Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran


Ada hal yang belum pernah saya kisahkan di blog ini. Ketika saya dipanggil untuk ujian wawancara Australian Development Scholarship (ADS) pada bulan November 2002 silam, saya dalam keadaan tidak bersemangat. Mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, saya tidak terlalu bergembira. Biasa saja. Bukan karena saya meremehkan Australian Development Scholarship dan telah yakin akan dipanggil, semata-mata karena saya tidak menjadikan Australia sebagai tujuan utama pendidikan lanjut saya. Eropa adalah satu-satunya tempat yang terbersit di benak saya ketika itu. Belanda menjadi negara yang lebih spesifik lagi. Semetara itu, ADS ketika itu adalah sebuah kisah sambil lalu bagi saya. Kalau dapat, bagus, tidak dapat juga tidak masalah. Gejolak jiwa muda, Eropa adalah mimpi.

Keisengan memang kadang berbuah serius. Saya diterima ADS bahkan sebelum saya sempat mendaftar STUNED, beasiswa S2 ke Belanda. Sementara itu, seperti dipersyaratkan, saya sudah mengantongi surat penerimaan dari TU Delft di Belanda dan nilai IELTS yang lebih dari cukup untuk bisa mendaftar STUNED. Dalam hati ada perasaan yakin karena di atas kertas saya telah melampaui syarat minimal untuk bisa diterima. Keberhasilan memperoleh beasiswa ADS juga menebalkan rasa percaya diri. Dengan mensyukuri keberhasilan memperoleh ADS, saya tetap melanjutkan niat mendaftar STUNED.

Saat menyelesaikan formulir beasiswa STUNED, saya terantuk pada satu pertanyaan yang kira-kira bermakna “apakan Anda sedang/sudah mendaftar beasiswa lain dan jika ya, sudah sampai pada tahap apa proses pendaftaran tersebut?” Sebenarnya formulir STUNED itu sudah cukup lama saya isi dan tidak begitu peduli dengan pertanyaan ini. Tentu saja pertanyaan ini tidak lebih penting dari pertanyaan kunci lainnya seperti topik studi, motivasi, peran saya di masa depan, tema penelitian dan sejenisnya. Pertanyaan yang ‘mengganggu’ saya kali ini tentu saja menjadi pertanyaan yang paling tidak disiapkan jawabannya oleh seorang pelamar beasiswa. Kini, setelah saya dinyatakan secara resmi memperoleh beasiswa ADS, pertanyaan ‘sederhana’ ini menjadi penting dan tidak mudah dijawab. Setidaknya demikian yang saya rasakan ketika itu.

Pilihannya sebenarnya cukup jelas: berbohong atau jujur. Menurut kalkulasi sederhana saya waktu itu, jika saya berbohong, ada kemungkinan saya akan mendapat beasiswa STUNED. Meski demikian, ada persoalan moral yang sepertinya mengganjal. Jika saya jujur mengatakan bahwa sudah mendapat ADS, saya boleh lega secara moral, tetapi peluang mendapatkan STUNED akan turun jauh sekali. Hal ini juga dikonfirmasi oleh Mas Heri Sutanta, alumni STUNED yang sempat menanyakan hal serupa kepada NEC Jakarta. Singkat kata, untuk persoalan sederhana itu, saya bingung. Tidak mudah mengkompromikan soal moral dan gejolak jiwa muda yang ingin menjelajahi Eropa. Sayapun menghadap Prof. Sudjarwadi, wakil rektor UGM ketika itu dan sekarang (2011) menjadi rektor UGM.

Lelaki bersahaja dengan rambut putih itu duduk tenang di depan saya. Saya menatap beliau lekat-lekat ketika secara singkat meminta saya menceritakan apa yang terjadi. “Saya tidak baca surat Anda tetapi saya ingin mendengar langsung kisahnya. Tolong ceritakan secara singkat” demikian Pak Djar meminta. Sayapun menjelaskan secara runut apa yang terjadi dan terutama apa yang saya rasakan. Dengan tekun Pak Djar menyimak kisah saya. Rupanya beliau berpikir dan menimbang-nimbang.

“Mas Made”, katanya memulai tanggapannya, “bagi saya, kejujuran adalah yang utama.” Jawaban Pak Djar begitu singkat, diucapkan dengan pelan tetapi penuh keyakinan. Seraya menatap mata saya lekat-lekat digenggamnya map yang berisi formulir beasiswa STUNED dan surat penerimaan dari ADS. Beliau menyodorkan map itu pada saya seakan menyampaikan sebuah ajaran kebajikan. Bagi saya, sodoran map dengan gerakan pelan yang penuh energi itu adalah pesan seorang guru pada muridnya. Entah darimana datangnya, ada energi besar yang menjalar di tubuh saya dan dengan sigap saya segera meninggalkan ruang Wakil Rektor UGM di Balairung.

Dengan penuh keyakinan, saya tetap melanjutkan lamaran saya untuk STUNED dan mengatakan situasi saya terkait ADS. Atas nasihat kejujuran yang disampaikan Pak Djarwadi, saya menambahi bahwa jika saya diterima STUNED maka saya akan memilih STUNED, bukan ADS. Dengan mantap, saya kirimkan lamaran itu. Saya merasa lega telah melakukan yang semestinya dan tetap berharap yang terbaik. Intinya saya ingin memuaskan rasa penasaran saya akan Eropa sambil menghindari kebohongan.

Di awal atau pertengahan Juni 2003, saya menerima sebuah email penting yang berasal dari NEC Jakarta, penyelenggara beasiswa STUNED ketika itu. Isinya adalah permohonan maaf dan menyayangkan karena saya tidak berhasil memperoleh beasiswa STUNED. Saya yang berada di Warnet ketika itu merasakan tubuh saya melayang tidak menentu. Ada sebongkah kekecewaan yang terasa dan sangat sulit digambarkan. Saya tercenung lama, meneliti ulang email itu dan berharap saya salah membaca. Semakin sering saya baca, semakin pusing saya dibuatnya. Dunia menjadi suram dan rasa kecewa semakin besar. Secara spontan, saya menuduh bahwa kejujuran itulah yang membawa saya pada kegagalan ini. Secara spontan juga, saya menyalahkan Pak Djar yang telah menasihatkan kejujuran itu pada saya. Secara spontan, saya merasa akan lebih baik jika saya berbohong ketika itu. Kekecewaan itu membuat saya berpikir tidak lurus dan dengan mudah meragukan nilai-nilai kebajikan.

Di suatu sore, saya bertemu dengan seorang rekan dosen UGM yang juga mengalami kekecewaan karena tidak berhasil mendapatkan STUNED. Lebih mengenaskan, beliau belum mendapatkan beasiswa sama sekali ketika itu. Ketika menanyakan TOEFL/IELTS dan IPnya, dalam hati saya bisa memaklumi mengapa beliau belum diterima. Sejak sore itu saya merasa harus mensyukuri apa yang sudah saya capai. Saya memang tidak mendapatkan beasiswa STUNED tetapi setidaknya saya sudah mendapatkan beasiswa ADS yang juga bergengsi. Sempat juga saya menghibur diri bahwa jumlah allowance ADS jauh lebih besar dari STUNED. Ini adalah alasan pragmatis lain yang kadang menjadi pertimbangan seorang pemburu ilmu berkebangsaan Indonesia.

Di waktu berikutnya saya mendengar berita baik sekaligus menggelisahkan. Kawan saya yang tadinya tidak diterima STUNED ternyata masuk daftar tunggu. Yang lebih mengejutkan lagi, beliau akhirnya dipanggil dan dinyatakan berhasil mendapatkan STUNED. Berita ini tentu saja menyenangkan bagi kawan saya ini tapi terus terang, sebagai manusia biasa ada perasaan tidak nyaman. Ego saya tidak bisa menerima kalau kawan saya, yang menurut indikator formal (TOEFL/IELTS dan IP) tidak lebih baik dari saya, berhasil memperoleh beasiswa yang saya idam-idamkan sementara saya sendiri gagal. Saya merasakan ketidakadilan tanpa bisa berbuat apa-apa. Banyak kawan yang menghibur bahwa saya tidak berhasil mendapatkan STUNED bukan karena tidak mampu tetapi karena sudah mendapatkan beasiswa ADS. Mendengar itu, ada perasaan lain yang lebih berbahaya: kejujuran adalah sebuah kesalahan.

Heidelberg, Agustus 2008

Saya takzim menyimak penuturan seorang kawan, di sore yang dingin di Heidelberg yang cantik. Sudah berberapa hari ini saya menjelajahi Eropa. Setelah presentasi di Oslo, Norwegia, kini saya berkunjung ke Max Planck Institute di Heidelberg, Jerman. Sore ini saya bertemu seorang kawan, mahasiswa S3 dari Indonesia. “Saya sudah beberapa kali melamar ADS Mas, tidak pernah diterima. Saya pengen sekali ke Australia waktu itu tetapi nasib membawa saya ke Jerman. Tapi akhirnya sempat juga saya ke Australia beberapa waktu lalu untuk presentasi paper di konferensi.” Saya tersenyum dan ingatan saya melayang ke beberapa tahun lalu. Saya tebarkan pandangan menjelajahi kolom-kolom gedung tua khas Eropa yang berhias bunga-bunga merah darah berjuntai. Di dekatnya mengalir sunga Neckar yang tenang berhiaskan jembatan-jembatan tua melengkung menghubungkan pemukiman rapi di sisi kiri dan kanannya.

Monaco, 26 Oktober 2010

Saya sedang berdiri di atap gedung International Hydrographic Office, memandang teluk yang menemani kota Monaco yang cantik. Tiba-tiba lamunan saya buyar saat Ron Macnab, seorang geolog senior dari Kanada, datang mendekat. Saya sedikit grogi didatangi orang paling senior di konferensi itu. Senyumnya tak segera menenangkan perasaan saya, meskipun saya berusaha tidak terlihat grogi. “This is the second time I attended your presentation, Andi. I enjoyed them very much. We will have a discussion with the board members at the end of this conference and I will suggest that you are involved in the revision of TALOS Manual. We will need your expertise in making animation. I believe we need more of those animations so people can understand technical aspects of the law of the sea better. I hope you can help us.

Paris, 11 Oktober 2009

“Hadirin sekalian, kita sambut Mas Made Andi Arsana, juara umum OKTI 2009” demikian MC berucap lantang diikuti oleh riuh tepuk tangan hadirin. Sayapun beranjak menju podium untuk menyampaikan pidato kemenangan. Aula KBRI Paris ketika itu dipenuhi wajah-wajah bergairah. Mereka adalah peserta Olimpiade Karya Tulis Inovatif (OKTI) yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Perancis. Sebelum mulai, saya sempat menebar pandangan. Saya lihat para delegasi itu, mereka adalah mahasiswa Indonesia yang menjadi peserta OKTI. Di depan mereka tertulis nama negara tempat mereka menuntut ilmu. Sepintas saya melihat Jerman, Swedia, Perancis, Filipina, Rusia, Korea Selatan, Australia dan seterusnya. Di suatu sudut, mata saya terantuk wajah-wajah cerah yang menantikan pidato kemenangan saya. Di depan mereka tertulis nama sebuah negara: BELANDA. Ingatan saya kembali melayang ke beberapa tahun silam. Entah berhubungan entah tidak, saya jadi yakin bahwa Pak Djarwadi benar “kejujuran adalah yang utama” dan bahwa kejujuran bukanlah sebuah kesalahan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

67 thoughts on “Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran”

  1. terimakasih mas atas tulisannya, baru baca ini mengingatkan kondisi saya sekarang, kalo ada waktu mungkin saya dapat ngobrol lebih banyak..

  2. kamu bener banget, kejujuran adalah hal yang utama…dulu aku juga pengin ke Belanda, padahal waktu itu aku udah di Perth…ehhh skrg malah di Jerman dan menjelajah Eropa 🙂 anyway, apapun pilihan kita berbuat yg terbaik dan jujur tentu akan membawa kita menuju impian yg sesungguhnya !! tetep semangat Bli…:)

  3. Saya awalnya juga Europe-minded, tapi setelah dapet ADS saya merasa bersyukur Mas, banyak hal yang baik yang saya dapat dari beasiswa ini, dan saya yakin tetap bisa melanjutkan sekolah ke Eropa dengan berbekal kuliah di Ausi, semoga 🙂

  4. mirip dengan pengalaman saya,waktu itu saya juga lebih senang untuk kuliah di Belanda.alhasil saya daftar dua2nya..tapi karena lebih dulu daftar ke STUNED,pertanyaan yang jadi masalah tersebut bisa saya lewati dengan mudah.
    bedanya,saya akhirnya berubah pikiran dan lebih memilih ADS karena lebih adil.dalam artian semua yang lolos diwajibkan mengikuti EAP walaupun dengan masa belajar yang berbeda,tergantung IELTS-nya.
    kalau STUNED tidak,yang dipanggil mengikuti EAP adalah hanya yang nilainya pas2an.kalau terlalu rendah atau terlalu tinggi tidak dipanggil.
    walhasil, saya, yang nilai TOEFL-nya ketinggian, tidak diikutkan dalam EAP.walaupun masih tetap berkesempatan mendapatkan beasiswa.
    berhubung saya waktu itu belum mendapatkan surat penerimaan dari uni di Belanda, dan untuk mendapatkannya saya tidak difasilitasi untuk meng-upgrade nilai TOEFL/IELTS saya,maka saya terpaksa memendam keinginan berangkat ke Belanda dan lebih memilih ADS yang kepastiannya lebih tinggi dimana setelah pengumuman lolos,saya diikutkan dalam EAP.

  5. Pak Andi yang baik, saya Kurniati dari Malang. Saya sudah dapat 3 orang superviosr yang bersedia membimbing Ph.D untuk persyaratan S3 ADS, tetapi saya ada sedikit kebingungan dalam memilih. Universitas yang bukan Big Eight, tapi punya banyak akhil di bidang saya, atau Universitas yang Big Eight, tapi tidak banyak yang ahli ? Info lengkapnya ada di email. mohon dibaca email dari saya, bila ada kesempatan, Regards,…..kurniati

    1. Saya pribadi memilih ahlinya yg penting. At the end kita akan diasosiasikan dengan ‘guru’ kita. Ini pendapat subyektif saya. Yg paling ideal tentu saja guru keren, padepokan keren.

  6. Pak Andi yang baik, terima kasih atas info nya yang lengkap. saya ika, salah satu pengejar beasiswa ke belanda…tp setelah membaca tulisan anda, seperti nya saya harus lebih realistis ya pak. artinya, coba saja semua kesempatan yang ada, karena kita tidak akan pernah tahu ending nya di mana.

    saya sedikit mau sharing pak, beberapa bulan lalu saya memberanikan diri untuk mengirim email kepada salah satu prof di king’s college london – university of london.
    Ternyata prof tersebut menanggapi dengan baik, bahkan memberikan rekomendasi kepada saya untuk aplikasi chevening. Pertanyaan saya, apa yang harus saya lakukan agar dapat menjaga komunikasi tersebut-tidak hanya terbatas pada permintaan rekomendasi saja.

    Terima kasih pak, atas info nya

    1. Mustika,

      Secara manusiawi, orang senang diperhatikan dan diapresiasi. Saya sarankan, setiap kali berkomunikasi, jadikan sang profesor sebagai topik, bukan diri Anda. Misalnya, selalu singgung soal karya dan pemikirannya. Untuk bisa begitu, Anda harus membaca karya2nya. Good luck!

      1. terima kasih pak atas sarannya. saya sudah baca info tentang master by course work dan master by research di blog bapak.
        apa bedanya dengan master by field work..
        oh ia pak, apakah saya bisa mengirimkan pertanyaan langsung ke email pribadi bapak.

        terima kasih banyak…

      2. Tidak ada istilah master by fieldwork, setahu saya. Fieldwork itu adalah bagian dari penelitian dalam rangka meninjau/mengobsevasi/megumpulkan data lapangan. Ini biasanya bagian dari master by research. Fieldwork biasanya dilakukan di Indonesia untuk penelitian yg terkait ina.

  7. saya belum dapat beasiswa s3 sampai sekarang, mudah2an saya bisa mengambil hikmah juga. terimakasih atas pelajaran kejujuran

  8. Saya suka tulisan ini, mas Andi. Betul itu, cepat atau lambat kejujuran itu yang akan ‘menang’. Mungkin mas Andi bisa ke Eropa, tanpa jujur pada STUNED, tapi mas Andi akan mengalami ‘kekalahan moral’, tidak mendapat ketenangan hingga dapat berprestasi dalam jangka panjang. Seorang teman telah membuktikan, bahwa ketidak jujurannya untuk memodifikasi nilai toefl agar mendapatkan beasiswa, berbuah kemandegan studi saat bersekolah di luar negeri. Sederhana saja, pada akhirnya ia mengalami keguncangan moral, karena caranya yang tidak jujur itu.

    Meskipun dahulu saya pernah S2 di UK, kesempatan S3 dari ADS ini adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya. This is the best place for me, seperti mas Andi juga. Begitu banyak kesempatan dipercayakan kepada saya oleh supervisor untuk mengembangkan diri seperti menjadi tutor, presenter rutin di Fakultas, volunteer, pendamping tamu-tamu luar negeri saat mengunjungi lab saya atau presenter di conference international seperti mas Andi. Di situlah saya belajar, apa yang terlihat biasa-biasa saja, bisa menjadi sangat luar biasa kalau kita mau bekerja sama kerasnya dan belajar menikmati keadaan yang sesungguhnya.

    Oya, lima tahun lalu saya sempat bertanya pada mas Andi tentang kuliah di Australia, now, here I’m, di Indonesia lagi, siap berkontribusi untuk institusi. Terima kasih untuk sarannya ‘supaya mulai dan konsisten menulis saat riset di sana’. Meskipun belum tampak hasilnya, semoga suatu hari dapat mengikuti jejak langkah anda.

    Salam,
    Monita

  9. bli made (kbtln nama sama2 andi) sedang berusaha mencari beasiswa S3,apakah mgkn bila msh CPNS utk melamar beasiswa diluar.krna yang saya tahu beberapa beasiswa mengharuskan telah PNS.thnks

  10. Berharap bisa mengikuti jejak Mas Andi……………..sangat menginspirasi……. Bersyukur tanpa kesengajaan diijinkan Tuhan menemukan Blog ini….. GBU Always Mas andi…..Salam kenal

  11. sebagai adik angkatan, Saya pribadi Bangga akan pencapaian anda selama ini, semoga makin banyak ornag yang terinspirasi dan bahkan menjadikan anda panutan, SUKSES untuk Mas Andi.

  12. Salam Pak Andi

    Tulisan ini membuat saya ingin tersenyum, bahwa hal yang coba dipertahankan tidaklah salah “kejujuran bukanlah sebuah kesalahan” jargon diakhir tulisan memberikan saya semangat untuk selalu jujur pada kehidupan.

    terimakasih sharing-nya

  13. Salam Pak Andi

    Tulisan ini membuat saya tersenyum lega, bahwa hal yang coba dipertahankan tidaklah salah “kejujuran bukanlah sebuah kesalahan” jargon diakhir tulisan memberikan semangat untuk selalu jujur pada kehidupan.

    terimakasih sharing-nya 🙂

  14. Salam…

    Btw Mas Andi, kalo standar nilai IELTS untuk studi PhD di Belanda kira2 berapa ya? Apakah teman Mas Andi memenuhi standar nilai tersebut??

    Tks

  15. saat ini saya berada dalam kondisi yang sudah Bapak alami 10 tahun lalu, tapi dalam derajat yang jauh lebih rendah 🙂
    Selama ini saya berfikir bahwa STUNED adalah satu-satunya tujuan saya ke depan. Setelah membaca ini, dan mengingat kesiapan serta dateline STUNED tahun ini, saya makin menyadari bahwa tindakan saya itu sangat tidak dewasa dan tidak bijak.
    Semoga saya bisa mengikuti jejak Pak Made..
    terima kasih Pak pencerahannya ^^

  16. hehe tetap lain dong kuliah dan stay di eropa beberapa tahun dengan mengunjungi/berkegiatan cuma beberapa hari :D.. hehe maaf cuma bercanda.. saya kira bli Andi deserve kok dua2nya.. cuma memang nasib dan takdir di luar kendali kita. saya kira yg penting adalah kita bermanfaat apakah tidak sekolah/beasiswa di LN atau malah tidak berpendidikan formal.. bli Andi saya lihat sudah sangat banyak memberi manfaat dan inspirasi

  17. Mantap..tulisan yang luar biasa …mas dosen….ternyata bgitu ya critanya….ehm, ……sad but true…., tp pokoke tetap lanjuut…..n tak tunggu kabar Phd.-nya…

  18. Halo,mas Andi..
    Sangat ‘menyenangkan’ membaca Blog mas Andi untuk pertama kalinya.. Apalagi topiknya benar-benar sesuai dengan prinsip yang (susah tapi berusaha) saya hidupi.. Perkenalan yang benar-benar merupakan suatu kebetulan, tapi benar-benar bernilai.. Trims.. 🙂

  19. benar pak made, kejujuran adalah segalanya. kejujuran membawa berkah, ada akhirnya bapak pun bisa mencicipi eropa bahkan dengan prestasi ^_^
    semoga sy bisa seperti itu pak, terima kasih sharingnya, menambah semangat!

  20. Insipartif pak Andi, mudah-mudahan ini bisa menjadi bekal dan pelajaran moral untuk saya yang juga sedang memburu ADS pada tahun ini hehehe…
    Terima kasih pak Andi

  21. Blog pak Andi ini benar-benar memberi bahan bakar yang powerful ketika semangat mulai kendur … Saya akan mencoba dan berusaha lagi tahun ini.. 😀

    Terima kasih pak Andi 😉

  22. Terimakasih pak. Kejujuran memang pahit tapi manis pada akhirnya. Do’akan semoga saya bisa mengikuti jejak bapak. Amin

  23. membaca untuk ketiga kalinya renungan diatas baru bisa membuat saya mengerti. entah kenapa, saat saya membaca hari ini, terasa seperti membaca tulisa andrea hirata, in sorbonne. saya terharu sekali pak. terima kasih untuk tulisan ini. saya akan menghadapi interview january nanti,. doakan saya berhasil. wish you happy and be blesssed always

  24. Keren Pak. Terimakasih, Saya jadi terinspirasi buat tambah jujur, meski saya tahu jujur kadang menyakitkan dan nampaknya merugikan, tapi jujur adalah jalan mendapatkan buah yang manis.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s