Suatu siang di bulan September, di belahan bumi utara.
“Eh sorry banget gue telat” Sarah datang beringsut, wajahnya agak tegang. “Ya nih, nggak biasanya lu telat. Dari mana?” Rina yang sudah menunggu menyambut dengan pertanyaan. “Ya, tadi gue nemenin si Rama tuh ke mall. Keliling nyari bahan bubur buat anaknya.” “Lo, kenapa lu yang nyari, si Astrid ke mana?” “Justru itu, tadi tiba-tiba si Astrid telpon gue buat bantuin si Rama beli bubur. Dianya lagi ada tugas ke Washington katanya.”
Ibu dan kaum perempuan adalah tiang peradaban yang kepadanya kita berharap. Selamat hari ibu untuk istri saya, Asti, dan semua ibu di seluruh dunia. Video dari Obama ini mungkin bisa mengingatkan kita lagi. Happy Mother’s Day!
Peta sangat digdaya. Peta bisa menyajikan banyak hal secara menarik dan efektif sehingga penerima informasi bisa memahami lebih baik. Salah satu peta menarik yang disajikan oleh Guardian, UK adalah tentang perilaku masyarakat London dalam mengumpat lewat media sosial Twitter. Dengan merekam kata-kata umpatan yang diucapkan orang lewat Twitter yang berlokasi di London bisa dibuat sebuah peta menarik. Inti dari pemetaan perilaku ini adalah menyajikan data yang memiliki komponen lokasi. Berikut adalah peta yang dimaksud.
Sesungguhnya ada banyak sekali hal yang bisa disajikan lewat peta. Sebagai pemantik gagasan, coba pikirkan hal-hal berikut:
Distribusi dan intensitas korupsi di Indonesia per kabupaten
Peta moralitas dengan menampilkan kasus beredarnya video porno oleh pejabat negara atau masyarakat
Tingkat kesabaran pemakai jalan dengan menyajikan jumlah kecelakaan di berbagai lokasi
dan banyak lagi…
Jika orang mengatakan “the sky is the limits” maka penggunaan peta atau informasi geospasial sesungguhnya hanya dibatasi oleh satu hal: imajinasi. Selamat melamun dan kemudian berkarya dengan peta.
Kucoba menulis puisi saat terjaga dari kelelahan. Semalam, aku serahkan diri pada kuasa kegelapan. Aku ingin seperti dulu saat muda, ketika lirikan mata, senyum dan amarahmu bermuara pada sastra. Di masa muda, aku adalah pujangga karenamu. Kujelmakan tetas air, pagi yang jinak, udara yang panas dan matahari yang menikam menjadi puisi. Mantra-mantra menjadi kidung cinta. Perjalanan di ladang tandus menjadi serangkai kata-kata yang membuat para pejalan kaki tergiur iri. Tidak ada yang lebih hebat dari cinta saat aku mencari alasan untuk berkarya.
Saya masih sering tercenung terpana mendengar cerita dari ibu mertua soal kakek beliau yang konon sakti. Kakek buyut, begitu semestinya saya memanggil beliau, adalah seorang dalang yang kata ibu, bisa mendalang di dua tempat sekaligus. Di satu malam beliau disaksikan oleh warga sebuah kampung di Jawa Timur, konon pada saat yang sama beliau tengah memukau kerumunan lainnya di kampung yang jauh jaraknya. Kakek buyut, kata ibu saya, memang sakti mandraguna.
Suatu pagi saat di Jogja, seorang kawan masuk sebuah ruangan tempat kami biasa duduk santai di sela-sela pekerjaan. Kawan ini dengan sigap mengambil koran dan membacanya. Menariknya, yang dibaca adalah Koran kemarin. Katanya beliau tidak sempat membaca kemarin karena harus berada di rumah sakit. “Buta rasanya kalau tidak sempat membaca berita” kata beliau. Saya merenungkan ucapan itu. Ini tentu bukan hal aneh, banyak sekali orang merasa buta dan gelisah jika tidak mengetahui apa yang terjadi.
Saat terjadi gonjag-ganjing anggota DPR yang studi banding ke Australia pada tahun 2011, banyak yang berpendapat bahwa studi banding itu tidak perlu. Setidaknya ada dua alasan. Pertama biayanya sangat mahal dan kedua ketersediaan teknologi informasi sudah memungkinkan interaksi tanpa harus datang ke seberang benua. Untuk alasan kedua ini, saya setuju dari awal dan kini lebih setuju lagi.
Tanggal 5 Maret 2012 saya memberi kuliah online untuk mahasiswa program Master Teknik Industri ITS, Surabaya. Sementara saya sendiri berada di Wollongong, Australia. Kuliah yang berlangsung lebih dari satu jam itu berjalan sangat nyaman, lancar dan nyaris tanpa gangguan koneksi internet. Interaksi bisa berlangung sangat baik sehingga saya dan peserta lupa bahwa jarak yang memisahkan kami sesungguhnya sekitar 5000 kilometer dengan empat jam perbedaan waktu. Menariknya, saya bisa memberi kuliah dari unit apartemen saya di Wollongong tanpa perlu menyiapkan perangkat khusus. Saat persiapan kuliah dilakukan, saya bahkan bisa sambil masak lele bumbu sere kesukaan saya. Singkat kata, kuliah online lintas benua itu begitu mudah, sangat sederhana dan tanpa tambahan investasi apapun. Kalaupun ada, investasi ini bernama waktu. Sara rasa ini adalah salah satu bentuk kontribusi kecil yang bisa diberikan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri.
Tradisi beragama, saat saya masih kecil dan tinggal di Desa Tegaljadi di Tabanan, lekat dengan ritual di pura. Ada perasaan riang bukan kepalang jika odalan sudah tiba. Tentu tidak ada alasan-alasan berat yang menjanjikan masuk surga, semata-mata karena ke pura berarti berpakaiann baru atau bersenang-senang berkejaran di sekitar pura atau berbelanja makanan kesukaan di sela-sela sembahyang. Singkat kata, agama sama sekali tidak ada serem-seremnya ketika membayangkan masa lalu.
Selama dua hari terakhir, blog saya dikunjungi cukup banyak orang. Traffic blog yang biasanya berkisar pada angkat 200-300 pengunjung perhari, meningkat jadi di atas seribu bahkan lebih dari dua ribu. Tulisan terkait perjuangan Asti meraih Beasiswa ADS rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca blog, terutama pejuang beasiswa.
Hari ini saya memperoleh komentar dari seorang yang tidak biasa, bernama Taufiq Effendi. Saya berani tuliskan namanya karena beliau memberi komentar di blog ini dan artinya tidak keberatan jika namanya diketahui khalayak. Seperti yang beliau akui, Taufiq Effendi adalah seorang tuna netra, tidak bisa melihat.
Hal pertama yang membuat saya tertegun adalah bahwa tulisan saya ternyata dinikmati oleh sahabat yg tuna netra, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan apalagi persiapkan. Pertanyaan sederhana pertama yang muncul adalah “bagaimana teman-teman tuna netra bisa menikmati tulisan saya yang tidak bisa diraba?”
Jika harus ditulis dalam satu kalimat singkat, maka tulisan ini menjadi “Asti berhasil memperoleh beasiswa Australian Development Scholarship untuk S2 di Australia”. Meski demikian, kita selalu tahu, bukan ujung cerita yang paling penting tetapi rangkaian cerita menju kesimpulan itu. Itulah sebabnya, seorang pembaca buku Harry Potter akan menahan diri untuk tidak buru-buru ke halaman paling belakang. Kalaupun ada teman yang sudah selesai membaca, dia akan dengan sekuat tenaga menjauhkan diri dari teman itu agar tidak jadi korban ‘spoiller’. Dengan asumsi bahwa Anda juga termasuk tipe pembaca demikian, pembaca yang mementingkan proses menuju kesimpulan, saya tulis kisah ini untuk Anda.
Entah bagaimana awalnya, saya sering menerima pertanyaan soal beasiswa, terutama Australia. Mungkin karena saya suka iseng menuliskan pengalaman, teman-teman di dunia maya sering bertanya ini dan itu. Saya menjadi konsultan beasiswa amatir. Saya gunakan istilah “amatir”, pertama karena saya memang tidak pernah menyiapkan diri untuk menjadi konsultan secara formal sehingga jawaban saya ‘seadanya’. Kedua karena memang saya tidak melakukannya untuk imbalan uang. Saya amatir dalam pengertian sesungguhnya.