Australian Leadership Awards (ALA)


Catatan: Saya adalah penerima ALA 2008 (update 07/08 )
Click here for English.
Australian Foreign Minister
Australian Foreign Minister

Beasiswa ini tergolong baru untuk Indonesia. Untuk pertama kali beasiswa ini diberikan kepada 22 orang penerima dari Indonesia pada tahun 2007. Seperti diklaim di websitenya, ALA merupakan beasiswa dengan kompetisi ketat di tingkat regional. Penentuan keputusan final tidak terjadi di Jakarta tetapi di Canberra, tempat ratusan kandidat diperbandingkan sebelum diberi beasiswa.

Seperti namanya, beasiswa ini memang disediakan untuk pemimpin dan calon pemimpin masa depan di kawasan Asia Pasifik. ALA memberikan beasiswa penuh kepada penerimanya untuk studi tingkat master dan doktor di beberapa negara, umumnya Australia. Lembar fakta tentang beasiswa ini bisa dilihat di websitenya pada ALA scholarship fact sheet.

Ketika mendengar beasiswa ini pertama kali dari seorang kawan, saya langsung tertarik. Sayapun langsung menyiapkan segala persyaratannya. Ada beberapa hal yang penting yaitu:

ini iklan buku
  1. Bukti kewarganegaraan (passport, ktp atau akte kelahiran)
  2. Surat penerimaan penuh (tanpa syarat) dari universitas di Australia untuk studi master atau doktor yang diinginkan.
  3. Salinan ijasah (S1 dan atau S2) dan terjemahannya yang dilegalisir
  4. Salinan transkrip akademik dan terjemahannya yang dilegalisir
  5. Salinan bukti prestasi akademik (menang lomba, penghargaan, dll)
  6. IELTS (bukti kemampuan Bahasa Inggris)
  7. Referensi dari tiga orang yang berbeda (di sini ditampilkan salah satu saja)
  8. CV dan List of publication.
  9. Melengkapi formulir aplikasi.

Selain itu, beasiswa ini juga mensyaratkan IELTS minimal 6,5. Hal ini juga secara tidak langsung menjadi syarat wajib sesuai dengan ketentuan no. 2 di atas. Dalam hal ini, jika menginginkan jurusan yang memerlukan nilai Bahasa Inggris tinggi, seperti Hukum, maka syarat IELTS otomatis menjadi lebih tinggi lagi. Di University of Wollongong, misalnya, syarat IELTS untuk PhD di bidang hukum adalah 7.0.

Syukurlah saya bisa memenuhi syarat tersebut di atas, termasuk mendapatkan surat penerimaan dari Unversity of Wollongong untuk studi PhD di bidang Aspek Teknis/Geodetis Hukum Laut. Proses mendapatkan surat penerimaan ini tidak sulit, cukup mengisi formulir yang bisa didownload di websitenya, melengkapi dengan peryaratan lain dan menghubungi profesor yang mau menjadi supervisor. Saya termasuk beruntung karena telah menjalin kontak yang baik dengan orang-orang University of Wollongong sebelumnya. Jika pun tidak, hal ini bisa dilakukan lewat internet. Saya kira tidak terlalu sulit.

Singkat kata, saya lengkapi persyaratannya dan memasukkan aplikasi secara online melalui website Online Australian Scholarship Information System (OASIS). Link menuju website ini ada di website ALA juga. Yang menarik adalah bahwa proses melengkapi dokumen beasiswa ini bisa dilakukan secara bertahap. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan registrasi dengan email yang diinginkan. Jika pengisian aplikasi belum selesai suatu waktu maka bisa dilanjutkan pada waktu yang berbeda. Tentu saja ini memerlukan proses login dan logout untuk menjaga keamanan informasi yang sudah dimasukkan.

Maka demikianlah, saya melengkapi satu demi satu persyaratan yang diminta. Semua syarat saya konversi menjadi PDF, termasuk tiga referensi dari Prof. Chris Rizos (UNSW, pembimbing S2), Dr. Clive Schofield (UoW, pembimbing S2) dan Subaryono, PhD (UGM, ketua jurusan tempat saya bekerja). Saya beruntung mendapatkan dukungan penuh dari ketiga orang penting ini. Persyaratan lain seperti ijasah dan transkrip serta piagam penghargaan saya scan dan jadikan PDF untuk selanjutnya diupload. OASIS menyediakan fasilitas untuk upload semua dokumen pernyerta lengkap dengan checklist-nya. Kalau cukup hati-hati, semestinya seorang pelamar tidak akan mengalami kekurangan syarat karena sistem akan membantu meneliti persyaratan yang belum dipenuhi/dilengkapi. Jika persyaratan belum lengkap maka aplikasi tidak bisa di-submit.

Finalisasi aplikasi paling lambat tanggal 31 Juli 2007 dan saya berhasil menyelesaikannya seminggu sebelum itu. Kebetulan saya memilki beberapa tugas lain sehingga tidak ingin terganggu karenanya. Selanjutnya saya bisa melupakan ALA dan konsentrasi dengan pekerjaan lain.

Berbeda dengan ALA tahun lalu, kali ini ada seleksi berupa wawancara. Kalau tahun lalu seseorang terpilih sebagai penerima ALA hanya karena berkas yang diserahkan, kali ini ada proses wawancara untuk menentukan keputusan final. Untuk Indonesia, wawancara diadakan di Jakarta untuk sekitar 47 kandidat yang memenuhi syarat. Dari 47 kandidat ini akan direkomendasikan sekitar 30 orang untuk seleksi lebih lanjut di Canberra. Namun demikian, seleksi di Canberra akan dilakukan tertutup dan tanpa kehadiran kandidat. Selanjutnya di akhir Oktober atau awal November, hasilnya akan disampaikan kepada kandidat. Menurut informasi dalam wawancara, Indonesia akan mendapatkan setidaknya 20 beasiswa ALA.

Saya termasuk satu dari 47 orang yang lolos ke tahap wawancara. Pada tanggal 10 September 2007, wawancara dilakukan di Hotel Four Seasons Jakarta. Karena saya berstatus sebagai dosen UGM yang tinggal di Jogja (walaupun kenyataannya saya sedang di Jakarta), panitia menyediakan segala sesuatunya untuk saya termasuk tiket pesawat PP, penginapan semalam di Hotel Manhattan, transportasi darat dan perdiem selama sehari. Sangat lumayan. Barangkali inilah yang menjadi penanda kalau ALA memang sangat prestisius.

Jam 10.00 pagi tanggal 10 September 2007 saya mulai mengikuti wawancara di sebuah ruangan di Hotel Four Season lantai dua. Ini sedikit molor dari jadual yang semula direncanakan pukul 09.45. Pewawancaranya adalah panel yang terdiri dari tiga orang Australia yaitu dua orang perempuan dari AusAID dan satu lelaki dari kedutaan Australia untuk Indonesia. Seperti layaknya wawancara dengan bule umumnya, suasana sangat bersahabat jauh dari intimidasi. Ketua tim yaitu seorang perempuan dari AusAID memulai dengan memperkenalkan diri termasuk dua rekan lainnya. Saya sangat terkesan dengan kesopanannya dan cara dia memperlakukan saya sebagai interviewee. Sama sekali tidak ada kesan dia yang penting dan saya yang memerlukan. Model wawancara seperti ini semestinya ditiru juga oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Oh ya, saya sengaja tidak menyebutkan nama ketiga pewawancara tersebut dalam tulisan ini karena suatu alasan.

Pertanyaan pertama adalah tentang pekerjaan. Saya ditanya di mana bekerja dan bergerak di bidang apa pekerjaan saya itu. Proses bertanya dan menjawab seperti ngobrol biasa sehingga saya sendiri lupa kalau sedang diwawancarai. Ada guyon, ada bercanda juga. Tertawa dan tersenyum tidak dilarang dalam wawancara ini. Inti dari wawancara ini menurut saya adalah pendefinisian leadership menurut kandidat dan bagaimana kandidat terlibat dalam leadership di masa lalu, di masa kini dan di masa yang akan datang. Ada juga pertanyaan tentang pencapaian yang paling dibanggakan. Tentu saja saya menjawab diterbitkannya buku saya berjudul β€œBatas Maritim Antarnegara” merupakan pencapaian yang paling membanggakan seraya mengeluarkan satu contoh buku kepada pewawancara. Nampaknya ini memberi kesan positif. Saya pun kemudian bercerita tentang isi buku itu yang kebetulan terkait erat dengan proposal doktor saya. Pewawancara dari Kedutaan Australia rupanya menaruh perhatian yang cukup serius pada permasalahan batas maritim Indonesia dan Australia sehingga diskusi menjadi sangat menarik. Saya kebetulan memang menyimak dengan baik permasalahan yang terjadi antarkedua negara, termasuk isu pelanggaran batas, isu Pulau Pasir dan sebagainya. Saya rasa beliau menangkap kesan positif dari jawaban saya.

Petanyaan selajutnya adalah seputar topik penelitian saya untuk program doktor nantinya. Pertanyaan pentingnya adalah seberapa siap saya dengan topik itu (ditandai dengan karya yang sudah dilakukan) dan seberapa penting topik tersebut untuk Indonesia. Batas maritim tentu saja merupakan topik penting bagi Indonesia yang berbatasan dengan 10 negara tetangga dan belum menuntaskan kesemua batas maritim tersebut.

Satu pertanyaan penting lain yang diajukan adalah bagaimana saya bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah di masa depan dengan keahlian saya ini. Saya kemudian menceritakan skenario untuk pengajaran batas maritim di kampus termasuk memperkuat penelitian di bidang tersebut. Yang terpenting, saya akan meningkatkan publikasi ilmiah maupun populer di bidang batas maritim sehingga terbaca oleh pengambil keputusan. Selanjutnya saya juga menceritakan kemungkinan saya untuk masuk dalam birokrasi atau setidaknya tim ahli pendukung kebijakan pemerintah misalnya Menteri Departemen Kelautan dan Perikanan.

Saya juga menjelaskan bahwa hal ini bukanlah obsesi yang terlalu optimis mengingat saya memang telah mempublikasikan banyak tulisan dalam kurun waktu 3 tahun. Tujuh puluh judul tulisan dalam waktu tiga tahun tentu saja bukan sesuatu yang sederhana. Hal ini saya sampaikan tidak dalam rangka menyombongkan diri tetapi semata-mata mendukung jawaban saya dengan data dan pencapaian yang sudah ada sehingga tidak terkesan asal bunyi.

Demikianlah, wawancara berlangsung menarik dan saya sendiri puas dengan prosesnya. Menurut saya, semua pertanyaan terjawab dengan baik dan nampaknya juga memuaskan pewawancara. Saya tidak akan mengatakan saya pasti diterima, tetapi setidaknya saya telah melakukan yang terbaik yang saya bisa. Apapun hasilnya saya akan terima dengan kepuasan dan perasaan menang. Diterima ataupun tidak, saya tetap bangga pernah menjadi kandidat ALA.

Kata kunci pencarian: tips wawancara beasiswa luar negeri, kiat sukses wawancara beasiswa luar negeri

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

75 thoughts on “Australian Leadership Awards (ALA)”

  1. Pak Andi,

    Sebelumnya, selamat menjadi penerima beasiswa ALA! Artikel blog ini berguna sekali untuk memberikan gambaran tentang proses penerimaan ALA. Kebetulan saya masuk short list yang diwawancara tahun ini, mau tanya2 sedikit apakah ada alamat email yang bisa saya kontak? Sebelumnya terimakasih.

    Salam,
    Inaya

  2. wah bang andi…mantaps….semoga bisa nyusul neh…tapi harus berjuang dulu di S2nya …sukses bang…

    cheers

  3. Andi….. Tak cuma saya ikut bangga karena prestasi Anda, Andi… Tapi juga karena kebesaran hatimu untuk berbagi pengetahuan, tricks, thought….! Maju terus!

  4. terimakasih infonya mas Andi,
    tahun ini mau nyoba juga ah πŸ™‚
    nanti kapan-kapan bagi saran bagaimana bisa menulis sebanyak itu dalam 3 tahun yah… soalnya udah kelar thesis niy, sementara ini mau mengisi waktu dg menulis πŸ™‚

  5. keren banget mas…

    jarang lowh ada yang mau share ttg data2 pelengkap beasiswa ampe ke contoh LoA, Passport, LoR, and contoh pengisian formulir yang mas lampirkan ini…

    saya juga mau nyoba nih mas…
    bedanya ama ADS apa ya mas?klo diliat dari jumlah dolar yang di tanggung (besarnya beasiswa), ALA klo di bandingkan ama ADS gmn tu mas?

  6. Mas Andi,

    Informatif sekali artikel tentang ALA, tahun lalu saya dipanggil tes ALA tapi baru dapat IELTS 6. Untungnya saya terselamatkan dgn beasiswa BAPPENAS. Sekarang saya di Magister Ekonomika Pembangunan UGM, bekerja di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Bagaimana cara me-linkan dgn Prof. Ekonomi di Australia? Apa bisa membantu saya mas?

    Tks.

    Benito Rio Avianto
    MEP – UGM

  7. hi..hi..wah..bli….bli andi dari bali yah??hehe..salam kenal.. aku dulu tinggal 12 tahun di bali..di denpasar…bangga bgt yah rasanya ngeliat org indonesia bisa mendapatkan beasiswa yang sangat kalo bisa dibilang kompetitif.. smoga bisa share2 info..aku mo tnya..slama ini beasiswa yang aku liat kebanyakan menawarkan beasiswa untuk jurusan2 tertentu, seperti ekonomi, teknik, dll. apakah ada beasiswa untuk jurusan mass communication? saya sangat antusias sekali..ingin rasanya bisa berkuliah di luar negri dengan mendapatkan beasiswa agar meringankan beban orant tua. karena setelah S1 ini saya berencana meneruskan S2 ke luar. tapi saat ini saya masih sangat awam dan tidak terlalu mengetahui info2 yang baik.mohon bantuan dan sarannya. terima kasih.^^

  8. bli made slmt atas launching bukunya….jd tertarik untuk membacanya…
    konsep populer untuk tulisan ilmiah sgt menarik.
    ingin juga bertanya sdkit ttg ALA ini apakah ada email yg bisa saya hubungi?

    Cheers

  9. iklan bukunya nyempil dimana-mana tuh bli. hehehe. tp saya dnger, jadi penulis emang harus gencar promo. sip. salute!

  10. salut mas Andi…saya beruntung bisa kenal dan ketemu langsung dengan mas Andi meski cuma beberapa saat saja waktu itu:d

    saya sangat kagum dengan usaha dan keterbukaan mas Andi dalam menginspirasi teman-teman untuk selalu berkarya.
    mudah-mudahan bisa jadi penyuluh buat yang ingin maju dan ‘bertempur’ lagi di sekolah-sekolah LN, untuk kemajuan Indonesia tentunya.

    cheers
    Firman

  11. aslm. selamt pak.

    mau nanya apa ada peluang untuk apply master di ALA dan apa butuh pengalaman kerja ato pengalaman organisasi saja bisa selama jadi mahasiswa sehubungan dengan fress graduate.

  12. salam kenal pak Andi,
    saya mau nanya, kalau beasiswa s2 untuk psikologi di australia bisa saya dapatkan dari mana yah???
    karena susah untuk mencari beasiswa s2 untuk psikologi
    terima kasih

    1. ADS bisa juga untuk psikologi kok.. tinggal risetnya atau konsentrasi studinya saja dipaskan dengan area yang diutamakan. Btw, kalau beasiswa s2 psikologi susah, ada beasiswa yang gampang nggak? [saya mau apply lagi kalau ada] πŸ™‚

      1. pengennya yah kalo gak klinis anak yah industri dan organisasi. ada gakyah?? soalnya selama ini mencari tapi belum dapet infonya..

  13. Pak Andi, terima kasih atas tulisan bpk ttg proses keterpilihan menjadi ALA awardee yang sangat menginspirasi di atas.

    Jika boleh saya ajukan pertanyaan. Jika misalnya kita berhasil diundang untuk wawancara ALA, apa kita teta bisa mengajukan aplikasi ke beasiswa Australia lainnya seperti Endeavour Award dan ADS? Apa hal itu tidak justru akan membuat tim seleksi ALA menghapus kita dari daftar 20 orang yang diterima per tahun tadi? Soalnya, untuk tahun ini, spt tahun2 sebelumnya juga sih, deadline ALA adalah 30 Juni, Endeavour Award 31 Juli, dan ADS 27 Agustus.

    Seperti biasa, kita kan seringkali tidak bisa memastikan akan lulus di salah satunya, maka untuk mengantisipasi kegagalan pada yang lain, kita mau melamar ke ketiga2nya saja. Bagaimana pandangan pak Andi tentang hal ini? Terus terang saya melamar ke ALA bulan lalu, dan sekarang barus saja kirim aplikasi online ke Endeavour. Dan saya juga berencana melamar ke ADS bulan depan.

    Mohon, kalau ada waktu luang, pandangan pak Andi tentang ini. Terima kasih banyak sebelumnya Pak.

    Salam
    Ridwan

    1. Mas Rizwan, terima kasih atas pertanyaannya.

      Saya juga mendaftar 3 beasiswa sekaligus tahun 2007: ALA, Endeavour, dan ADS. Tentu saja tidak perlu merasa berasalah karena memang tidak dilarang secara hukum. Yang tidak boleh adalah menerima lebih dari satu beasiswa Australia dalam satu waktu. Kalau melamar lebih dari satu beasiswa tentu saja tidak masalah.

      Saya beruntung diterima ALA dan Endeavour sekaligus. Dengan pertimbangan tertentu saya pilih ALA dan saya kirimkan surat yang santun dan jujur ke Endeavour bahwa saya memilih ALA. Mereka memang menanyakan alasannya tetapi tidak masalah setelah saya jelaskan. Ketika saya menerima ALA, ADS belum ada pengumuman. Sayapun mengirim surat resmi ke pihak ADS agar lamaran saya diabaikan, tidak diproses karena sudah dapat ALA. Tidak ada masalah juga sepertinya.

      Kita memang tidak tahu mana jalan yang akan kita tempuh. Selagi punya pilihan yang lebih banyak, bisa dicoba semuanya. Hanya saja, ketika saatnya untuk menetapkan satu pilihan telah tiba, pilihlah dengan bijaksana dan sampaikan secara jujur kepada semua pihak yang berkepentingan. Mengutip sebuah puisi yg menginspirasi Nelson Mandela “I am the captain of my soul”. Bahwa ‘aku’ lah yang harus mengendalikan hidup dengan kemerdekaan memilih jalan terbaik.

      Selamat berjuang.
      A

  14. Pak Andi, terima kasih atas tips dan infonya. Alhamdulillah saya kepanggil wawancara ALA tanggal 12 Agustus. Mohon kesediaannnya untuk saya hubungi dan konsultasi lewat email.

    Regards
    Neti

  15. Alhamdulillah.
    Beli Andi, Saya sungguh bersukur setelah membaca tulisanta.
    Sebelumnya saya perkenalkan dulu nama saya muslimin bisa dipanggil mimin dan tinggal di makassar.
    Kebetulan istri saya masuk daftar wawancara ALA tgl 9 Agustus 2010 minggu depan.
    Saya kasihan sama dia karena sangat khwatir dengan proses wawancara beasiswa. sudah banyak tes wawancara dia lalui dan selalu gagal, makanya saya coba cari trik dan tips mudah2an bisa membantu mengurangi beban istri saya, dan ternyata informasi teknis ada sama beli Andi.makasih banyak yah.
    Mudah2an segala kebaikan beli Andi dibalas setimpal dari yang terkasih. Amin
    Wassalam
    Muslimin

  16. Pak Andi

    Kalau itu kan untuk apply S3, sedangkan S2 apakah sama. Dalam pengertian ini, juga ada proposal riset dan telah mempublikasikan banyak jurnal ilmiah? Apalagi saya fresh garduate..tapi saya punya pengalaman organisasi dan NGO. terima kasih atas jawaban bapak

    Salam,

  17. Pak Andi,

    Terima kasih atas postingnya, bermanfaat sekali. Saya ADS awardee tahun 2007 tapi berencana untuk mengambil ALA tahun ini. Cuma saya baca di persyaratannya ALA meminta nominating agency form yang di dalamnya juga berisi keterangan kalau saya harus kembali ke institusi tempat saya bekerja sekarang. saya bekerja di perusahaan swasta dan di perusahaan tsb tidak ada kebijakan leave for study. mohon pencerahannya. terima kasih

  18. Pak Andi,… is there any ADS alumni who graduated in Sport or sport psychology study ? I have ever try to search in the internet and found no one…i need to know the climate of education in sport school/faculty in Aussie … can you help me (I am sorry for my terrible english sir, but i have to force my self to get more points in TOEFL, i think its not enough yet to win scholarships)

  19. Pak Andi, ada sesuatu hal yg ingin saya tanyakan.
    Saya sdh mendapatkan surat dari ADS utk jadwal tesnya.
    Akan tetapi ada perbedaan mendasar di thn ini.
    Dalam surat dari ADSnya dinyatakan :
    “Harap diperhatikan bahwa terhitung semenjak periode aplikasi thn ini, proses aplikasi ADS dan ALAS akan digabungkan menjadi satu proses.
    Hal ini berarti jika anda berminat untuk dipertimbangkan sebagai penerima beasiswa ALAS 2013 maka anda diharuskan menjawab pertanyaan terkait Supplementary Leadership Award (terlampir) utk membantu tim seleksi interview.
    Harap anda mengisi dan mengembalikan ke kantor Australian Award.

    Jd, pihak ADS saat ini juga menyertakan form ALAS.
    Yang ingin saya tanyakan apakah (statement pada surat dari ADS) jika kita mengisi form ALAS ini, nantinya jika tidak diterima ADS maka kita berpeluang mendapatkan ALAS (ato bakan lgsg mendapatkan ALAS :p ngarep.com) ?

    Sejujurnya ini kan semacam nothin to lose ya. Tapi takutnya kalo ngirim ALAS, menunjukkan kalo kita jd ngga gitu concern ama ADS. N nantinya point kita berkurang lg utk mendapatkan ADS.

    Jd sebaiknya memasukkan form ALAS atau tidak ya ?
    Tks

  20. Met malem Bli, utk form ADS 2012, surat rekomendasi yang dipakai bentuknya seperti apa ya.. ni di form nya tidak ada form baku ttg surat rekomendasinya. mohon bantuannya.. Kemudian, jika kita pernah mengumpulkan informasi dengan mengirim email inquiry ttg jurusan yg kita minati ke universitas di australia, kemudian mendapat balasan (namun belum mendaftar secara resmi di universitas tersebut) apakah itu bisa menguatkan kesungguhan kita utk mendapatkan ADS, dan kita lampirkan juga? trimakasih

  21. you are an inspiring example to young generation, making us want to do as good as you, dear Mr. Andi . I’m still taking a bachelor degree S1 at school of teacher and education,upon my graduation which is almost close, I’m interested to join scholarship program for master degree as my dreams wants to have a chance for studying aboard, but what are the tips for the beginners like me. a big thank you for your willingness to help.

  22. Malam Pak Andi, terima kasih atas blognya yang sangat informatif. Alhamdulillah saya baru menerima kabar bahwa saya dipanggil untuk tes IELTS. Sayangnya saya telah berpikir bahwa saya gagal karena tidak menerima panggilan di saat yang lain sudah menerima surat, jadi saya telah menyetujui kontrak pekerjaan selama satu tahun. Saya ingin bertanya apakah AusAid akan mem-blacklist saya apabila saya mengundurkan diri? Terima kasih.

  23. Selamat pagi, pak!
    Saya Jan 2015 kemarin ikt wawancara AAS, ttp blm berhasil. Dan baru2 ini saya menghubungi pihak Unimelb utk mnt Loa krn saya berniat mau apply Endeavour jg ( berminat utk apply ALA jg, ttp sdh minder duluan krn saya blm ada publikasi tulisan2), dan mereka merespons. Yg jadi mslh, utk apply online dikenakan biaya 100 dolar (+biaya transfer). Saya jd keder nih, pak. Kira2 apakah sy sopan utk mengatakan sy tdk jd apply krn biaya pendaftarannya saya tdk menyanggupi. Dan kl sya mendaftar utk mnt Loa di uni lain yg tdk mengenakan biaya pendaftaran, ttp stlh nanti berhasil mendpt beasiswa saya tetap keukeuh daftar ke Unimelb, kira2 bisakah, pak? TKs byk.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s