e-Book untuk Saraswati

saraswatiIbu Nyoman Metriani bertanya pada kelasnya “apa gunanya belajar ilmu pengetahuan?”. Itu sekitar tahun 1987, saya baru kelas empat SD dan sedang ‘mengintip’ kelas kakak saya yang sedang diajar oleh Ibu Met, begitu kami memanggil beliau. Waktu itu sedang gencar-gencarnya dicanangkan CBSA, cara belajar siswa aktif yang terkenal itu. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Mungkin itu yang malih rupa menjadi student-centred learning yang entah mengapa lebih terkenal dengan bahasa dari bumi seberang. Kelas Ibu Met terdiam sesaat sebelum satu dua anak angkat tangan memberi jawaban. Adalah Wayan Sudar yang menjawab agak berbeda “untuk asah otak” katanya. Saya suka jawaban itu tapi rupanya Ibu Met punya pendapat lain. Beliau berkata “kalau otakmu sudah tajam dan runcing, lalu untuk apa?” Kelaspun terdiam.

Anak kelas empat SD tentu tidak cukup pintar memaknai kejadian itu. Saya suka sekali mendengar kata “asah” yang diucapkan Wayan Sudar dan sama terkesannya dengan frase “tajam dan runcing” yang disampaikan Ibu Met. Yang membuat saya bertanya-tanya adalah frase “untuk apa?” Perenungan seorang anak SD tentu saja tidak mendalam. Perenungan yang mudah terlupakan oleh sorak sorai adu jangkrik atau main layangan. Atau oleh sensasi menemukan sebutir telor bebek di pematang sawah selepas panen padi atau kegembiraan berburu ketupat burung yang berjuntai di sanggah-sanggah bambu saat Subak ngusaba desa, menyambut panen tiba.

Continue reading “e-Book untuk Saraswati”

Kolak untuk Buka Puasa

http://www.tabloidbintang.com/

Saya sedang di ruang kerja di kampus Teknik Geodesi UGM sore itu di tahun 2006. Sayup-sayup saya dengar kawan-kawan mahasiswa sedang berkegiatan di luar. Jika tidak salah memahami, mereka sedang melakukan kajian-kajian keagamaan. Kala itu Bulan Ramadhan, para mahasiswa giat mendalami agama sebelum berbuka. Tidak ingin mengganggu mereka, saya tidak keluar ruangan dan masih setia di depan komputer sambil menyelesaikan beberapa hal yang masih tertunda.

Sejurus kemudian saya dengar lantunan adzan. Sesuatu yang sudah lama tidak terdengar karena dua tahun sebelumnya saya meninggalkan Jogja, ke suatu tempat yang tidak ada suara adzan. Lantunan adzan itu mengingatkan saya akan kenangan lama ketika datang ke Jogja pertama kali di tahun 1996 untuk menuntut ilmu di UGM. Suara adzan yang terdengar di setiap tempat di Jogja ketika itu mejadi salah satu penanda saya telah memasuki satu peradaban baru. Teman-teman muslim mungkin tidak merasakan betapa berkesannya suara adzan itu bagi saya. Sesuatu yang asing dengan pesan yang kuat. Pesan universal tentang ajakan untuk menghadap Sang Pencipta, apapun agama yang dipeluk si pendengarnya.

Continue reading “Kolak untuk Buka Puasa”

Nggak Pantes

Genjo tertunduk lesu, dia sedang mendengarkan ceramah seorang senior. Sejak bersekolah di luar negeri Genjo kerap mendapat nasihat ini dan itu dari kawan-kawan seniornya yang baik dan peduli.

“Kamu tidak pantes melakukan itu, Genjo. Apa kata orang nanti!?” Genjo takzim mendengarkan tanpa membantah sedikitpun. Dia paham, tidak ada gunanya menjelaskan, apalagi membantah.

“Kita ini orang timur, nggak pantes melakukan hal-hal demikian. Kamu jangan ulangi lagi ya, bisa heboh orang Indonesia yang ada di sini kalau kamu tetap seperti itu.” Genjo masih diam, dia tekun menyimak.

Continue reading “Nggak Pantes”

Murid baru di Sydney

muridbarusydneyPernahkah kisanak rasakan menjadi murid baru di sebuah perguruan? Cobalah menjadi murid baru di Sydney dan datanglah dari kota-kota kecil di Indonesia ke kota megapolitan Sydney. Mereka yang datang dari Jakarta atau kota besar lainnya mungkin akan terpana. Bukan terpana karena kemewahan dan kemegahannya tetapi karena kesepiannya dan hingar bingarnya yang tak sehebat Ibukota kita.

Jika kisanak belum pernah ke negeri seberang, terkejutlah karena tanah rantau tak jauh berbeda dengan ibu pertiwi. Bahwa globalisasi itu niscaya. Tempelan merek barang keseharian di pinggir jalan di Tabanan, tak jauh berbeda dengan semarak umbul-umbul di Kingsford. Tapi cobalah rasakan manusia-manusianya yang berbeda. Mereka menuggu lampu berpijar hijau untuk menyeberang jalan dan sabar menunggu bus di halte yang sudah diharuskan. Mereka berjalan tanpa perlu menoleh ketika melintasi jalanan yang dicat loreng putih. Mereka hidup dalam kepastian. Maka jangan heran jika kecelakaan bisa terjadi dengan hebat dan mengakibatkan celaka 13 jika satu saja dari mereka tidak mengikuti kaidah. Kepastian yang memanjakan itu bisa membuat mereka tidak waspada. Berbeda dengan kita yang senantiasa siaga. Kita tidak melewati lampu hijau dengan santai karena selalu memberi ruang bagi pelanggar dari sisi lainnya. Kita tidak menyeberang jalan di zebra cross dengan tenang karena selalu menoleransi mobil yang tetap melaju dengan kecepatan sama dari dua arah berbeda. Kita hidup di negeri yang mendidik kewaspadaan tinggi.

Continue reading “Murid baru di Sydney”

Menyelamatkan diri dengan Educreation dan Corel Draw

Suatu pagi saya mendapati ada panggilan tak terjawab (missed call) di iPhone. Ini tentu hal biasa karena iPhone memang lebih sering di-silent. Yang membuatnya tidak biasa adalah nama yang tertera di layar. Sebuah nama yang menggetarkan hati, nama seorang profersor. Dia adalah pembimbing saya, maha guru di bidangnya. Tanpa menunggu lama tentu saja saya menelpon balik. Pertanyaan pertanya yang muncul darinya adalah “Andi, are you in Australia at the moment?” Tentu saja dia mengatakannya dengan sedikit kelakar menahan tawa. Entah ini terjadi karena dia tahu saya memang suka berkeliaran ke mana-mana atau semata-mata karena dia yang super sibuk sehingga tidak tahu di negara mana bimbingannya berada. Semua itu tentu saja basa-basi yang tidak ada hubungannya dengan maksudnya menghubungi saya pagi itu.

Continue reading “Menyelamatkan diri dengan Educreation dan Corel Draw”

Kembalinya si iPhone hilang

Sore tadi, saat mengantar Asti, isteri saya, menjelajahi kampus UNSW di Sydney sambil melakukan enrollment, saya kehilangan iPhone. Setelah menyelsaikan segala urusan administrasi, kami ngobrol di taman di depan perpustakaan sambil menunggu teman untuk nantinya menjenguk kawan yang sedang sakit. Karena tergesa akan berangkat, rupanya iPhone saya tertinggal dan akhirnya sadar saat berada di rumah sakit. Sesaat setelah memastikan bahwa iPhone memang ketinggalan, saya berusaha tidak panik. Panik jelas tidak akan membantu meskipun tentu saja amat sangat khawatir. Nilai akuntansi iPhone yang sudah berusia lebih dari 3 tahun itu mungkin sudah tidak ada tetapi nilai non-materialnya tinggi sekali. Bukan, saya tidak sedang berbicara tentang foto dan video yang ada di sana. Sejauh ini aman, koleksi yang penting sudah diamankan di tempat lain.

Continue reading “Kembalinya si iPhone hilang”

Ucapan Natal yang salah alamat?

http://pujo.web.id/

Sore tadi, saya menerima telepon dari seorang sahabat baik. Kami berbicara banyak hal yang penting dan tidak begitu penting. Selalu menyenangan berbicara dengan sahabat baik, apapun topiknya. Di ujung percakapan dia mengucapan “Selamat Natal” dengan sangat ringan tanpa beban. Sambil tertawa renyah sayapun membalas tidak kalah santainya “Selamat Natal juga”. Jika tidak dipikir serius, ucapan ini biasa saja. Dia jadi tidak biasa karena yang mengucapkan adalah seorag Muslim dan diucapan kepada seorang pemeluk Hindu. Tidak satupun dari kami merayakan Natal dalam konteks agama. Meski demikian kami tentu saja menikmati libur natal dan akhir tahun karena sama-sama berada di Australia.

Continue reading “Ucapan Natal yang salah alamat?”