[Bukan] tabrak lari


dirawat setelah ditabrak

Pagi itu tanggal 13 September 2012, mobil saya ditabrak oleh sebuah mobil saat berhenti di sebuah perempatan yang padat lalu lintasnya. Pagi itu saya mengantar Lita, anak saya, ke sekolah di Jogja bersama mbah putrinya dan harus berhenti karena perempatan sangat padat. Saya lihat polisi sibuk mengatur lalu lintas dengan cekatan. Di depan saya terlihat sebuah mobil berhenti dan sayapun berhenti pada jarak sekitar dua meter di belakangnya. Saya yakin ini posisi aman karena jalannya tidak terlalu menanjak. Untuk kondisi wajar, tidak akan terjadi apa-apa, saya yakin.

Sekitar setengah menit sejak berhenti, tiba-tiba mobil di depan saya bergerak mundur perlahan. Saya kira hanya mundur sedikit karena sopirnya sedang rileks dan lupa menjaga rem dan kopling. Saya tidak panik. Ternyata, lama-lama gerakannya semakin pasti ke belakang mendekati bagian depan mobil saya. Saya hendak menghindar dengan cara bergerak mundur tetapi tidak bisa karena di belakang saya sudah berjejer belasan sepeda motor. Saya pun membunyikan klakson agar sopir mobil tersebut tersandar lalu menginjak remnya. Tidak ada reaksi apa-apa, mobil itu bahkan melaju dengan semakin mantap ke arah saya. Sekali lagi saya lihat ke belakang dan tidak menemukan ruang untuk menghindar, maka sayapun pasrah saja. Maka ‘terciumlah’ bagian depan mobil saya oleh bumper belakang mobil itu. Klakson saya masih melengking tetapi menyelesaikan persoalan. Harus diakui saya jadi emosional, untunglah tabrakan itu tidak begitu keras.

Mbak putrinya Lita juga emosi merespon tabrakan itu dan langsung berteriak. Saya tidak melihat indikasi mobil di depan akan lari tetapi saya kira apa yang dilakukan mbah putri ada benarnya untuk mengantisipasi kalau-kalau penabrak akan lari. Beliaupun segera membuka pintu dan mengejar mobil di depan yang memang belum beranjak ke mana-mana. Melihat gelagat itu saya agak curiga lalu buru-buru mengingatkan agar mbah putri tidak marah. Dalam pada itu, pintu kiri mobil di depan saya terbuka dan seorang lelaki turun dari mobil. Cukup aneh, mengapa bukan sopirnya yang turun. Mbah putri terlihat bercakap-cakap dengan orang itu dan rupanya menyepakati bahwa kami akan berbicara lebih serius soal kejadian itu di lokasi yang lebih sepi.

Saya mengikuti mobil itu dan kemudian berhenti di suatu penggal jalan. Sayapun turun dan segera memasang senyum begitu melihat lelaki yang sama turun dari pintu kiri mobil. Hal pertama yang diucapkannya adalah permohonan maaf atas kejadian itu dan ternyata istrinya sedang belajar mengemudi. Melihat aksi yang simpatik itu, saya tentu tidak perlu marah. Sikap baiknya mengusir rasa jengkel dan amarah. Sayapun spontan mengatakan “tidak apa-apa Pak” padahal jelas-jelas tabrakan itu menimbulkan kerusakan. Bentuk komunikasi yang baik memang bisa mendinginkan kemarahan yang panas. Pertemuan itu singkat sekali dan dia memberikan nomor HP serta namanya kepada saya. “Silakan Bapak perbaiki, Insya Allah saya ganti” katanya dan sayapun percaya karena tingkah lakunya yang terkesan positif.

Sempat terpikir, bagaimana jika nomor HP yang diberikannya palsu atau namanya hanya samaran. Tapi sudahlah, saya memang telah mengambil risiko dengan percaya pada sikap baiknya. Tidak lama setelah kejadian itu, saya megirimkan SMS seperti ini:

Pak xxx, ini HP saya yg ditabrak tadi. Terima kasih atas respon bapak yg bijaksana. Saya akan kabari perkembangannya nanti. Semoga Ibu tdk trauma belajar Pak. Salam hangat. (Made Andi)

Tidak selang beberapa lama, sebuah SMS balasan saya terima:

Ya pak terimakasih sekali atas pengertianya, maaf istri saya td tidak turun malu soalnya cuman pakai daster, insyaallah tdk trauma namanya jg lg belajar, kami tunggu kabar selanjutnya pak, Insya Allah kami gnti kerusakannya. Makasih (xxx)

Moral of the story: jangan pernah hanya memakai daster kalau mengendarai mobil. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi 🙂 Sejak SMS pertama itu, saya putus kontak dengan orang itu karena harus pergi ke luar kota. Sayapun belum sempat memperbaiki mobil saya. Dalam kurun waktu itu, saya juga tidak mendengar kabar dari si penabrak. Wajar karena memang saya yang harus mengabari dia terlebh dahulu.

Suatu hari di bulan Oktober, saya baru sempat ke bengkel. Saya memilih tukang cat mobil Legowo yang lokasinya bisa dicapai dari terminal Jombor ke arah barat beberapa kilometer. Ternyata pelayanannya sangat baik. Sayapun menceritakan apa yang saya inginkan. Intinya saya mau meperbaiki mobil saya, tidak saja untuk kerusakan akibat tabrakan itu tetapi juga goresan-goresan lainnya. Saya pikir mumpung ngecat, bisa sekalian sehingga tidak dua kali kerja. Sebelum itu beberapa kawan bahkan memberi ide iseng agar saya ngecat semua bagian yang lecet dan membebankan biayanya kepada si penabrak, toh dia juga tahu kondisi mobil sebenarnya. Good idea? Tentu saja tidak!

Saya secara khusus minta kepada bengkel untuk menghitung biaya perbaikan bumper depan yang lecet akibat tabrakan lalu menghitung biaya perbaikan bagian lain secara terpisah. Mereka memberikan harga Rp. 400.000,- untuk bagian depan dan tambahan Rp. 150.000,- untuk towing cover yang memang rusak. Katanya harus diganti. Saya tidak ingin si penabrak menunggu lama maka saya mintakan kwitansi pembayaran di muka, khusus untuk perbaikan bagian depan. Sayapun mengirimkan SMS:

Selamat siang Pak xxx. Saya Made Andi yg kemarin dulu disenggol sama mobil Bapak 🙂 maaf lama tdk kontak krn saya harus ke luar kota. Saya sdh perbaiki dan habisnya 550rb. Saya bs kirim kwitansi sehingga bapak jg bisa Check agar sama2 enak 🙂 mohon perkenan bapak mengganti biaya tersebut. Atas kesediaan Bapak saya sampaikan terima kasih 🙂

Ternyata perbaikan mobil saya bisa lebih cepat dari yang direncakan dan berita bagusnya adalah towing covernya tidak jadi diganti, hanya diperbaiki. Sayapun mengirimkan SMS lagi:

Kemarin saya kirim SMS dg harga 550rb, ternyata dipotong 150 krn cover tdk diganti, hanya diperbaiki. Nuwun.

Beberpa saat kemudian saya menerima sms dari beliau:

Selamat mlm pak, mohon maaf baru bisa balas smsnya karena saya msh ada diluar kota, mohon dikirim no rek agar kami bisa mentransfer biaya perbaikannya, dan untuk kwitansinya tidak usah dikirim karena kami percaya dgn bapak,suwun

Tanpa menunggu lama, sayapun kirimkan nomor rekening saya:

Terima kasih atas kepercayaan Pak xxx. Rek saya 137### an I Made Andi Arsana, Mandiri Yogyakarta. Matur nuwun

Balasan dari beliau sangat baik dan cukup menyentuh:

Ya pak, dlm minggu ini stlah terima gaji saya akan transfer ke rek bpk, nanti sy kabari kalau sudah ditransfer, atas pengertianya kami ucapkan maturnuwun

Saya jawab singkat:

Nggih Pak. Matur nuwun

Beberapa hari kemudian, saya menerima sebuah SMS:

Siang pak, uang biaya perbaikan mobil sudah kami transfer, suwun

Sayapun segera membalasnya setelah mengecek uangnya yang ternyata sudah masuk rekening saya.

Matur nuwun Pak. Sdh saya terima. Terima kasih atas kerjasama Bapak. Sangat saya hargai.

Saya menuliskan cerita ini karena menurut saya ini sebuah peristiwa langka. Kita terlalu sering disuguhi berita buruk dan perseteruan di Indonesia. Kebaikan orang yang menabrak saya dan tanggung jawabnya mengingatkan kita semua bahwa Indonesia dipenuhi oleh orang-orang baik. Sayangnya, orang-orang demikian sering tenggelam di tengah hiruk pikuk berita buruk yang seakan-akan mewakili Indonesia. Selain itu, kebaikan orang ini membuat saya tetap yakin dengan buah kebajikan. Dalam agama saya, semua itu tidak lepas dari Hukum Karma Pala. Kebaikan kecil yang pernah saya tanam memang pada akhirnya akan berbuah.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s