Arti kebanggaan


Tradisi beragama, saat saya masih kecil dan tinggal di Desa Tegaljadi di Tabanan, lekat dengan ritual di pura. Ada perasaan riang bukan kepalang jika odalan sudah tiba. Tentu tidak ada alasan-alasan berat yang menjanjikan masuk surga, semata-mata karena ke pura berarti berpakaiann baru atau bersenang-senang berkejaran di sekitar pura atau berbelanja makanan kesukaan di sela-sela sembahyang. Singkat kata, agama sama sekali tidak ada serem-seremnya ketika membayangkan masa lalu.

Satu yang saya selau ingat saat ke pura adalah kami mengenakan kalung emas, meskipun tidak besar. Berbeda dengan kawan saya yang biasanya memperlihatkan kalungnya, ibu saya selalu menasihatkan, pastikan kalungnya ada di dalam baju, tidak terlihat. Saat kecil saya tidak mengerti maknanya. Yang ada adalah keheranan, apa gunanya memakai kalung kalau tidak diperlihatkan? Maklumlah, di pertengahan tahun 80an, memiliki kalung emas bisa menjadi tanda kebanggan. Ibu saya hanya menjawab singkat, “yang penting kita bangga di dalam hati”. Kata-kata yang mulai bisa saya mengerti belum begitu lama.

Belum lama, saya mengajak ibu, saudara dan ponakan untuk makan di suatu tempat yang cukup baik di Tabanan. Setelah makan, Ibu saya dengan sigap membersihkan segala yang ada dan menyusun piring kotor dengan rapi. Tindakannya bahkan lebih sigap dari pelayan yang sebenarnya. Ini tidak asing bagi kami, saudah terbiasa demikian. Hari itu, seperti biasa, saya menggodanya. “Naluri jadi pembantu rupanya tidak hilang-hilang” kata saya berkelakar. Ibu saya memiliki cita-cita aneh, ingin jadi pembantu. Tentu saja tidak begitu serius tetapi memang naluri mengabdinya luar biasa. Orang yang tidak berpendidikan formal seperti beliau memang tidak bisa membayangkan dirinya menjadi seorang CEO, atau pemburu beasiswa luar negeri, apalagi anggota DPR. Yang mudah dijangkau tentu saja adalah imajinasi “kalau saja aku jadi membantu, maka aku akan…”

Saat saya nasihati agar tidak membersihkan piring dan kotoran di meja makan karena ada yang akan membersihkannya, ibu saya menjawab “kita membersihkannya untuk diri sendiri, bukan untuk siapa-siapa”. Tiba-tiba saya ingat lagi cerita kebanggan itu. Bahwa berbuat baik tanpa motivasi eksternal adalah yang membuat ibu saya memiliki kebanggan. Bangga di dalam hati karena suatu hari telah berbuat baik kepada orang. Dan kebanggan bagi beliau tidak pernah datang dari keberhasilannya membuat orang bekerja atau menjadi repot karenanya.

Jika direnung-renungkan, kebanggan yang indah mungkin sesungguhnya seperti yang dipercaya ibu saya itu. Bahwa kebanggan bukanlah ketika menerima tetapi saat memberi.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

3 thoughts on “Arti kebanggaan”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s