Cara Membuat Proposal Penelitian untuk Beasiswa Luar Negeri


The Proposal – movie

Untuk melamar sekolah dan beasiswa, kita kadang diharapkan mengajukan proposal penelitian/riset (research proposal) untuk tesis atau disertasi. Hal ini wajib bagi mereka yang akan sekolah S3 atau S2 dengan penelitian (master by research). Banyak yang bertanya perihal proposal riset ini pada saya. Saya biasanya menjawab sesuai pengalaman saja, tidak ada teori berlebihan. Satu hal yang selalu saya sampaikan, meskipun pernah diterima, proposal saya juga pernah ditolak. Anggap saja tulisan ini pelengkap dari pencarian teman-teman yang sudah sangat intensif. Jika ini adalah tulisan pertama tentang proposal riset yang dibaca, jangan percaya begitu saja, silakan baca tulisan lainnya.

Ibu saya, meskipun tidak sekolah, sering penasaran dengan apa yang saya lakukan. Beliau rajin menanyakan istilah-istilah asing seperti konferensi, proposal, seminar, presentasi dan sebagainya. Tentu saja heran karena beliau tidak pernah menyiapkan anaknya bergaul dengan hal-hal aneh seperti itu. Saya bilang, proposal ini adalah usul. Kalau kita punya satu maksud maka kita perlu sampaikan dalam bentuk usulan. Tujuannya agar pihak lain mengerti dan kemudian mendukung usulan itu. Proposal riset juga demikian.

Proposal itu bisa seratus halaman, bisa juga hanya satu halaman, tergantung untuk siapa proposal itu dibuat. Gagasan yang hebat sekalipun bisa disampaikan dalam satu lembar proposal. Kita akan diskusi proposal versi kedua yaitu versi pendek untuk kepentingan melamar beasiswa luar negeri. Saya akan mengacu pada kerangka pertanyaan proposal di formulir beasiswa ADS (Australian Development Scholarship). Di formulir tahun 2013 halaman 15-16 ada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Jika semua pertanyaan itu dijawab dengan baik, maka kita sudah menghasilkan sebuah proposal penelitian.

Pertama, judul/tema harus tegas dan menarik. Judul atau tema sebaiknya menunjukkan isi penelitiannya sendiri. Dengan membaca judulnya, orang harus sudah bisa membayangkan isinya. Kita tidak sedang membuat film atau novel misteri, apalagi sinetron. Masih ingat sinetron “Tersanjung”? Mengapa judulnya harus “Tersanjung” sementara inti ceritanya bukan soal sanjungan atau menyanjung. Bagaimana dengan judul ini “Study on Error Measurement on Several Standard Setting Methods”? Bisakah kita langsung menebak bidang kajiannya? Sekilas mungkin terdengar bagus, tetapi saya yakin orang yang tidak sebidang ilmu akan menebak-nebak. Saya bahkan menduga ini bidang teknik/sains, ternyata ini terkait pendidikan. Is it just me? Judul yang saya pilih ketika mendaftar ALA adalah “Challenges and Opportunities in the Delimitation of Indonesian Maritime Boundaries – A Legal and Technical Approach

Kedua, latar belakang harus jelas dan mendukung. Apa sih yang membuat kita ingin meneliti itu? Apa yang kita saksikan di sekitar kita? Apa yang kita baca? Apa yang sedang jadi persoalan? Fakta dan fenomena apa yang terjadi atau teramati sehingga kita merasa perlu adanya penelitian? Penelitian saya didukung oleh fakta bahwa Indonesia memiliki sepuluh tetangga yang dengannya perlu menetapkan batas maritim dan belum tuntas hingga hari ini. Fenomena lain adalah bahwa dengan batas yang belum tuntas itu sering ada insiden di perbatasan. Tentu banyak contoh yang bisa disebutkan. Insiden ini merugikan banyak pihak seperti nelayan dan lain-lain. Ketidakjelasan batas ini juga menyulitkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya laut. Maka dari itu perlu ada usaha untuk menyelesaikan batas maritim ini. Penelitian yang serius terhadap ini jelas diperlukan. Bagaimana dengan bidang Anda?

Ketiga, sampaikan pernyataan penelitian dan maksud dengan tegas. Maksud (purpose) ini kadang bermakna sama atau kabur dengan tujuan (objective) dan seringkali penggunaanya tertukar tanpa masalah. Dari pustaka yang saya baca dan pengalaman, ‘maksud’ adalah sesuatu yang lebih filosofis mendasari sebuah riset. Untuk menyatakan maksud, sebaiknya menggunakan kata-kata seperti discover, explain, evaluate, explicate, infer dan sejenisnya. Maksud dari penelitian saya misalnya adalah “to evaluate existing approach in the delimitation of Indonesia’s maritime boundaries with its neighbours and to propose possible improvement.

Di form ADS, pertanyaan purpose ini juga harus dilengkapi dengan keunikan penelitian yang diusulkan. Intinya bahwa usulan penelitian kita harus berbeda dengan yang lain. Meskipun bagus dan penting tetapi kalau sudah ada yang melakukan hal yang persis sama, tentu ini tidak unik. Dengan kata lain, penelitian itu tidak perlu dilakukan karena sudah dilakukan orang lain.

Inti dari sebuah penelitian adalah melengkapi yang sudah ada atau melakukan apa yang belum dilakukan. Sederhananya, kita tidak akan melakukan hal yang persis sama dengan apa yang sudah pernah dilakukan orang lain. Dalam ungkapan Bahasa Inggris disebut bahwa kita tidak “reinventing the wheel”. Maka dari itu kita perlu membaca penelitian yang sudah ada di bidang terkait untuk memastikan kita mengetahui perkembangan bidang tersebut dan menjamin bahwa apa yang kita lakukan tidak mengulang apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Membaca jurnal, laporan resmi, dan buku menjadi sangat penting dalam hal ini. Kita tidak bisa mengatakan “penelitian ini unik dan belum pernah dilakukan” tanpa mendalami atau setidaknya membaca penelitian orang lain di bidang tersebut. Kita juga tidak bisa mengatakan penelitian ini baru dan unik hanya karena ada seorang professor yang kita kenal mengatakan demikian secara lisan. Di sinilah perlunya literature review.

Dalam membuat proposal untuk beasiswa seperti ADS yang biasanya singkat, tentu kita tidak bisa sampaikan semua teori. Cukup sampaikan beberapa pustaka utama untuk menunjukkan bahwa kita sudah mengikuti perkembangan ilmu tersebut dan paham sampai di mana perkembangan riset terkait sehingga kemudian kita bisa melangkah maju berdasarkan apa yang sudah diteliti orang lain. Ini bisa juga diistilahkan dengan “finding the gap” atau mencari “novelty” atau kebaruan dari penelitian kita. Kalimat yang bisa disampaikan misalnya “researches concerning blah blah blah have been carried out by blah blah blah revealing that blah blah blah. While those researches have contributed significantly to the development of blah blah blah, none of those researches have managed to address the blah blah blah aspects of it. This proposed research is aimed at analysing the blah blah blah aspects of the issue to contribute what have been missing in the existing discourses.

Intinya, keunikan itu bisa ditegaskan dengan menyatakan bahwa riset kita akan menggunakan metode baru yang belum pernah, atau menggunakan pendekatan baru, atau membahas kasus yang sama sekali baru, atau menggabungkan beberapa metode di bidang lain yang belum pernah diuji, atau melengkapi kekosongan (filling the gaps) dan lain-lain. Perlu diperhatiian bahwa penelitian unik itu tidak selalu berarti harus benar-benar menemukan sesuatu yang spektakuler. Penelitian tidak selalu tentang menemukan roket untuk pergi ke bulan pulang pergi dalam waktu sehari.

Hal selanjutnya adalah hipotesis. Memang tidak semua penelitian itu perlu menyampaikan hipotesis tetapi umumnya ada hipotesis atau dugaan yang ingin dibuktikan. Dalam kasus penelitian terkait batas maritim, hipotesis yang bisa disampaikan misalnya “pendekatan XXX yang diterapkan saat ini tidak efektif dan perlu diperbaiki dengan pendekatan baru yaitu pendekatan XXX.” Kalau proposalnya berbahasa Inggris tentu tinggal diterjemahkan. Hipotesis ini tentu saja didasarkan pada penelusuran yang cukup intensif. Di sinilah perlunya membaca penelitian terkait sebelum menulis proposal. Tanpa membaca penelitian terdahulu kita tidak bisa membuat hopotesis. Mengutip Will Smith dalam film Hitch, “You can’t really know where you’re going until you know where you’ve been”. Kita memang tidak akan tahu ke mana mana penelitian ini kita arahkan jika tidak tahu persis sudah sampai di mana perkembangan riset saat ini. Hipotesis juga tidak harus selalu benar. Bisa saja hasil penelitian kita nanti menyimpulkan bahwa hipotesis kita salah.

Selanjutnya adaah menjelaskan tujuan penelitian atau objectives. Secara sederhana, tujuan ini merupakan bentuk rinci dan lebih teknis dari maksud (purpose). Tujuan merupakan penjabaran dari maksud menjadi sesuatu yang lebih terukur. Dalam kasus penelitian saya misalnya, tujuannya bisa 1) mendeskrispikan dan menjelaskan status batas maritim Indonesia terkini, 2) mengindentifikasi batas maritim yang memerlukan penetapan baru, 3) mengidentifikasi tantangan dan harapan/kesempatan terkait penetapan batas maritim di masa depan dan 4) menganalisis dan menyajikan opsi batas maritim yang sesuai untuk Indonesia dan negara tetangga. Intinya, sekali lagi, tujuan atau objective adalah pejabaran dari maksud atau purpose penelitian.

Untuk bagian metodologi, kita harus menjabarkan cara atau metode kita dalam mencapai maksud dan tujuan penelitian. Sampaikan apakah akan mengandalkan kajian pustaka saja (literature review) atau disertai dengan eksperimen, wawancara atau Focus Group Discussion (FGD). Jika melibatkan data, sampaikan sumber data serta bagaimana data itu diperoleh dan diolah. Perlu disampaikan juga perangkat yang digunakan untuk mengolah dan metode yang dipakai. Yang tidak kalah penting adalah rencana penelitian dalam bentuk jadwal. Jika belum tahu pasti soal ini maka bisa dibuat kalimat umum yang membuat pembaca proposal mendapat gambaran menyeluruh. Akan lebih baik jika proposal dilengkapi dengan satu pernyataan bahwa kita sudah melakukan langkah-langkah tertentu sebagai persiapan. Misalnya, kita sudah melakukan komunikasi dengan pihak terkait yang akan bisa menyediakan data. Dukungan dari instansi penyandang dana juga perlu disampaikan jika sudah ada.

Kesiapan seorang peneliti juga dinilai dari pengalamannya. Untuk mendaftar S3, biasanya diharapkan orang yang sudah penah meneliti. Maka dari itu penting untuk menyantumkan daftar publikasi, misalnya jika sudah pernah menulis di jurnal atau ikut konferensi. Hal ini akan meyakinkan pembaca proposal bahwa kita memiliki kesiapan yang lebih karena sudah pengalaman. Jika belum pernah menulis sama sekali, bisa juga sampaikan pengalaman yang mendukung, misalnya pernah menjadi asisten peneliti terkait, pernah terlibat dalam pembuatan laporan yang tidak diterbitkan, pernah menulis skpripsi yang terkait, pernah menjadi asisten professor di bidang terkait meskipun belum pernah meneliti secara sistematis. Intinya, sampaikan saja apapun yang bisa menguatkan bahwa kita memiliki kesiapan untuk meneliti di bidang itu. Tentu saja akan lebih bagus kalau sudah pernah publikasi di jurnal atau majalah. Maka dari itu, jika kita membaca tulisan ini dan merencanakan akan sekolah S2/S3 dalam waktu dua atau tiga tahun lagi, pastikan kita melakukan penelitian pendahuluan dan pernah membuat publikasi. Ingat juga, publikasi adalah tulisan yang diterbitkan secara resmi di jurnal yang dinilai oleh rekan sejawat/ahli atau dipresentasikan di sebuah konferensi. Menulis blog atau catatan pribadi tidak bisa dimasukkan dalam kategori publikasi ilmiah meskipun yang ditulis terkait erat dengan bidang penelitian.

Setelah semua perihal ilmiah tercakup, kadang perlu menyampaikan institusi yang tepat untuk proposal tersebut. Sampaikan mengapa kita memilih sebuah institusi, misalnya. Yang jelas sampaikan alasan yang mendukung misalnya, kampus tersebut memiliki pusat studi yang relevan, memiliki banyak ahli di bidang terkait dan adanya mahasiswa S2 dan S3 yang meneliti bidang terkait. Atau mungkin karena universitas tersebut memiliki program pendidikan yang secara formal memang mengajarkan bidang yang kita minati, misalnya program S2 dengan konsentrasi di bidang yang sesuai. Intinya, kita harus melakukan penelitian secara intensif dengan membaca sebanyak mungkin informasi tentang universitas yang kita tuju terlebih dahulu sebelum menulis proposal. Coba lihat tulisan saya terkait memilih universitas.

Selain institusi, kadang kita juga perlu mencantumkan calon pembimbing/supervisor kita untuk S2 atau S3 nanti. Jika sudah kenal tentu tidak ada masalah. Jika belum maka ini bisa jadi masalah tersendiri. Intinya kita harus menjalin kontak terlebih dahulu dengan calon supervisor ini. Coba baca tulisan saya terkait cara menghubungi calong pembimbing. Setelah mendapat nama, tentu kita harus mejelaskan alasannya mengapa orang ini dipilih. Keahlian tentu saja menjadi alasan utama yang dibuktikan dengan jumlah publikasinya di jurnal atau di konferensi atau buku yang ditulisnya. Keterlibatan dia di organisasi profesi, misalnya menjadi presiden asosiasi profesi internsional, adalah salah satu alasan yang baik. Intinya, sampaikan mengapa dia layak jadi supervisor. Jika ada alasan pribadi, misalnya merasa cocok bekerjasama dalam bidang ini karena sebelumnya pernah penelitian bareng, silakan sampaikan.

Bagian yang sangat penting dalam membuat proposal penelitian untuk melamar beasiswa adalah menunjukkan manfaat penelitian itu bagi Indonesia. kita harus memikirkan ini dengan seruis dan menjawab dengan tepat. Di sini kita perlu tahu persoalan Indonesia yang terkait penelitian kita dan bagaimana penelitian itu akan memberi solusi atau setidaknya membuat pemahaman terhadapnya jadi lebih baik. Semakin spesifik, semakin bagus. Misalnya sebaiknya tidak mengungkapkan istilah-istilah umum seperti “dengan penelitian ini maka persoalan tentang ini akan bisa diatasi”. Yang lebih bagus misalnya “penelitian dari X dan laporan dari lembaga Anu menunjukkan persoalan di Indonesia terkait dengan A, B dan C. Sementara itu, penelitian ini diharapkan akan menghasilan P, Q dan R yang secara langsung bisa dimanfaatkan untuk menanggulangi persoalan A, B dan C. Secara spesifik, akan hal ini akan dilakukan dengan cara ini dan itu.”

Proposal yang baik juga harus menyertakan informasi apakah akan melibatkan kerja lapangan (field work) atau tidak. Jika ya, lebih baik menjelaskan fieldwork ini dengan rinci. Saya paham, umumnya para pelamar beasiswa belum memiliki gambaran bagaimana hal ini dilakukan. Sampaikan saja secara umum bahwa data untuk penelitian ini akan diperoleh dari lembaga A, B dan C dan memerlukan interaksi langsung untuk memperolehnya. Selama penelitian, Anda akan melakukan kunjungan untuk penelitian lapangan ke A, B dan C yang direncanakan akan dilakukan pada tahun kedua. Selama fieldwork itu, jelaskan bahwa kita akan melakukan komunikasi pendahuluan dengan instansi terkait dan meminta orang-orang tertentu untuk membantu, bisa juga sebagai pembimbing lapangan. Jelaskan dengan estimasi berapa lama penelitian lapangan itu akan berlangsung dan sumberdaya apa saja yang diperlukan. Misalnaya selain tiket PP dari Australia ke lokasi, kita juga akan memerlukan akomodasi dll. Dalam hal ini kita harus tahu persis apakah biaya ini bisa ditanggung oleh penyedia beasiswa atau tidak. Jika tidak, sampaikan bagaimana strategi kita mengatasi masalah itu. Misalnya, sampaikan bahwa di lokasi tersebut kita memiliki saudara yang bersedia membantu akomodasi, misalnya. Hal ini nampak sederhana dan kecil tetapi bisa menguatkan prosposal kita. Tentu saja hal ini tidak harus dijadikan isu utama, tetapi pendukung yang menguatkan. Hal utama tentu saja adalah konten ilmiah dari proposal tersebut.

Sebagai penutup, coba bayangkan diri kita menjadi seorang penilai atau penguji proposal penelitian. Apa yang membuat kita yakin proposal itu layak diterima? Coba renungkan. Coba juga tanyakan hal-hal berikut:

  1. Apa sih yang mau dilakukan peneliti ini? Maksusnya apa, tujuannya apa? Lalu latar belakangnya apa kok dia mau meneliti topik ini?
  2. Mengapa penelitian ini perlu dilakukan. Kalau tidak dilakukan bagaimana?
  3. Penelitian ini memang baik, tapi apakah memang masih perlu diteliti? Apakah belum ada penelitian lain? Apa bedanya/kelebihannya dengan penelitian yang sudah ada?
  4. Bagaimana cara dia melakukannya? Apakah hanya baca buku saja di perpusatakaan atau akan tenggelam di lab atau jalan-jalan wawancara orang-orang di lapangan. Lalu mengolah datanya bagaimana sehingga maksud dan tujuannya tercapai?
  5. Mampukah orang ini melaklukannya? Kesiapan akademisnya bagaimana? Dukungan pihak luar bagaimana? Dukungan dana?
  6. Dan banyak lagi pertanyaan yang mungkin muncul. Coba renungkan dan jawab pertanyaan itu di proposal. Semakin banyak pertanyaan yang bisa dijawab oleh proposal itu, semakin bagus dia dan semakin berpeluang untuk diterima.

Akhir kata, saya kembali tegaskan bahwa tulisan ini tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan dan saya tidak pernah mengklaim ini tips yang pasti membuat proposal Anda diterima. Meski demikian, saya memang pernah membuat proposal dengan cara yang sama dan diterima. Di luar semua hal-hal yang rumit, selalulah ingat bahwa proposal, seperti yang saya jelaskan ke ibu saya, adalah usulan semata, tidak lebih dari itu. Dia akan diterima jika bisa menjawab semua (atau sebagian besar) pertanyaan dan keraguan dari mereka yang menerima usul itu. Lihat juga contoh proposal yang pernah saya buat. Selamat berjuang.

PS. Baca juga: Panduan menulis proposal

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

91 thoughts on “Cara Membuat Proposal Penelitian untuk Beasiswa Luar Negeri”

      1. wah masih blum “ngeh” bli..maaping di tengah media sosial yg menggurita? tp kan harus masuk juga dengan pekerjaan di instansi yg bersangkutan..

        boleh tau email bli, supaya bisa diskusi lagi 🙂

  1. pak andi,saya ingin bertanya pak, untuk pendaftaran ads perlukah kita melampirkan proposal research kita? terimakasih sebelumnya pak atas responnya

    1. Perlu jikaambil Master by research atau PhD. Kalau ambil master by coursework, tidak perlu 🙂 Apa bedanya master by research dgn by coursework? Silakan baca di halaman ADS 2013 ya 🙂 Good luck.

      1. pak andi, untuk format proposal resmi dari ads sendiri sudah adakah? mohon maaf mungkin saya sudah “ubek2” situsnya tapi kok belum nemu format resminya ya?

      2. udah pak, yang itu sudah saya isi. Owalah, cuman itu doang toh pak, saya pikir harus bikin proposal yang seperti proposal untuk bikin skripsi dulu pak 🙂 .
        Terima kasih banyak pak andi atas info2nya. Sejauh ini sangat membantu

  2. Pak Andi, saya atma. saya ingin bertanya pak.
    1. melihat diagram penerima ADS, yang mengambil master by research hanya sekitar 2%. menurut bapak itu artinya peluang kita dapat ADS bila ingin mengambil master by research kira2 menjadi lebih besar atau malah lebih kecil pak? (mungkin karena quota begitu).

    kemudian, setelah membaca tulisan bapak di atas, sejujurnya saya agak kecil hati. saya belum pernah terlibat penelitian dengan dosen (misalnya membantu penelitian), tidak memiliki publikasi ilmiah, dan walaupun pernah melakukan penelitian untuk skripsi, penelitian yang saya ambil untuk ADS nanti tidak berhubungan dengan skripsi dulu.
    2. menurut bapak, apa saja yang menjadi penilaian kesiapan melakukan penelitian tadi? cukupkah dengan membaca jurnal2 saja? saya bekerja di rs pak, penelitian yang mau saya ajukan menurut saya bisa dikorelasikan dengan background saya sebagai orang rs, kira2 cukupkah itu?
    3. apakah boleh master by research diambil oleh bukan orang yang berasal dari kampus (dosen)? saya bekerja di rs, dan bukan rs pendidikan pak.

    4. maaf pak, ini aga nyambung sm ADS.hehe, kalau kita Master by Coursework apa bisa menjadi dosen di indonesia ya pak? mengingat dosen2 selalu membimbing penelitian mahasiswanya (terutama background saya farmasi) dan coursework sendiri tidak melalukan penelitian.

    terimakasih banyak pak. maaf bila tata bahasa saya kurang baik.

    1. 1. Saya tidak melihat korelasi itu. Kenyataannya minat pendaftar riset memang lebih sedikit tetapi tidak ada kuota jadi persaingannya bukan antara sesama riset atau sesama coursework. Tidak ap2 kl blum pernah ikut penelitian 🙂
      2. Waktu saya daftar S2, saya belum pernah riset sama sekali selain skripsi. Saya tidak akan berteori soal ini.
      3. Boleh.
      4. Bisa

  3. Dear Mas Andy,
    Apa kabar? masih ingat hilda?….. 🙂
    tulisan tulisan mas andy bagus sekali….. saya mohon izin share tulisan2 mas andy terutama yg berkaitan dengan persiapan utk apply beasiswa ADS,,, akan sangat membantu mahasiswa saya yg ingin apply ADS juga.

    Terimakasih….

  4. pak.. saya ikut OSIS dibidang P2BN. saya disuruh buat program dalam 1 tahun kedepan 2012/2013. tapi saya belum tau buat program apa..
    kalo bpk bisa bantu saya,, saya sangat berterima kasih sekali..

  5. Pak Andi, saya ingin menanyakan bagian proposal ini. Saya jurusan teknik geologi. Apabila saya mengambil S2 tapi by research, serta mengambil lapangan di Indonesia, apakah dalam proposal juga wajib dicantumkan lokasi penelitian yang sudah fix? Dan itu artinya sebelum apply ADS lapangan yang saya pilih sudah harus saya pastikan terlebih dahulu (karena terkadang faktor perizinan untuk penelitian d daerah tersebut yang agak rumit)??

    Saya sudah baca contoh proposal dari link yang anda berikan, hanya masih bingung bagaimana seharusnya content proposal jika pengambilan data saya di Indonesia. Terimkasih..

  6. terima kasih tulisannya, saya sempat kebingungan buat proposal sampai hampir pilih pindah ke coursework saja. semoga belum terlambat buat daftar tahun ini.

  7. wow keren bgt pak Andi.. sya sudah bca semuanya mskipun tdk smuanya sya pahami.. terus berbagi lewat tulisan ya pak Andi.. 🙂

  8. pak andi, saya berminat mengajukan penelitian di belanda untuk thesis saya. saya sekarang ambil notaris. saya mohon jika ada masukan untuk penelitian saya pak.
    studi komparatif indonesia dan belanda tentunya

  9. Alhamdulillah nemu link ini terima kasih banyak pak atas bantuannya
    Sebelumnya proposal saya sampai berlembar2 ternyata tidak semuanya harus ditulis,he. Baru pertama jadi bingung, terima kasih banya ya Pak.
    Saya berharap dapat memajukan pendidikan Indonesia dengan proposal yang hendak saya buat
    Mohon doanya ya Pak semoga diterima 🙂

  10. sebagai newbie, ini bisa menjadi rujukan besar untuk pembuatan proposal. saya kira untuk pengajuan proposal seperti pengajuan proposal skripsi. makasih pak andi, planning mau ke SCUT (south china university of technology)..

  11. pak saya mau ambil master human research management.. kira-kira saya harus ambil coursework atau research? soalnya saya ingin mengangkat masalah yang terjadi di daerah sy di NTT.. mohon bantuannya pak 🙂

  12. Dear Pak Andi
    kebetulan Pak tahun ini saya akan mendaftar AAS. Rencana saya akan mengambil Master by Research. yang menjadi pertanyaan saya, apakah tema proposal research yg kita tulis, diberikan oleh profesor research universitas yg dituju or dari kita sendiri??
    karena sebelumnya saya mendapat info bahwa tema proposal research diberikan oleh profesor univ yg dituju??
    Mohon penjelasannya pak..
    Thank before pak Andi..

  13. Dear pak Andi
    Terimakasih banyak atas tulisannya, sangat bermanfaat bagi kami para freshgraduate S1 yang ingin mencoba mendapatkan beasiswa S2. Pak Andi, saya punya beberapa pertanyaan
    1. Saya lulusan dari Pendidikan Kimia di sebuah Universitas negeri di Medan. Saya ingin sekali melanjutkan pendidikan saya ke jurusan Science and Mathematics Education di Australia. Pada jurusan tersebut, manakah yang sebaiknya saya pilih Master of Research atau Master of Coursework, pak?
    2. Bagaimana cara untuk memilih dosen pembimbing proposal kita di universitas Australia?

    Terimakasih banyak pak Andi, mohon bimbingannya. Semoga saya juga bisa sukses seperti bapak.

  14. Wah, bagus ini pak Andi.

    Saya juga ingin sekali penelitian tentang imunologi di Jepang, masalah universitas mana, saya masih bingung, maklum tidak ada link. Saya ingin penelitian di sana karena saya bisa bahasa Jepang, meskipun bisa bahasa Inggris juga. Saya pernah email dengan salah satu sensei di universitas Kyushu setelah baca salah satu jurnal beliau. Katanya mengajukan penelitian di luar negeri tidak semudah itu, mungkin prosedurnya ribet. Apa benar?

    Oiya, pak Andi punya contoh proposal untuk penelitian di luar negeri tidak?

    Terima kasih pak.

  15. dear pak andi

    mohon pencerahannya

    1. apa plus minus s2 atau s3 by coursework dan by research?

    2. apakah by coursework dan by research semuanya dicover beasiswa?

    3. apakah surat rekomendasi khusus s2 wajib mendapat surat rekomendasi dari mantan dosen pembimbing TA ketika s1 apa cukup hanya mendapat surat rekomendasi dari pimpinan tempat kerja dikarenakan lokasi tempat saya kerja sangat jauh kalau mau mendapatkan surat rekomendasi dari dosen pembimbing TA s1?

    4.adakah minimal surat rekomendasi yang dipersayaratkan?

    Regards

    Tks

  16. Alhamdulillah ada artikel ini, matur nuwun ya pak. Kebetulan sedang bingung mengenai proposal riset, karna itu menjadi salah satu syarat untuk mendaftar daftar beasiswa S2 ke Brunei.. Tetapi kalau memang tidak ada arah untuk menjadi peneliti atau pengajar, apa mengambil Master by Research termasuk “buang-buang waktu” pak?

  17. Terima kasih pak Andi, info Bapak banyak membantu untuk melamar beasiswa. Inilah intelektual yang mau berbagi . Semoga pak Andi dan keluarga selalu diberkati Tuhan

  18. Pagi pak Andi. Saya S1 jurusan Sastra Inggris. Skripsi saya meneliti tentang kejiwaan karakter utama dalam sebuah novel. Pengalaman saya dalam Research hanya itu saja. Apakah penelitian kita hanya menggunakan sumber dari buku, jurnal, dll tidak terjun ke lapangan bisa untuk mendapatkan beasiswa tersebut pak? Atau penelitian tersebut harus terjun ke lapangan?

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s