Ada apa dengan Cinta 2: Sebuah Review

Aku pastilah diselimuti subyektivitas stadium tinggi saat berbicara soal film Ada Apa dengan Cinta 2. Aku seorang penggemar. Maka jangan jadikan review ini sebagai satu-satunya kiblat. Engkau mungkin tersesat.

Continue reading “Ada apa dengan Cinta 2: Sebuah Review”

Setangkai mawar pengingat

Kisanak, jika kamu melintas di depan toko bunga itu, berhentilah sejenak. Sempatkanlah menikmati ranum mawar yang wanginya menawan, lalu pilihlah setangkai. Ambillah dengan niat penuh seluruh dan tukarlah dia dengan selembar uang pengganti keringatmu, lalu ciumlah penuh sukacita. Silakan bergegas pergi dan niatkanlah dalam hatimu akan sebuah nama dan sebentuk wajah. Jadikanlah nama dan wajah yang tak asing itu sebagai penerima persembahanmu.

Tidak usah menunduk apalagi bersimpuh berlutut. Kisanak tidak perlu lakukan itu. Berikanlah setangkai mawar putih itu kepadanya. Kepada dia yang menunggumu di balik pintu, tak peduli seberapa terlambat dirimu kembali menjumpai rumah. Kepada dia yang tak peduli dingin atau panas, menebar senyum saat dirimu turun dari pelana kuda seraya menambatkannya di samping pondokan. Kepada dia yang menipu kantuknya sendiri demi menyambutmu di temaram lampu yang terpedaya oleh ketulusannya. Kepada dia yang di saat tertentu hanya punya satu kata: dukung.

Continue reading “Setangkai mawar pengingat”

Puisi Akar Tiga

Pernah aku khawatir, aku akan bernasib seperti akar kuadrat tiga yang sendiri dan kesepian. Angka tiga sesungguhnya sempurna dan rupawan. Namun kesempurnaannya sirna saat dia tidak terlihat karena tertutup dan tersembunyi di bawah naungan tanda akar kuadrat yang angkuh dan keji. Angka tiga menjadi tidak berdaya.

Seandainya saja aku adalah angka sembilan, maka aku pasti bisa melepaskan diri dari tanda akar kuadrat yang keji ini dengan mantra-mantra aritmatika sederhana. Aku sadar, aku tidak akan pernah menyaksikan matahari dengan tenang dan tuntas karena aku adalah 1,7321 yang masih bisa memanjang dan tidak berhenti. Aku adalah sebentuk irasionalitas yang mengenaskan dan ini adalah keniscayaan yang kadang tak sempat aku pertanyakan.

Aku terdiam dalam ketidakmengertian, berharap menemukan ketertolongan yang sejatinya tidak pernah aku bisa bayangkan sejatinya. Pencarian itu berhen ti di suatu ketika, saat aku melihat pencerahan. Alam mungkin ikut mendengarkan apa yang kudengar. Turut menikmati apa yang aku lihat. Sebuah akar kuadrat tiga lainnya hadir berkelebat. Dia menari anggun, mengundang dan menghampiri. Ternyata aku tidak sendiri. Kutemukan takdirku, akar kuadrat tiga yang juga sendiri dan kesepian. Mari kita mengalikan diri, membentuk angka yang kita inginkan. Kita telah menjelma menjadi intejer yang terbebas dari kungkungan tanda akar yang keji dan kejam.

Kita membebaskan diri dari keterikatan yang mematikan dengan kibasan sebuah tongkat ajaib. Dan tanda akar kuadrat yang mengekang kita kini sirna. Maka cintamu untukku telah dilahirkan kembali.

PS. Sebuah saduran bebas dari puisi “The Square Root of Three” karya David Feinberg, seperti yang disampaikan Kumar di Film “Harold and Kumar”

Ada Apa dengan Cinta?

Saat kamu persoalkan satu purnama, sejatinya kamu telah melemparku pada sepotong ingatan lama. Ingatan lama tentang cinta yang penuh misteri, tak kuasa diungkap lewat ujar ujar dan mantra. Cinta yang awalnya berwujud kegelisahan yang hadir tanpa permisi karena sekedar tatapan atau aroma yang asing nan memikat. Cinta yang mengejawantah dalam lagu, senda gurau dan senandung anak anak rantau yang sepi dalam keramaian. Cinta yang kadang hadir seperti terik matahari yang menikam tanpa ampun, menyisakan garis garis jejak cahaya di tubuh tubuh mungil tak berdosa. Cinta itukah yang juga kamu persoalkan selama ini?

Continue reading “Ada Apa dengan Cinta?”

Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang

Ibu, aku ingin pulang. Aku ingin pulang menemuimu lagi seperti tahun lalu. Alasanku hanya satu: aku rindu. Aku merindukan aroma pagi yang basah oleh embun dan tunduk oleh dingin kabut saat subuh. Aku merindukan teriakanmu yang dulu salah kupahami ketika menarik selimutku dan mengancamku untuk bersujud pada Sang Khaliq. Aku rindu gigil pagi saat dingin air tanah menampar wajahku yang ragu-ragu berbasuh wudhu. Aku rindu Ibu.

mubarak

Puasaku tahun ini aku niatkan untuk berserah diri tapi sejatinya ada pintaku. Aku ingin lewatkan Ramadhan untuk bersegera menemuimu. Padamu aku menemukan kasih Tuhan yang mengejawantah dalam pikir, kata dan laku. Aku tak pintar mencerna ayat-ayat suci, engkau tahu itu tapi aku tak pernah dirundung ragu akan keEsaan-Nya. Ada penegasan tentang Sang Keberadaan, tidak saja dari sentuhan hangatmu, tetapi juga dari kepedulian yang kau sembunyikan dalam kemarahanmu. Aku merindukan kemarahanmu, seperti ketika aku kecil saat menduga bahwa merafalkan ayat-ayat suci adalah siksaan di fajar buta. Aku terlambat Ibu, tapi aku menyadarinya kini.

Continue reading “Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang”

Menghamba pada rembulan

Pejalan kaki sepertiku kadang terantuk satu pesona. Pesona yang sejatinya merambat dari kesunyian di bawah sadar, tentang keindahan yang jadi misteri. Pesona yang layaknya secarik kertas perawan, dia tanpa kuasa tanpa makna karena tanpa aksara. Aku ingin menuliskan satu kisah pada putihnya yang telanjang demi pesona yang abadi. Pejalan kaki sepertiku memang sering menyerah dan terantuk pada satu pesona.

Aku ingin membangun sebentuk mandir tempat kita memuja keberadaan. Aku ingin memoles bebatuan yang menjadi dasarnya agar rembulan membeberkan rahasia pada semburat cahayanya di satu purnama. Bahwa pertemuan ini adalah keniscayaan, saat aku terantuk satu pesona. Aku tidak akan menyerah, tetapi aku adalah pengabdi. Aku menghamba sepenuh hati, tidak pada kekuasaan yang tiada abadi tetapi pada semburat purnama yang misterius. Aku ingin menghamba pada rembulan karena padanya kutemukan apa yang selama ini kusemayamkan di bawah sadarku.

Desiderata

http://www.ciul.ul.pt/

Berjalanlah dengan tenang di tengah kebisingan dan ketergesaan, dan ingatlah kedamaian itu bertumbuh dalam kebisuan yang tenang. Sedapat mungkin, jagalah kisah baik dengan semua orang, tanpa harus menyerah dan menjadi tumbal. Nyatakanlah kebenaran hatimu dengan lirih dan jernih; dan dengarkanlah orang di sekitarmu, betapapun mereka membosankan dan tidak peduli; merekapun memiliki cerita yang layak didengar.

Hindarilah mereka yang gaduh dan agresif, mereka adalah orang-orang yang menebarkan kekhawatiran bagi jiwamu. Jika engkau membandingkan dirimu dengan yang lain, engkau mungkin merasa tiada berguna dan getir; karena sesungguhnya selalu ada orang yang lebih hebat atau lebih lemah dari dirimu.

Nikmatilah pencapaian dan juga rencana-renana hidupmu. Berusahala untuk tetap tertarik dengan pilihan pekerjaanmu, betapapun sederhananya.; itulah milikmu yang sesungguhnya melewati masa dengan keberuntungan yang senantiasa berubah tidak terduga.

Continue reading “Desiderata”