Menghamba pada rembulan

Pejalan kaki sepertiku kadang terantuk satu pesona. Pesona yang sejatinya merambat dari kesunyian di bawah sadar, tentang keindahan yang jadi misteri. Pesona yang layaknya secarik kertas perawan, dia tanpa kuasa tanpa makna karena tanpa aksara. Aku ingin menuliskan satu kisah pada putihnya yang telanjang demi pesona yang abadi. Pejalan kaki sepertiku memang sering menyerah dan terantuk pada satu pesona.

Aku ingin membangun sebentuk mandir tempat kita memuja keberadaan. Aku ingin memoles bebatuan yang menjadi dasarnya agar rembulan membeberkan rahasia pada semburat cahayanya di satu purnama. Bahwa pertemuan ini adalah keniscayaan, saat aku terantuk satu pesona. Aku tidak akan menyerah, tetapi aku adalah pengabdi. Aku menghamba sepenuh hati, tidak pada kekuasaan yang tiada abadi tetapi pada semburat purnama yang misterius. Aku ingin menghamba pada rembulan karena padanya kutemukan apa yang selama ini kusemayamkan di bawah sadarku.