Murid baru di Sydney

muridbarusydneyPernahkah kisanak rasakan menjadi murid baru di sebuah perguruan? Cobalah menjadi murid baru di Sydney dan datanglah dari kota-kota kecil di Indonesia ke kota megapolitan Sydney. Mereka yang datang dari Jakarta atau kota besar lainnya mungkin akan terpana. Bukan terpana karena kemewahan dan kemegahannya tetapi karena kesepiannya dan hingar bingarnya yang tak sehebat Ibukota kita.

Jika kisanak belum pernah ke negeri seberang, terkejutlah karena tanah rantau tak jauh berbeda dengan ibu pertiwi. Bahwa globalisasi itu niscaya. Tempelan merek barang keseharian di pinggir jalan di Tabanan, tak jauh berbeda dengan semarak umbul-umbul di Kingsford. Tapi cobalah rasakan manusia-manusianya yang berbeda. Mereka menuggu lampu berpijar hijau untuk menyeberang jalan dan sabar menunggu bus di halte yang sudah diharuskan. Mereka berjalan tanpa perlu menoleh ketika melintasi jalanan yang dicat loreng putih. Mereka hidup dalam kepastian. Maka jangan heran jika kecelakaan bisa terjadi dengan hebat dan mengakibatkan celaka 13 jika satu saja dari mereka tidak mengikuti kaidah. Kepastian yang memanjakan itu bisa membuat mereka tidak waspada. Berbeda dengan kita yang senantiasa siaga. Kita tidak melewati lampu hijau dengan santai karena selalu memberi ruang bagi pelanggar dari sisi lainnya. Kita tidak menyeberang jalan di zebra cross dengan tenang karena selalu menoleransi mobil yang tetap melaju dengan kecepatan sama dari dua arah berbeda. Kita hidup di negeri yang mendidik kewaspadaan tinggi.

Continue reading “Murid baru di Sydney”