Galungan di Tegaljadi


image1Kisanak, mampirlah ke Tegaljadi tepat saat Rabu Kliwon Dungulan dan saksikanlah geliat Galungan yang disambut suka cita kerabat kami. Kisanak akan tahu, kami punya seniman tak terbilang jumlahnya. Tak hanya sanggah kemulan dan candi bentar, jalanpun mereka ukir rupa-rupanya. Atau ini hanya pertanda tiada peduli Ibu Bupati, kisanak mungkin bisa meneliti.

Laluilah jalanan desa kami yang bersahabat dan tak merelakan para mengendari kuda besi bergerak cepat. Dan rasakanlah sapaan penjor yang berhias meriah. Lengkungannya menjuntai dengan pernak pernik yang melambai. Lontar itu, yang mendekap sebatang bambu, telah menggeser ambu, daun enau putih yang aromanya memikat kalbu. Aku masih mengingatnya, persis seperti yang kusimak dua dasawarsa silam. Kini berbeda. Penjor lebih genit, sumringah dan bertingkah menggoda. Penjor kini mentereng, hebat dan mungkin juga mahal. Nang Kocong tak lagi merangkai bakang-bakang dengan tangannya sendiri. Bakang-bakang penghias penjor kini gampang datang karena ditukar uang.

Jangan kisanak hiraukan itu. Melintas sajalah di sepanjang jalan kami. Nikmati gerit bambu penjor yang berselimut kasa warna bata. Lalu terpesonalah karena lengkungannya berebut menjulang, menyangga langit yang benderang. Penjor-penjor itu jadi kanopi. Penjor itu hadirkan teduh bagi mereka yang berlari dari keseharian yang gaduh.

Mari duduk sejenak di Sanggah. Pura keluarga ini ajang bercengkarama. Lihatlah Men Komang yang mulai renta tapi tak henti bersabda dan bertitah. Mereka, para perempuan itu, berkelakar tidak saja tentang Tuhan tetapi juga dengan Tuhan. Mereka memuja bukan dengan mantra tetapi dengan keringat dan gerak gesit membahana. Mereka sembahyang bukan dengan bunga tetapi dengan penyerahan diri yang bercampur peluh tanpa keluh, gelisah apalagi gundah. Tidak ada. Mereka berbincang dengan Tuhan, menggunakan bahasa yang sama saat menipu cucu mereka menjelang tidur. Sederhana, mudah dipahami dan anti manipulasi.

Kisanak ikutlah aku ke Pura Dalem dan saksikanlah kerabat yang duduk dengan khidmat. Lantun kidung bersahabat dengan kepul asap dupa dan denting genta Mangku Dalem yang bersahaja. Dalam khusu’ yang wibawa ada tawa. Dalam khidmat yang sakral ada kelakar. Mereka paham bahwa Tuhan tak susah konsentrasi karena gangguan kelakar mereka yang tak berarti. Maka tengadahkanlah tangan lalu teguk tirta yang dihentakkan dengan kembang cempaka yang wanginya menawan. Dan bubuhkanlah beras itu di dahimu sambil mendesiskan syukur atau sekedar melemparkan sisa enam biji beras terakhir hingga lengap di antara kedua bibirmu. Jangan dikunyah, kata ibuku. Telan saja maka berkah itu utuh sempurna buatmu tanpa cela.

Lihatlah De Gemuh yang jarang pulang. Galungan memanggilnya dua kali setahun dan kini dia datang. De Gemuh datang ke Pura Padonan untuk muspa, sembahyang khusus menghadap sang pemilik waktu. Istrinya, kata tetanggaku, mahal senyumnya. De Gemuh berubah, tak lagi jadi bagian dari kami. Saat mencakupkan tanganpun, kisanak mungkin bisa melihat keruwetan di kepalanya. Dia terpejam tapi kernyit dahinya menceritakan sejuta perkara. Keruwetan yang berkelebat di antara persaingan bisnis, penjualan yang turun, karyawan yang demonstrasi, atau kebijakan pemerintah yang tidak bersahabat. Tempatnya menuai rejeki di perusahaan telekomonikasi Ibukota telah membuatnya berubah. De Gemuh tak lagi ramah, bahkan saat Galungan. Kisanak tidak usah ikut mengeluh. Saksikan saja dan lihatlah De Gemuh bergegas pulang dan sebentar lagi akan melaju ke Ibukota. Bagi De Gemuh, Galungan adalah beban, karena waktu kerjanya berkurang sepertigapuluh bulan.

Saat ke Pura Desa, mungkin kisanak akan bertemu dengan De Kopang yang setia duduk di depan rumahnya. Tak berudeng, tak berselempang layaknya para pemuja perayaan. De Kopang, mungkin bahkan tidak sembahyang. Tapi dialah penikmat sejati. Diperhatikannya semua orang yang berlalu lalang dan sibuk. De Kopang hanya tersenyum di luar arena, mengangguk kepada setiap orang yang lewat sambil bersila dengan khusu’. Tak ada ancaman neraka baginya, hanya gara-gara tidak sembahyang di Galungan. Tak ada tuntutan menyandang baju baru. Tak ada rasa-was was dianggap tak berkaca pada zaman. De Kopang tenteram hidupnya. Dia tak ruwet seperti De Gemuh, tak juga bergosip seperti perempuan-perempuan paruh baya yang kadang bergunjing di pura. Dia aman dan damai. Mungkin karena kepalanya tidak pernah diisi kosakata sukar seperti ASEAN Economic Community. De Kopang bahkan tak peduli dan tak mau tahu sebentar lagi orang-orang dari Vietnam akan berjualan bakso di pelataran Pura Dalem untuk umat yang sibuk memuja Tuhan dan lupa menyiapkan bekal makan siang.

Kisanak ikutlah aku nangkil ke rumah tua, asal usul leluhurku. Ikutlah memuja leluhur dan cakupkan tangan. Tapi jangan meniru Pan Koplar yang khusu’ sembahyang tapi lupa menegur sapa manusia biasa. Kedatangannya ke rumah tua hanya untuk sembahyang tapi tak hirau kerabat. Jangan seperti itu. Kisahak tahu, Tuhan meliputi segalanya, isawasyam sarwan idham. maka kedatangan ke rumah tua tentu bukan untuk menelisik Tuhan. Kita ke sini karena ada pepes ikan lele berteman pakis rebus yang menggoda. Santapan yang nikmat bersahaja, sejenak setelah khusu’ memuja. Tuhan tahu, yang perlu bersahabat dan bersima krama adalah kita, kerabat manusia. Maka jangan kisanak merasa hebat karena telah bersila khidmat di depan kemulan taksu yang begitu dekat. Galungan bukan semata soal Hyang Widhi atau Leluhur. Datanglah dan nikmati Galungan di Tegaljadi, Kisanak akan paham, Galungan adalah soal memastikan senyum para kerabat terkembang tanpa tersendat.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

8 thoughts on “Galungan di Tegaljadi”

  1. Ha ha… jadi ingat kelakuan orang2 rantau ketika pulang ke kampung halaman. Bagus banget ini. Pemberitahuannya halus.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s