Menghamba pada rembulan


Pejalan kaki sepertiku kadang terantuk satu pesona. Pesona yang sejatinya merambat dari kesunyian di bawah sadar, tentang keindahan yang jadi misteri. Pesona yang layaknya secarik kertas perawan, dia tanpa kuasa tanpa makna karena tanpa aksara. Aku ingin menuliskan satu kisah pada putihnya yang telanjang demi pesona yang abadi. Pejalan kaki sepertiku memang sering menyerah dan terantuk pada satu pesona.

Aku ingin membangun sebentuk mandir tempat kita memuja keberadaan. Aku ingin memoles bebatuan yang menjadi dasarnya agar rembulan membeberkan rahasia pada semburat cahayanya di satu purnama. Bahwa pertemuan ini adalah keniscayaan, saat aku terantuk satu pesona. Aku tidak akan menyerah, tetapi aku adalah pengabdi. Aku menghamba sepenuh hati, tidak pada kekuasaan yang tiada abadi tetapi pada semburat purnama yang misterius. Aku ingin menghamba pada rembulan karena padanya kutemukan apa yang selama ini kusemayamkan di bawah sadarku.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Menghamba pada rembulan”

  1. Om swastiastu Bli Andi, saya mau tanya soal “Shortlisted ADS” saya kurang mengerti dengan kata-kata itu. Saya melihat pengumuman shortlisted ADS intake untuk tahun 2013, hanya ada daftar 35 nama, dan itu semua dari Kemenlu.. Saya masih ada harapan kan? Bagaimana cara mengetahui, apakah saya dipanggil interview atau tidak? *deg2an* Suksma banget jawabannya.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s