UNSW, setelah 11 tahun


Sydney, 14 Januari 2004

Hari sudah terang, pagi tak lagi muda karena matahari menghadirkan benderang yang cerah. Sydney kulihat pertama kali dari balik jendela pesawat yang baru saja menyentuhkan roda-rodanya di landasan Bandara Kingsford Smith. Inikah negeri Kangguru yang telah lama kusimpan dalam rasa penasaranku? Aku nyaris tidak percaya, hari itu datang juga. Sebentar lagi, pikirku, Negeri Kangguru tak lagi asing di mata dan terutama hatiku.

Kulihat dua lelaki bekerja giat di landasan Bandara. Keduanya mengenakan helm dan baju dengan rompi yang memendarkan sinar. Sepatunya nampak khusus untuk bekerja di lapangan dengan warna cokelat gelap. Yang menarik, keduanya mengenakan celana pendek, bukan sesuatu yang aku lihat setiap hari. Pekerja lapangan dengan sepatu berujung baja dan berhelm proyek yang berstandar, rasanya tidak cocok mengenakan celana pendek. Itulah Sydney dalam kesan pertamaku.

Yang paling aneh dari segala yang aneh, keduanya bule. Bukankah bule seharusnya bersenang-senang di Pantai Kuta sambil minum bir dan menikmati pijatan penjaja jasa keliling di atas pasir? Bukankah seorang bule seharusnya berselancar melawan deru ombak di pantai eksotis di Bali Utara dan bukan bekerja mengangkat kopor atau barang berat lainnya di sebuah bandara yang benderang? Pikiran konyol orang Bali yang hanya tahu Alas Kedaton, Kuta dan Tanah Lot, tidak bisa disembunyikan di saat begitu. Aku terheran-heran melihat bule bekerja karena kusangka selama ini tugas hidup mereka hanya melancong. Bule itu turis, kata tetua di kampungku.

Aku bergerak mengikuti antrian yang mengular. Perjalanan masih panjang meskipun aku sudah keluar dari pesawat. Kini antrian di bagian imigrasi dan bea cukai menunggu. Di tanganku ada pasporku dan sebuah kartu kedatangan yang sudah aku isi di pesawat tadi. Saat mengisi, penuh ketegangan, takut salah dan takut dimarahi. Yang paling menyeramkan, kalau-kalau kartunya salah aku isi dan diminta merevisi. Kartu kedatangan memang bukan skripsi tetapi apapun bisa terjadi, pikirku.

Tidak seserem yang aku duga, aku terbebas dan diizinkan memasuki Sydney. Dalam hati aku berteriak girang “Australia, here I am”. Tentu saja tidak dengan logat Aussie yang malas dan terseret-seret. Betul, bicara dalam hatipun tentu ada logatnya. Kupandangi sekitar, koperku sudah terlihat berkeliling di conveyor belt, entah untuk keberapa kalinya. Kugamit pegangannya dan dalam sekejap aku sudah siap melanjutkan perjalan keluar dari bandara. Tentu saja harus melewati custom yang super ketat. Tidak boleh ada buah, tidak boleh ini tidak boleh itu. Singkat cerita, aku terbebas dengan mudah. Tentu saja. Tidak ada gunanya belajar cross culture understanding selama delapan minggu di IALF Jakarta jika aku masih belum paham apa yang boleh dan tidak boleh dibawa saat datang ke Australia.

Aku melihat wajah-wajah yang sumringah penuh senyum menyambutku. Ternyata mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sudah belajar di University of New South Wales (UNSW) terlebih dahulu. Kini aku menjadi junior mereka, siap menjadi adik kelas yang baik. Mereka adalah orang-orag baik hati. Satu per satu menyalami kami dan ternyata lebih banyak penjemput dibandingkan yang dijemput. Orang-orang baik yang pintar itu merelakan dirinya menjadi penjemput kami. Tidak saja itu, mereka menemani kami di kendaraan yang membawa kami ke Sydney sambil membicarakan hal-hal menarik yang menambah semangat. Ada banyak nama yang kuingat dan tidak akan aku lupakan.

Aku diantar ke sebuah rumah tinggal. Aku dititipkan di sebuah keluarga Indonesia yang istrinya sedang sekolah di UNSW. Aku memang tidak siap sebelumnya dan tidak mendapatkan akomodasi sebelum berangkat ke Sydney. Untunglah para senior menyediakan semua fasilitas itu dengan kerelaan hati. Aku membayar tentu saja. Kami semua mendapat beasiswa yang sama, tak ada alasan bagi yang satu untuk menghamba secara finansial kepada yang lain.

Menjelang siang, kami diantar ke International Students Service alias ISS alias Kantor Urusan Internasional UNSW. Tempat itu surga bagi mahasiswa asing. Ada komputer untuk dipakai mahasiswa asing, terutama yang baru bergabung seperti aku. Ada penganan kecil yang tersedia untuk para mahasiswa asing yang baru, ada lembaran-lembaran informasi akomodasi yang tersedia, ada berbagai brosur kegiatan mahasiswa di UNSW, ada konsultan yang siap sedia memberikan informasi dan banyak lagi.

Di berbagai pojok kulihat petugas yang tidak pernah berhenti mengumbar senyum seraya memberi penjelasan kepada mahasiswa asing yang baru saja tiba. Aku menunggu giliranku, sambil mencoba mengirimkan email kepada teman dan sanak famili di Jogja ketika itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku mendapat giliran. Seorang perempuan muda yang ramah dan menarik hati menyapaku. “Good morning, thank you for waiting. How can I help you?”. Aku yang belum terbiasa mendengar Bahasa Inggris logat Australia sejenak tertegun, tidak begitu paham apa yang ditanyakan gadis itu. “Pardon me” ada frase yang paling sering aku ulang. Syukurlah, pada akhirnya semua baik-baik saja. Memulai dengan senyum, gadis itu mengakhiri juga dengan senyum. Professional dan hangat. Tiba-tiba aku merasa di rumah sendiri. Aman, nyaman dan sangat diperhatikan. Itulah kesan pertama tetang kantor urusan internasional UNSW pada pagi itu.

Kutengok di sekelilingku, ada yang sedang konsultasi perihal memperoleh akomodasi. Ada yang curhat karena kopornya lenyap di pesawat atau bandara, ada yang sedang diajari cara menggunakan perangkat lunak tertentu. Ada juga seorang gadis lain yang khusus berkeliling memberikan penganan kecil. Aku dilayani begitu rupa, membuatku merasa di atas angin seperti raja. Sentuhan pertama office of international affairs UNSW itu memberikan kesan mendalam. Sentuhan personal dalam konteks professional menjadi kunci yang menyentuh hati. Dalam sekajap, aku sudah merasa jatuh cinta pada kampus UNSW ini. Terkesima oleh layanan yang memanusiakan.

Yogyakarta, 14 Januari 2015
Aku menatap wajah perempuan itu. Air mukanya tenang, sorot mata birunya tajam tapi tak mengancam. Dia menatapku dan berkata “So, Pak Andi, thank you for making the time. We are so pleased to finally meet you. With your position as the Head of the Office of International Affairs at UGM, I am sure we can strengthen our relationship.

Sambil mengangguk mantap, kulirik lagi kartu nama berwarna kuning yang baru saja diserahkannya. Kartu nama itu tiba-tiba seakan berubah menjadi layar TV yang memutar ulang peristiwa lama. Berkelebat wajah-wajah para senior yang menjemputku di Bandara Sydney 11 tahun silam, tersungging senyum yang hangat para pelayan mahasiswa baru, tercium aroma nasi goreng halal di Taste of Thai, Randwick, dan terngiang logat Bahasa Inggris Yew Kong Tam, petinggi kantor urusan internasional , yang tak lazim. Kusimak dengan seksama, pada sisi kiri kartu nama itu terukir logo yang aku kenal baik dan dibawahnya bertuliskan singkatan yang tidak asing lagi: UNSW. “Pleasure is mine!” kataku mantap!

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

14 thoughts on “UNSW, setelah 11 tahun”

  1. Wah menarik mas..secara saya juga apply ke UNSW dalam aplikasi AAS tahun ini..mudah2an berhasil nginjak Sidney kelak..sebelumnya uda sempat jg ke bandaranya dalam perjalanan pulang dari Brisbane – Jakarta transit di Sidney mengikuti training di Brisbanne, QLD..

  2. Dr. Hughes kah pak?
    Saya semakin tidak sabar untuk ke UNSW setelah membaca post ini, sy Insya Allah mulai kuliah July ini dengan beasiswa LPDP.

    Salam kenal pak Andi.

  3. Pak Andi, baru kemarin malam saya searching tentang UNSW. Siang ini tidak sengaja ketemu artikel bapak tentang kampus tsb. Jika saya ingin bertanya lebih jauh, boleh saya mengirim email ke Bapak? 🙂 nuhun

  4. Wah, kalau saya punya pengalaman lain ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri orang, khususnya ketika di bandara. Izin berbagi ya, pak.

    Waktu itu saya lupa membawa dokumen-dokumen dalam bentuk cetak dari lembaga yang memberi saya beasiswa musim panas. Untungnya saya bawa fail .pdf dokumen-dokumen tsb di tablet saya dan hendak menunjukkanya kepada petugas keamanan bandara.

    Namun sungguh sial, akibat kelalaian saya juga, baterai gadget saya saat itu habis. Akhirnya petugas keamanan tasdi membawa saya ke salah satu ruangan di bandara dan mempersilakan saya untuk mengisi daya baterai gadget saya.

    Setelah daya baterai gadget saya terisi cukup untuk dinyalakan, saya pun menunjukkan dokumen-dokumen tsb. Akhirnya saya lolos pemeriksaan keamanan. Pesannya, jangan lupa untuk membawa dokumen-dokumen penting yang sudah dicetak supaya tidak mengalami kejadian seperti saya 😀

  5. Salam hormat.
    Terimakasih telah berbagi info dan pengalaman, saya sedang berusaha baca semua tulisannya Pak Andi.
    Sangat berguna untuk saya dan rekan-rekan yang ingin mengejar neasiswa AAS.

  6. Halo Pak/Mas Andi,
    Saya salah satu calon mahasiswa di UNSW (kalo keterima :D). Saya Saya akan tinggal di Sydney dengan suami dan bayi saya yang Desember nanti akan berumur 6 bulan. Adakah info akomodasi yang sederhana dan murah untuk kami bertiga? Saya belum tau letak kampusnya di mana, yang jelas saya ambil combined degree (Education and translation and interpreting). Dan kalau boleh dapat penjelasan general tentang bagaimana hidup disana. Terima kasih sebelumnya…

    1. Salam kenal Pak Andi dan Bu Irmawati.
      Saya dan Suami bulan Maret kemarin baru saja back for good setelah setahun tinggal di Sydney. Suami kuliah di UNSW Kensington campus. Di blog, saya banyak sharing cerita ttg kehidupan di Kingsford & Sydney. Mungkin ada bbrp info yg bisa membantu Bu Irma. Untuk akomodasi, bener kata Pak Andi: yg sederhana banyak. Yg murah di seputar UNSW Kensington campus, tak terlalu banyak pilihan. Mungkin Bu Irma sekeluarga bisa sharing apartemen/rumah dgn mahasiswa lain? Teman-teman saya masih banyak yg di Kingsford, kalo mau, saya bisa bantu tanyakan info house/flat sharing.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s