Restoran

screen-shot-2017-01-08-at-12-06-15-pm

Table fourteen ready for main, please!” Jo berteriak sambil menggotong tumpukan piring dan mangkok kotor di tangannya. Digeletakkannya piring dan mangkok itu di atas meja aluminium di sebelahku. Suara berisik menyentak seiring sendok dan garpu yang berserakan di atas meja. Tak sempat kuperhatikan lebih lama, tanganku sedang tak boleh berhenti menggosok ember plastik putih yang licin karena minyak. Air hangat cenderung panas mengalir dari keran membantuku mengenyahkan minyak yang susah pergi.

Para tukang masak berbicara tiada henti, semua seperti berteriak. Entah apa yang mereka percakapkan, aku tidak mengerti sama sekali Bahasa Thailand. Deru suara kompor yang berjejer di belakangku membuat bising tak pernah berhenti. Penghisap asap yang membentang di atas kompor bergemuruh menyedot asap yang muncul dari bawah. Suaranya memekakkan telinga, sedotannya jelas ganas seakan tak membiarkan satu gumpal asap pun lepas dari cengkeramannya. Sendok yang berdenting, teriakan pra koki yang tak kumengerti, sedotan penghisap asap yang membahana dan gemuruh kompor yang tak pernah berhenti menyempurnakan kebisingan itu. Sementara itu aku tidak punya waktu untuk berpikir dan mengamati. Yang kutahu hanya satu: memastikan segala perabotan yang kotor enyah dari meja di sebelahku dan kemudian menyusunnya dengan rapi di berbagai rak. Aku tak boleh salah, tak boleh lengah dan tak boleh lambat.

One take away, please” Natalie menerobos masuk ke dapur, tangan kirinya memegang lembar pesanan baru dari konsumen, sementara tangan kanannya penuh dengan gelas kotor berisi sisa air putih, sedotan dan irisan jeruk yang tipis. Natalie membawa pekerjaan baru untukku. “Andi, sea food, please!” Jenny berteriak nyaring mengalahkan kebisingan yang ada. Suaranya langsung menukik ke telingaku seakan teriakan itu memang ditujukan untukku seorang. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang menoleh, sepertinya tidak ada orang lain yang mendengar. Perintah seperti yang dikumandangkan Jenny inilah yang satu-satunya bisa menghentikan ketekunanku menggosok perabotan yang kotor di tanganku. Langsung saja aku hentikan gosokan itu dan berlari kencang menuju ruang penyimpanan dingin. Kuraih tiga kotak yang masing-masing berisi ikan, cumi-cumi dan sosis ikan laut berwarna merah. Aku hafal betul, “sea food” berarti tiga kotak itu. Sekali lagi aku tidak boleh salah, dan terutama tidak boleh terlambat. Keterlambatan sama dengan teriakan setengah memaki, yang artinya aku harus kembali dengan pesanan yang benar dalam beberapa detik saja.

Di belakangku berlalu-lalang Jo dan Natalie yang menjadi pelayan. Mereka membawa perabotan kotor atau kertas pesanan lalu menjepitkannya di atas meja aluminium di belakangku. Wajah mereka tegang, titik-titik keringat menghiasi wajahnya. Mereka bergerak cepat mondar-mandir bergantian tangannya menggotong perabotan kotor atau botol berisi air dingin. Aku tahu, begitu keluar dari dapur ini dan berada di depan sana tempat para tamu menikmati makan malam, wajah mereka akan ceria lagi. Di bibir mereka akan tersungging senyuman yang tak berhenti, menyapa setiap orang dan meladeni siapa saja dengan sabar. Mereka tak lupa menyapa, menanyakan kabar setiap konsumen dan menawarkan kalau-kalau mereka memerlukan sesuatu atau makanan tambahan. Setiap ada yang memanggil mereka akan datang tergopoh-gopoh lincah, cepat dan penuh senyum. Mereka selalu siap, cekatan, tenang dan riang gembira. Seperti itulah mereka di mata para konsumen itu. Kalau saja ini sebuah film, tentu saja soundtracknya adalah lagu-lagu yang mendayu menentramkan, mungkin seperti degung Sunda yang mendamaikan hati itu. Keceriaan itu akan berubah drastis 180 derajat begitu mereka memasuki dapur. Mereka tergesa-gesa selalu, menggeletakkan perabotan sehingga suaranya menggelegar dan melengkingkan terikan yang membuat koki ketar ketir hatinya. Teriakan merekalah yang mengingatkan koki bahwa seberapa cepatpun mereka bekerja, selalu saja keinginan konsumen lebih cepat. Tepat ketika mereka memasuki pintu dapur, maka soundtrack aka berubah menjadi lagu-lagu menghentak dari Limbizkit atau Linkin’ Park atau Mission Impossible yang bergairah itu.

Hampir setiap lima menit telepon berdering. Ada saja yang memesan makanan untuk diantar. Eddy, satu-satunya petugas pengantar pesanan malam ini, sibuk luar biasa. Setiap kali pergi meninggalkan dapur untuk mengantar pesanan, tangannya selalu penuh dengan tas plastik masing-masing berisi dua atau tigak kotak makanan. Kadang dia membuka-buka peta sebelum meluncur dengan mobilnya untuk memastikan alamatnya diketahui dengan pasti.

Deru kompor masih tak reda, hisapan penyedot asap tetap tak berhenti dan teriakan para koki tak sedikitpun berkurang volumenya. Dapur kian lama kian panas, keringatkyu menetes, badanku tambah lelah. Kakiku gemetar berdiri berjam-jam dan tanganku mulai putih pucat terendap dalam air berlama-lama. Semua itu tak pernah bisa jadi alasan untuk berhenti karena tumpukan perabotan kotor seakan tak pernah berkurang. Aku menggosok dan menggosok lalu membilas seakan tak kan ada habisnya. Kucuran air panas dari keran membuat tanganku serasa kebal.

Malam jam 23.10 kudapati diriku menggosok lantai dengan alat pel. Malam ini tenang sekali, segala keriuhan telah berhenti. Para koki sudah pulang demikian pula pelayan tamu restoran. Tinggal aku sendiri mengerjakan bagian terakhir: mengepel lantai. Remah-remah makanan, sisa-sisa sayur, minyak yang berserakan, kulit bawah, serpihan daging, ceceran kecap dan saos memenuhi lantai dan harus segera dienyahkan. Saat berhenti sejenak dan bersiap-siap beraksi, tiba-tiba terdengar suara melengking.

Mop the floor, please. Use the new chemical in the white container. I just bought this morning. Make sure you use hot water to clean up all the oil. Don’t forget to also mop under the fridge. We still had some rubbish left under the fridge yesterday. I don’t want that.

Suara perempuan itu seperti halilintar. Nadanya tinggi dan terdengar selalu marah. Petunjuk itu sudah hampir aku hafal karena dikatakan setiap malam. Aku menikmati saja. Lantai dapur restoran yang tadinya kumuh kini mengkilat lagi. Kusapukan alat pel yang telah kucelupkan dalam air yang mengandung cairan kimia. Lantai yang merah hati jadi mengkilat seperti tidak pernah dipakai. Keringatku menetes deras, tapi kini aku lega. Lega karena tak kudengar lagi riuh percakapan para koki yang seperti bertengkar. Lega karena suara kompor dan penghisap asap sudah mati. Malam yang lengang, ku menyelesaikan pekerjaan terakhir. Jumat malam yang melelahkan, akhirnya kuselesaikan juga pekerjaanku menjadi pencuci piring malam ini. Jeje, perempuan bersuara tinggi itu, menyodoriku selembar limapuluhan dan selembar duapuluhan dollar. Tujuh puluh dollar Australia untuk kerja keras semalaman, lumayan.

Aku melaju mengendari mobil melintasi jalanan lengang dari Woonona ke arah Wollongong. Kota kecil ini, jangankan pada malam hari begini, siang hari pun terasa sepi. Dibandingkan Jakarta, kebisingannya jauh tak terbandingkan. Perlahan kutinggalkan segala yang terjadi di restoran Thailand tadi. Aku harus mengubah konsentrasiku ke arah lain: kuliah dan penelitian. Tiba-tiba saja di depanku berkelebat-kelabat wajah profesor pembimbingku, berganti tumpukan buku dan makalah yang memanggil-manggil untuk dibaca. Sekali waktu diselingi kilatan-kilatan animasi presentasi yang belum tuntas. Alangkah banyaknya pekerjaan yang belum terselesaikan. Aku merenung sepanjang jalan.

“Tok tok tok” aku mengetuk pintu. Sebentar kemudian pintu apartemenku terbuka. Kulihat wajah Arum terseyum dengan mata yang masih setengah terpejam. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.50. Malam sudah sangat larut dan aku baru tiba dari bekerja di restoran Thailand. Kulihat Lola sudah tergeletak tidur, lelap dalam mimpi entah apa temanya malam ini. Mungkin tentang anjing tetangga yang selalu diidam-idamkannya, atau tentang kelinci yang selalu dilihatnya di pet shop saat berbelanja mingguan di Figtree Shopping Mall.

“Mas, ada surat nih” Arum membuka percakapan setelah menyiapkan segelas teh panas dan menghidangkan nasi goreng yang aku bawa dari restoran. Aku memang selalu membawa satu kotak makanan yang diberikan cuma-cuma oleh pemilk restoran.
“Dari mana?” aku bertanya sambil membuka surat itu. Arum tidak menjawabnya. Dengan tidak sabar aku membacanya lalu tertegun, menghentikan kunyahanku.
“Kenapa Mas?” Arum tidak sabar bertanya
“Uang sekolah Lola harus dibayar 2 minggu lagi” kami terdiam beberapa saat. Ada perasaan jengah melihat angka AUD 5000 yang tertulis di surat itu. Sekolah SD di New South Wales memang mahal untuk siswa internasional.
“Kok anaknya Pak Budi nggak bayar Mas?”
“Pak Budi kan penerima beasiswa AusAID. Beda sama aku yang beasiswanya dari Dikti”
“Kok aneh ya?”
“Aneh bagaimana?”
“Ya aneh aja, kita belajar ke Australia dengan uang sendiri malah tidak diberi keringanan. Mereka yang dapat beasiswa dari pemerintah Australia malah diberi kemudahan. Kan nggak adil namanya.” Arum bersemangat.
“Ya nggak tahu juga sih. Menurutku sih ini harusnya jadi salah satu pe-er pemerintah kita. Sebelum mengirimkan banyak orang untuk bersekolah ke sini, pemerintah bisa melobi pemerintah Australia untuk memberikan keringanan biaya.”
“Ya, Mas. Indonesia kan memberi banyak uang ke sini dengan mengirimkan ratusan orang bersekolah ke sini. Wajar dong kalau kita mendapat perlakuan yang istimewa. Tanpa mahasiswa Indonesia, jumlah mahasiswa internasional akan jauh berkurang. Pendapatan mereka pasti menurun tajam.”
“Ah sok tahu kamu. Pendapat begitu harus ada datanya. Tahu nggak berapa jumlah mahasiswa Indonesia di Australia? Berapa yang menggunakan beasiswa dari pemerintah Indonesia?”
“Nggak tahu!”
“Makanya, gak usah protes dulu.”
“Tapi logikanya kan gitu. Sederhana aja. Yang gak sekolah S2 kaya aku aja paham.”
“Tapi kan kamu dokter! Berarti pinter dong. Wajar lah kamu bisa memahami apa yang tidak bisa mereka pahami hehehe.”
“Ojo ngono…”

Dalam kegetiran kami sering beradu pendapat setengah berkelakar. Arum telah berkorban begitu banyak. Dia meninggalkan profesinya sebagai dokter di tanah air untuk menemaniku sekolah di Australia. Lola, putri semata wayang kami juga harus berpindah-pindah mengikuti orang tuanya. Tidak mudah bagi anak kecil itu untuk meninggalkan kawan-kawannya di Jogja dan kini harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan kawan baru. Bayaran sekolah yang tidak murah membuat suasana semakin runyam. Segala imajinasi tentang keluarga kecil bahagia yang bermain di hamparan salju sambil membuat boneka salju berhidug wortel sirna sudah. Semua itu hanya ada di buku dan film-film. Kehidupan keluarga kami jauh dari itu semua.

***

“Selamat ya Mas, akhirnya wisuda!” suara lembut itu membuyarkan lamunanku
“Makasih ya Arum. You are the reason I am” kataku lirih menapat wajah Arum lekat. Suasana ruang wisuda yang riuh rendah mendadak seperti hening. Di antara kami, Lola duduk tenang, merasakah kebahagian kedua orangtuanya. Aku tatap lagi sebuah map di tanganku dengan warna biru tua sangat elegan. Logonya membanggakan dan padanya terselip selembar ijazah yang sederhana namun berwibawa. Di bawah namaku tecetak tebal “Doctor of Philosophy”. Menempel dengan frase itu adalah sebuah frase yang lebih panjang berbunyi “with ExaminersCommendation for Outstanding Thesis”. Pikiranku merawang jauh. Jauh hingga ke rumah di desa. Menemui ibu dan bapakku lalu mencium kaki mereka.

“Ini artinya apa Mas?” tiba-tiba Arum bertanya sambil menunjuk frase panjang di bawah frase “Doctor of Philosophy”. “Cum laude” kataku setengah berbisik.

PS. Cerpen ini adalah rekaan belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat kejadian dan status kelulusan, itu hanya kebetulan belaka 🙂

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Restoran”

  1. Alur cerita komplit dapat ku imajinasikan, air dingin dan panas adalah wajib dalam pencucian piring dapat kubayangkan sakitnya tangan yg sudah bergaris-garis akibat air panas dan dingin serta kesibukan direstoran meskipun restoran Mas Andi sepertinya lebih besar dari resto saya dulu bekerja di melb 2002 dan bedanya tidak turut memikirkan kuliah 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s