Meminjamkan mata hati

dinazhar.multiply.com

Suatu pagi, saya mengantar Lita ke sekolah. Kami melewati sebuah pasar yang ramai bukan main sehingga saya harus melaju sangat pelan. Di depan saya terlihat seorang anak SMA perempuan yang berjalan agak di tengah. Sepertinya anak ini kurang menghiraukan lalu lintas yang padat. Dia telah menambah keruwetan pasar pagi itu. Tak ayal lagi, motor dan mobil membunyikan klakson membuat suasana jadi riuh rendah. Sebuah mobil yang berjalan tepat di belakang anak SMA itu bahkan membunyikan klaksonnya dengan keras dan panjang karena anak itu tidak menghentikan langkahnya. Selanjutnya anak itu terlihat panik dan justru berjalan agak ke tengah jalan sehingga nyaris bertabrakan dengan mobil yang saat itu sudah melintas di sampingnya. Mobil itupun secara tiba-tiba berhenti, orang-orang di pasar berteriak histeris. Saya berharap-harap cemas, apa yang akan terjadi. Terbayang si bapak sopir akan berteriak memaki anak SMA yang tidak tahu aturan itu.

Continue reading “Meminjamkan mata hati”

Terang Bulan

Saat berada di Bali, saya menghabiskan banyak waktu bersama keluarga. Tidak saja menemani Asti belajar, saya juga berperan sebagai tukang antar ibu saya kalau sedang melakukan aktivitas terkait bisnis kecilnya. Suatu hari saya datang dari sebuah proyek pembangunan properti di Tabanan dan mampir membeli gorengan dalam perjalanan pulang. Pedagang kali lima itu berjualan di depan sebuah toko bernama Wijaya di Jalan Kapten Tendean, di Tanah Bang (atau Pemenang, saya kurang yakin). Lokasinya tidak terlalu jauh di sebelah utara Rindam IX Udayana di Kediri, Tabanan.

Continue reading “Terang Bulan”

National.is.me

Merah Putih

Di sebuah milis yang saya ikuti, sempat terjadi diskusi menarik soal nasionalisme. Beberapa ilmuwan Indonesia memilih untuk tidak pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikannya. Tentu banyak yang prihatin akan hal ini. Saya memiliki satu pandangan.

Dimensi geografis di masa lalu tentu sangat berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Teknologi saat ini membuat dunia jadi ‘lebih kecil’ secara signifikan. Dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kita bisa tahu apa yg dilakukan seorang kawan di Finlandia dan dua detik kemudian bertegur sapa dengan kolega di Afrika Selatan. Ini tidak bisa dilakukan di tahun 80an. Saat ini ‘negara’ dengan jumlah pendudukan terbesar ketiga bernama Facebook, taman bermain paling besar bernama Google Earth dan tempat ngerumpi paling asyik mungkin saja Twitter.

Continue reading “National.is.me”

Diterima beasiswa ADS: DIJAMIN!

Apakah Anda salah satu dari 5-6000an orang hebat Indonesia yang sedang berjuang mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS)? Mudah-mudahan Anda tidak tergoda membaca tulisan ini gara-gara judulnya demikian. Silakan kecewa karena tidak ada yang bisa menjamin Anda diterima beasiswa luar negeri.

Saya sering mendapatkan pertanyaan atau curhat terkait beasiswa luar negeri, terutama ADS. Ada yang bertanya “seberapa besar peluangnya?” Ada yang ingin tahu “layakkah saya?” Tidak sedikit yang bahkan pesimis, merasa tidak mungkin diterima. Membayangkan ada 5000an orang yang mendaftar untuk kuota yang hanya 400, kita mudah sekali tergoda untuk merasa tidak mampu bersaing. Mudah sekali untuk berpikir “saya pastilah bukan salah satu dari 400 orang terbaik dari 5-6000an orang itu. Saya bukan siapa-siapa.”

Tulisan ini bukan motivasi yang membuat Anda tiba-tiba berubah jadi semangat lalu berdiri tegak siap menghadapi air bah dan menjadi tidak realistis. Bukan! Saya tidak punya kapasitas itu dan saya memang tidak bisa menjamin seseorang bisa diterima beasiswa. Saya hanya ingin ingatkan bahwa syarat beasiswa ADS itu adalah TOEFL 500 dan IP di atas 2,9. Jika tidak ada yang bisa bisa menjamin seseorang lolos beasiswa maka tidak boleh ada satu orang pun di muka bumi ini yang berhak mendikte “kamu pasti tidak lolos” jika memang Anda memenuhi syarat.

Kita adalah para pejuang. Tugas kita hanya satu: berusaha dengan segenap upaya. Tugas kita bukan menghakimi, apalagi menghakimi diri sendiri. Bahwa IMPOSSIBLE bisa jadi adalah I’M POSSIBLE yang kita baca secara salah. Selamat berjuang, kawan!

Pengembara Geospasial

Saya penah dihubungi seseorang dari Jakarta. Beliau memerlukan bantuan karena putranya akan bersekolah di Wollongong. Seperti biasa, sayapun membantu sebisanya dengan informasi yang saya punya. Yang cukup mengejutkan adalah ketika beliau tiba di Wollongong. Sepertinya hafal dengan semua jalan dan lingkungan, padahal baru pertama kali ke Wollongong. Ketika saya tanya, ternyata beliau sudah melakukan kunjungan virtual dengan Google Maps sebelum kunjungan sebenarnya. Saya menyebut orang-orang seperti ini sebagai “pengembara geospasial”, mereka yang melakukan perjalanan dengan persiapan geospasial yang matang. Peta adalah andalan mereka.

Continue reading “Pengembara Geospasial”

Kartu Nama Pak Dino

Bandingkanlah

Sore tadi saya menyimak sebuah suguhan inspiratif: pemaparan Bapak Dino Patti Djalal, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, soal Diaspora Indonesia. Diaspora Indonesia, dalam bahasa sederhana, adalah orang yang memiliki keterikatan Indonesia namun tinggal di luar Indonesia. Pemaparannya terkait hasil pelaksanaan sebuah kongres bersejarah di Los Angeles beberapa hari lalu yang bertajuk Congress of Indonesian Diaspora (CID). Dalam lawatannya ke Australia kali ini, beliau menyempatkan diri bertemu masyarakat Indonesia di Sydney dan menyampaikan apa yang terjadi di LA beberapa waktu lalu. Hasil pertemuan Diaspora Indonesia itu disajikan kepada Diaspora Indonesia di Sydney.

Continue reading “Kartu Nama Pak Dino”

Ide Juara yang Sederhana, Sebuah Ide untuk Jakarta

Saya mengikuti sebuah lomba penulisan esai bertema “Solusi untuk Jakarta” yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Indonesia (KMI) Belanda. Yang menarik tentu saja hasilnya. Saya menjadi juara dari 54 peserta di Asia, Australia, Amerika dan Eropa. Hasilnya sudah jelas, saya ingin mengungkap cerita di baliknya.

Continue reading “Ide Juara yang Sederhana, Sebuah Ide untuk Jakarta”

Katakan dengan Bunga

Saya sering mengandalkan bunga untuk menyatakan sesuatu. Ketika pacaran sama Asti dulu, paling sering membeli bunga di dekat RRI di Jogja. Kala itu, setangkai tidak sampai Rp 5000. Pasti bisa menebak, berapa usia saya sekarang ini. Sebagian orang menganggap bunga itu lebai, berlebihan atau picisan. Yang demikian, mungkin memili menyatakan cinta dengan tas kulit buaya, atau boot kulit domba dari New Zealand, atau ikat pinggang merek Paris atau kaca mata dari New York.

Sejak berpisah, saya di Australia Asti dan Lita di Jogja, kebutuhan membeli bunga lebih tinggi. Akhirnya saya menemukan solusi pesan antar bunga di Jogja. Nama toko online ini adalah Jogja Florist dan saya harus berterima kasih kepadanya. Prosesnya juga sangat mudah. Saya kunjungi websitenya, pilih paket dari katalog lalu email untuk memesan. Beberapa menit kemudian ada konfirmasi bahwa stoknya ada lalu saya lakukan pembayaran dengan internet banking Mandiri. Beberapa menit kemudian muncul konfirmasi dan nanti sorenya sudah ada pesan dari Jogja “terima kasih bunganya”. Singkat mudah dan terutama, maaf, affordable (istilah lebih canggih dari “murah”)

Continue reading “Katakan dengan Bunga”

Mari Kita Ganyang Malaysia

Perselisihan dua bangsa serumpun ini sepertinya tidak habis-habis. Inilah sepuluh alasan mengganyang Malaysia:

http://duniadongeng.wordpress.com/

Continue reading “Mari Kita Ganyang Malaysia”

Trikaya Parisudha

ikmbali.wordpress.com

Suatu sore saya mendapat sms dari ibu mertua “Yah, Lita mau belajar Agama sama ayah jam 7 ya!” Dari semua sms yang ada, ini termasuk salah satu yang menegangkan. Segaul-gaulnya seorang Bapak, ketika tiba saatnya, maka dia harus mengajarkan agama kepada anaknya. Di titik inilah dia akan bertanya pada dirinya, seberapa paham dia tentang agama yang dianutnya.

Continue reading “Trikaya Parisudha”