Setangkai mawar pengingat


Kisanak, jika kamu melintas di depan toko bunga itu, berhentilah sejenak. Sempatkanlah menikmati ranum mawar yang wanginya menawan, lalu pilihlah setangkai. Ambillah dengan niat penuh seluruh dan tukarlah dia dengan selembar uang pengganti keringatmu, lalu ciumlah penuh sukacita. Silakan bergegas pergi dan niatkanlah dalam hatimu akan sebuah nama dan sebentuk wajah. Jadikanlah nama dan wajah yang tak asing itu sebagai penerima persembahanmu.

Tidak usah menunduk apalagi bersimpuh berlutut. Kisanak tidak perlu lakukan itu. Berikanlah setangkai mawar putih itu kepadanya. Kepada dia yang menunggumu di balik pintu, tak peduli seberapa terlambat dirimu kembali menjumpai rumah. Kepada dia yang tak peduli dingin atau panas, menebar senyum saat dirimu turun dari pelana kuda seraya menambatkannya di samping pondokan. Kepada dia yang menipu kantuknya sendiri demi menyambutmu di temaram lampu yang terpedaya oleh ketulusannya. Kepada dia yang di saat tertentu hanya punya satu kata: dukung.

Hidupmu boleh bermandikan cahaya, Kisanak. Hidupmu boleh bergelimang puja puji dan prestasi tapi kemasyuran tak bertahan lama. Dia yang tak peduli kemasyuranmu dan selalu menempatkan dirimu di ruang yang luas untuk bertumbuh, sangat layak untuk menerima setangkai mawar putih itu. Maka belilah setangkai mawar putih, karena kemasyuran tidak bisa kaupeluk hingga ujung ajal. Belilah setangkai mawar putih dan serahkanlah pada dia yang telah menyuguhimu dengan cinta sambil melupakan sakit dan nyeri tubuh karena tertindas angin yang bernuansa peringatan dan dendam.

Hidup tak hanya delimitasi atau diplomasi, maka biarkan setangkai mawar menyajikan cerita anyar yang berbeda. Hidup tak hanya basa basi di ruang restorasi dengan segerombolan petinggi yang berdasi, maka sematkanlah setangkai mawar itu kepada dia yang tak menilaimu dari deretan prestasi. Hidup tak hanya tepuk tangan bergemuruh mengiringi sajian akal budi yang mupuni tapi juga bisikan sederhana untuk sekedar mengingatkanmu agar tidak terlambat makan. Maka sisihkanlah setitik rejekimu untuk membeli setangkai mawar untuk dia yang tak pernah menjual cintanya kepadamu. Karena penerima mawar itulah pada akhirnya yang akan menjadi temanmu tatkala sorot lampu tak lagi benderang dan dasi tak lagi kekar menopang lehermu. Raihlah setangkai mawar dan bersulanglah.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Setangkai mawar pengingat”

  1. cerita ini, mengingatkan saya untuk memberikan mawar itu untuk ibu sy. mudah2an rencana ini bisa terlaksana ketika sy pulang ke rumah nanti. Terimakasih karena sy terinspirasi.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s