Benarkah bisa lulus sekolah di Australia tanpa ujian?


Bersama Prof. C. Rizos, pembimbing S2

Orang Indonesia umumnya membayangkan gelar kesarjanaan, baik itu S1, S2, maupun S3 diperoleh setelah melalui ujian tugas akhir. Di Indonesia, umum kita ketahui, misalnya, lulus S1 harus melalui ujian skripsi. Ada yang menyebutnya pendadaran, ada yang mengistilahkan seminar. Di tingkat S2 dan S3 juga sama, selalu ada ujian untuk mempertahankan hasil karya tugas akhir (tesis maupun disertasi). Bagaimana dengan di Australia?

Sistem pendidikan di Australia agak berbeda. Seorang kandidat master/S2 by research atau S3 lulus tanpa melalui ujian oral berupa seminar tesis/disertasi. Enak sekali jika demikian? Bisa dianggap begitu, bisa juga tidak. Seorang kandidat s2 by research atau S3 yang sudah menyelesaikan karya tulisnya (di Australia disebut thesis) akan menyerahkan karya tersebut ke universitas. Selanjutnya thesis itu akan diuji dengan cara dibaca dan dinilai oleh ahli di bidangnya yang berasal dari universitas luar. Bisa di Australia atau di luar negeri. Penentuan penguji ini dilakukan oleh supervisor/pembimbing. Tentu saja mereka akan pilihkan yang kepakarannya diakui dan dikenal baik oleh supervisor. Hanya saja, calon penguji ini tidak boleh sedang memiliki kerjasama dengan supervisor. Hal ini tentu agak menyuliskann karena pakar-pakar dunia yang saling kenal biasanya bekerjasama dalam berbagai hal.

Intinya, kelulusan s2 by research dan S3 di Australia tetap melalui penilaian yang ketat tetapi tidak melalui ujian oral dan presentasi langsung. Selanjutnya penguji ini, yang jumlahnya 2 orang, akan menentukan apakah thesis itu layak lulus atau tidak. Kategori hasil penilaian thesis ini beragam, misalnya lulus tanpa revisi, lulus dengan revisi minor, lulus dengan revisi mayor, harus mengulang dan sebagainya. Hasil penilaian inilah yang kemudian dijadikan dasar oleh kandidat untuk mengambil langkah selanjutnya. Jika lulus tanpa revisi tentu saja tidak ada masalah. Jika lulus dengan revisi minor maka disertasi itu harus diperbaiki tetapi tidak perlu dinilai lagi oleh penilai luar, cukup disetujui oleh ketua jurusan dan komite internal di universitas tempatnya belajar. Jika revisi mayor tentu konsekuensinya lain lagi.

Apa kelebihan sistem ini? Bagi yang punya masalah dengan presentasi, mungkin melihat sistem ini baik karena karyanya tidak dinilai dari caranya mempresentasikan secara oral. Selain itu sistem ini menjamin thesis dibuat dengan sangat baik karena itu adalah satu-satunya aspek yang menjadi penentu. Dengan kata lain, seorang yang lulus master by research atau S3 di Australia, semestinya telah belajar menulis dengan ekstra keras sehingga, idealnya, kemampuan menulisnya menjadi baik.
Adakah kelemahannya? Ketika seseorang menyerahkan thesis untuk dinilai/diuji, dia sudah lepas kendali terhadap karyanya. Nasibnya sepenuhnya ditentukan oleh dua orang ‘Dewa’ penguji itu. Meskipun ada durasi yang disediakan bagi para penguji, sering kali prosesnya berlangsung lebih lama dan tidak pasti. Hal ini sangat tergantung dari kesibukan penguji. Jika beruntung, hasil ujian sudah bisa diterima dalam waktu enam minggu sejak thesis diserahkan ke universitas. Jika tidak beruntung, proses bisa jauh lebih lama dari itu. Bagi seorang bukan penutur asli Bahasa Inggris, saya merasa sistem ini kurang menguntungkan. Rasanya tidak adil jika kualitas akademik seorang bukan penutur asli Bahasa Inggris dinilai hanya dari ekspresi tulisan Bahasa Inggrisnya. Harus diakui, saya sendiri masih mengalami banyak masalah dalam menulis bahasa Inggris. Nilai rasa ekspresinya yang kadang jadi masalah, bukan grammar atau tata bahasa.

Sementara itu, mereka yang sudah menyerahkan thesis untuk diuji biasanya akan pulang ke negara masing-masing. Hal ini terjadi terutama pada mereka yang sekolah dengan beasiswa seperti ADS, ALA, dll. Maka sangat umum dijumpai seorang yang sekolah di Australia kemudian pulang ke tanah air, sudah selesai sekolah, tetapi sesungguhnya belum lulus. Di masa seperti inilah biasanya seorang kandidat mengalami masa-masa sulit. Mulai dari hal kecil seperti seringnya menerima selamat dan permintaan untuk mentraktir hingga hal-hal serius seperti nama yang sudah ditambahi gelar S2 atau S3 ketika ada undangan resmi. Selain itu, yang paling tidak mengenakkan tentu saja adalah kegelisahan saat menunggu. Menunggu yang mencemaskan. Maka jika melihat teman yang baru pulang dari sekolah S2 (by research) atau S3 di Australia, jangan buru-buru menyelamatinya karena bisa saja mereka sesungguhnya belum lulus.

Jika pengumuman hasil penilaian sudah keluar apa yang dilakukan? Tentu saja kandidat harus merespon hasil penilaian. Jika ada revisi harus melakukan revisi. Ini juga kadang jadi sumber masalah. Jika kandidat sudah berada di Indonesia dan disibukkan oleh kewajiban utama di tempat kerjanya, proses revisi ini bisa tersendat. Ada juga yang memutuskan untuk berangkat ke Australia dan melakukan revisi di kampusnya. Biasanya ini dilakukan dengan biaya sendiri atau ada kesepakatan lain dengan supervisor. Jika disiplin bisa menyelesaikan dari Indonesia maka akan lebih sederhana prosesnya dan tentunya lebih murah. Penyerahan thesis final bisa dilakukan lewat email. Setelah revisi dilakukan maka diserahkan kembali ke pihak berwenang untuk diputuskan dan mendapatkan penganugerahan gelar final. Apakah akan ikut wisuda atau tidak, ini adalah cerita lain. Jika sudah di Indonesia tentu saja tidak mudah kembali untuk wisuda, terutama karena faktor biaya. Meski demikian, banyak sekali teman akhirnya kembali ke Australia hanya untuk mengikuti wisuda. Artinya mereka sudah menyiapkan dana jauh-jauh hari untuk momen istimewa itu.

Jadi apakah seseorang bisa lulus sekolah S2 by research atau S3 di Australia tanpa ujian? Sesungguhnya bukan tanpa ujian, hanya saja ujiannya tidak dalam bentuk oral defense.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

14 thoughts on “Benarkah bisa lulus sekolah di Australia tanpa ujian?”

  1. Untuk S2 by coursework apakah perlu membuat thesis? Jika tidak perlu, apakah ada ujian untuk menentukan kelulusan setelah menyelesaikan mata kuliah terakhir di kampus? Terima kasih infonya pak.

  2. Terima kasih pak untuk infonya, bermanfaat skali, kebetulan sy tertarik jg utk ikuti beasiswa S2 ke australi, meskipun blm tau bakalan dtrima ato ngga, sy mw tny jangka wkt blajarny, apakh pake sistem sks gitu sprti s1 disini, dan apakh dsna memakai istlah semester, libur semester, ato libur apa gitu, soalny sy sdh berkluarga, sy jg ga kepengen trlalu lama2 jauh dr keluarga, kebetulan sy sdh punya anak, mohon infonya ya pak, terima kasih byk.

  3. Trima ksh pak infonya.. pak saya mau tanya.. saya lihat phd public policy di unsw ada 1 tahun course work.. selanjutnya 2 tahun riset, brp mata kuliah y yang hrs saya selesaikan.. dan apakah datanya boleh menggunakan data dari indonesia misalnya dari bps.. terima ksh pak..

  4. Hi pak Andi, saya berencana akan mengambil program S1 di Australia. Apakah sistem kelulusan S1 di sana juga tidak melalui skripsi? Thanks!

  5. halo pak, apakah ada tulisan bapak mengenai university of western Australia ?
    bagaimana persiapan dan kehidupan disana?

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s