Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang


Ibu, aku ingin pulang. Aku ingin pulang menemuimu lagi seperti tahun lalu. Alasanku hanya satu: aku rindu. Aku merindukan aroma pagi yang basah oleh embun dan tunduk oleh dingin kabut saat subuh. Aku merindukan teriakanmu yang dulu salah kupahami ketika menarik selimutku dan mengancamku untuk bersujud pada Sang Khaliq. Aku rindu gigil pagi saat dingin air tanah menampar wajahku yang ragu-ragu berbasuh wudhu. Aku rindu Ibu.

mubarak

Puasaku tahun ini aku niatkan untuk berserah diri tapi sejatinya ada pintaku. Aku ingin lewatkan Ramadhan untuk bersegera menemuimu. Padamu aku menemukan kasih Tuhan yang mengejawantah dalam pikir, kata dan laku. Aku tak pintar mencerna ayat-ayat suci, engkau tahu itu tapi aku tak pernah dirundung ragu akan keEsaan-Nya. Ada penegasan tentang Sang Keberadaan, tidak saja dari sentuhan hangatmu, tetapi juga dari kepedulian yang kau sembunyikan dalam kemarahanmu. Aku merindukan kemarahanmu, seperti ketika aku kecil saat menduga bahwa merafalkan ayat-ayat suci adalah siksaan di fajar buta. Aku terlambat Ibu, tapi aku menyadarinya kini.

Aku ingin melihat senyum ayah dengan baju koko dan sarungnya. Ingatkah engkau selalu menjadi penengah pertikaian kami? Jika ada satu pelajaran penting dari seberang benua yang aku tuai, perlajaran itu hadir berupa penyesalan karena telah meninggikan suara pada ayah di satu sore yang temaram. Aku tidak akan lupa pertengkaran itu, saat di depan rumah kulihat Sumi, Rohana dan Maryamah melaju. Tangan mereka memeluk kitab suci, bergegas menuju rumah Ustadz Karyono, sementara aku meledakkan egoku, menentang ayah yang kuanggap menggurui. Mengingat itu, selalu tersembul senyum getir penyesalanku.

Aku ingin pulang. Aku ingin memelukmu dan mencium tangan ayah seperti yang kulakukan ketika kecil. Aku ingin ceritakan kisahku padamu. Aku hidup di tempat yang berbeda, Ibu. Aku hidup di negeri yang ketika berwudhu membasahi lantai adalah keanehan. Aku bersegera menghadap Sang Pencipta bukan karena kumandang adzan. Aku ada di negeri tanpa adzan, lebaran tanpa bedug bertalu dan Sholat Ied tidak lebih meriah dari geliat orang menonton sepak bola. Tapi Ibu, di sini aku temukan kekhusukan. Bahwa berpuasa di antara orang-orang yang tak berhenti mengumbar nafsu, adalah kemenangan sejati. Bahwa puja pujiku pada Ilahi yang tak aku umumkan itu menyentuh lebih hangat dan tertanam lebih dalam.

Aku menyimak shalawat lewat gurauan dengan sahabat yang bahkan tidak ada agama di KTPnya. Aku menikmati khutbah ajaran Tuhan lewat kicau burung yang bertengger di sebuah taman dan tidak pernah merasa terancam oleh laku manusia. Aku menyaksikan ajaran-ajaran nabi lewat orang-orang yang berbaris rapi menunggu taksi atau kendaraan yang berarak di kemacetan tanpa tergoda mencaci maki. Aku belajar cinta Ilahi dari semangkuk bubur yang disuguhkan seorang agnostik saat aku meradang sakit tak berdaya.

Tahun ini aku tidak bisa pulang, Ibu. Aku tidak bisa pulang karena ada di negeri yang kalendernya tidak merah saat Idul Fitri. Tapi jangan khawatir, hatiku pulang menemuimu. Terimalah sujud maafku lewat sinar bulan yang mampir lewat jendela kamarku yang telah lama kosong. Lihatlah jalanan di depan rumah dan perhatikan barisan anak-anak itu. Aku ada di antara mereka, mendekap kitab suci, beranjak menuju rumah Ustadz Karyono.

Hyde Park, dekat Gereja Katedral Sydney, 5 Agustus 2013
Alif

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

27 thoughts on “Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang”

    1. Maaf kalau membuat sedih 🙂 Saya yakin banyak orang memiliki perasaan yang sama saat berada di rantau, apapun agamanya dan apapun hari suci yang dirayakannya. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi untuk mengingat orang tua 🙂

  1. Bapak… saya bercita-cita ingin lanjut s3 di diluar negeri seperti bapak, menjumpai wajah-wajah baru, pengalaman baru dan melawan tantangan,, tapi masih banyak yang harus dipelajari, terutama toefl. ditempat saya memberikan beasiswa itu,tapi scorenya harus 600 😦 hiks

  2. Mas Andi sy Fajri dari SMA Negeri Banyumas.. sungguh kemarin ketika sy membaca buku mas “Berguru ke negeri Kanguru” membuat terinspirasi untuk seperti mas Andi… Mas kalo kepengin tanya2 tentang AAS selain lewat web, lewat mana ya mas? sy kepengin tanya banyak hal sm mas Andi.. 🙂

    1. Mas Fajri, terima kasih sudah membaca dan syukurlah terinspirasi. Sebelum bertanya, silakan selesaikan dulu membaca buku itu dan blog ini. Hampir semua hal yang saya pahami sdh saya tulis di sini. Jika masih belum puas, email saya. Lihat di kontak ya 🙂

  3. Selamat malam pak Andi.. bapak mohon maaf sebelumnya, begini pak.. sy Minggu depan tanggal 6 Mei 2014 kebetulan sedang acara di UGM.. sebenernya sy kepengin sekalian silaturahmi sm bapak + kepengin ngobrol2 sama bapak, siapa tahu sy bisa dapat motivasi dari bapak, yg bisa menjadikan sy lebih baik. .. kira2 bapak bisa ngga ya? hehe, kalo bisa sy minta kontaknya bapak.. #FAJRI SMAN BANYUMAS..

  4. Selamat malam pak Andi, bapak mohon maaf sebelumnya.. begini pak kebetulan sy Minggu depean tgl 6 Mei 2014 ada acara di UGM, sebenernya sy juga rencana mau bersilaturahmi dengan bapak + mau ngobrol sm bapak dan menggali inspirasi langsung dari bapak… jujur sejak sy membaca buku2 dari bapak, sy terinspirasi dari sosok bapak & pernah dalam hati sy “suatu saat nanti sy ingin bertemu dengan bapak”… hemm.. kira2 bapak tanggal 6 Mei bisa nda ya pak bertemu dengan sy di UGM? #FAJRI SMAN BANYUMAS

      1. Alhamdulilah.. sy bersyukur sekali pak, bisa bereksempatan bertemu dengan orang hebat seperti bapak.. Terimakasih pak Andi.. nanti sy kontak ke email bapak…

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s