Mas Suripto, Wajah Amerika di Jakarta


Pagi-pagi sekali, di Hari Pancasila 2017, saya sudah berada di Ibukota Jakarta. Berjalan menyusuri Jalan Medan Merdeka Selatan, dari jauh saya sudah melihat orang-orang berbaris di depan Kedutaan Besar Amerika. Ingatan saya melayang ke suatu hari satu dekade silam.

Jakarta, 20 Februari 2007
“Jangan berteduh Pak! Baris yang rapi!” saya terkejut mendengar teriakan itu. Seorang lelaki berseragam kecokelatan berteriak dari jauh memberi perintah kepada seorang lelaki usia 50an tahun yang berpakaian rapi. Lelaki dalam antrian itu hendak berteduh sejenak dan keluar dari antrian yang telah mengular. Matahari yang mulai hangat rupanya membuat lelaki yang telah matang itu merasa kepanasan. Tak ayal, teriakan lelaki yang memasang tampang sangar itu mengurungkan niat lelaki malang itu. Sementara saya yang ada tidak jauh dari lelaki itu merasakan ketidaknyamanan. Amerika memang kejam. Satpam di kedutaannya di Jakarta saja kejam sekali.

Beberapa menit kemudian saya sudah memasuki ruangan pemeriksaan. Rupanya ada ratusan orang hari itu yang hendak melamar visa ke Amerika. Harus diakui, betapapun benci dendam dan kesumatnya penduduk dunia pada Amerika, daya tariknya tetap besar dan jutaan orang tetap rela berpanas-panas menahan hardikan untuk mendapatkan selembar stiker bertuliskan US Visa. Memang demikian.

Di dalam ruangan sempit itu, beberapa orang dengan tampang dingin dan kaku memberi berbagai instruksi. Kami harus melepas ini itu, mengeluarkan ini itu dan memastikan ini itu lainnya. Pemeriksaan seperti ini tentu bukan hal baru bagi banyak orang tetapi cara petugas itu memperlakukan kami memberi pengalaman yang traumatik. Kesannya, semua orang yang mendaftar visa itu adalah pesakitan. Sebagian lainnya bahkan seperti dituduh sebagai penjahat yang sudah lama menjadi buronan. Itulah kesan yang saya tangkap dari perlakukan petugas itu.

Yang membuat saya lebih kecewa adalah bahwa virus ketakutan dan ketegangan itu disebarkan oleh orang-orang yang tampangnya sebelas duabelas dengan saya. Mereka adalah orang-orang Melayu yang mendadak sangar, garang dan sok kuasa karena pada pundak mereka terpasang lambang negara adidaya Amerika Serikat. Tidak mudah menghilangkan tuduhan dan prasangka demikian dari pikiran saya. Mungkin itu juga yang terjadi di pikiran puluhan orang yang mendapat perlakuan yang sama di hari itu.

“Mohon maaf Bapak” tiba-tiba suara santun dan lembut itu membuyarkan lamunan saya. Ingatan akan pengalaman traumatic satu dekade silam tiba-tiba sirna oleh salam sapa yang hormat bukan buatan. Saya segera mematut-matutkan diri, segera ingat ini adalah 1 Juni 2017, sepuluh tahun lebih sejak saya menjadi ‘pesakitan’ saat mendaftar visa Amerika untuk pertama kali. “Oh ya, Pak..” kata saya menyambut sapaan lelaki ramah itu. SURIPTO, demikian tertulis di dadanya. “Maaf Pak, mohon izin, HP agar diletakkan di sini ya Pak. Bapak tidak diperkenankan membawa HP ke dalam.” Kata-kata Mas Suripto sangat tenang dan jauh dari intimidasi. Saya masih belum percaya bahwa ini terjadi di Kedutaan Besar Amerika. Jauh berbeda dengan yang saya pernah ingat 10 tahun lalu.

“Bapak membaya laptop?” tanya Mas Suripto melanjutkan dan saya iyakan. Diapun kemudian menjelaskan apa yang haru saya lakukan selanjutnya. Sekali waktu dia menggunakan pengeras suara yang digenggamnya untuk menyampaikan informasi dan pengumuman secara berkala. Setiap kali memulai pembicaraan, dia buka dengan sopan dengan kata-kata selamat datang dan ucapan terima kasih. Tidak ada teriakan yang mengintimidasi, tidak ada bentakan yang menyiutkan nyali seperti satu dekade silam.

Saat menunggu di ruang pemeriksaan, seorang perempuan setengah baya memberi penjelasan dengan santun dan sopan. Tidak terdengar bentakan atau kata-kata dengan nada membodoh-bodohkan seperti yang pernah saya dengar satu dekade sebelumnya. Adakah Amerika telah berubah dalam waktu satu dekade ini?

Ketika memasuki ruangan untuk mengantri, seorang pemuda penuh senyum menyambut saya. Dia memeriksa berkas saya dengan tetap tersenyum sambil sekali waktu melontarkan pertanyaan ringan. Saya juga diberi kertas tanda antrian dan langsung dipersilakan mengambil tempat duduk. Sejujurnya saya terkesan luar biasa. Kesopanan dan kehangatan rasanya begitu hidup di tempat itu. Saat duduk di dekat seorang lelaki sesama pelamar visa, saya sampaikan kesan saya itu bahwa Amerika kini jauh lebih ramah. Dia setuju dengan antusias tinggi “bener banget Mas!” katanya mantap. Dia yang sudah lalu lalang Amerika sejak awal tahun 2000an benar-benar merasakan perubahan itu.

Sesaat kemudian, setelah menyerahkan berkas, saya dipanggil untuk pengambilan sidik jari dan wawancara. Seorang lelaki kulit hitam tersenyum menerima saya. Lagi-lagi ini berbeda dengan 10 tahun lalu. “How are you, Sir?” tanyanya ringan penuh senyum dan saya jawab dengan antusias dan hangat. “Geodetic Engineering? Wow I don’t know much about it” katanya begitu melihat jurusan saya. Dengan singkat saya pun menjelaskan. “Satelite image, Google Maps, GPS?” kata saya memberi kata kunci. “Oh, right! Wow, now I understand. What are you doing in New York, Sir?” “I am presenting a paper at the United Nations” “Cool. On what topic?” “Maritime boundaries.” “Oh so you also learn the international law of the sea?” saya terkesan dengan pemahamannya “Yes, absolutely correct!” Dia mengedipkan mata tanda paham dan setuju. “South China Sea” kata saya lagi untuk memberinya lebih banyak pemahaman. “Wohoo hot topic, Man! Very hot topic!” katanya sambil menggeleng. Saya sangat menikmati percakapan itu. Ya percakapan, bukan wawancara. Jelaslah sudah, wajah ramah Amerika tidak hanya terlihat pada senyum Mas Suripto.

PS. Saya menulis ini dalam penerbangan menuju London yang kemudian dilanjutkan ke New York. Benar, visa saya disetujui.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s