Puisi Akar Tiga

Pernah aku khawatir, aku akan bernasib seperti akar kuadrat tiga yang sendiri dan kesepian. Angka tiga sesungguhnya sempurna dan rupawan. Namun kesempurnaannya sirna saat dia tidak terlihat karena tertutup dan tersembunyi di bawah naungan tanda akar kuadrat yang angkuh dan keji. Angka tiga menjadi tidak berdaya.

Seandainya saja aku adalah angka sembilan, maka aku pasti bisa melepaskan diri dari tanda akar kuadrat yang keji ini dengan mantra-mantra aritmatika sederhana. Aku sadar, aku tidak akan pernah menyaksikan matahari dengan tenang dan tuntas karena aku adalah 1,7321 yang masih bisa memanjang dan tidak berhenti. Aku adalah sebentuk irasionalitas yang mengenaskan dan ini adalah keniscayaan yang kadang tak sempat aku pertanyakan.

Aku terdiam dalam ketidakmengertian, berharap menemukan ketertolongan yang sejatinya tidak pernah aku bisa bayangkan sejatinya. Pencarian itu berhen ti di suatu ketika, saat aku melihat pencerahan. Alam mungkin ikut mendengarkan apa yang kudengar. Turut menikmati apa yang aku lihat. Sebuah akar kuadrat tiga lainnya hadir berkelebat. Dia menari anggun, mengundang dan menghampiri. Ternyata aku tidak sendiri. Kutemukan takdirku, akar kuadrat tiga yang juga sendiri dan kesepian. Mari kita mengalikan diri, membentuk angka yang kita inginkan. Kita telah menjelma menjadi intejer yang terbebas dari kungkungan tanda akar yang keji dan kejam.

Kita membebaskan diri dari keterikatan yang mematikan dengan kibasan sebuah tongkat ajaib. Dan tanda akar kuadrat yang mengekang kita kini sirna. Maka cintamu untukku telah dilahirkan kembali.

PS. Sebuah saduran bebas dari puisi “The Square Root of Three” karya David Feinberg, seperti yang disampaikan Kumar di Film “Harold and Kumar”

Advertisements