Beasiswa Australia: Bisakah S2/S3 yang beda jurusan dengan S1?

Pelamar beasiswa Australian Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS) sering bertanya “bisakah kita melamar S2 atau S3 yang tidak sesuai dengan S1 kita?” Jawabannya BISA. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Continue reading “Beasiswa Australia: Bisakah S2/S3 yang beda jurusan dengan S1?”

Buku Baru: Berguru ke Negeri Kangguru

Berguru ke Negeri Kangguru
Berguru ke Negeri Kangguru – Pesan: di sini

Pesan buku ini di sini 🙂

Tulisan ini adalah cerita tentang sebuah buku. Ini buku terbaru saya yang membahas tips dan tricks mendapatkan beasiswa ke Australia, terutama Australia Awards Scholarship (AAS) yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS). Apakah tulisan ini adalah promosi buku? Tentu saja demikian, tetapi ini tentu saja iklan tanpa bayaran 🙂

Saya mulai menulis di blog ini terkait beasiswa sejak tahun 2005 atau bahkan sebelumnya. Tanpa direncanakan, ternyata sudah ada seratusan artikel terkait beasiswa Australia di blog ini dan rupanya menjadi salah satu sebab teman-teman pembaca ‘tergelincir’ atau ‘tersesat’ di blog saya. Seiring berjalan waktu, ada banyak usulan untuk membukukan tulisan-tulisan tersebut. Tadinya saya tidak tertarik karena alasan utama menulis adalah memberikan akses bebas kepada siapa saja tanpa perlu membeli buku. Siapa saja yang memiliki akses internet harus bisa mengakses informasi yang saya tulis kapan saja dan dari mana saja. Idealnya demikian.

Ada juga penerbit yang mau menerbitkan tulisan-tulisan saya jadi buku tetapi mengharapkan tulisan di blog dihilangkan. Dalam konteks bisnis, hal ini tentu bisa dipahami. Meski demikian, ini tidak sejalan dengan semangat saya berbagi maka dengan berat hati tidak bisa saya penuhi. Akhirnya ada satu penerbit, Pandu Aksara, memberi penawaran yang baik. Baik, dalam konteks ini tentu saja tidak terkait materi atau finansial. Pandu Aksara membebaskan saya tetap memelihara tulisan yang akan diterbitkan jadi buku di blog ini. Tawaran yang menarik.

Continue reading “Buku Baru: Berguru ke Negeri Kangguru”

Pelamar Beasiswa AAS/ADS Sebelum 1 Mei Otomatis DITERIMA!

PreOrder: info@indolearning.com

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty, menyampaikan sebuah pernyataan yang mengejutkan sekaligus menyenangkan bagi pelamar beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) yang dulu disebut Australian Development Scholarship (ADS). Dalam pernyataannya yang dilansir Antara di Jakarta pada tanggal 1 April 2013, Dubes Moriarty menegaskan bahwa SEMUA palamar AAS yang menyerahkan berkas sebelum 1 Mei 2013 akan otomatis DITERIMA. Semua pelamar sebelum tanggal 1 Mei tidak akan diseleksi tetapi langsung diberi beasiswa untuk sekolah S2 atau S3 di perguruan tinggi terkemuka Australia sesuai pilihan mereka.

Ketika ditanya soal kuota penerima beasiswa AAS, Dubes Moriarty menegaskan bahwa untuk periode ini, tidak ada batasan kuota. Semua pelamar yang menyerahkan berkas sebelum 1 Mei pasti diterima. Dikatakan bahwa tidak akan ada seleksi IP dan Bahasa Inggris (TOEFL atau IELTS). Australia juga sudah menyiapkan dana tambahan karena yakin bahwa pelamar tahun ini akan membengkak jumlahnya karena kebijakan baru ini. “Berapa pun jumlah pelamar sebelum tanggal 1 Mei pasti kami terima”, kata Dubes Moriarty menjawab pertanyaan wartawan yang seakan meragukan kebijakan ini. Menurut Dubes Moriarty, pengumuman ini sengaja diberikan pada tanggal 1 APRIL untuk memberikan kesempatan kepada pelamar menyiapkan berkas lamarannya selama satu bulan penuh.

Pelamar Beasiswa AAS yang mendaftar sebelum tanggal 1 Mei tidak akan perlu untuk tes TOEFL atau IELTS, tidak juga harus tinggi IPnya. Mereka tidak harus repot-repot mempelajari tips wawancara beasiswa, tidak juga perlu untuk menghubungi calon supervisor bagi pelamar Master by Research dan PhD. Mereka tidak diwajibkan kontak dengan calon universitasnya di Australia karena surat penerimaan itu tidak diperlukan. Kelompok yang diterima ini juga akan dicarikan universitas, termasuk dibantu soal akomodasi selain beasiswa rutin yang jumlahnya dua kali lipat dari sebelumnya.

Dubes Moriarty menegaskan bahwa ada banyak sekali anak muda di Indonesia yang  bermimpi sekolah ke luar negeri termasuk Australia sehingga bisa mengenyam kehidupan yang nyaman. Dubes juga menyadari ada banyak dari mereka yang punya keinginan tetapi tidak mau berusaha keras menggapainya. Pengumuman tanggal 1 April 2013 ini memang ditujukan khusus bagi orang-orang yang demikian. Orang yang menginginkan kesenangan tetapi tidak bersedia berjuang. Mereka juga tidak perlu membaca jurnal akademik sebelum sekolah ke Australia karena saat bersekolah di Australia nanti mereka lebih banyak berwisata melihat-lihat tempat yang ikonik tanpa perlu membuat tugas makalah ribuan kata.

Singkat kata, beasiswa AAS atau ADS tahun ini ditujukan buat siapa saja, terutama mereka yang tidak mau membaca buku panduan beasiswa yang tebal itu. Buku panduan itu tidak perlu karena dijamin semua pelamar sebelum tanggal 1 Mei akan diterima, betapapun buruk kualitas akademik dan Bahasa Inggris mereka. Para pelamar disarankan segera menyiapkan berkas lamarannya agar bisa menyerahkan sebelum tanggal 1 Mei. Untuk melihat sendiri pengumuman Dubes Moriarty, silakan klik tautan berikut.

PS. Jika ingin mengetahui Beasiswa AAS/ADS lebih lanjut, silakan baca buku terbaru saya “Berguru ke Negeri Kangguru

Pendaftaran Beasiswa ADS atau AAS 2014 sudah dibuka!

PreOrder: info@indolearning.com
PreOrder: info@indolearning.com

Pejuang sekalian,

Pendaftaran Beasiswa yang dulu dikenal dengan nama ADS atau Australian Development Scholarship dan sekarang berganti nama menjadi Australian Awards Scholarship (AAS) sudah dibuka. Pendafataran AAS dibuka tanggal 4 Maret hingga 19 Juli 2013, menurut informasi di website resminya. Selain membaca website resminya, silakan baca kumpulan tulisan saya di halaman Beasiswa ADS. Ada ratusan pertanyaan yang sudah dijawab di sana. Selamat berjuang!

Setelah shortlisted Beasiswa ADS, what’s next?

Taken from http://australiaawardsindo.or.id/

Beberapa hari terakhir ada banyak kawan yang menyampaikan berita baik bahwa mereka lulus seleksi administrasi Beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Katanya, ada yang sudah mendapat surat dari ADS, ada juga yang menelopon langsung ke kantor ADS di Jakarta. Sebagian lagi mendapatkan informasi dari institusi mereka karena lembaganya masuk kategori Key Agencies atau targeted areas. Mereka menyebutnya masuk shortlist alias daftar pendek. Ada juga yang mengatakan “saya termasuk yang shortlisted”. Saya bisa merasakan kebahagian dalam berita itu. Meski demikian, ada juga yang belum beruntung tahun ini.

Dalam suatu percobaan memang selalu ada dua kemungkinan: berhasil atau belum berhasil. Saya tidak akan berpura-pura bijaksana menasihati mereka yang tidak lulus. Jika mereka memang serius dan berharap ketika mendaftar, wajar jika kecewa. Maka saya memaklumi mereka yang sedih tetapi dengan sungguh-sungguh ingin menyampaikan bahwa dunia belum berakhir. Saya memiliki banyak sekali cerita kegagalan. Asti, isteri saya, juga mencoba tiga kali sampai akhirnya mendapat kesempatan. Dalam bahasa sederhana, izinkan saya menyampaikan satu kalimat klasik “jangan menyerah.”

Kepada yang berhasil melewati tahap pertama, saya sampaikan selamat dan turut berdoa demi kesuksesan perjuangan selanjutnya. Meminjam istilah Chairil Anwar, kerja belum selesai, belum apa-apa. Sejatinya, jalan masih panjang dan tidak ada yang bisa menjamin Anda akan lolos hingga tahap akhir. Meski demikian, kita juga percaya bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa memastikan Anda tidak akan diterima. Kita yakin, nasib akan berpihak pada para pejuang yang berani. Mari kita siapkan diri, mari berjuang dengan berani menyelesaikan penggal terakhir yang pastinya tidak mudah ini.

Dari 800 orang kandidat yang shortlisted, hanya sekitar 400 orang yang berhak mendapatkan beasiswa ADS tahun 2013/2014 karena jatahnya memang sejumlah itu. Untuk menghibur diri, silakan berpikir bahwa peluangnya adalah sekitar 50%, sebuah peluang yang tinggi. Agar terdengar lebih menyenangkan, silakan berpikir bahwa satu dari setiap dua kandidat akan menerima beasiswa ADS. Atau agar lebih mudah lagi, silakan berpikir bahwa Anda hanya perlu mencari pasangan sesama kandidat yang lebih rendah kemampuannya dari Anda dan jika dia tidak lolos maka Anda akan lolos karena peluangnya 50%. Cukup mudah rasanya mendapatkan ADS bukan?

Tunggu dulu. Dari 800 orang itu, akan ada 400an orang yang tidak diterima. Anda tentu tidak ingin ada dalam kelompok itu bukan? Maka dari itu tugas Anda adalah keluar dari kelompok 400 yang tidak lolos itu. Artinya, untuk bisa mendapatkan beasiswa ADS Anda wajib lebih baik dari setidaknya 400 orang. Ini tidak bisa ditawar. Dengan perspektif seperti ini Anda akan bisa menempatan perjuangan ini dalam konteks yang lebih tepat. Satu lagi, beasiswa ADS adalah misteri Ilahi. Jika Anda percaya keberuntungan, sebaiknya percaya keberuntungan versi Thomas Jefferson bahwa “the harder I work the more luck I seem to have“. Dan bahwa orang yang tidak diterima tidak selalu berarti tidak mampu.

Ada dua hal utama yang akan dihadapi oleh para kandidat yang masuk shortlist yaitu ujian IELTS dan Wawancara dengan Joint Selection Team. Saya tidak akan berbicara banyak soal IELTS di sini karena sebelumnya sudah pernah saya bahas. Yang mau saya ingatkan lagi adalah bahwa ujian formal seperti IELTS adalah sebuah ujian standard yang memiliki pola tertentu. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah memahami dengan baik pola ujian itu. Orang sebaiknya tidak mengikuti ujian sebelum hafal secara meyakinkan komponen apa saja yang diuji di IELTS, berapa jumlah pertanyaan masing-masing, berapa lama waktu ujian dan lain-lain. Belum pernah ikut IELTS sama sekali? Beli bukunya, ikuti kursusnya, atau belajar dari mereka yangs udah pernah. Intinya, Anda masih punya waktu maka gunakan waktu itu untuk bersiap-siap.

Hal kedua adalah wawancara JST. Saya sudah pernah menulis tips wawancara di blog ini. Ada juga prediksi pertanyaan yang saya buat tahun 2012 dan saya sertakan jawabannya untuk tahun 2013 atau tips wawancara dan IELTS yang saya tulis sebelumnya. Lihat juga bagaimana saya menjalani wawancara untuk beasiswa ALA, mungkin ada manfaatnya untuk persiapan. Mulai tahun ini ada sedikit perubahan dalam hal seleksi, terutama untuk PhD (atau mungkin juga Master by Research, silakan dilihat). Kandidat diminta untuk memaparkan proposal penelitiannya dalam waktu 10 menit saja dan tidak boleh lebih. Hal-hal yang wajib dipaparkan adalah metodology, mengapa penelitian penting bagi Indonesia, memastikan bahwa penelitian itu bisa diselesaikan dalam waktu yang dialokasikan dan menegaskan sumbangan penelitian itu bagi disiplin terkait. Perlu diingat, tidak diperkenankan menggunakan alat bantu presentasi seperti power point. Yang perlu disiapkan, presentasi ini akan diikuti dengan tanya jawab sekitar 25-30 menit. Semua kandidat PhD akan diundang ke Jakarta dengan biaya ADS untuk memaparkan rencana penelitiannya dan ada 60 orang calon PhD yang akan diterima, naik 100% dari tahun lalu. Silakan lihat tulisan saya tentang tips memaparkan proposal ini. Informasi ini disampaikan dalam surat undangan kepada kandidat PhD, seperti yang disampaikan oleh Sahabat Saya, Taufik E. Susanto yang berbaik hati telah berbagi surat undangan untuk istrinya.

Kisah saya dalam mendapatkan beasiswa juga pernah saya tulis di sini dan mungkin bisa dibaca lagi. Bagi yang sekian kali berjuang dan baru kali ini mendapat kesempatan untuk dipanggil wawancara, silakan simak kisah Asti, isteri saya, yang saya tulis Februari lalu. Tidak ada tips yang tiba-tiba membuat Anda jadi pintar dan pasti diterima beasiswa ADS. Meski demikian, jangan lewatkan satu pun dari semua dokumen dan bahan lain yang diberikan oleh ADS dalam amplop besar yang Anda terima. Baca semua tulisan dan nikmati semua videonya. Kunjungi lagi website resmi ADS Indonesia untuk menyegarkan ingatan. Yang bisa dilakukan adalah mengerahkan segenap upaya agar tidak kita sesali hasil apapun yang akan diberikan oleh Sang Pemilik Waktu kelak di kemudian hari. Selamat berjuang kawan!

“Selamat, Anda diterima” hanyalah titik awal

dari: http://www.foyle.eu/

Saya pernah menulis tentang pre-departure training (PDT) bagi calon penerima Australian Development Scholarship (ADS) di blog ini. Calon penerima beasiswa ADS memang wajib mengikuti pelatihan Bahasa Inggris di IALF Bali atau Jakarta yang dikenal juga dengan English for Academic Purposes (EAP). Singkatnya, seorang calon penerima beasiswa ADS harus mencapai nilai IELTS minimal 6,5 untuk bisa berangkat belajar di universitas Australia. Dalam beberapa kasus tertentu, nilai IELTS bahkan harus lebih tinggi.

Continue reading ““Selamat, Anda diterima” hanyalah titik awal”

Diterima beasiswa ADS: DIJAMIN!

Apakah Anda salah satu dari 5-6000an orang hebat Indonesia yang sedang berjuang mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS)? Mudah-mudahan Anda tidak tergoda membaca tulisan ini gara-gara judulnya demikian. Silakan kecewa karena tidak ada yang bisa menjamin Anda diterima beasiswa luar negeri.

Saya sering mendapatkan pertanyaan atau curhat terkait beasiswa luar negeri, terutama ADS. Ada yang bertanya “seberapa besar peluangnya?” Ada yang ingin tahu “layakkah saya?” Tidak sedikit yang bahkan pesimis, merasa tidak mungkin diterima. Membayangkan ada 5000an orang yang mendaftar untuk kuota yang hanya 400, kita mudah sekali tergoda untuk merasa tidak mampu bersaing. Mudah sekali untuk berpikir “saya pastilah bukan salah satu dari 400 orang terbaik dari 5-6000an orang itu. Saya bukan siapa-siapa.”

Tulisan ini bukan motivasi yang membuat Anda tiba-tiba berubah jadi semangat lalu berdiri tegak siap menghadapi air bah dan menjadi tidak realistis. Bukan! Saya tidak punya kapasitas itu dan saya memang tidak bisa menjamin seseorang bisa diterima beasiswa. Saya hanya ingin ingatkan bahwa syarat beasiswa ADS itu adalah TOEFL 500 dan IP di atas 2,9. Jika tidak ada yang bisa bisa menjamin seseorang lolos beasiswa maka tidak boleh ada satu orang pun di muka bumi ini yang berhak mendikte “kamu pasti tidak lolos” jika memang Anda memenuhi syarat.

Kita adalah para pejuang. Tugas kita hanya satu: berusaha dengan segenap upaya. Tugas kita bukan menghakimi, apalagi menghakimi diri sendiri. Bahwa IMPOSSIBLE bisa jadi adalah I’M POSSIBLE yang kita baca secara salah. Selamat berjuang, kawan!