lemah dan putus beberapa kali memang perlu dicatat tetapi sepertinya itu tidak tepat diungkapkan karena merupakan kelemahan sistemik. Bagi saya, bisa memperdengarkan suara saya di sebuah ruang kelas di Papua adalah suatu kehormatan, terutama karena saya belum pernah ke Papua. Bahwa teknologi dan kemauan yang tulus itu ternyata bisa membangun keterikatan di antara kami. Saya hanya menyampaikan satu doa, jika saja orang di luar Papua bisa lebih terbuka dan secara tulus berbagi dengan teman-teman di Papua, mungkin cerita miris tentang Indonesia dan Papua akan bisa dikurangi. Dan Papua membutuhkan orang-orang cemerlang yang rendah hati seperti Dr. Kadarusman. Orang-orang yang bernas karena gagasannya dan taktis karena mau berkeringat mewujudkan gagasan itu.

Karena begitu berkesan, saya meminta Pak Kadar untuk mengabadikan kuliah itu dalam foto. Saya meminta para peserta untuk berfoto bersama. Mereka saya minta berdiri di dekat layar yang memuat gambar saya sehingga seakan-akan kami berfoto bersama. Bagi saya, bisa mengajar di Papua adalah sejarah. Hari itu saya dan Pak Kadar telah membuktikan bahwa niat baik dan teknologi informasi bisa menyatukan kita. Tidak boleh lagi jarak Papua yang jauh dari Jakarta dijadikan alasan sayupnya suara mereka sehingga tidak terdengar. Meski sekelumit, saya merasa senang telah ikut berbagi ilmu pada saudara-saudara saya di Papua. Bagi saya, tanpa mereka, Indonesia tidak akan pernah tampil seutuhnya.

Foto bersama
Foto bersama di abad 21
Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

40 thoughts on “Sekelumit Ilmu untuk Papua”

  1. terharu saya bli (Y) mantap….menjadi manfaat u banyak orang is adalah orang yang bijak dan santun……:)

  2. Teruslah menjadi pemantik nyalanya api semangat anak-anak di tanah pertiwi ini, pak Andi. Semoga saya pun bisa banyak menebarkan manfaat bagi bangsa ini kelak.
    Regards,

    Tendy Chaskey

  3. sekali lagi kedua jempol tangan ini tak bisa disembunyikan didalam saku celana. Salut untuk Pak Andi. πŸ™‚

  4. Syalloom,, Salam Kenal Pak De Andi… Sya lahir & besar di sorong.. Hingga saat ini sya msh memiliki family disana, krna history keluarga kami bgtu banyak dlm pembangunan Irian baik pembangunan mental masyarakat & pembangunan fisik sarana Pendidikan sejak bergabung ke NKRI hingga akhir thn 90an.. Dan skrg sya sudah hampir 17tahun tinggal di kampung internasional tempat asal Pak De Andi..(Bali) πŸ˜‰ . Sya bangga dgn sharring Pak de ini, bgtu jg dgn semangat heroik Pak kadarusman dkk di kampus APSOR kalo nga salah di daerah klademak I.. SeKiranya TUHAN yg memBerikan PerTumbuhan, akan banyak memberi orang2 yg memiliki Semangat sprt Pak de, Pa Kadar dkk..shga NKRI tetap utuh,, tidak adalg wilayah teritorial kita yg dicaplok ama bangsa tetangga.. Dan yg PASTI Bebas dr KKN.. GOD Bless…

  5. luar biasa Pak.
    terharu sy.
    speechless.

    Semoga sy bisa balik ke Papua, tp kalaupun tidak ada kesempatan, sy akan memikirkan cara berbagi ilmu seperti ini Bli.

    Trima kasih.
    sgt ,menginspirasi.

  6. very inspiring Mas Andi. memang kami yang di Indonesia timur kadan bermasalah dengan internet. Di Universitas saya di Sulawesi Utara pernah mengadakan video conference menggunakan skype dengan Jakarta. Alhasil terputus-putus. Apalagi yang di Papua. Tapi akhirnya mahasiswa tetap bisa mengikutinya.
    Oya, menurut saya, kalau kita nge-skype sambil broadcast ke internet radio akan mengurangi bandwith skype. Karena komunikasi data skype itu sendiri jenisnya P2P http://en.wikipedia.org/wiki/Skype#Protocol jadi sangat consuming bandwith. Jadi disarankan jangan melakukan transaksi/proses data lain saat runing skype untuk mendapatkan hasil optimal. I might be wrong, though πŸ™‚

  7. terharu sekali baca ini πŸ™‚
    terutama pas lihat foto bersama antara sang dosen dengan para mahasiswa yg hadir.
    semoga terus bisa berbagi ilmu ya Pak.

  8. Dunia memang sempit Bli Andi. Mas Kadar, begitu saya memanggil beliau, adalah rekan seperjuangan di Montpellier, Prancis & menjadi kawan “ngobrol” selama 4 tahun. Sepak terjang beliau sudah tidak perlu diragukan lagi. Sangat senang bisa melihat kiprah dua calon pemimpin masa depan nih, hehe. Semangat dan sukses selalu, nice story Bli. Thanks for sharing πŸ™‚

  9. Bonjour Pak Andi,

    Salam kenal dari Montpellier. Saya betul-betul terkesan dengan usaha dan kerjasama intercontinent antara pak Andi dan pak Kadar untuk memajukan pendidikan di tanah papua. Kebetulan Pak Kadarusman adalah kolega saya waktu kuliah di Montpellier. Beliau memang orang yang penuh dengan semangat, inspiratif dan penuh dengan kreasi. Ide seperti ini, sudah beliau telurkan sejak zaman kami sering diskusi sambil ngopi di kafe.

    Tak dinyana ide tersebut langsung beliau realisasikan ketika pulang untuk mengabdi di tanah air. Memang luar biasa istiqomah beliau ini.

    Semoga kegiatan positif seperti ini bisa berlangsung terus menerus.

    Rendy

    1. Mas Rendy, terima kasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan ini. Saya merasa banyak belajar dari proses ini dan Pak Kadarusman harus jadi teladan bagi banyak orang. Saya yakin Mas Rendy juga sudah dan akan [tetap] berperan besar untuk Indonesia dan dunia nantinya πŸ™‚

  10. Sorong lumayan dekat dengan tempat tinggal saya di Manokwari, dan ya memang benar salah satu kendala yang masih terus terjadi di Papua adalah mengenai koneksi internet 😦 semoga tidak menyurutkan niat kami para pejuang beasiswa yang pemberani !

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s