Sakit

Tahun 1999 saya pernah dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Kala itu masih mahasiswa dan demam berdarah telah menundukkan saya. Ketika ditanya oleh Ibu saya, Asti, yang ketika itu masih jadi pacar, berkata setengah berkelakar “Bli Andi cuma perlu istirahat, Me’. Kalau tidak sakit, dia tidak akan istirahat”. Kata-kata itu saya ingat terus. Candaan itu sederhana tetapi rupanya benar berlaku pada saya. Sakit membuat saya berhenti. Tidak saja istirahat tetapi juga berpikir dan terutama merenung.

Continue reading “Sakit”

Kembalinya si iPhone hilang

Sore tadi, saat mengantar Asti, isteri saya, menjelajahi kampus UNSW di Sydney sambil melakukan enrollment, saya kehilangan iPhone. Setelah menyelsaikan segala urusan administrasi, kami ngobrol di taman di depan perpustakaan sambil menunggu teman untuk nantinya menjenguk kawan yang sedang sakit. Karena tergesa akan berangkat, rupanya iPhone saya tertinggal dan akhirnya sadar saat berada di rumah sakit. Sesaat setelah memastikan bahwa iPhone memang ketinggalan, saya berusaha tidak panik. Panik jelas tidak akan membantu meskipun tentu saja amat sangat khawatir. Nilai akuntansi iPhone yang sudah berusia lebih dari 3 tahun itu mungkin sudah tidak ada tetapi nilai non-materialnya tinggi sekali. Bukan, saya tidak sedang berbicara tentang foto dan video yang ada di sana. Sejauh ini aman, koleksi yang penting sudah diamankan di tempat lain.

Continue reading “Kembalinya si iPhone hilang”